Latest Stories

Subscription

You can subscribe to pipietsenja.net by e-mail address to receive news and updates directly in your inbox. Simply enter your e-mail below and click Sign Up!

TOP 5 Most Popular Post

Other Post

Other Post

 

                                                            

Sekeluarga boyongan hijrah dari Labuan-Banten ke Jakarta. Perabotan, dicampur-aduk dengan adik-adik, menumpang di sebuah truk berplat hijau tentara. Entah bagaimana Bapak berhasil mendapatkan kendaraan dinas itu dari kantornya.
Aku baru naik kelas enam. Anak daerah yang kepingin menjadi warga kota metropolitan Jakarta. Begitu memasuki kawasan Ibukota, adikku yang paling dekat, Hani tiba-tiba berteriak keras.
“Jakartaaa… hoooii!” jeritnya kayak anak monyet ketemu mainan baru saja.
 “Selamat dataaang, hoooi! Sambut kitaaa!”
“Astaghfirullah…!” Nenekku dari pihak Bapak yang suka kami panggil Emih, tersentak dari leyeh-leyehnya di samping tumpukan perabotan.
“Sudah sampai, ya…?” gumamnya sambil membetulkan kerudungnya.
“Iya, Miih, kita sudah nyampe Betawiii!” teriak Hani pula sambil terus jingkrak-jingkrak. Wajahnya yang imut-imut sumringah, sarat sukacita. Dia memang sudah lama kepingin jadi anak kota.
“Berisiiik!” tegurku gemas.
Dia tak peduli, terus saja jejingkrakan. Boneka karetnya entah sudah loncat ke mana. Belakangan dia hampir membuang benda yang sejak kecil digendol itu. Beralih ikutan hobi baca bersamaku. Umurnya hanya beda setahun denganku. Dialah yang paling sering memposisikan diri sebagai lawanku.
Hobinya yang utama menari dan berdandan. Entah sudah berapa banyak bedak ibu kami yang menjadi korbannya. Dipakai atau hanya dihamburkan begitu saja di wajahnya yang bulat. Selama perjalanan dialah yang paling parah mabok. Tapi sekarang tak ada sisa-sisanya lagi.
“Alhamdulillah,” kudengar Emih mengucap rasa syukur, dan kelegaan membias di wajahnya.
Sudah sepuh, tapi masih ikut boyongan sana-sini dengan keluarga ayahku. Yakni putranya yang tertua dari lima bersaudara. Sebagai prajurit ayahku sering dialihtugaskan ke pelosok Tanah Air. Tapi Jakarta diharapkan sebagai tempat dinasnya yang terakhir sebelum pensiunan. Pangkatnya sudah perwira menengah, tentu takkan terlalu banyak lagi ditugaskan ke lapangan. Begitulah setidaknya yang kudengar dari sebagian harapan ibuku juga nenekku.
Truk memasuki pekarangan markas Menwa di jalan Matraman. Tak bisa langsung ke dalam, entah apa alasannya. Kulihat Bapak loncat dari jok depan di samping sopir. Menurunkan Abib, Reza dan Ima. Sekilas kuperhatikan Bunda agak sempoyongan. Wajahnya memias. Maklum, Bunda baru keluar dari rumah sakit.
Sementara dari belakang Mang Obay, adik ayahku yang juga prajurit, sibuk menurunkan kami. Emih dan Bibi Encur, istri Mang Obay, segera menggiring anak-anak ke tempat teduh. Beberapa orang dari dalam menyambut kami dengan ramah. Bapak punya banyak kenalan rupanya di tempat ini.
“Kita harus mencari gerobak,” kata ayahku di selang kesibukan menurunkan perabotan bersama Mang Obay dan sopir.
“Bagaimana kalau kami naik becak saja, mungkin tiga?” Bunda sambil memperbaiki jilbabku yang selalu miring kanan-kiri.
“Baiklah,” Bapak mengalah dan segera memanggil becak.
Empat! Anak-anak saja pakai dua becak. Bunda sambil memangku Ima, mengangkuti beberapa buntelan. Bibi Encur dan Emih bersama kasur. Sedangkan ayahku dan Mang Obay bergantian menunggui barang sambil mencari gerobak.
Kawasan Utan Kayu, di situlah rumah bibi ibuku yang biasa dipanggil Nini Resmi.
“Kok rumahnya…, imut-imut begini ya, Teteh?” bisik Hani, keceriahan dalam sekejap lenyap dari wajahnya.
“Hmm, entahlah,” hatiku pun tak urung mulai diliputi rasa kecewa.
Apalagi ketika kemudian kutahu ternyata kami hanya akan menempati sebuah kamar, ditambah teras. Kamar itu hanya dibatasi oleh sebuah lemari dengan ruangan lainnya. Untuk selanjutnya teras itu disulap sebagai dapur. Kerap aku dan Emih meringkuk di sudut dapur jadian itu di antara tumpukan perabotan. Hikkksss!
Ini sungguh jauh dari angan semula. Sebuah rumah besar di tengah kota, nyaman, bagus dan serba moderen. Aaaaah!
“Gimana nih, Teteh?” Hani menggebah anganku.
“Oh, eh…, apa bisa masuk semuanya ya?” balik aku celingukan, mengawasi situasi di dalam.
Sumpek dan puanaaas!
Para ibu segera masuk. Beberapa jenak aku dan empat adik hanya bengong, tak tahu apa yang mesti dilakukan. Duduk lesehan di teras, anganku masih mencari-cari simpanan khayalan di Labuan. Mengapa Bunda begitu heboh bila sudah cerita tentang Jakarta? Sarat impian dan harapan, kenyataannya…?!
Ini hanya sebuah rumah tua yang telah dipilah-pilah menjadi beberapa tempat kontrakan. Kalau hendak ke jalan besar, harus naik undakan tangga yang lumayan tinggi. Letaknya memang di bawah kali kecil. Bisa dibayangkan bila musim hujan tiba pasti…, banjiir!
“Anak-anak, kok masih di luar? Ayo, masuk siniii! Wah, wah orang Labuan nih,” Nini Resmi keluar, diikuti anak-menantu dan cucu-cucunya.
Woow, orang Labuan, katanya? Apa pantas dibilang orang Labuan? Cuma setahun bertahan di kota pantai itu. Sebelumnya kami tinggal di Sumedang. Selama mukim di Labuan, anak-anak sering sakit, Bunda apalagi. Sengsaranya…, bukan main!
“Nungguin Bapak…,” Hani berdalih.
“Waaah, kalo Bapak sama Mang Obay cari gerobak, entah kapan datangnya. Mungkin nyari gerobaknya ke pasar Pramuka,” jelas Bibi Mimi, menantu Nini Resmi.
Usianya sebaya Bunda, tapi ia tampak jauh lebih tua. Anaknya selusin dan sedang hamil tua. Suaminya, Mang Memod berada di balik sel. Konon, ditangkap sebagai tersangka kelompok bom-boman. Entahlah!
“Ayo, Neng Hani, Neng Seli…, siapa lagi tuh namanya? Mari diminum dulu,” himbaunya dengan tulus.
Air bening dari kendi. Hmmm, segeeer!
“Nda, kami mau lihat-lihat dulu. Boleh?” tanyaku minta izin.
“Ya, bolehlah, tapi jangan jauh-jauh ya?”
***

