Featured Post

Tuhan Jangan Tinggalkan Aku

Ilustrasi di Perpustakaan Hongkong Sinopsis Frankie dan Fatin berkenalan di dunia maya. Mereka sering chatt onlin e, saling b...

Novel

Indeks »

Lawan Rezim Zalim!





Suara Lantang Lansia
Pipiet Senja

          Pertama kali memutuskan untuk ikut aksi pada usia 60-an begini, yaitu saat memenuhi ajakan sahabatku, Ustad Alfian Tanjung. Aku bergabung dengan grup melalui WA, Barisan Ganyang PKI.
Diam-diam tentu saja dari pengetahuan anak cucu. Kalau bilang-bilang, dipastikan tidak akan diizinkan. Makum, baru keluar dari perawatan ICCU.
Alhasil, ganti baju dengan busana serba putih di jalanan. Biasanya setiap aksi mensyaratkan desscode tertentu.
Dari rumah memang sendirian, tetapi di perjalanan banyak berjumpa peserta aksi. Di kereta pun sudah banyak jamaah yang punya tujuan sama. Aksi Ganyang Komunis, 3 April 2016.
Kebetulan di kereta jumpa anak-anak Taruna Muslim dari Bogor, binaan Ustad Alfian Tanjung. Kami bergerak jalan kaki dari Masjid Istiqlal menuju Istana Negara.
“Foto-foto dulu, ya Manini,” pinta anak-anak cantik berbusana Muslimah serba putih, jilbab merah.
Manini, begitulah gelarku di jagat literasi dan kalangan aktivis perjuangan.
Melihat dan merasakan sendiri bagaimana aura, ghirah perjuangan peserta aksi, tak urung aku terperangah hebat. Apalagi saat menyadari ternyata pesertanya bukan sekadar rombongan melainkan ribuan. Bergetar hebat sekujur tubuh ringkih ini begitu mendengar gema takbir dikumandangkan secara terus-menerus.
“Takbiiiiir!”
“Allahu Akbaaar! Allahu Akbaaar!”
“Aksi bela Islam, aksi bela, aksi bela Islam…. Allah Allahu Akbar!”
Sepanjang jalan kaki, aku bersama rombongan Taruna Muslim tidak jauh dari mobil komando. Tampaklah Habib Rizieq Shihab dan para Habaib. Untuk pertama kalinya aku melihat langsung sosok Ulama Besar Indonesia. Pertama kalinya pula mendengar langsung seruan-seruannya, pencerahannya, doanya dan larik-larik lagu mars perjuangan khas FPI.
“Pak Poliisi, Pak Poisi, bantu kita! Lawan PKI! Ganyang PKI!” demikian dilagukan selang-seling dengan teriakan lantang Habib, tentang bahaya laten komunis. Bahwa PKI gaya baru sudah bangkit. Mereka ingin menghancurkan NKRI, kembali membantai umat Islam!
Kuperhatikan saat itu para polisi yang diturunkan masihlah muda-muda. Mereka melambaikan tangan, tersenyum ramah, menyapa santun. Demikianlah aksi ummat Islam sebelum Pilkada DKI, sebelum terjadi penistaan agama. Yakinlah, Polisi masih bersama ummat!
“Teteh, kami akan masuk ke Istana. Kalau mau Orasi, nanti Iqbal yang atur,” kata Ustad Alfian Tanjung.
Ia mengarahkan putranya, Iqbal, sebelum bergabung dengan perwakilan yang diizinkan masuk ke Istana Negara. Kabarnya tidak ada Presiden, hanya diterima oleh Wapres Jusuf Kalla.
Aku pun patuh antri untuk Orasi. Usai Kivlan Zein, ganti seorang Habib, barulah giliranku. Tak terpikirkan sedikit pun jika kita melakukan Orasi, suatu saat akan menjadi target. Maka, santai dan tenang saja aku teriak-teriak lantang. Ganyang PKI!
Itulah Orasi pertama yang pernah kulakukan di atas mobil komando, milik FPI pula, masya Allah. Kalau teringat lagi saat-saat itu serasa berdetak kencang jantungku yang sudah error ini.
