Featured Post

Tuhan Jangan Tinggalkan Aku

Ilustrasi di Perpustakaan Hongkong Sinopsis Frankie dan Fatin berkenalan di dunia maya. Mereka sering chatt onlin e, saling b...

Novel

Indeks »

Katakan Cinta Dengan Pena

Bisa pesan via WA 084669185619



Suatu kali aku diminta menggantikan Asma Nadia untuk mengisi acara di kampus IPB, Darmaga. Oya, belakangan itu aku semakin sering menerima tumpahan job dari Asma Nadia dan Helvy Tiana Rosa. Biasanya kedua bersaudara itu sudah dijadwal untuk acara yang memang datang lebih dahulu.
Beberapa sangat menguntungkan, setidaknya mengasah keterampilan dan keberanianku tampil di depan publik. Tapi ada juga yang berakhir dengan kekecewaan. Umpamanya, sudah tidak diberi fee, harus datang sendiri pula. Padahal acaranya termasuk berat; pelatihan kepenulisan beberapa jam!
Dan undangannya lebih sering dadak-dadakan, seperti main todong begitu saja. Sama sekali tak ada persiapan, hanya dua lembar wacana yang diketik beberapa saat menjelang berangkat.
Suatu kali pernah pula tampil di komunitas noni, para pesertanya bertampang Chines, bermata sipit dan tempatnya di sebuah aula untuk latihan taekwondo. Di tengah rehat setelah acara talkshow, tiba-tiba diputar sebuah film mini… esek-esek!
Anda bisa bayangkan bagaimana aku lari tunggang-langgang, ngibriiiit, dan sesampai di luar tak tahan lagi uhek-uheeekan!
Nah, acaranya sekali itu pukul delapan pagi. Menurut Haekal yang juga kuliah di IPB, tetapi kampusnya di Baranangsiang, KRL jurusan Bogor pagi hari hanya dua kali.
“Kalo gak naik KRL yang jam lima baru ada lagi paling jam tujuhan. Bisa telat tuh. Belum lagi ke Darmaga, wuiiih, muaceeet!”
“Bisa antar Mama?”
“Gak bisa, Ma, ada ujian nanti siang. Tapi belum siap nih, sori, ya Ma, soriii…” kilahnya menyesal.
Bada shalat subuh pun aku sudah meninggalkan rumah.
Suasana di atas KRL Kota-Bogor segera menyambar hidungku. Mengingatkanku akan nuansa serupa, meskipun bukan KRL, ketika remaja sering bolak-balik ke Rangkasbitung.
Para pedagang dengan pikulan dan gendongannya, para karyawan, para pelajar. Semua, tak terkecuali berdesakan pada pagi buta!
Beberapa menit setelah kereta bergerak, serombongan pelajar STM merangsek dari gerbong belakang ke gerbong yang kutumpangi. Seketika aku merasakan sesuatu yang tak nyaman sekali. Mereka, wajah-wajah remaja berseragam abu-abu putih itu, jelas sekali menyimpan hasrat, nafsu tak terkendali…
“Awasss… Bentar lagi, Jek!” seru seorang anak muda yang berdiri tepat di tentangan mukaku.
“Bereees!” sahut temannya yang dipanggil Jek, Jek saja sejak tadi.
Sreeek, sreek…
Dan tahulah aku! Benda-benda yang mencurigakan di pinggang, perut dan tas mereka itu tak lain tak bukan adalah senjata tajam. Ya, mereka telah menyiapkannya dari rumah.
Agenda mereka hari ini tawuran!
Jantungku berdebaran kencang. Pukul lima lewat lima belas!
Aneh, kelihatannya para penumpang lain hampir tak ada yang ngeh dengan perilaku ganjil anak-anak itu. Padahal, jelas-jelas gerakan mereka semakin mencurigakan. Doyong sana, doyong sini, gerak sana, gerak sini. Kompak, tapi sangat gelisah, diliputi hasrat dan nafsu… menghancurkan!
Ya Tuhaaan!
Mataku menangkap rombongan lain di balik pintu pembatas antargerbong. Dengan spontan aku meloncat, berdiri tepat di depan hidung si Jek.
“Adek-adek sayang, tolong, mohooon… Jangan tawuran, ya, jangaaan. Ayo, mundur ke sana, munduuur,” ceracauku memohon-mohon dengan telapak tangan ditangkupkan di depan dada.
Persis seorang hamba sahaya memohon kebijaksanaan dari Sang Maharaja!
Sementara kulihat di balik pintu pembatas itu anak-anak sudah teriak-teriak, menantang. Caci-maki, sumpah-serapah dengan istilah-istilah tak senonoh dan hanya mampu diucapkan para preman, berandalan yang tak kenal etika pendidikan… campur aduk!
“Awaaas, mingggiiiirrr!” si Jek menarik gobang panjang dari ranselnya.
Ups, dia menabrak bahuku keras sekali, sehingga aku terjajar, tepat menimpa seorang kakek!
“Mending nyelamatin diri, ayooook!” himbau si kakek.
Kepanikan, ketakutan dan kengerian dalam sekejap menyilih kantuk yang semula sempat merayapi mata para penumpang KRL.
“Neeeng…, cepetan lariiii!”
Si Kakek itu lagi. Dia berteriak-teriak mengingatkan orang di sekitarnya agar menyelamatkan diri. Bersamaan dengan teriakan-teriakan angkara yang semakin riuh saling menyahut dari dua kelompok, tak pelak lagi aku pun terseret massa.
Sekilas kulihat para pedagang yang pikulannya direbut anak-anak, secara serentak melakukan perlawanan. Yap! Mereka mempertahankan pikulan, sekaligus dagangannya!
“Enak saja maen rebut… Ini pembawa rezeki, taaauuuk!”
Baaak, buuuk, baaakkkk!
