Latest Stories

Subscription

You can subscribe to pipietsenja.net by e-mail address to receive news and updates directly in your inbox. Simply enter your e-mail below and click Sign Up!

TOP 5 Most Popular Post

Other Post

Other Post


Bersama Nyai Lirboyo dan tiga putrinya



Pontren Putri Lirboyo, Kediri, 2 Juli 2014
Dari Bondowoso kami kembali ke Surabaya, menginap lagi di kantor Zikrul Hakim di Palm Spring Regency. Bukanya di Mall dengan menu serba mie yang gurih dan pedas. Usai makan sahut kami jalan lagi, kali ini menuju pondok pesantren putri Lirboyo, Kediri.

Tiba di Lirboyo, kami disambut Neng Najwa, putrinya Kyai, dua adik perempuan dan uminya yang cantik. Di rumah singgah untuk para ustadah, kami ngobrol sejenak, merunut silsilah, dalam bahasa Sunda pancakaki. Sang ibu ternyata keturunan Pakistan yang menikah dengan menak alias bangsawan Kasepuhan, Cirebon.

“Sama atuh, ya, kita keturunan Kasepuhan,” kataku tertawa, mengenang nenek dari pihak ibuku yang berasal dari Kasepuhan Cirebon.
“Iya, ya, jangan-jangan kita masih bersaudara,” sambut Nyai juga tertawa riang.

Kemudian kami, saya dan Evi dibawa ke lantai atas, para santriwati sudah siap menerima guyuran teror virus menulis. Meskipun tanpa LCD, infocus dan pengeras suara yang kadang putus nyambung, mereka antusias sekali menyimak.

Tiba saatnya diberi tugas menulis, semangat para santriwati yang masih imut-imut dan unyu-unyu (istilah gaul) itupun semakin jelas. Terbukti dari puluhan tulisan yang terkumpul dalam tempo hitungan menit.

Santri putri yang cantik dan solehah; Hafidzoh!




Pondok pesantren Lirboyo, suasananya pagi dan siang itu sungguh heboh dengan celotehan seputar dunia literasi. Para santri semaiin semangat bertanya, kadang diseling tawa riang.

Tanpa terasa sama sekali, tiada gap antara Neng Najwa dengan para santriwati, meskipun ini pesantren salafiyah; mengkaji kitab-kitab kuning dan hadis. Kyai memperkenankan santrinya untuk terbuka, menyerap ilmu selain ilmu keislaman. Alhamdulillah, semoga segera berlahiran para sastrawari mumpuni dari Lirboyo.

Usai acara share kepenulisan, kami diantar menuju kediaman keluarga Kyai di bagian belakang pesantren. Melintasi pondok-pondok para santri putrid, mereka sedang sibuk macam-macam kegiatan; mencuci, memasak, belajar dan mengkaji kitab.

Sebuah gedung megah di kaki sebuah gunung (kalau tak salah) namanya gunung Banyak. Pesawahan membentang luas sekali, ada peternakan sapi sekaligus tempat memerah susu.

Selain dikonsumsi penghuni pondok juga diproduksi keluar,” jelas seorang santri yang begitu santun, ramah mengantar kami ke kediaman Kyai.

Saya banyak terdiam, termenung lama, dari balkon kamar tempat kami rehat, rasa takjub dan bangga, entah mengapa deras ikut membalun hati ini.

Kalau dilukiskan perasaan saya mungkin sbb; selama ada basis-basis Islam, para santri dan Kyai mumpuni seperti ini, maka tidak perlu gentar menghadapi ancaman komunis atau liberal dan agitasi asing sekalipun.

Lihatlah, mereka para kader Islam itu akan menjadi garda terdepan, kekuatan maha dahsyat untuk melawan mereka yang hendak menghancurkan agamanya. Allahu Akbar!


Santri putri membacakan karyanya



Menikmati keberhasilan sebuah pondok pesantren besar seperti Lirboyo ini, sungguh rasa syukur pun tiada henti terucap selain gumam takjub dan bangga saya sebagai seorang seniman Muslim.

Sampai jumpa, anak-anak solehah, telah kudengar sejak lama kebesaran nama pondok kalian. Baru sekarang Allah Swt menuntun kaki-kaki ini menjejak di kawasan Lirboyo yang tekenal itu. (Lirboyo, Kediri, 2 Juli 2014)

@@@
Posted in: | Jumat, 18 Juli 2014
Ilustrasi:Ini sih santriwati Ponpes Banyuanyar



Palm Spring Regency-Surabaya, 30 Juni 2014
Dari Bandara Hang Nadim, Lampung, kami menuju Bandara Sukarno-Hatta. Pesawatnya transit selama 90 menit dengan 15 menit delay. Pada saat yang sama sesungguhnya anakku Haekal Siregar baru mendarat dari Jeddah, usai umroh. Tidak memungkinkan jika ingin menyambanginya, jadi kutelepon saja dia dan menanyakan kabarnya.

