Latest Stories

Subscription

You can subscribe to pipietsenja.net by e-mail address to receive news and updates directly in your inbox. Simply enter your e-mail below and click Sign Up!

TOP 5 Most Popular Post

Other Post

Other Post


Pagi itu, Rasulullah dengan suara terbata-bata memberikan petuah: “Wahai umatku, kita semua ada dalam kekuasaan Allah dan Cinta Kasih-Nya. Maka taati dan bertakwalah hanya kepada-Nya. Kuwariskan dua hal pada kalian, Sunnah dan Al-Qur’an. Barang siapa yang mencintai Sunnahku berarti mencintai aku, dan kelak orang-orang yang mencintaiku, akan bersama-sama masuk surga bersama aku,".
Khutbah singkat itu diakhiri dengan pandangan mata Rasullah yang teduh menatap sahabatnya satu persatu. Abu Bakar menatap mata itu dengan berkaca-kaca. Umar dadanya naik turun menahan nafas dan tangisnya. Ustman menghela nafas panjang dan Ali menundukan kepalanya dalam-dalam.
Isyarat itu telah datang, saatnya sudah tiba “Rasulullah akan meninggalkan kita semua,” desah hati semua sahabat kala itu. Manusia tercinta itu, hampir usai menunaikan tugasnya di dunia.
Tanda-tanda itu semakin kuat, tatkala Ali dan Fadhal dengan sigap menangkap Rasulullah yang limbung saat turun dari mimbar. Saat itu, seluruh sahabat yang hadir di sana sepertinya tengah menahan detik-detik berlalu.
Matahari kian tinggi, tapi pintu rumah Rasulullah masih tertutup. Sedang di dalamnya, Rasulullah sedang terbaring lemah dengan keningnya yang berkeringat dan membasahi pelepah kurma yang menjadi alas tidurnya. Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seseorang yang berseru mengucapkan salam.
“Assalaamu’alaikum… Bolehkah saya masuk ?” tanyanya.
Tapi Fatimah tidak mengijinkannya masuk, “Maafkanlah, ayahku sedang demam,” kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu. Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya kepada Fatimah.
“Siapakah itu, wahai anakku?”
“Tak tahulah aku ayah, sepertinya baru sekali ini aku melihatnya,” tutur Fatimah lembut. Lalu Rasulullah menatap putrinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. Satu-satu bagian wajahnya ditatapnya seolah hendak dikenang.
“Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. dialah Malaikat Maut,” kata Rasulullah. Fatimah pun menahan tangisnya.
Malaikat Maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tak ikut menyertai. Kemudian dipanggillah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap di atas langit untuk menyambut ruh kekasih Allah dan Penghulu dunia ini. (kemudian diketahui Malaikat Jibril tidak sanggup melihat Rasulullah dicabut nyawanya)
“Jibril, jelaskan apa hakku nanti dihadapan Allah?”  Tanya Rasulullah dengan suara yang amat lemah.
“Pintu-pintu langit telah dibuka, para malaikat telah menanti Ruhmu, semua pintu Surga terbuka lebar menanti kedatanganmu” kata Jibril. Tapi itu semua ternyata tidak membuat Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan.
“Engkau tidak senang mendengar kabar ini, Ya Rasulullah?” tanya Jibril lagi.
“Kabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?”
“Jangan khawatir, wahai Rasulullah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: ‘Kuharamkan surga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada didalamnya’,” kata Jibril.
Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan Ruh Rasulullah ditarik. Tampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang.
“Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini,” ujar Rasulullah mengaduh lirih.
Fatimah terpejam, Ali yang di sampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril memalingkan muka.
“Jijikkah engkau melihatku, hingga kaupalingkan wajahmu, wahai Jibril?” tanya Rasulullah pada malaikat pengantar wahyu itu.
“Siapakah yang tega, melihat kekasih Allah direngut ajal,” kata Jibril.
Sebentar kemudian terdengar Rasulullah memekik karena sakit yang tak tertahankan lagi.
“Ya Allah, dahsyat nian maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan kepada umatku.”
Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tak bergerak lagi. Bibirnya bergetar seakan hendak membisikan sesuatu, Ali segera mendekatkan telinganya.
“Peliharalah shalat dan santuni orang-orang lemah diantaramu”
Di luar pintu, tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangan diwajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan.
“Ummatii. ummatii. ummatii.”
“Wahai jiwa yang tenang kembalilah kepada tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya, maka masuklah ke dalam jamaah hamba-hamba-Ku dan masuklah ke dalam jannah-Ku.”
‘Aisyah ra berkata: ”Maka jatuhlah tangan Rasulullah, dan kepala beliau menjadi berat di atas dadaku, dan sungguh aku telah tahu bahwa beliau telah wafat.”
Dia berkata: ”Aku tidak tahu apa yg harus aku lakukan, tidak ada yg kuperbuat selain keluar dari kamarku menuju masjid, yg disana ada para sahabat, dan kukatakan:
”Rasulullah telah wafat, Rasulullah telah wafat, Rasulullah telah wafat.”
Maka mengalirlah tangisan di dalam masjid. Ali bin Abi Thalib terduduk karena beratnya kabar tersebut, ‘Ustman bin Affan seperti anak kecil menggerakkan tangannya ke kiri dan kekanan.
Adapun Umar bin Khathab berkata: ”Jika ada seseorang yang mengatakan bahwa Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam telah meninggal, akan kupotong kepalanya dengan pedangku, beliau hanya pergi untuk menemui Rabb-Nya sebagaimana Musa pergi untuk menemui Rabb-Nya.”
Adapun orang yg paling tegar adalah Abu Bakar, dia masuk kepada Rasulullah, memeluk beliau dan berkata: ”Wahai sahabatku, wahai kekasihku, wahai bapakku.”
Kemudian dia mencium Rasulullah dan berkata: ”Anda mulia dalam hidup dan dalam keadaan mati.”
Keluarlah Abu Bakar ra menemui orang-orang dan berkata: ”Barangsiapa menyembah Muhammad, maka Muhammad sekarang telah wafat, dan barangsiapa yang menyembah Allah, maka sesungguhnya Allah kekal, hidup, dan tidak akan mati.”
‘Aisyah berkata: “Maka akupun keluar dan menangis, aku mencari tempat untuk menyendiri dan aku menangis sendiri.”
Inna lillahi wainna ilaihi raji’un, telah berpulang ke rahmat Allah manusia yang paling mulia, manusia yangg paling kita cintai pada waktu dhuha ketika memanas di hari Senin 12 Rabiul Awal 11 H tepat pada usia 63 tahun lebih 4 hari. Shalawat dan salam selalu tercurah untuk Nabi tercinta Rasulullah Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassalam.