Aku menggiring adik-adik, Hani, Riri, Abib dan Reza. Kompak melihat-lihat keadaan sekitar rumah. Tak begitu buruk, masih banyak pohonan rindang. Tanahnya masih luas, ditanami pohon jambu air, jambu klutuk, nangka, sirsak dan kopi.
“Wuiih, boleh kita nyicip buah ini, Teteh?” Abib, yang sering kami ledek si gembul memandangi buah kopi itu dengan penuh minat.
“Bilang dulu sama Bibi Mimi, ya?” sahutku sambil terus melihat-lihat.
Barangkali ada satu sudut nyaman untuk leyeh-leyeh sambil baca buku cerita. Seperti suka kulakukan di tempat-tempat sebelumnya.
“Huuaaah…, kirain enak! Puuh, aneh rasanya!”
Abib memuntahkan lagi kunyahan buah kopinya, ditertawakan anak-anak. Dia cengengesan. Habiburrahman, si gembul kami yang lucu.
“Hei, ada kebun tuh! Kita lihat-lihat ke sana, yuuuk?” sentak Hani.
“Ikuuut, ikuuut!” serempak Reza dan Abib merengek.
“Jangan, ah! Kalian masih kecil, pulang saja, ya?” tukasku keberatan. “Kan kita belum tahu situasinya, gimana coba kalau…?”     
“Bilangin lho sama Bapak. Nggak mau ngasuh adik, begitu! Iya kan, Eza?”
Whoooi, si gembul sudah berani neror, euy!
“Ikuuut, ikuuut!” Abib dan Reza makin kompak.
Aku garuk-garuk kepala yang ditutupi jilbab kaos.
“Sudahlah, Teh Seli! Bawa saja. Tinimbang ngadu sama Bapak, berabe lagi!” Hani malah mendukung. Riri juga menyemangati mereka.
“Ya, sudah! Kalo ada apa-apa….”
Kutelan ujung kalimat. Kasihan juga mereka. Wajah-wajah lelah, bosan berat. Tentu saja sama, kepingin ngelempengin kaki.
Lahaola walaquwwatta, bisikku sambil mesem. Lucu, lihat tingkah anak-anak. Dorong-dorongan, bercanda dan cekikikan. Yup, inilah pasukanku sekarang! Hani sebelas tahun, ke bawahnya hanya bertaut setahun-setahun. Si Bungsu Ima belum dua tahun, kolokan dan ngeganduli Bunda melulu.
Pasukan kecil yang kupimpin menyusuri jalan setapak menuju kebun sayuran. Ada lahan kosong yang cukup luas. Belakangan kutahu lahan itu telah dijual oleh pribumi kepada tauke keturunan. Hendak dibikin perumahan mewah. Tapi gara-gara krismon pembangunannya mandek. Untuk sementara dimanfaatkan oleh para pendatang agaknya.
Di simpang antara kebun sayur dengan perkampungan, tiba-tiba pasukanku dicegat oleh seorang anak laki-laki. Kelihatannya sebaya denganku, gerak-geriknya jumawa sekali. Sok jagoan!
“Heee, brentiii!” teriaknya diikuti dua orang temannya. Sama bergaya dan soknya. Beginilah barangkali gaya orang kota, pikirku.
“Heeei, budek ape lo! Berentii, berentiii!” temannya sebaya Abib menjegal langkahku.
“Gimana nih, Teh Seli?” Hani dan Riri mulai cemas.
“Jangan pedulikan mereka!” perintahku sambil mengisyaratkan anak-anak. Supaya balik kanan. Lagian sudah lumayan jauh dari rumah.
“Huuu…, songong banget sih elo! Emang orang mane sih elo pade?” sergah anak laki-laki sebayaku. Makin menyebalkan, menggemaskan…, tinjul!
Berdiri tepat di depan Hani. Menatapi wajah Hani seolah hendak menelannya. Hiiih, asli nyebeliiin!
“Emang elo demen nyang mane, Deden?” temannya yang pakai kaos merah, kegenitan. Cengiran.
Astaghfirullah…, anak bau kencur sudah kegenitan begitu?
 “Nyang ini mah botoh niiih!”
Deden nyolek dagu Riri. Trus, menarik tangan Hani. Karuan keduanya langsung memekik ketakutan.
“Eh, eeeh, sebentaaar!” sergahku mengumpulkan seluruh keberanian yang kumiliki. “Kamu teh jangan suka kurang ajar atuh, yaah?”
Kurasakan tangan Abib dan Reza mengganduli pinggangku. Nggak bisa kubiarkan, pekikku dalam hati. Tiga anak laki-laki itu cuma bergaya. Tubuhnya kerempeng-kerempeng. Kalau kekuatan disatukan…, jetreek!
“Kalow mau tau nama kami mah gampang da. Inih geura sayah mau nataan satu-satu sajah sendiri, yaah…?”
Mendengar logatku yang ajaib, seketika ketiga anak itu terbahak-bahak. Apalagi ketika Abib menimpali dengan logatnya yang tak kalah ajaibnya.
“Heueuh nya, Dak! Ilok ganggu naeun? Urang mah saguru saelmu bae nyah? Ja ngaing geh teu boga dosa nanaeun ka dia…?!”1
Aku sendiri melongo mendengar bahasa gaul Abib. Mentang-mentang tukang main dan sobatan sama Jatake.
“Huahaha…. ngomong apaan tuuuh? Bodooor banget-banget-banget!” Si Deden ngakak dibarengi kedua temannya.
Kesempatan baguuus!
“Ayo, balik, baliiik, euy!” perintahku sama adik-adik.
Beeer…, anak-anak berlarian kembali ke rumah Nini Resmi. Pantat Abib sampai bulet-bulet saja kayak bola. Disusul Reza, kecil-kecil juga lincah kayak kancil. Hani dan Riri pun kompak, berlarian sambil cekikikan.
 “Yeeeh…, si Teteh ini kenapa sih?” Riri menatapku keheranan.
“Iya, ya! Tadi kan Teteh yang perintahkan lari? Kok malah datang belakangan?” tegur Hani, ketika menyambutku yang menyusul belakangan.
“Lemees, aah…, lemeees!”
Bruuugh…, aku membantingkan diri di atas gulungan kasur. Mereka sudah lupa barangkali. Aku belum lama sembuh dari sakit yang lumayan parah. Malaria, kata Mantri Uking, sempat menenggelamkan keberadaanku selama berpekan-pekan.
Awalnya tentu saja merasa tak betah tinggal di ruangan sempit, berdesak-desakan. Bukan saja dengan sesama anggota keluarga, melainkan juga dengan timbunan perabotan dan…, tikus!
Jangankan makanan, bahkan bantal pun mesti berebutan dulu. Tapi kalau sudah mendengar semangat dan harapan yang dipompakan Bapak, bahwa keadaan takkan selamanya demikian. Suatu hari nanti pasti akan memiliki rumah sendiri.
“Insya Allah,” janji Bapak serius.
Yeaaah, nggak betah juga dibete-betein ajeee!
Enam bulan tinggal di ruangan sempit yang banyak nyamuk, kecoa dan tikusnya itu.
“Anak-anak, kita akan pindah ke rumah di sebelah sana,” ajak Bapak suatu siang, pas anak-anak baru pulang sekolah.
“Rumah siapa, Pak?”
Perut keroncongan minta isi, tapi mana berani membantah perintah Bapak?
“Punya Uwa Manggarai, sepupu Bunda. Kita hanya menyewanya, lumayan nggak begitu sempit,” jelas Bapak.
Letaknya hanya terhalang beberapa rumah. Pas diperhatikan…, whoooa!
“Ini sih bukan rumah, Bapak!” seru Hani komplain.
“Iya, kayak kandang…, bandot aja,” Riri berkata pelan.
Adikku yang satu ini pemalu, jarang bicara kalau nggak perlu. Dialah yang paling cantik dan bijak di antara saudara-saudariku.
“Jangan begitu, kalian harus mensyukuri apapun yang diberikan Allah,” kata Bunda cepat-cepat menghangatkan hati anak-anak.
Aku langsung melihat-lihat ke sekitar rumah. Memang tak layak huni. Rumah tua, lapuk. Gentingnya bocor, biliknya bolong-bolong. Lantainya tanah, musim kemarau membuatnya retak-retak. Aroma apak, campur dengan bau paduan antara kecoa dengan cecurut, langsung menyergap lubang hidung.
“Huueeek…!”
Nggak tahan aku muntah-muntah di samping rumah. Baru ngeh, kamar mandi dan kakusnya serba darurat. Kalau ingin sehat, Bapak harus merombaknya, jeritku dalam hati.
“Ini masih lebih baik, sebuah rumah, kita bisa mandiri,” Bapak tetap semangat seperti biasa.
“Bener juga sih,” sahut Hani. “Di tempat dulu dikit-dikit denger orang nangis dan berantem!”
“Belum lagi kalo anak-anak Bibi Mimi itu ngegerecokin. Nggak bisa belajar tenang!” kataku mengakui.
Setelah ditempati beberapa hari, begitu libur barulah Bapak membenahinya. Biasa, menggebah pasukan kecilnya, aku dan adik-adik. Semuanya sibuk bekerja, tidak anak perempuan atau laki-laki, sama saja. Punya hak dan kewajiban yang sama. Semuanya bertugas menjadikan rumah agar betah ditinggali.
Bilik-biliknya ditambal zak bekas semen, dikanji hingga lekat. Gentingnya diganti sebagian. Bapak mengerjakannya sendiri. Biar hemat, tak perlu menyuruh tukang.
“Jangan yang itu, Naaak…. Yang sebelah sana tuuuh!”
Atau, “Hati-hati, Naak, jangan sampe pecah gentengnyaaa…!”
Dan, “Semuanya harus pake alas kaki, ingaat…. Anak-anaaak!”
Demikian suara sang prajurit berteriak-teriak dari atas wuwungan. Sementara di bawah aku bersama adik-adik berjibaku. Berbaris secara berbanjar, mengangkuti genting-genting dari tumpukannya hingga ke tangan Bapak.
Aku kebagian naik di undakan tangga bambu, paling dekat dengan Bapak. Disambung Hani, Riri, Abib terus Reza. Sementara Bunda sibuk di dapur menyediakan makanan dibantu Bibi Encur. Oya, Bunda tengah mengandung adikku yang ke tujuh.
Tiba-tiba Hani berteriak lantang, “Kapan kita punya rumah sendiriiii?”
Suaranya yang cempreng mengebah anak-anak yang lagi berjibaku.
“Tanyakan langsung ke Bapak, Teteh!” imbuh Riri.
Abib seketika mendahuluiku. “Bapaaak! Boleh nanya nggaaak?”
Bapak nyelang menengok ke arah putranya yang paling gembrot.
“Mo tanya apaaa?”
“Tapi jangan ngambek, yaa?”
“Iiih, cepetaaan….” Hani mulai gemas, melototin Abib.
“”Ngomongnyaaa!” Riri ikutan gemas.
“Iya nih, ntar keburu kubanting gentengnya! Beraaat!”
Aku pun mulai kewalahan mesti menjunjung lima genting, berdiri di tangga pula. Peluh sudah melaut, bikin jilbab kaosku lepek dan bau nggak karuan.
“Iya, cepetaan! Beraaat niiih…!” dengusku ngos-ngosan.
Bapak berteriak lagi dari atas wuwungan, “Mo tanya apa, Biiib?”
“Ja ceuk barudak ieu mah, Apa! Iraha Apa rek boga imah keur ngaing sarereaaa?”2
Ya Rooob…!
Sekejap anak-anak terkesima mendengar pernyataan dalam logat gaul anak Labuan. Dasar murid jawara Banten, Mang Umar. Untuk sesaat aku pun berdiri mematung sambil tetap menjunjung genting. Takut Bapak tersinggung, tapi juga geli setengah mati.
“Iyaaa, Bapak ngerti! Nantilah Bapak mo minta dulu sama Si Mbaaaak di Istanaaa! Hehehe…”
Kulihat sekilas Bunda yang mengawasi dari pintu dapur mesem-mesem. Entah apa yang terlintas di benak Bunda. Adakah sama angan Bunda dengan anganku? Sebuah rumah yang nyaman dan asri, dibasuh iman dan tawakal. Sehingga melahirkan sebuah keluarga sakinah mawadah dan warrohmah.
***


