Featured Post

Tuhan Jangan Tinggalkan Aku

Ilustrasi di Perpustakaan Hongkong Sinopsis Frankie dan Fatin berkenalan di dunia maya. Mereka sering chatt onlin e, saling b...

Novel

Indeks »

Api Revolusi di Kampung Nelayan




Anno Jakarta, 2016
Suasana pagi hari di Jakarta Raya dengan nuansa khas Ibukota berawal dari Tugu Monas. Inilah tugu termegah yang dimiliki oleh bangsa Indonesia, dibangun pada era Orde Lama. Dirancang spesial oleh Ir. Sukarno sendiri.
Hatta, Sukarno merncang juga untk bangunan Masjid Istiqlal dan Gedung Sarinah. Ketika ia dihadapkan dalam situasi harus memilih; apakah Anda akan membangun Masjid Istiqlal atau Tugu Monas. Ia menjawab tegas; “Saya memilih membangun Tugu Monas.”
“Mengapa?”
“Selagi saya masih hidup, pembangunan Tugu Monas akan terus berjalan. Namun, ketika saya sudah tiada, pembangunannya akan terbengkalai. Sedangkan pembangunan Masjid Istiqlal, biarlah ummat yang akan membangunnya.”
Udara mendung, langit kelabu dengan barisan awan hitam pertanda sebentar lagi hujan. Meskipun demikian di jalanan utama kendaraan sudah berseliweran, tampak ngebut, sampai di kawasan Tol mulai macet.
Gedung-gedung pencakar langit tampak menjulang megah, terkesan angkuh, seakan tak sudi terjamah oleh tangan si miskin. Tak jauh dari bangunan-bangunan megah di kawasan Jakarta Utara ini, ada sebuah perkampungan, warga menyebutnya; Kampung Nelayan.
Asep, seorang anak laki-laki berumur 8 tahun, tampak bersama teman-teman sebaya sedang asyik bermain gundu. Tiba-tiba datang pasukan Satpol dengan berbagai peralatan berat.
Suasananya Kampung Nelayan seketika terasa memanas. Teriakan marah campur dengan suara tangis ketakutan meruap dari pelosok kampung.
“Tidak ada peringatan…..”
“Kami sudah memberi surat peringatan!”
“Kapan?”
“Dua minggu yang lalu!”
“Kami sudah mengajukan keberatan!”
“Tidak bisa!”
“Jangan main bongkarlah, Pak, kasihanilah rakyat….”
“Ini sudah ada perintah bongkar!”
“Teganya ya, teganya?”
”Ayo, gususuuuuur!”
“Jangaaaan!”
“Bongkaaar!”
“Heeei, heeei! Kalian kejaaam!”
Tak membutuhkan waktu lama, seketika warga telah berhadapan secara frontal dengan pasukan Satpol.
Sebagian warga memilih berlarian kesana-kemari, menyelamatkan barang milik mereka. Sebagian lagi memilih bertahan, membentuk barikade. Asep sangat ketakutan, demi dilihatnya suasana di sekitarnya semakin hingar-bingar.
“Lariiiii! Ayo, lariiiii” teriaknya tiba-tiba menyadari bahaya mengintai mereka.
Teman-temannya pun bagaikan baru terbangun dari mimpi, semua tersentak mengikuti gerakan Asep..
“Lariiiiiii!”
“Pulaang!”
“Enyaaak!”
“Babeee!”
“Takuuuuut!
Sementara peralatan berat terus bergerak memasuki kawasan Kampung  Nelayan, siap merubuhkan bangunan-bangunan permanen.
Di dapurnya yang serba sederhana, Hindun, emaknya si Asep, sedang menyiapkan gorengan untuk dijual. Begitu mendengar keriuhan di luar, ia pun tersentak, mendadak mematikan kompornya. Kemudian ia mengintip dari jendela rumah.
Seketika Hindun melirik surat edaran yang menempel di dinding dapur. Isinya memerintahkan warga meninggalkan kawasan Kampung Nelayani karena akan digusur.
