Latest Stories

Subscription

You can subscribe to pipietsenja.net by e-mail address to receive news and updates directly in your inbox. Simply enter your e-mail below and click Sign Up!

TOP 5 Most Popular Post

Other Post

Other Post



Trio Nenek Meneror BMI Taiwan




Taipei, 28 Maret 2014
Setelah celingukan dengan perasaan bimbang dan cemas telantar di negeri orang, akhirnya kami menemukan penjemput yang dimaksud Kuan Ami. Dua sosok berjilbab itu menyembul di antara kerumunan penjemput, sungguh tampak manis dan terutama melegakan hati kami.

“Assalamu’alaikum, Bunda Pipiet Senja,” sapa Kiswah, meraih tanganku dan memelukku erat tak ubahnya seorang anak terhadap ibu yang dirindukannya.”Saya Kiswah dan ini Fairus. Selamat datang di aiwan, ya Bunda.”

“Mejeng dulu, ayo, jepreeet!” pintaku sebelum lupa.
“Jangan sampai kepeleset seperti tadilah, Teteh,” kata Sastri Bakry, nyengir. Ketika di eskalator dari pesawat menuju Imigrasi, saking kebelet narcisan, nyaris saja beliau terpeleset. Hihi.

Ini masih belum lengkap dengan Fanny Poyk


Sastri Bakry, single parent setiap kali diambil fotonya senantiasa penuh gaya. Tangan diangkat, kaki ditarik bak seorang penari, alamaaak, pokoknya bergayalah. Maklum, ketika muda Sastri Bakry adalah penari, penyanyi, seniman multitalenta.

“Teteh, matanya jangan merem melulu,” pintanya mengingatkanku.
Aku hanya terkekeh geli.”Memang sudah mengantuklah ini, Uni sayang,” sahutku.
Fairus dan Kiswah bergantian mengambil foto kami. Puas jeprat-jepret, aku memberi tahu mereka bahwa satu lagi pembicaranya yang harus dijemput.

“Mengapa bisa beda pesawat, Bun?” tanya Kiswah.
“Kami berdua dapat tiket Garuda dengan harga masih terjangkau karena jauh hari belinya. Sedangkan Fanny baru belakangan menyatakan ingin bergabung. Harganya sudah melambung. Jadi, ya, semampunya, dapat tiket Air Asia dan baliknya Tiger Air,” jelasku jadi panjang kali lebar.

Sebenarnya perutku mulai menagih isi, tapi kami sama tidak tahu tempat makanan halal di areal Thoyuan. Setelah bolak-balik mencari resto, akhirnya kami memutuskan menuju Terminal 2, tempat kedatangan Fanny.

“Fheeewww!” Terasa jantungku senut-senut. “Ternyata jauh juga, ya, pake kereta segala,” gumamku sambil mengatur napas.

Samar-samar kudengar Sastri Bakry menjelaskan tentang kondisi kesehatanku kepada dua mahasiswi University National of Technolog and Sains Taiwan.

“Tahu gak kalian, adik-adik. Teteh Pipiet Senja ini luar biasa loh tangguhnya. Kemarin malam dia masih ditransfusi di RSCM. Mendengarnya pun aku selalu merasa cemas sekali. Eh, lihatlah, sekarang sudah keluyuran di Taipei. Jalannya lebih cepat dari kita pula.”

“Weeei, Uni, kalau ngomongin jangan di depan hidung orangnya,” gerutuku berlagak kesal malah membuat mereka tertawa geli. Pasti gayaku mirip turunan Sule.

Sambil berbincang dan senda gurau diseling narcisan, tibalah kami di Terminal 2. Pesawat yang ditumpangi Fanny Jonathans Poyk belum mendarat. Kami menunggu dengan tertib di areal yang disediakan khusus penjemput. Ada beberapa layar LCD ukuran raksasa, sehingga kami bisa melihat mereka yang sedang berjalan kea rah pintu kedatangan.

Aku membuka Tab dan mencoba koneksi dengan Wifi, berulang kali dicoba, minta password terus. Bosan dan capek sendiri, akhirnya kupakai jeprat-jepret sajalah itu Tab pemberian Butet.

Kutengok ke arah bangku Sastri Bakry, masya Allah, beliau tidur dengan lelapnya, Saudara. Bisa kubayangkan bagaimana lelahnya dia, sehari sebelum pergi dia baru keliling dari Aceh dan Malaysia. Sempat terbersit untuk mengambil pose tidur yang bukan di ruang sidang itu, ah, mana tega!

“Mana, ya, Bun? Eh, seperti apa Bunda Fanny itu?” tanya Kiswah untuk ke sekian kalianya mencermati orang yang baru keluar di pintu kedatangan.

“Orangnya cantik asli perempuan NTT,” sahutku sambil serius memelototi layar LCD tepat di depan mata.
“Apa ada masalah di Imigrasi, ya Bun?” entah kata siapa, kurang jelas.

“Jangan kuatirlah, Fanny ini jurnalis senior sudah keliling Amerika, pintar bahasa Inggris,” bantahku menenangkan diriku sendiri.

Hingga orang terakhir penumpang Air Asia alias kru pesawat; pilot berikut pramugara dan pramugarinya. Belum juga kunampak sosok yan kami cari.
“Sudah habis sepertinya penumpang Air Asia….”
“Iya, apa dia langsung ke arah kiri sana?”

“Itu dia, heeei, Fanny!” seruku melambai-lambai girang, sudah seperti bocah yang baru menemukan mainan barunya saja. Hihi.

Fanny tertawa melihatku, gegas mempercepat langkahnya. Begitu sudah dekat kurangkul dia, memeluknya erat-erat.”Aduhai, apa yang terjadi di dalam sana, Fanny?” tanyaku penasaran.
”Tadi sempat ditahan di Imigrasi. Gara-gara aku tidak bisa jawab alamat selama di Taiwan. Petugasnya minta aku menghubungi temanku di sini. Lah, ini hapeku mati. Ada setengah jam kali hebohan ngotot sama petugas,” lapor Fanny tak kalah hebohnya.