“Mama mau keliling Jatim dan Madura, sudah ya, selamat kembali ke rumah. Tetaplah jaga ibadahmu seperti di Tanah Suci,” pesanku sebelum menaiki pesawat menuju Surabaya.

Ken Pramita tidak ikut, langsung kembali ke kantornya di Ciputat. Jadi kami berdua yang akan keliling Jatim-Madura. Kulirik Evi Oktaviani, wajahnya masih segar. Aku berdoa, semoga dia akan kuat selama mengintil diriku dalam seminggu ke depan.

Ditemani gadis manis ini, kadang aku lupa, serasa anakku yang menemani. Baru terasa jika malam hari, hening, tak ada canda ketawa lepas sebagaimana biasa kudengar dari putriku. Evi akan duduk tenang dengan Al Quran di tangan, menggumamkan tilawahnya nyaris tak terdengar.

“Calon Nyai, ya,” godaku disambut senyum tersipu-sipu oleh gadis Depok ini.
Ridho Ardian, pimpinan cabang Surabaya, menjemput dan mengantar kami ke kantornya di Palm Spring Regency. Ada kamar di lantai tiga, di sinilah kami menginap. Kukagumi kemegahan dan kemewahan gedung milik Remon Agus, Direktur Zikrul Hakim.

Dinihari pintu kamar diketuk anak OB, mengingatkan kami untuk makan sahur. Kami berdua pun sahur apa adanya;nasi putih panas, sepotong tempe kering dan ayam goreng yang juga sama keringnya. Alhamdulillah.

Akhirnya sore itu, sampailah kami di pondok pesantren Al Ishlah Bondowoso. Perjalanan panjang kami nikmati dengan pemandangan alam Jawa Timur, puncak gunung Arjuno dengan awan-awan putih, pesawahan yang sedang rehat tanam padi. Lah, iyalah, wong puasa, mana tahan di tengah terik begini berada di sawah?

“Selamat datang kembali di Al Ishlah,” sambut seorang akhwat, santriwati tingkat perguruan tinggi. Kami ditempatkan di guesthouse, bangunan dan kamar yang sama, seperti setahun yang lalu saya, Elly Lubis dan Evatya Luna pernah singgah.


Al Ishlah, Bondowoso, 1 Juli 2014
Acaranya diselenggarakan di aula berkapasitas 500-an. Sebagian santri sudah libur dan pulang, jadi inilah yang masih tersisa;100-an santri putra dan putri. Al Ishlah adalah pondok pesantren modern, boardingschool putra dan putri. Ratusan bangku itu terbagi dua bagian. Sebelah kiri barisan santri putra, sebelah kanan santri putri.

Begitu memasuki aula, aku dan Evi langsung diminta ke bangku barisan depan. Di bagian putra tampak dua pejabat Al Ishlah, pimpinan perguruan tinggi dan pengurus harian boardingschool-nya.

“Selamat datang di l Ishlah, Bunda Pipiet Senja,” sapanya santun.
“Terimakaish, Pak, ini sudah ke-3 kalinya saya ke Al Ishlah. Baru kali ini jumpa Anda,” kataku.

Acara pun dimulai, seperti biasa tentu dengan tilawah, merdu sekali suara santri putra dengan paras ganteng itu. Semua menyimak dan sesekali dengung;”Allaaaaah….” Luar biasa, 

subhanallah, semoga engkau menjadi pemimpin bangsa yang mumpuni, Nak.

Sempat terganggu dengan laptop panitia yang error, agak kecewa juga jika tidak bisa berbagi modul kepenulisan yangtelah kusiapkan jauh hari. Setelah dikotak-katik, eh, ndilalah, akhirnya malah laptop jadulku yang bisa dimanfaatkan. Ternyata ada yang lebih jadul daripada si Denok, gumamku geli.

Evi menyetel video profil Dompet Dhuafa, sambil menjelaskan program yang kami angkat dalam Safari Ramadhan ini:”Gerakan Berzakat Melalui Goresan Pena.” Tampak anak-anak berseru tertahan, melihat nenek jompo dengan kondisi mengenaskan atau anak-anak miskin, mereka para mustahik, para penerima zakat yang disalurkan ileh Dompet Dhuafa.