“Gila! Hanya dikasih tempo dua minggu?!” gerutunya kesal sekali.
Seketika ia bergegas salin dasternya dengan celana pangsi hitam dan kemeja putih. Ia pun mengenakan jilbab putih, menyambar kain merah putih dasi Pramuka Asep, dan membelitkannya di kepalanya.
Kemudian perempuan berumur 30 tahun itu menyambar sebatang bambu, memasang bendera merah putih di ujungnya. Dengan gagah perkasa ia pun keluar rumah, di tangannya membawa bendera.
Sekilas matanya menancap pada sebuah foto besar yang tergantung di ruang tamu. Inilah foto seorang pejuang ‘45 dengan senjatanya bambu runcing. Sersan Adjat Sudradjat, gugur dalam perang kemerdekaan melawan Belanda. Menurut cerita mendiang ibunya, saat itu nenek sedang mengandung anak bungsu, yaitu emaknya Hindun, Nok Halimah. Beberapa jam pasca melahirkan, Nok Halimah pun menyusul suami tercinta.
Hindun dirawat dan dibesarkan neneknya sejak itu, hingga dinikahkan dengan Abah Sujai, murid Habib Akmal, ayah Habib Akbar. Ketika nenek dan kakeknya meninggal, maka kelarganya di Jakarta hanyalah suami dan anaknya semata wayang.
Hindun menyongsong pasukan Satpol. Tepat di depan sebuah bulldozer, Hindun mengibar-kibarkan bendera merah putih. Ia teriak-teriak lantang, menyuarakan protesnya.
“Woooooi! Ini tanah kami sejak zaman Belanda. Kami menempatinya sampai empat generasi!  Kami punya sertifikatnya!  Mengapa kalian gusur juga?”
Melihat keberanian Hindun, mendadak semua warga tersemangati. Asep berlari menghampiri ibunya, kemudian berdiri di sampingnya. Asep ikut gerak-gerik ibunya, lantas membeo segala teriakan lantang sang ibu.
“Ini tanah kami sejak zaman Belanda. Kami menempatinya sampai empat generasi! Kami punya sertifikatnya! Mengapa kalian gusur juga?”
Sejurus kemudian ibu dan anak itu tak gentar terus melakukan aksinya di depan bulldozer. Satpol kebingungan, mencoba minta bantuan rekannya tak ada yang peduli, semuanya sibuk, akhirnya ia berhenti bergerak.
Sementara itu di bagian depan lawang Kampung Nelayan, Abah Asep dan warga berjibaku. Mereka menghalangi peralatan berat, agar tidak bisa melanjutkan penggusuran. Bentrok antara pasukan Satpol kiriman Penguasa dengan warga miskin di Kampung Nelayan, tak bisa dielakkan.
“Ayo, saudara-saudaraku senasib dan sepenanggunan! Kita harus lawaaaan!” seru Abah Asep, menyemangati warga Kampung Nelayan.
“Ya, lawaaaan!” sambut warga.
“Ini pelanggaran hak azasi kemanusiaan!”
“Benaaaar! Pelanggaran HAM!”
“Jangan takut!”
“Mati syahid lebih baik daripada diam saat dizalimi.”
“Mari, kita berjuang, saudara-saudaraku!”
“Allahu Akbaaaar!”
“Allahu Akbaaaar! Takbiiiiir!”
“Allahu Akbaaar!” sambut semua warga,
Mereka serempak menyuarakan protes dan semakin kompak.
Pasukan Satpol berlapis-lapis telah dirurunkan bersama peralatan berat penggusuran. Mereka tetap bersikeras menjalankan tugas semata. Menurut berita di kemudian hari, tertulis ada 1000 petugas yang diturunkan hari ini. Sementara penghuni Kampung Nelayan hanya 100-an, artinya satu orang diawasi oleh sepuluh petugas!