Bersambung




Posted in: | Senin, 14 April 2014


Sekarang; inilah si Manini

Lembaran baru, masa-masa pernikahan yang kedua kalinya ini pun ternyata tak seperti yang kubayangkan. Ya Allahu Akbar, mengapa masih saja dibalun oleh kemelut?
Masalah pertama, perilaku suami dari hari ke hari memerlihatkan super egoisnya; ketakpercayaan, dan kecurigaan yang membuta. Parahnya kini selalu berakhir dengan tindak kekerasan.
Masalah kedua, ibu mertuaku yang selalu ingin ikut campur urusan rumah tangga. Namun, itu masih bisa kutahankan, bagaimana pun penghinaan yang harus kuterima dari ibu suamiku itu, tak mengapa. Kuanggap dia telah sepuh, mungkin sudah memasuki masa pikun.
“Jadi, kita sebagai anak muda harus banyak memahaminya, banyak memaafkannya,” demikian terngiang kembali wejangan ayahku.
Sungguh, tabiat suami yang pencemburu dan pencuriga parah itu sungguh menyiksa lahir batin, jiwa dan ragaku.
Adik satu-satunya itu, seorang ayah dari dua anak yang menumpang di rumah kontrakan kami. Begitu kami memutuskan untuk membangun lahan di perkampungan Cikumpa, suami mempekerjakan adiknya untuk membuat sumur.
Dia mengatakan lebih baik uangnya diberikan kepada adik daripada kepada kuli. Adiknya dibantu oleh seorang keponakannya yang juga datang dari kampungnya di Tapanuli Selatan. Urusan ini aku menyerahkan semuanya kepada suami. Aku hanya berusaha mencari dana dengan menjual naskah-naskahku kepada penerbit.
“Jangan kamu rusak adikku itu dengan kejalanganmu!” tudingnya satu hari dengan nada keras, menikam hatiku yang terdalam.
“Kenapa bicara begitu hina terhadapku?”
“Karena kamu memang tak bisa kupercaya!”
Entah berapa kali lagi aku harus mematuhi permintaannya untuk bersumpah setia, selalu dengan kesaksian Al Quran. Sebanyak itu aku bersumpah, tetapi sebanyak itu pula dia menyakiti hatiku, menghancurkan kehormatanku dengan tudingan-tudingannya yang tak masuk akal.
“Pokoknya, kalau mau rusak, ya, rusaklah dirimu sendiri! Jangan pernah libatkan adik kandungku, oke!” sergahnya dengan wajah kepiting rebus.
“Wow! Apa gak salah tuh? Tanpa dirusak siapapun, adikmu itu memang sudah rusak!” seruku dengan hati panas.
Itu memang benar, entah berapa orang yang telah melaporkan kelakuan adiknya yang suka mengganggu perempuan. Makanya dibawa dari kampung, dia sedang bermasalah dengan dua perkawinan yang kandas.
Saat itu, dia baru saja memulangkan istrinya yang kedua, konon, karena kesukaannya yang mata keranjang dan terlalu menurut terhadap ibunya. Maksudnya dalam konteks negatif, jika kata ibunya harus menceraikan istri, maka dia akan melakukannya tanpa membantah!
“Jangan lancang, ya, tutup mulutmu itu!”
“Aku berhak bicara apapun di rumah ini! Bukankah ini rumah yang kukontrak dengan uangku sendiri?” sindirku kian panas hati.
“Diamlah kau!” serunya menggeram.
“Aku takkan diam jika membela kebenaran…”
Plaaak, plaaakkk!
Dua pukulan keras menghantam wajahku dengan telak. Aku menjerit kesakitan. Haekal seketika terloncat dan berusaha menggapaiku.
“Diam kamu, anak kecil jangan ikut-ikut!” ancamnya dengan lahar angkara yang bisa membunuh jiwa seorang anak kecil.
“Jangan, jangan sakiti Mama, kasihan, Pa,” suaranya terdengar lebih merupakan erangan daripada seruan.
Aku mengawasi gerak-gerik lelaki itu. Ya, aku sudah bersumpah, apapun yang terjadi aku akan menjadi benteng anakku!
Meskipun tubuhku harus hancur-lebur, jiwaku luluh-lantak. Demi Allah, takkan kubiarkan dia menyakiti anakku!
Sekali itu, dia tak melanjutkan aksinya, langsung pergi lagi. Dia sedang menyelesaikan S1 yang bertahun-tahun tertunda. Tanpa dukungan finansial dariku, makanan dan keperluan sehari-hari yang harus kutanggung, kemungkinan sekali mimpinya itu takkan pernah terkabulkan.
“Anakku, Cinta, dengarkan Mama, ya Nak,” kataku setelah kuraih tubuh anakku yang meringkuk di sudut kamar, terasa gemetar saat berada dalam dekapanku.
“Mama, tidak apa-apa?” tanya bocah lima tahun itu, seolah tak mendengarku,  matanya mencari-cari tapak yang mungkin membekas di wajahku.
“Tidak apa-apa, Nak.  Sekarang dengar, Nak, Mama mohon kepadamu, ya Cintaku….”
“Mama jangan mohon-mohon segala,” rintihnya terdengar menyayat hatiku.
“Harus, dengar sekali lagi, Mama mohon. Kalau Mama dan Papa lagi berantem, Ekal jangan pernah mendekat, jangan pernah, jangan pernah! Pergilah jauh-jauh, ya Nak, ya, sungguh Mama mohon….”
“Tapi, bagaimana kalau Mama diapa-apakan?” Sepasang matanya yang bening penuh dengan kecemasan dan ketakutan.
“Tak mengapa, Cintaku. Mama akan menghadapinya sendiri, sepakat ya Nak, sepakat?”
Aku tak tahu apakah dia memahami perkataanku atau sebaliknya membuatnya bingung, ketakutan dan ngeri. Kurasa, saat itu aku telah melakukan suatu ikhtiar, sesuatu yang datang dari naluri keibuanku.
Acapkali aku harus melakukan semacam mencuci otak anakku. Mengatakan berulang kali, ratusan dan ribuan kali bahwa yang terjadi di depan matanya; tidak pernah ada, tidak pernah ada, tidak pernah ada. Semuanya akan baik-baik saja!
Situasi yang kuhadapi ternyata lebih parah dari bayanganku. Di sini, aku tak punya pembela, para tetangga warga Depok asli itu sungguh sama sekali asing bagiku. Mereka terkesan lebih suka mencemooh dan iri terhadap para pendatang seperti kami.
Sementara keluargaku, sampai beberapa waktu kemudian, tak seorang pun yang muncul. Kecuali surat-surat Emak, itupun isinya hanya berupa keluhan; tak punya duit, dan menuntutku untuk membantu biaya sekolah adik-adik. Sesuatu yang telah membuat suamiku berang setengah mati, hingga menuntutku untuk bersumpah; bahwa aku takkan pernah mengeluarkan duit sepeser pun tanpa sepengetahuan dan atas izinnya!
Suatu hari, ketika aku sedang menyelesaikan sebuah novel yang akan dimuat secara berkala di salah satu majalah Selecta Grup. Ruang kerjaku, sebuah meja belajar yang kubeli dari loak, terletak di sudut kamar. Tak jauh dari situ, anakku asyik pula membaca buku sambil berbaringan di lantai.
Aku sedang asyik-masyuk, mengarungi semesta kata, meraih selaksa mimpi dan harapan demi inspirasi yang bermakna untuk pembaca. Tiba-tiba tanpa babibu, braaakkk!