Ternyata ada yang lebih tua lagi umurnya dariku, yaitu; Yeni Biki, kakaknya Amir Biki yang ditembak mati kasus Tanjung Priok di bawah omando LB Moerdani. Dia lebih lantang, lebih semangat tentunya dan sama sekali tanpa teks. Masya Allah, mujahidah sepuh dari Tanjung Priok, dahsyat!
Sejak aksi pertama itulah aku jadi sering diundang oleh berbagai komunitas perjuangan. Bersama WNKRI teiak-teriak lantang; Suara Rakyat Adalah Kita, ngahok, ngahok, preeet.
Bersama Pinky Lady, ibu-ibu dan anak-anak korban reklamasi, aku pun Orasi; Keadialan Untuk Korban Reklamasi; Surat Berdarah Untuk Presiden. Lokasinya di berbagai tempat; depan Istana Negara, Gedung KPK, Gedung MPR/DPR, Tugu Tani, Kedubes Myanmar dan Monas.
Aksi 411, bagiku adalah aksi paling seru dan sangat horror karena ditembaki gas airmata dan kembang api oleh Polisi. Terpisah dari rombongan, jalan sendirian di tengah massa konon berjumlah 2 jutaan. Melihat dari kejauhan bagaimana Habib Rizieq, Arifin Ilham, Fadlan Gramatan, Aa Gym dan para Ulama ditembaki kembang api, gas airmata.
Mereka diperlakukan tak ubahnya bagaikan para kriminal, teroris. Polisi sungguh represif, kejam sekali, teriakku geram nian.
Saat itulah sinyal ponsel kembali kudaatkan setelah beberapa jam menghilang. Melalui FB dan Twitter, anak-anakku menyuarakan kecemasan mereka terhadap si Manini, ibu mereka yang dianggap ringkih, penyakitan sering keluar masuk ICCU.
Anakku sulung menyarankan agar emaknya ini singgah di Mabes Kostrad. Aku memang sudah di Mabes sejak beberapa menit yang lalu. Menunggu situasinya aman. Seorang pajurit muda yang baik hati bahkan menyuguhiku minuman hangat dan cemlan.
“Mama jangan cari-cari matilah, plliiiis,” pinta anakku perempuan.
“Mama cukup berjuang melalui tulisan saja, ya Ma, pliiis,” abangnya ikut pula memohon-mohon.
“Mama lebh memilih mati di jalanan saat aksi melawan rezim zalim daripada mati di ICCU!” jawabanku membuat mereka geleng kepala, tak bisa berbuat apa-apa selain berdoa.
“Aksi 212 yang paling menggetarkan, Anakku,” tulisku di buku harian.
Betapa banyak kejadian yang sarat dengan keajaiban. Sehingga aku memutuskan untuk mengmpulkan kisah nyata dari peserta 212. Begitu usai membukukan dan mencetaknya dengan donasi dari Hamba Allah yang tak ingin disebut identitasnya, terbersit pula untuk bisa mengangkatnya ke layar lebar.
Sejak Maret 2017 bersama Tarmizi Abka, sutradara, berjuang untuk mewujudkan mimpi film spirit 212; Cahaya di Langit Jakarta. Entah kapan bisa menayangkannya di XXI. Bahkan untuk mendapatkan produsernya pun masih terombang-ambng dalam perjuangan tim produksi, bersama Basyirah dan Buni Yan, dkk. Aku yakin dan tetap optimis!
“Berhati-hatilah postingan, Mama,” anakku yang Master IT mengingatkan.
Beberapa kali akun atas namaku di-hacker, tidak bisa diakses bukan karena lupa password-nya. Seperti tudingan seorang TKI, bahwa si Manini banyak cucu, sudah pikun, sudah bau tanah kubur. Sotoy, sok jadi pahlawan. Bikin muak sekali!
Tidak mengapa, silakan saja kalian menghujatku, Emang Gw Pikirin?!
“Perjuangan belum usai, Anakku,” tulisku pula di buku harian.
Aku cermati melalui media sosial, terkesan sekali anak-anak muda bersikap tak peduli. Ke mana coba mahasiswa, apa hanya suka selfiean di Istana? Alhasil, emak-emak dan nenek-nenek yang semakin gencar berjuang. Baik sebagai BEMI, Barisan Emak Muslim Indonesia perang di media sosial, maupun ikut bergerak di setiap ada ajakan Ulama untuk aksi.