1 “Iya ya, Kawan! Jangan ganggu ngapa? Kita mah seguru seelmu saja, ya? Kan aku gak punya dosa apa-apa sama kamu?!”
2 “Ini sih kata anak-anak, Bapak. Kapan Bapak mau bikinkan rumah sendiri buat gue-gue niiih…?!”
Posted in: | Selasa, 24 Maret 2015


Mpok Noeng tersentak dari keasyikannya meracik daun singkong bakal lalapan. Kupingnya mendengar ribut-ribut di luar rumah. Setengah berlari janda tua itu menyibak pintu dapur, keluar dari biliknya di bantaran kali Malang.
“Kenaaa lu! Kenaaa lu!”
“Sereeet, ayo sereeet di mariii!”
“Bakaaar! Bakaaar…!”
“Bawa ke lapangan sana gih!”
“Hooh, kebakaran entar…”

Manusia pengarak itu bergerak menuju lapangan, lahan milik proyek perumahan real-estate Kembang Jatoh. Begitu krismon melanda negeri, pimro-nya buron ke mancanegara. Proyek pengembang pun bener-bener jatoh, nggak ada kembang-kembangnya lagi sampai detik ini. Mpok Noeng tanpa sadar keluar dan terbawa arus. Bergabung dengan para tetangga, ikut menyaksikan prosesi eksekusi siang itu. Kodeng menurunkan karung bawaannya yang berdarah-darah.