Pintu kamar ditendang keras sekali hingga menimbulkan suara yang menggelegar dahsyat di kupingku.
“Dasar perempuan murahan! Perempuan jalaaang! Tak tahu malulah kau, setan, iblis betina yang merasuki otak dan hatimu itu…”
Belum sempat kutata keterkejutanku, tak sempat pula kutanya alasannya, begitu selesai menyemburkan kata-kata beracunnya itu langsung; braaak!
Dia telah menghantam meja, mesin ketik pun kontan terjungkal, kertas berceceran. Itulah hasil kerjaku selama berbulan-bulan, kini berserak ke segala penjuru kamar!
Baaak, buuuk, buuuk… deegggh… desss!
Pukulan beruntun tanpa mampu kutahan menyergap diriku, menghantam dada, kepala, tengkuk, kaki, paha dan entah apalagi. Tubuhku limbung, kucoba meraih sesuatu, tapi yang kulihat sosok mungil kesayanganku itu telah bangkit, bergerak cepat sekali ke arahku.
Ya Allah, mau apa dia?
“Jangan, Nak, sana pergiii!” seruku tertahan.
Telanjur, dia telah meraihnya dan melemparkannya ke atas kasur!
“Ibliiiiis!” jeritku meradang tak tertahankan lagi. “Jangan sakiti anakku, jangan sakiti anak kecil, setan, biadab! Pecundang parah!”
Kurasa jeritanku yang meraung-raung bagaikan hewan terluka, berhasil mengejutkannya, terbukti dia berhenti melakukan aksinya. Aku yang telah terjajar, berjuang keras untuk bangkit, kemudian merangkak ke arah anakku. Begitu berhasil menyatukan tangan kami, kuhela tubuhnya agar mendekatiku dan aku mendekapnya, mendekapnya erat-erat.
Bukankah aku telah bersumpah untuk memasang badan di antara lelaki jahim itu dengan tubuh mungil buah hatiku? Demi Allah, ke mana sumpah atas nama Tuhan itu?
“Maafkan Mama, Nak, maafkan. Mama tak bisa melindungimu, ya Nak, maafkan, ampuni, ampunilah Mama,” erangku menciumi wajahnya yang jelas syok berat.
Berhenti sejenak agaknya bukan berarti akan mengakhirinya. Lelaki itu, orang yang telah mengucap sumpah saat walimahan (kedua!) itu, bagaikan tersengat kembali. Ia bergerak menghampiri kami, sekali ini aku berhasil meraih kekuatan, entah dari mana kekuatan itu!
“Jangan sakiti anak tak berdosa ini, demi Allah, demi Rasulullah!” seruku lantang, kurasa menggema ke pelosok tetangga di kawasan itu.
Namun, ajaib sekali!
Kutahu persis, tiada seorang pun sosok yang muncul, sekadar menanyakan keadaanku dan anakku. Tiada, tiada seorang pun!
Taaap!
Tangannya telanjur telah terangkat, tapi aku berhasil menangkapnya. Kemudian gigiku menggigit kuat-kuat kepalan tangan yang semula diarahkan ke kepala anakku itu.
Kreeekkk!
“Lepaskaan!” teriaknya, terdengar bunyi gemeretak sekali lagi; kreeek!
Aku melepaskannya saat terasa gigi-gigiku menancap sesuatu yang keras, mungkin di tulangnya, entahlah. Sosok itu kemudian bergegas mengambil sesuatu dari lemari, kurasa uang yang selalu disembunyikannya. Sementara mulutnya terus menceracau.
“Apa salahku?” bisikku nyaris tak terdengar.
“Kami tadi berpapasan di jalan….”
“Siapa?”
“Adikku tentu saja! Tampak dia sudah rapi, pasti baru mandi keramas. Dia bersenandung, kulihat bahagia sekali. Berapa kali kamu sudah memuaskannya, hah?!”
“Astaghfirullah al adziiim…”
Kuseru nama-Mu dengan segenap azamku, seluruh keyakinan akan Kasih-Mu, demi nama-Mu; aku sungguh tak rela!
Tubuhku menggigil hebat dan berujung dengan perasaan hampa luar biasa. Seluruh jiwa-ragaku seolah membeku, kukatupkan rahangku yang terasa sakit. Ada darah yang mulai merembes melalui gigi-gigiku. Kurasa dua gigi depanku nyaris lepas, entahlah.
Tapi aku tak sudi lagi mengaduh, tak sudi!
Karena aku tak menjawabnya, dia pergi sambil terus menyumpah serapahiku, menudingku sebagai tukang selingkuh, perempuan keji yang telah menyeleweng dengan adik ipar sendiri!
“Semoga Tuhan membalas perbuatanmu ini. Demi Allah, sumpah serapahmu akan berbalik menjadi bumerang kepada dirimu,” desisku menyertai langkahnya.
Bunyi derap kakinya terasa berdebam-debam, menjauhi kami. Bunyi langkah yang di kemudian hari lama sekali menjadi momok menakutkan dalam hidupku. Selalu menimbulkan perasaan ngeri tak terjabarkan setiap kali mendengarnya. Sebuah luka hati yang lama tersembuhkan!
Kemarahan terasa telah mencapai ubun-ubunku. Namun, sesungguhnya, rasa sakit yang melanda sekujur tubuhku tak seberapa dibandingkan dengan kepedihan yang menghunjam di hatiku, begitu dalam, sangat dalam!
Beberapa menit aku masih memeluk anakku, tak tahu harus berbuat apa, sampai kemudian kurasai ada yang menetes dari sudut-sudut mulutku. Aku menyusutnya dengan jari-jemariku sambil kucermati sesuatu yang terasa basah dan asin; darah!
Anakku mendongak dan memandangi wajahku lekat-lekat. Sepasang matanya yang bening seketika membelalak, tangannya tampak gemetar saat terangkat dan menyentuh wajahku.
“Mama berdarah, dari mulut Mama ada darah mengalir. Tuhan! Bagaimana ini, bagaimana? Kita ke Dokter saja, ya Ma, ya?” ceracaunya terdengar panik.
Aku meraih telapak tangannya, kugenggam erat-erat. “Gak perlu, Nak, ini hanya, mm, kayaknya gigi Mama mau copot.”
“Copot? Gigi Mama yang mana, ayo, coba lihat?”
Kututup mulutku dengan telapak tangan. “Gak apa-apa, bukan copot…”
Kurasa-rasai sesuatu, dua, ya dua gigi depan yang bergerak-gerak, goyang di mulutku.
“Cuma bergeser, baik, sudahlah, kita pergi ke Dokter, Nak!”
Kalau aku memutuskan pergi ke Dokter itu bukan karena dua gigiku yang hendak berlepasan. Kurasa, lebih karena kekhawatiranku dengan jiwa anakku. Ya, kusadari betul tentu ada imbas kekerasan itu terhadap jiwanya yang mungil. Hanya menuruti naluri seorang ibu, kubawa anakku keluar rumah dan menjauhi TKP. Setidaknya untuk sementara.
“Ini obat untuk menguatkan gigi-giginya. Kita lihat dalam beberapa  hari ini, kalau masih goyang juga terpaksa harus dicabut,” demikian kata Dokter gigi yang kami datangi.
Gigi-gigi itu sempat menjadi masalah buatku selama beberapa bulan kemudian. Hingga akhirnya aku merelakannya untuk melepaskannya; selamat tinggal gigi-gigi tersayang!
Sejak itulah aku memakai dua gigi palsu untuk menutupi ompong pada umur menjelang 30-an.
@@@


