Featured Post

Tuhan Jangan Tinggalkan Aku

Ilustrasi di Perpustakaan Hongkong Sinopsis Frankie dan Fatin berkenalan di dunia maya. Mereka sering chatt onlin e, saling b...

Novel

Indeks »





Ini Cathar Putriku Ketika Kelas 1 SMP

Aku Pernah Malu Menjadi Anak Indonesia

Butet Siregar

Heloooow, Indonesia is my lovely country. How are you today?

Wuiiis, ngapain coba ujug-ujug sok nginggris tuh? Memang kalau pake bahasa Indonesia kenapa? Apa takut dibilang gak gaul? Kuper atawa emang bawaan kamu saja yang sok, sok barat, gitchu?

Inga-inga loh, kamu itu biar gimana juga kan tetep saja anak Indo, eeh, Indonesia!. It’s destiny!

Iya, iya, siapa juga yang gak ngaku anak Indo, eeh, Indonesia? Cuma terus terang, boleh kan jujur ria? Jawab boleh, okey? Maksa banget!

Habis, kalau gak maksa seringnya dicuekbebek. Yeeh, beneran nih, sekarang aku mau serius, sueeer! Seriuuuus!

Begini. Sering aku merasa gerah, bete, sebel, gemes, ujung-ujungnya malu jadi anak Indonesia. Sebentar, jangan protes dulu, Bro, Sis!

Iya, aku mau rinci nih cathar geramku. Awalnya pengalamanku waktu kelas empat SD. Dokter di rumah sakit, jangan disebut deh namanya. Yang jelas rumah sakit pemerintah yang konon murah-meriah dan bisa pake Gakin, gratisan untuk orang miskin.

Tuh dokter bilang kalau aku kena flek di paru-paru. Dokternya sih baik dan perhatian. Tapi perawatnya itu lho. Sudah tampangnya merengut melulu. Pakai ada agenda bentak-bentakan dan penghinaan segala, hikkksss!

“Jangan banyak tanya! Tunggu aja, ntar juga dipanggil!” sergah tuh perawat judes bin galak, kayak apa tauk yang suka galak-galak itu?

Tiga jam aku dan ibuku nunggu di ruang tunggu yang sumpek. Orang merokok seenaknya. Padahal sudah ditulis gede-gede Areal Bebas Merokok. Eh, iya, diartikan boleh merokok sebebsanya kali, ya?

Sampah di mana-mana, malah ada yang buang ingus dan dahak di lantai segala. Beginilah masyarakat Indonesia, Meeen. Di mana tuh disiplinnya? Cinta lingkungannya? Malu-maluin deh, aaah!

Pas giliranku ditimbang, sang perawat (umurnya sudah sepuh, bentar lagi pensiun ‘kali) komentar gini; “Apa? Cuma 14 kilo seumur kamu? Emang kamu dikasih makan apaan sama orang tua kamu? Eeh, tauk nggak… Harusnya berat badan kamu tuh 25 kiloan!”

Aku masih ingat banget. Matanya sampai melotot-melotot kayak mau loncat. Bibirnya monyong-monyong saja!.

Terus, dia ngelirik kartu Askesku. “Bapak kamu di Depkes, ya? Masak sih orang kesehatan gak tau kesehatan? Kebangetan banget sih?!”

Suaranya yang cempreng kayak kaleng rombeng, lantang ke seantero ruang periksa. Semua mata langsung menyorot ke arahku dan ibuku.

Air mataku langsung netes, teeesss, teeesss… Apalagi pas kulihat wajah ibuku yang memang selalu pias, karena Thallasemia, mingkin pias kayak mayat!

Rasanya bener-bener dijorokkin sama tuh suster, kami berdua mendadak gembel. Eh, tapi belakangan aku merasa, lebih baik jadi gembel daripada jadi perawat judes, galak bin arogan kayak tuh Nenek Sihir!

Hhhh, rasanya gemes banget sama tuh petugas pelayanan kesehatan. Kata ibuku, mungkin karena kecapean atau kurang gajinya. Maklumin saja. Tapi buat anak-anak seumurku waktu itu 9 tahun, gak peduli cape kek, kurang gajinya kek. Kan memang sudah kerjaannya.

Ngapain juga pakai melampiaskan amarah sama pasien anak-anak coba? Kurang kerjaan amat!

Setiap kali aku ke poliklinik paru-paru itu, rasanya trauma banget sama tuh Nenek Sihir. Padahal aku harus bolak-balik berobat selama enam bulan. Wuiiih, bisa kalian bayangkan. Bagaimana dobelnya deritaku, sudah sakit, merasa terancam, takut lagi/ Hikkksss saja!

Ada lagi pengalaman yang bikin aku gerah jadi anak Indonesia. Waktu kelas 6 SD aku punya teman yang bodohnya minta ampun. Bayangin Men. Kelas enam bacanya saja masih dieja alias belepotan.

Anehnya tuh anak naik terus. Ada sih gosipnya, ortunya pakar banget urusan sogok-menyogok, suap-menyuap. Dia hobinya ngebully teman-teman yang punya kekurangan. Anak yang juling, misalnya. Anak tukang mie ayam. Anak miskin, ya ini, termasuk aku yang memang masih miskin waktu itu.

Mau tahu apa hubungan si Kurneng tukang bully, anak tukang nyogok itu dengan Indonesia? Ya, karena dia sama denganku dan teman-teman. Sama anak Indonesia. Bedanya dia mah gak hapal-hapal yang namanya Pancasila.

Nyambunglah, yaouw, semangaaaat!

Kampung Mepet Sawah, 2001


Para Pencari Keadilan; Pipiet Senja

 


Sinopsis

Hatta, Rumondang Siregar adalah satu-satunya Jaksa di Indonesia blasteran Batak-Tionghoa. Sejak bayi ia dalam pengasuhan keluarga besar ayahnya di kawasan Tapanuli Selatan, sementara kedua orang tuanya mengejar karier di Ibukota. Acapkali ia menerima tindak kekerasan dari neneknya. Beruntunglah ia memiliki seorang kakek yang sangat mengasihinya, sehingga membentuk karakter yang mandiri, dan istiqomah sebagai muslimah tangguh.

Ketika ia berhasil menduduki jabatan Jaksa di daerah, segenap pikiran dan upayanya dipusatkan demi memberantas para koruptor. Sepak-terjangnya ternyata membuat gerah para seniornya, maka ia pun ditarik ke Ibukota. 