Abah Asep masih terus menyemangati warga agar melawan. Tiba-tiba ada bongkahan beton menimpa tubuhnya. Ia tak sempat menghindarinya. Lelaki tinggi kurus itu seketika rubuh, tetapi mulutnya masih menyuarakan protesnya. Sebelum rubuh terkapar di tanah, ia masih berteriak lantang: “Allahu Akbaaaaar!”
Tatkala hujan mulai turun, suara warga seketika saling bersahutan, mengabarkan perihal Abah Asep tertimpa bongkahan beton. 
“Wooooooi! Abah Asep ketiban tembooook!” teriakan yang sangat histeris menggema.
“Abah Asep ketiban tembok!” sambung teriakan panik lainnya.
“Saudara-saudaraku, ada yang tewas!”
Kabar itupun sampai di telinga Hindun dan Asep.
“Ayo, Sep, ini pasti berita bohong!” ajak Hindun, mencoba menghibur hatinya sensiri yang mendadak gundah. Firasat buruk seketika menyelusup relung hatinya.
“Kalau bohng buat apa kita ke ssana” dengus Asep, tak paham.
“Pokoknya kita buktikan!”
“Ya, Mak, semoga Abah tidak apa-apa….” Asep menggumam.
Dari kejauhan tampak orang berkerumun. Sesuatu yang mengerikan ada di sana!
Hindun berlari menyeruak massa, menghambur ke arah tumpukan reruntuhan bangunan di bagian depan Kampung Nelayan. Ternyata benar saja, Abah ditemukan telah berlumur darah!
Susah payah Abah Asep berusaha mnyampaikan pesan terakhirnya kepada istrinya. “Maafkan semua kesalahanku, Hindun. Titip si Asep, ya Istriku. Didiklah dia sesuai keyakinan kita.”
“Laa ilahailallah Muhammadarrasulullah….”
Hindun berusaha membimbing suaminya. Abah Asep mengikutinya, terus mengikutinya hingga jantungnya berhenti bedetak.
Abah Asep pun menutup mata, menghembuskan napasnya yang terakhir. Anehnya, Hindun sama sekali tidak menangis. Hanya menundukkan wajahnya, lembut mengecup pelan kening Abah. Kemudian menyedekapkan kedua tangan Abah. Semesta doa ia gelorakan dalam dada.
Detik itulah, Hindun bersumpah untuk melaksanakan wasiat terakhir Abah. Seraya menengadahkan kedua tangannya ke langit, suaranya menggeletar.
“Ya Allahu Robbi, hamba bersumpah, ya Allah! Demi Allah! Hamba akan melaksanakan wasiat suami hamba!”
Hujan turun semakin deras, membasahi wajah perempuan tangguh itu. Demikian pula dengan Asep, sekujur tubuhnya sudah basah kuyup. Ia hanya bisa mnangis sesenggukan memeluk jazad ayah yang disayanginya.
Warga Kampung Nelayan mengeurmuni keluarga kecil yang malang itu. Semua diam membisu. Hujan turun semakin deras dan semakin deras.
Tampak Satpol diam-diam melarikan diri, meninggalkan kawasan Kampung Nelayan. Tak peduli dengan peralatan berat bawaannya.
Nestapa warga Kampung Nelayan luput dari pemberitaan media Nasonal. Namun, di media sosial seperti situs-situs Islam, Facebook, Twitter dan Instagram menjadi viral. Penguasa sudah melewati batas kewajaran seorang pemimpin.
Sosok Penguasa muncul di televisi, memberi statement sbb:
“Nah, catat, ya Itu kan kawasan memang kumuh banget. Kita mau memanusiakan manusia. Kita kasih warga miskin itu tempat di Rusunawa. Gratiiiis loh!  Nah, kurang baik bagaimana kita?”
Reporter televisi swasta memperlihatkan potret Hindun dan anaknya yang sedang menangisi tubuh berlumuran darah.
“Halaaah! Ibu itu lebay, nangis kayak di sinetron saja!” komentar Penguasa enteng sekali.
@@@



