Featured Post

Tuhan Jangan Tinggalkan Aku

Ilustrasi di Perpustakaan Hongkong Sinopsis Frankie dan Fatin berkenalan di dunia maya. Mereka sering chatt onlin e, saling b...

Novel

Indeks »

Ungu Hariku Jingga Hatiku




Ungu Hariku Jingga Hatiku
Pipiet Senja


Jakarta, Anno 1983
Keadaan pernikahan tidaklah menjadi membaik setelah ada anak. Acapkali aku menangisi anakku, apabila ayahnya tanpa tedeng aling-aling menuduhku, apa yang disebutnya sebagai; melahirkan anak di dalam rumah tanggaku.
Usia 11 bulan anakku ketika aku jatuh sakit dan tetirah di rumah orang tuaku. Ketika pulang kutemukan jejak perselingkuhan yang sangat keji kurasai, dan amat melukai hati keperempuananku. Segala respek, kepercayaan yang begitu kupertahankan atas dirinya, sekaligus senantiasa diagung-agungkan dalam setiap ucapannya; hancur dalam sekejap!
“Jangan ambil keputusan sekarang, dengarkan, dengarkan dulu pembelaanku,” dia sempat meratap, meminta maaf, tapi sama sekali tak pernah mengakui kesalahannya sebagai suatu kekhilafan.
Aku menarik kesimpulan sederhana bahwa dia melakukan semuanya itu dengan segala kesadaran, kesengajaan hanya untuk menghancurkan. Sebuah pernikahan yang memang tanpa pernah dibangun dengan tiang-tiang yang kokoh.
Pengaduan para tetangga tentang keberadaan seorang perempuan saat aku tak berada di rumah, terngiang-ngiang di telingaku. Bahkan berani-beraninya dia mengakui bahwa perempuan itu adalah adikku dari Medan.
“Ya Tuhan, sejak kapan aku dan keluargaku tinggal di Medan?” raungku hanya tertelan di tenggorokan.
Hanya satu bulan dan itupun atas izinnya aku tetirah dalam kondisi sakit, tanpa pernah dikunjungi apalagi memakai uangnya untuk pengobatanku. Tahu-tahu sudah ada perempuan lain, bahkan sebelumnya melakukan transaksi dengan berbagai perempuan nakal di kawasan Monas. Sebagaimana dia tulis dengan rinci di catatan hariannya, entah sengaja atau tidak, dia menyelipkannya di dinding kamar. Sehingga aku dengan mudah menemukannya dan membacanya dengan perasaan hancur lebur.
Tuhan memang Maha Kasih, diperlihatkannya seluruh rincian catatan harian yang sarat kejalangan, kemesuman dan kehewanannya itu. Demi Allah, dia sangat menikmatinya!
Segala perasaan sayang raib seketika, timbul kebencian dan dendam yang tak teperi, menyelimuti seluruh akal sehatku. Aku menyerahkan urusanku kepada bapakku. Aku kembali ke rumah orang tua, menyerahkan pengayoman anakku kepada mereka, bahkan bukan saja makanan, minuman melainkan juga hidup dan matiku.
Semuanya saja kuserahkan sepenuhnya, urusanku dan anakku kepada keluargaku. Bahkan aku tak tahu menahu bagaimana proses gugat cerai itu berlangsung. Tahu-tahu aku dipanggil beberapa kali ke Pengadilan Agama, tanpa dihadiri ayah anakku, kemudian divonis; talak satu.
Berbulan-bulan diriku tenggelam dalam rasa sakit, lahir dan batin, jiwa dan raga. Kubiarkan keluargaku mengurus diriku, semakin hari semakin tenggelam ke lembah putus asa. Hidupku sempat bagaikan daun kering, melayang-layang tanpa tujuan, hampa. Sampai suatu saat aku terbangun kembali, menemukan anakku sakit keras.
“Anakku, maafkan Mama, Nak,” ratapku penuh penyesalan. “Duhai, buah hatiku, maafkan Mama yang sudah lalai,” kuciumi wajah mungil berusia belasan  bulan.
Ia mengalami demam tinggi berhari-hari tanpa ada yang mengobati selain dikompres dan diobati alakadarnya.
Sekali itu Tuhan menuntun diriku agar sadar kembali, tidak jauh-jauh, melalui ketakberdayaan anakku sendiri. Di rumah tak ada orang tua, adik-adik tak berdaya. Tinggal nenekku yang telah tua dan sakit-sakitan, dan diriku yang masih langlang lingling bagaikan perempuan sinting.
Kujual cincin kawin yang masih kumiliki, dengan itulah kubawa anakku ke dokter spesialis anak. Pulang dari dokter, sambil dipayungi oleh Ed, adik laki-laki kelas satu SMA, aku menyatakan sumpah dalam hati.
“Demi Allah, langit dan bumi akan menjadi saksiku, sejak saat ini hanya akan kufokuskan hidupku demi anakku, ibadahku dan hidup di jalan kebenaran, sesuai syariat yang diajarkan Nabiku Muhammad Saw.”
Sejak saat itulah, kubenahi langkah-langkahku, kutata hidupku berdua anakku. Kami menempati pavilyun yang pernah kubangun sebelum menikah. Namun, tak jarang apabila ada adikku, En, suaminya beserta anak berkunjung, kami berdua akan mengalah menempati setelempap sudut di loteng, berkawan cecurut, tikus dan kecoa yang berseliweran.
Aku menerima segala kondisi yang harus kujalani, sebab ini kesalahanku sendiri, sebagaimana kerap disindirkan ayahku terhadapku. Menyandang status janda sungguh tak mengenakkan bagi perempuan mana pun.  Tak terkecuali diriku, dengan segala ketakberdayaan; penyakitan, sama sekali tidak rupawan dan menawan secara lahiriah.
Anehnya, hari-hariku sempat diwarnai kecurigaan, kecemburuan di antara para perempuan tetangga di kampungku. Mereka mungkin merasa heran dengan kondisiku yang sepintas kilas tampak tenang-tenang saja, berbahagia berdua anakku. 