Giliran saya diawali dengan memutas video Berkelana Dengan Buku. Bukan gaya-gayaan, karena sudah berkelana ke 20 negara berkat menulis buku. Saya ingin mengajak anak-anak, bagaimana prospek dan nikmat, berkahnya menjadi seorang penulis.

“Menjadi penulis sungguh nikmat, anak-anak. Apalagi utuk perempuan, kelak kalian di rumah saja, tidak perlu kerja keluar rumah, dipaksa harus melepas jilbab, pake baju dengan ketek kewer-kewer….”

Gheeeer! Tawa membahana ruangan luas dan megah itu. Ternyata Bapak Dekan yang sudah pamitan, diam-diam kembali, dan menyimak di belakang. Pada sesi dialog interaktif, beliau menyatakan banyak Tulsan ilmiah yang telah ditulisnya, tetapi tak tahu hendak diapakan. Nah, hayo, kita bukukan, Pak Dekan!

Seperti di Lampung, di Al Ishlah pun saya minta peserta menulis saat itu juga. Temanya sesuai dengan Gerakan Berzakat Melalui Goresan Pena. Karena tampak masih kebingungan melembayang di wajah anak-anak, maka saya sederhanakan istilahnya.

”Mari, kita menuliskan tentang betapa indahnya berzakat, indahnya berbagi dengan mereka yag membutuhkan uluran tangan kita.”

Dalam hitungan 20 menit, terkumpul puluhan tulisan di meja kami. Saya minta waktu untuk mencermati, menyeleksinya, hingga terpilih lima tulisan yang berhak mendapatkan doorprize berupa buku; Menoreh Janji di Tanah Suci dan Suara Hati Dari Mesir. (Bondowoso, Pipiet Senja)





Posted in: | Sabtu, 12 Juli 2014

              Bersama Ketua FLP Lampung, Tri Sujarwo Sangha dan Moderator






Safari Ramadhan :

Gerakan Berzakat Melalui Goresan Pena

Lampung, 29 Juni 2014
Sejak 4 tahun terakhir, saya terpanggil untuk melakukan kegiatan berbagi ilmu kepenulisan pada bulan suci Ramadhan. Berkeliling pesantren ke pelosok Tanah Air. Itu keinginannya, tapi anehnya lebih sering kembali ke kawasan Jatim dan Madura. Demikian berkali-kali hingga Ramadhan kali ini, akhirnya plus Lampung.

Untuk dana tiket biasanya saya peroleh dari penerbitku. Tapi sejak resign setahun yang lalu dari penerbit tersebut, kewalahan juga jika harus dari kocek sendiri. Maklum, masih harus menebus obat mahal pasca transfuse yang tak bisa dihindari sepanjang hidupku..

Dompet Dhuafa, alhamdulillah berkenan sponsori tiketku kali ini. Bila saya mengusung misi Gerakan Santi Menulis, maka Dompet Dhuafa dengan program Gerakan Berzakat Melalui Goresan Pena. Masih kloplah.

Awal puasa itu, usai makan sahur, saya menuju Bandara Cengkareng diantar putriku. Kali ini saya mengawalinya ke kawasan Lampung. Butet, putriku wanti-wanti kepadaku agar menjaga kesehatan. Jangan diforsirlah, nanti ambruklah. Cari pahala sih boleh saja, tapi harus menakar kekuatan sendiri, de-el-el.

Kubiarkan dia berkicau, soalnya kalau dibantah, berabelah. Bisa-bisa bukannya diantar ke Bandara, bagaimana andaikan mendadak banting stir diangkut ke Rscm, nah loh!
Bertemu dengan perwakilan Dompet Dhuafa, Evi Oktaviani dan Ken Pramita. Kami terbang masih pagi sekali dengan pesawat Sriwijaya. Tiba dalam tempo 30 menit.

“Kelamaan jalan dari Depok ke bandaranya,” cetus Evi, alumni F-MIPA Universitas Indonesia.
“Apalagi dari Ciputat, lebih dari 1 jam,” sambung Ken, alumni jurusan Sejarah, Universitas Indonesia. Dara berjilbab apik ini pun sama warga Depok seperti Evi. Hanya Ken kosan di kawasan Ciputat, agar dekat dengan kantor Dompet Dhuafa.

“Kami tadi hanya sekitar 45 menit,” tambah saya tak mau ketinggalan, menambahkan informasi waktu tempuh. Jangan kaget, jika jalan lewat pukul lima saja dari arah Cibubur niscaya sudah macet!

Penjemputnya tak kurang dari Ketua Forum LIngkar Pena Lampung, Sujarwo Sangha, jurnalis Lampung Pos. Dia tersenyum senang begitu aku bisa mengenalinya, dan segera melambai ke arahnya.

