Latest Stories

Subscription

You can subscribe to pipietsenja.net by e-mail address to receive news and updates directly in your inbox. Simply enter your e-mail below and click Sign Up!

TOP 5 Most Popular Post

Other Post

Other Post

Jalan jalan ke Turkey hayu bersama teteh Pipiet Senja, Ustad Azzam Mujahid Izzulhaq Full dan Jonriah Jonru Ukur.

Jalan-jalan ke Turki sambil mengikuti pelatihan penulisan bersama @pipietsenja @jonru @AzzamIzzulhaq.
Transit di Paris dan Amsterdam. Pulangnya menerbitkan buku.
‪#‎WisataMenulisTurki bersama Jonru, Pipiet Senja dan ustadz Azzam Mujahid Izzulhaq.
Jadwal: 27 November s/d 6 Desember 2014
Yuk Ikutan!
Kapan lagi bisa jalan2 bersama penulis terkenal Pipiet Senja, juga dengan Jonriah Jonru Ukur dan ustadz Azzam Mujahid Izzulhaq, sambil menimba ilmu kepenulisan. Dan pulangnya menerbitkan buku.
Untuk info lengkap dan pendaftaran, silakan hubungi panitia acara ini:
Aurora Travel Management Expert:
Mobile Phone: 0811 49 12 122
WhatsApp: 0812 20 30 22 11
PIN BBM: 7F95EB0F

Posted in: | Sabtu, 11 Oktober 2014





Bangunan ini bukanlah istana kerajaan. Bukan pula rumah tempat tinggal. Bangunan yg megah ini dulunya adalah sebuah perpustakaan. Celsus, demikian perpustakaan ini diberi nama di zaman Yunani Kuno.
Perpustakaan Celcus terletak di 'komplek' Ephesus, Kota Yunani Kuno di sebelah barat dari Anatolia, kota Selçuk, Provinsi Izmir.
Sebetulnya, di Izmir tidak hanya ada kota tua Ephesus. Kekhilafahan Islam sebelum Ottoman, Selçuk juga ada di provinsi ini. Maka sebetulnya, selain Istanbul, Izmir juga adalah negeri seribu peradaban. Usianya rentanya menjadi saksi peradaban Yunani Kuno, Romawi, Selçuk, Ottoman dan Turki modern saat ini. Gak sampai seribu kan? Hehehe...
Ephesus dulunya adalah kota yang dikuasai oleh Lysimachia, salah seorang jendral perang Alexander Agung. Sepeninggal Alexander Agung, wilayah-wilayah taklukan diperebutkan dan dibagi-bagi oleh para jendralnya karena Alexander mati muda dan tidak mempunyai anak sebagai penerusnya. Ephesus kemudian dikuasai oleh Kekaisaran Romawi pada 88 SM. Sempat terjadi pemberontakan, tapi kemudian berhasil dikuasai kembali oleh Romawi dibawah pimpinan Lucius Cornelius Sulla dua tahun kemudian, 86 SM.
Diceritakan bahwa Kaisar Romawi Mark Anthonius dan Ratu Mesir Cleopatra pernah berkunjung pada musim semi ke Ephesus pada 33 SM untuk berbulan madu. Pada masa kaisar Augustus, 27 SM, Ephesus dijadikan ibukota untuk provinsi Anatolia Barat dari Kekaisaran Romawi, sejak inilah Ephesus berkembang menjadi kota besar masa itu. Puncak kejayaan Ephesus terjadi pada abad ke-2 Masehi.
Anda tahu? bahwa bangunan-bangunan zaman kuno ini terbuat dari batu marmer yg mengkilat (pada zamannya). Dari mulai lantai, tiang, atap bahkan jalannya. Saya sendiri bertanya-tanya, teknologi apa yg dipakai pada zaman itu sehingga menghasilkan karya yg luar biasa.
Karena Ephesus adalah sebuah 'komplek' kota kuno, maka di dalamnya pun ibarat sebuah komplek yg serba ada. Pasar, teater tempat menyaksikan para gladiator bertarung entah memperebutkan apa, rumah, pemandian bahkan hingga 'WC Umum' dan tempat prostitusi.
Bahkan, ada jalan bawah tanah yg ternyata ditemukan dari perpustakaan Celsus ke Rumah Bordir di seberangnya. Ckckckck... Jadi mungkin, para pria zaman dahulu pamit ke istrinya di rumah, "Mamih, Papih ke perpustakaan dulu ya. Ada tugas kampus nih...". Eh sampai di perpustakaan malah nyasar ke seberangnya baca buku yg lain. Skip...
Di Izmir juga ada rumah Bunda Maria atau Siti Maryam ibunda Nabi Isa as. Rumah Bunda Maria atau disebut “Panaya Kapulu” terletak di selatan Ephesus di kaki Gunung Bülbül yg tenang dan berpemandangan indah. Pada awalnya, Bunda Maria dibawa ke Ephesus oleh pengikutnya karena Yerusalem sudah dianggap tidak aman lagi. Bunda Maria ditinggal dan akhirnya meninggal di tempat ini. Baru pada akhirnya tahun 1891, rumah ini ditemukan sesuai dengan detail yang digambarkan oleh Biarawati Catherine Emmerich.
Berkeinginan untuk mengunjungi Izmir? Melihat dan merasakan bagaimana percampuran budaya membentuk peradaban masyarakat modern Turki saat ini, dan menuliskan segala sesuatunya menjadi buah karya yg dinikmati banyak orang? JOIN NOW pada program Wisata Menulis: Dari Turki kami MENULIS, Di Indonesia kami BERKARYA. Bagi dunia kami MEMBANGUN PERADABAN,
Anda akan diajak berwisata selama 10 hari di Turki mengunjungi tempat-tempat bersejarah yg menjadi pusat peradaban pada era Byzantium, Romawi, Selcuk, Ottoman dan juga Turki modern saat ini.
Sahabat akan ditemani dan dimentori oleh Bunda Pipiet Senja, seorang living legend dalam dunia kepenulisan. Berbagai tips dan trik dunia menulis dan penerbitan.
Belum cukup, Anda juga ditemani oleh Azzam Mujahid Izzulhaq, seorang pengamat sosial, budaya dan politik internasional. Dia juga adalah seorang mindset motivator yg akan berbagi kepada Anda menganai sejarah, budaya, politik Turki dulu dan kini. Serta berbagi tips dan trik agar selalu ON dalam berbagai aspek kehidupan.
Anda akan diajak berkeliling negara Turki mulai dari Istanbul, Bursa, Kusadasi, Pamukkale, Konya, Cappadocia, dan Ankara, ibukota negara Turki. Ssstt... Sangat mungkin Anda akan diajak mengunjungi Istana Kepresidenan dan bertemu Erdogan (syarat dan kondisi terbatas).
Investasi untuk sejuta pengalaman, ilmu dan juga kenyamanan ini adalah mulai dari USD 1.850 per orang. Kabar buruknya, program ini terbatas untuk 30 orang saja. SEGERA! Seat hanya tinggal 15 orang lagi atau Anda akan menyesal dan ketinggalan.
Siapkan baju hangat ya, kita akan menikmati dinginnya udara Eropa di 27 November hingga 6 Desember 2014.
Layanan Informasi selanjutnya silakan menghubungi: Aurora Travel Management Expert di nomor 0811 49 12 12 2
Posted in: | Jumat, 10 Oktober 2014