Aku memang mulai menangguk laba, sebab ada banyak kucuran honor dari dunia kepenulisan. Emas dan berlian mulai menghiasi pergelangan tangan, jari-jemari dan leherku. Mereka tidak pernah tahu bagaimana aku meraih semuanya itu. Bermalam-malam begadang, mengetik, menulis, menulis dan menulis hingga jari-jemariku kebas.
Inilah kondisi yang sangat traumatis dalam sejarah hidupku. Ungu hariku jingga hatiku, mungkin demikianlah judul yang tepat kupilihkan untuk episode hidupku ini.
Suatu hari, ada seorang ibu paro baya sekonyong-konyong mendatangiku, dan memaki-maki diriku tanpa sebab. Setelah usut punya usut ternyata dia salah orang. Tujuannya adalah salah seorang famili yang juga memiliki nama sama, (Etty) dan telah menggoda suaminya.
“Saya Pipiet Senja bukan Etty, Bu,” kataku menahan kemarahan yang nyaris meledak di ubun-ubunku. “Aku memang janda, tapi juga seorang penulis, yakinkan hal itu!”
Bagaimana tidak, dia memaki-maki di depan orang banyak, di tengah pasar tanpa ba-bi-bu lagi. Lusinan nama hewan di kebon binatang, dan semua sebutan beraroma kejalangan dimuntahkan dari mulutnya, ditujukan kepada diriku.
Sungguh perbuatan yang tak termaafkan!
“Mama… angis ya, angis… ngapa Ma? Acit yah, Ma, aciiitnya mana cih?” Haekal, usianya saat itu dua tahun, baru belajar bicara, memandangi wajahku yang niscaya pucat bagaikan mayat.
Aku menunduk, memandangi wajahnya yang fotokopian bapaknya. Seketika aku merasai lagi kepedihan, perasaan terhina, ketakberdayaan, semuanya itu nyaris menguasai diriku.
“Tidak, tidak, jangan pernah menyerah kembali!” jeritku segera mengusir setan pelemah iman.
“Ngapa Mama diem… Mama ga awab Etan ciiih?” gugatnya sambil mengguncang-guncang tanganku, digenggam erat-erat oleh tangannya yang mungil.
Sementara aku belum sempat belanja, jadi kutuntun anakku menyingkir dari tempat yang mendadak bagaikan disaput lautan neraka itu.
“Mama gak sakit, sehat-sehat saja, Nak, lihat nih! Ayo, semuanya, segala setan belau, jin Tomang, siapa takut?!” Aku mengacungkan kedua tinjuku, sehingga mengepal di atas kepalanya.
Seketika dia terkekeh-kekeh menggemaskan. Haekal memang tumbuh dengan sangat baik, jarang sakit dan kecerdasannya sudah terlihat sejak kecil.  Sejak dalam kandungan aku sering mengajaknya bicara, tak peduli dianggap sinting sekalipun. Begitu dia lahir tiap saat pun kuajak bicara. Seakan-akan dia bukan makhluk tak berdaya, aku mendudukkannya sebagai seorang teman, sahabat yang bisa kuajak curah hati.
Mungkin karena itulah Haekal lebih mudah memahami perkataan orang dewasa. Pada usia sebelia itu, perbendaharaan katanya sungguh menakjubkan. Banyak orang terheran-heran dengan gaya bicaranya yang lugas, bernas dan cerdas.
“Ini dia anak ambing… nah, atunya agi embu ambing… Mmm, atunya agi sapa, Ma?” tanyanya suatu pagi, ketika kami berjalan menyusuri kebon, sawah dan melintasi sebuah kandang kambing.
Memang ada tiga ekor kambing di dalam kandang itu. Agaknya dia mencermatinya dan ingin menarik kesimpulan sendiri. Langkahku yang sudah agak menjauh, seketika terhenti, kembali berbalik ke arahnya dan menyahut; “Oh, itu bapak kambinglah, Nak…”
Kami kembali melanjutkan langkah, kulihat anakku masih tertegun-tegun, sesekali pandangannya diarahkan lagi ke kandang kambing. Sedangkan jari-jemarinya seperti tengah menghitung-hitung, lalu tiba-tiba dia menunjuk ke arahku, menepuk dadanya, dan menepuk keningnya keras-keras sambil berseru lantang.
“Maaaa! Ambing ada embu, ada bapak… Etan (dia menyebut dirinya demikian) mana bapaknya, Ma?”
“Oooh, bapak Haekal lagi cari kerja di Jakarta, ya Nak,” sahutku sejurus tercengang-cengang, tak pernah menduga akan mendapatkan pertanyaan demikian secepat itu.
“Ohhh… ada bapak Etan, ya Ma, ada…”
“Iya…” Aku masih tergagap bahna terkejut. “Terus, mau nanya apalagi, Nak?”
Sementara dadaku terasa berdebar keras sekali. Bukankah ini belum saatnya?
“Mm, ya dah… ayan agi Ma, ayoooo!” ajaknya sambil menyambar tanganku, seolah-olah telah puas dengan jawaban yang telah lama dicari-cari oleh otaknya yang mungil.
Ya Allah, ada yang runtuh jauh di dalam hatiku. Tak bisa kubayangkan, entah apalagi yang ingin dipertanyakannya kelak, tentang dirinya, tentang bapaknya, tentang keluarganya dari pihak bapaknya. Namun, kemudian kulihat anak itu sudah berlari-lari riang dan penuh sukacita, menyusuri pesawahan. Sebuah lahan favorit kami berdua yang hampir tiap pagi kami susuri, selama beberapa tahun kemudian.
Beberapa waktu kemudian, entah siapa yang mengajarinya, mungkin dia mengingat sekali pernyataan sadis, atau mungkin pula hanya keisengan belaka. Yang jelas, apabila ada yang menanyakan perihal bapaknya, maka demikianlah jawabannya; “Oh, bapak Etan… Ati abak ebek!”1
Binatang yang paling ditakutinya adalah unggas, terutama bebek dan ayam. Suatu kali ada seekor ayam jago menyambar kerupuk, makanan kesukaannya, yang tengah dipegangnya. Anakku berhasil mempertahankan kerupuknya, tapi jidatnya tepat dipatok si jago. Sejak itu dia selalu berusaha menghindari hewan yang bernama ayam, bebek, burung dan angsa.

