Featured Post

Tuhan Jangan Tinggalkan Aku

Ilustrasi di Perpustakaan Hongkong Sinopsis Frankie dan Fatin berkenalan di dunia maya. Mereka sering chatt onlin e, saling b...

Novel

Indeks »

Ini Nukilan: Bagaimana Aku Bertahan



Siang itu aku baru memesan tempat untuk ibu mertua yang bersikeras ingin diopname di RSUD Pasar Rebo. Abang ipar, saat ini dinas di Jerman, serta istrinya sedang pulang ke Indonesia.
Namun, nambou lebih suka diurusi oleh menantunya yang Sunda; suka dipelesetkannya secara sengaja sebagai si Sundal.

Aneh bin ajaib memang, betapa sering aku dibenci, dimarahi, dilecehkan dan disumpah-serapahi. Entahlah!

Untuk menghemat aku harus menggunakan bis umum. Tubuhku yang kecil berperut buncit, terhimpit di antara para penumpang. Beberapa pelajar STM dengan pongah duduk seraya kaki diangkat, riuh-rendah bergosip dan merokok.

Banyak penumpang lelaki muda dan kuat pun sama bersikap tak peduli, berlagak tertidur, sampai yang sungguhan mengorok!

Memasuki kawasan Lenteng Agung, para penumpang mulai lengang, tapi aku masih belum mendapatkan bangku. Sepanjang perjalanan kubalun senantisa dadaku dengan zikrullah.
Allah, Allah, Allah…
Sampai sekonyong-konyong… cekiiiiit…. Beeegh, heeekkk!

“Allahu Akbar!” seruku tertahan.
Dari arah belakang tubuhku dalam sedetik oleng dan tersungkur, perutku menghantam sandaran bangku di deretan tengah. Detik itupun ada yang bergemuruh dalam dadaku, menimbulkan rasa lemas tak teperi dari ujung-ujung kaki hingga ujung rambut. Bahkan ketika aku sudah menggeloso, tak satu pun penumpang yang berkenan mengulurkan tangannya.

Allah, inikah Jakarta dan ujian-Mu?
Sesampai di rumah, rasanya kepingin buang air kecil.
Seeerrrr, serrrr… ternyata memerah darah!
“Maaf, Bu, saya gak bisa bantu lagi demam juga nih,” kata Mpok Onah, tetangga terdekatku, saat kumintai bantuannya.

Rumahku terpencil dan jauh dari tetangga. Haekal sudah berusaha keras menghubungi Pak RT, Pak RW dan tokoh masyarakat sekitar rumah. Nihil!

Aku bisa memaklumi hal ini, mungkin sekali disebabkan kepala keluarganya tak pernah bergaul dengan para tetangga. Bapaknya anak-anak lebih banyak mengurung diri di kamarnya, sibuk dengan pikiran, waham dan perasaannya sendiri. Khas penyandang skizoprenia paranoid, demikian yang kudengar dari seorang psikiater.

“Gak ada siapa-siapa, Mama,” lapor Haekal dengan cucuran keringat dan kecemasan mengental di wajahnya, sepulang dari rumah uwaknya.
“Memangnya ke mana mereka?”
“Kata tetangganya sih, Uwak ajak Ompung jalan-jalan…”
“Ompungmu kan sakit? Mau diopname besok…”
“Mama kayak gak tahu saja .Mama sih terlalu ngebela-belain. Gak inget kesehatan Mama sendiri,” sesal anak kelas tiga SMP itu.

“Pssst, diamlah, Nak. Kita sholat dan berdoa saja. Mari, Cinta, anak-anak Mama yang saleh dan salehah,” tukasku yang segera dituruti oleh kedua buah hatiku.

Suamiku baru muncul menjelang maghrib. Dia santai saja, ketika diberi tahu kemungkinan aku akan mengalami keguguran. Dia memang tidak mengharapkannya sejak awal. Kalau bisa dilahirkan terserah, tidak bisa pun terserah. Bila mengingat ketakpeduliannya, adakalanya semalaman air mataku terkuras.

Allah, hanya kepada-Mu jua hamba yang lemah ini mengadu.
“Sini, Ma, Ekal gendong saja, ya,” Haekal lagi-lagi menawari kemudahan. Tubuhnya mulai berbentuk, berperawakan sedang dan kekar. Dia rajin olah raga dan latihan taekwondo.

Haekal pasti paham betul kebiasaan ayahnya, kalau jalan bareng kami sering tertinggal jauh di belakang. Sosok tinggi besar itu akan melenggang gagah terpisah dari anak-anak dan istrinya. Seakan-akan dia tak suka kalau ada yang mengaitkan dirinya denganku dan anak-anak, entahlah!

Namun begitulah kenyataannya, entah berapa kali aku dan anakku, ketika mereka masih kugendong, nyaris tertabrak saking repotnya dengan beban bawaan. Menggendong anak, menenteng tas besar dan menjinjing mesin ketik, demikian kulakoni saat akan pulang kampung lebaran.

Biasanya bukan penghiburan yang kudapatkan bila aku nyaris celaka. Makian, sumpah serapah dan kata-kata melukai akan berhamburan dari mulutnya. Demi Tuhan, langit dan bumi menjadi saksiku!
“Sering aku berpikir luar biasa kamu itu, ya…Hebat ‘kali kau!” tentu saja bukan pujian, melainkan ejekan dan kesinisan.
“Bisa-bisanya kamu sebodoh itu!”
“Bagaimana mungkin kamu menjadi seorang pengarang? Padahal begitu bodohnya kamu!”
Atau: “Dasar gobloook!”

Banyak lagi perkataan melecehkan yang hanya bisa kutelan dalam-dalam ke lubuk jiwaku. Biarlah segala kejahiman itu terpendam dan lebur di sana, pikirku.