 Acara Puncak Hari Baca Santri Putri Darul Ulum, Banyuanyar

Banyuanyar, September 2014

Kelas Menulis Pontren Putri
Telah beberapa kali singgah dan memberi pelatihan menulis di pondok pesantren Darul Ulum Banyuanyar, Pamekasan-Madura, kali ini diminta buka kelas menulis agak lama. Targetnya mencetak para penulis Islami langsung dari basisnya. Dengan senang hati saya menerima undangan Hj. Salma, pimpinan pondok pesantren putri Darul Ulum.

Terhitung sejak 20 September-27 September 2014, kelas menulis bersama saya berlangsung. Mengambil tempat di ruang perpustakaan, jadwalnya diambil tiga kali pertemuan pada awalnya; pagi bada subuh, sore bada ashar dan malam bada isya. Namun, melihat anak-anak banyak yang kelelahan dan mengantuk, boring, terutama saat bada isya akhirnya ditiadakan. Digeser dan waktunya ditambahkan satu jam ke kelas sore hari.

Materi yang saya berikan sudah disiapkan, spesial modul menulis yang pernah saya dan tim lakukan di beberapa tempat. Mulai dari motivasi mereka menjadi seorang penulis, mengatur waktu, menangkap ide dan mengeksplorasinya menjadi sebuah tulisan memikat, hingga berurusan dengan media, mencermati surat perjanjian, aktif menjual karya yang telah diterbitkan sebagai buku.

Absensi Turun Naik
Hari pertama di ruang perpustakaan, tanpa bangku dan kursi alias santri duduk lesehan sementara saya di depan dengan bangku dan laptop serta perangkat LCD. Peserta  tercatat 52 santriwati setingkat Aliyah. Dua orang panitia, Mbak Uul dan Mbak Iil, demikian saya diperbolehkan memanggil nama kedua akhwat ini, siap dan cekatan sekali membantu jika diperlukan. Ditambah Mbak Ifa, putri Kyai Syamsul Arifin, pimpinan pesantren.