Di sini ternyata ia harus berhadapan dengan situasi yang tak pernah terbayangkan; mulai dari intrik, isu murahan, sampai fitnah yang keji. Serbuan dan tantangan lawan itu bukan saja dari kalangan sejawat, melainkan juga dari keluarga besar ibunya sendiri, etnis Tionghoa. Bagaimana sepak-terjangnya, saat ia harus berhadapan dengan para sepupu dan pamannya sendiri yang ternyata adalah gembong narkoba? Dan ia pun menjadi korban dalam suatu tragedi pemboman di Mall. Dapatkah ia bangkit dari situasi in-coma yang mengenaskan itu?

Simak dan miliki novel inspirasi yang menggetarkan ini!

“Pipiet Senja seorang perempuan yang konsisten dengan kesederhanaan, baik dalam kehidupan maupun karya-karyanya. Namun, siapa yang bisa menampik bahwa di balik kesederhanaan itu tersimpan suatu kekuatan maha?” Teddy SNADA, penyair, munsyid)

“Saya menemukan keteguhan sekaligus kelembutan yang patut menjadi contoh. Setiap kata yang ditulisnya sarat dengan makna yang tulus, yang hanya bisa keluar dari hati yang tulus pula.“(Arul Khan, penulis, pengelola www.menulisyuk.com)

Bab Satu
Sepotong Pagi Mencari Jatidiri
Bada shalat subuh Rumondang keluar dari biliknya. Hawa dingin segera menyergap wajahnya begitu kakinya menuruni tangga kayu sopo godang1 milik kakeknya. Sebuah rumah adat Batak berbentuk panggung tinggi, terbuat dari kayu-kayu jati yang kokoh. Biliknya dari anyaman bambu dengan atap rumbia. Ketika dirinya masih kecil, di bawah panggung itulah sudut favoritnya tempat bermain rumah-rumahan bersama sepupu-sepupunya.
Di kampungnya sopo godang milik Ompung2 terbilang bangunan paling bagus. Sebab Ompung Ni Sahat adalah orang yang sangat kayaraya. Sabak3-nya tak terhitung banyaknya, lumbungnya yang selalu penuh berada di tiap sudut pekarangan dengan luas entah berapa hektar. Belum lagi hewan peliharaannya, kambing, sapi, kerbau, ayam, bebek….
“Guuuk! Guuuk! Guuuk!”

“Nguuuk! Nguuuk! Waaau! Waaau!”

Monyet-monyet bergelantungan dari pohon yang satu ke pohon lainnya sambil menjerit-jerit riuh.

"Iiih, bikin halak4  kaget  saja!” gumamnya.

Rumondang Siregar, seorang gadis berumur 16,  dengan rambut panjang lebat tersembunyi di balik jilbab kaos berwarna putih. Tubuhnya yang tinggi ramping terbalut dalam stelan baju olah raga. Dia baru usai Ebtanas SMU di Padang Sidempuan, masih harap-harap cemas nilai-nilainya akan sebagus prestasi sebelumnya. Rasa cemasnya sesungguhnya tidak perlu. Sebab siapapun sudah tahu, Rumondang hampir tiap tahun menyabet peringkat pertama di sekolahnya.

“Guuuk! Nguuk! Waau!”

            Ia tersenyum simpul sendiri. ”Kalian itu tak bisa kompak pula rupanya, ya?” katanya sambil memerhatikan makhluk-makhluk lucu yang bergelayunan tak jauh dari atas kepalanya. Dia sama sekali tidak merasa takut. Sebab sejak kecil dirinya sudah akrab dengan binatang-binatang lucu itu.

            Rindu pula rupanya kalian itu sama aku, ya? Hihi, sudah lama juga tak ketemu kita nih. Salah siapa coba? Aku sibuk Ebtanas sementara kalian sibuk bergelayunan terus, ya? Rumondang terus berceletoh dalam hatinya.

Mulanya dia berjalan santai, menapaki jalan setapak menuju Utara kampungnya. Hanya saat dia melintasi sungai tiba-tiba entah mengapa bulu romanya meremang. Sepi, senyap dan memang sungguh lengang. Ke mana saja orang-orang itu? Kan biasanya juga ramai di sungai ini?

“Wuiih! Wuiih….”

Tangannya sibuk menepis-nepiskan rumput ilalang yang menghalangi jalannya. Ilalang setinggi orang dewasa begitu lebat bagai tak bertepi. Namun tubuh ramping itu terus menyelusup di antara ilalang, pepohonan dan semak belukar.

“Ooh, iya, ya…. Ini musim panen raya,” gumamnya membatin.

Rumondang baru teringat kembali akan percakapannya tadi malam dengan Bou5 Taing, saudara perempuan ayahnya.

“Tiap subuh orang sini sudah berangkat ke sabak. Bagaimana dengan kau? Apa kau mau ikut kami besok itu, Butet?” tanya Bou Taing.

“Iya, bantulah kami panen, Butet!” kata Tigor, suami Taing.

            “Maaf, kalau besok aku tak bisa. Aku mau ke kubur Ompungboru7,” sahutnya tegas. Tak ada yang melarang atau membantah, bahkan tak ada yang berkata-kata lagi. Memang sejak dulu pun sikap mereka selalu begitu. Tak pedulian terhadap dirinya. Biarlah, daripada mendengar omelan dan sumpah serapah Bou Taing. Sebab sekalinya bicara, omongan perempuan itu sering amat melukai hatinya.

“Anak Cina itu takkan kerasanlah lama-lama di kampung. Seharusnya kau  tinggal di kotalah itu, Amoy!”

“Pergilah ke keluarga Cina kau itu di Medan!”

Baiklah, anak Cina, katanya tandas. Tanpa tedeng aling-aling. Ibu yang melahirkan dirinya memang seorang wanita keturunan Tionghoa. Wu Siao Lien nama Tionghoanya. Nama pribuminya Maharani Sanjaya. Cantik jelita wajah ibuku itu dalam potretnya, pikir Rumondang. Ya, dia hanya mengenalnya dalam potretnya. Sebab dia sudah ditinggalkan oleh ibunya sejak berumur setahun. Bukan ditinggalkan ke alam baka, tapi entah pergi ke mana.

            Rumondang takkan melupakan hari-harinya ketika kanak-kanak. Perilaku neneknya dan saudara-saudara ayahnya sering menyakiti perasaannya. Bahkan bukan saja secara batiniah melainkan juga fisiknya. Serasa masih terngiang-ngiang di telinganya omongan Ompungboru.

“Ibu kau itu minggat, Butet!”