“Sudahlah, naik becak saja ke depan. Sana, panggilkan becaknya!” perintah nya, kurasakan betul sangat lamban bertindak. Sehingga aku harus menunggu, menunggu, menunggu.

Sementara darah yang keluar semakin banyak!
“Kenapa tak langsung ke Cipto saja?” protesku saat kami sampai di rumah sakit Bhakti Yudha, Sawangan.
“Terlalu repot! Kalau bisa di sini ngapain jauh-jauh pula?”

Tentu dia tak sudi mengeluarkan banyak uang, demi nyawa istri dan anaknya sekalipun. Seperti sudah kuduga, mereka tak sanggup menanganiku karena pasien kronis kelainan darah. Dokter menyarankan untuk menyewa ambulans. Bisa berakibat fatal kalau terlalu banyak bergerak.

“Ambulans, berapa?” otakku langsung menghitung-hitung rupiah yang harus dikeluarkan.
Demi Tuhan, tak ada uang di tanganku lagi, karena belum sempat mengambil honor. Kulirik gelang 10 gram yang masih membelit pergelangan tanganku. Hanya tinggal benda ini yang berharga, tak mengapa kalau harus kulego.

“Kita naik angkot saja,” ujar suamiku kaku, tanpa ekspresi sama sekali.
Wajah perseginya di mataku telah semakin dingin, membeku. Entah ke mana larinya rasa cinta, iba ataukah memang tak pernah ada?

“Naik angkot bagaimana, Pa? Kasihan dong Mama,” Haekal sempat mencoba protes keras, air matanya mulai bercucuran, kentara sekali dia mencemaskan diriku.
“Jangan banyak omong, anak kecil tahu apa!”
“Sudahlah, Nak, angkot ya angkot,” tukasku menengahi sebelum ada yang berubah pikiran.

Bagaimana kalau lelaki itu, ayah anak-anakku itu, tiba-tiba kumat dan meninggalkan kami begitu saja? Bulu romaku merinding hebat mengingat kekejian macam itu!

Entah berapa kali ganti angkutan umum, kami berempat karena Butet pun ikut, menuju RSCM. Pukul delapan, akhirnya sampailah kami di Unit Gawat Darurat.

Perasaan dan pikiranku sudah melayang-layang tak karuan, sementara darah terus juga mengocor. Hanya karena kasih sayang-Nya jualah kalau aku masih bisa bertahan sejauh itu.
“Tolong, jaga adikmu, ya Nak. Telepon Oma, ya,” pesanku wanti-wanti kepada sulungku.

Haekal mengangguk, air matanya sudah bercampur dengan ingus, tapi ditahannya sedemikian rupa. Dia pasti lebih menakutkan kemarahan ayahnya dari apapun. Aku melengos, tak tahan melihat nestapanya. Kuraih putriku, kupeluk tubuhnya yang kecil dan kuciumi pipi-pipinya yang halus bak sutra.
“Butet, Cinta, jangan rewel ya Nak. Harus mau makan yang banyak, Cinta…”
“Iya, Ma… Utet janji gak bakal nyusahin Abang,” sahutnya sambil bercucuran air mata.
“Doakan Mama, ya anak-anak, Doa seorang anak akan dimakbulkan Tuhan…”
“Iya Mama, iya,” jawab keduanya serempak.

Kupandangi terus kedua belahan jiwaku itu, hingga brankarku didorong masuk ruang tindakan, sosok mereka pun lenyap dari pandanganku. Dunia luar telah tertinggal di belakangku, giliranku berhadapan dengan segala keputusan medis.
Demi Allah, jeritku hanya mengawang dalam hati. Aku lebih memikirkan anak-anak daripada kondisiku sendiri.

Sekitar pukul sebelas malam, setelah melalui pemeriksaan ini dan itu; rahim diperiksa, diubek-ubek, di-USG dan memang janin tak tertolong lagi.
“Kami pasang transfusi dan infus, ya Bu…”
“Kami pasang selang di rahimnya, ya Bu…”
“Biar janinnya mengecil dan mudah dikeluarkan…”
“Operasinya bisa ditunda lusa, hari Senin!”

Begitu sibuk perawat dan dokter di sekitarku. Suara-suara berseliweran, mengambil pilihan dan memutuskan; mengapa nyaris tak melibatkan diriku? Sementara itu, suami memilih pulang dengan dalih kasihan Butet, dan Haekal akan ulangan.

Bagaimana kalau aku mati? Siapa yang akan mengabari kematianku kepada keluargaku? Ya Robb, jauhkan segala pikiran pesimis itu, jeritku mengambah langit dan bumi yang selama ini senantiasa menjadi saksi lakon dan takdirku.

“Siapa yang akan mengambil darah ke PMI Pusat?” tanyaku kepadanya, saat dia diizinkan menemuiku di ruang ICU sebelum berlalu.
“Aku sudah mengupah orang untuk mengambilnya jam satu nanti,” jawabnya dingin sekali.

Seperti biasanya dia tak pernah berani membalas tatapan mataku, malah terkesan lebih suka dilayangkan ke segala sudut dengan liarnya. Aku tak berkomentar lagi, melepas sosoknya dengan perasaan hampa.

Sepanjang malam itu mataku nyaris tak terpicing. Pendarahan memang telah berhenti, tapi ada yang terus berdarah, berdarah, berdarah, dan luka itu tak kunjung sembuh jauh di lubuk hatiku.

Setelah semuanya berlalu, kupandangi langit dari balkon lantai tiga tempatku dirawat. Bintang-bintang masih kemerlip di langitku. Seribu, selaksa, niscaya lebih lagi. Namun bagiku, ada dua bintang cemerlang di langitku, yakni dua buah hatiku. Di bahu anak-anakku, di dalam sorot bening mata buah hatiku, kutemukan kekuatan yang maha dahsyat.