Sambung


1 Mati ketabrak bebek

Habib Bahar Smith yang Saya Kenal


Habib Bahar Bin Smith Bin Ali
Iwan Adi Sucipto Pattiwael


Sosok ulama muda, memiliki kharismatik dan ilmu yang mumpuni. Sering sekali saya menyebutnya sebagai; perpustakaan berjalan. Sungguh, betapa luhur ilmu yang dimilikinya. Ia senantiasa bisa menjawab apapun pertanyaan kami, para tahanan yang mengikuti taklimnya.

Sikapnya yang tegas, mampu mempengaruhi seluruh tahanan yang berada di Rutan Polda Jabar. Sungguh, pengaruh yang dimilikinya sangat besar di dalam tahanan.

Alhasil, karena keberadaannya, sel tahanan seketika berubah menjadi pesantren. Para tahanan pun berubah menjadi santri, jamaah yang taat beribadah.

Habib Bahar bin Smith bin Ali!

Selama saya mengenalnya, suasana keagamaan yang sangat kental dapat dirasakan oleh para tahanan. Kegiatan rutin pengajian digelar, membuat para tahanan merasa nyaman, damai, tentram, bersemangat dan bahagia.

Habib Bahar memberikan kajian tasawuf setiap bada maghib. Dilanjutkan kajian hadits beserta hafalannya setiap bada isya. Keberanian yang ia miliki, mencerminkan kepribadian sahabat Nabi Muhammad SAW, yaitu; Umar Bin Khattab, RA.

Jika bangsa ini ingin menjadi besar dan memiliki martabat serta disegani oleh bangsa-bangsa lain, seharusnya mempunyai karakter para pemimpin seperti itu. Seperti karakter para sahabat Nabi Muhammad SAW. Mereka membantu perjuangan syiar Islam, berdakwah, berani membela kebenaran dan ikhlas berjihad.

Abu Bakar As Shidiq:  Sahabat Nabi yang selalu membenarkan ucapan Nabi dan mengikuti perjuangannya, selalu memberikan nasehat dan arahan yang membuat sejuk, damai, dan tentram di hati.

Umar Bin Khattab: Sahabat Nabi yang pemberani, tegas sikapnya, dan selalu membela apa yang dilakukan oleh Nabi. Membela kebenaran dan siap mati dalam perjuangan.

Ustman Bin Affan: Sahabat Nabi yang kaya raya dan punya sifat dermawan, siap mensedekahkan hartanya untuk perjuangan Nabi di jalan Allah.

Ali Bin Abu Thalib: Sahabat sekaligus menantu Nabi. Ia  menikah dengan putri Nabi, Sayiddah Fatimah Az Zahra. Kecerdasan yang dimilikinya mempunyai konsep brillian, dapat mengatur strategi-strategi di setiap perjuangan perang Nabi melawan bangsa jahilliyah Arab Quraish.

Kepribadian yang dimiliki oleh Habib Bahar, jika boleh saya gambarkan, seperti sifat salah satu sahabat Nabi yaitu; Umar Bin Khattab yang memiliki sifat tegas, berwibawa. Namun, punya sisi lain yang lembut dan sangat perhatian kepada kami para tahanan di Polda Jabar.

Di dalam penjara, saat Habib Bahar memimpin sholat tidak ada satu pun tahanan yang menolaknya. Bagi muslim wajib mengikuti kajian hadits. Dengan kelembutannya ia dapat merangkul semua tahanan. Mereka mengikuti apa yang disampaikan oleh Habib Bahar. Termasuk tahanan bertato yang kami segani di dalam tahanan.