“Nanti juga akan terseleksi sendiri. Mana saja yang bisa bertahan dan siapa saja yang akan mundur. Tidak tahan dengan gaya saya, mungkin,” kataku berseloroh.
“Insha Allah, semoga tetap istiqomah, Teteh,” ujar Mbak Uul, terdengar penuh harap.

Hari kedua yang hadir berkurang 10, hari ketiga pun berkurang belasan, bahkan hari ketiga hatiku langcung menciut. Tinggal dua baris saja alias tidak lebih dari belasan peserta!
“Nah, lihat kan, Mbak Uul, Mbak Iil, apa kata Teteh waktu itu?” ujarku menahan perasaan tidak enak dalam hati.

“Tenang saja, Teteh. Hari ini kebetulan ada ulangan, mungkin anak-anak ingin fokus. Nanti sore mudah-mudahan mereka sudah bisa atur waktu,” kata Mbak Iil menenangkan.







Serunya Lintas Alam Malam
Untuk menyemangati dan mengarahkan para santri putri dalam hal menemukan ide, menggalinya langsung dari orang atau lingkungan mereka, saya ajak mereka lintas alam. Waktunya diambil malam Jumat, karena esok hari mereka libur.

“Asyiiiik! Aku di depan, di depan, aaah!” seru Sarah, cucu Kyai, semangat sekali.
“Aku juga mau di depan,” kata Khadijah, sepupunya, tak mau kalah semangat.
“Aku di mana, Manini Teteh?” cetus Amatullah, putri Neng Salma.

Tiga cucu Kyai ini memang paling semangat dan kompak sekali. Biasanya mereka lebih dahulu menyerahkan tugas berupa tulisan; puisi, resensi, cerpen.

Malam Jumat itu terasa semarak, barisan kader penulis, para calon mujahid pena pontren putri berderap. Barisan bergerak menyusuri jalanan di seputra pondok pesantren. Tiba di lapangan terbuka di bawah cahaya lampu, saya meminta mereka berhenti.

“Silakan, anak-anak cantik dan solehah, tuliskan apa saja yang kalian lihat sepanjang jalan tadi,” pinta saya yang segera disambut mereka dengan semangat.
Baru beberapa menit mereka menulis tiba-tiba; preeeet!

“Yaaaa, mati lampunya!” seru para santri.
“Tidak apa, ayo kita geser ke sebalah sana,” ajak Mbak Iil dan Mbak Uul  segera memompakan semangat. Dalam sekejap barisan calon mujahid pena pun bergerak ke depan gedung Tsanawiyah.

Hening beberapa saat lamanya, semua konsentrasi menulis di buku harian masing-masing. Saya wajibkan mereka membawa catatan setiap kali mengikuti kelas menulis. Sebab hingga saat ini pun saya penulis sepuh begini masih juga selalu membawa catatan harian. Penting untuk seorang penulis untuk segera menuangkan ide yang berseliweran di sekitar kita.

Keakraban Mengharu Biru Hati
Hari demi hari berlalu, kelas menulis pun terus berlangsung. Terasa keakraban di antara peserta dengan saya kian mengental. Pernah satu sesi lintas alam kedua, lima peserta tidak bisa ikut karena bentrok dengan kegiatan lain. Salah seorang santri putri sedih sekali, seraya menggelendot manja di lengan berbisik kepadaku:”Tapi hatiku tetap bersama Bunda,” lirihnya mengharukan hati.

Dari hari ke hari tugas-tugas rutin mulai terkumpul, bersama Mbak Uul dan Mbak Iil, kami menyeleksi naskah-naskah yang mburudul. Ada tugas akhir yang sejak hari pertama diwartakan, yakni; menulis kisah inspirasi seputar sukaduka selama tinggal di pontren putri Darul Ulum Banyuanyar.

Satu demi satu tugas akhir pun disetorkan, langsung saya cermati sebelulum tidur. Semakin rapi, tertata apik dengan bahasa yang bagus, ada karakter, penglataran dan dialog-dialog nyambung.

“Bagaimana, Teteh, sudah terjaring siapa saja yang berpotensi menjadi penulis?” tanya Hj. Salma, hari kelima, artinya telah lebih dari 10 pertemuan kelas menulis berlangsung.
Putri sulung Kyai inilah yang punya gagasan kelas menulis, mencetak sejumlah kader penulis yang selanjutnya menjadi ujung tombak, menyebarkan virus menulis di kalangan santriwati.