Nun di atas sana, masih ada kerlip lain dengan nuansa dan binar-binar kasih-Nya yang selalu menerangi kalbuku. Aku yakin dengan sepenuh jiwa-raga dan imanku.
Ya Allah, hamba masih ingin bertawakal, menjadi hamba-Mu yang tegar dan istiqomah.



Pre Order sila hubungi Pipiet Senja 085669185619
Diterbitkan oleh Penerbit Zahira

@@@



Doa Mama: Jangan Pernah Berubah, Anakku!





Sabtu, 10 Pebruari 1990
Petang itu, aku sudah seminggu berada di ruang isolasi karena asmaku kambuh. Banyak anggota keluarga besarku, dari pihak ayahku datang membesuk.
Sesungguhnya hanya melihat dari balik kaca pembatas, pengunjung tidak diperbolehkan masuk ke ruangan kami.

Kurasa di ruangan itu dirikulah satu-satunya pasien yang jarang dibesuk. Tiap jam besuk aku lebih banyak hanya sendirian, kulewatkan untuk membaca atau mencatat di buku harian.
Sejak ibu dan ayahku memutuskan menemani Haekal, bantu-bantu sang menantu yang sedang membangun rumah, ibu mertuaku tinggal di rumah ipar. Selalu terjadi pertengkaran dan keributan apabila semuanya menyatu di rumah.

Kurasa dengan keberadaan orang tuaku, rumah menjadi rapi dan terutama ada yang menyediakan makanan.
Suami semakin sibuk dengan urusannya, mengajar dan melanjutkan pembangunan rumah. Dia hampir tak punya waktu untuk membesukku. Jadi biasanya ibukulah yang mondar-mandir mengurus keperluanku di rumah sakit.

“Semoga cepat melahirkan, ya,” kata istri Mang Ipin, adik bungsu ayahku, yang datang bersama pamanku dan seorang adiknya. Dia membawakanku oleh-oleh lusinan bolu kukus buatannya sendiri.
“Terima kasih, Tante,” ujarku terharu, usianya sebaya denganku tapi dia belum dikaruniai keturunan, walaupun sebelas tahun sudah pernikahan mereka.

Semuanya mendoakanku sebelum pulang. Demikian pula ayahku, diulurkannya tangannya melalui celah jendela, kemudian ditempelkannya di perutku.
Dia merapalkan doanya dan meniupkan semangatnya melalui jari-jemari, serasa meresap ke dalam kandunganku.

Minggu ke 35, menurut perkiraan dokter empat pekan lagi. Namun, begitu aku kembali ke ranjang firasat itu telah mendering… Bintangku sebentar lagi akan muncul!

Ada flek-flek dan sedikit bercak darah menyertai buangan air di kloset. Kuambil air wudhu dan bersiap menghadapi segala kemungkinan.

Aku disiapkan untuk caesar, mengingat limpa bengkak, asma dan jantungku yang tidak aman. Tapi aku kembali ke tempat tidur dengan tenang tanpa melapor ke dokter jaga.
Logika awamku, jika dulu pun aku bisa melaluinya tanpa caesar, mengapa kini tidak?

Setengah jam, satu jam berlalu; dan kontraksi awal terjadi!
“Sejak kapan, kenapa baru ngasih tahu sekarang, Bu?” sesal koas Mita terkejut saat kuberi tahu kemungkinan diriku akan melahirkan malam ini.
“Ini harus dilaporkan ke dokter Laila…”
“Dokter Laila lagi seminar di Makassar,” entah siapa yang menyahut.
“Ini pasiennya…”
“Ya, sudahlah… kan ada dokter Mita…”
“Pssst, serius dong!”

Sayup-sayup kudengar seseorang bersenandung dari kejauhan: “Malam minggu kelabu, bintang-bintang pun sendu…”
Tapi bintangku harus tersenyum, bantahku dalam hati. Sementara para koas mulai sibuk memasang peralatan medis ke tubuhku.

Sehingga dalam sekejap saja sekujur tubuhku sudah dikerubuti berbagai peralatan ajaib itu; infus dua macam yang putih dan kuning, selang oksigen di hidung, dan entah apalagi di perut dan dadaku.
Kulirik jam dinding di tembok yang setentangan dengan tempat tidurku.

Pukul tujuh, kontraksi awal disusul kontraksi demi kontraksi berikutnya, kadang berlangsung serasa lama, adakalanya hanya sebentar, tetapi semuanya memang menguras enerji.
Kupejamkan mata, semuanya telah kupasrahkan… La haola wala quwwatta…
“Baguuus… sedikit lagi, Bu, sedikit lagiii!”
“Sudah kelihatan kepalanya… ayoooo!”
“Aduuuh, kenapa meremas tangankuuu!”
“Maaf… hhh, hhh… Allahu Akbaaar!”
Woaaa… Alhamdulillah…
“Anak perempuan, Bu…”

Kubuka mata, mencari-cari sosok mungil yang kudamba. Dia melintasi kepalaku dengan cepat, digendong seorang bidan yang segera melarikannya ke ruangan rehabilitasi bayi pasca-lahir.
Beberapa jenak kubiarkan mereka mengurusiku, menjahit rahimku yang robek entah berapa belas jahitan.

Kuhirup aura kelahiran bintangku dalam hening yang mendenging di kuping-kupingku. Pandanganku buram, meredup, mengelam. Kurasa aku setengah pingsan, entahlah!
“Mintakan air teh manis panas sama keluarganya di luar sana!”

Aku menanti, menanti dan terus menanti semuanya menjadi normal kembali. Seorang koas menyodorkan air teh manis panas dalam plastik. Agaknya ibuku dan ayahku yang setia menanti, berlarian menuruni tangga, dan mencari pedagang minuman panas.