Sosok muda rupawan inipun sangat perhatian, terutama bagi tahanan yang tidak pernah atau jarang dijenguk oleh sanak saudara, keluarganya. Terutamma jika ada yang sakit. Makanan dan obat-obatan selalu ia sediakan. Patutlah, sebab ia masih keturunan langsung sebagai cucu Rasulullah SAW. Tentu saja sifat-sifat mulia kakeknya menurun kepada sosok ini.

Di usia yang masih muda, terkadang kita tidak dapat mengontrol emosi. Ia marah apabila ada hal yang tidak diinginkan, terutama orang yang melecehkan martabat keluarganya, menyinggung perasaan ibu, istri dan anak-anaknya. Mereka yang teah menipu, memanipulasi namanya untuk kepentingan sendiri.

Saya ‘haqul yakin’ semakin bertambahnya usia, Habib Bahar akan memiliki sifat yang lebih sabar, saat menghadapi permasalahan apapun, kecuali kemungkaran.

Bila berhadapan secara langsung, kita akan tahu bagaimana sosok ini yang sesungguhnya. Sungguh, saya mengaguminya, betapa ia pandai merangkai kata-kata dan bait-bait yang indah. Sehingga tiap kali ia berdakwah, semua perkataannya sangat menyentuh kalbu.

Karena kekaguman itu pulalah, ada beberapa lagu yang kami buat bersama. Hingga rekaman di dalam Rutan Polda Jabar. Semua tak lepas demi kecintaan kami kepada Sang Pencipta yakni Allah SWT.

Saya bersyukur dapat berjumpa dengan seorang Habib yang terkenal. Kharismanya dapat merubah suasana di dalam Rutan seperti di pondok pesantren.

Alunan ayat suci Al Qur’an yang berkumandang, berdzikir, dan Asma Ul Husna terus terdengar di setiap blok. Apalagi setiap malam Jumat, kami shalawat Nabi. Ada aneka makanan dan wangi-wangian, suasana lebih nikmat dan khusuk dalam berdoa dan berdzikir.

Ada banya tamunya dari kalangan Habai, Mereka notabene memiliki ilmu yang tinggi dan santri-santrinya yang begitu banyak. Saya banyak belajar dari Habib Bahar, tentang ilmu agama dan kehidupan.

Dari kasus-kasus yang dialaminya justru membuatnya banyak berkarya seperti; kitab-kitab gundul yang bercerita tentang perjalanan Rasulullah SAW dan perjuangan syiar beliau.

Setiap malam saya sering berdiskusi dengan Habib Bahar sampai menjelang subuh. Betapa banyak ilmu yang saya dapatkan, sehingga mampu mengilhami tulisan-tulisan dalam buku ini. Terutama agar lebih mengenal dan dekat dengan Sang Pencipta Allah SWT.

Itulah sosok seorang Habib Bahar yang dianggap sebagian orang keras. Ternyata ia menyimpan kelembutan dan kasih sayang tak teperi. Perjumpaan dengan Ulama muda jenius ini taklah lama, tetapi telah melahirkan ilmu kehidupan bagi diri saya khususnya.

Saya simpulkan sosoknya sebagai berikut :

Bahwa manusia bisa kuat tanpa makan dan minum dalam waktu 3 hari. Namun, hati kita jangan dibiarkan kosong dalam waktu 3 hari itu. Karena akan hampa dan mudah berputus asa dari rahmat Allah. Seharusnya kita hidupkan dengan nilai-nilai ibadah lewat dzikir, ‘tholabul ilmi’, mencari ilmu di jalan Allah, belajar mengkaji Qur’an beserta maknanya.

Begitu tingginya orang yang berilmu dalam beribadah, karena ibadah yang tanpa didasari ilmu maka akan sia-sia.

Bagaimana kita menghormati, menghargai, dan mengikuti jejak para Habaib sebagai cucu Rasulullah SAW, mengikuti sifatnya yang mulia

Menyadari bahwa manusia membutuhkan untuk jasmaninya seperti; makan, minum, sandang, papan, mengumpulkan harta, menikah, dan mempunyai keturunan adalah sunnah. Sedangkan yang utama adalah sentuhan-sentuhan ruhani bagi jiwanya. Agar seimbang dalam menjalani kehidupan, lewat kajian dan dakwah akan menambah keimanan dan ketakwaan kita di sisi Allah SWT.

Banyak ilmu yang saya dapat kadang sulit untuk mempraktekkannya. Sedangkan Habib Bahar mampu membuat syair-syair indah yang dapat menyentuh hati bagi setiap yang membacanya. Lagu yang saya tulis bersamanya, sampai saat ini masih saya ingat syairnya.

“Engkau adalah aku, aku adalah engkau. Aku dan engkau adalah cinta dan kita disatukan dalam cinta-Nya.”

Saya juga belajar bagaimana caranya mencintai ibundanya, istrinya, dan anak-anaknya. Apalagi setelah punya anak perempuan. Sikap kerasnya, tatkala ada masalah yang harus dihadapi, mulai berkurang dengan kehadiran putrinya.

Pondok pesantren yang beliau dirikan Ponpes Tajul Alawiyyin di Bogor. Banyak dihadiri oleh santri yang merindukannya. Para santri bergantian menjenguk guru di Rutan Polda Jabar. Mereka hadir untuk memberikan semangat, mendoakan kesehatan dan keselamatan guru selama di dalam tahanan. Jika menyaksikan bagaimana kerinduan dan kecintaan para santri, sungguh membuat hati siapapun mengharu biru.