Setiap kali hendak pergi aksi, aku tidak lupa menuliskan semacam wasiat di Deskop laptiop. Atau memberi pesan terutama minta doa kepada Zein dan Zia, dua cucu yang sudah besar.
“Demo melulu, Manini, mau sampa kapan?” tanya Zein, cucuku melalui WA. Kini kami berjauhan, tetapi  masih bisa berkomunikasi, jika ibunya mengizinkan.
Aku belum meresspon beberapa saat, sibuk persiapan menuju aksi 299. Perbekalan hanya alakadarnya, dua batang cokelat almond, termos min teh hangat, obat-obatan dan Oxycam. Kutahu makanan dan minman senantiasa berlimpah dan digratiskan di setiap aksi.
“Pasti ada yang mendanai!” tuduh seseorang di beranda FB.
“Ya, tentu saja ada dana yang senantiasa mengalir. Dari Sang Maha Pencipta melalui tangan-tangan ikhlas,” tulisku di kolom komentar.
“Manini, aloooow! Belum jawab, weeei!” Zein mengingatkanku.
“Bentaaar!” sahutku.
“Jangan-jangan Manini kecanduan demo?” komentar anak SD kelas enam itu membuatku tertawa geli.
“Kecanduan, halaaah!”
“Jawab dong, Manini, pliiiis!” tuntut Zein lagi.
“Sampai detak jantung berhenti, Zein,” jawab aku. “Ayo, takbiiiir!”
“Allahu Akbar!”
“Merdeka, Zein!” (Jakarta, 29 September 2017)







@@@



Aulia Najasyi, Al Quran Mempertemukan Kita




Al Quran Mempertemukan Kita
Pipiet Senja

           
Bermula Dari Cinta Al Quran
Sesungguhnya saya dan anak-anak telah lama mengenal sosok Ustad Bobby Herwibowo. Kalau tidak salah, sejak saya aktif ngeblog melalui jaingan Multiply, awal 2006. Sahabat Multiply yang tinggal di kawasan Bekasi, yakni Elly Lubis, kemudian menyambungkan saya dengan Ustad Bobby Herwibowo.
“Aku ajak Teteh ke taklimnya di Bambu Apus,” katanya kemudian janjian langsung bertemu di lokasi.
Ternyata malah Elly Lubis datang belakangan, setelah saya diberi waktu untuk sekadar berbagi kisah inspiratif dengan ibu-ibu taklimnya. Mereka memborong buku-buku novel Islami yang sengaja saya bawa.  Alhamdulillah, setidaknya saya bisa memberi anak-anak makan, belanja untuk beberapa hari ke depan. Maklum, saat itu sepulang berhaji,
“Nanti Teteh ikut saja ke acara Askar Kauny di….” Ustad Bobby menyebut nama sebuah hotel brbintang di kawasan Kuningan.
Menghafal Al Quran Semudah Tesenyum, demikian seminarnya. Saat inilah pertama kalinya saya mengenal metode yang dikembangkan oleh alumni Al Azhar, Ustad Bobby Herwibowo.
Betapa ajaib rasanya mendadak bisa menghafal Surah Ar Rahman dalam tempo singkat!