“Teteh nanti rehat dulu di kosannya Qori,” ujarnya sambl mengambil alih troli kami.
Rumah kosan Qori di kawasan perumahan, sebuah bangunan kuno yang sudah tua. Diperkirakan umurnya lebih separo abad. Qori dalam perjalanan pulang ke rumah orang tuanya, terburu-buru balik kanan kembali ke kosannya.

Aku sempat tertidur sampai terbangun saat Qori muncul, menyalamiku sambil meminta maaf atas keterlambatannya menyambut. Ia seorang mahasiswa Unila, aktivis relawan anak-anak jalanan. 

Asyik sekali dan menambah pengetahuan berbincang dengan akhwat ini, seputar kehidupan warga miskin di kawasan pantai Lampung.

Akhirnya kami menuju tempat acara, masing-masing dibonceng dengan motor dan ngebut di tengah hari bolong yang mendung. Gedung di lantai dua, belakang Alfamart jalan Ki Maja.

“Selamat datang di Lampung, ya Teteh,” anak-anak FLP Lampung berebutan menyambut. Ada yang menyalami, mencium tangan, ada pula yang memelukku erat-erat sambil berbisik.”Kangeeeen, kangeeeen!”

“Ya, sama kangen, sudah lama sekali saya tidak ke Lampung.”
Pesertanya tidak begitu banyak, tapi semua antusias sekali menyimak pembicara. Dompet Dhuafa Lampung membuka acara di sesi pertama, disusul oleh seorang penerima kemanfaatan zakat. 

Dilanjutkan oleh Evi Oktaviani, sebagai duta Dompet Dhuafa, memaparkan program Membuka Mata Membuka Hati. Sayang sekali Evi tak bisa menyetel video profil DD, mengingat tak ada sound system.

Dalam keterbatasan sarana elektronik itupun, tetap terasa semangat dan minat menulisnya. Ada dua peserta cilik, usia 8-10 tahun, keduanya begitu antusias menyimak. Ketika diminta menulis dengan tema indahnya berbagi, kedua gadis cilik ini begitu semangat dan mengetik dengan cepat sekali. Terutama Siti Atikah Azzahra, dalam tempo hitungan menit dia sudah berhasil menyelesaikan tulisannya.

                                                        Dua peserta cilik nyempil di antara kami



Sesuai rencana, sejak diluncurkan Gerakan Berzakat Melalui Goresan Pena di Hotel Sofyan, Menteng 21 Juni 2014, kami meminta peserta untuk mengirimkan tulisannya, paling lambar 3 hari sejak acara dilangsungkan.

Buka puasa hari pertama Ramadhan kali ini, saya nikmati kebersamaan dengan teman-teman FLP Lampung di sebuah rumah makan Padang. Alhamdulillah, satu kota telah disinggahi. 

Esok subuh kami sudah akan terbang menuju Surabaya, transit di Jakarta, lanjut ke pondok pesantren Al Ishlah, Bondowoso, Jawa Timur.

Adapun jadwal lengkapnya sbb; 1.Lampung, 2.Al Ishlah Bondowoso, 3.Lirboyo Kediri, 4.Ngasinan Kediri, 5.SMA Wahid Hasyim-Tebuireng Jombang, 6.Darul Quro-Banyuanyar Madura, 7.Al Amien-Prenduan Madura.8.Al Izzah-Batu, Malang. (Pipiet Senja)


Posted in: | Jumat, 11 Juli 2014


“Woaaa! Woaaaa!”
Masih dinihari ketika kupingnya mendengar suara tangisan bayi. Ros, perempuan 30-an, baru pulang dari pasar, belanja untuk mengisi lapaknya di pinggir jalan Raya Tagog, Cimahi. Ia merandek, menurunkan keranjang belanjaan yang selalu digunakannya setiap dinihari, mengangkut belanjaan; sayuran dan kebutuhan sehari-hari.

“Woaaa! Woaaa!” tangisan bayi itu semakin kencang terdengar dari arah kuburan. Ia sungguh tak habis mengerti. Mengapa ada bayi pada saat orang masih tertidur lelap, dan itu muncul dari tempat yang tidak lazim.

Aduh, jangan-jangan itu anak kuntilanak, pikirnya mendadak berprasangka buruk. Namun, rasa ingin tahu dan penasaran semakin memburu hatinya.
Tidak, bulu romanya sama sekali tidak merinding. Lagipula ini mulai siang dan bukan malam Jumat, tambahnya menguatkan hatinya sendiri.