“Kalau sudah besar nanti, kau pun akan benci sama ibu macam si Siao Lien itu. Percayalah sama aku!” ujarnya ketika Rumondang kelas enam SD.

“Tapi kenapa, Pung?”

“Si Siao Lien  itu bukan boru8 baik-baik, mengerti?!” cetusnya bernada penuh kegeraman dan kebencian.

“Eh…. Jadi, macam perempuan mana pula Ibu aku itu, Pung?”

“Pokoknya perempuan tak baiklah Ibu kau itu, Butet!” dengusnya mengulang-ulang, entah untuk ke berapa kalinya.”Dia itu tak bisa diajak hidup sengsara sama suami….”

“Artinya, dulu memang betul orang tuaku itu pernah hidup sengsara di kampung kita, ya Pung?” tukas Rumondang.

“Hanya sebentar. Tak ada kerjanya pula selain mengurung diri di kamar. Entah bikin apa itu, mengetik…?”

“Mengetik, Pung? Mengetik apa? Sebenarnya apa pekerjaan ibuku dulu, Pung?” Ini kesempatan baik untuk mengorek perihal orang tuanya. Biasanya tak ada seorang pun yang mau menyinggung perihal mereka. Terutama tentang ibu kandungnya. Seakan-akan telah menjadi tabu, pantangan berat bagi keluarga besar ayahnya.

            “Kurasa dia itu cuma ikut-ikutan anakku saja,” kata perempuan tua itu sambil menumbuk padi dengan kekuatannya yang luar biasa. Sering Rumondang merasa heran akan kekuatan fisik yang dimiliki perempuan tua berperawakan tinggi besar itu. Ompungboru mengerjakan segalanya seorang diri!

          “Kata  Uda Tigor, ayahku itu seorang seniman, Pung?”

          “Iyalah, betul itu! Sudah jadi seniman terkenal anakku itu sebelum kawin sama si Siao Lien. Orang bilang penyair, begitulah…. Gara-gara kawin sama halak Cino, kacau  pulanya hidup anakku itu! Jadi Sampuraga8-lah dia itu. Bah!”

            Tiba-tiba perempuan tua itu berhenti menumbuk. Sepasang matanya dilayangkan ke kejauhan, ke ufuk langit berwarna biru bening. Rumondang sering berpikir, adakah Ompungboru pernah merindukan putranya? Anak laki-lakinya semata wayang? Sebab seingatnya, neneknya tak pernah memperlihatkan kerinduannya kepada siapapun. Kesibukannya sebagai ibu rumah tangga, penyokong utama keluarga besarnya sudah menguras seluruh enerjinya.

Namun, kalau untuk urusan sumpah serapah…. Dialah biangnya!

            “Hei, sudahlah jangan mau tahu cerita orang tua kau. Sekarang kau ini kan sudah lama ditinggal mereka. Kau ini dibuang, Butet. Makanya kau harus bisa menitipkan diri. Jangan banyak main. Sekolah pun usahlah tinggi-tinggi. Diam sajalah kau di rumah. Kerja di sabak, menyangkul, panen, menggembala ternak, bantu-bantu aku…. Cukuplah begitu kehidupan kau itu, Butet!” ceracaunya tak tertahankan lagi.

            Syukurlah, Sang Maha Pencipta menjemput neneknya tak lama setelah Rumondang lulus SD dan sangat menginginkan melanjutkan sekolah. Neneknya meninggal akibat dehidrasi, muntaber. Tak mau dibawa ke Puskesmas atau dokter. Bahna malas dan kikirnya mengeluarkan isi kocek yang selalu disimpannya dengan sangat telaten di lemari tuanya.

            Memang ada bagusnya bagi Rumondang ditingalkan oleh neneknya. Karena perilaku dan keinginan sang nenek sangat berbeda dengan nenek-nenek temannya. Nenek temannya punya keinginan melihat dan memajukan anak cucu, mengejar cita-cita. Seperti Ompung si Liani, meskipun sangat miskin, bersikukuh menyekolahkan anak dan cucu ke perguruan tinggi. Dibela-bela walau harus berutang sana-sini, menggadaikan bahkan sampai menjual seluruh harta benda.

            “Kalau Ompung perempuan masih ada, tentu aku takkan bisa sekolah di Sidempuan macam sekarang, ya Pung?” cetus Rumondang ketika diantar oleh kakeknya ke tempat kos di Kabupaten.

Saat itu dia akan melanjutkan sekolahnya ke tingkat SMU. Di kampungnya belum ada SMP. Jadi ketika SMP pun dia harus berjalan kaki sepuluh kilometer pulang dan pergi ke kecamatan.           

            “Iyalah. Aku pun takkan kawin lagi sama si Joruk, bekas teman kau itu,” sahut kakeknya sambil terkekeh. Rumondang mesem dan menggoda kakeknya.”Jadi, lebih suka mana, Pung? Saat masih ada Ompung perempuan atau sekarang?”

          “Ah, macam mana pertanyaan kau itu? Menggoda aku saja, ya?” elaknya tersiup malu, tapi sesaat kemudian dilanjutkannya. ”Tapi Butet, kalau aku pikir-pikir pula, bah! Enakan sekaranglah kita ini, ya Butet? Tak ada lagi tukang sumpah-serapah di rumah. Artinya, dingin kuping bening matalah kita ini. Iya kan, Butet?”

      Rumondang tertawa tergugu melihat kelakuan kakeknya. Belum 40 hari meninggal Ompung perempuan, ketika Ompung menikah lagi. Joruk, bekas sobat kecilnya, teman bermain di sungai dan mengaji di surau. Tentu saja mulanya tindakan kakeknya ini, menjadi gunjingan orang sekampung. Namun, kemudian reda sendiri.

Siapa pula yang berani ganggu-gugat kakeknya? Orang yang paling berkuasa, banyak harta, baik budi, ringan hati dan selalu berbagi dengan masyarakat sekitarnya. Seorang pelopor pendidikan di desa mereka. Karena pernah berkelana ke Malaysia, Makkah dan Irak.

Biarlah Sang Khalifah punya istri lagi, pikir mereka.

Lagipula, memang diwenangkan meski dia ingin punya istri sampai empat sekalipun. Iya kan? Apalagi ini sedang melajang kembali. Siapa pula yang mau kedinginan sendirian, menjelang hari-hari senja dalam hidupnya? Nah, yang penting dia tetap baik hati, selalu ikhlas berbagi hartanya dengan masyarakat.