Aulia bersama teman-teman di Mahad Askar Kauny Cibinong


Persahabatan dengan Ustad Bobby ternyata bertahan selama bertahun-tahun kemudian. Saat-saat saya dalam kesulitan ketiadaan dana, menjelang operasi pengangkatan limpa dan kandung empedu. Ia segera mengulurkan bantuan, menyambungkan saya dengan taklim ibu-ibu hingga pengajian para artis. Bahkan berkenan menjadi saksi sekaligus penceramah ketika putriku menikah.
 Mulai Januari 2017, saya kembali merapat dengan Mahad Askar Kauny. Kerja sama mencetak buku Cahaya di Langit Jakarta sebanyak 1000 esplar versi kover dan ada program ikihan yang disertakan di buku kumpulan kisah nyata Aksi 212 ini.
Sebelum itu, ketika saya bingung cari dana utuk cetak buku kumpulan kisah nyata Aksi 212 ini, Ustad Bobby Herwibwo menyambungkan saya dengan Hamba Allah. Demikian, kita sebut saja Hamba Allah, sponsor utama yang tak ingin disebut identitasnya tu. Berkat lobi beliaulah kami pihak penerbit pun akhirya bsa mencetak sebanyak 10 ribu eksemplar.
Menyusul bulan berikutnya menerima jasa penyuntingan sekaligus penerbitan buku HOTS, yaitu kumpulan kisah para HOTSER, penggiat penghafal Al Quran.
Belakangan saya menjadi nomaden alias tidak punya rumah pribadi. Curhatan lagi kepada suami-istri, Ustad Bobby-Ustadah Maya, perihal ini. Maka ditempatkanlah saya di Mahad Askar Kauny Cibinong. Barakallah.
Sejak Juni 2017, saya mulai membuka kelas menulis di Mahad Askar Kauny Cibinong. Targetnya saya harus mengkader para penulis dari para santri yang menuntut ilmu di Mahad Askar Kauny.
Baru bersosialisasi dengan santri Askar Kauny Cibinong, Bojong Gede dan Cinere, ternyata banyak kisah menginspirasi yang telah saya dapatkan. Baik melalui tulisan para santri, maupun curhatan mereka yang suka wara-wiri di depan kamar saya.
Umpamanya tentang Aulia Najasyi. Pertama kali saya dengar namanya disebut oleh Umi Izzah. Saya minta Umi Izzah untuk menuliskan kisahnya melalui WA. Dari hasil tektokan melalui WA itu jadilah tulisan yang saya beri judul: Al Quran Membuatku Tangguh.
Pertama kali jumpa langsung dengan Aulia Najasyi saat Wisuda Akbar. Ia sosok remaja putri yang murah senyum, ramah dan cantik. Kami sempat berbincang beberapa saat di tengah kemeriahan Wisuda Akbar. Kemudian kulihat ia sudah tidak ada di ruangan. Kutemukan ia sedang berbaringan di kamar santri, ditemani ibunya.
Aulia tampak senang sekali ketika kuhadiahkan beberapa buku novel karya saya. Beberapa bulan kemudian, tak lama setelah saya pulang diopname, kudengar Aulia ngedrop.
“Tolonglah, Ustad Hilal, antar saya menengok Aulia,” pintaku kepada Ustad Hilal, saat membuka kelas menulis di Cinere.
“Iya, nanti janjian saja dengan Gema,” ujatnya sebelum berangkat ke kantor pagi itu.




                                    Aulia ketika sehat

Sore itu, 20 September 2017, saya diajak Gema membesuk Aulia di Rumah Sakit Dharmais. Betapa terkejut sekali saya demi melihat kondisinya saat ini. Sosok periang, murah senyum dan cantik itu telah berubah drastis!
Hampir tak bisa mengenalinya lagi, begitu lemah, ringkih, selang oksigen terpasang di wajahnya. Demikian pula berbagai selang infus seakan mengerubuti tubuhnya yang tampak mengecil. Rambutnya yang indah pun telah hilang, plontos akibat ganasnya kanker dan wajib dikemoterapi.
“Sudah dua minggu ngedropnya,” ujar ibu Aulia yang senantiasa mendampinginya selama dua tahun perjuangan putrinya melawan kanker.
Saya duduk di samping ranjang, menggenggam tangannya yang sangat kurus dan kuku-kuku jarinya bersemu ungu. Pertanda kanker telah merayapi jantung dan paru-paru. Aulia mengeluh sakit kepala hebat. Perawat bilang sudah memberinya morphn sebanyak lima kali per hari.
Ini mengngatkanku pada kondisiku sendiri, pasca pengangkatan limpa dan kandung empedu tahun 2009. Rasa sakit yang luar biasa membuatku terpuruk dalam situasi yang dinyatakan in-comma oleh dokter.
Selama tiga hari tiga malam itulah dokter pun memberiku morphin. Tentu hanya Sang Maha Pengasih jualah yang Maha Tahu, jika saya masih bertahan hingga saat ini.
“Bunda Pipiet, terima kasih sudah menengok,” lirihnya seketika membuka matanya yang sejak tadi terpejam.
Kubisikkan di telinganya agar ia terus menyebut asma-Nya. Ia mengangguk, tak berapa lama kemudian meminta ibunya agar mentayamumkan dirinya.
“Sholat, Ma, sholat,” pintanya lirih dan lemah sekali, tetapi tampak semangatnya masih kuat untuk menunaikan kewajibannya sholat lima waktu. Masya Allah!
Kulihat Aulia begitu tenang, damai dan khusuk sekali saat melakukan sholat Ashar. Tanpa terasa air bening merembes dari sudut-sudut mataku. Kutahankan kepedihan hati ini sedemikian rupa. Kuatir malah mengganggu Aulia dalam kekhusukan menyembah Sang Penciptanya.
Saya menantinya selesai sholat. Sementara Gema, temannya, Omah Iesye dan bibinya Aulia duduk di lantai beralaskan tikar. Tak  berapa lama kemudian, kulihat mata Aulia terpicing kembali. Ia ingin menyampaikan permintaan kepada ibunya. Namun, agaknya sudah sangat sulit bicara.
Maka ibunya mendekatkan wajahnya ke muluttnya, sehingga ia bisa menyampaikan pesan melalui bisikan. Entah apa yang dibisikkannya. Saya menatap ibunya, menanyanya melaluu isyarat tangan.