Betapa cintanya Rasulullah kepada kita sebagai ummatnya, sehingga ajal pun sudah di ujung ubun-ubunnya masih tetap saja memikirkan nasib ummatnya. (Sumber : Misteri Dunia)
Posted in: | Selasa, 26 Mei 2015



Tahukah Anda apa maknanya Camat? Kepala Kecamatan, ya? Oh, kalau itu sih semua juga tahu. Tapi Camat yang saya maksudkan di sini adalah Calon Mayat. Ya, pada hakekatnya kita ini semuanya juga Calon Mayat, bukankah?

Beberapa kali dalam hidupku, terutama ketika berada di rumah sakit dan sedang sendirian, aku pernah disangka sebagai jenazah alias Camat tersebut.

Satu saat, kejadiannya di RSCM, awal 1990, aku sedang mengandung 7 bulan anak ke-4. Ya, jika ada dan terlahir dengan selamat, aku memang pernah mengandung sebanyak lima kali. Dua adiknya Haekal, artinya anak ke-2 dan ke-3  mengalami keguguran karena kondisiku sangat lemah.

Dua kali kehamilan itu baru  berusia 8 mingguan. Kemudian adiknya Butet, yakni anak ke-5 setelah usia 6 bulan pun mengalami keguguran. Ini akibat kecelakaan, perutku membentur jok mobil Kowanbisata yang dikebut ugal-ugalan.

"Eeh, ini masih hidup, yaaaak?" seru Profesor.

Setiap kali hamil, sebagai pasien kelainan darah bawaan, aku diharuskan ditransfusi secara berkala lebih sering dari biasanya. Hampir tiap pekan harus ditransfusi demi menjaga takaran darah pada kisaran 10.

Hari itu, setelah dicek darah di Poliklinik Haematologi, dinyatakan HB (takaran darah) hanya 6. Harus ditransfusi, tidak boleh menunggu lagi, terpaksa pilihannya hanya di UGD. Suasana UGD seperti biasa crowded, rusuh bukan main, apalagi saat itu masih disatukan antara pasien penyakit dadakan dengan pasien kecelakaan lalu-lintas.

Darah yang sebelumnya telah kupesan ke PMI Pusat di Kramat Raya, dijanjikan baru datang dalam enam jam kemudian. Jadi, karena tak punya sanak-saudara, kuupah seorang cleaning service untuk mengambilnya.

“Ibu tunggu di sini, ya, tenang saja, nanti saya ambilkan,” janji si abang cleaning service.
Aku mengangguk, tapi bagaimana mau tenang, coba? Di sekitarku semakin hiruk-pikuk saja. Ada banyak korban keracunan biskuit yang berdatangan dari pelosok Jakarta. Mulai dari suara muntah-muntah hebat, melolong-lolong kesakitan, sampai tindakan cuci perut yang mengeluarkan bau busuk ke pelosok ruangan.

Karena di ruang dalam sudah penuh, maka aku pun ditaruh di selasar alias lorongnya saja, di antara pasien lainnya yang belum tertangani. Brankar kami dideretkan, tepatnya diantrikan tepat di depan kamar-kamar yang telah penuh pasien gawat tersebut.

Di depanku brankar berisikan seorang tunawisma,  menurut suster sudah ada di situ sejak tiga hari yang lalu, dibawa oleh seorang polisi. Entah apa penyakitnya, dan entah bagaimana pula penanganannya, pokoknya begitu aku tiba di situ kusaksikan dengan mata kepalaku sendiri dia bersuara; cekleuk alias gameover!

Kucermati keadaan jenazah tunawisma, kubayangkan polisi menemukannya di pinggir jalan dan sudah dalam kondisi parah. Bisa ditebak, tidak akan pernah ada yang menanganinya karena tak ada keluarga yang siap menjamin. Jadi, ya, dibiarkan saja selain diberi infusan alakadarnya, sampai tiba waktunya dipanggil Sang Pencipta.

Lalat-lalat hijau agaknya sudah menyukainya sejak awal, tampak kian banyak berseliweran di sekitar mayat itu. Sebagian bahkan melayang-layang ke arahku, menclok sana-sini. Bingung dan kesal juga dikerumuni lalat hijau, jadi kurungkupkan mukena yang selalu kubawa ke mana pun aku pergi, menutupi sekujur tubuhku.
Ndilalah, malah langsung tidur pulas!

Ketika mendusin, aku merasa brankar bergerak alias dijalankan oleh orang, masak iya sih jalan sendiri kan? Jujur saja, otakku belum konek bin bête, jadi kubiarkan saja air mengalir (ciee!), istilahnya ngartis banget!

Kudengar ada yang bercakap-cakap sbb; “Ini kasihan amat, ya, lagi hamil gak ada suaminya, eh, malah meot!”
“Hmm, perasaan tadi siang masih kulihat dia ke kamar mandi, ambil wudu, katanya.”
“Ya, namanya juga umur, gak ada yang tahu….”

Kali ini otakku mulai konek, sepenuhnya sadar, mereka telah mengira aku mati agaknya. Serentak kukuakkan mukena yang menutup wajahku, dan berkata lantang: ”Woi, aku belum meot, tauuuk!”
Alih-alih menghentikan gerakannya, dua perawat laki-laki muda itu malah serentak balik kanan, dan ngacir!

Beberapa saat aku celingukan duduk di atas brankar, baru kusadari ternyata aku telah berada tak jauh dari kamar jenazah.  Untunglah tidak terlalu lama menanti, kedua perawat muda itu kembali berlarian menghampiriku. Keduanya berebut mengambil tanganku, berebut pula  menciuminya dengan takzim dan ketakutan. Mereka menyatakan perasaan bersalahnya di bawah tatapanku yang melongo saja, geli-geli bagaimanalah begitu. Hadoooh!