Kereta mendadak diperlambat. Gerombolan tawuran di gerbong belakang, semuanya, dihalau turun oleh para pedagang buah-buahan dan pengasong.
Ketika kereta kembali bergerak, mataku menyambar beberapa anak berteriak-teriak histeris dan menantang. Mereka mengacung-angungkan gobang, rantai besi dan senjata tajam lainnya ke arah pelajar di gerbong depan. Beberapa di antaranya melempari kereta dengan batu-batu besar.
Ya Tuhan, inikah cermin buram para pelajar kita dewasa ini?
            Jumadi, ketua panitia menyambut kedatanganku di lokasi, tepat pukul tengah delapan. Dia tersipu-sipu malu, menyatakan penyesalan karena peserta belum datang.
            “Kita ke sekretariat saja dulu, ya Teteh,” ajaknya santun.
            Tempat yang dinamakan sekretariat adalah sebuah warung, tepatnya ada ruangan sempit di belakang warung makanan di luar kawasan kampus itu. Beberapa akhwat sedang sibuk menyusun kertas-kertas, 50 cerpen!
            “Bagaimana maksud kalian?” balik aku bertanya, pikiranku belum jejeg ketika disodori tumpukan naskah itu.
            “Kami menyelenggarakan sayembara menulis cerpen dan puisi dalam tiga bulan terakhir. Inilah hasilnya. Kami berharap Teh Pipiet berkenan menjadi jurinya,” jelas panitia lomba.
            “Tema acara kita ini Pekan Seni Islam, dalam rangka menyambut tahun baru Hijriyah, Teteh,” tambah ketua panitia.
“Pembicaranya selain Teh Pipiet nanti ada juga seorang personil Izzatul Islam…”
            “Sebetulnya naskah-naskah ini sudah akan dikirimkan bulan lalu. Tapi pembicara yang sangat kami harapkan justru menyatakan gak bisa datang. Kami juga bingung banget loh, Teh…”
            “Padahal acara yang kami gelar ini untuk mengimbangi aktivitas anak-anak kiri. Mereka semakin agresif!”
            Mungkin itu benar. Sekilas kulihat baliho raksasa mejeng di pintu gerbang sana. Gelar acara ajaib seperti; bedah buku bertema sekuler, ngesek. Bahwa seni demi seni en soon
            “Baik, Teteh paham…”
Tapi 50 naskah harus kubaca, sekaligus kunilai dalam tempo sangat-sangat singkat? Ajaib juga nih!
“Begini saja, kalau boleh menawar,” ujarku setelah menimbang-nimbang. “Kalian tentu sudah menilai naskah-naskah yang masuk. Tentu ada karya-karya terbaik menurut kalian, bukan”
“Iya, sudah ada sepuluh, Teteh.”
“Bagus. Beri Teteh waktu untuk menilai yang sepuluh itu.”
“Jangan lama-lama, ya Teteh sayang,” pinta seorang akhwat.
“Limabelas menit, bisakah?”
“Insya Allah…”
Dalam hati aku mengucap istighfar. Juri, amanahnya besar sekali. Semoga saja tidak menjadi masalah dan fitnah di kemudian hari. Maka, sambil menunggu peserta dan pembicara lain datang, aku pun berjibaku untuk bertindak seadil-adilnya, meskipun itu hampir tak mungkin.
Aku tetap mencermati sepuluh cerpen yang dalam sekejap telah menyedot seluruh pikiran dan perasaanku. Bagus-bagus ternyata, temanya variatif dan segar. Tapi ada juga beberapa yang mengambil tema mirip; kisah romantika mahasiswa kos-kosan, nyaris tergelincir tapi kemudian tobat, mendapat hidayah-Nya.
Akhirnya dengan sangat berat hati, dan sedikit menurut perasaan bimbang, kukembalikan juga naskah-naskah tersebut. Hanya lima yang terpilih, memenuhi kriteriaku sebagai cerpen yang laik muat, dan laik terbit di majalah remaja Islam.
“Aduuuuh, entah bagaimana kami mesti berterima kasih sama Teteh,” ujar Jumadi yang mengaku sempat hampir putus asa bisa mendatangkan seorang penulis ke acara mereka.
“Jangan bilang begitu. Teteh sudah senang kok melihat semangat dan ghirah adik-adik,” tukasku tulus.
Acara berlangsung dengan semarak. Diskusi tentang seni Islam menggulirkan berbagai pemikiran dari anak-anak muda yang haus pencerahan itu.
“Afwan, ya Teteh… Kami tak bisa menjamu Teteh dengan baik. Semoga Allah Swt senantiasa memberkahi perjuangan kita,” itulah yang tertera di es-em-es, ketika aku sudah berada di atas KRL untuk pulang.
Di kemudian hari, ternyata hal-hal dadakan hasil kepanitiaan yang grasa-grusu di kalangan mahasiswa semacam itu, bukan satu-dua kali saja terjadi.
Pernah bersama Asma Nadia di bulan Ramadhan, ada kepanitiaan kampus ‘mengusili’ kami. Padahal kami sudah berkemas sejak lima jam sebelumnya!
Sebelum diminta Asma Nadia untuk buka bareng di rumahnya, aku telah menanti di pintu gerbang perumahan Mutiara, dari pukul satu hingga pukul lima!
Betul-betul menunggu, duduk di pinggir jalan, berkali-kali mengontak panitia melalui ponsel hingga pulsa nol dan… Cengo abiiisss!
“Maaf, ya Mbak… Acaranya batal!”
Apakah aku jera karenanya?
Tidak, selama mereka percaya memberi amanah. Tidak, selama kepenulisan semakin diminati, dan ghirah sastra Islami kian berkembang di muka bumi ini. Insya Allah, tak ada istilah jera untuk kami, barisan penulis Islam. (Pipiet Senja, Bekasi)
***