Posted in: | Jumat, 11 April 2014
Bandara Thoyuan, Taipei Internasional


Taipei, 28 Maret 2014
Setelah lima jam perjalanan dengan pesawat Garuda ditambah empat jam diantar putriku Butet dari Cibubur ke Bandara Cengkareng, akhirnya tibalah kami di Negeri Formosa. Jam menunjukkan pukul sembilan malam waktu Taiwan.

Sastri Bakry yang duduk di bangku depanku sudah bangkit lebih dahulu, kulihat dengan lincah tangannya menarik tasku dari kabin.

“Wah, terima kasih, Uni,” kataku sangat bersyukur. Kaki-kakiku terasa kaku dan tanganku kebas kedinginan.

Jangankan untuk menarik tas dari tempat yang sulit kujangkau karena tubuhkiu pendek. Untuk bergeser dari kursi dekat jendela ke lorong itu saja lumayan kesulitan. Jadi, tak habis pikir dan sangat kagum kepada Sastri Bakry, sastrawati Sumbar yang Irjensus Kemendagri ini. Tiap hari terbang terus ke pelosok negeri untuk memeriksa keuangan para petinggi NKRI. 

Sungguh, kekuatan seorang perempuan Minang yang patut diacungi jempol, Saudara!

Bagiku ini adalah kunjungan kedua kalinya ke negeri di mana novel-novel karyaku telah kutambatkan di hati para BMI, Buruh Migran Indonesia. Kami punya grup Whats-App yang bisa setiap saat kuintip, berbincang akrab, senda-gurau. Kadang sangat serius mereka mengungkapkan berbagai kesulitan; baik saat menulis maupun dalam memenuhi tugas mereka sebagai pekerja informal.

Berdiskusi, berdebat panjang lebar saling sahut-menyahut tentang kepenulisan. Hingga tiba-tiba ada satu orang melemparkan kasus temannya yang sedang kaburan, karena dianiaya majikan. Lantas hebohlah saling menanggapi, intinya berniat ikut mencarikan solusi.

Grup yang sangat unik yang takkan kutemukan di mana pun, pikirku. Setiap kali melongok; ada saja bahan diskusi yang membuat semua anggota bangkit dari tidur leyeh-leyehnya, lantas tergerak untuk ikut menyatakan pendapat atau sekadar komentar iseng.

Seperti sudah menjadi satu keluarga besar laiknya, hingga masing-masing mendapat julukan atau panggilan tersendiri seperti; Bu Te untuk Kuan Ami, Ketua FLp Taiwan, Bude Ndut untuk Radytha, Ombot untuk duo botak, Ryan Ferdian Darsudi dan Justto Lasso. Padahal gak botak-botak amat tuh duo bocah, serius.

Belakangan Ryan pundung alias menarik diri dari grup, entah apa alasannya, belum lapor kepada Manini, ini panggilan kesayangan mereka untukku.

“Sejak sekarang kami pantau Manini, ya,” kata Kuan Ami via WA, itulah pesan terakhir yang kuterima sebelum kumatikan ponsel di atas pesawat. Menurutnya, ada dua mahasiswi dari FORMMIT yang akan menjemput kami di Bandara Taipei, Thoyuan.

“Teteh,” cetus Sastri Bakry tiba-tiba, bikin jantungku seketika terkesiap. “Seperti yang Teteh bilang; ngapain bawa duit? Jadi aku gak bawa duit loh, Teteh,” sambung Sastri Bakry setiba kami di areal Bandara Thoyuan yang terasa sepi, lengang.

Sungguh jauh berbeda dengan suasana Bandara Cengkareng, selalu hiruk-pikuk dengan kuli serta para penumpangnya yang tidak peduli budaya antri.

Sosok tinggi ramping dan sintal itu berdiri sejenak di depan konter Money Changer, matanya menyapu daftar kurs asing.”Kan kita bawa buku, semoga saja laku buku kita, ya Teteh. Kalau dibawa balik lagi, waduuuh, cape deh.”

Aku mengangguk dan sama berpengharapan. Jadi membayangkan 200 eksplar buku yang kami bawa pada kunjungan pertama, 2013, laris bak kacang goreng. Saat itu aku memboyong dua petinggi RRI, Dewan Pengawas dan DirKeuangan serta kru Bilik Sastra VOI RRI, Siaran Luar Negeri. Kami meluncurkan buku antologi cerpen karya peserta dan pemenang program Bilik Sastra yang aku asuh.

“Kita dijemputnya sama siapa nih, Teteh?” tanya Sastri, kami sudah berada di Imigrasi, antri tertib dengan orang yang tidak seberapa banyak itu.
“Anak-anak FORMMIT Forum Mahasiswa Muslim Taiwan, Uni. Semoga saja mereka bisa mengenali kita,” sahutku santai saja, menyilakannya lebih dahulu berhadapan dengan petugas Imigrasi Taiwan.