Perasaannya pun kian penasaran, ada iba yang seketika membalun hatinya. Semakin melangkah ke arah kuburan, tangisan bayi itu terdengar semakin kencang. Seakan-akan ia melolong, merasa sakit, kesepian dan ketakutan.

Di sebelah kuburan kuno, ternyata di situlah sumber suara. Langkahnya kian mendekat, kian mendekat, sampai tampaklah oleh matanya; sosok bayi!

Ya, ternyata benar itu adalah sesosok bayi merah, ditutup oleh kurungan ayam. Ketika ia memerhatikannya dengan cermat, bayi itu megap-megap, kini tangisannya mulai pelan dan semakin pelan.

Agaknya tangisan sebelumnya telah diperjuangkannya sedemikian rupa. Demi mendapat bantuan dari siapapun yang kebetulan meintas di sekitar kuburan itu. Demi hasrat hidupnya yang kuat. Mungkin juga demi pembuktian kepada ibunya yang telah membuangnya tanpa rasa keibuan lagi di hatinya.

“Ya Allah, bayi siapa ini? Siapa yang tega membuang bayi merah begini,” gumam Ros sambil sibuk mencari sesuatu yang bisa dipakai untuk menggendong bayi merah itu.

Kain batik yang biasa dipakai untuk menggendong keranjang belanjaan masih menyampir di bahunya. Dengan tangan gemetar dan tubuh serasa lunglai, ia segera mengangkat kurungan ayam dari atas bayi yang malang itu.

“Anak siapa kamu, Nak? Ya Allah, teganya siapapun yang telah membuang dirimu,” bisiknya.”Ikut bersamaku, ya Nak. Mari kita pulang,” ceracaunya saat ia mengendong bayi merah itu, menjauhi kuburan.

Di rumah kontrakannya di pinggir kali Cimahi, ia hanya menemukan air dingin di kendi. Hidup seorang diri sejak ditinggal pergi oleh suaminya, kondisinya memang sungguh memprihatinkan. Tak ada sanak-saudara, karena ia bukan orang asli bumi Pasundan.

Jika masih bertahan di kota kecil ini, itu tak lain karena ia masih punya harapan. Satu saat suaminya akan kembali. Harapan yang nyaris sia-sia, sebab telah sewindu berlalu, lelaki yang pergi dengan petempuan lain itu, entah masih memikirkan dirinya, atau sebaliknya melupakannya sama sekali.

Ia segera disibukkan mengurus keselamatan bayi temuannya. Bayi itu tampak masih bernapas, tapi semakin megap-megap, bahkan wajahnya mulai membiru. Tak tahan akhirnya ia berlari keluar, menggendong bayi malang, menuju rumah seorang bidan.

Suasana kampung Margacinta mendadak heboh.
“Ada bayi merah dibuang!”
“Ditemukan di kuburan!”
“Ari-ari masih belum diputus!”

Hari makin siang, ketika bidan berhasil menyelamatkan bayi yang segera diberi nama oleh Rosi; Nurul.

Rosi, seorang perempuan sederhana, dalam pikirannya bayi ini adalah cahaya bagi dirinya, bagi dunia. Dan itu memang benar adanya. Bayi ini merupakan sumber kekuatannya yang maha dahsyat!

Ros merawat dan membesarkan Nurul dengan penuh kasih sayang. Sejak ada Nurul dalam hidupnya, ternyata hari-harinya menjadi penuh dengan keberkahan. Rezeki seakan-akan dicurahkan dari langit, mengalir tanpa henti.

Sehingga ia kemudian bisa memiliki warung sendiri, pindah dari lapak di pinggir jalan. Itu berawal dari bantuan yang diberikan oleh Dompet Dhuafa, berupa modal untuk mengembangkan usaha berjualan sayuran.

Demikain pula ketika saatnya Nurul masuk sekolah, Ros diarahkan oleh sahabat Dompet Dhuafa ke divisi pendidikan.
“Ibu Ros, jangan sungkan-sungkan, insya Allah, kami akan membantu untuk membiayai pendidikan Nurul,” kata Ustad Ghofur.

Sejak itu, Ros merasa nyaman dan lega, tidak diburu-buru lagi untuk urusan dana pendidikan Nurul. Anak perempuan yang telah sah menjadi bagian dari hidupnya, meskipun bukan anak biologisnya.

Sekarang Nurul telah lulus SMK, sedang liburan, baru saja mendapat undangan untuk masuk perguruan tinggi dengan jalur berprestasi.
“Apakah anak saya ini masih bisa mendapatkan bantuan dana pendidikannya, Ustad?” tanya Ros saat menemui Ustad Ghofur di kantor Dompet Dhuafa.