Gerakan Santri Menulis Mahad Daarul Ukhuwwah Malang

                       Santri Mahad Daarul Ukhuwwah, Malang

Mandiri Amal Insani mengadakan Gerakan Santri Menulis di Mahad Daarul Ukhuwwah di Malang, Jawa Timur.. Program ini telah dilaksanakan sejak bulan Maret 2017, menggaet narasumber Pipiet Senja seorang novelis Nasional dan Kang Romel, pakar Blogging.

Kali ini perjalanan dari Jakarta menuju Malang dengan pesawat Sriwijaya. Rombongan terdiri dari Piiet Senja, Ustad Hadi dan Ustad Iwan. Sedangkan Kang Romel dari Bandung denan pesawat transit di Ngurah Rai, lanjut ke Malang.

Rombngan diinapkan di Hotel Ibis, Malang. Esoknya, 6 Juni 2017, sesi Kelas Menulis dan Blogging diawali di aula PPDU, Mahad Daarul Ukhuwwah.

Sesi petama diisi oleh Pipiet Senja, mulai pukul 08.00 sampai dengan pukul 12.00.

Suasananya menjadi meriah, disebabkan Pipiet Senja suka membanyol, sehingga audiens yang tediri dari 100-an santri dan santriyah menjadi tertawa geli.

Karena targetya adalah membuat buku, maka santri diberi tugas praktek menulis langsung.

Sesi kedua diisi oleh Kang Romel pakar blogger dari Bandung, Romeltea.


Kisah Chacha: Karya Santri Babussalam




Ilustrasi Kover Novel Pipiet Senja


Kisah Chacha
Ryma Fauzana

“Kenapa datang jua, ya?” gumam Chaca saat terbangun dari tidurnya yang lelap.
Malas-malsan ia menguap dan mulai duduk. Padahal enaknya melanjutkan tidur, berselimut kembali.
Kamu sudah bangun, Chaha sayang?” panggilan ibunya dari luar kamar.
“Sebentar, Ma!”

Hari ini Chacha harus mendaftar ke SMA Babussalam yang berasrama. Hari-hari selanjutnya ia harus tinggal di asrama bersama teman-temannya.
“Huh, sungguh menyebalkan!” sungutnya sebal.

Sejak sebulan lalu ia sudah menyatakan keberatan kepada orang tuanya. Ia tak mau masuk sekolah berasrama. Tidak, tidak, tidaaaak!
“Chacha tidak mau sekolah di sana, Ma, Pa!”
“Nak, itu sekolah bagus sekali. Terkenal sudah banyak meraih kejuaraan-kejuaraan bahkan tingkat Nasiona.”
“Iya, Nak,” tambah ayahnya. “Di sama kamu akan banyak teman. Bergaul dengan teman-teman perempuan.”

“Jangan gaulnya dngan anak laki-laki saja.”
“Di Pesantren itu kamu akan berubah, percayalah!”
“Berubah menjadi anak yang baik, shalehah.”

Chacha membiarkan orang tanya saling menyahut, menyemangati dan memberi pengertian. Ia bergeming dengan kepusannya sendiri.
“Pokoknya, Chacha tak mau sekolah di Babussalam. Titik!”
“Terserah!” Papa mulai kesal dan bernada tinggi. “Kalau tak mau sekolah d sana, kamu tidak akan sekolah di mana pun.”

“Haaaah”
“Ya, homeschooling saja!”
“Demikian keputusan kami. Habis perkara!” Papa mengakhiri perdebatan.
“Yaaaa, kalian ini,” gerutu Chacha. “Segitunya sama anak semata wayang?”
“Tapi dripada homeschooling, hiiiiy, amit-amit! Mending menurut sajalah,” pikir Chacha kemudian. Terbayang dirinya hanya sendirian dengan seorang pembimbing?

Sekarang Chacha si anak manja semata wayang sudah berdiri di parkiran mobil kawasan Babussalam. Nah, ihatlah!
“Sementara kami ke ruang guru untuk urus pendaftaran dan administrasi,” ujar Papa. “Kamu bisa lihat-lihat suasananya, ya Cha.”

“Boleh sendirian?” Chacha menatap Mama dan Papa.
“Iya, kurasa boleh saja. Ayo, sana, temui teman baru,” kata Mama.
Chacha mulai berjalan sendirian, melihat-lihat suasana sekolah yang akan dihuninya mulai bulan depan. Seketika ia teringat gengnya di sekolah lama. Nathan, Dilan dan Rey.

Sejak kelas satu mereka bersahabat erat. Mereka melakukan segala macam kegiatan bersama. Taekwondo, atletik, tenis, renang, futsal bahkan relly GP. Maklum, gengnya semua anak cowok!
“Kamu semakin seperti cowok kalau temanmu hanya cowok,” protes Mama.
“Biarlah begini!” sahut Chacha tak peduli.
“Kalau sudah lulus nanti, kamu harus sekolah berasrama,” vonis Papa.
“Tidak, tidak, tidak maaaaau!” teriak Chacha ketika itu.

Namun, akhirnya ia harus mengucapkan selamat tinggal kepada gengnya.  Mereka bertemu di kafe favorit.
“Aku tak mau homeschooling. Bisa sinting aku kalau tak punya teman,” kilah Chacha di hadapan gengnya.
“Hmm, ada baiknya kamu ikuti  keinginan orang tua,” ujar Nathan yang belum lama kecelakaan, tabrakan saat relly GP. Sejak itu kelakuannya memang agak berubah. Setidaknya ia selalu menolak untuk ngebut dan ugal-ugalan lagi.