“Nah loh! Teteh belum pernah ketemu mereka?” Sastri tampak agak terkejut, terheran-heran.
“Jangankan ketemu, lah wong kenal saja belum. Hihi.”

Jika seorang Sastri Bakry sebagai petinggi diundang ke suatu negara, niscaya ada rombongan panitia khusus, sesuai protokoler. Sedangkan setiap kali Sastri ikut bersamaku, takkan pernah ada yang namanya protokoler dan panitia khusus.

Sastri pernah kuajak blusukan di Hong Kong dan Macau, syukurlah tampaknya baik-baik dan bahagia saja. Meskipun kami tinggal di ruang sempit, bahkan di shelter penampungan BMI bermasalah.

Sastri Bakry ikut berkontribusi besar membersamai kami dalam menyebar Virus Menulis di kalangan BMI/TKI. Kebersamaan kami di Negeri Beton itu melahirkan dua buku, satu karyaku satu lagi karya BMI Hong Kong; Kepada YTH Presiden RI, Surat Berdarah Untuk Presiden, Penerbit Zikrul Hakim, 2012.

Dalam tempo tak kurang dari 10 menit kami berdua sudah beres urusan Imigrasi. Tak ada yang menanyakan; “Mau apa ke Taiwan, berapa lama dan tinggal di mana?” Apalagi diminta memperlihatkan Dollar di dompet kami, sebagaimana sering terjadi di Imigrasi Hong Kong yang urusannya paciweuh pisan alias njelimet.

“Bagusnya kinerja mereka, ya Teteh,” komentar Sastri saat kami sudah selesai pula urusan bagasi. Tak ada rebutan troli dengan kuli segala, seperti yang sering kualami di Bandara Cengkareng.

Mejeng dululah, Sodara, dibelain nyaris jatuh hihi



Sebentar lag dia terpeleset nih, eeh!


“Iya, malah ribetan waktu bikin Visa di Teto Jakarta,” gumamku.”Waktu diharuskan memperlihatkan rekening terakhir minimal 30 juta, Fanny kebingungan. Kalau Teteh waktu itu kebetulan masih ada hasil jual tanah punya Haekal. Kuprint dulu sebelum ditransfer ke rekeningnya.”

“Akhirnya bagaimana tuh Fanny?” Sastri Bakry penasaran.
“Kata Fanny diakalin, rekening lama yang tanggalnya tidak jelas itulah yang diprintkan.”

Kami dorong troli keluar pintu kedatangan dengan langkah percaya diri bahwa ada yang menjemput. Mata kami mendadak jelalatan, merayapi wajah-wajah asing para penjemput.

“Waduh, bagaimana kalau mereka gak mengenali kita, ya?” gumamku mulai bimbang. Tak kulihat tampang Indonesia di antara mata-mata sipit dan kulit kuning langsat itu.

“Mana kita gak punya duit Dollar atau NT pula, ya?” komentar Sastri menambah kadar bimbangku meningkat.

“Sudah dicoba WI-FI gak aktif nih. Simcard Indosat gak laku di sini.” Pikiranku melayang pula ke Fanny yang naik pesawat Air Asia, transit dua jam di Kuala Lumpur. Aduh, bagaimana keadaannya di sana? Kelaparankah dia, sama pula DM, bahkan sudah menahun lama dan kadar gulanya sering 300-an.

Beberapa jenak berdua celingukan di pintu kedatangan yang ditulis dengan huruf dan bahasa Mandarin itu. Tiba-tiba sekilas ada dua jilbaber menyelip di antara para penjemput.
Aku yakin, pasti mereka! (Thoyuan-Taipei, 28 Maret 2015)


Bersambung
Posted in: | Kamis, 10 April 2014


Pipiet Senja adalah nama pena Etty Hadiwati Arief, lahir di Sumedang, 16 Mei 1956 dari pasangan Hj.Siti Hadijah dan SM. Arief (alm) seorang pejuang’45. Ia adalah penulis yang sangat produktif. Tidak kurang ratusan novel telah digarapnya, baik dalam Bahasa Indonesia ataupun Bahasa Sunda. 

Pipiet Senja harus ditransfusi darah secara berkala seumur hidupnya karena penyakit kelainan darah bawaan, memiliki dua orang anak yang selalu membangkitkan semangat; Haekal Siregar dan Adzimattinur Siregar .
Aktivitasnya saat ini sebagai penasehat Forum Lingkar Pena, sering diundang seminar kepenulisan ke pelosok Tanah Air dan mancanegara seperti ke Mesir, Hong Kong, China, Macau, Malaysia, Singapore, UEA, Saudi Arabia, Taiwan.
Email : pipietsenjaa@gmail.com
Website: http://www.pipietsenja.net


Bookgrafi
1. Biru Yang Biru (Karya Nusantara, 1978)
2. Sepotong Hati di Sudut Kamar (Sinar Kasih, 1979)
3. Serenada Cinta (Rosda Karya, 1980)
4. Mawar Mekar di Taman Ligar (Rosda Karya, 1980)
5. Nyanyian Pagi Lautan (Alam Budaya,1982)
6. Payung Tak Terkembang (Aries Lima,1983)
7. Masih Ada Mentari Esok (Aries Lima,1983)
8. Mencoba Untuk Bertahan (Aries Lima,1983)
9. Selendang Sutra Dewangga (Aries Lima, 1984)
10. Orang-orang Terasing (Selecta Group,1985)
11. Adzimattinur (Selecta Group,1985)
12. Kembang Elok Rimba Tampomas (Selecta Group,1985)
Buku Anak-anak;
1. Prahara Cimahi (Margi Wahyu, 1991)
2. Jimbo dan Anak Jin (Margi Wahyu, 1992)
3. Si Boyot Sang Penyelamat (Margi Wahyu, 1993)
4. Jerko dan Raja Jin (Margi Wahyu, 1993)
5. Kisah Seekor Mawas (Margi Wahyu, 1994)
6. Rumah Idaman (Margi Wahyu, 1994)
7. Keluarga Besar di Sudut Gang (Margi Wahyu, 1994)
8. Bunga-Bunga Surga (Margi Wahyu, 1994)
9. Si Hitam (Margi Wahyu, 1994)
10. Bip Bip dan Boboy (Margi Wahyu, 1995)
11. Pentas Untuk Adinda (Margi Wahyu, 1995)
12. Buntalan Ajaib (Margi Wahyu, 1996)
13. Sanghiyang Wisnukara (Margi Wahyu, 1996)
14. Nunik Sang Maestro (Margi Wahyu, 1997)
15. Melati Untuk Ibu Negara, puisi anak (Margi Wahyu, 1997)
16. Nyanyian Tanah Air, puisi anak (Margi Wahyu, 1997)
17. Rumah Idaman, edisi revisi (Gema Insani Press, 2002)
18. Putri Tangan Emas (Zikrul Hakim, 2004)
19. Bip Bip dan Boboy, edisi revisi (Zikrul Hakim, 2004)
20. Buntalan Ajaib, edisi revisi (Zikrul Hakim, 2004)
21. Jenderal Kancil (Zikrul Hakim, 2004)
22. Jenderal Jerko (Zikrul Hakim, 2004)
23. Jenderal Nyungsep (DAR! Mizan, 2004)
24. Masih Ada Hari Esok (Zikrul Hakim, 2004)
25. Lukisan Kenangan (Zikrul Hakim, 2004)
26. Si Hitam, edisi revisi (Zikrul Hakim, 2004)
27. Ikan Beranting Emas (Zikrul Hakim, 2004)
28. Kwartet Jang Jahid (Dian Rakyat, 2006)
29. Serial Balita Muslim 12 Episode (Bestari Kids, 2012)
30. Serial  Adik Balita 12 Episode (Bestari Kids, 2012)
31. Serial Balita Wisata 12 Episode (Bestari Kids, 2013)
32. Serial Balita Indonesia 12 Episode (Bestari Kids, 2013)
33. Serial Balita Spesial  12 Episode (Bestari Kids, 2013)