“Bongkar atuh, Kodeng. Jieh, elo mah malah dipelototin gitu!” Pa Erte menegur anaknya.
“Kesengsrem si Bahenol Nerkom anak elo tuh, Dul,” kata Engkong Lihun.
“Mesranya dia eyong-eyong si Bahenol dari peraduannya, hahaha…” Hansip Niman nimbrung.
“Perasaan elo kayak ngeyong si Enih ‘kali, ya Deng?” Engkong Lihun lagi.

Rombongan pengarak terbahak-bahak. Kodeng cengengesan sambil mengerdip-ngerdipkan matanya. Dia lagi demen Enih anak Uwa Kodir, agen minuman cap ortu made in Citayem.
“Kalo gue perhatiin sih, kayaknya masih kalah ame si Jenong tuh, Kong!” Cing Dirun menimpali,”Bodinya kayak gitar Spanyol kerendem banjir. Kebayang aja, bulanan die ngabisin simpenan ikan pede ame terasi Mpok Noeng…” Mpok Noeng yang merasa disebut-sebut jengah dari kejauhan. Cepat-cepat dia menyelipkan tubuh kurusnya di balik badan Mpok Onah.

“Sempet ngabisin sepatu elo ‘kali, ya Deng? Sepatu sejak dibeli sampe jebolnya gitu kagak kenal air…” Pak Erte meningkahi lagi.
“Kebayang kalo lagi ngapelin si Enih, kecut ‘kali tuh perawan!”

Kapan lagi bisa ketawa nikmat begini. Kehidupan Jakarta di kawasan kumuh segitu kompleknya. Pak Erte garuk-garuk kepalanya yang nggak gatal. Masih banyak kerjaannya. Kudu bikin laporan paska banjir. Demi mendapat kucuran dana dari orang Kelurahan. Ada juga para aktivis LSM yang cuma ngelongok sambil lalu, jeprat-jepret foto, bagiin supermi alakadarnya, sudah begitu kagak nongol  lagi.

“Udah dah buruan, Deeeng! Gue masih banyak urusan!” teriaknya.
Bensin dibanjurkan ke onggokan karung yang penuh bercak darah. Kodeng menjetrekkan korekannya. Dalam sekejap api sudah menyala-nyala. Menit berikutnya bau daging hangus terbakar terbawa angin, mengawang-awang ke seantero kampung kumuh itu.        

Mpok Noeng menahan rasa mual yang membelit-belit di perutnya. Angannya mau makan siang dengan lalapan daun singkong rebus, sambal terasi dan ikan peda bakar, buyar seketika. Tersilih oleh bayangan daging gosong makhluk yang suka mencuri simpanan terasi dan ikan peda di groboknya.

Belum lepas dari trauma banjir bandang yang melanda warga Jakarta. Sekarang sudah muncul lagi musibah berupa wabah penyakit leptospirosis. Suatu penyakit yang disebabkan oleh air seni tikus. Warga di kawasan bantaran kali Malang lebih parah lagi diterjang musibah kali ini.

Awalnya menerjang si Engkom, bocah umur lima tahun anak Mang Sidin. Anak imut-imut begitu mendadak demam. Tak mau makan, tak mau minum, muntah habis-habisan. Bi Kesih, ibunya baru bisa memberinya obat-obatan dari warung. Maklum, semuanya masih repot ngurusin rumah kontrakan yang sempat terendam air setinggi dua meter.

Mang Sidin, ayah Engkom sibuk bolak-balik ke kampungnya di Cileungsi. Minta sumbangan para famili buat beli gerobak soto mie, karena yang dulu terbawa arus banjir. Mpok Noeng cepat menawarkan jasa, mendampingi Bi Kesih pergi ke Puskesmas, mengobati Engkom. Tapi bukannya sembuh, kondisi anak itu malah makin parah. Hingga suatu malam bocah lucu itu kejer, sakit perut luar biasa, otot-otot badannya mengejang.

Jerit dan lengkingannya menyapu atap-atap rumah warga kampung. Ia mengamati mata Engkom. Kuning mirip kunyit, begitu pula sekujur tubuhnya. Perutnya semakin membuncit mirip orang busung lapar. Tiba-tiba Engkom sesak napas, semakin sesak, semakin sesak.

Perempuan lansia itu menutup selimut ke sekujur tubuh Engkom. Ia bergumam lirih,”Innalilahi wa inna ilaihi rojiuuun…” Bi Kesih meraung-raung. Nyelip juga gugatannya kepada Yang Kuasa di antara sedu-sedannya.        

Sayup-sayup melalui spiker mushala terdengar pengumuman dukacita itu.
“Innalilahi wa inna ilaihi rojiun. Mohon perhatian daripada warga Erte 13. Telah meninggal dunia Siti Engkom Komariah, anaknya daripada Mang Sidin dan Bi Kesih. Tepatnya daripada jam tiga dinihari. Insya Allah akan dikebumikan nanti daripada bada lohor, sekarang disemayamkan di rumah daripada keluarga Mang Sidin,” seru Bang Jali yang suka mengaku-aku anak buah si Daripada Parto Tegal.

Tampaknya warga Erte 13 masih cuek bebek saja. Buktinya, orang di rumah kontrakan Mang Sidin tahlilan. Di seberangnya, rumah Tante Lience malah rame karaokean, ulang tahun 17-an bontotnya si Anet. 

Warga sedikit sekali yang eling berkenan takziah. Lainnya sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Kan harus lebih mengutamakan kepentingan keluarga sendiri dulu. Nasib orang lain… emang gue pikirin?

Pagi itu di warung Bang Kijing, ibu-ibu sambil belanja ngerumpi seperti biasa. Mpok Noeng sambil bantu Bang Kijing melayani pembeli, menajamkan kupingnya.
“Udah tahu nggak, ibu-ibu!” kata Mami si Eneng,”Sekarang penyakit itu masuk ke rumah Mpok Ati. Tiga anaknya kena semua. Tanda-tandanya persis si Engkom!”

"Diobati nggak, Mami Eneng?” tanya Bu Nia.
 "Semalam udah diangkut semuanya ke rumah sakit Tarakan. Pake mo pinjem kijang babe si Rudi segala tuh!”