          Walau mendapat tentangan hebat juga dari anak-anak Ompung perempuan. Ompung tetap melanjutkan niat dan hasratnya, menikahi remaja belasan sebaya cucunya. Dia merasa sudah cukup adil, membagikan sebagian hartanya dengan anak-anaknya. Hidup akan terus berlanjut baginya. Setelah dua per tiga hidupnya dihabiskan dengan seorang istri nyinyir. Dia masih ingin menikmati sisa-sisa  hidupnya dalam suasana yang sangat berbeda.

“Hmm, OmpungOmpung,” gumam Rumondang sambil mesem-mesem sendiri. Teringat kembali bagaimana saat kakeknya begitu keras kepala, melaksanakan keinginannya menikahi Joruk.

“Tak takut dimusuhi anak-anaknya, tetap berkeras menikahi Joruk. Hm, sebenarnya  alasan apa, ya Ompung itu? Segitu umurnya konon sudah 105 tahun?!”

Ah, tapi meskipun sudah lebih seabad begitu, penampilan kakeknya tampak segar bugar dan kuat. Gigi-giginya masih banyak, rapi dan kokoh. Matanya pun masih awas, tanpa kacamata. Perawakannya juga sama sekali tidak bungkuk, apalagi peot.

Ompung masih gagah, kuat dan tegar sekali. Dan suaranya bila sedang mengajari anak-anak mengaji atau markobar9 itu; subhanallah, begitu lantang dan bening!

“He, tunggu!”

Di atas sebuah rambin10 bambu. Ada seseorang yang menyapanya lantang. Rumondang merandek dan kehilangan seluruh lamunannya. Di depannya menjulang seorang wanita separuh baya. Dia meletakkan bawaannya berupa sekarung padi, yang semula dijunjung di atas kepalanya. Agaknya hendak dibawa ke poken11. Hari Kemis memang hari pasar di kampung mereka.

“Ya?” Rumondang menatapnya. Peluh bercucuran di sekujur tubuh wanita perkasa itu. Wajahnya yang persegi, wajah khas wanita Batak tampak memerah dan kehitaman. Seraut wajah yang akrab dengan sengatan matahari.

“Cucunya si Ompung Ni Sahat kau ini, ya?” cetusnya sambil tersengal-sengal, berusaha meredakan napasnya.

“Eee, iya…. Siapa, ya?” Rumondang balik bertanya. Dia sungguh mengagumi kekuatan dan kemandirian wanita-wanita perkasa di kampungnya. Termasuk wanita di hadapannya juga mendiang neneknya.

“Alaaah kau ini….” Ditepuknya pipi Rumondang agak keras, hingga gadis itu terkejut. ”Sombong ‘kali, bah!  Aku ini Inangboru kaulah itu, Butet! Si Sagala, ingat kau sama anak sulungku itu kan?”

“Bang Sagala  yang di kampung seberang. itu, ya?”

“Iyalah itu! Masa pula kau lupa sama anakku itu? Calon suami kaulah dia itu, Butet…. Kapan kau datang dari Sidempuan?”

“Eeeh, eeh, tadi malam…,” sahut Rumondang dengan wajah bagai terbakar. Orang tua ini kok tanpa tedeng aling-aling ‘kali, bah! Pake mengaku-aku anaknya calon suamiku segala? Rumondang mendumel dalam hati.

“Sudah lulus kau sekarang, ya Butet?”

“Sudah, eeh, maksudku lagi tunggu pengumumanlah…”

“Kalau kau ini pastilah lulus. Pintar kan kau ini, Butet. Macam Ibu kau itu, cantik dan pintar…. He, mau ke mana memangnya kau ini?”

“Ke kubur Ompung, Bou.”

“Jangan lupa nanti mampir ke rumah kami, ya. Abang kau si Sagala lagi di rumah. Menganggur dulu dia sekarang, motor ojeknya lagi ngadat….” Berkata begitu tangan-tangannya yang kokoh mengangkat kembali karung bawaannya. Peeng, bleek ditempelkan kembali di punggungnya. Tanpa minta bantuan siapapun. Selang sesaat perempuan itu sudah berjalan cepat melintasi sisa rambin menuju poken.

Rumondang geleng kepala. Kekuatan perempuan itu mengingatkannya kepada mendiang neneknya. Kuat bagai banteng ketaton neneknya itu. Kalau musim panen neneknya akan turun langsung sendiri. Sering mengangkuti padi berkarung-karung dari pesawahan ke rumah mereka. Perjalanan jauh lima-enam kilometer, terus diangkuti bolak-balik dan berhari-hari demikian. Sejak muda hingga tua. Aneh, padahal neneknya seorang istri orang berada.

“Menyuruh halak kau bilang, Butet? Bah! Baiknya aku kerjakan saja sendiri. Biar hematlah kita!” begitu dalihnya selalu setiap kali Rumondang mengasihaninya.

Menurut cerita Ompung, saat pertama kali mereka menikah pernah neneknya diajari membaca dan menulis. Sekali-dua masih mau mematuhi suami. Namun, hari-hari selanjutnya neneknya lebih suka memilih mengambil cangkul dan pergi ke sawah. Mendingan mencangkul tanah keras bagai cadas daripada belajar baca tulis, katanya. Karena itu sampai akhir hayatnya neneknya tetap seorang buta huruf. Namun, anehnya dalam hal hitung menghitung penjualan hasil panen…. Tak perlu kalkulator lagi!

Orang sekampung sudah mengetahui hal itu. Kakek gemar membaca, mencari ilmu dunia-akhirat seakan tak pernah henti. Sebaliknya neneknya mengelola harta peninggalan leluhur dengan telaten dan cermat.

Sering pula neneknya mengeluh. ”Mau tahu kerja Ompung kau itu, Butet? Begitu sajalah dari dulu, baca buku, kitab, mengaji. Kalau bosan pergi dia ke lapo tuak12 sama teman-temannya!”

@@@

 

 

 

 



1rumah adat Batak

2kakek atau nenek

3sawah

4orang

5sebutan untuk tante, adik perempuan bapak

7nenek perempuan

8 perempuan

8 nama tokoh legenda Batak kisahnya mirip Malin Kundang

9 berbicara dalam suatu pertemuan adat keluarga

10 jembatan

11 pekan, pasar kaget seminggu sekali

12 kedai tuak





Contoh Teks Drama

Pementasan drama baik di TV ataupun teater selalu menggunakan panduan berupa teks drama. Melalui skrip ini, para pemain drama berusaha untuk mengikuti alur cerita dan menjiwai karakter yang ia mainkan. Alur cerita juga dituangkan secara mengalir melalui teks drama. Ada banyak sekali contoh teks drama yang bisa dijadikan sebagai referensi, terutama bagi yang sedang berlatih menulis.