Novel Islami
1. Namaku May Sarah (Asy-Syaamil, 2001)
2. Riak Hati Garsini (Asy-Syaamil, 2002)
3. Dan Senja Pun Begitu Indah (Asy-Syaamil, 2002)
4. Serpihan Hati (DAR! Mizan, 2002)
5. Menggapai Kasih-Mu (DAR! Mizan, 2002)
6. Memoar; Cahaya di Kalbuku (DAR! Mizan, 2002)
7. Trilogi Kalbu (DAR! Mizan, 2003)
8. Trilogi Nurani (DAR! Mizan, 2003)
9. Trilogi Cahaya (DAR! Mizan, 2003)
10. Lukisan Rembulan (DAR! Mizan, 2003)
11. Rembulan Sepasi (Gema Insani Press, 2002)
12. Kidung Kembara (Gema Insani Press, 2002)
13. Tembang Lara (Gema Insani, 2003)
14. Kisi Hati Bulani, bareng Nurul F Huda (FBA Press, 2003)
15. Kapas-Kapas di Langit (Zikrul Hakim, 2003)
16. Rembulan di Laguna, duet  dengan HE.Yassin (Zikrul Hakim, 2004)
17. Pilar Kasih, novelet duet dengan HE.Yassin (Zikrul Hakim, 2004)
18. Lukisan Perkawinan, kolaborasi keluarga (Zikrul Hakim, 2004)
19. Lakon Kita Cinta (MVM, 2004)
20. Lukisan Bidadari (Lingkar Pena Publishing, 2004)
21. Sang Rocker; Perjalanan Sunyi (Beranda, 2004)
22. 9000 Bintang (Cakrawala Publishing, 2004)
23. Meretas Ungu (Gema Insani Press, 2005)
24. Langit Jingga Hatiku  (Gema Insani Press, 2005)
25. Mr. Dee One & Tante Centil duet dengan Fahri Asiza (ZH, 2005)
26. Lapak-Lapak Metropolitan (KBP, 2006)
27. Pembersih Lantai Sastra (KBP, 2006)
28. Bagaimana Aku Bertahan (KBP, 2006)
29. The Legend Of Snada (KBP, 2006)
30. La Dilla (Zikrul Hakim, 2006)
31. Biarkan Aku Menangis (Duha Publishing, 2006)
32. Kupenuhi Janji (Duha Publishing, 2007)
33. Mom & Me #1, duet dengan Adzimattinur Siregar (Indiva, 2007)
34. Bloggermania! duet dengan Adzimattinur Siregar (ZH, 2008)
35. Tuhan, Jangan Tinggalkan Aku! (Zikrul Hakim, 2008)
36.Dalam Semesta Cinta (Jendela Zikrul Hakim, 2009)
37.Jejak Cinta Sevilla (Jendela Zikrul Hakim, 2010)
38.Jurang Keadilan (Jendela Zikrul Hakim, 2010)
39.Catatan Cinta Ibu dan Anak duet dengan Adzimattinur Siregar (Jendela, 2010)
40.Kepada YTH Presiden RI (Jendela, 2011)
41. Menoreh Janji di Tanah Suci (KPG, 2011)
42.Imperium (dalam proses editing)

Antologi Cerpen Bersama
1. Rumah Tanpa Cinta (Alam Budaya, 1983)
2. Bunga Rampai Penulis Perempuan Indonesia (Bentang, 2001)
3. Suatu Petang di Kafe Kuningan (FBA Press, 2001)
4. Cermin dan Malam Ganjil (FBA Press, 2002)
5. Merah di Jenin (FBA Press, 2002)
6. Luka Telah Menyapa Cinta (FBA Press, 2002) 
7. Kado Pernikahan (Asy-Syaamil, 2002)
8. Semua Atas Nama Cinta (Ghalia, 2003)
9. Bulan Kertas (FBA Press, 2003) 
10. Kanagan (Geger Sunten, 2003)
11. Surga Yang Membisu (Zikrul Hakim, 2003)
12. Menjaring Angin (Zikrul Hakim, 2004)
13. Kalung Dari Gunung (Bestari, 2004)
14. Pipit Tak Selamanya Luka (Senayan Abadi, 2004)
15. Berlalu Bersama Angin (Senayan Abadi, 2004)
16. Bunga-Bunga Cinta (Senayan Abadi, 2004)
17. Matahari Tak Pernah Sendiri I (LPPH, 2004)
18. Lelaki Semesta (Lingkar Pena Publishing House, 2004)
19. Sahabat Pelangi (Lingkar Pena Publishing House, 2004)
20. Dan Bintang Pun Tersenyum (Gema Insani Press, 2005)
21. Membasuh Kalbu (Gema Insani Press, 2005) 
22. Jendela Cinta (Gema Insani, 2006)
23. Ketika Cinta Menemukanmu (Gema Insani, 2006)
24. Surat Untuk Abang (Cakrawala Publishing, 2006)
25. Selusin kompilasi cerpen anak Bobo (Pustaka Bobo 1997-2004)
26. Catatan Hati Seorang Istri (LPPH, 2007)
27. Jangan Jadi Perempuan Cengeng (Indiva, 2008)
28.Desperate Of Wife (LPPH, 2008)
29. Persembahan Cinta (Zikrul Hakim, 2008)
30. Ungu Pernikahan (Zikrul Hakim, 2008)
31. 30 Wanita Pilihan (Jendela, 2009)
32.Aku Mencintaimu Karena Allah (Grasindo, 2010)
33.Duhai Muslimah Bersyukurlah (Jendela, 2010)
34.Rahasia Penulis Hebat (Gramedia, 2011)
35.Bersyukur Menjadi Perempuan (Prisma, 2012)
36.Jadikan Aku Nyai (proses editing)
Dalam Bahasa Sunda
1. Jalur Sutra Jalur Cinta, cerber (Majalah Sundamidang, 2008)
2. Ratusan cerpen dan puluhan novel yang dimuat secara bersambung
di majalah   Mangle 1990-2006
Posted in: | Minggu, 17 November 2013