                                          Aulia senang anak-anak


“Oh, Aulia minta dibacakan sholawat, Bu,” ujar ibu Aulia.
“Ayo, anak-anak, kita shoawatan untuk Aulia,” ajak saya kepada Omah Iesye, Gema dan temannya.
Kami pun membacakan sholawatan Nabi pelan-pelan, nyaris hanya berupa gumam. Sebab kuatir mengganggu kekhusukan Aulia yang fokus bersholawatan. Tampak bibirnya yang pucat pasi menggeletar. Kubayangkan ia sedang menahan rasa sakit menghebat yang menyerang kepalanya. Napasnya tinggal satu-satu, ya Allah!
Sesungguhnya saya ingin tetap berada di samping Aulia, menemani ibunya dan terus-menerus menyemangati Aulia. Namun, Gema dan teman-teman sudah ditunggu agenda lain.
“Manini pamitan dulu, ya Neng, teruslah menyebut asma-Nya,” bisikku di telinga Aulia, kemudian kukecup tangannya sepenuh sayang.
Entah mengapa, seketika ada firasat membisikkan bahwa ini adalah perjumpaan terakhir kami.
Benar saja, dalam kemacetan Ibukota yang luar biassa sore dan malam itu, mobil kami baru sampai rest area saat masuk pesan Ustad Ahmad. Mengabarkan berita dukacita; “Innalilahi wa inna ilaihi rojiun….”
Ketika jumpa ibunya di Cibinong, perempuan 50-an itu berkata: ”Pesan Aulia, semua sumbangan yang sudah masuk, tolong berikan untuk anak-anak Rohingya, Palestina, dan sebagian untuk teman-teman buka puasa.”
Masya Allah, husnul ktiman, ya Ananda Aulia Najasyi. Bahkan dalam kondisi harus merasakan kesakitan luar basa itupun, ternyata engkau masih saja mengingat orang lain. Anak-anak Rohingya, Palestina dan teman-teman penghafal Al Quran.
Kisahmu yang dituliskan oleh Umi Izzah, Al Quran Membuatku Tangguh, sangat menginspirasi. Semoga semangatmu untuk tetap mencintai Al Quran akan menulari ummat. Cinta Al Quran jualah yang menyatukan kita di Mahad Askar Kauny.
Alhasil, buku kumpulan kisah santri Mahad Askar Kauny ini adalah sebagai permulaan.  Semoga akan berlahiran para penulis mumpuni dari kalangan santri, khususnya santri penghafal Al Quran di kalangan Mahad Askar Kauny. Dan berlahiran pula karya-karya hebat dari jari-jemari mereka. (Mahad Askar Kauny Cibinong, September 2017)

                                       Masih muda sudah operasi rahim


@@@

Jangan Lupakan Sejarah, Anakku!