Dari diskusi rutin kami ada banyak gagasan yang diharapkan bisa terwujud satu demi satu. Mencetak SDM dari kalangan santriwati, memberdayakan mereka yang memiliki potensi masing-masing. Saya mencoba untuk membantu dan akan terus memantau hasil kelas menulis, minimal mempertahankan dan menguatkan para santri yang ingin menjadi seorang penulis profesional. Terutama santri yang bercita-cita menjadi seorang mujahid pena, melahirkan karya-karya Islami yang mencerahkan. (Pipiet Senja, Madura, September 2014)





Posted in: | Minggu, 05 Oktober 2014
Foto:detik.com
           
Mengiraku Masih Anak-Anak
Beberapa pekan lalu jumpa dengan Ceu Popong, demikian kami memanggilnya, pada pertemuan Patrem; paguyuban sastrawati Sunda yang diselenggarakan di Garut. Sebagai orang Sunda, tentu saja saya sudah mengenal namanya sejak lama. Bahkan sejak kecil, nama Ceu Popong ini tidak asing lagi, sebab sering diceritakan oleh mendiang Emak.

“Popong itu putrinya Pak Samya, Kepsek SMP dua Regol. Waktu Emak di SKP, regu volina Popong suka datang dan tandang di sekolah. Hebat, menang terus,” tutur Emak jika mengenang masa-masa sekolahnya.

Beberapa kali pula pernah jumpa Ceu Popong, sama di acara kesenian dan kebudayaan di Bandung. Hanya kami tak pernah ada kesempatan untuk berbincang, sekadar bersalaman, diperkenalkan oleh panitia.





Pada panglawungan kumpul ngariung dengan Patrem inilah, akhirnya saya punya kesempatan untuk mengenal lebih dekat. Ceu Popong turun dari kendaraan bersama para senior sastrawati Sunda, siang itu di pekarangan rumah cinta Mien Ardiwinata Kusdiman, Garut.

Saya menghampiri dan menyalaminya sambil nikukur, istilah Sunda untuk memperkenalkan diri.”Punten, Ibu, abdi Pipiet Senja.” Agak kurang enak jika menyebutnya Ceuceu, mengingat usianya seangkatan emak saya.

Sontak, dia menyambut dan memeluk saya, kemudian menepuk-nepuk bahu saya sambil berkomentar dengan logatnya yang khas nyunda pisan:”Oh, ieu nya Pipiet Senja teh. Ari panyana budak keneh….” Begitu akrab, hangat sambil terus berceloteh dengan riangnya, gepyak pisan. Sungguh, itulah sambutan terhangat, terakrab sekaligus menggelitik hati yang pernah saya terima dari tokoh gegeden, sosok elit politik kita.

Semua yang hadir adalah para sastrawati senior, hanya beberapa yang masih muda. Kulihat semua tertawa mendengar komentarnya tentang nama pena saya yang diulang-ulang; sugan tea budak keneh nya Pipiet Senja teh, ari sihoreng simanahoreng…. Kirain masih anak kecil ya Pipiet Senja itu, eh, ternyata-ternyata….

Tos tilu pun incu mah, Ceu Popong,” akhirnya saya menyamakan panggilan akrab yang sudah populer di kalangan budayawan ini.

Pada panglawungan itulah  saya perhatikan dengan takjub, bagaimana gerak-geriknya, gaya bicaranya yang khas Sunda sejati. Celetukan-celetukannya yang humoris, riang, membuat suasana semarak, akrab dan genah nian. Ceu Popong ditanggap untuk memberi sambutan tentang organisasi sastrawati Patrem. 

Maka meluncurlah perjuangan, sukaduka bahkan anekdot tentang sastrawati Patrem zaman baheula dan wacananya ke depan.

Sekilas ia pun berbagi pengetahuannya, pengalamannya sebagai anggota Dewan kepada kami. Bagaimana ia bersama rekan seperjuangan menggodok berbagai  UU, antara lain UU Pilkada yang menghebohkan itu.






Memenuhi Undangan Ceu Popong
Sepulang dari Garut, pikiran saya terus dipenuhi dengan sosok sepuh keibuan yang humoris ini. Kiprahnya, perjuangannya sebagai budayawan dan anggota Dewan patut direkam dalam wujud buku. Mulailah rajin menghubunginya melalui pesan singkat, SMS. Ternyata disambut positif, sampai beberapa hari kemudian saya diundang ke ruang kerjanya di Gedung Nusantara 2, Senayan.

Siang itu, Ceu Popong mengenakan kain kebaya pulas oranye, bersanggul dan selop.. Memang itulah agaknya busana yang dikenakan sehari-hari, khas busana angkatan ibu kita. Ditemui di ruang kerjanya, ia baru saja usai menghadiri sidang paripurna. Ini hari-hari terakhir masa jabatannya periode 2009-2014.