Posted in: | Rabu, 06 November 2013




Serial Balita Muslim: Zein dan Lebaran Haji
Usia 0 – 5 Tahun


Judul: Pengorbanan Si Bing Bing

Karya: Pipiet Senja



Pengantar

Assalamu’ alaikum Wr.Wbb
Apa kabar Balita Muslim yang disayang Allah?
Kalian pernah mengalami Lebaran Haji, bukan?
Yaitu Hari Raya Idhul Adha.
Ketika orang berhaji sedang wukuf di Padang Arafah.
Kita pun melaksanakan puasa Arafah.
Esoknya dilanjutkan pemotongan hewan kurban.
Zein dan keluarga tidak ketinggalan.
Zein telah lama memelihara seekor kambing.
Dititipkan di rumah Bang Dikin.
Lokasinya di belakang perumahan Citayam Indah.
Zein sayang sekali kepada si Bing BIng.
Sehingga ketika Bing Bing dikurbankan Zein protes.
Zein bahkan ngambek, Teman!
Zein membawa kabur si Bing Bing.
Nah, loh, bagaimana kelanjutannya?
Mari kita simak petualangan Zein kali ini.

Salam Balita Muslim
Pipiet Senja




1
Assalamu’alaikum Wr. Wbb….
Apa kabar teman-teman Balita Muslim?
Tentunya kita ingin selalu disayang Allah, bukan?
Ilustrasi:Zein (5 tahun) mengibarkan baliho bertuliskan:”Salam Balita Muslim!”

2
Perkenalkan ini Zein Siregar.
Umurmya lima tahun.
“Aku sudah gagah-gagah, loh, Teman!” kata Zein.
Ilustrasi:Zein memakai baju takwa, sarungnya diselempangkan gaya si Jampang.

3
Zein sekolah di TK. Al Islam.
Zein sudah lancar membaca.
“Tulisanku masih cakar ayam. Hehe.” Zein tertawa.
Ilustrasi:Zein sedang menulis, hurufnya miring-miring.

4
Tahukah, Teman.
Begini-begini Zein anak soleh, loh.
“Lah, iyalah. Namanya juga Balita Muslim.”
Ilustrasi: Zein bersama Ayah dan Bunda sedang sholat berjamaah.

5
Zein punya seorang adik perempuan.
Namanya Zia Siregar.
Umurnya tiga tahun.
Ilustrasi:Zein dan Zia tampak rukun sedang bermain di teras rumah.

6
Rumah Zein di perumahan Citayam Indah.
Tidak begitu luas.
Tapi kata Bunda:”Rumahku adalah surgaku.”
Ilustrasi:Zein bergaya di depan rumahnya yang mungil di Citayam Indah.

7
Satu hari Ayah mengajak Zein pergi.
“Pergi ke mana, Ayah?” tanya Zein.
“Kita ke rumah Bang Dikin,” jawab Ayah.
Ilustrasi:Ayah mengajak Zein pergi ke rumah Bang Dikin.

8
Rumah Bang Dikin di belakang Citayam Indah.
“Lewat pintu belakang, ya Ayah?” tanya Zein.
“Iya, ini jalan ke kampung Neglasari,” jelas Ayah.
Ilustrasi:Zein mengintil di belakang Ayah melewati pintu gerbang belakang.

9
Ternyata, oh, ternyata, Teman!
Rumah Bang Dikin lumayan jauh.
“Aduh, ini masih jauhkah, Ayah?” Zein mulai kelelahan.
Ilustrasi:Zein kelelahan, keringat bercucuran di dahinya.

10
“Nah, itu rumah Bang Dikin!” kata Ayah.
Zein berseru kegirangan.
“Huhuhu, akhirnya sampai juga!”
Ilustrasi:Bang Dikin menyambut kedatangan Ayah dan Zein.

11
Bang Dikin mengajak mereka ke kebun.
“Oh, pekarangannya luas sekali!” decak Zein.
Bahkan ada kandang kambing segala.
Ilustrasi:Zein berdiri di depan kandang kambing.

12
Ayah membeli seekor anak kambing.
Lalu menitipkannya kepada Bang Dikin.
“Karena pekarangan kita tidak luas,” jelas Ayah.
Ilustrasi:Ayah membeli seekor anak kambing dari Mang Dikin.

13
“Jadi sekarang ini kambing kita, Yah?” tanya Zein.
“Iya, kalau sudah besar kita kurban,” kata Ayah.
“Maksud Ayah?” Zein tidak paham.
Ilustrasi:Ayah kewalahan menjelaskannya kepada Zein.

14
Ayah tidak mau membuat Zein pusing.
Jadi Ayah hanya mengatakan seperlunya saja.
“Pokoknya ini kambing kita. Titik!”
Ilustrasi:Zein dengan senang hati mengusap-usap anak kambing.

15
Zein memberinya nama si Bing Bing.
“Mengapa dinamai si Bing Bing?” tanya Bunda.
“Biar Dede Zia mudah mengucapkannya,” kilah Zein.
Ilustrasi:Si Bing Bing diberi rumputan oleh Zein dan Zia.

16
Begitulah asal muasalnya si Bing Bing.
Dari hari ke hari si Bing Bing kian besar.
Makan rumputnya semakin banyak.
Ilustrasi:Si Bing Bing tumbuh besar dan banyak merumput.

17
Zein dan Ayah dua hari sekali menengok si Bing Bing.
Kadang ditemani Bunda dan Zia.
Zein sering bilang:”Bing Bing gagah-gagah juga, ya!”
Ilustrasi:Zein dan Zia bermain-main dengan si Bing Bing di kebun Bang Dikin.