Saya harap kelak kita pun mempunyai pemimpin negeri yang mampu merangkul para Ulama, Kyai, dan Ustadz. Tidaklah dianggap berseberangan cara pandang dan keyakinan.

Semoga Allah jadikan negeri ini, Indonesia yang kita cintai agar damai, bersatu, aman, makmur, dan sejahtera. Allah SWT menyebut sebuah negeri yang aman, damai, makmur yang menjadi impian semua umat, baldatun thoyyibatun warabbun ghaffur.

Al Qur’an menggambarkan ‘Negeri ‘Saba’ yang subur dan makmur di bawah kepemimpinan Raja Daud dan putranya Sulaiman. Penduduknya selalu bersyukur atas nikmat yang diberikan Allah kepada mereka.

Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya bagi kaum Saba’ ada tanda (kekuasaan Tuhan) di tempat kediaman mereka yaitu; dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. Kepada mereka dikatakan: Makanlah olehmu dari rizki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun.” (QS, Saba’ : 15).

Untuk mewujudkan negeri impian yang digambarkan dalam Al Qur’an, haruslah dengan perjuangan yang sesungguhnya, diniatkan ikhlas beribadah kepada Allah SWT (Ihlashul Ubudiyyah Lillah). Untuk mewujudkan negeri yang baik penuh dengan ampunan Allah adalah dengan mewujudkan beberapa hal berikut:

Ikhlas menjadi syarat mutlak terwujudnya negeri yang baik. Dengan keikhlasan dalam beribadah, bekerja, berjuang, dan beramal sebagai pertanda sikap syukur. Telah sampai tujuan diciptakannya manusia yaitu mengabdi kepada Allah dengan didasari keikhlasan yang tinggi.

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus. (QS, Al –Bayyinah : 5)

Akhlak penduduknya yang mulia. Akhlak yang mulia merupakan barometer terwujudnya masyarakat dan bangsa yang baik. Masyarakat yang sejahtera, aman, dan damai hanya dapat diwujudkan di atas keadilan, kejujuran, persaudaraan, bertolong-menolong bersendikan hukum Allah yang sebenar-benarnya. Lepas dari pengaruh setan dan hawa nafsu.

“Sesungguhnya orang yang paling baik keislamannya adalah yang paling baik akhlaknya.” (HR. Ahmad)

Sifat amanah yang menyebar dan membumi, setiap penduduk negeri, apabila benar-benar menjalankan kewajiban dan amanah yang dipercayakan kepadanya dengan baik. Tidak ada korupsi, suap menyuap, dan pengkhianatan lainnya. Niscaya terwujudlah masyarakat yang baik. Allah SWT melarang perbuatan menyia-nyiakan amanat.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengkhianati Allah dan Rasul-(Nya) dan (juga) janganlah kalian mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepada kalian. Sedangkan kalian mengetahui.” (QS, Al-Anfal : 27).

Dengan memegang kuat amanah berarti menguatkan tatanan masyarakat. Sebaliknya mengkhianati amanat sama saja dengan menghancurkan peradaban bangsa

Adanya keseimbangan yang indah antara urusan dunia dengan akhirat. Alkisah seorang sahabat berniat beribadah di siang hari dan malam hari, hingga ia berniat menjauhi dunia dan istrinya. Maka seluruh waktu dan jiwanya hanya dihabiskan untuk bertaqarrub kepada Allah.

Tetapi Rasulullah SAW malah melarangnya sambil bersabda: “Aku adalah manusia terbaik, aku makan dan minum tetapi aku juga berpuasa, aku istirahat dan tidur tetapi aku juga mendekati istri, aku bangun menjalankan shalat tetapi aku juga bekerja mencari kehidupan dunia.”

Itulah yang dimaksud menjaga keseimbangan hidup, memperhatikan kemaslahatan akhirat. Tetapi tidak pula memperhatikan kebaikan dunia, bangsa yang baik hanya akan terwujud jika ada kebaikan jasmani dan ruhani

Bertaubat meraih ampunan Allah. Setiap manusia tentu pernah berbuat dosa, tetapi siapa yang bertaubat memohon ampun kepada Allah SWT, pasti Allah akan mengampuni akan mengampuni dosa-dosanya. Ketikan turun QS, Ali ‘Imran 135, Rasulullah bersabda kepada para sahabat,

“Ketahuilah saat ini setan sedunia sedang menangis. Karena setan telah menggoda anak cucu Adam. Tetapi Allah menurunkan ayat yang siapa bertaubat, Allah akan menghapus dosa-dosa mereka.” 

Ibn Mas’ud berkata, bagi orang yang berdosa ayat ini lebih baik dari surga dan isinya, kemudian ia membaca surat yang dimaksudkan: “Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.” (QS, Ali ‘Imran : 135)

Itulah di antara pilar terwujudnya negeri yang baik dengan Rabb Yang Maha Pengampun. Mudah-mudahan Indonesia menjadi negeri yang diberikan Allah dan menjadi negeri yang ‘Baldatun Thoyyibatun warabbun Ghaffur’.