“Duh, maafkan, ya Bu, kami salah ambil rupanya….”
“Iya, seharusnya brankar satunya lagi….”
“Mohon jangan dikasih tahu siapapun, ya Bu, pliiiissss….”

@@@


Posted in: | Senin, 27 April 2015



Ilustrasi:Google



Dari 99 Kisah Hikmah : 

Malam  mulai larut, mie ayam dagangannya tinggal sedikit. Dilihatnya kios-kios di sekitar perumahan tempatnya mangkal, satu per satu telah ditutup. Tinggal kios warnet yang masih buka. Tampak beberapa anak muda asyik bermain game-online.

Setiap kali melihat anak-anak muda pikirannya jadi melayang kepada anak sulungnya. Fadli putra kebanggaannya yang selalu meraih prestasi hingga mendapat beasiswa belajar ke Yaman. Bagaimana kabarnya sekarang di tengah pergolakan politik di sana?
           
“Kami para mahasiswa masih aman-aman saja, Bah. Tapi kami sudah diintruksikan untuk bersiap dievakuasi,” demikian pesan singkat Fadli beberapa hari yang lalu. Sejak itu ia belum terhubung kembali dengan putranya.
            
Seketika Bah Dira menekur, menengadahkan kedua telapak tangan mendoakan putra sulungnya. Begitu khidmat dan khusuk ia mendoakannya, tanpa terasa air mata meleleh dari sudut-sudut matanya. Teringat saat Fadli pamitan, minta keikhlasannya. Agar ia tak terlalu mengharapkannya pulang dalam waktu dekat.

"Ikhlaskan anakmu berjihad di bumi para Nabi, ya Bah,” demikian salam perpisahan anaknya yang saleh.

Ia pun tak lupa mendoakan anak perempuannya si Fadliyah. Putrinya ini bertolak belakang dari kakaknya. Ia sering bolos sekolah hingga akhirnya dikeluarkan. Anak itu bertingkah tak lama setelah ibunya nekad kerja sebagai TKW di Hongkong. Bah Dira tidak berdaya, dirinya memang tak mampu menghidupi keluarganya sesuai tuntutan istrinya.

“He, bengong saja si tua ini! Kasih mie ayamnya sepuluh!” hardikan lantang membuyarkan seluruh lamunan Bah Dira. Seorang anak muda berteriak-teriak dari atas sadel motornya.

Dalam sekejap rombongan anak muda telah memarkir motor di depan kios mie ayam Bah Dira. Sekilas ia menghitung dengan sudut matanya ada 10 orang. Mereka berpasangan, lelaki dan perempuan. Geng motor anak baru gede, orang menyebut yang perempuan sebagai cabe-cabean.

Jantungnya seketika serasa digodam palu raksasa. Betapa tidak, salah satu anak baru gede yang baru turun dari sadel motor paling depan itu tak lain tak bukan adalah putrinya sendiri.

Ya Allah, Fadliyah!
"Eh, malah bengong nih si Tua?” sergah anak muda berbadan kerempeng dengan celana jins bolong-bolong, rambut  dicat warna-warni. Tahu-tahu anak itu sudah mencelat berada di depan gerobaknya.

“Tahu saja lihat si Lience keren....”
Sejak kapan ganti nama, sentak Bah Dira terkejut sekali, hanya dalam hati.
“Lience paling keren dan asli looooh!”
“Maklum baru keluar dari sarangnya....”
“Hooh! Ibarat kata fresh oven, hahaha!”

Suara-suara kurang ajar saling bersahutan membuat pasangan mereka cemberut, iri. Mana ada yang berani kepada Boyke, ketua geng yang baru berhasil menarik perawan tingting itu keluar rumahnya di gang kumuh.

Sambil meracik mie ayam Bah Dira sesekali mencuri pandang ke arah putrinya. Anak baru gede itu berlagak tidak mengenalnya sama sekali. Pakaiannya itu, ya Robb, dari mana dia mendapatkan baju aneh begitu? Celana jins belel jumbai-jumbai ala koboy, dipadu t-shirt dengan pusar terbuka, berbalut jaket kulit yang mengepas badannya.

Ya Malik, Ya Malik, Ya Malik!
Bah Dira mengumpulkan seluruh kekutan iman yang dimilikinya agar tidak terpancing emosi. Dengan sigap ia menyelesaikan pesanan, mengantarkannya ke meja anak-anak muda itu.

Ia tak merasa sakit hati jika putrinya tak memedulikan keberadaannya. Ia tak sanggup melihat penampilan putrinya. Satu hal yang dipegangnya detik ini adalah teguh zikrullah, digemakan tak putus-putusnya di dalam dadanya.

Ya Malik, Ya Malik, Ya Malik!
Bah Dira berhasil mengirimkan pesan singkat kepada sahabatnya Satpam perumahan. Beberapa saat sebelum geng motor yang telah sukses mengambil putrinya menghabiskan mie ayam, tiba-tiba satu regu keamanan menyerbu kiosnya.

Bah Dira menyaksikan bagaimana anak-anak geng motor itu mencoba melawan. Mereka berontak, menendang, memukul bahkan mengeluarkan senjata tajam. Namun sahabatnya dan kawan-kawan sudah terlatih. Dalam hitungan menit mereka berhasil meringkus anak-anak geng motor, menggiringnya ke Pos Satpam, menunggu jemputan polisi.

Malam semakin larut, tetapi Bah Dira masih bertahan di kiosnya. Ia telah berpasrah diri, ikhlas lilahi Taala dengan nasib putrinya, saat sahabatnya kembali ke kiosnya.

“Putrimu tidak terbukti bersalah, Bah. Silakan bawa pulang,” ujar Bah Dodi, menggandeng anak baru gede itu ke hadapan ayahnya.

“Maafkan aku, Bah, maafkan, ampuuuun,” lirih Fadhliyah bercucuran air mata.
Bah Dira memeluknya erat-erat. Tak ada kata-kata yang terucap dari bibirnya yang menggeletar saking terharu kecuali; alhamdulillah. Rasa bersyukur atas anugerah-Nya, telah mengembalikan putrinya ke pangkuannya.