“Iya juga sih,” dukung Dilan. “Aku kapok selalu bangkang kepada Mama. Mana aku hanya punya Mama seorang,” kesah Dilan.
Maklum, ayah Dilan meninggalkannya entah kemana, sejak ia masih bayi.
“Kamu bagaimana?” tanya Chacha gantian menatap Rey.

Rey garuk-garuk kepalanya yang tak gatal. Wajahnya yang ganteng memikat setiap gadis yang melintas d sekitar mereka. Belakangan ia mulai serius terjun ke dunia entertainment. Ia menjadi bintang iklan produk baju remaja yang sedang trendy.

“Sepertinya aku tak punya saran. Aku lagi fokus mau ke Jakarta,” akhirnya Rey mengucapkan selamat tinggal juga kepada mereka.
“Kurasa aku jadi ikut Mama ke Belanda saja. Hidup di Indonesia semakin susah, kata Mama,” keluh Nathan menyerah.
Gengnya memang sudah berakhir!

“Selamat tinggal masa-masa kacau dan galau di SMP,’ gumam Chacha saat
berpisah dengan gengnya.
“Ha, kamu santri baru, ya?” sapa seorang anak sebayanya dengan senyum manis dan sepasang lesung pipit di pipi-pipinya.
“Ya, begitulah,” sahut Chacha.

“Kenalan, ya, namaku Fatirah,” sambungnya tetap ramah dan murah senyum.
            Dalam sekejap Chacha merasa tertarik untuk mengenal lebih jauh.
Chacha menerima uluran tangannya. “Panggil aku Chacha saja.”
“Ayo, aku temani untuk lihat-lihat sekitar sekilah,” ajaknya pula tulus.

Mereka berkeliling di sekitar sekolah. Banyak tanaman dan bunga warna warni, indah dan segar hawanya. Di kawasan ini diterapkan disiplin untuk sama ramah lingkungan. Tak boleh buang sampah sembarangan. Tong sampah sudah tersedia di berbagai sudut. Keran dan selang air pun tersedia di mana-mana agar mudah menyirami tanaman.

“Sejak kapan kamu tinggal di sini?”
“Sejak kecil.”
“Hah?”
“Nanti kuceritakan. Sekarang kita ke kantin, ayo Chacha,” ajak remaja berbusana Muslimah itu ketika sudah berkeliling. “Cari minuman segar, ya?”

“Tapi aku tidak bawa uang.”
“Jangan kuatir. Aku  yang jualan minuman segar di kantin. Kali ini gratis!”
“Hah?”

Belakangan Chacha tahu juga identitasnya. Fatirah anak asuh Ibu Kantin. Ia dibawa Ibu Kantin saat masih kecil dari kawasan bencana alam di Jambi. Keluarganya semua tewas dalam bencana alam itu.
“Serius, kamu tidak punya orang tua lagi?” tanya Chacha penasaran.

“Orang tua kandung tidak ada, tetapi aku puya orang tua asuh. Mereka memperlakukanku dengan baik sekali. Seperti anak mereka sendiri,” jelas Fatirah dengan mata berbnar-binar, bahagia.
Chacha tertegun. Di hadapannya ada seorang anak sebaya dirinya, sudah tak punya keluarga. Namun, ia tampak berbahagia. Bukankah seharusnya ia pemurung, mengenang nasibnya yang malang itu?
“Tentu saja kita harus bersyukur, Chacha.”

“Oh, ya, bersyukur!”
Itulah kunci kebahagiaan, pikir Chacha.
“Segar! Terima kasih, ya Fati, minumannya sungguh menyegarkan. Rasanya hati dan pikiranku langsung kinclong,” puji Chacha tulus.

“Semoga kerasan tinggal di sini,” kata Ibu Kantin, yakni ibu asuh Fatirah dan beberapa anak lainnya.
Alhasil, ada subsidi silang di sekolah ini. Bagi mereka yang mampu dipatok uang masuk lumayan tinggi. Namun, bagi anak tak  mampu digratiskan semuanya. Tanpa ia sadari, pertemuan ini telah memberinya satu pelajaran sangat berharga. Terutama tentang makna bersyukur.