Pengertian Drama
Contoh Teks Drama
Drama adalah sebuah karya sastra yang ditulis dalam bentuk percakapan, dialog, atau obrolan yang nantinya akan dipentaskan atau dipertunjukkan di depan banyak orang. Drama biasa juga disebut teater. Teks drama adalah sebuah naskah mengenai jalan cerita sebuah drama yang disiapkan dalam bentuk perbincangan atau obrolan dan gerakan sebagai pedoman pementasan drama. Drama biasanya menyampaikan suatu pesan kepada penontonnya.

Unsur-Unsur di dalam Drama
Contoh Teks Drama
Untuk bisa memenuhi syarat sebagai sebuah drama yang baik, drama harus memenuhi syarat unsur-unsur drama yaitu sebagai berikut:
a.     Memiliki tema, yaitu ide pokok atau sebuah gagasan yang digunakan dalam drama. Tanpa tema, maka drama tidak akan berjalan dengan baik.
b.     Memiliki alur, yaitu jalan cerita drama sejak mulai hingga drama berakhir. Baik itu alur maju, mundur, maupun alur campuran.
c.     Tokoh yang terdiri dari tokoh utama (protagonis dan antagonis) serta tokoh pendukung.
d.     Watak yaitu perilaku yang diperankan oleh para tokoh dalam drama. Watak terdiri dari 2 jenis yaitu protagonist dan antagonis.
e.     Latar yaitu gambaran tempat, waktu, dan kondisi yang terjadi dalam kisah drama yang sedang berjalan.
f.       Amanat yaitu pesan yang ingin disampaikan oleh pengarang kepada semua penonton.

Ciri-Ciri Teks Drama
Contoh Teks Drama
Teks drama yang baik selalu memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
a.     Semua cerita dalam drama harus berbentuk dialog dan memiliki narasi, baik bagi para tokoh ataupun naratornya. Semua ucapan mutlak ditulis dalam bentuk teks.
b.     Obrolan yang ditulis dalam drama tidak menggunakan tanda petik. Karena bukan merupakan kalimat langsung.
c. Naskah drama harus dibekali dengan petunjuk kepada tokoh/pemeran yang bersangkutan. Petunjuk ini biasa ditulis dalam tanda kurung atau memakai format huruf yang berbeda.
d. Naskah petunjuk dalam drama ditulis di atas atau di samping dialog.

Contoh Teks Drama Eksposisi
Contoh Teks Drama
Eksposisi adalah bagian awal dari sebuah naskah drama yang menunjukkan ruang, waktu, karakter, suasana hati, dan tingkat kenyataan drama tersebut. Ada beberapa contoh yang harus diperhatikan ketika menulis bagian eksposisi dalam drama, diantaranya adalah:
a.     Awal sebuah drama berisi informasi/setting yang erat kaitannya dengan informasi latar belakang alur cerita drama tersebut. Eksposisi digunakan untuk mengawali adegan.
b.     Kegunaan eksposisi adalah untuk memulai cerita drama.
c.     Eksposisi berisi insiden yang menggugah pada pertanyaan-pertanyaan dramatik ataupun benang merah cerita drama tersebut.

Contoh Teks Drama Monolog
Contoh Teks Drama
Drama monolog adalah pertunjukan teater yang hanya dimainkan oleh 1 orang saja ataupun dialog bisa saat adegan. Drama monolog ini biasanya dimainkan dalam pertunjukan teater atau seni. Teks drama monolog dibuat sebagai bekal bagi sang aktornya untuk membawakan peran dan mengungkapkan pesan yang ingin disampaikan kepada penonton.
Berikut ini terdapat sebuah contoh teks drama monolog tentang anekdot (kelucuan):

Salah Siapa?
Pagi sekali sebelum mentari terbit, aku sudah sampai sekolah. Tapi gembok masih mengunci pintu kelas. Akhirnya aku hanya duduk-duduk di depan kelas seperti anjing penjaga. Ya Alloh, kalau seperti ini salah siapa? Niat hati ingin datang pagi, tapi masih juga terlambat. Eh, sudah mengira belum bel, tapi akhirnya diberhentikan penjaga gerbang juga. Disuruh belok kanan.
Jadinya setiap pagi harus kena hukuman dulu mencuci mukena, shalat duha, sekalian mengaji. Katanya, biar yang suka telat ini dibukakan mata hati. Esoknya, aku datang pagi-pagi sambil bawa sabun colek. Untuk berjaga-aga siapa tahu ada yang telat. Jadi akan kuberikan sabun colek ini untuk mereka. Akhir-akhir ini aku suka berangkat pagi, agar sabun colekku bermanfaat bagi orang lain.

Contoh Teks Drama Modern
Contoh Teks Drama
Drama modern atau kontemporer adalah jenis pertunjukan yang menunjukkan gambaran kehidupan saat ini dengan berbagai masalah yang muncul. Ada banyak sekali tema drama modern yang bisa dipentaskan baik di TV ataupun pertunjukan seni. Berikut ini salah satu contoh naskah teks drama modern dengan tema komedi ringan.

Penjelasan Karakter
Roy: Pintar, cerdik, pandai berkilah, dan pembohong berat.
Pak Asep: Guru yang tegas dan emosional
Rena: Suka penasaran dan cerewet
Zainal: Tidak terlalu pintar dan menonjol di sekolah.
Ririn: Pintar, rajin, baik hati