Ilustrasi:Bah Dira sibuk menyajikan mie ayam kepada geng motor yang telah menggaet putrinya.
@@@


Posted in: | Selasa, 21 April 2015


Ilustrasi:Googling

Doa Ibu
Bayi mungil yang barusan menolak disusuinya itu diyakininya masih bernapas. Anakku harus hidup, harus bertahan, demikian yang terpeta dan mengakar di otak Mak Musa. Bayi yang terbaring lemah di ranjang mungil ini telah dinantikannya selama lima belas tahun. Betapa sukacita ia dan suami saat dokter menyatakan dirinya hamil. Meskipun selang kemudian suaminya harus pergi ke Malaysia. Demi masa depan mereka, sebab di kampung sulit mendapatkan pekerjaan.
Pukul satu dinihari, suasana di ruangan rawat tak pernah tidur. Ada saja tangis, rengekan dan suara kesakitan pasien anak-anak di sebelah menyebelahnya. Para penunggu, ibu dan bapak harus punya kesabaran tinggi untuk menenangkan anak masing-masing.
Dokter jaga didampingi perawat memasuki ruangan. Mak Musa gegas menghampiri mereka.”Bagaimana, Dokter? Sudah adakah tempat kosong di NICU?”
Dokter cantik dengan jilbab biru itu menggeleng.”Belum ada yang kosong, Ibu Musa. Apa tidak ada kabar dari keluarga yang bantu cari NICU untuk Musa?”
Mak Musa menggeleng lesu. Keluarganya tinggal jauh di kampung. Keluarga suami nyaris tak peduli, satu pun tak ada yang menengok. Sejak awal mereka tak pernah menyukainya. Teman-teman di pabrik sudah repot dengan urusan mereka. Hanya satu-dua yang sempat menengok sejak ia melahirkan tiga bulan yang lalu.
“Bagaimana kondisinya sebenarnya, Dok? Tolong dijelaskan saja sejujurnya,” bisiknya sesaat membiarkan dokter memeriksa bayinya. Sosok mungil yang telah diberi nama oleh ayahnya sejak tujuh bulan dalam kandungan, tampak bergeming, tak bereaksi sama sekali. Hancur rasanya hati keibuan Mak Musa.
“Seperti yang sudah kami jelaskan kemarin,” kata dokter dalam nada serius, meskipun berusaha menenangkannya.”Bayi Ibu punya kelainan jantung. Ia harus dirawat secara ntensif di ruang NICU. Bertahap nanti akan dilakukan operasi jantung kalau dia sudah besar dan kuat....”
Mak Musa tak sanggup mendengar kelanjutannya lagi. Kelainan jantung harus dirawat di NICU, karena peralatan yang menunjang kehidupannya harus lengkap. Titik. Tapi tak ada NICU yang kosong dengan biaya surat keterangan tidak mampu yang dimilikinya. Semua NICU rumah sakit terdekat yang dihubunginya menyatakan; penuh!
Ini adalah malam ke-9 bayinya menunggu mendapatkan tempat di ruangan NICU. Mak Musa tidak mau membawa bayinya pulang dalam kondisi parah. Karena di rumah pun ia hidup seorang diri. Seketika sesak serasa dadanya mengingat betapa perjuangannya demi memiliki keturunan. Mulai dari konsultasi ke bidan, dokter kandungan, hingga menemui orang-orang pintar bahkan dukun.
“Ya Robb, ampunilah hamba yang lemah ini. Agaknya saat itulah hamba telah berbuat dosa besar, menduakan-Mu,” gumamnya kini.
Terbayang yang terakhir dilakukannya tanpa sepengetahuan suami adalah menemui kuncen di Pangandaran. Sang kuncen mengatakan akan memanggil Buta Hejo untuk memberinya keturunan. Syaratnya ia tak boleh mengucapkan asma Allah seumur hidupnya.
Ketika ia mengandung tak berapa lama sepulang dari Pangandaran imannya nyaris gugur. Ia percaya bahwa kehamilannya berkat perantara si Kuncen. Berkat perutnya dipegang oleh Kuncen yang katanya adalah perantara si Buta Hejo. Naudzubillahi min dzalik!
Sekarang tubuhnya bergetar hebat, tersuruk di atas sejadah dengan air mata bersimbah. Ia menjeritkan rasa penyesalannya kepada Sang Maha Penguasa Semesta. Ia berharap ampunan dari Sang Maha Penyayang.
Ya Rahiim, Ya Rahiim, Ya Rahiim!
“Hamba ikhlas dengan segala kehendak-Mu. Ya Rahiim, apapun keputusan-Mu kini hamba pasrah lilahi Taala,” desisnya nyaris tak putus-putusnya berdoa, zikir, berdoa, zikir. Itu saja yang masih bisa dilakukan Mak Musa mengisi sisa dinihari.
Pagi telah datang, tim dokter memeriksa semua pasien kecil di ruangan Permata. Mak Musa menunggu rombongan dokter dengan hati tenang. Ya, ia telah menyerahkan segala urusan bayinya kepada Sang Pencipta.
Dipimpin seorang Profesor ahli jantung, mereka memeriksa Musa dengan cermat sekali. Mata Mak Musa tak lepas-lepasnya dari sosok buah hatinya yang tampak tenang. Ya Rahiim, Ya Rahiim, Ya Rahiim!
“Bagaimana Prof, apa sudah ada tempat di NICU?” tanyanya menatap Profesor penuh harap saat dilihatnya lelaki paro baya itu selesai memeriksa bayinya.
“Untuk apa pindah ke NICU?” balik Profesor tersenyum ramah.
“Maksud Profesor?” Mak Musa belum paham.
“Musa boleh dirawat di sini saja sampai kondisinya lebih membaik. Ibu tidak perlu mencari kamar di NICU lagi, ya,” suaranya terasa bagaikan air dingin, menyejukkan segala resah pasah jiwanya.
Rombongan dokter meninggalkan ruang perawatan anak. Mak Musa masih tertegun-tegun, nyaris tak bisa memercayai daya pendengarannya. Hingga tiba-tiba mendengar suara meringik dari ranjang mungil bayinya. Ya Rahiim, Ya Rahiim, Musa bisa menangis meskipun hanya ringikan lembut!
“Terima kasih, Ya Robb. Engkau telah mendengar doa hamba-Mu yang sempat menduakan asma-Mu,” kesahnya terharu sangat. Air mata Mak Musa berlinangan, membasahi rambut bayi dalam dekapannya.
Mak Musa tahu, perjuangannya masih panjang demi pengobatan buah hati. Artinya Allah Swt masih memberinya kesempatan menikmati kebersamaannya dengan buah hati yang didamba belasan tahun.
Ilustrasi: Mak Musa berdoa khusuk di samping ranjang kecil bayinya yang terbaring sakit parah di ruang perawatan anak.
@@@
       