Air mataku bersimbah deras mengenang kasih sayang mereka. Kunikmati air teh manis dari Emak dan Bapak itu sebagai anugerah Ilahi yang tak teperi setelah melahirkan seorang bayi perempuan.

Terima kasih, Bapak, terima kasih, Emak, semoga Allah Swt memberkahi kalian senantiasa, selamat di dunia dan akhirat, doaku mengawang langit malam biru bening. Tiada warna kelabu, tiada rona sendu, dan waktu berlalu sebagaimana galibnya malam panjang.

Beberapa koas kemudian mengerumuniku, melakukan interviu seputar penyakit bawaan yang kusandang. Mereka sedang melakukan pemeriksaan ketat terhadap bayiku. Meskipun aku merengek ingin segera mendekapnya, menyusuinya dan memandangi wajahnya sepuasnya.

Aku harus menanti dan bersabar lagi agaknya.
“Ini anaknya, Bu, silakan, sudah boleh disusui,” dokter Mita sendiri akhirnya yang menyodorkan bayiku, tepat tengah malam.
“Alhamdulillah, terima kasih, dokter sayang,” ucapku gemetar menahan perasaan yang mengharu-biru.

Kuraih sosok merah dalam balutan kain hijau itu dengan dada dibalun buncahan rindu dan damba. Lama sekali kupandangi wajahnya, begitu mungil, begitu merah. Aduhai!
“Hidungmu kelewat mungil, ya Nak,” bisikku sambil menciumi ubun-ubunnya, kutiupkan asma Allah untuk pertama kalinya ke kupingnya.

Aroma harum kencur meruap dari rambutnya yang hitam lebat, bahkan di pipi-pipinya tampak rambut-rambut halus. Mungkin karena selama kehamilannya aku sangat menyukai minum air kelapa hijau.
“Kakeknya sudah mengazankannya tadi,” berkata dokter Mita.
Aku tercenung.

Dulu, Haekal diazankan oleh Ompung, kakek dari pihak suami. Kedua buah hati, sepasang bintangku mengalami nasib serupa.
Tidak diazankan oleh ayahnya. Tak mengapa, selamat datang bintangku.
Doa dan pengharapanku akan selalu menyertai setiap detak napasmu, setiap jejak yang engkau langkahkan; semangat!

Bayi perempuan inilah yang kini menjadi sosok tangguh, paling bisa kuandalkan jika diriku berada dalam kondisi krisis di UGD. Kini ia telah memiliki seorang putri, 2 tahun 9 bulan, single parent, alumni fakultas hukum Universitas Indonesia, sedang berjuang mengelola Pipiet Senja Publishing House dan menulis buku anak-anak dalam dua bahasa, Inggris dan Indonesia.

Dia kuberi nama: Azimattinur Siregar. Ayahnya menambahkan nama kakek, uwak, dan marganya, maka menjadi; Azimattinur Karibun Nuraini Siregar.


Bintang Pun Tersenyum



Istiqomahlah Senantiasa, Anakku


Anno, Pebruari 1990
Betapa bahagia hatiku ketika di-USG, dokter memberi tahu bahwa janinku adalah bayi perempuan. Bagaikan anak TK yang dapat selusin balon indah, aku berkeliling menyalami ibu-ibu di ruang tunggu klinik kandungan siang yang terik itu.

“Kata dokter barusan, yah, ibu-ibu… Bayiku ini perempuan, aduuuh, meuni seneeeeng sayah teh, seneeeeng,” demikian ceracauanku, niscaya membuat ibu-ibu hamil itu bete, bisa jadi mereka menyebutku; norak banget sih!

Aku tak menghiraukan wajah-wajah yang menatapku dengan sorot mata aneh. Sejak saat itu aku sungguh menjaga kondisi badanku agar selalu fit. Takaran darahku harus di atas 10 % gram. Maka, tiap pekan aku dengan senang hati menjalani kewajiban ditransfusi.

Ya, saat ini aku telah berdamai dengan penyakit abadiku. Mau bagaimana lagi? Toh meskipun berontak, selalu menangis, meratap dan mendaulat-Nya, tetap saja aku punya bakat kelainan darah, seperti drakula.
Yo wis, mendingan berdamai dan bertahan sajalah!

“Sekarang Ekal boleh dong dipanggil Abang, ya Ma?” sambut putraku, ketika aku pulang sore hari.
“Iya Nak, eh, Abang… Mau Abang Jampang apa Abang Becak nih?” candaku sambil mengusap keringatnya yang berleleran di dahinya.

Pulang sekolah ia selalu berjalan kaki, karena uang sakunya suka ditabung untuk beli buku di akhir pekan. Saat itu ia sudah suka mengisi buku hariannya. Belum lama tulisannya dimuat di majalah Bobo, kalau tak salah rubrik Taman Kecil.

“Iiih… Abang, ya Abang aja!” dia merengut, tapi sebentar kemudian tertawa riang saat kusodori oleh-oleh bakeri kesukaannya.

Tiba-tiba ibu mertua muncul dari kamarnya. Sebelumnya, pertama-tama yang kulakukan begitu masuk rumah, segera menyediakan penganan bawaanku di atas meja ruang tamu, tempatnya suka berkeluh-kesah, atau mengajak tetangga untuk ngerumpi-ria. Intinya sih, membicarakan menantu perempuannya ini yang sering dikata-katainya; “Orang Sunda itu… sundaaal!” Entah paham atau tidak dia dengan istilah sundal itu.