Jika mampu tercipta suasana yang aman dan damai di antara Umaro dan Ulama, insya Allah tidak akan terdengar lagi Ulama, Kyai, dan Ustadz yang dianggap ‘berbuat makar terhadap pemerintahan yang sah’ dan ditangkap. Marilah kita duduk bersama untuk mencari solusi yang terbaik bagi negeri dan bangsa yang besar ini. Habib Bahar merupakan ulama muda yang kami hormati dan juga sebagai aset bagi negara dan bangsa.

@@@








Catatan Cinta Ibu dan Anak





Catatan Cinta Ibu dan Anak




Usia anakku tiga tahun setengah ketika kisuh-misuh dalam keluarga besar SM. Arief terjadi. Adikku En bercerai, anaknya semata wayang dititipkan di Cimahi, dan diasuh oleh ibuku. Sementara ayahku sakit-sakitan dan menjelang masa purnawirawan.

“Adikmu mau meniti karier dulu. Kasihan, biar dia melupakan perceraiannya,” berkata ayahku. “Di Jakarta anaknya kurang terurus, kita tak bisa mengandalkan seorang pembantu…”

Tentu saja aku pun ikut prihatin dengan kondisi adikku. Perceraiannya lebih merupakan hasil jebakan dan puncak intrik yang dilakukan oleh istri tua. Tapi keprihatinanku tidak membuatku menyetujui En mengambil sikap untuk menjauhkan anaknya dari dirinya.

“Apa enak hidup terpisah dengan anak semata wayang?” tanyaku saat mendiskusikan situasi yang kami hadapi. Sama menyandang predikat janda, single parent.

“Gak lah, tapi aku kan gak bisa konsen kerja kalau harus sambil urus anak,” kilah En. Dia kelihatan tegar dan siap berjuang mempertahankan anaknya… apapun yang terjadi!

“Mengapa tidak kita urus bersama saja anak-anak kita ini?”

“Maksudmu?”

“Kalau Teteh mau mengembangkan karier memang harus pindah ke Jakarta,” tegas En.

Entah siapa yang memulai, tapi yang jelas kemudian aku dan En menjadi lebih kompak. Sehingga aku memutuskan pindah ke Jakarta, menempati rumah yang terletak di sebelah tempat tinggalnya. Ternyata di situlah aku kembali bertemu ayah anakku. Dia tampak kurus, sekilas kelihatan lebih dewasa dan sangat perhatian terhadap Haekal.

Beberapa kali bertemu, aku mulai mempertimbangkan  untuk membuka kesempatan kedua bagi kami bertiga; suami, anak dan diriku. Karuan keputusanku ini membuat adikku En berang sekali.

“Ya sudah, kalau memang gak mau diurus, biar saja hidup mandiri di luar sana!”

“Gak ada yang gratis di dunia ini!”

“Semuanya harus dibeli dengan perjuangan, air mata dan darah!”

Dan banyak lagi perkataannya yang beraroma kapitalis, hitung-menghitung untung dan rugi. Aku tak meladeninya. Yang terpikirkan olehku saat itu adalah bahwa memang sebaik-baiknya seorang anak hidup dengan kedua orang tuanya.

Aku telah merasakan bagaimana berat dan rumitnya melakoni kehidupan menjanda, menanggung beban itu seorang diri. Bahkan belakangan aku pun harus menanggung beban orang tua, ikut membiayai adik-adik dan membayari utang ibuku kepada rentenir.

Beberapa peristiwa urusan sakit dan pengobatanku pun harus kulewati seorang diri, ya, hanya ditemani anakku. Puncak kekecewaanku adalah saat aku sangat membutuhkan biaya untuk berobat, uang yang kutitipkan kepada ibuku ternyata sama sekali tak bisa kuminta kembali. Sehingga berhari-hari aku harus merasakan kesakitan pada limpa, lemas yang tiada terkira, terkapar seorang diri, hanya ditemani anakku yang masih Balita.

“Baiklah, semuanya terserah kepadamu,” berkata ayahku yang tampak mulai lelah, karena harus beberapa kali keluar-masuk rumah sakit dengan penyakitnya, urusan urologi yang sudah kronis.

Sebelum resmi rujuk, aku membawa anakku pindah ke sebuah rumah sewa milik seorang ulama terpandang di Cibubur. Rumah sewa itu berukuran empat kali lima, sebuah kamar, ruang depan, kamar mandi dan tanpa dapur. Beberapa bulan lamanya, di sinilah kami berdua tinggal.

Suatu malam di musim hujan, pukul dua dinihari tiba-tiba air masuk dari lubang-lubang (baru kusadari keberadaannya) di tembok yang menghalangi kamar dengan rumah sebelah. Aku tersentak karena anakku sudah terbangun lebih dulu, kemudian mengguncang-guncang tanganku.

“Mama, kata orang ada banjir,” bisiknya dengan sorot mata ingin tahu dan penasaran.

Samar-samar memang kudengar suara gaduh di luar. Agaknya sungai kecil di belakang kompleks perumahan sewa ini meluap. Aku meloncat dari dipan bertingkat, gegas kunaikkan jagoan kecilku itu ke bagian atas, dan aku berpesan wanti-wanti kepadanya.

“Diam-diam di sini, ya Nak, Cinta…”

“Mama mau ke mana?”

“Mama mau lihat keadaan sebenarnya.”