“Nanti kalau sudah pelantikan, harus pindah dari sini. Semua berkas yang menumpuk ini harus diangkut,” jelasnya menunjuk tumpukan berkas kerja di sudut ruangan. “Sepertinya kita memilih tetap di sini sajalah. Tidak harus mengeluarkan enerji, dana, dan lain sebagainya. Cape ongkoh,” lanjutnya pula sambil tegur sapa dengan dua orang stafnya, diseling menandatangani berkas yang disodorkan di meja kerjanya.

Makan Siang Sederhana
Ceu Popong mengajak saya ke kantin untuk makan siang. Ia terbiasa puasa Daud, hari ini sedang kurang enak badan jadi tidak shaum. Saya agak heran, mengapa ia harus membawa serta dompet mungilnya, dalam asumsiku untuk anggota Dewan jika ingin makan sudah tersedia begitu saja.

Ternyata Ceu Popong harus pergi ke kantin di lantai bawah, makan bersama tamu dengan menu sederhana. Ia memilih sop, tumisan aneka sayur dan lalap sambal tomat. Minumannya selain air putih, pesan es cincau mutiara, sempat ditawarkan kepadaku, tetapi  saya menolak mengingat kadar gula agak tinggi.

“Ceu Popong mah da alhamdulillah teu geringan iwal ti salesma. Tah, mun ceuk jelema mah, nya, ayeuna keur flu ieu teh,” celotehnya dalam nada riang gembira, mengingatkanku kepada Emak yang telah tiada. Meskipun Emak sedang sakit, biasanya tetap saja ingin tampak sehat wal afiat, nyaris tak pernah mengeluh.

Melihat penampilannya, wajahnya yang segar awet muda, Ceu Popong memang tersirat sehat wal afiat. Dalam usia 76, aktivitasnya luar biasa padat, selain sebagai anggota Dewan, ia pun memegang jabatan sebagai ketua, penasehat, pembina dari berbagai organisasi sosial, pendidikan, kesehatan, kesenian, dan entah apa lagi.

Kisah-Kasih Istri Prajurit
Sambil makan, Ceu Popong berkenan menjawab pertanyaanku seputar kebersamaan dengan suaminya, Otje Djundjunan. Mendiang ayah saya sering cerita tentang komandannya, Otje Djundjunan, sesama prajurit Batalyon 11 April Siliwangi, Jawa Barat.

Pernah menjabat Walikota Bandung, Otje Djundjunan yang telah berjuang bersama pasukan Siliwangi zaman Revolusi, meninggal karena serangan jantung usai menghadiri upacara ulang tahun 11 April pada tahun 1986.

“Ada kesepakatan dengan Bapak,” ujarnya mengenang masa-masa sebagai istri prajurit.”Kami gantian setahun sekali menjadi pimpinan dalam rumah tangga. Umpamanya, tahun ini Bapak yang mengurus berbagai hal kerumahtanggaan. Mulai dari bayar listrik, telepon, pajak mobil, urus SIM, gaji pembantu, bayar sekolah sampai ambil raport anak-anak. Tahun berikutnya bagian Ceu Popong.”

“Mengapa begitu, Ceu Popong?”
“Satu hari Papi bilang, kita tidak tahu umur itu kan milik Gusti Allah. Tetapi seandainya ajal itu datang, Papi lebih pilih yang pergi mendahuluimu. Karena dirimu perempuan tangguh, tidak cengeng. Nah, kalau dibiasakan mengurus semuanya itu, kelak akan menjadi biasa. Kan alah bisa karena biasa.”

Ketika suratan takdir memisahkan pasustri bahagia dan harmonis ini, Ceu Popong memang tidak lantas berkubang dalam dukacita perkabungan, apalagi mengalami kebingungan berlama-lama. Sebab sudah terbiasa mandiri dan mampu mengatur semua urusan rumah tangga.

“Rasanya Bapak masih ada saja. Ceu Popong melaksanakan semua tugas itu seakan-akan sedang giliran,” paparnya tersenyum ikhlas, keibuan.

Lima Periode Sebagai Anggota Dewan
Ceu Popong diamanahi oleh rakyat sebagai wakil dari fraksi Golkar, pildapil Jawa Barat. Era Orde Baru dua kali, rehat selama sepuluh tahun pasca reformasi, kemudian aktif kembali pada tahun 2009 hingga sekarang.

Pada Sidang Paripurna DPR beberapa hari yang lalu, sosok perempuan Sunda ini menjadi bintang. Sebagai anggota Dewan tertua, Ceu Popong diamanahi menjadi pimpinan sidang sementara. Gayanya yang tegas, berwibawa dengan logat Sunda yang khas, sontak menyedot perhatian; bukan saja semua anggota Dewan yang hadir melainkan juga berjuta mata pemirsa bangsa Indonesia yang mengikuti Sidang Paripurna yang ditayang melalui televisi.