“Dikasih kijangnya?” sela Bu Utik. Mpok Noeng sekilas melihat bibir Mami
si Eneng mengkerut, tanda tak setuju, lega, puas. Orang kampung sudah kenal perangainya. Dia suka membanggakan suaminya yang konon pegawai PLN, banyak proyek basahnya. Tapi pelitnya amit-amit!
  
“Uuuh, enak aja orang mobil masih gres gitu…” Tuuuh kan!
“Oh, sereeem!” Mpok Niah yang baru jebul langsung nyeletuk, “Kapan habisnya derita kita ini, ya?” keluhnya sambil menyibak antrian ibu-ibu, nyelak minta sambelan lengkap gopek. 

Mpok Noeng cepat melayaninya sebelum  kena semburan omelannya.
“Makanya, kita kudu waspada menjaga kebersihan lingkungan. Nah, sejak hari ini… Marilah, rekan-rekanku sekalian, saudara sebangsa dan setanah air. Ayo, kita bersatu padu galang persatuan dan kesatuan. Demi bangsa, negara dan agama. Mari, kita ganyang makhluk bernama si Monyong itu. Merdekaaa…!”

Ibu Nia seketika berteriak-teriak lantang sambil mengepalkan jari-jarinya yang buntet berlemak. Nada bicara dan gayanya ala petinggi Orde Baru. Maklum, dia mantan ketua penggerak PKK, juga bekas orator kampanye parpol di masa lampau.           

Mpok Noeng semakin miris hatinya mengetahui petaka itu kian merebak, menyapa satu demi satu tetangganya. Ia tak bisa berbuat banyak untuk meringankan beban mereka. Apalah dayanya, ia sendiri hanya seorang janda tua tak mampu, tak punya keluarga. Hidup dari belas kasihan warga. Kerjanya serabutan, kadang diminta bantu tukang warung.

Ia menjadi saksi atas musibah itu, ikut mengantar jenazah Mpok Ati dan tiga anaknya. Disambung jenazah Bu Juhro dan suaminya, Encang Midin, seorang menantu dan kedua cucu. Terus Engkong Lihun dan adik iparnya. Di sebelah selatan, Tante Mira dan pasangan kumpul kebonya juga diangkut ke rumah sakit. Disusul si Enda dan Betty bencong. Ya Allah… air mata Mpok Noeng bersimbah ruah membasahi tikar lapuknya.

Orang yang ke rumah sakit makin antri. Yang tak tertolong pun antri, sama minta diantarkan ke pemakaman. Pak Erte berkali-kali mengadakan rapat. Seluruh warga dimotivasi, digebah agar mencari sarang tikus lalu dihancurkan. Di setiap rumah disediakan karung khusus untuk bangkai si Monyong.          

Moto kampung sekarang telah berubah; Tiada Hari Tanpa Membakar Tikus! 
Euphoria, kebencian dan dendam terhadap makhluk bernama tikus semakin merebak di kawasan Erte 13. Menyala-nyala dalam dada tiap warganya. Melebihi benci dan dendam terhadap pemerintahan Orde Baru, yang dulu sempat dihujat habis sebagai pemerintahan megakorup. Apalagi ketika Cep Juki, anak emas Bang Haji Usin meninggal karena leptospirosis. Langsung ada pengumuman begini;

“Barang siapa yang berhasil menangkap seekor tikus, maka orang tersebut berhak mendapatkan uang sebesar ceban!”
“Ceban itu berapa, ya Mpok Noeng?” tanya Nyai saat mereka mencuci pakaian di pinggir kali.

Sebelum Mpok Noeng menjawab, Kodeng yang lagi mengintip Enih mandi, menyela. ”Alaaah, pan elo kejer-kejer aja kalo lihat si Monyong. Pake nanya-nanya segala. Lagian tikusnya juga sekarang mah udah langka!”

Mpok Noeng membenarkannya dalam hatinya. Sejak diiming-imingi ceban per ekor, seluruh warga semakin giat memburu tikus. Tak ada sudut dan jengkal yang luput dari perhatian warga. Semua dibongkar, diobrak-abrik. Bersamaan langka makhluk itu, upahnya malah makin berlipat-lipat.

“Duileeeeh!” Nyai teriak-teriak lagi sambil memanggil Kodeng yang semakin doyan ngintipin Enih basahan di kali Malang.

”Udah dah, jangan ngintipin si Enih mulu ngapa, Deng? Sekarang mah upahnya selangit, tauuuk? Sejete tuh, dengerin di spiker tadi. Sono gih cari si Monyong biar jadi jutawan…”

Mpok Noeng malah merasa iba kepada makhluk yang lagi diburu dan amat dibenci warga sekitarnya itu. Kadang ia merasa kesepian di biliknya tanpa ada sosok hitam keluyuran ke sana ke mari lagi.

Menurut nalarnya yang lugu, biar bagaimana pun makhluk itu kan sama makhluk-Nya. Sama punya hak untuk mendapatkan kehidupan dan berkembang biak di muka bumi ini. Malam senyap dan kian mencekam. Udara dingin terasa menggigit ngilu, mengalirkan nuansa ganjil di kalbu warga Erte 13. Mereka sudah sangat kelelahan, setelah hampir saban hari harus mengantar jenazah ke pemakaman.  

Betapapun mereka masih berharap, mungkin hari esok suasananya akan berubah. Mpok Noeng masih membilang tasbih di bale-bale usangnya, ketika dari kejauhan terdengar bunyi menggelegar.

“Tabung gas di rumah Tante Lience meledaaak!”
“Kebakaraaan! Kebakaraaan!” Mpok Noeng dalam sekejap sudah ikut larut bersama massa. Sebagian warga langsung mencoba memberi bantuan. Namun, lebih banyak lagi yang memilih menyelamatkan harta dan kepentingannya sendiri.

Di antara kerumunan dan kepanikan warga itu, tampak Tante Lience kejer. Terdengar sebagian ceracauannya. Orang serumah bertempur hebat menangkap seekor cecurut kecil yang menyelundup ke dapur Tante Lience. Alih-alih berhasil menangkap makhluk yang sudah menjadi obsesi warga itu, ada yang menyenggol tabung gas, ada yang melempar puntung rokok. Selanjutnya semua bisa saksikan sendiri.

Mpok Noeng tepekur dan kembali ke biliknya. Ia merasa sangat lelah dalam ketuaan dan kesendiriannya. Ada yang mencubit-cubit kisi kalbunya. Inilah kenyataan hidup, bukan sekadar lenong rumpi, pikirnya. Gusti Allah sesungguhnya sedang menegur mereka yang telanjur khilaf. Hanya entah kapan mereka eling akan teguran-Nya.
Depok, Rajab 1423 Hijriyah
***
Posted in: |



Bandara Narita, suatu petang di musim semi yang hangat dan lembut. Pesawat KLM beberapa saat lalu telah mendarat mulus di landas pacu bandara yang terkenal dengan teknologi canggih se-Asia. Para penumpang mengalir keluar dari pintu kedatangan. Petugas memeriksa bawaan mereka dengan ketat.