Teater Payung Hitam: Memadu Ruh Nusantara di Taman Tepi Sungai Tainan




Tainan, Taiwan, 26 Maret 2016
Setelah diundang ke Taiwan September 2015, kemudian lanjut untuk workshop dan pentas bersama di Seattle, USA pada tahun yang sama, maka kali ini Teater Payung Hitam kembali pentas di Taiwan.

Rombongan Teater Payung Hitam kali ini diundang oleh Mizuiro Art Studio. Mereka terdiri dari Nugraha Bazier Susanto, Rusli Keleeng, Suyadi, IIyazza, Gaus FM, Sidik, Fajar Okto, Azhar dan Icha.

Icha satu-satunya perempuan dalam rombongan Payung Hitam. Dialah yang memerankan Dewi Pohaci dalam pementasan Cak dan Pohaci di Taman Tainan, sebuah kota budaya di Taiwan.








Mereka meginap di sebuah guesthouse di kawasan Tainan selama sepekan. Seharusnya bersama sutradara Rachman Sabur yang juga pendiri Teater Payung Hitam. Namun, Rachman Sabur berhalangan sakit.

“Babe,” pangilan untuk Rachman Sabur. “Mempersiapkan konsep pementasan ini sudah lama juga. Sedangkan para pemain menyiapkannya sekitar dua bulan,” jelas Nugraha Bazier Susanto kepada penulis, usai pagelaran yang mengambil judul Cak dan Pohaci, malam yang sangat dingin itu.

Properti yang menjadi latar pagelaran outdoor, tampak semacam Bebegig atau orang-orangan sawah. Simbol yang membantu petani dalam menjaga padi di sawah. Para Bebegig ini dibuat melingkar, bagaikan barisan pengawal siap menggebah para pengganggu padi yang siap panen.

Pementasan diawali dengan semacam ritual, senyap dan hening, semua pemain duduk melingkari hidangan buah-buahan, ini mungkin dimaksudkan sebagai sesajian untuk karuhun alias leluhur.