Dia langsung melontarkan protesnya, merepet tak tahan, seperti biasanya. Sehingga kupingku sudah kebal, hatiku pun kebas dibuatnya.
“Bah! Baru pulang kau, Pipiet? Kelaparan aku ini, tak ada makanan di meja itu, baaah! Macam mana kau ini mau mengurus aku yang sudah tua-tua ini? Apa kau tak senang aku tinggal di sini? Kalau tak senang bilang sajalah itu… Orang Sunda itu memang suka munafik, ya!”

“Ompung tuh suka gitu, ya,” Haekal bergumam. “Makanan yang Mama masak tadi pagi dihabisin sendiri… Ekal gak kebagian apa-apa, eee… masih bilang kelaperan lagi… Pake bawa-bawa orang Sunda segala…”
“Pssst… diamlah, Nak.”

Aku mengingatkan anak yang sudah kebal juga mendapat perlakuan kasar, baik dari ompungnya maupun ayah kandungnya.
“Bicara apa kau?” sergah ompungnya dalam nada meninggi, sepasang matanya melotot. Haekal tampak mengkeret dan bergeser ke belakangku.

Sosoknya yang tinggi di atas rata-rata perempuan tua Indonesia, tampak menjulang di hadapan kami berdua. Acapkali otakku buntu, tak habis mengerti, mengapa perempuan tua ini sangat membenciku dan anakku? Baiklah, kalau dia membenciku, karena bukan menantu pilihannya. Tapi terhadap anakku, bukankah Haekal cucunya, darah dagingnya juga?
"Gak apa-apa, Bou7, sebentar ya… Saya akan masak lagi buat Bou,” buru-buru kugaet tangan anakku, agar mengikutiku ke dapur.

“Bah! Kalian itu, ibu dan anak memang tak suka aku tinggal di sini, ya? Biar nanti kubilang sama anakku!” cerocosnya dalam nada yang sarat iri-dengki dan intrik… Hiiih, persis di sinetron-sinetron sekarang!

Benar saja, dia memang mengadu dan tentu dibumbui dengan laporan macam-macam, sehingga berbentuk; sebuah testimoni tentang menantu yang selalu berbuat keji, menganiaya ibu mertuanya…. Halaah!

“Kau ini kan seorang ibu, mana pantas berbuat begitu kepada ibuku yang sudah lansia, dan sakit-sakitan,” gugat suami tak tertahankan lagi meletupkan penyesalan dan kekesalan hatinya. “Sekarang kau bisa bertingkah dan menyakiti orang tuaku yang sudah tua itu. Apa kau tak takut kelak diperlakukan begitu oleh anak-anak atau menantu kau?”

Aku tak bisa membela diri, tak pernah bisa. Bahkan ketika suami memutuskan untuk pisah kamar, aku hanya bisa pasrah.

Saat itu aku sedang ghirah-ghirahnya belajar mengaji kepada Ustazah Saanah dan guru kami berdua, Kyai Harun. Aku telah memutuskan untuk berbusana muslimah dan berjilbab apik. Aku berusaha untuk larut dan teguh lagi bermunajat. Sering kulakukan semacam berdialog dengan Sang Pencipta, memohon kemudahan dan Kemahakasihan-Nya dalam melakoni hari-hari.

Jika aku ke rumah sakit selalu timbul keributan, terutama protes dan tumpahan kemarahan ibu mertua. Semuanya akan berujung dan dieksekusi mutlak di tangan suami. Aku tak ingin melukiskan bagaimana warna muram, nuansa kekerasan dalam rumah tanggaku saat itu. Biarlah semua yang melukai itu kusimpan rapat di memori otakku sendiri.

Dalam situasi demikianlah, aku berjuang keras demi kelangsungan hidup janin dalam kandunganku. Aku lebih sering pergi seorang diri ke RSCM. Adakalanya Haekal memaksa ingin mengawalku, meskipun untuk itu harus bolos sekolah. Dan berujung dipukuli ayahnya jika dia mengetahuinya.

Memasuki pekan ke-28 saat dokter menyatakan jantungku bermasalah, membengkak, asma bronchiale plus penyakit abadiku tentunya. Mau tak mau aku harus patuh untuk dirawat.
“Mohon diizinkan pulang dulu, dokter,” pintaku. “Orang rumah gak ada yang tahu… Hari ini kan niatnya juga hanya berobat rutin.”

“Tidak bisa, Bu, kami tak mau disalahkan kalau terjadi apa-apa. Tenang saja, nanti kita suruh orang untuk mengabari keluarga Ibu,” tegas dokter Andri, sungguh tak bisa diganggu gugat lagi.

Dengan berat hati kupasrahkan juga nasibku, terutama demi bayi dalam kandunganku, ke tangan tim gabungan yang selama itu merawatku. Sejak diantar oleh petugas ke ruang perawatan, IRNA B di lantai enam, perasaan sedih karena seorang diri itu, segera kutepiskan jauh-jauh; jaaauuuh!

Aku tidak pernah seorang diri, bisikku melabuh senyap dalam hati dengan semangat optimisme dan kemurahan Sang Pengasih. Ya, tentu saja ada Dia Sang Penggenggam yang menemani senantiasa, senantiasa…

“Saya sudah menyampaikan pesan Ibu,” lapor petugas rumah sakit yang diminta bantuan untuk mengabari suami, keesokan paginya.
“Ya… bagaimana?” aku menatapnya heran.

Kalau sudah diberi tahu, mengapa dia tidak segera datang menengokku? Tapi aku menelan kembali pertanyaan konyol itu. Tentu saja konyol, petugas itu bukan siapa-siapaku. Hanya karena sama warga Depok, dia mau membantu, mendatangi rumah kami di sudut kampung Cikumpa.