Tapi akhirnya aku tak sempat lagi melihat-lihat, karena air bagaikan bah menerobos masuk, dalam hitungan menit pun sudah melewati paha. Kuselamatkan barang-barang kami yang tak seberapa. Sesungguhnya yang berharga bagiku hanya mesin ketik, baju, sedikit makanan kering dan buku-buku.

“Mama, itu si Mot Monyet! Duh, basah, kasihan!” seru Haekal menunjuk-nunjuk buku favoritnya, serial Mot Monyet yang sudah mengambang di atas permukaan air.

Aku memungut dan memberikannya sambil kubujuk bahwa buku favoritnya pasti bisa diselamatkan. “Kita akan menjemurnya kalau hari sudah terang, ya Nak.”

“Makasih…” gumamnya seraya memandangi gambar Mot Monyet yang mendelong kosong ke arahnya.

Aku memalingkan wajah dan mulai berpikir keras untuk sebuah penyelamatan, tanpa harus membekaskan luka dalam jiwanya. Sementara di luar hujan semakin deras, air kian meluap memasuki rumah petak kami.

“Lahaola walla quwwata ila billahi aliyyul adziiim…” Maka kusingsingkan lengan baju dan mulai berjibaku.

“Hujan datang, hujan datang, banjirnya. Tuhan, jangan lama-lama hujannya. Jangan lama-lama banjirnya, kasihani Mama, kasihani Ekal, kasihani kami, duaan!” celoteh anakku.

Sementara aku berjibaku menyiuki air, membuangnya ke luar rumah, anakku terus berseru-seru menyemangatiku. Kadang aku mendatanginya, mengingatkan agar tidak berisik, kemudian kubuatkan perahu-perahu dari kertas. Dia mempermainkannya dari atas ranjang tingkat dua itu dengan sapu lidi sebagai pengaitnya.

Dua jam berlalu sudah, hujan masih turun bahkan semakin deras, dan air tetaplah bergeming. Keringat, peluh, banjir dan air mata mulai mengaduk-aduk perasaanku. Inilah saat-saat  paling sengsara yang belum pernah kami alami.

Ketakutanku sesungguhnya lebih disebabkan sebuah tanggung jawab yang harus kupikul, demi menyelamatkan nyawa kami berdua. Aku harus jujur, sesungguhnya aku merasa takut sekali tak sanggup menunaikan amanah yang telah diberikan Sang Pencipta di pundakku ini; anak!

Pikiranku serasa buntu dan membeku. Lelah lahir, lelah batin. kupandangi wajah mungil yng kini tampak kelelahn pula, sepasang matanya balik menatap sayu ke arahku, tapi mulutnya sudah berhenti mengoceh sejak beberapa saat berselang.

“Sudah ya Ma, sudah, sini, kita doa aja,” ajaknya tiba-tiba.

Di situlah, di atas ranjang tingkat, mengisi waktu menjelang subuh, aku memeluk tubuh kecil sambil mulutku tak putus berzikir dan berdoa.

***



 Seminggu hujan turun terus-menerus, air bagaikan dicurahkan dari langit. Banjir di mana-mana, meluap di kawasan perkampungan belakang kompleks perguruan Islam milik ulama besar itu. Berkali-kali air datang di malam hari, kemudian surut menjelang siang.

Acapkali kami berdua sama sekali tak bisa berbuat apa-apa untuk mencegah air masuk, atau menyiukinya saat banjir datang. Paling kami hanya memandangi pemandangan ajaib itu dari ranjang bertingkat selama berjam-jam, tak jarang harus menahan rasa haus dan lapar hingga air surut kembali.

Suatu petang yang terbebas dari hujan, saat kami sudah kehabisan bekal, tak ada makanan kering, tak ada beras sebutir pun. Kocek pun kosong sama sekali!

“Mama, gak punya uang lagi, ya?” usik anakku.

Sepanjang hari itu hanya kuberi semangkuk bubur pemberian tetangga, dan beberapa potong kue basah.

“Iya, Nak. Baru besok pagi kita bisa ke kantor redaksi mengambil honor,” sahutku sambil berpikir keras, bagaimana mendapatkan makan untuk mengganjal perutnya malam ini.

“Kenapa besok?”

“Yah, karena naskahnya belum jadi nih.”

Tidak, bukan itu alasannya. Aku tak punya ongkos!

“Oh…” kesahnya mengambang di antara genangan air di bawah kami. Kutahu dia mulai tersiksa dengan bunyi lagu keroncong yang setiap saat diperdengarkan oleh perut kami.

Aku kembali melanjutkan menulis cerita bersambung sambil menekan rasa bersalah yang meruyak. Kulihat sepintas makhluk kecil itu mulai mencari-cari sesuatu untuk melampiaskan pikiran dan perasaannya. Ya, kutahu persis demikian kebiasaannya!

Benar saja, begitu dia berhasil menemukan buku Mot Monyet dan robot-robotan Megaloman, maka dengan cekatan tangannya memainkan si robot.

“Alkisah di jaman sekarang, si Mega lagi musim kebanjiran jrek-jrek jrek-jrek, nooong!”

Bibirku niscaya mengerimut menahan senyum.

“Emak si Mega lagi sibuk kerja, bikin cerita biar bisa dijual, jrek-jrek jrek-jrek, nooong!”

Bibirku niscaya kian mengerimut, menahan geli.

“Uangnya nanti bakal beli makananan anaknya, jrek-jrek jrek-jrek, nooong!”