Sumedang, 1965

Sejak dinyatakan berpenyakit kuning beberapa waktu ruang gerakku agak terbatas. Ada beberapa famili dan tetangga yang sangat alergi terhadapku. Hingga mereka sampai hati menutup pintu rumahnya. Begitu pula pengaruhnya terhadap pergaulanku. Beberapa anak tak sudi berdekatan denganku.
Ini bersamaan dengan masa-masa PKI. Entah dari mana datangnya kebencian itu. Ada tiga anak perempuan yang paling kuingat sering menyakiti fisikku; Eneng, Eros dan Iyen. Eneng dan Iyen anak gembong PKI. Eros anak Brigadir Jenderal yang juga pendukung berat PKI. Ketiga anak perempuan itu sangat kompak memprovokasi anak-anak, agar membenci dan memusuhi aku.
Tingkah mereka sungguh sering melewati batas kewajaran. Selama berada dalam kelas, tak henti-hentinya mereka merusak konsentrasiku. Melempari aku dengan kapur, batu kerikil atau biji kemiri. Terkadang mereka bergantian menjegal kakiku secara sengaja. Hingga aku terjatuh, hidung menyusut lantai dan berdarah.
Aku masih ingat, Emih berteriak-teriak menantangi bapak si Iyen.
“Hoooy, keluar kamu PKI! Beraninya suruh anak kamu mencelakakan cucuku! Kalau jantan keluaaar, woooi!” Seru mantan anggota Laswi itu dengan keberanian luar biasa.
Lain lagi reaksi Mak dan Eni. Keduanya tamapak lebih banyak bungkam. Pernah aku pergoki Mak sedang mengemasi barang-barang milik Bapak. Ya, segala macam atribut keprajuritan dan buku-buku militer disembunyikan oleh Mak. Termasuk potret-potret ayahku yang semula tergantung di ruang tamu dicopotnya pula. Mak takut sekali ada yang menyambangi rumah kami, mengetahui kalau kami ini keluarga seorang prajurit. Oooh, apa artinya semua ini?
“Mengapa anak-anak itu sangat membenciku, Mak?”
“Sabar, ya Teh. Kamu harus tawakal, kita memang dalam posisi sangat sulit,” Mak mengusap-usap rambutku yang habis dijambaki anak-anak. Mengapa cuma begitu reaksi Mak?
Ya, rasanya penuh dengan misteri!
Kutahu kemudian Emih mendatangi Pak Guru yang mengajar kelas kami. Mengadukan ulah anak-anak nakal itu. Namun, aneh sekali, Pak Guru jelas-jelas tak menggubris pengaduannya. Belakangan diketahui Pak Guru ini juga anteknya PKI.
Suatu hari, begitu bel berdentang tanda pulang, aku langsung keluar kelas, Maksudnya untuk menghindari anak-anak jahil itu. Namun, ternyata Eros dan Eneng sudah berdiri di depan pintu  gerbang. Bukan hanya dua anak itu saja, melainkan hampir seluruh kelas! dimataku anak-anak itu semakin banyak!
Anak-anak itu dipelopori Eros dan Eneng. Kemudian mereka mengarakku, sejak dari pekarangan sekolah sampai sepanjang jalan Empang menuju rumah. Tak ubahnya mengarak seorang penyihir yang akan digantung dan dibakar rame-rame.
Sepanjang jalan itu mereka menzalimi diriku, habis-habisan. Ada yang menjengguti dan menarik-narik kepangku, ada pula yang menggeplak-geplak kepalaku. Sambil teriak-teriak, tertawa-tawa, dan berjingkrak-jingkrak. Menirukan badut dan ondel-ondel.
Oh, Allah…. Aku tak pernah bisa melupakan kejadian hari itu. Tak pernah, sepanjang hayatku masih menempel kuat di memori kenanganku. Entah apa dosaku. Hingga anak-anak itu begitu membenciku. Apakah karena aku penyakitan? Karena aku anak seorang tentara? Cucu seorang ulama NU yang sudah tiada?
Mereka mengejek nama Bapak, Mak, Emih, dan Eni. Mengejek pula mendiang kakekku. Pendeknya, melecehkan orang-orang yang aku sayangi dan yang aku hormati.
Anehnya, orang-orang yang melihat kejadian itu hanya tertawa-tawa geli. Seolah-olah arak-arakan itu sangat kocak. Tontonan gratis yang amat menggelikan.
Tuhanku, kemarahan sudah sampai di ubun-ubun kepala. Tak ada yang membelaku. Aku harus membela diri sendiri!