“Bapak itu… suami Ibu, ya?”
“Yang di rumah itu, iyalah… memangnya kenapa?”
“Waktu saya sampaikan pesan Ibu, kelihatannya beliau marah sekali.”
“Marah bagaimana?” aku jadi penasaran.
“Yah, dia menanyai saya macam-macam… Apa hubungan saya dengan Ibu… begitulah…”

Ya Tuhan, penyakit ajaibnya itu, paranoid parah!
Dengan keyakinan bahwa aku telah mengkhianatinya, dia pun memutuskan untuk menghukum diriku. Demikianlah yang terjadi. Sehari, dua hari, tiga hari… waktu terus berlalu. Life must go on!

Uang yang ada di tanganku sudah habis, bahkan aku tak mampu beli sabun mandi. Acapkali dengan malu-malu, kuminta dari pasien sebelah. Tapi kalau mulai kulihat permintaanku itu mengganggunya, aku pun akan mandi tanpa sabun. Kalau tidak, kupunguti sisa-sisa sabun colek bekas mereka mencuci, dan dengan itulah aku membersihkan badanku.

Karena tak ada baju untuk salin, aku pun menyiasatinya dengan mencuci baju satu-satunya milikku yang melekat di tubuhku itu malam hari. Sepanjang malam aku akan menyembunyikan seluruh tubuhku di balik selimut. Hingga subuh tiba, aku akan buru-buru mengambil baju gamis yang telah kering, dan kujemur di teras balkon.

Seminggu sudah dan tak ada seorang pun yang mengunjungiku di ruang perawatan. Aku tak ingin membebani orang tua yang sudah sepuh di Cimahi. Sedapat mungkin aku harus menanggulangi kesulitan hidupku, dengan atau tanpa pasangan hidupku sekalipun.

Maka, hari ketujuh itu, kuputuskan untuk bertindak. Aku sudah ditransfusi dan asmaku mulai membaik, entahlah dengan kondisi jantung yang konon membengkak. Toh, selama ini pun aku tak pernah mau memikirkan segala penyakit yang menggerogoti tubuh ringkihku ini. Aku sehat, sama seperti lainnya, sehat dan kuat. Demikianlah yang selalu kutanamkan dalam hati dan pikiranku.

Hari itu kebetulan aku dikonsultasikan ke bagian perinatologi. Siswa perawat yang mengantarku dengan kursi roda berpamitan, karena dia akan mengambil pasien lain. Begitu selesai diperiksa dokter, sesungguhnya di-USG untuk kesekian kalinya… Inilah saatnya!

“Tolong, ya Bu, mohon Ibu mau pinjami aku uang seribu saja. Jaminannya KTP ini, ya Bu. Aku akan ke kantor… ambil uang,” kataku sekuat daya kutenggelamkan perasaan sedih dan malu tak teperi.
Ibu itu, seorang perempuan paro baya, menatapku dengan sorot iba. Ia menanyaiku tinggal di mana, kujawab bahwa aku pasien yang akan mengambil uang di kantor untuk nebus obat. Dia memberiku selembar lima ribu, tanpa mau menerima KTP yang ingin kujaminkan.

Dengan mikrolet aku pun meluncur ke kantor redaksi majalah Amanah. Di sini, kuyakinkan itu dalam hatiku, ada rekan-rekanku sesama penulis yang telah lama kukenal.

Benar saja, ada Ahmad Tohari, Emha Ainun Majid yang tengah dikerumuni rekan-rekan wartawan di ruang tamu. Aku hanya melintasi mereka, tidak sempat sekadar say hello. Toh yang kubutuhkan adalah uang, tidak perlu banyak, melimpah ruah. Cukuplah seharga satu cerpen!

Ada teman di redaksi yang mengenalku dengan baik. Karena belum lama juga cerita bersambungku dimuat. Saat kukatakan kesulitanku, intinya, aku membutuhkan sejumlah uang. Sebagai pinjaman atau apalah istilahnya, yang bisa kubayar nanti dengan naskah, dia pun segera mengusahakannya.

“Ini Mbak Pipiet, silakan ditanda tangani di sini,” selang beberapa menit, seorang wanita muda menyodorkan secarik kuitansi.
Kulihat sekilas angka 30 ribu itu dengan dada berdebar. Sempat terlintas di benakku, apakah aku ini penulis abnormal yang tak tahu malu? Naskah belum ada, kok berani-beraninya minta honornya? Tukang nulis pengijon!

Ah, masa bodohlah, jeritku mengawang langit. Setelah berbasa-basi sebentar dengan sang sekretaris redaksi yang ramah itu, aku pun pamitan. Ketika melintasi kembali di ruang tamu, tinggal Cak Nun yang masih berbincang heboh dengan dua orang wartawan. Dia sempat melihat ke arahku, sekejap, entahlah!

Seketika aku berdoa dalam hati, semoga dia tak pernah mengenaliku!
Dengan uang itulah aku bisa membeli perlengkapan mandi, susu ibu hamil, vitamin, kue-kue kering bahkan dua potong daster murahan di kakilima. Sesampai di ruang perawatan kembali, agaknya sempat terjadi kehebohan; seorang pasien diduga telah melarikan diri!

Ketika sore harinya, akhirnya, kepala keluarga itu, khalifah yang selalu merasa suci, bijak bestari itu datang juga. Pertama-tama yang diucapkannya adalah; “Enak kau tinggal di sini, ya! Banyak dokter ganteng yang bisa memegang-megang tubuh kau!”

Air mata itu akhirnya tumpah jua, bukan di hadapannya, melainkan manakala sendirian berdiri di teras balkon.
Malam yang hening, pukul sepuluh, langit biru bening, bertabur selaksa bintang nun di atas kepalaku sana. Bintang-bintang itu, di mataku sedang sangat ramah, mengajakku tersenyum, tersenyum, tersenyum…

Persis seperti sering kubisikkan kepada putraku, Haekal, apabila kami baru mengalami kekerasan. Biasanya kuajak dia menatap bintang-bintang di langit dari jendela kamar kami.
“Lihatlah, Nak, Cinta… Bagaimanapun pedihnya hati kita, bintang-bintang itu tampak selalu indah dan tersenyum…”
“Artinya apa, Ma?”