Belakangan suasana bandara di seluruh dunia dicekam ketakutan dan kengerian luar biasa. Ini diakibatkan oleh sejumlah peristiwa pemboman hebat di berbagai belahan dunia.

Haekal, seorang pemuda berseragam militer antri dengan sabar di antara para penumpang yang baru tiba dari Holland. Sekilas ia melayangkan pandangannya ke kejauhan. Adakah anak bawel itu di antara para penjemput? 

“Aku bukan anak bawel lagi, Brur! Aku sudah dewasa, sudah akhwat…” katanya melalui email. Ketika itu Zakia mahasiswi di Universitas Indonesia. Begitu bangga dia menceritakan tentang rekan-rekan apa itu, kawatnya? Seperti apa rupanya sekarang anak bawel itu? Masih tomboykah dia, rambut cepak dan celana jeans belel bolong-bolong?

Yokoso Nihon e irasshaimasen1” seorang pramugari yang melintas di sebelahnya, iseng menyapa pemuda itu. Serdadu Kerajaan Belanda. Ganteng sekali dia. Harum jantan meruap dari tubuhnya, hmm!

"What?” Haekal celingukan. Ia telah selesai melalui pemeriksaan, keluar berdampingan dengan pramugari yang memiliki wajah mirip boneka Jepang koleksi ibunya itu. “Exuse me… Anda bicara apa?” susulnya dalam bahasa Inggris.

Anata no o-namae wa nan desu ka? Ryoko wa tanoshikatta desu ka?”2
Gadis Jepang itu semakin tergairah menggodanya. Ia tahu gerak-geriknya tengah diperhatikan oleh rekan-rekannya dari kejauhan. Tiba-tiba sebuah bayangan berkelebat ringkas di hadapannya.

“Hai, Brur Haekal!” Zakia tersenyum ramah kepada sang pramugari. “Domo arigato3… Dia sepupu saya dari Holland,” katanya dalam bahasa Jepang yang lumayan sambil membungkuk hormat. Haekal terlongong dan berdiri dengan rikuh.

“Dia tak bisa bicara Nippon, shitsurei desu ga4…” ujarnya pula.
Sayonara, sayonara…” balas sang pramugari tersipu malu dan menatap wajah keduanya sekilas. 

Gadis Jepang itu kemudian gegas-gegas berlalu, menuju beberapa rekannya yang masih memperhatikan pagelarannya sambil cekikikan.

Haekal masih rikuh sambil memandangi makhluk jelita, enerjik dan terus-menerus tersenyum bandel ke arahnya. Ooo, pasti ini dia si bawel Zakia Siregar, pekiknya dalam hati. Sekejap Haekal sudah memeluk gadis itu.

"Huss, jangan begini!” Zakia merenggangkan pelukan sepupunya.
“Kamu adikku!” Haekal mejawil hidungnya seperti kebiasaan saat mereka kecil dahulu.
“Tidak juga, kamu yang adikku. Sebab Mamaku kakak Mamimu,” balas Zakia mulai memperlihatkan keras kepalanya.

Haekal tertawa lebar, kemudian tiba-tiba teringat sesuatu. “Hei, tadi itu apa sih? Kamu bicara apa dengan pramugari itu?” protesnya dalam bahasa Indonesia yang lumayan bagus. 

Ini kejutan, bila mengingat dia telah meninggalkan Indonesia sejak umur lima tahun. Tante Arnie pasti telah berusaha keras mewariskan kepadanya, bahasa pemersatu bangsanya.
“Dia mengucapkan selamat datang di negerinya, menanyakan nama juga tentang perjalananmu,” Zakia sambil melirik arlojinya.

“Kamu sama sekali nggak beri kesempatan, ya? Coba bilang dari tadi, aku akan berikan kartunama yang bagus untuknya.”

Zakia tak bisa lama-lama di sini, harus mencari tempat untuk shalat maghrib. Ia tahu jika mengantar Haekal ke hotel yang telah dipesan akan memerlukan waktu yang cukup panjang.
“Ada apa?” tanya Haekal cemas dan menangkap kegelisahannya.

Zakia berusaha tetap tersenyum riang. “Nggak apa-apa sih. Cuma aku harus shalat maghrib dulu nih, Brur. Begini saja kita cari kafetaria. Sementara aku shalat kau bisa menikmati…”
“Sake! Ya, aku mau sake Jepang!” pintas Haekal cepat.
“Huss!” Zakia tertawa geli melihat semangat sepupunya yang super tinggi itu. Tapi diantarnya juga sepupunya ke sebuah coffee house. Matanya telah menangkap suatu sudut yang lumayan sepi di sekitar situ.

Ketika Zakia menunaikan shalat maghribnya di sudut sepi itu, mata Haekal tak lepas-lepas mengawasi kelakuannya. Apa yang terjadi dengan anak itu? Begitu taatnya dia menjalankan syariat agamanya. Di tengah kesibukan tiba-tiba harus shalat. Apa dia tak menemukan kesulitan terikat dogma di tengah bangsa asing begini?

Haekal teringat ibunya yang masih mengaku orang Islam, tapi belang-bentong menunaikan shalat lima waktunya. Seketika pemuda itu merasa penasaran sekali. Begitu Zakia kembali menghampirinya, ia langsung menohoknya dengan sepenggal tanya, “Apa menjadi Muslimah itu sulit, Za?”

"Insya Allah tidak!” sahut Zakia mantap membuat Haekal terperangah.
Setelah satu malam tinggal di hotel bergaya Barat, Haekal memutuskan menerima saran sepupunya, pindah ke ryokan5. Ia sangat mengandalkan Zakia, terutama berkomunikasi dengan orang-orang di sekitarnya. Ketika Zakia menunjukkan ryokan itu, wajah Haekal langsung ditekuk lucu.

“Wuiiih… kalau nggak ada kamu, bisa bicara apa aku di sini?” keluhnya seperti bocah ketakutan, hingga Zakia tertawa geli. Nggak pantes banget dengan sosoknya sebagai serdadu.

“Nanti kuberikan kamus praktis bahasa Jepang. Dulu pertama datang aku juga memanfaatkannya. Itu akan sangat membantumu,” Zakia menenangkan, seketika dipandanginya penampilan sepupunya lekat-lekat.        

“Kamu seorang serdadu, Brur. Kalau Opa masih hidup apa komentarnya soal profesi yang kamu pilih ini, ya?” Zakia menjawil pet hijau yang bertengger di kepala sepupunya.
“Opa akan menangis darah,” gumam Haekal terdengar menyesal.