18
Tanpa terasa si Bing Bing sudah besar.
Badannya gemuk dan gagah.
Zein kian sayang kepada si Bing Bing.
Ilustrasi:Zein semakin sayang dan perhatian kepada si Bing Bing.

19
Sekarang Zein sudah berani pergi sendirian.
Melihat si Bing Bing di kandangnya.
“Minum dulu es kelapanya, Zein,” kata Bang Dikin.
Ilustrasi:Bang Dikin menyuguhi Zein es kelapa.

20
Satu hari ada kesibukan di rumah Zein.
“Kita puasa Arafah hari ini, Zein,” ujar Ayah.
“Ya, besok Lebaran Haji,” kata Bunda.
Ilustrasi:Keluarga Zein nonton jemaah haji melakukan tawaf di televisi.

21
Zein juga puasa Arafah, loh, Teman!
Zein kan sudah terbiasa berpuasa.
Waktu Ramadhan puasanya tamat.
Ilustrasi:Zein berbuka bersama Ayah, Bunda dan Zia yang ikut-ikutan.

22
Tiba-tiba Ayah berkata begini:
“Besok kita akan potong si Bing Bing.”
“Apppaaa? Si Bing Bing akan dipotong?” seru Zein kaget.
Ilustrasi: Zein terkejut sekali mendengar si Bing Bing akan dipotong.

23
“Sejak awal kambingnya memang untuk kurban,” jelas Ayah.
“Oh, tidak, tidak, tidaaakkkk!” teriak Zein histeris.
“Pssst, Nak, jangan begitu,” bujuk Bunda.
Ilustrasi:Zein menangis histeris mendengar si Bing Bing akan jadi kurban esok.

24
“Pokoknya Zein tidak rela si Bing Bing dipotong!”
“Aa Zein, jangan teriak-teriak!” seru Zia ketakutan.
“Aku marah, maraahhhm, gheeerrrrr!” Zein kian ngambek.
Ilustrasi:Zia ketakutan melihat Zein teriak-teriak histeris.

25
Suasana rumah mendadak heboh.
Bunda berusaha menenangkan Zein.
Ayah sampai harus memanggil Manini.
Ilustrasi:Suasana rumah Zein mendadak heboh. Karena Zein ngambek!

26
Manini datang tergopoh-gopoh dari Cibubur.
“Mari, Zein, kita cerita Nabi Ibrahim,” ajak Manini.
“Dan pengorbanan Ismail, putranya….”
Ilustrasi:Manini berusaha menenangkan Zein dengan Kisah Nabi Ibrahim.

27
Untuk sementara Zein bisa ditenangkan.
Manini berhasil mengalihkan perhatiannya.
Hingga Zein tertidur di samping Manini.
Ilustrasi:Manini, nenek Zein berhasil memukau cucu dengan Kisah Nabi Ibrahim.

28
Esoknya Zein dan keluarga pergi ke Mesjid Baitur-Rahman.
Mereka melaksanakan sholat Idhul Adha.
Diam-diam Zein menyingkir.
Ilustrasi:Di Mesjid Baitur-Rahman diam-diam Zein keluar dari saf bapak-bapak.

29
Kemudian Zein pergi ke rumah Bang Dikin.
“Biar gak dipotong, kita pergi saja, ya Bing,” ajak Zein.
“Mbeeek, mbeeek!” bunyi si Bing Bing.
Ilustrasi:Zein mengeluarkan si Bing Bing dari kandangnya.

30
Aduh, apa yang dilakukan, Zein, ya?
“Psst, jangan berisik, diam-diam, ya Bing,” kata Zein.
Owh, oh, Zein membawa kabur si Bing Bing, Teman!
Ilustrasi:Zein menuntun si Bing Bing keluar kebun Mang Dikin.

31
Beberapa saat lamanya Zein mengajak jalan si Bing Bing.
Menyusuri gang-gang di kampung Neglasari.
Orang-orang mulai memperhatikan kelakuannya.
Ilustrasi:Orang-orang mulai terheran-heran melihat kelakuan Zein.

32
Lama-lama Zein lelah dan kebingungan.
“Uh, uh, ini kita mau ke mana, ya Bing?”
“Aku takut nanti kita nyasar, aduuuh!” keluh Zein.
Ilustrasi:Zein kebingungan mengaso di bawah pohon bersama si Bing Bing.

33
Sementara itu Bang Dikin baru pulang dari Mesjid.
Dia tidak melihat si Bing Bing di kandangnya.
“Tadi dibawa Zein keluar sana,” lapor tetangga.
Ilustrasi:Bang Dikin terkejut tidak melihat si Bing Bing di kandangnya.

34
Segera Bang Dikin dan Ayah mencari Zein.
Akhirnya mereka menemukan Zein dengan si Bing Bing.
“Ayah, aku mau pulang, tidak mau kabur,” kata Zein menangis.
Ilustrasi:Ayah dan Bang Dikin menemukan Zein kelelahan dan kebingungan.

35
Ayah memberi pengertian kepada Zein.
 “Si Bing Bing rela berkorban. Mau nyusul ibunya tuh,” kata Ayah.
“Oh, Bing Bing mau ikut ibunya, ya sudah. Dadah Bing Bing….”
Ilustrasi:Zein melambaikan tangan kepada si Bing Bing yang dibawa Bang Dikin.

36
Sekarang Zein dan Zia melihat kesibukan di Mesjid Baitur-Rahman.
Pemotongan hewan kurban sedang dilaksanakan.
Si Bing Bing dikurbankan atas nama Zein Siregar.
Ilustrasi:Zein dan Zia melihat acara pemotongan hewan dari kejauhan.

Tip Cerdas Balita Muslim
·         Memberi pengertian kepada Balita tentang makna kurban kambing.
·         Menceritakan tentang kisah Nabi Ibrahim dan putranya Nabi Ismail.
·         Memberi teladan kepada Balita arti pengorbanan terhadap sesama.

Tamat


Endorse
Zein telah lama memelihara seekor kambing.
Dititipkan di rumah Bang Dikin.
Lokasinya di belakang perumahan Citayam Indah.
Zein sayang sekali kepada si Bing BIng.
Sehingga ketika si Bing Bing dikurbankan Zein protes.
Zein bahkan ngambek, Teman!
Zein berusaha membawa kabur si Bing Bing.
Nah, loh, bagaimana kelanjutannya?
Mari kita simak petualangan Zein yang penuh hikmah ini.







Posted in: |