Entah dari mana kekuatan itu muncul. Beberapa meter sebelum rumah bernomor 34 C itu, aku menghentikan langkah. Air mata yang sejak tadi bercucuran, aku susut habis.
Kemudian, aku menyambangi Eros dan Eneng. Tiba-tiba aku membungkuk, menyeruduk kedua anak bengal itu dengan kepala.
Bruuuak …. Bluuug, gedeblug!
“Aduuuh…sakiiit!” jerit keduanya serempak.
Eros dan Eneng terjengkang. Saling bertindihan. Anak-anak terperangah. Pasti mereka tak pernah mengira aku punya nyali untuk membela diri. Dalam beberapa saat  tak ada yang berani bereaksi.
Seketika tanganku memungut sebuah batu besar. Siap untuk ditimpukkan kepada siapapun …. Huh!
“Lariii!” seru Eros dan Eneng sambil lari terbirit-birit.
Seminggu aku tak berani masuk sekolah. Aku sampai mengira, seumur hidupku takkan pernah kembali ke bangku sekolah. Bapak yang selalu membela, melindungi dan membuatku bangga… entah kapan kembali!
Hampir dua tahun ayahku bertugas ke pedalaman Kalimantan, berlanjut ke Sulawesi. Hatta, demi mengamankan Tanah Air dari gerombolan Kahar Muzakar.
Saat aku kehabisan alasan mendengar pertanyaan orang serumah atas keenggananku masuk sekolah itulah, tiba-tiba terjadi keributan di mana-mana. Anak-anak KAPPI turun ke jalan. Demonstrasi besar-besaran.
Belakangan aku baru tahu ada peristiwa pemberontakan G30S/PKI di Jakarta, tujuh Jenderal dibunuh secara keji. Tentara berhasil mengendalikan keamanan, kemudian terjadi gerakan balas dendam. Imbasnya sangat berpengaruh ke daerah-daerah. Banyak orang yang selama itu suka menjahili, menzalimi para santri, ulama, dan keluarga prajurit, ditemukan telah bergelimpangan di pinggir sungai atau sawah.
Suasana menjadi sangat menegangkan. Mencekaaam nian!
Aku menyaksikan dengan mata kepalaku sendiri. Bagaimana rumah keluarga Iyen, Eros dan Eneng habis dijarah massa. Bapak Eros yang Brigjen pasukan Cakrawala itu diberitakan telah ditangkap di Jakarta. Sementara ayah si Iyen dan Eneng digiring oleh massa ke alun-alun. Kalau tidak segera diamankan oleh tentara entah bagaimana nasibnya. Sejak saat itu, aku pun tak pernah melihat kembali ketiga anak perempuan itu. Raib entah ke mana!
Menghabiskan sisa tahun itu merupakan saat-saat menyenangkan bagiku. Tak ada lagi si penganggu konsentrasi. Prestasiku pun berkembang dengan baik. Di akhir tahun pelajaran, aku mendapat peringkat pertama di kelas empat. Itulah kemenangan pertama dalam hidupku.
Bapak pun kembali ke tengah keluarganya!
Ya, Bapak bersama pasukan Siliwangi kembali dari hutan Sulawesi. Sebagai seorang prajurit, Bapak memang harus mematuhi komando. Bapak kemudian ditugaskan ke Serang sambil melanjutkan pendidikan di sekolah calon perwira di Cimahi.
Kami pun boyongan dan bermukim di kawasan Labuan, Banten. Hanya setahun kami tinggal di kota pantai yang panas dan gersang ini. Tetapi di sini, kami mengalami banyak penderitaan. Aku semakin sering jatuh sakit, rasanya macam-macam penyakit menghinggapiku. Terutama malaria dan penyakit kulit kronis!
Karena terlalu sering jatuh sakit, ada penolakan keras dari dalam diriku, jiwaku, lahir-batinku… Demi Tuhan, aku tak menyukai kota kecil ini!
Maka, kenangan-kenangan melukai yang pernah mampir di hadapan mataku, langsung tersingkir… terpental dari memori otakku!
“Kita akan hijrah ke Jakarta!” kata Bapak suatu hari.
“Horeee!” sambutku dan adik-adik gembira sekali.
Ya, kali ini Bapak ditugaskan ke Ibukota. Kami pun boyongan lagi, sekali ini menuju jantung kota yang sedang bergerak menjadi kota metropolitan. Sejuta mimpi, sejuta harapan bermain-main di benak kami. Jakarta, aduhai, Jakarta kota penuh harapan.
Sambutlah kami datang, Jakarta!
@@@


Recommend us on Google!

Tulisan Terbaru