Mereka telah hafal betul kisah heroik Opa tercinta. Di zaman revolusi 1945, kakek mereka berjuang dengan jiwa raga, darah dan air mata melawan penjajah. Di negerinya kolonial identik dengan Belanda, Jepang dan Portugis. Kini cucunya justru menjadi abdi Kerajaan Belanda. Ironisnya hidup ini!

Haekal kelihatan masih merasa menyesal, tapi tak bisa berbuat apa-apa. Zakia menepuk tangannya dan berkata riang,“Jangan khawatir, Opa nggak bilang apa-apa tuh waktu terakhir aku ziarah ke Cikutra!”

“Bercanda kamu… It’s funy!” Haekal seketika tergelak geli.
“Sungguh, jangan merasa bersalah, ini jalan kita…”

Siapa pernah mengira Haekal yang sejak kecil bercita-cita studi teknik informatika di Jepang, malah menjadi seorang militer? Siapa mengira pula kalau Zakia yang sejak lama ingin menjadi dokter, malah nyangkut di teknik informatika? Entah di mana salah kaprahnya, namanya ujug-ujug ada di daftar teknik informatika, bukan di kedokteran.

Siang itu mereka berjalan kaki menuju sebuah penginapan. Untuk pertama kalinya Zakia melihat sepupunya melepas seragam militer, dan menggantinya dengan pakaian santai. Celana jeans hitam dengan t-shirt berlengan sportif. Sekilas Haekal tampak mirip dengan para pemuda Jepang lainnya yang berlalu-lalang di sekitar mereka. Ayah kandung Haekal etnis Manado, mereka bercerai dan ibunya menikah lagi dengan pria Belanda.

“Pasti dia anak orang penting dari Indonesia, heh?” komentar Haekal.
“Dia… siapa?” Zakia tersentak. Mereka sudah sampai di depan meja resepsionis ryokan. Tak ada siapapun di situ. Keduanya menunggu beberapa saat dengan sabar.

“Orang yang sudah menyerobot posisimu itu!” sergah Haekal.
Wajah Zakia memerah. Pikirannya sesaat melayang ke pulau Pusan, rekan-rekan aktivis mahasiswa Muslim Internasional tengah baksos di leprosarium, rumah sakit kusta. Ia tak bisa ikut sebab telah telanjur janji kepada sepupunya untuk menjadi pemandunya.

“Naah, kamu melamunkan siapa?” ejek Haekal. “Ayo katakan kepadaku, kamu sudah punya pacar kan?”
“Ah, kamu! Nggak ada pacaran di kamus hidupku…” elak Zakia cepat.  Haekal tersenyum menang. “Jadi seorang cewek, heh, cantikkah?”
“Tentu saja, dia sangat cantik dan glamour…” Zakia tertawa kecut.
“Pasti dia nggak pantas jadi anak kedokteran, ya?”
“Ngng… lihat saja nanti!”

Haekal menggeram.“Apa dia tahu kamulah orangnya?”
Zakia menggeleng ragu. “Sudahlah, jangan ungkit lagi yang sudah lewat. Aku senang kok kuliah di teknik informatika…”
“Gratis lagi, ya?” Haekal terkekeh. Zakia cengar-cengir.         
"Konnichiwa gakusei-san… irasshaimasen,”6 kata seorang wanita paro baya dengan kimono tradisional Jepang, akhirnya muncul juga dari belakang. Ia membungkuk dengan sangat santunnya.
     
Konnichiwa Okusan, domo arigato gozaimasu,“7 balas Zakia tak kalah santun, membungkukkan badannya dengan baik sekali.

Woo, cara membungkuk ala Jepang ini telah ia pelajari secara khusus dari Mayumi. Pemilik ryokan terkesan sekali, menatap wajah Zakia sambil tetap tersenyum ramah. Sepasang matanya menyiratkan penghormatan dan kekaguman seorang ibu terhadap anaknya.

“Kamu gakusei-san, dari Universitas Tokyo?” ujarnya langsung menebak. Ia mengerutkan keningnya, mengira busana yang dikenakan gadis itu adalah mode mutakhir anak-anak muda.

“Iya… Bagaimana Nyonya tahu?” Zakia menatapnya terheran-heran.
Sesungguhnya mudah saja bagi Okusan untuk menebak asal mahasiswa yang datang ke penginapannya. 

Kebanyakan mahasiswa Universitas Tokyo sangat khas, memiliki sorot mata cerdas, percaya diri dan tahu tatakrama tradisional Jepang. Tapi mata Zakia sama sekali tidak sipit. Ia memiliki sepasang mata lebar yang bagus sekali. Dan busana yang dikenakannya, sunguh menarik, pikir wanita itu.

Gakusei-san mahasiswa asing?” tanyanya pula ramah sekali.
Zakia mengangguk. “Begitulah, Okusan…”
“Tapi bahasa Jepangmu sudah lumayan,” pujinya tulus. “Dan busanamu itu unik sekali. Apa ini model musim semi?”

Zakia sudah terbiasa dengan tatapan aneh begitu. Mereka memandang heran ke arah busana yang dikenakannya. Itu tak membuatnya tersinggung apalagi rendah diri. “Terima kasih, ini busana Muslimah, Nyonya…”
“Ooo… Kamu Muslim ya?”

Tiba-tiba Okusan balik menoleh ke arah Haekal dengan tatapan sinis, kecewa dan marah.
“Kamu sangat beruntung bisa menggaet gadis cantik dan kelihatannya tahu adat ini. Tapi ingat, kami tak suka kalau kamu hanya memanfaatkannya!” cerocosnya tajam dan ketus sekali. “Mentang-mentang tampangmu mirip Takeshi Kaneshiro, hah! Sungguh menjijikkan, memalukan nama bangsa saja…”

Kini Haekal celingukan, bingung. Ada kemarahan, pikirnya. Untuk sesaat Zakia pun terkesima, perlahan wajahnya merah padam. Ia segera menyadari kesalahpahaman. Wuih, apa kata rekan-rekannya di daigaku8 nanti!

“Kami bersaudara, Okusan. Percayalah, dia sepupu saya,” Zakia bicara serius dengan wanita itu. Menjelaskan bahwa ia telah salah paham, bila  menganggap Haekal pemuda Jepang yang telah menggaet gakusei asing.

Sementara Haekal semakin bingung. Begitu Zakia selesai bicara, Okusan balik menghadapi Haekal kali ini dengan sikap santun yang sangat berlebihan.

Sumimasen…  Koko ga machigatte iru to omoimasu9 katanya dalam sikap amat malu dan merasa sangat bersalah. Okusan dengan serius sekali masih akan melanjutkan acara bungkuk-membungkuknya, jika Zakia tak segera mencairkan suasananya. Membisikkan sesuatu ke telinga Haekal, hingga pemuda itu tertawa ditahan.