Dialog
Di sebuah kelas SMA, hiduplah 4 orang siswa yang sedang bahagia. Namun kondisi berubah ketika mereka mendapatkan kabar bahwa besok akan ujian.
Rena : Eh kalian udah belaja buat ulangan besok?
Roy : Belum
Zainal: Astaga, Innalillahi.
Rena: Apa? Kalau nilai ulangannnya jelek bisa dihukum.
Zainal: Paling-paling hukumannya juga cuma lari keliling lapangan bola 10 kali doang.
Rena : Bukan! Kali ini hukumannya serem, harus ikut pelajaran tambahan setiap pulang sekolah. Kamu sudah belajar Rin? (Melirik ke arah Ririn).
Ririn : Sudah dong, Ririn (sambil menunjuk-nunjuk bangga ke dirinya sendiri).
Singkat cerita, kemudian mereka bertaruh. Siapa yang nilai ujiannya paling besar, maka akan dianggap menang dan bisa memerintah orang yang kalah. Ririn berusaha keras untuk belajar, sedangkan Roy berjuang keras untuk membuat contekan di kertas kecil.
(Saat Ujian)
Pak Asep : Baik anak-anak, silahkan buka lembar soalnya sekarang!
Ririn : Bismillah.
Roy : Soal ini kan gampang sekali. Kalau gini kan gak akan ketahuan. (Sambil menempelkan kertas contekan di pungguh Pak Asep).
Pak Asep : Bapak keluar dulu, ingat jangan nyontek atau bertanya pada temannya ya. Dan satu lagi, jangan ribut. (keluar kelas).
Roy : Rencana B dimulai (menyilangkan kaki dan melihat kertas contekan di atas sepatunya).
Roy : Ah, bukan yang ini (bingung)
Roy : Ah yang ini nih! (sambil mengeluarkan kertas contekan dari dasi).
Roy : Selesai (sambil merebahkan diri di kursi, tersenyum puas sambil melirik teman-temannya yang lain belum selesai mengerjakan).
Akhirnya ulangan selesai, dan Pak Asep membagikan kertas hasil ujian kepada semua siswanya.
Pak Asep : Ini hasil ujian kalian (sambil membagikan kertas).
Ririn : Hore! Nilaiku 85 (tersenyum puas.
Zainal : Hahahaha, aku dapat 65. Lumayan ujian kemarin cuma 60.
Roy : Lhah Pak, kok nilai ujian saya cuma 50?
Pak Asep : Sebab soal nomor 11-20 di balik kertas gak kamu isi.
Roy : Apa? Masih ada soal lagi?
Ririn : Hahahaha, kamu kalah Roy! Dengan ini saya perintahkan kamu gak nyontek lagi waktu ujian! (sambil menunjuk-nunjuk Roy dengan tertawa lepas).
Pak Asep : Apa? Jadi kamu kemarin nyontek? Oke, kalau begitu nilai kamu saya kurangi 5 poin lagi!
Roy : Aduuuh, apes benar aku ini (mengucek-ngucek rambut)
Akhirnya, Roy menyadari kesalahannya dan berjuang keras untuk belajar. Dia tidak pernah menyontek saat ujian lagi.
Contoh Teks Drama Singkat 4 Orang
Contoh Teks Drama
Judul: Pilihan Anak
Tokoh: Ayah, Ibu, Nenek, Ari
Sinopsis
Ari sudah memasuki kelas 3 SMA dan sebentar lagi akan melanjutkan kuliah. Suatu sore, Ari berbincang-bincang dengan ayah, ibu, dan neneknya di ruang tamu. Mereka menanyakan keputusan Ari untuk memilih jurusan kuliah. Baik sang ayah dan ibu Ari ternyata memiliki pilihan jurusan masing-masing dan tak mau memperhatikan keinginan Ari pribadi.
Dialog
Ayah : Jadi, sudah kamu pikirkan masak-masak kamu mau melanjutkan kuliah di jurusan apa?
Ari : Sudah yah.
Ibu : Jadi, kamu mau kuliah jurusan apa nak? (datang ke ruang tamu sambil menghidangkan teh untuk ayah dan nenek Ari).
Ari : Ari inginnya kuliah jurusan seni.
Ayah : Apa? Kamu ingin kuliah seni? Mau jadi apa nanti kamu setelah lulus kuliah?
Ibu : Iya, kamu mau kerja apa setelah lulus nanti? Kuliah itu jangan cuma cari senangnya saja. Perhatikan juga masa depan kamu nantinya.
Nenek : Kenapa kok Ari ingin kuliah jurusan seni?
Ari : Ari ingin mengembangkan bakat Ari jadi pelukis nek.
Ibu : Itu kan bisa kamu lakukan tanpa harus kuliah. Kamu bisa sering melukis sambil kuliah jurusan yang lain (menampakkkan wajah kesal).
Ayah : Benar kata ibu kamu. Dengarkan itu Ari! Ayah tak mau membiayai kuliah kamu jika kamu memilih jurusan seni. Ayah maunya kamu kuliah jurusan ekonomi.
Ari : Tapi yah…
Ibu : (memotong kata-kata Ari) Sudah, Ibu juga maunya kamu nanti setelah kuliah bisa bekerja di kantor. Lihat sekarang ini, mana ada pelukis yang hidupnya sejahtera?
Nenek : Ayah dan Ibu kamu memang ada benarnya Ari. Pikirkan lagi masak-masak. Jangan sampai kamu menyesal. Soal bakat, kamu bisa mengasahnya di luar jurusan kuliah.
Ayah : Nah, itu dia. Nanti kan kamu bisa ikut kegiatan kampus yang bertema seni.
Ari : Baik ayah, akan Ari pikirkan lagi nanti (menunduk lesu sambil merenung).

Contoh Teks Drama Tradisional
Contoh Teks Drama
Judul: Malin Kundang
Pemain: Malin Kundang, Mande (Ibu Malin Kundang), dan Puteri.
Prolog
Malin Kundang adalah seorang anak yang telah lama merantau meninggalkan tanah kelahirannya. Ia mengembara mengadu nasib demi mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Ia meninggalkan Mande, ibu kandungnya seorang diri di tanah kelahirannya. Singkat cerita, akhirnya Malin Kundang berhasil menikah dengan seorang putri saudagar kaya raya. Ia pun kembali ke tanah kelahirannya bersama sang putri.
Dialog
Malin : Istriku, inilah tanah kelahiranku dulu (sambil menunjuk ke arah daratan dari atas perahu yang bersandar).
Putri : Sungguh indah sekali tanah kelahiran kau ini Kanda.
Mande : (berlari tertatih-tatih setelah mendengar kabar bahwa anaknya sudah sukses dan pulang) Malin! Kau kah itu nak? (berteriak-teriak kegirangan).
Putri : Siapakah wanita tua itu Kanda?
Malin : (menyembunyikan wajah terkejut ketika melihat ibunya berlari ke arah perahu) Kanda tak tahu Dinda. Mungkin itu hanya pengemis yang ingin meminta sedikit sumbangan dari kita saja. Sudah jangan pedulikan lagi dia.
Mande : Malin, ini ibumu nak. Sudah lupakah kau pada ibu yang telah mengandung dan membesarkan kau ini Malin?
Malin : Wahai wanita tua! Jangan sekali-kali kau berani mengaku sebagai ibuku. Enyahlah kau! Ibuku bukan wanita tua renta sepertimu, dan ibuku sudah lama meninggal. Pergi kau dari sini! Jangan sampai kau mengotori kapalku ini! (berteriak emosi sambil menunjuk ke ibunya).
Mande : (mendengar kata-kata anaknya, ia menangis menahan kesedihan) Ya Tuhan, kenapa pula anakku berubah menjadi seperti ini? Apa salahku ini Tuhan? Jika memang ia bukan anakku, maka maafkanlah ia yang telah menghinaku ini. Namun jika ia benar anakku si Malin Kundang, maka hukumlah dia yang telah durhaka itu (sambil menengadahkan tangan memohon kepada Tuhan).
Tiba-tiba terdengar suara gemuruh, petir datang menggelegar. Badai besar tiba-tiba datang dan kapal Malin Kundang terbalik. Seketika kilat menyambar tubuh Malin dan istrinya. Anehnya, mereka berdua kemudian berubah menjadi batu. Itulah kekuatan doa seorang ibu. Jangan sampai kita menjadi anak yang durhaka kepada kedua orang tua.