        
Posted in: | Senin, 20 April 2015



Plot
Fatin terlahir dari keluarga Muslim sejati, ayahnya seorang petani miskin di kawasan Cianjur yang sering diakali, dtipu oleh para tengkulak.  Sebagai anak suung, Fatin ingin sekali berbakti kepada orang tua. Ia sering menangis diam-diam, melihat adik-adiknya sampai sering berebut makanan. Makan hanya dengan kerupuk dan kecap dengan nasi impor pera jelek. Padahal, hatta, Cianjur gudang beras pulen wangi yang sudah terkenal ke seantero Indonesia. Mereka nyaris tak pernah makan nasi pulen yang ditanam oleh ayah dan kelompok petani di desanya.

Prestasi Fatin luar biasa di sekolah. Sebelum lulus SMK, Fatin disalurkan oleh KepSek bekerja sebagai karyawan hotel berbintang di Jakarta. Ketika menjadi karyawan hotel inilah ia bertemu dengan Rimbong. Seorang Bos perusahaan bonafide yang sudah punya tiga istri, tetapi belum memiliki keturunan.

Rimbong menyelamatkan Fatin dari upaya pelecehan seksual seorang turis. Fatin merasa sangat berterima kasih dan berhutang budi. Ketika Rimbong yang umurnya lebih tua dari ayahnya, melamarnya sebagai istrinya yang keempat, Fatin menerima tanpa minta persetujuan orang tua.

Rimbong menyembunyikan Fatin di bungalownya di Lombok. Mereka sempat hidup berbahagia, apalagi tak berapa lama kemudian Fatin hamil. Rimbong sangat memanjakannya. Fatin dibelikan bungalow dan kendaraan mewah, perhiasan-perhiasan mahal.

Namun setelah melahirkan Ridho, anak laki-laki, sikap Rimbong berubah drastis. Rimbong sering melecehkannya baik secara psikhis hinaan dengan kata-kata, maupun secara fisik; memukul, menjambak dan menendang. Rimbong memaksanya agar menyerahkan hak asuh Ridho kepadanya. Fatin selalu menolaknya.

Penderitaan Fatin bertambah dengan teror yang berdatangan dari istri-istri Rimbong. Puncaknya adalah istri-istri Rimbong menyambangi Fatin. Mereka berusaha merebut Ridho yang baru berumur 2 tahun. Mujur, Fatin berhasil menyelamatkan diri, disembunyikan pembantunya. Istri tua Rimbong membatalkan pernikahannya dengan alasan tidak ada persetujuan istri tua.

Fatin berkenalan dengan Frankie melalui Facebook. Frankie keturunan Indonesia yang telah lama mukim di Holland. Fatin sangat percaya akan kebaikan hati Frankie yang mau membeli seluruh aset yang dimilikinya. Bungalow dan kendaraan atasnamanya dijual kepada Frankie. Meskipun baru dibayar sebagian saja, Fatin telanjur percaya. Frankie melamarnya menjadi istrinya, memintanya datang ke Belanda.

Fatin nekad terbang ke Holland bersama anaknya. Malam itu ia sempat dikejar oleh ketiga istri Frankie, tetapi Fatin berhasil meloloskan diri naik pesawat menuju Holland.  Baru beberapa jam kebersamaannya dengan Frankie, Fatin sudah mulai tak nyaman. Frankie langsung memaksanya agar membuka kerudungnya. Saat Fatin berusaha menolak, Frankie menarik kerudungnya hingga terlepas, kemudian membuangnya ke tong sampah.

Sesungguhnya penderitaan Fatin baru dimulai di sini. Frankie ternyata selain seorang scammer juga seksmaniak. Fatin dipaksa melayani Frankie, sambil diancam anaknya akan dibunuh kalau menolak. Ridho kecil dikurung di kamar mandi, sementara Fatin diperkosa.

Demikian terus berlangsung selama dua bulan. Tak jarang Frankie memperlakukan Fatin begitu kejinya. Kelainan seks yang diidapnya membuat Frankie suka memasuk-masukkan benda ke vagina Fatin. Saat-saat inilah Fatin sering menyeru nama-Nya:”Tuhan, jangan tinggalkan aku! Tuhan, jangan tinggalkan aku!”

Perjuangan Fatin dalam meloloskan diri bersama anaknya sungguh dahsyat. Mulai dari mencari lubang di ruang bawah, menggedor dinding untuk menerobos, hingga berusaha mengirim pesan melalui internet. Frankie memergokinya, kemudian mengurung Fatin dan anaknya di lantai tiga.

Dalam keputusasaan begitu, Fatin berserah dri kepada Sang Pencipta. Ia mendirikan sholat meskipun hanya dengan tayamum. Hanya keberadaan Ridho yang membuatnya tetap bertahan dan punya semangat untuk menyelamatkan diri.

Satu malam ketika Frankie puang dalam keadaan mabuk, Fatin nekad menghantamkan botol minuman berkali-kali ke kepala Frankie. Lelaki itu terkapar. Fatin nekad turun dari lantai tiga sambil menggendong anaknya.

Salju pertama yang dilihatnya seumur hidupnya, menyambut mereka dengan hawa dingin membeku. Fatin menggendong anaknya, terus berjalan, entah berapa kilo. Ia terus berzikir dan menyeru nama-Nya.”Tuhan, hamba mohon.... Jangan tinggalkan aku, jangan tinggalkan aku!”

Dari rahimnya mengucur darah segar tapak penganiayaan Frankie. Fatin merasa sudah nyaris pingsan, ketika matanya masih bisa melihat satu bangunan. Ternyata itu sebuah kapel, gereja kecil di tengah salju yang kian menebal. Andaikan ada mesjid atau mushola, tentu ia lebih suka ke sana, Namun, inilah, kapel yang disediakan oleh Tuhan untuk dirinya dan anaknya. Agar terbebas dari nestapa.