“Fatirah dan teman-teman dhuafa bisa bertahan di sini berkat para dermawan yang rutin menyetor sumbangan. Kalau Lebaran kami juga berlimpah kebahagiaan. Menikmati zakat para donator,” kisah Ibu Kantin panjang lebar tentang kehidupan Fatirah dan teman-teman senasib.

Sepanjang jalan menuju ke kantor, Chacha merenungkan semua cerita tentang kebahagiaan dan berkahnya tinggal di kawasan Babssalam. Baru menyadari bahwa selama ini hidupnya aman-aman saja, sejahtera dan berkeimpahan kemanjaan.
Tetapi, mengapa dirinya tidak bersyukur?

Oh, ya, tentu saja sebab selama ini ia terbawa arus pergaulan yang tidak benar. Nathan, Dilan, Rey dan teman lainnya. Mereka lebih suka mengajaknya hura-hura, menganggap ringan semuanya.
Ya Allah, pastinya itu dosa, ya Tuhan, bisiknya kini dalam  hati.
“Bagaimana, Nak? Sudah lihat-lihat?” Mama menanyai kesannya.
“Iya, Ma, aku suka suasananya,” kata Chacha jujur.
“Sudah punya teman?” selidk Papa.
“Pasti belumlah, Pa,” kata Mama.

“Yeeeeh, siapa bilang? Aku sudah punya teman baik. Namanya Fatirah. Keren anaknya, Ma, Pa. Meskipun dia sudah yatim-piatu, korban benccana alam, tampaknya bahagia saja,” ceracau Chacha dalam nada riang.

Papa dan Mama saling pandang. Hampir tak percaya mereka akhirnya bisa melihat Chacha tampak riang dalam tempo relatif singkat.
“Sering-sering tengok aku, ya Pa, Ma?” pinta Chacha sebelum melepas orang tuanya pulang.
“Kelas baru akan dimulai awal bulan. Selama itu kamu bisa pengenalan lingkungan sekolah,” jelas Papa.

“Kalau ada apa-apa, minta Pembina hubungi kami, ya Nak,” pesan Mama.
Betapa sedih sesungguhnya hati Chacha. Seumur-umur ia tak pernah berjauhan dengan orang tua. Ke mana-mana ia selalu ikut mereka. Mama dan Papa dinas ke mancanegara pun pasti dibawanya serta. Sekarang ia harus berjauhan dengan Mama dan Papa.

Namun, sebelum terjebak dengan perasaan sedihnya, sosok Fatirah kembali mendatanginya. “Sudah beres semua urusan?” tanyanya ramah.
“Sudah.”
“Ayo, kuantar kamu ke Asrama kita,” ajaknya.

Sesampai di pintu gerbang Asrama Putri, anak-anak baru harus diperiksa barang bawaannya. Satu per satu mereka menyodorkan koper masing-masing. Beberapa senior melakukan tugas, memeriksa isi koper dengan cermat.

“Tablet ini tak oleh dibawa ke kamar. Kami ambil, nanti minta dibawa orang tuamu, ya,” ujar seorang senior.
Hati Chacha langsung menciut. Tablet kesayangan, selamat tinggal!
Rupanya aku memang harus hijrah, pikirnya.
“Nah, kita sekamar di Aisyah,” cetus Fatirah.

“Baguslah,” komentar Chacha masih merasakan sesuatu yang hilamg dari dalam dadanya. “Kuharap kamu mau mengajariku menjadi seorang santri yang baik di sini.”
“Insya Allah,” tawa Fatirah renyah.

Ada lima ranjang bertingkat di kamar bernama Aisyah. Penghuninya ada 10 orang, tetapi yang sudah datang baru separuhnya. Fatirah mengajak Chacha memilih ranjang mereka.
“Aku suka di dekat jendela. Serasa tersambung dengan dunia luar,” gumam Chacha.
“Baik, kita ambil tempat tidur yang ini,” kata Fatirah menyetujuinya.
Fatirah membantunya memasukkan barang ke lemari. Mujurlah, Chacha menuruti saran Mama agar tidak bawa banyak baju. Lemarinya mungil, hanya cukup untuk beberapa baju saja.
“Baju-bajuku bisa ditaruh di lemari Kantin. Jadi, kamu bisa pakai lemari ini sendiri.”
“Oh, jangan. Ini sudah cukup. Bagian atas untukku, ya?”