“Insya Allah, Ibu Ros, ada bantuan dana yang telah kami siapkan untuk Nurul.”
“Terima kasih, Dompet Dhuafa,” kata Nurul dan ibu asuhnya, Mak Ros, wirausaha dari Cimahi.

“Berterima kasihnya kepada para donator, Bu. Dompet Dhuafa hanya menampung dan menyalurkan dana sedekah, zakat dari para donator,” jelas ustadz Ghofur. (Hotel Menteng Sofyan, Jakarta 21 Juni 2014)

@@@
Posted in: | Senin, 23 Juni 2014

Royalti buku Surat Berdarah Untuk Presiden karya BMI Hong Kong kepada Manager DD HK

Taipei, April 2014
Siang itu kami, yaitu; saya, Sastri Bakry dan Fanny Jonathans Poyk menjadi pemateri di KDEI Taipei. Acaranya workshop kepenulisan dan jurnalistik. Agenda ini sudah dirancang sejak lama, baru bisa terlaksana setelah kami bertiga nekad cari tiket dengan merogoh kocek pribadi.

Tujuan kami memang bukan cari duit atau senang-senang, tapi lebih dimaksudkan untuk berbagi ilmu, bermanfaat untuk anak-anak BMI Taiwan. Kami berharap jika mereka mahir menulis, maka mereka pun akan bisa mengubah peradaban, bahasa kerennya. Kalau pulang kelak mereka akan menjadi para penulis professional.

Usai acara yang dihadiri tidak lebih dari 50 orang peserta saja, karena saat itu bersamaan dengan persiapan menjelang Pemilu. Jadi anggota grup Whats App yang saya bina hampir semua sibuk, demi kesuksesan Pemilu. Kami pun diajak jalan ke TMS. Taipei Main Station.

Sambil jalan kaki, berbincang dengan anak-anak BMI atau Tenaga Kerja Indonesia tentang berbagai hal. Mulai dari penerbitan buku, pengalaman mereka selama bertahun di perantauan, hingga tentang anak-anak asuh dan Yayasan Bunda Hadijah yang saya bina.

“Sebentar, Bunda, maaf boleh tanya,” kata Jillian Han, nama pena.”Bunda sendiri kan penyakitan, harus ditransfusi dua bulan sekali seumur hidup, pastinya butuh dana banyak. Nah, itu masih harus membiayai anak-anak asuh, bagaimana cari dananya?”

Pertanyaan serupa sudah sering menyerbu kupingku, tersenyum dan coba menjawab apa adanya:”Saya juga sering heran dan takub sendiri. Pas lagi butuh banget buat mereka, tiba-tiba ada saja yang menitip sedekah atau zakat. Pernah loh, Aulia salah seorang anak asuhku sudah 5 bulan menunggak, belum bayar daftar ulang ajaran baru. Harus beli paket buku pula, totalnya sampai 4 jutaan, karena sekolahnya di SMK swasta.”

“Kenapa sampai nunggak selama itu, Bun?”
“Dia tidak berani minta, saat itu kondisiku kritis, harus sering bolak-balik ke ICCU.”
“Terus, bagaimana kelanjutannya cerita Aulia itu, Bun?” tanya Jillian Han penasaran.

“Kuminta dia berdoa bersamaku, kami tahajud, dhuha dan memohon langsung kepada Sang Maha Pemberi. Terus begitu sampai seminggu lewat dan surat peringatan terakhir dilayangkan pihak sekolah. Jika tidak dilunasi Aulia akan dikeluarkan.”

“Oh, ya Allah, Bunda, kasihan sekali,” gumam anak BMI itu dengan mata memerah, menahan tangis, menatapku iba sekali.

“Tiba-tiba saja ada yang kirim Whats App. Mengaku pembaca bukuku, asli orang Cimahi, saat itu sudah menikah dengan pria warga Amerika, mereka tinggal di Hawai. Ia meminta nomer rekeningku dan bilang; ini titip zakat suamiku yang mualaf untuk anak-anak asuh Bunda.”

Bayangkan, entah siapa orang tersebut, tidak tahu juga dari mana mengetahui perihal anak asuhku. Hanya Allah Swt yang telah mengarahkannya sehingga zakatnya itu akhirnya sampailah di tangan kami. Totalnya 1000 USD, dikurskan saat itu 10 jutaan. Sebagian aku berikan untuk anak-anak asuh yang lain, sisanya untuk memenuhi keperluan pendidikan

Aku takkan pernah lupa, betapa terharunya Aulia dan ibunya, janda miskin itu, saat menerima tanda terima pelunasan dari pihak sekolah. Mata remaja putrid yang tak kenal wajah ayahnya itu berbinar-binar, banyak harapan dan cita-cita tersimpan di sana. Aulia, adiknya dan ibunya telah ditinggalkan oleh ayahnya sejak kecil. Betapa ia ingin membantu dan membahagiakan ibunya jika sudah lulus dan bekerja.