"Tidak apa-apa, Madame,” ujar Haekal ramah dalam bahasa Inggris. “Tampang saya memang mirip orang Jepang. Sudah sering saya alami hal seperti ini di Holland. Bahkan di negeri leluhurku sendiri, Indonesia… Aha, ternyata Okusan paham bahasa Inggris!” pujinya pula tulus.

“Ooh, Indonesu… saya tahu itu di Bali?” komentarnya.
Beres urusan pesan tempat, keduanya melihat kamar yang telah dipesan. Ditemani oleh seorang putri Okusan yang mendekati mereka dengan sikap amat pendiam, serba canggung, rikuh dan gerak-gerik lamban. Sehingga sepintas lalu pun Haekal sudah bisa menarik kesimpulan, gadis itu seorang terbelakang mental. Itu langsung disampaikannya kepada Zakia.

“Psst, sok tahu kamu!” tegur Zakia menatap iba ke arah gadis bertubuh gemuk pendek itu. Dalam hati ia terpaksa mesti membenarkan kesimpulan kilat sepupunya. Hebat, pikirnya, seorang militer muda dan punya pengetahuan atau bakat psikolog juga.

Sementara Okusan harus melayani para tamu yang mulai berdatangan. Kebanyakan tamunya adalah turis asing yang berminat merasakan nuansa tradisional Jepang. Biasanya mereka menginap satu-dua malam sebagai transit, kemudian akan melanjutkan perjalanan ke lokasi-lokasi wisata lainnya.

Tampaknya Haekal merasa puas dan menyetujui untuk tinggal di situ selama beberapa hari. Ketika keduanya kembali ke depan, Okusan telah menanti mereka dengan wajah harap-harap cemas.

“Jangan khawatir, Okusan,” Zakia tersenyum lembut kepadanya. “Dia setuju untuk menginap di sini beberapa hari…”
Haik, kami sangat beruntung, domo arigato,” Okusan tampak lega sekali.

Nihon-go wa wakarimasen… sumimasen!”10 tiba-tiba Haekal menyela, pamer hasil studi kilatnya dari kamus praktis pemberian Zakia.

Okusan dan Zakia menoleh ke arahnya, menatap Haekal dengan surprise. Haekal acuh tak acuh melanjutkan hasil pembelajaran praktisnya selama di dalam kamar, ketika Zakia tengah memperhatikan segala sesuatu di sekitarnya sambil berusaha keras mengajak berkomunikasi putri Okusan. Usaha yang sia-sia, gadis itu hanya menyahut dengan mengiyakan atau mengangguk.

“Ei-go de hanashite kudasai… yeah, yukkuri... Wakarimasu ka?”11
“Haik, wakarimasu!”12 sahut Okusan sambil lagi-lagi membungkukkan tubuhnya, masih dalam perasaan bersalah.

Okusan, eh, apa itu ya, Zakia? Yeah, beautiful too!” Haekal mengerling nakal. Wajah Okusan merona tapi ia kembali membungkuk. “Haik!” katanya.
Zakia menahan tawa, merasa iba juga kepada Okusan. Disambarnya lengan sepupunya dan berkata,  

“Sudah, jangan bercanda lagi. Kita cari makan di luar, hayoo!”
“Sayonara, Okusan!” Haekal sambil tertawa bandel ke arah pemilik ryokan.
“Kami pergi dulu, Okusan…” kata Zakia pamitan.
Ups, hampir saja ia mengucap salam lekum-nya.

Sayonara, gakusei-san, ja mata. Sampai jumpa!” balas Etsuko-san, lagi-lagi mengantar kepergian mereka dengan membungkuk takzim.
“Lebih hormat daripada orang Jawa, ya?” Haekal tertawa lepas dan geleng kepala sesampai mereka di luar. Ia pernah tiga kali mengunjungi Indonesia, berkunjung ke Yogya dan Bali.

Mereka berjalan kaki menuju restoran yang tak jauh dari penginapan.
“Kamu mau mencicipi sushi atau kujira?” tanya Zakia ketika sudah sampai di sebuah restoran kecil.
“Aku mau makan semuanya, semuanya saja!” sahutnya.

Zakia menatapnya keheranan. Apakah dia selalu begitu antusias?
“Semuanya, sungguh semuanya?” tanya Zakia minta ketegasan.
“Tentu saja, jangan sia-siakan kesempatan selama di Negeri Ninja ini. Semuanya, yap!” Haekal amat bernafsu, kemudian cepat sekali memesan kepada seorang pelayan. “Aku mau yang ini, ini dan ini juga ya…”

Ia menunjuk contoh makanan yang dipajang di rak, replika makanan itu selalu tampak menggiurkan dan mengundang selera siapapun yang melihatnya. Zakia menatap daftar menunya dengan cemas, tapi membiarkannya saja.

Beberapa menit kemudian, Zakia melihatnya kepayahan terhuyung-huyung menuju kloset. Ketika ia kembali wajahnya tampak pucat pasi, masih terengah-engah serdadu Kerajaan Belanda itu menunjukkan protesnya.

“Kamu kelewatan, Za,” keluhnya. “Jangan pernah lagi ajak aku ke restoran Jepang itu, terutama sushi13 dan kujira14-nya. Mereka betul-betul mau meracuni perutku, hehhh, aduuuhhh…”

Zakia menatapnya terkejut dan iba sekali, tak menyangka keadaan sepupunya ternyata jauh lebih parah daripada dirinya, ketika pertama kali datang dan “dijebak” begitu oleh Mayumi. Kedua jenis makanan khas Jepang itu memang sungguh-sungguh... nggak cocok dengan perut mereka!

Di atas kepala mereka mega-mega putih menghiasi langit musim semi. Di mata Zakia, gerombolan mega itu mirip arakan kapas yang menyimpan harapan, impian dalam menjalani lakonnya selama mukim di negeri Sakura.

Siapa mengira kalau kebersamaan mereka selama musim semi itu di kemudian hari ternyata membuahkan hikmah? Terutama untuk Haekal. Sebab tiga tahun kemudian sepupu Zakia yang serdadu Kerajaan Belanda itu, menyatakan dirinya sebagai pemeluk Islam. Meskipun untuk itu ia harus dikucilkan oleh rekan-rekannya.
***



1 “Selamat datang di Jepang…”
2 “Siapakah nama Anda? Perjalanan Anda menyenangkan?”
3 Terima kasih
4 maaf permisi
5 penginapan tradisional Jepang
6 “Selamat siang nona mahasiswi. Selamat datang!”
7 “Selamat siang Nyonya, terima kasih.”
8 kampus
 9 “Maafkan… Saya kira ada kekeliruan di sini…”
10 “Bahasa Jepang saya payah… Permisi!”
11 “Tolong bicara dalam bahasa Inggris… yeah pelan-pelan… Anda mengerti?”
12 “Ya, saya mengerti.”
13 potongan kecil makanan mentah hasil laut di atas nasi
14 bistik ikan paus
Posted in: | Senin, 23 Maret 2015