Aku harus mulai beradaptasi dan mensyukuri kondisi apapun di sini, pikir Chacha.
Ia merasa ketinggalan banyak hal oleh Fatirah. Bayangkan, dalam kondisi serba terbatas, Fatirah ternyata telah meraih berbagai prestasi. Tiap tahun peringkat satu, sering mewakili berbagai lomba dan Olimpiade Sans.

Lantas, apa yang telah kamu peroleh selama ini, Chacha? Semua hobi dan kegiatan selama ini bersama gengnya, tak ada yang menghasilkan. Hanya kesenangan, hura-hura belaka. Tak pernah ada piala, trophy dan sebagangsanya. Malah beberapa kali ia nyaris celaka akibat ngebut.
Gengnya memang gila-gilaan. Masih SMP sudah berani bawa mobil sendiri. Tanpa SIM, tanpa STNK, mereka gantian ngebut di jalanan protokol. Astaghfirullahal adziiiim, gumamnya kini berulang kali mengucapkan permohonan ampunan kepada Sang Pencipta.

Malam itu untuk pertama kali dalam hidupnya, Chacha merasakan suasana sebuah pesantren. Ia menemukan satu hal yang sangat terasa dan berbeda, yaitu kebersamaan. Ya, semuanya dilakukan secara berjamaah.

Ibadah bersama, sholat, mengaji, sholawatan, bahkan makan pun berjamaah. Semua kebagian secara merata. Tak ada yang heboh karena tidak kebagian jatah. Semua kebagan jatahnya masing-masing.
Ia pun bisa tidur dengan lelap. Ketika terbangun dinihari, ada kenyamanan dan kelapangan dalam dadanya. Rasanya segela kesedihan itu telah meruap dari hatinya.

“Semangaaaat!” serunya takpa sadar membangunkan teman sekamar.
“Ya, semangaat!” sahut tean-teman sekamar kompak.
Azan memanggil anak-anak unutuk sholat Subuh di Masjid. Usai sholat, Chacha pun mendapat teman-teman baru. Baik kakak kelas maupun anak seangkatan. Kembali ke kamar, segera menyiapkan diri untuk menjalani Pengenalan Lingkungan Sekolah. Orientasi, istilahnya kalau di sekolah negeri.

Usai sudah masa Pengenalan Lingkungan Sekolah. Mereka mulai belajar di kelas. Chaha memilih kelas IPS, karena sangat menyukai semua mata pelajarannya, terutama bahasa asing.
“Apa cita-citamu, Fatirah?” tanya Chacha saat mereka berada di ruang Lab Komputer.
“Programer komputer seperti senior Reyna yang sekarang sekolah di Jepang.”
“Oya, dapat bea-siswakah dia?”

“Iya, Kakak Reyna anak Duri itu memang hebat. Selalu peringkat satu dan hafizah pula.”
“Apa itu hafizah?” Chacha mengerutkan kening.
“Penghafal Al Quran perempuan.”
“Oh, apa kamu juga menghafal Al Quran?”
“Tentu, semua santri d sini diwajibkan belajar Al Quran.”

“Waduuuh!” seru Chacha terkejut. “Aku hanya pernah belajar juzama waktu di SD. Wajib, ya, bagaimana ini?”
“Janan panik, tenang saja. Kita bisa belajar mengaji bersama. Kamu anak pintar juga.”
“Hanya sesekali peringkat pertama.”
“Nah! Artinya banyak kesempatan untukmu, oke?” Fatirah menyemangatinya.
“Berapa anyak hafalan Al Quranmu, Fatirah?”

“Baru 25 Juz….”
“Memangnya semua ada berapa juz?”
Fatirah menatapnya keheranan. “Kamu tidak tahu?”
“Maaf, selama ini aku memang tidak mengaji,” ujar Chacha polos. “Orang tuaku juga tidak pernah mengajariku mengaji.”
“Semuanya 30 juz.”
“Artinya kamu tinggal 5 juz lagi? Aiiiih, sejak kapan mulai menghafal Al Quran?”