Dinihari ini, tanpa mengharap balasan, mengingat ia sedang menjadi bintang dan sorotan berjuta rakyat Indonesia, saya SMS juga sbb:”Ceu Popong anu geulis tur solehat, damang?”

Ternyata selang kemudian mendapat balasannya, begini:”Aduh, Ceu Popong meuni GR disebat geulis tur solehat, hehe.”
"Reueus, Ceu Popong, kereen!"
"Ngawakilan urang Sumedang."

Subhanallah, ia memang sosok luar biasa. Di tengah kesibukannya yang super padat, masih berkenan meluangkan waktu membalas SMS dari seniman macam saya. Wilujeng, Ceu Popong, mangga diduakeun sing sehat salawasna, berjuang tak kenal lelah demi menunaikan amanah para pemilihmu. Bravo, Ceu Popong! (Jakarta, 3 Oktober 2014)

  



Posted in: |



Peraih Bilik Sastra VOI RRI Award 2014

Jakarta, 29 September 2014

Bermula Dari Apresiasi Sastra Migran
Bilik Sastra adalah sebuah program VOI RRI yang mengedepankan sastra migran, membincang karya berupa cerpen, kisah inspirasi dari WNI yang bermukim di luar negeri. Digagas oleh Kabul Budiono dan Pipiet Senja di penghujung tahun 2010, diluncurkan secara resmi untuk pertama kalinya siaran langsung di gedung Pusat Dokumentasi HB Jassin Taman Ismail Marzuki, Januari 2011.

Mengudara tiap hari Minggu pukul 13.05 – 14.00, disiarkan langsung dari studio RRI Siaran Luar Negeri Voice of Indonesia jalan Merdeka Barat, Jakarta.  Karya-karya yang masuk berupa cerpen dan kisah inspirasi, dibacakan penyiar kemudian dibincang atau dikritisi oleh Pipiet Senja. Tidak lupa penulisnya akan dihubungi dan diwawancarai seputar kreativitas kepenulisannya.

Pada tahun pertama, 2011, karya-karya yang masuk didominasi oleh Taiwan, Jenny Ervina dkk. Menyusul karya-karya dari Hongkong, Macau, Singapura dan Malaysia. Beranjak ke tahun-tahun selanjutnya, karya-karya dari para penulis yang bermukim di mancanegara ini semakin banyak, menyerbu meja Bilik Sastra.

Hingga saat ini tercatat antara lain dari negara-negara; Hongkong, Taiwan, Macau, Malaysia, Singapura, Australia, Inggris, USA, Kanada, Arab Saudi, Yaman, Mesir dan Turkey.

Anugerah Bilik Sastra VOI Award
Kemudian timbul usulan untuk membukukan karya-karya terbaik dan memberikan penghargaan untuk para penulis. Tidak mengira setelah diselenggarakan malam Anugerah Bilik Sastra Award, sejak 2011, semakin banyak karya berlahiran dari kalangan WNI yang sedang bermukim di luar negeri.

Cerpenis Terbaik Versi Bilik Sastra
Dewan Juri untuk memilih karya terbaik pun dibentuk, dari tahun ke tahun tidak sama jurinya. Namun, kriteria tetap tidak berubah, sehingga memunculkan karya-karya yang memang terbaik di antara ratusan cerpen yang masuk setiap tahun.
Tahun pertama Bilik Sastra Award terpilih dua penulis, yakni; Nadia Cahyani dari Hongkong dan Nessa Kartika dari Singapura. Tahun kedua; Julie Nava daru USA dan Indira Margareta dati Hongkong. Tahun ketiga ; Arul Chairullah dari Yaman dan Rahayu Wulansari dari Taiwan.


Dwitra Zaky, USA



Bilik Sastra VOI RRI Award 2014
Tiba saatnya pemenang untuk tahun ini, Dewan Juri yang terdiri dari; Pipiet Senja, Irwan Kelana dari Republika dan Syarif dari UNJ. Maka, menimbang dan memutuskan, dari 44 karya yang telah dibacakan dan dibincang, terpilihlah lima nominasi, yakni;

1. Puteri Rahayu Rezeki (Mahasiswa Al Azhar-Kairo, Mesir)
    Cerpen berjudul; Menjemput Cahaya
2. Dwitra Zaky (Penggiat seni, USA)
    Cerpen berjudul; Belajar dari Ambika Shangmu
3. Kuan Ami (BMI Taiwan)
    Cerpen berjudul; Riany
4. Sarah Hafidz (BMI Taiwan)
    Cerpen berjudul; Malaikat Kecil di Gerbang Firdaus
5. Andi Fikri Al-Fatih (Mahasiswa Turkey)
    Cerpen berjudul; Nyanyian Dari Dua Benua

Bagi pemenang pertama dan kedua, yakni Puteri Rezeki Rahayu, Mesir dan Dwitra Zaky, USA, akan diundang ke Jakarta untuk menerima Anugerah Bilik Sastra VOI RRI Award 2014. Tiket pp dari domisili masing-masing ditanggung oleh pihak VOI RRI.
Selamat untuk para pemenang.