“Kalau bintang-bintang itu masih tersenyum, pertanda masih ada banyak harapan. Yakinlah. Jangan jadi anak yang cengeng, ya Nak, Cinta, Buah Hati Mama… Raihlah harapan itu!”
Demikian pula yang kubisikkan saat itu kepada bayi dalam kandunganku, seorang anak perempuan.

“Jangan pernah menjadi anak perempuan cengeng, Cintaku, Buah Hatiku…”
Biar bagaimana pun pedihnya kehidupan, ndilalah… Bintang di hatiku mulai tersenyum melalui sepasang belahan jiwaku; Muhammad Karibun Haekal Siregar dan Azimattinur Karibun Nuraini Siregar.
Maka lihatlah di dalam dadaku ini, Saudaraku!

Bintang pun tersenyum, ini kupinjam dari judul salah satu cerpen karya Butet yang dimuat pada antologi kumcer cantik; persembahan penulis lintas generasi, terbitan Gema Insani Press, 2006.
@@@

Lomba Resensi Dari Negeri Dua Benua - Nabila Hayatina, dkk



Teman-teman!
Lomba Resensi buku Dari Negeri Dua Benua ini boleh diikuti oleh siapapun.
Syaratnya tidak susah, kirimkan resensi sahabat ke email; pipiet.senjaa@gmail.com
Maksimal dua halaman, berikut kover buku.
Ditunggu sampai 9 April 2016.

Hadiahnya selain buku terbitan Pipiet Senja Publishing House, ada tips dari Nabila Hayatina, dkk, bagaimana mendapatkan beasiswa kuliah di Turki.
Ayo, bktikan bahwa kamu bisa menulis resensi!
Saam Literasi!

Catatan; untuk yang berminat membeli buku Dari Negeri Dua Benua bisa dipesan langsung ke Pipiet Senja Publishing House via SMS/WA; 085669185619.
Buruan, sebelum kehabisan!

Pengantar Penyunting

Bermula Dari Cinta Literasi
Satu hari, Juli 2012, saya dan rombongan Bilik Sastra VOI RRI sedang berada di Mesir, seminar Literasi dan Jurnalistik di kalangan mahasiswa Al Azhar, Kairo. Di tengah rawan perang, Presiden Mursyi digulingkan dan demo pendukungnya yang semakin panas itulah, kami; saya, Irwan Kelana, Sastri Bakry, Zulhaqqi Haviz, M. Anhar, Eddy Sukmana dan Nizmah Azhari terus mengisi seminar dan kelas menulis, jurnalistik serta broadcasting.

Seperti biasa, saya pun menulis dan memposting setiap hasil seminar dan kelas menulis yang baru berlangsung. Postingan di website http://www.pipietsenja.net itu biasanya pula saya sambungkan ke akun FB dan Twitter. Salah satu pengikut (jiiiah!) di twitterland, menyambut melalui pesan, kami pun diskusi tentang literasi.

Evi Marlina, Sakura Romawi Timur nama penanya, ingin sekali masuk anggota FLP, tetapi di Turki belum ada komunitas kepenulisan tersebut. Saya menyarankan, bentuk saja FLP Wilayah Turki, kebetulan saya salah satu Dewan Penasehat FLP. Untuk mewujudkannya, maka kami pun berinteraksi melalui WA, What’s App.

Sejak saat itu ada ikon 9 Warrior’s FLP Turki di ponsel saya.
Selanjutnya tugas saya hanyalah meneror, menyemangati para mahasiswa kita yang sedang kuliah di Negeri Dua Benua ini, supaya menulis; melahirkan karya yang mencerahkan. Kebetulan saya menjadi pengasuh program Bilik Sastra Voice Of Indonesia RRI Siaran Luar Negeri.

Alhasil, setiap saat saya bisa menuntut mereka agar mengirimkan cerpen untuk dibacakan dan dibincang pada Bilik Sastra. Sebagaimana saya lakukan juga untuk anak-anak bangsa yang sedang berjuang di Taiwan, Hong Kong, Macau, Mesir, Yaman, Qatar, Arab Saudi, Malaysia, Singapura, Sabah, Australia, Belanda, Inggris, Norwegia, Rusia, USA, Kanada dan Honolulu.

Berkat kebaikan hati dan kepedulian sahabat kita yang berkenan sponsori, yakni; Budi Sulistianto, maka terbitlah kumpulan karya dari Turki ini. Setelah diskusi, akhirnya didapatkan judul Dari Negeri Dua Benua. Semoga keberadaannya menjadi pemicu semangat anak-anak bangsa di mana pun bermukim untuk terus berkarya, berbakti dan berarti.