“Sejak kecil mengaji, tetapi serius menghafal baru kelas satu SMP. Nah, itu juga gara-gara lihat Kak Reyna yang berhasil juara MTQ tingkat Kabupaten.”
Kapala Chacha langsung serasa dipukul palu. Bagaimama dirinya bisa hafal Al Quran? Kalau seumur ini, 15 tahun, mengajinya masih terbata-bata karena tak pernah dipraktekkan?
“Tenang saja, itu Nek Aish yang suka bantu-bantu di dapur pesantren, umurnya sudah lansia. Belum lama beliau datang  sini. Kepingin menghafal Al Quran. Tahu tak, Cha, dalam setahun ini dia sudah menghafal 10 juz.”

“Masya Allah, adaha sudah nenek?”
“Makanya, niat, niat itulah yang penting.”
“Baik, niat, kucatat dalam memoriku!” janji Chacha.

“Ada cara cepat menghafal Al Quran. Aku punya bukunya. Sering dipraktekkan juga dengan teman-teman. Bukunya berjudul Menghafal Al Quran Semudah Tersenyum.”
“Wah, bagus sekali! Boleh, ya, aku ikut gengnya….”
“Gengnya apa?”
“Eh, maksudku teman-temanmu belajar dan menghafal Al Quran.”
“Ayo, siapapun boleh ikut!”

Di LabKom mereka boleh berselancar. Sambil mengerjakan tugas pertamanya, Chacha mengintip status gengnya. Tampaklah Dilan sedang selfiean dengan teman-teman baru di Medan. Nathan entah di mana, statusnya berhenti sebulan yang lalu. Mungkin jadi ikut ibunya ke Belanda. Rey banyak postingan foto debutnya sebagai model iklan professional.

“Psssst, itu temanmu?” bisik Fatirah. “Lihat, itu statusnya siapa yang dimakksud dengan si Anak Kampung nan Malang?”
Sekilas Chacha mencermati status Rey.

“Kasihan anak Kampung nan Malang, akhirnya menyerah djebloskan ke pesantren. Hidupnya sekarang pasti seperti tahanan. Coba nurut kabur bareng gw ke Jakarta. Kereeeen nih, tahu!”
“Dia pernag mengajakmu kabur, ya?” tanya Fatirah.
“Iya, dasar sinting!”

“Kalau begitu, buktkan kepadanya bahwa Chcha bisa lebih keren,lebih hebat dan lebih barokah tinggal d pesantren!”
“Benar sekali. Bantu aku mewujudkannya, ya Fatirah!”

Ya, sejak itulah Chacha memiliki satu tekad dalam dadanya. Bahwa sekolah di pesantren keputusan terbaik untuk dirinya. Bahwa Chacha akan berubah total!

Chacha berjuang keras meraih ketinggalannya. Ia sangat ketat mengatur jadwal mengaji, jadwal menghafal Al Quran, sholat wajib, sholat sunah, puasa Daud. Dari hari ke hari ibadahnya semakin terpelihara dengan baik.

Mengatur ulang tujuan olah raganya pun dilakukannya. Kalau sebelumnya ia bermain bulu tangkis, tenis, atletik sekadar iseng. Kini karena fasilitas di pesantren bagus, ia memanfaatkannya dengan baik. Hingga ia terpilih mewakili sekolahnya untuk atlit panahan. Ia satu-satunya atlit panahan berjilbab mewakili sekolahnya ke tingkat Provnsi.

“Inikah putri kita yang manja dan suka merengek itu, Pa?” Mama memeluknya erat dengan bersimbah air mata saat jumpa di Gedung PON.
“Sini, peluk Papa juga, Nak,” pinta ayahnya dengan mata berkacakaca.

Ini pertemuan mereka yang pertama sejak enam bulan Chacha di pesantren. Chacha sengaja memilih tidak sering bertemu orang tua. Ia hanya menelepon jika sudah rindu sekali. Sudah ditekadkan dalam dadanya. Ia hanya akan berani menjumpai orang tuanya, jika sudah sukses meraih prestasi.

“Ini baru permulaan, Pa, Ma,” bisik Chacha. “Masih banyak yang ingin kuraih. Terutama aku ingin bisa menghafal Al Quran. Membuktikan betapa besar cintaku kepada Islam, cintaku kepada Al Quran….”
“Seberapa besar, Nak?” tanya Papa dan Mama.
“Tak terhingga, Ma, Pa.” (Babusalam, Maret 2017)
@@@


Recommend us on Google!

Tulisan Terbaru