Perlu diberitahukan bahwa ini bukan lomba, melainkan sebagai apresiasi atas kesungguhan, ketelatenan dan kecintaan para penggiat sastra migran. Mereka, warganegara Indonesia yang bermukim di luar negeri, tetapi tetap mencintai dan peduli dengan kesenian, kebudayaan khususnya bidang sastra literasi. Mereka yang telah setia, mengikuti program Bilik Sastra VOI RRI setiap hari Minggu melalui siaran langsung yang bisa diikuti via streaming http://voi.co.id  (Pipiet Senja, penggiat sastra migran, novelis Indonesia)



Posted in: | Rabu, 01 Oktober 2014








Posted in: | Minggu, 07 September 2014
  

 Ilustrasi Serial Balita Muslim


Rumah singgah Karisma dua hari kemudian.
Suasananya sangat hening. Di beranda anak-anak berkumpul. Tampak juga Bang Mian dan Kong Timang.
Begitu Raja datang bareng Mino, Rido dan Doan, mereka menyeruak memberi jalan.
Di atas dipan kayu itu tampaklah Tuginah terbujur tak berdaya. Tiga, empat, entah berapa pastinya, mereka telah ‘memakan’ gadis itu habis-habisan!
Raja dan Mino menemukannya di tepi pantai Anyer, setelah 24 jam mencarinya ke mana-mana.
Lubenah mendongak, matanya bersirobok dengan mata Raja. Sarat duka dan keprihatinan yang mendalam.
“Tega sekali mereka melakukannya,” bisik gadis itu menggeletar.
Raja mengangguk penuh penyesalan. Mereka baru kembali dari Polres, mencari tahu perkembangan penyelidikan kasus Tuginah.
“Maafkan aku, ini semua gara-garaku, Mbak…” 
Lubenah menggeleng tak setuju.
“Bukan, ini bukan salahmu. Nasibnya saja yang memang kurang beruntung. Bagaimana, sudah ada kabar baru?”
“Masih seperti kemarin. Mereka lagi berusaha keras menyelidiki.” Mino mendengus jengkel.
“Kenapa? Kita kan sudah tahu pelakunya?” Lubenah membelalak, kecewa.
“Hanya karena ada SMS. Mereka bilang itu bisa saja direkayasa kita,” jelas Doan.
“Aku tak tahan lagi! Biar akan kuseret si Laloan ke sini!” Raja seketika menggeram.
Namun, sebelum ia bergerak, sekonyong-konyong ada yang berteriak-teriak dari luar. Suara ketakutan anak-anak, berbaur dengan jerit tangis, sumpah-serapah.
Heboh dan rusuh!
“Ada berandalan yang mau menyerbu ke sini!”
“Siapa?”
“Tak tahu! Katanya mau cari anak yang namanya Raja Siregar!”
“Teman Mbak Luluk tuh, gawaat! Mana Bang Mian?”
“Sudah pergi dari tadi sama Kong Timang!”
“Tenang, Mbak, biar kami hadapi bersama,” Mino berusaha menenangkan Lubenah.
“Iya, Mbak, tenang saja. Bawa masuk anak-anak!” Raja menyeruak keluar, mengatur anak-anak yang panik agar masuk dengan tertib.
Sementara dari kejauhan, teriakan-teriakan yang bernuansa perang semakin dekat. Lemparan batu pun mulai beterbangan.
Aneh, Raja tak melihat warga Gang Molek yang dikenalnya. Orang-orang yang menyerbu dari mulut gang itu, semuanya wajah asing.
Beberapa saat, Raja, Mino, Doan dan Rido berpandangan. Wajah mereka tegang, tapi sama berusaha menyembunyikan rasa takut dan panik.
Tiba-tiba Raja menyodorkan kedua tangannya. Mino, Rido dan Doan pun paham. Mereka mengikuti jejaknya, saling menggenggam, menutup mata dan berdoa khusuk di dalam hati.
“Ya Rabb Yang  Maha Menggenggam, kami tak ingin mencari masalah, tak ingin mencari keributan. Namun, kami tak ingin membiarkan kezaliman ini terjadi. Ya Rabb, tolong, limpahilah kami dengan kekuatan-Mu.”
Raja membuka matanya. Dilihatnya sosok yang tak asing lagi. Josef, diikuti oleh Kevin, Brian dan Roni.
Di belakang mereka ada serombongan anak muda berpenampilan kriminal. Mengingatkan Raja kepada para preman di terminal-terminal.