Seorang pendeta tua, Romo Hartland, warganegara Belanda, menyambut kedatangannya. Fatin benar-benar pingsan setelah mengatakan pesan, agar Romo Hartland berkenan melindungi anaknya. Romo Hartland berjanji akan merawat mereka.

Sejak itulah Fatin dan anaknya tinggal di apartemen Romo Hartland di belakang kapel. Begitu tulus dan sungguh-sungguh Romo Hartland merawat Fatin hingga kondisinya membaik. Ia pun melindungi dan merawat Ridho dengan sangat baik, dibantu oleh Oma Roselin, istrinya yang juga menyayangi Fatin dan anaknya.

Fatin mendapatkan semangat hidup dan kepercayaan diri yang sempat hancur lebur di rumah keluarga kecil Romo Hartland. Fatin pun menyayangi anak Romo Hartland dan Roselin, yakni Hans Hartland, seorang anak laki-laki down syndrome.

Ketika Frankie memperkarakannya hingga ke pengadilan, Fatin memutuskan menerima tawaran Romo Hartland menjadi anak angkatnya.

Terpaksa Fatin melepas kewarganegaraan Indonesia, demi mendapatkan pelayanan hukum dan hak-hak yang sama seperti Frankie di Holland. Keluarga besar Romo Hartland bersama komunitas gereja mendukung Fatin sepenuhnya. Hingga Frankie dinyatakan bersalah dan harus menanggung hukuman akibat kejahatannya terhadap Fatin dan sejumlah korban lainnya.

Saat inilah Fatin merasakah Harmoni antar bangsa lintas agama. Ia tidak pernah dipaksa keluarga Romo Hartland agar melepas keyakinannya. Ia tetap bisa beribadah, berkerudung dan menikmati hari-hari yang damai.

Terbebas dari perkara hukum, Fatin mendapatkan kesempatan terbaik dalam hidupnya. Yakni disekolahkan ke Paris sebagai perancang busana. Kemudian diberi modal untuk membuka butik.

Kehidupan Fatin sudah terasa sangat baik, nyaman, ketika Romo Hartland jatuh sakit karena usia tua. Sebelum menghembuskan napasnya yang terakhir, Romo Hartland meminta Fatin agar merawat Oma Roselin dan Hans Hartland.

Fatin berjanji akan melaksanakan permintaan Romo Hartland. Tak berapa lama kemudian Oma Roselin menyusul suami tercinta. Fatin pun semakin mantap untuk merawat, mengayomi, membesarkan anaknya serta adik angkatnya Hans Hartland. Ia meminta maaf kepada ibu bapaknya di Cianjur. Meskipun ibu bapak kecewa, tetapi mereka tetap mendoakannya. Kini Fatin bisa sering mengirimkan dana untuk keluarganya.

Kariernya sebagai perancang busana melejit, busana hijab yang didesainnya memikat dunia mode. Hingga rancangannya mulai dilirik dan ditampilkan di even-even busana internasional di Paris. Satu hari ia pun diundang oleh agen besar di Indonesia untuk menampilkan rancangan busana muslim hijabnya.

Setelah 10 tahun meninggalkan Tanah Air, akhirnya Fatin punya keberanian menengok keluarganya di Cianjur. Pertemuan yang sangat mengharukan. Cerita diakhiri dengan keikhlasan orang tua Fatin melepas kepulangannya ke Holland.

“Meskipun warganegaraku, tempat tinggalku, mata pencaharianku di Belanda. Namun, darahku, jiwaku tetap tinggal di Indonesia. Aku takkan pernah melupakan akarku. Apapun yang terjadi, aku tetap Cinta Tanah Airku Indonesia!”



Posted in: | Sabtu, 18 April 2015





Mih Encun ini siapa sebenarnya, ya, pikir Pak Erte. Ujug-ujug datang ke wilayahnya, minta menjadi tukang bersih-bersih di Masjid Al-Wusqo. Karena perilakunya yang sangat santun, terutama terbuka terhadap anak-anak, Mih Encun segera disukai warga desa Gombong. Anak-anak suka mendengarkan kisah-kisah para Nabi dan para sahabat dari perempuan paro baya itu.

Dia memang agak misterius, tapi disukai semua orang. Pak Erte tahu itu, maka ia tak pernah mempermasalahkan keberadaannya sejak beberapa tahun yang silam.
Hari ini sepucuk surat untuk Mih Encun nyelonong ke rumah Pak Erte.

“Surat ti saha, Mih? Teu aya ngaran anu ngirimna geuningan1?” Pak Erte tak urung merasa penasaran.
“Duka atuh, nya Jang Erte. Bade diaos heula mah, mangga we2,” katanya tulus dan sarat dengan rasa sumerah.

“Eh, hehe… ini era reformasi, Mih Encun. Zamannya hak azasi manusia mestinya ditinggikan di negeri kita. Nggak kayak dulu lagi atuh. Sudah, saya mah pamit saja, ya…” Pak Erte berlalu dengan wajah tersipu.

“Apa dia mulai curiga kepadaku, ya?” pikir Mih Encun saat kembali bersendiri.
Ia bergegas masuk ke biliknya di belakang masjid, mencari tempat nyaman di atas bale-bale untuk menimbang surat misterius itu. Saat membaca tulisan tangan pada sampul surat itu, mata Mih Encun seketika nanar dan jari-jari tangannya gemetar.

“Ya Allah, ini tulisan tangan putraku yang telah pergi tiga tahun tanpa kabar berita.Buah hati Ummi, Haekalku sayang, darah daging yang masih tersisa. Putraku yang suka bikin heboh dengan aktivitas keagamaannya. Sehingga aparat mencapnya sebagai seorang aktivis radikal, golongan kanan, separatis, teroris?”  lirihnya masih tak percaya.

Oooh, tudingan itu sama sekali tidak benar! Itu hanya fitnaaah!
Serentak hati keibuan Mih Encun memekik-pekik pilu. Segala rindu, resah pasah yang dipilinnya selama itu di relung kalbunya seketika buncah. Memenuhi dadanya yang tipis karena usia dan nestapa. Untuk beberapa saat lamanya ia hanya merunduk, memandangi surat di tangannya. Perlahan dan semakin gemetar, jari-jarinya kemudian menyobek sampul surat itu dan mulai membaca isinya.