Beberapa menit kemudian terdengar suitan, sepertinya gawean Nugraha. Maka, bangkitlah semuanya dan Dewi Pohaci memanggul hasil panen raya, diiring oleh delapan punggawa-istilah penulis. Mereka bergerak dengan ritmis suitan, bagaikan penari dalam gerakan seperti tarian kecak.

Benar saja, gerakan mirip kecak pun kemudian menuansa dengan kental di antara gerakan tarian lainnya.. Dalam tempo satu jam yang terasa sangat cepat, mereka secara terus-menerus, silih berganti menarikan berbagai gerak tari daerah.






Ada Sunda, Makassar, Minang, Aceh, Papua, Dayak. Ini paduan tarian dan budaya Nusantara, rancak bana, kata orang Minang. Mungguh rancage tur sae psan, kata orang Sunda. Kesederhanaa dalam kostum, bertelanjang dada aktornya dengan kain hitam, Pohaci-Icha hanya berkemben kain hitam. Ajaibnya, mereka begitu semangat mempersembahkan yang terbaik!

Sementara properti sepertinya memang disengaja dipagelarkan. Sehingga terkesan semua berdasarkan alam, ingin menyerap seluruh keindahan dan kekuatan semesta.

Meskipun dalam hawa yang sangat dingin menggigit serasa sampai menusuk ke tulang, ajaibnya, penonton sekitar 500-an, tetap bergeming dari bangku masing-masing. Ibu-bapak bahkan ada beberapa anak kecil, tidak bergerak dan terus menonton sampai selesai. Tepuk tangan pun menggema di kawasan Taman Tepi Sungai Tainan, menyambut ujung pagelaran Cak dan Pohaci malam itu.




Semoga persembahan Payung Hitam pun mendapat apresiasi dan penghargaan yang setimpal dari pihak sponsor, panitia. Namun, sebagaimana laiknya seniman, seperti penulis, lebih banyak ingin meraih makna hakikat seni demi manfaat, kontribusi yang bukan ditujukan semata demi kesenangan lahir. Melainkan demi kepuasan batin, sehingga urusan imbalan berupa duniawi nyaris terabaikan, biarlah Sang Pencipta yang Memberi. Bukankah demikian, Kang Nugraha?

Selamat, wilujeng, Teater Payung Hitam. Bavo! (Taipei, Pipiet Senja)


Indonesian Cultural Day NCU Taiwan: Roro Jongrang Asli Batak

        
                         Pagelaran Roro Jongrang di National Central University


Taipei, 14 Maret 2016
   Diajak Dina Nur Ningrum Anggraeni, mahasiswi program Master Biomedical ke acara Indonesian Curtural Day 2016 di kampus NCU, National Central of Univercity Taiwan.
Dari apartemen dijemput oleh Alex Wang dengan sedan jadulnya yang masih lancar dan nyaman. Kami berangkat pukul dua siang, cuaca lumayan cerah kisaran 17 derajat Celsius, setelah berhari-hari diguyur hujan dan suhu 12-14 derajat Celsius.
Sempat terkaget-kaget dengan cuaca Taipei yang ekstrim, kita sedang enak hangat mendadak dingin sekali dan diguyur hujan sepanjang hari. Pagi hujan dn dingin sekali, eh, siang cerah dn lumayan gerah. Jadi jangan kaget kalau kita sering salah kostum datang di acara formal. 
Bayangkan saja, tampil sebagai pembaca puisi dengan jaket tebal panjang, padahal di luar gerah, Semoga ada yang menyadari kalau paginya memang dingin sekali. Hadeuh, sesuatu banget tuh! 
Selama hampir sepekan tinggal di Negeri Formosa ini, tak sekalipun penulis melihat bulatan matahari keemasan, sebagaimana layaknya di daerah khatulistiwa, Indonesia. 
Sima Kuan Ting Wu, yang bertanggung jawab mengurus penulis selama sebulan di Taipei, berpesn wanti-wanti sekali dan berulang kali. Agar penulis tidak lupa memakai baju hangat, bawa payung dan air panas di termos. Beberapa lembar pemanas tangan pun tak lupa dimasukkan ke tas.
Sima turun di perpustakaan Briliant Time, penulis bersama Alex melanjutkan perjalanan. Jumpa Dina dan Lina di seberang stasiun Nanshijiao. Barulah kami meluncur menuju kampus NCU di kawasan Toyuan.