“Rezeki itu, harta yang diberikan Sang Maha Pemberi kepada kita merupakan titipan. Sebagian memang milik kita, tetapi ada sebagian milik kaum dhuafa. Jadi, aku tidak pernah takut menjadi miskin hanya karena berbagi dengan anak-anak asuh. Mereka datang dan aku yakin semua dititipkan-Nya kepadaku berikut rezeki-Nya,” ujarku memungkas percakapan serius tentang anak-anak asuh.

Jillian Han menyelipkan sebuah amplop tebal ke tanganku saat kami berpisah di stasiun TMS, Taipei malam itu. Ia berbisik lirih di telingaku:”Cerita Bunda sangat menggedor hatiku. Uang cash yang aku bawa sedikit, tapi nanti tolong nomer rekeningnya di-WA, ya, Bunda,” pintanya terdengar tulus dan serius sekali.

Aku terpelongoh, mengantar kepergiannya, berlari-lari menuju taksi yang akan membawanya ke rumah majikannya di Hua Lien. Anak BMI itu, aku tahu persis berasal dari pelosok Jawa Timur, belum lama bekerja di Taiwan. Mungkin belum selesai pula masa potongan gajinya.

Namun, lihatlah, Saudara, ia pun rela berbagi rezeki yang ditabung tiap hari dengan ketat. Tidak memakai waktu libur untuk hal yang merugi, melainkan untuk menambah wawasan dan ilmu; menulis bisa mengubah peradaban, demikian dipercayainya. Sekarang bertambah pula bahwa dengan zakat, sedekah, hidupnya akan lebih mudah dan menyempurnakan ibadah serta jalan dakwahnya. (Taipei, April 2014)

Catatan:
Mari santuni anak-anak dhuafa yang sangat membutuhkan ulusan tangan Anda. Bisa melalui Dompet Dhuafa atau institusi resmi amil zakat lainnya. Donasi anak-anak asuh, korban KDRT dan lansia bisa juga melalui Yayasan Bunda Hadijah Rekening BCA 7650311811.