“Ummi yang dirakhmati Allah, dalam ketakpastian inilah ananda justru baru punya keberanian untuk berkirim kabar kepada Ummi. Lagipula, alamat Ummi baru saya tahu dari seorang sohib…. Nanda sekarang berada di sebuah kota bernama Nablus…”

Neraka itu bernama Nablus. Orang pers menyebutnya sebagai Jenin kedua. Hingga Ahad pertengahan April yang lalu sudah sekitar sembilanratus warga Palestina tewas. Sebanyak limaratus di antaranya tewas di Jenin. Ratusan lainnya terluka parah. Mereka menjadi korban kekejaman, kekejian Israel, adik kandung Amerika Serikat di Timur Tengah.

Kemudian agresi militer Israel merambat ke wilayah-wilayah di sekitar Tepi Barat. Ada delapan kota di sini di antaranya adalah Nablus.

“Saya bergabung dengan  kru Al-Jazirah sebagai reporter, Ummi. Al-Jazirah ini jaringan televisi terdepan dan terakurat, paling terpercaya di kawasan Timur Tengah. Kami meliput banyak kejadian dan tragedi kemanusiaan sepanjang zaman di sini, Ummi…”

“Mengapa, Nak, mengapa? Bertahun lamanya tak ada berita, tahu-tahu kini kau ada di tengah gejolak peperangan paling sengit sepanjang zaman itu?”
“Neraka, katamu tadi, Nak?” Setitik kristal jatuh menuruni pipinya, parat membasahi surat di tangannya.

Mih Encun mengais matanya dan melanjutkan membaca surat.
“Tentara Israel dengan arogannya telah menggempur Jenin dan kota-kota lain sejak akhir Maret yang lalu, Ummi. Termasuk Nablus, tempat kami berada. Mereka tak peduli konvensi internasional. Wanita dan anak-anak pun dibabat habis, rIbuan lainnya diusir.”

Seorang aktivis Fatah yang kami wawancarai berkata, “Israel sudah membuat kuburan massal di kamp yang dibangun khusus untuk warga Palestina…”

“Mayat Ahmed Fashafshi, istrinya Shamira dan anak mereka Bassam tergeletak di bawah puing sampai beberapa hari lamanya. Pemberlakuan jam malam oleh tentara Israel itu tak memberi kesempatan bagi penguburan secepatnya,” kata Issam Fashafshi, putra keluarga Fashafshi yang berhasil selamat dari pembantaian itu.

“Mereka terjepit hingga tank menembakkan bom ke rumah itu. Saya mendengar suara orang menjerit. Kemudian buldozer-buldozer datang dan menggilasnya. Dinding itu ambruk dan menimpa orang-orang yang sedang bersembunyi di dalamnya…”

Aksi tentara Israel memang tak terekam semua oleh media internasional. Karena diblokade Israel. Namun ceceran kisah kekejian  mereka dicatat oleh Haekal dan rekan-rekannya  aktivis HAM.

Suatu hari Haekal melihat Aisha, bocah perempuan berumur duabelas tahun sedang asyik bermain di halaman pemukiman pengungsi Askar di Nablus.
“Mereka dataaang!” teriak para Ibu.
”Cepat sembunyi, cepaaat!” Para Ibu itu berusaha mengingatkan anak-anak, kemudian menyeretnya ke tempat berlindung.

Tiba-tiba… blaaar, bluuuaaar, buuum!
Ketenangan pecah berganti dengan hiruk pikuk, jerit dan lolong kesakitan. Berbaur dengan gencar tembakan, derak tank-tank dan buldozer tentara Israel. Haekal ingin sekali menghambur dari tempatnya berada.

“Jangan, akhi! Anda masih dIbutuhkan untuk tugas lain!” Ahmed Abu Attiya, rekannya aktivis HAM mencegahnya dan memegangi pergelangan tangannya kuat-kuat.
“Taa…” Bibirnya urung berkata-kata.

Disaksikannya bagaimana tank-tank Israel menghunjani pagar, tembok, rumah dengan tembakan, bahkan kemudian rudal.

Ya Robb! Malang sekali, Aisha tak sempat ikut berlari dan bersembunyi ke tempat perlindungan. Timah panas menghajar perut dan dadanya. Ia menggelepar dan berdarah-darah.

Bibirnya yang mungil masih sempat berseru dengan gagah berani, sebagaimana para mujahid lain yang telah mendahuluinya syahid.    

“Allahu Akbar! Hiduplah Palestina!”
Entah berapa lama kehirukpikukan yang menebar kekejaman dan tragedi kemanusiaan itu berlangsung. Hingga suatu saat tiba-tiba menjadi senyap. Keheningan yang telah menggugurkan bunga-bunga bangsa pilihan Tuhan. Haekal belum sempat beranjak dari tempatnya berpijak, ketika Ali Assad mengabarkan tentang keadaan Ummi Fathiya. Dia istri sahabatnya, Abdullah Fatouh.

“Dia akan melahirkan bayinya. Tak ada obat-obat, tak ada peralatan. Dia sudah banyak pendarahan,” lapor reporter asal Aljazair itu.
“Mereka tak mengizinkan bantuan datang ke sini,” desis Ahmed.

Haekal mengikuti Ahmed untuk memberi bantuan sebisanya. Di ruangan dalam yang tersembunyi tampak suami Fathiya. ”Bantulah saya, bantulah,” kata Abdullah Fatouh panik.“Ini mungkin sekali anak kami yang terakhir…”

“Mereka pernah memiliki tujuh orang putra dan semuanya gugur belum lama ini,” bisik Ahmed.

“Ketujuh putranya itu para remaja yang gagah berani. Satu per satu mereka jihad, melakukan aksi bom bunuh diri… menghancurkan barak-barak militer Israel,” tukas Ali Assad.

Haekal menundukkan kepalanya dalam-dalam. Seketika ia terkenang kepada keluarganya di Indonesia. Abi dan keempat kakak tercinta juga telah syahid demi kebenaran itu, pekiknya membatin. Dan Ummi! Ia harus mencoba mengontaknya kembali, untuk ke sekian kalinya setelah berakhir sia-sia bertahun lamanya. Seorang aktivis HAM dari Indonesia memberinya informasi penting tentang keberadaan ibunya kini.