Contoh Teks Drama Singkat
Contoh Teks Drama
Judul drama: Impian Masa Depan
Pemain: Toni, Linda, Norman, Ami
Epilog
Suatu ketika, 4 orang sahabat sedang berkumpul untuk membicarakan mengenai rencana mereka di masa depan. Mereka pun terlibat dalam pembicaraan yang cukup serius.
Dialog
Toni : Nanti kalau kalian misalnya dihadapkan 2 pilihan, kerja di perusahaan besar tapi gajinya kecil, atau kerja di perusahaan kecil tapi gajinya besar. Kalian lebih pilih yang mana?
Linda : Yaa kalau aku pilih yang di perusahaan kecil tapi gajinya besar.
Norman : Aku tak setuju! Lebih baik di perusahaan besar, ya walaupun gajinya kecil. Kalau kita bekerja di perusahaan besar, masa depan kita lebih terjamin pastinya.
Toni : Kalau kamu bagaimana, AmAmi : Kalau aku sih yang penting potensi ke depannya baik. Tak apa-apa sementara gaji kecil, tapi asalkan nanti ke depannya bisa cukup menjanjikan bagiku.
Toni : Itu artinya kamu memilih bekerja di perusahaan besar daripada perusahaan kecil kan? (sambil menunjuk Ami).
Ami : Iya benar!Norman : Kalau kamu sendiri Ton?
Toni : Ya kalau aku kurang lebih sama lah dengan pilihan Ami. Kita kan lihat keberlanjutan nantinya di masa depan. Kalau gaji kita besar, tapi tidak ada keberlanjutan jenjang karirnya, buat apa juga? (menengadahkan tangan sambil menggelengkan kepala).
Norman : Iya benar juga sih kata kamu. Paling penting itu jenjang karir masa depan nanti.
Linda : Iya sepertinya sih pilihan yang paling tepat ya memikirkan efek jangka panjangnya. Buat apa gaji besar tapi hanya sementara. Lagi pula, perusahaan kecil juga lebih rawan bangkrut kan?
Ami : Oke, sekarang kan kita sudah tahu apa efek memilih pekerjaan ke depannya. Jadi nanti waktu kita melamar kerja setelah lulus, kita harus pertimbangkan dulu untung ruginya buat masa depan kita.
Norman dan Toni: Siippp!

Contoh Teks Drama Satu Babak
Contoh Teks Drama
Judul: Kepatuhan pada Orang Tua
Tema: Sosial
Pemain: Tomi, Lisa, Shinta
Sinopsis Drama
Tomi sedang berbincang dengan Lisa di sebuah restoran dekat dengan rumah mereka. Tomi dan Lisa adalah dua orang remaja yang patuh pada orang tuanya masing-masing. Tak lama kemudian, datanglah Shinta yang merupakan sahabat mereka juga. Namun Shinta ini adalah remaja yang tak memperhatikan dan sering membantah perintah orang tuanya.
Dialog
Shinta : Eh kenapa kok kelihatannya lagi serius banget? (berjalan menuju ke arah tempat duduk Tomi dan Lisa sambil memundurkan kursi restoran untuk bersiap duduk juga).
Tomi : Gak ada apa-apa. Cuma si Lisa cerita kalau kemarin dia disuruh ibunya beli kebutuhan rumah. Tapi dia lupa.
Lisa : Iya Shin.
Shinta : Terus? Kenapa masalah gitu saja jadi kaya serius banget buat kamu?
Lisa : Ya iya lah. Kan kasian ibu sudah menunggu di rumah lama, tapi aku justru lupa beli kebutuhan rumah yang dia pesan.
Tomi : Betul itu! Harusnya kamu gak sering lupa dengan perintah orang tua.
Shinta : Halah gitu aja dipikirin. Kalau cuma lupa gitu aja aku lebih sering. Gampang saja, nanti ibu kita juga bisa beli sendiri. Suruh ngantar si ayah kamu aja kan beres.
Tomi : Kok kamu seperti itu sih Shin? Ya sudah seharusnya lah Lisa menyesal, dia kan tidak memperhatikan perintah orang tua.Shinta : Namanya juga lupa, mau gimana lagi. Masa semua perintah orang tua harus kita ikuti? Tidak juga kan? (melirik ke arah Tomi, kemudian berganti ke arah Lisa).
Lisa : Ya harus dong Shin, kalau orang tua sudah menyuruh kita harus laksanakan. Itu kan salah satu bentuk bakti kita pada orang tua yang sudah membesarkan kita dengan susah payah.
Shinta : Ya itu kan tanggung jawab mereka. Kita juga tidak minta dilahirkan di dunia ini kan?
Lisa : (menggeleng-gelengkan kepala sambil menghela nafas panjang) Astaga Shin, kamu harus merubah sikap kamu! Ingat jangan sampai jadi anak durhaka. Nanti hidup kamu justru bisa susah karena melawan orang tua.
Tomi : Benar! Jangan sekali-kali berani sama orang tua. Jangan sekali-kali kamu berani melawan perintah mereka.
Shinta : Iya-iya. Aku ngerti kok. Aku sadar (merebahkan diri ke kursi).