Buku ini tentu masihlah belum sempurna, tetapi kita tetap harus mengacungi jempol, dan mengapresiasi karya kader-kader pemimpin masa depan.
Bravo, FLP Turki!
Salam Literasi
Pipiet Senja

@@@



Daftar IsI
i.Prolog Penyunting – Pipiet Senja
ii.Sekilas Pandang Forum Lingkar Pena Turki: Semesta Menulis
1. Istasyonu (Nabila Hayatina)
2. Rantau Autumn (Sakura Romawi Timur)
3. Mungkin Seperti Lainnya (Andi Fikri Al-Fatih)
4. Cerita Dari Dursunova (Dhika Suci)
5. Sepotong Kisah Aira (Fatimah Az-Zahra)
6. Equınox Serangkai Musım (Lale Fatma Yuningsih)
7. Simfoni Hati (Rahmat Beyazi)
8. Kedai Kopi di Sudut Jalan (Rudy Salam)
9. Darı Negerı Mevlana (Vivi Violina)
10. Inspirasi Membaca (Wardatul Ula)
11. Sampai Jumpa Kapadokya (Witsqa Fadhilah Adnan)
12. Bila Tiba Waktu (Al Akhi Abdul Azis)
13. Rindu Segelas Kopi Susu (Hamda Alief)
14. Sang Gazi (Agung Nurwijoyo)
15. Mengejar Aroma Melati (Firdaus Guritno, Titut, Citra, Lala, Farid, Nana, A4)

Biodata Penulis











Share: Usut Kematian Eka Suryani BMI Hongkong






Usut Kematian Eka Suryani BMI Hongkong
Lindungi Tenaga Kerja Indonesia di Mancanegara

Jaringan Buruh Migran Indonesia (JBMI) – aliansi organisasi -organisasi BMI, mantan dan keluarganya yang berada di Indonesia, Hong Kong, Macau, Taiwan – menuntut Pemerintah Indonesia untuk mengusut tuntas kematian Eka Suryani, Buruh Migran yang meninggal secara misterius di Cina.

Menurut pemberitaan, Eka Suryani, 23 tahun, ditemukan meninggal di kamar mandi rumah majikan di Cina tanggal 22 Januari kemarin. Namun penyebab kematiannya belum diketahui.

Ibu satu anak asal Donomulyo Malang ini baru pertama kali keluar negeri. Dia diberangkatkan PT Surabaya Yudha Cipta Perdana di Malang dan AIE Employment Agency di Hong Kong.

Selama bekerja, Eka sering mengeluhkan perlakuan tidak baik majikan perempuan. Dia diberi makan dua kali sehari, jam kerja panjang tanpa istirahat, disuruh membersihkan rumah saudara majikan dan juga diharuskan bekerja sebelum dan sepulang dari libur. Sekitar 3-4 bulan bekerja, majikannya yang temperamental mulai sering memukulinya dengan tangan atau barang lain yang ada.

Eka juga pernah diusir dan mendatangi agen minta pertolongan. Tapi karena potongan Agen 6 bulan belum lunas, Eka diharuskan kembali ke rumah majikan lagi.

Desember 2015, majikan membawa Eka ke Cina untuk dipekerjakan disana menyongsong lebaran Cina. Meskipun berdasarkan hukum Hong Kong, tindakan ini termasuk ilegal.

Selama di Cina, Eka dituduh mencuri uang dan uang yang dibawanya dari Hong Kong juga dirampas. Eka juga sering dipukuli.

Dari obrolan terakhir dengan suaminya, 22 Januari pukul 11.26 malam kemarin, Eka memberitahu akan balik ke Hong Kong tanggal 24 Januari dan ingin segera memutuskan kontrak. Eka tidak ingin bekerja lagi di Hong Kong karena trauma.

Ketika berbincang itu, Eka pamit sebentar pada suaminya. Namun setelah ditunggu lama Eka tidak menghubungi lagi dan juga tidak bisa dihubungi. Bahkan Eka juga berkomunikasi melalui Whatsapp dengan sahabatnya di Hong Kong dan menceritakan kondisi penganiayaan yang sering dilakukan oleh Majikan perempuanya setelah 2 bulan bekerja di rumah Majikan itu.

Keluarga mendengar kabar kematian Eka tanggal 25 Januari melalui teman satu PPTKIS dan kunjungan PPTKIS.

Menurut keluarga dan sahabat, Eka sehat dan tidak punya penyakit serius yang bisa menyebabkan kematian. Mereka yakin kematian Eka tidak wajar.

JBMI percaya selama bekerja hingga menemui ajal, Eka telah jadi korban Pelanggaran dan pembunuhan. Kematian Eka harus diinvestigasi dan jika dari hasil autopsi ditemukan bukti-bukti kekerasan maka Pemerintah harus melakukan tindakan agar kasus ini dimejahijaukan.

JBMI juga mengecam sikap PT. Surabaya Yudha Cipta Perdana yang menekan keluarganya agar tidak mengautopsi jenazah Eka dengan menakut-nakuti biaya mahal.

Kematian Eka adalah imbas dari kekejaman majikan, agen dan PPTKIS yang hanya mau uang dan tidak perduli kesejahteraan, dan pemerintah yang menelantarkan BMI diluar negeri.

Sebagai bentuk solidaritas dan pendampingan, JBMI telah menggelar doa bersama di Hong Kong bersama saudara dan sahabat Eka, mengunjungi dan mendampingi keluarga, dan memberi sumbangan.

JBMI bersama Mission for Migrant Workers juga akan mendampingi penuntutan kompensasi asuransi di Hong Kong bagi keluarga yang ditinggalkan.

JBMI mengecam sikap AIE Employment Agency yang mengembalikan Eka ke rumah majikan meski sudah tahu perlakuan buruk majikan. Seperti halnya Erwiana Sulistianingsih, Eka diharuskan kembali pada majikan jahat demi melunasi 6 bulan potongan gaji. Baik Eka maupun Erwiana tidak punya pilihan lain kecuali mengikuti tuntutan agen karena secara undang-undang, semua BMI diikat pada PPTKIS dan Agen yang memberangkatkan.

KJRI di Hong Kong sebagai perwakilan pemerintah Indonesia harus menyakinkan adanya autopsi jenazah untuk mendapatkan kepastian penyebab kematian Eka.

Keadilan bagi Eka dan seluruh Buruh Migran Indonesia.

Referensi:
Hong Kong
Sringatin (+852 6992 0878)
Indonesia
Marjenab (+62 813 82350491)

Recommend us on Google!

Tulisan Terbaru