                                           Poster di Parkiran

“Tiap tahun mahasisa Indonesia selalu menyelenggarakan Indonesian Curtural Day di kampus NCU,” jelas Dina. “Rekan-rekan Dosen sampai heran dan bertanya, mengapa kalian itu senang sekali pamer seni dan kebudayaan Indonesia? Lah, kita kan memang orang Indonesia harus bangga dan promo kebudayaan Indonesia. Hehe.”


                                              Ini Baju Adat Aceh atau Minang




                      Duo cantik penjaga konter makan siang


      Gerimis berhenti ketika kami memasuki areal kampus.Alex Wang ternyata hobi sekali jeprat-jepret, di berbagai sudut dia mengambil foto kami. Samar-samar musik Bali sudah terdengar. Ada properti yang mereka sebut Ogoh-ogoh, meskipun tdiak mirip sama sekali,menyambut kami di depang edung pertunjukan theater kampus.

                                         Lina, Dina, penulis dan Alex Wang


                  Rino dari Malang si Bandung Bondowoso

Anak-anak mahasiswa kemudian mengusung Ogoh-ogoh dan menarikannya dengan penuh semangat sekali. Kadang musiknya diganti dengan Degung Sunda. Mendengar Degung Sunda dengan kecapi dan sulingnya, seketika ada semacam sensasi ajaib memenuhi dadaku. Tak bisa dijabarkan, ada haru-biru, semangat kebangsaan yang  meremas kalbu. Entahlah.
Ini dia Ogoh Ogoh Taiwan
                                                                                                                      
Dina tiba-tiba berkata, “Rasa kebangsaan dan ghirah agama malah muncul mengalir dengan kuat selama berada di Taiwan.” 
Ia telah dua tahun berada di negeri ini bersama suami dan seorang anak. 
“Ada saja yang suka melecehkan dan bilang, ngapain jilbaber menuntut ilmu di negeri kafir? Mereka tidak tahu, di sinilah justru banyak yang menemukan hidayah-Nya. Dari yang semula baju asal, kemudian  berubah pake busana Muslimah, jilbaban.”
Setelah mengisi buku tamu kami diberi kupon, voucher makan siang menunya nasi kuning, karedok, telor dadar dan pencuci mulutnya klepon. Di lantai atas ada beberapa konter, sekadar pameran cinderamata. Ada juga makanan dan penganan khas Indonesia yang dijual.

                               Roro Jongrang dari Batak


Selama menanti pagelaran, pengunjung yang terdiri dari berbagai bangsa, tidak melewatkan kesempatan ini. Kami saling berkenalan, bertukar kartunama, bahkan beberapa terlibat diskusi mulai dari kesenian, budaya sampai politik. Penulis jumpa dengn wakil Ketua KDEI, Bapak Siswandi dan Bapak Agung dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan.
“Silakan bikin seminar kepenulisan, di KDEI, kami siap memfasilitasi,” ajak Bapak Agung dengan ramahnya.
Bagi yang hendak menunaikan sholat, disediakan sudut untuk melaksanakan sholat Maghrib. Tanpa terasa tibalah pagelaran kesenian yang diberi judul; Roro Jongrang.
Semula mengira akan menonton semacam teater, mengambil cerita Roro Jongrang. Ternyata ini merupakan pagelaran kesenian tari, lagu dan musik dari Sabang sampai Merauke, dibalut dengan sekilas pintas legenda Roro Jongrang. Tarian demi tarian dan lagu demi lagu dari Aceh, Minang, Batak, Dayak, Manado, Jawa, Sunda, Bali dan Papua, digelar silih berganti.


                             Berkapsitas 500  Penuh!

Bagus dan sangat kreatif, dalam keterbatsan sibuk dengan kuliah, thesis, skripsi atau mengajar dan penelitian ilmiah, mereka masih bisa berkarya. Padahal mereka sama sekali bukan seniman,  bukan artis profesional. Namun, mereka menata dan mengekspresikan semuanya nyaris sempurna.
Setidaknya pagelaran Roro Jongrang diperankan oleh Nancy Batubara dari Medan, Bandung Bndowoso oleh Rino dari Malang, bersama para penari lainnya, berhasil mempromosikan keindahan alam Indonesia beserta seni dan kebudayaannya. 
Ada film pendek lengkap dengan subtitle dalam bahasa Inggris yang melatarbelakangi pementasan Roro Jongrang ini. Gedung theater berkapasitas 500 orang pun penuh!
Bravo mahasiswa NCU Taiwan! (Pipiet Senja, Taipe, Maret 2016)








Recommend us on Google!

Tulisan Terbaru