“Kita tak punya senjata,” bisik Mino.
“Mereka bawa macam-macam,” rutuk Doan.
“Salah seorang di antara kita harus ada yang keluar dari tempat ini. Langsung lapor polisi, cari bantuan!” kata Raja.
Seakan-akan sudah sepakat dari awal, Mino, Rido dan Doan malah balik menatapnya.
“Kamu!” seru mereka, kompak sekali menudingnya.
Raja merasakan dadanya berdesir kencang.
Sikap setia kawan, bahkan tutur kata mereka sungguh membuat hatinya bergetar.
Tak sempat didebat lagi. Sebab orang-orang itu, dikomandoi teriakan Kevin, dalam sekejap telah menyerbu. Memukul, menendang, menghantam. Memporak-porandakan pertahanan yang tak seberapa.
“Lari Raja, lari! Cari bantuan!” teriak Mino histeris sambil menghadang Kevin yang hendak mengejar Raja dengan rantai besinya.
Raja melihat semuanya memang sudah tak terkendali lagi. Anak-anak, Lubenah dan Tuginah di dalam rumah itu sangat butuh bantuan.
Ya, dia harus lari, lari!
Polisi, aduh, di mana mereka pada saat-saat dibutuhkan begini?
Tuhan, tolong beri aku kesempatan untuk beramal, berbuat baik, menemukan bantuan bagi anak-anak itu, jeritnya dalam hati.
“Tunggu! Woi, pengecut!”
Raja memandang dengan ekor matanya. Si Josef berusaha meloloskan diri dari hiruk-pikuk, kemudian mengacung-acungkan pedang panjang ke arahnya.
Hanya seorang, aku tak takut, geram Raja.
“Ayo, sini! Sini!” balas Raja berteriak, mengacungkan tinju ke arah anak itu.
Ia berlari, berlari terus di antara orang-orang yang mulai berdatangan ke Gang Molek. Mungkin para tukang pukul Mami merasa terganggu, berhak mengamankan wilayah kekuasaan mereka.
Sebisa mungkin Raja menghindari orang-orang bertubuh tinggi kekar itu, menyelinap di antara gemerincing senjata tajam dengan nafsu saling membunuh.
Tahu-tahu sosok itu, si Haleluyah, sudah dekat dari jangkauannya.
Aku akan melawannya, kenapa tidak?
“Awas, tunggu, pengecut!” teriakan itu lagi.
 Raja sempat membalikkan tubuhnya, ingin membalas tantangannya, tatkala dirinya sudah mencapai jalan raya.
Sedetik ia berhenti di trotoar, detik berikutnya mulai melangkah ke jalan raya dan tampaklah; Jaguar Tante Maria!
Mobil itu tiba-tiba melesat dengan kecepatan tinggi, menerjang ke arahnya. Raja masih sempat melihat sosok Laloan, berkacamata riben duduk di belakang kemudi.
“Raja! Awas, pinggir!”
Suara Lubenah, mengapa ada di sini?
Bukankah dia bareng Tuginah dan anak-anak?
Ekor mata Raja seperti melihat sosok yang disayanginya melebihi terhadap kakak sendiri itu. Ia melambai-lambaikan tangannya, memperingatkan.
“Ada apa sih, Mbak Luluk, eh, Mbak Lubenah?”
Zhiiieeeng, bruaaak!
Sedetik Raja merasakan tubuhnya seolah-olah terlempar tinggi sekali melewati truk, becak, gerobak bakso bahkan sosok Lubenah.
Ada rasa nyeri yang menghajar telak bagian kepalanya. Ia memejamkan matanya rapat-rapat, masih ingin mengharap restu bunda tercinta, kakak dan adik tersayang, duhai!
Mama, ini anakmu memanggil, Ma!
Dimanakah sembilan ribu bintang yang sering dikisahkan Mama waktu aku kecil dulu?
Betulkah bintang-bintang itu masih ada selagi kita punya harapan, Mama?
Ah, mengapa Mama selalu bicara tentang bintang, bintang dan bintang?
Mengapa harus sembilan ribu, tidak selaksa, selangit sekalian?

Seribu tanya hanya terpendam di dada. Sebab langit di sekitarnya mendadak gelap gulita. Bumi pun bagai terbelah, kemudian serasa menyeret tubuhnya, jazadnya jauh ke dalam sana.