Posted in: | Kamis, 22 Mei 2014







Suatu masa di tahun 1961.
Kejadiannya di Cimahi, kampung halaman Emih. Mak sering mengalami sakit kepala, sakitnya lumayan parah. Mak harus diopname di RS Dustira. Sebelumnya telah dirawat juga di RS Sumedang. Tetapi tak banyak perubahan.
Dokter menyarankan untuk melanjutkan pengobatannya ke rumah sakit yang lebih lengkap. Untuk beberapa waktu lamanya aku terpaksa ditinggal di Sumedang. Karena saat itu aku sudah sekolah di Taman Kanak-Kanak Persit Kartika Chandra.
Pada kesempatan liburan Bapak mengajakku menengok Mak. Saat itulah aku baru mengetahui, pekerjaan Emih adalah bakul sayuran di Pasar Tagog.
Dini hari Emih sudah berangkat ke Pasar Antri atau Pasar Atas. Sekitar pukul setengah enam Emih sudah kembali. Langsung menggelar dagangannya di pinggir jalan. Emih punya jongko sebagai lapak tempat dagangannya.
Saban petang kami akan diajak Emih untuk besuk Mak. Biasanya Uwak Titi, kakak sepupu Bapak, dan seorang anak laki-lakinya ikut bersama kami. Biar ramai dan agaknya Mak merasa hangat oleh nuansa kekeluargaan. Maklum, diopnamenya bukan seminggu-dua minggu, tapi sampai berbulan-bulan.
Sementara itu, Bapak  sedang sibuk ikut pendidikan, SECAPA atau sekolah calon perwira untuk kenaikan pangkat. Bapak tak bisa pulang setiap hari. Hanya setiap akhir pekan Bapak bisa berkumpul dengan keluarga.
Kulihat adikku En yang selalu lincah itu berkejar-kejaran dengan Gaga, anak semata wayang Uwak Titi. En selalu bergerak, seakan-akanbi tak pernah merasa lelah.
Sedangkan aku mudah sekali lelah. Belum ada yang memaklumi benar mengapa aku cepat lelah. Mudah pusing dan gampang jatuh sakit. Paling mereka mengira aku bengek atau paru-paru tidak normal.
Sepasang mata Mak yang lembut tampak sendu. Memandangiku dan adik-adik bergantian. Merabai pipi kami dan mengelus rambut kami.
“Kapan Mak pulang?” tanyaku menatap kepala yang dibelit selendang kecil.
“Maunya sekarang. Tapi kepala Mak masih sering sakit, sakiiit sekali,” keluh Mak sambil menitikkan air mata.
Beberapa hari kemudian Mak diperbolehkan pulang. Keluarga Bapak menyarankan mencari pengobatan alternatif buat Mak.
Suatu hari datanglah seorang pintar. Mereka menyebutnya Amih Lala. Seorang perempuan separo baya dengan dandanan dan rias muka yang seronok. Rambutnya keriting kecil, perawakannya tinggi besar, bibirnya tebal dan jebleh dengan lipstik murahan.
Aku dan adikku En suka lepas dari pengawasan orang tua, berdua kami akan diam-diam mencari sudut yang aman agar bisa menonton pengobatan Mak.
“Sediakan tiga butir telur ayam kampung. Kembang tujuh rupa dan air putih sebaskom,” pinta Amih Lala kepada sanak kerabat yang sedang mengunjungi Mak.
Mak tidur di atas kasur di tengah rumah, sekilas kondisi Mak seperti orang sehat saja. Namun, kalau sudah kambuh sakit kepalanya… wuiiih… kasihan sekali!
Kami sering ikut merasakan kesakitan, panik dan bingung dibuatnya. Kurasa Mak ingin sekali sembuh. Maka, apapun yang dikatakan orang, bila itu menyangkut demi kesembuhannya, Mak mau saja melakukannya.
“Penyakit ini sengaja didatangkan oleh orang yang iri dengki kepada Kang Koko,” ujar Amih Lala sesaat memeriksa Mak. “Guna-guna ini sebetulnya ditujukan untuk Kang Koko. Tapi karena si Ayi Alit ini lemah, yah… kenalah dia!”
Amih Lala kemudian menempel-nempelkan sebutir telur ayam kampung ke sekujur tubuh Mak. Terutama lama sekali ditempelkannya di selitar dahi, kepala, dan tengkuk Mak. Lantas, dia pun memijat beberapa titik anggota tubuh Mak. Agaknya pijatannya itu sangat menyakitkan.
“Lepaskan Maaak!” sergahku dan adikku En tak tahan lagi.
Kami pun menyerbu dari balik gorden. Tetapi para orang tua segera menjauhkan kami dari Mak. Bagaimana pun kuatnya kami berontak, tapi apalah daya kami, anak kecil ini, untuk melawan dua-tiga orang dewasa?
Emih membiarkan kami duduk di balik punggungnya, sehingga kami bisa menyaksikan gerak-gerik Amih Lala selanjutnya.
“Naaah, sekarang kita pecahkan ketiga telur ini. Lihat dan perhatikan apa isinya!” ujar Amih Lala.
Trek, trek, praaang!
Ratusan jarum kecil keluar dari telur pertama. Belasan lintah, cacing, dan lipan keluar dari telur yang kedua serta segenggam rambut keluar dari telur ketiga. Semua yang hadir berdecak, takjub, kaget, heran, ngeri dan macam-macamlah!
“Benar kan, apa kataku tadi? Ini namanya santet atau guna-guna orang. Bukan penyakit sembarangan. Penyakit kiriman orang jahat,” Amih Lala nyerocos. Kemudian kepada Bapak, Amih Lala berkata; “Air baskom ini disiramkan simpangan jalan di depan sana, ya Kang Koko!”
“Sekarang?”        
“Ya, tentu saja sekarang.”
“Itu isi telur-telurnya diapakan, Amih?” tanya Emih.
“Hmmm, aku akan kembalikan kepada si jahat itu!”
Entah diapakan, aku tak melihat apa-apa lagi. Keburu loncat mengikuti Bapak, membuang kembang air bekas mandi Mak. Hasilnya? Entah memang berkat Amih Lala atau sudah saatnya Mak sembuh. Beberapa minggu kemudian kami pulang bersama Mak ke Sumedang. Bukan ke rumah melainkan ke rumah sakit kembali.
“Kalian akan punya adik baru,” kata Bapak suatu hari sepulang dari rumah sakit…”
“Apaaa…? Adiiik?” seruku dan En.
“Iya, kali ini mudah-mudahan adik laki-laki!” ujar Bapak terdengat penuh dengan harapan. (Kenangan lama, Halim, Pipiet Senja)

Posted in: | Minggu, 18 Mei 2014