Contoh Teks Drama Dua Orang
Contoh Teks Drama
Judul: Sahabat
Pemain: Tono dan Lulu
Sinopsis
Seperti biasa, di jam istirahat sekolah, Tono dan Lulu menghabiskan waktu dengan memesan makanan ringan di kantin dan berbincang-bincang. Tapi siang ini ada yang berbeda dengan sikap Lulu. Dia datang ke sekolah dengan wajah sembab seperti habis menangis. Tono pun mencoba mencari tahu apa yang terjadi pada sahabatnya itu.
Dialog
Tono : Lu, kamu tahu gak kenapa ikan hidup di air?
Lulu : Tak tahu (menunjukkan wajah cemberut).
Tono : Lho kok gitu sih? Kamu kenapa wajahnya cemberut terus gitu?
Lulu : Aku ada masalah Ton (sambil memutar-mutar sedotan plastik di gelas minumnya).
Tono : Masalah apa? Cerita dong sama aku, kan kita udah lama jadi teman baik.
Lulu : Sudahlah, ini rumit Ton. Kamu jangan ganggu aku.
Tono : Semua masalah itu rumit Lu. Sudah deh jangan suka menyimpan masalah sendirian. Nantinya kamu malah stres. Apa gunanya ada aku sebagai sahabat kamu kalau kamu mau berbagi cerita aja susah?
Lulu : Sudah seminggu ini orang tuaku tak akur. Mereka sering sekali ribut masalah sepele (tertunduk lesu).
Tono : Memangnya ada masalah apa sampai mereka bertengkar terus?
Lulu : Tak tahu, intinya mereka merasa sudah tidak cocok satu sama lain dan ingin menjauh.
Tono : Sabar ya Lu, semoga semua masalah ini cepat selesai. Kamu berdoa saja semoga mereka cepat berbaikan.
Lulu : Harapannya sih gitu. Tapi sepertinya susah.
Tono : Tidak ada masalah tanpa solusi. Semua masalah pasti ada jalan keluarnya, begitupun masalah yang sedang kamu hadapi. Meskipun ini menyangkut orang tua, pasti ada solusi terbaik yang bisa ditemukan. Kamu berdoa saja semoga masalah ini cepat selesai. Jangan putus asa dulu.
Lulu : Makasih ya Ton. Berkat kamu, masalahku sedikit berkurang. Setidaknya aku lega karena sudah cerita.
Tono : Nah gitu kan enak. Sekarang coba tebak lagi, kenapa ikan hidupnya di air? (sambil menampakkan wajah lucu untuk menghibur Lulu).
Lulu : Sudah takdirnya mungkin (sambil menepuk bahu Tono dan tersenyum).




Contoh Teks Drama Epilog
Contoh Teks Drama
Struktur sebuah teks drama terdiri dari 3 bagian utama yaitu prolog, dialog, dan epilog. Prolog adalah bagian pembuka dari sebuah naskah drama yang menjelaskan sinopsis dan gambaran mengenai latar drama yang akan dimainkan. Dalam prolog ini dijelaskan gambaran cerita, hubungan antar karakter, serta watak dari karakter tersebut.
Dialog adalah keseluruhan percakapan ataupun gerak yang dilakukan oleh para pemeran drama. Dialog ini disusun berdasarkan tema, judul, dan juga jalan cerita yang telah ditentukan oleh penulis. Sedangkan epilog adalah narasi bagian akhir dari sebuah naskah drama. Epilog ini mengandung pesan-pesan yang ingin disampaikan oleh penulis kepada semua penonton drama tersebut.
Contoh:
Prolog
Deni, Anis, dan Linda adalah sahabat dekat ketika SMA. Namun mereka memilih universitas dan jurusan kuliah yang berbeda. Deni memilih kuliah kedokteran di Jakarta. Anis memilih kuliah jurusan psikologi di Bandung. Sedangkan Linda memilih kuliah jurusan teknik di Yogyakarta. Karena sibuknya kehidupan perkuliahan yang harus mereka jalani, akhirnya mereka tak lagi menjalin komunikasi.
Bertahun-tahun mereka tak berkomunikasi. Hingga suatu saat, Anis memutuskan untuk berlibur ke Yogyakarta dan sekaligus menemui temannya Linda yang bertahun-tahun tak ada kabarnya. Mereka menghabiskan waktu bercengkerama di sebuah cafe dan tanpa sengaja bertemu dengan Deni.
Linda : Kita pesan makanan dulu ya di cafe ini. Tenang saja, makanan disini dijamin enak banget kok.
Anis : Iya, sekalian kita numpang istirahat sebentar. Kakiku udah pegal-pegal nih keliling Malioboro seharian (sambil duduk dan memijat-mijat kakinya di kursi cafe).
Linda : (melambaikan tangan untuk memanggil pelayan cafe) Mas, tolong menunya ya!
Anis : Eh ngomong-ngomong gimana kuliah kamu? Gimana skripsi lancar kan?
Linda : Alhamdulillah lancar, kemarin sudah ujian proposal. Kalau kamu sendiri?
Anis : Aku masih sampai bab 3, habis ini mau ujian proposal kalau dosen sudah setuju.
(pelayan datang membawakan buku menu ke meja Anis dan Linda)
Deni : Silakan kak, ini menunya.
Linda : (mengambil buku menu sambil menoleh ke arah pelayan) Ya Alloh! Deni? Kamu kerja disini? (matanya terbelalak tak percaya).
Anis : (ikut menatap Deni dengan mata terbelalak) Ini benar Deni teman kita waktu SMA kan?
Deni : Linda? Anis? Ya Alloh akhirnya aku bisa bertemu lagi dengan kalian (mengulurkan tangan untuk bersalaman).
Anis : Kamu kok bisa kerja disini? Bagaimana kuliah kedokterannya?
Deni : Ceritanya panjang Nis, awalnya sih aku percaya diri udah diterima kuliah kedokteran. Tapi pas ditengah jalan, aku malah gak serius belajar dan takut sama darah. Akhirnya ya aku keluar aja dari kampus.
Linda : Oh begitu, sabar ya Den. Siapa tahu nanti kamu justru jadi pengusaha.

Epilog
Akhirnya mereka pun kembali akrab dan saling berbagai nomor kontak terbaru. Deni menyadari bahwa selama ini ia kurang sungguh-sungguh dalam berjuang mengejar mimpinya menjadi dokter. Tapi, Anis dan Linda sebagai sahabatnya tetap mendukung dan menyemangati apapun keputusan Deni. Masih banyak jalan lain menuju kesuksesan di masa depan, asalkan kita mau bersungguh-sungguh.
Contoh teks drama di atas masih bisa dikembangkan lagi sesuai dengan kreativitas penulisnya. Semakin bagus plot dan konflik yang disajikan maka semakin bagus dramanya.



Recommend us on Google!

Tulisan Terbaru