Ah, anak ini bisa saja kalau sudah menghibur ibunya, pikirku. Jari-jemariku semakin sibuk ngebut menulis. Tinggal satu bab lagi dan selesai!

“Aduuuh, si Mega sekarang lagi kelaparan… jrek-jrek jrek jrek… duuuh, duuh…”

“Soalnya berhari-hari cuma makan bubur… jrek-jrek jrek-jrek… nnnn… mmm, mmm…”

Dadaku mulai berdebar, tapi kutahankan untuk tidak terpengaruh. Jari-jemariku, pikiran dan perasaanku masih berkutat pada ending cerita tentang sebuah keluarga yang berbahagia…

Ya Rob, kuatkan anakku, jeritku mengawang langit. 

“Adduuh… Tuhan… Ekal kepingin makan… Tuhan… di mana makanannya?”

Aku masih melanjutkan menulis, tapi tak ada suara apapun lagi dari sebelahku. Kuhentikan berjibaku dengan si Denok, kulirik dalang jejadianku tersayang yang telah membuat ibunya merasa geli. Ya Tuhan, kenapa anakku, begitu?

Anak itu, buah hatiku tercinta, belahan jiwaku tampak menekuk kedua lututnya, memeluk robotnya erat-erat, sedang buku Mot Monyet sudah terlepas dari tangannya, mengambang di permukaan air yang menggenang di bawah kami.

“Naaak, Cintaaa, maafkan Mama, ya, maafkan Mama!” kuraih dan kupeluk tubuh mungil yang sudah tak tahan rasa laparnya itu erat-erat.

Ada gigilan yang aneh mengalir dari tubuhnya. Ya Tuhan, jangan, jangan biarkan anakku sakit. Jangan saat-saat begini, jangaaan!

Benteng pertahananku pun jebol sudah, air bening meluap dari sudut-sudut mataku, seolah-olah ingin menyaingi air banjir yang telah menggenangi tempat mukim kami selama berhari-hari.

“Ke mana kita, Ma?” lirihnya lemah saat kugendong dia dengan segala kekuatan yang masih kumiliki, tak peduli kusibak air sebatas lutut yang telah membuatku merasa terhalang untuk mencari nafkah lebih keras lagi.

“Pssst, diamlah, Nak. Kita berdoa, kita akan cari makanan,” bisikku di telingaku.

“Siiip!” serunya mengagetkan. “Turunkan Ekal, Ma, nanti limpa Mama sakit lagi,” pintanya pula serius sekali.

Berjalan kaki menembus tanah becek yang tiada terkira, kuperas otakku sedemikian rupa, bagaimana caranya mendapatkan makanan untuk anakku? Nah, ada warung nasi, tapi dari mana uangnya?

“Tunggu dulu di sini sebentar, ya Nak,” kulepaskan genggaman tangannya beberapa meter dari warung nasi itu.

Tanpa banyak tanya, ini sesuatu pengecualian, biasanya sangat cerewet, dia mengangguk, membiarkanku berlalu. Maka, kulempar segala perasaan malu, kudatangi pemilik warung nasi.

“Ibu, Ibu, hmm, maaf, bisa saya minta tolong ya Bu?”

Perempuan paro baya bertubuh subur itu memandangiku. Apakah dia masih mengenaliku? Ada beberapa kali aku membeli makanan ke sini.

“Ya, ada apa?” tanyanya.

“Saya butuh makanan, sebungkus nasi rames, ya Bu. Tapi bayarnya besok, ya Bu. Boleh, ya, Bu, boleh?”

“Ooooh…”

Tidak, kutekan terus rasa malu itu, mumpung tak ada siapapun selain si ibu.

“Ibu kan kenal saya yang nyewa di rumah Ustad Fahri. Nah, ini, kalau gak percaya, mmm, saya jaminkan KTP ini, ya Bu.”

“Oalaaa… Neng, Neng, ya wis… pake jamin-jaminan KTP segala,” tukasnya sambil tersenyum ramah.

“Tapi, saya emang lagi….” Kutelan air mata yang seketika terasa asin, dan berjejalan hendak tumpah berderai dari sudut-sudut mataku.

“Monggo, mau apa saja.. Jangan sungkan-sungkan tho, Neng…”

Begitu sayang Gusti Allah kepada kami, kataku dalam hati. Maka, kujinjing dua bungkus nasi rames lengkap dengan lauknya; ayam goreng dan perkedel.

“Makanannya dapat, ya Ma?” sambut anakku sambil menatap kantong kresek di tanganku lekat-lekat.

Aku mengangguk dengan mata membasah.

“Horeee, asyiiik!” serunya berjingkrak kegirangan.

“Pssst, Alhamdulillah, begitu,” tukasku sangat terharu melihat anakku girang tak terkira.

“Eh, iya, ya, Alhamdulillah wa syukurillah….”

Kami bergandengan tangan kembali ke rumah petak, masih terendam oleh air sungai yang meluap ke mana-mana.

Malam itulah aku memutuskan untuk menyerahkan kembali anakku kepada bapaknya, termasuk diriku. Meskipun harus menanggung nestapa selama puluhan tahun kemudian, disebabkan kecurigaan membuta, paranoid yang sudah berurat dan berakar dalam jiwanya.

***

Recommend us on Google!

Tulisan Terbaru