“Kami para lelaki hampir tak bisa berbuat banyak. Hanya menunggu yang di dalam kamar berjuang membantu persalinan. Rasanya detik demi detik berlalu begitu lama dan panjang sekali. Sementara di luar kekejian terus jua berlangsung. Kami tahu, Nablus dengan penghuni 180 rIbu jiwa jadi target si Jagal. Hari itu, sedikitnya 75 warga Palestina tewas dan 450 lainnya terluka parah.”

“Alhamdulillaaah, akhirnya putraku lahir dengan selamat!” seru sang ayah yang berbahagia. Ia bersujud syukur di sudut ruangan.

“Kami menyalaminya dan ikut merasa bahagia. Namun, setengah jam kemudian tiba-tiba kondisi bayi memburuk. Akhirnya putra pasangan Fathiya dan Abdullah Fatouh meninggal. Menyusul para mujahidin, menghadap Sang Khalik…”

“Ya Allahu Robbi,  aku sudah tak tahan lagi membaca suratmu ini!”
Mih Encun merasakan sekujur tubuhnya gemetar hebat. Teriakan anak-anak, jeritan pedih dan rintih kesakitan para lansia, perempuan tak berdaya di Nablus itu… menjejali gendang pendengarannya. Merobek telak jantung dan ulu hati perempuan itu.

Perempuan itu terkapar, tapi kenangannya segera terbetot ke masa silam. Sebuah peritiwa yang telah melibatkan Haekal dan suami serta keempat putranya yang lain dalam tragedi. 

Peristiwa yang membuatnya kemudian hidup bagai seorang pengecut. Karena ia tak sanggup menghadapi traumatis jiwanya, berikut masalah-masalah yang harus dihadapinya.

Malam itu empat tahun yang lalu. Jakarta sedang digonjang-ganjing oleh berbagai kerusuhan, pembakaran, penjarahan dan bom-bom meledak di mana-mana. Pemerintah kelimpungan dan mencari kambing hitam.

Tiba-tiba serombongan lelaki berseragam menggerebek rumahnya yang asri di kawasan Jagakarsa. Selain Haekal, keempat putranya sedang ada bersamanya. Begitu pula suaminya, karena sedang merasa tak enak badan mengurungkan niatnya berceramah.
“Kami akan membawa Anda, Pak Kyai…”
“Apa salah saya?”
“Anda sudah mengompori umat melalui ceramah-ceramah…”

“Itu tidak benar. Saya hanya berceramah seperti biasanya, syiar dan dakwah sesuai keyakinan kami…”
“Tapi massa yang bikin rusuh keluar dari tempat terakhir Anda berceramah! Ayo, jangan persulit kami, ikutlah!”
“Mana surat perintahnya?” Haidar, putra tertua mahasiswa semester akhir jurusan hukum, mencoba menghalangi mereka membawa ayahnya.

“Kamu mau melawan, hah?”
“Bukan begitu, kami hanya ingin keadilan…” Adik-adik Haidar ikut membentenginya. Mereka membentuk formasi, hingga sang ayah terlindungi.
“Jangan coba-coba melawan kami!”
“Kita harus membawa mereka semuanya!”

“Ya, kalian semuanya terlibat gerakan pengacau keamanan!”
Haidar dan adik-adiknya dIbuat babak belur. Sang ayah direnggut paksa dari sisi mereka. Kemudian seseorang mendudukkannya di kursi dan mulai menginterogasi dan menterornya.

“Anak-anak kamu mengacau Jakarta dan sekitarnya!”
“Ya, kamu sudah mengompori umat, agar mereka melakukan aksi anarkis. Mengaku saja, mengakuuu!”

“Kalian tak bisa menginterogasi Ayah kami di sini. Kami memerlukan pengacara… aaah!” Haidar terjengkang, perutnya dihantam popor senapan.

Kekejian itu dalam sekejap telah berlangsung di depan matanya. Suami dan keempat putranya diseret oleh orang-orang misterius itu. “Tabah dan tawakallah, ya Mi... Abi minta keluasan hati Ummi, jangan kaitkan Haekal dengan persoalan kita hari ini,” bisik suaminya saat ia diberi kesempatan menghampirinya untuk pamitan.

Sejak saat itu, ia tak pernah melihat suami dan putra-putranya. Hingga suatu hari ia dijemput beberapa pemuda yang mengaku teman Haekal. Mereka membawanya ke pemakaman umum dan menunjukkan kebenaran itu. Sebuah kuburan massal, di mana keempat putra dan suaminya konon dikuburkan di dalamnya.

Belum terdengar azan zuhur ketika Mih Encun keluar dari biliknya. Wajahnya tampak bersinar perbawa semangat yang berkobar-kobar dalam dadanya. Ya, kabar dari Nablus yang dituturkan Haekal melalui suratnya telah mengubah segalanya!

Surat itu telah memberinya inspirasi dan kekuatan maha. Hingga ia bagai terbangun dari mimpi buruknya. Kemudian siap untuk menentang ketakadilan itu. Ya, ia tidak merasa gentar lagi terhadap siapapun selain kepada Allah!

“Mau ke mana, Mih Encun?” tanya Pak Erte yang berpapasan dengannya di mulut gang.
“Saatnya sudah tiba, Jang Erte… Assalamualaikum!” sahutnya tanpa memberikan luang sedetik pun kepada lelaki itu untuk menanyainya lebih lanjut.

Lelaki itu terperangah memandangi Mih Encun yang berjalan tegar bagai mujahid hendak tandang laga.“Sudah saatnya aku menghadapi persoalan. Semua Muslim harus berjihad untuk menegakkan syiarnya masing-masing. Jangan membiarkan citra Islam selalu dipojokkan, difitnah, dipinggirkan, dikambinghitamkan. Ya, ini memang sudah saatnya!” ceracaunya riuh dalam hati.

@@@


1“Surat dari siapa, Mih? Kok nggak ada nama pengirimnya?”

2”Entahlah, Nak Erte. Kalau mau dibaca sih, silakan saja.”








Posted in: | Sabtu, 11 April 2015