Featured Post

Tuhan Jangan Tinggalkan Aku

Ilustrasi di Perpustakaan Hongkong Sinopsis Frankie dan Fatin berkenalan di dunia maya. Mereka sering chatt onlin e, saling b...

Novel

Indeks »

Kini Engkau Beri Mama Cucu



Haekal 11 bulan

Zidam 22,5 tahun

Add caption
 id 9 tahun, Zein 11 tahun



Keluarga Haekal kini


Engkau  Beri Mama Cucu
Pipiet Senja


Saat kucatat lakon ini, Haekal berumur sembilan tahun, kelas empat SD, selalu peringkat pertama. Anak ini melimpahiku dengan banyak prestasi, kebanggaan  dan kebahagiaan tak teperi.
“Kata dokter, sekarang Mama lagi hamil, Nak,” aku berkata sambil mengusap kepalanya, siang itu sepulang Haekal sekolah.
Anak laki-laki yang nyaris tak pernah membuat ibunya bersusah hati itu mengangkat kepalanya, memandangi wajahku, parat terus ke permukaan perutku dengan sorot mata ingin tahu dan penasaran.
“Iya, Haekal akan punya seorang adik. Bukankan itu menyenangkan, Nak?” ujarku menegaskan.
“Ekal mau punya adik, ya?”
“Iya Nak.” Aku mengulang sambil mencoba menebak-nebak, kira-kira apa yang dipikirkan anak seusianya tentang keberadaan seorang adik. Selama ini aku sudah terfokus terhadap dirinya.
Dia menggaruk-garuk kepalanya, suatu kebiasaan yang sama dengan bapaknya bila pikirannya belum ajeg.
“Eeeh, adiiiik! Waaa, asyiiik!” serunya sesaat kemudian.
Tiba-tiba dia bersorak, meluapkan kegembiraannya sambil berjingkrak-jingkrak, mengacung-acungkan kedua tangannya ke udara. Beberapa jenak dia berputar-putar di sekitarku bagaikan gasing. Sampai kuperingatkan agar tidak terlalu heboh, khawatir mengganggu ompungnya yang sedang rehat di kamarnya.
“Ekal paham kondisi Mama?” aku mulai mengajaknya duduk tenang.
Beginilah caraku kalau ingin mengajaknya membincang suatu masalah. Haekal bukan sekadar seorang anak, bagiku dia bisa menjadi seorang teman, seorang sahabat, seorang pahlawan dan terutama buluh perindu di kala hidupku serasa dalam kehampaan.
“Iyah… Ekal harus bisa lebih mandiri, ya kan?”
“Bagus!”
“Terus?”
“Mama akan banyak minta bantuanmu, gak apa-apa kan, Nak?”
Dia menggeleng cepat sambil ketawa lugas. “Ekal janji mau bantu Mama!” sahutnya mantap.
Sejak itu aku dan anakku berjibaku dalam rangka menyelamatkan kehamilanku kali ini. Dua kali keguguran, sesungguhnya bagiku sangat menyiksa, acapkali aku dihantui perasaan bersalah dan berdosa yang nyaris tak tertanggungkan. Apapun alasan medis, tetaplah membuat lahir-batinku merana apabila mengenangnya.
“Bisa mengantarku hari ini ke rumah sakit, Yang?” pintaku suatu pagi sebelum suami berangkat ke kantor.
Walaupun jawabannya sudah bisa kutebak, tapi aku merasa harus mencobanya lagi. Ini memasuki minggu ke-28, takaran darahku sering di bawah standar ibu hamil, ditambah asma bronchiale dan jantung tidak aman.
Selama ini aku lebih sering pergi seorang diri, kalau agak darurat biasanya terpaksa mengorbankan waktu sekolah Haekal. Ya, anak kecil itulah yang setiap saat menjadi pengawalku paling setia dan tulus.
“Hari ini aku ada urusan! Biasanya juga kamu pergi sendiri atau diantar si Haekal,” cetus suami terdengar tanpa perasaan sama sekali.
“Tapi hari ini aku mungkin harus ditransfusi, menjalani beberapa pemeriksaan…”
“Semuanya kan sudah biasa bagi kamu,” ujarnya seraya meninggalkan uang alakadarnya.
Aku mengatupkan mulut rapat-rapat, menahan gelombang yang membadai dalam dadaku. Dia sudah menjadi seorang dosen tetap di almamaternya. Memang ada sedikit perubahan saat ini, dia mulai memberiku uang belanja per hari. Ini lebih disebabkan keberadaan ibunya, dan seorang keponakan yang tinggal bersama kami.
Sebelumnya untuk keperluan sehari-hari, semuanya saja, harus aku yang mencarinya. Suatu hal yang membuatku mesti bekerja keras, melahirkan karya; menulis, menulis, menulis tanpa terpikirkan lagi tentang nilai-nilainya, ruhnya dan sebagainya.
“Ekal saja yang antar, ya Mama?” tanya anakku ketika usai mandi, mendapatiku sedang tercenung-cenung di depan mesin ketik.
Kebiasaan burukku adalah melamun di depan si Denok, manakala pikiran dan perasaanku terusik. Niscaya Haekal sudah tahu kebiasaanku ini. Kuangkat kepalaku dari mesin ketik, kualihkan ke wajahnya… Oh, Anakku!
Sungguh, meskipun masih bocah, tapi dia telah mengalami banyak peristiwa dalam sejarah kehidupannya. Diperebutkan oleh aku dan suami di pinggir jalan, menyaksikan diriku disiksa habis-habisan oleh suami. Matanya nyaris tersundut rokok bapaknya, ketika kami bertengkar hebat di jalanan. Disiksa habis-habisan saat dia melakukan kesalahan kecil, mengisengi sepupunya, dan itu dianggap dosa besar oleh bapaknya.
Ya Tuhan, Engkau menjadi saksi, bagaimana diriku bermalam-malam membaluri sekujur tubuhnya yang penuh dengan bilur-bilur biru, tapak kekerasan yang keji itu.
Kelak, seiring usia pernikahan kami, saat Haekal memasuki masa remaja; penganiayaan dan penyiksaan itu semakin sering dialaminya. Hanya karena anakku berusaha membelaku dari penganiayaan fisik.
Kekerasan itu berhenti saat anakku kelas dua SMA, menjadi taekwodoin handal di sekolahnya. Dalam hal ini, terus terang aku terpaksa mendukungnya penuh, setidaknya anakku mampu membela dirinya sendiri dari tindak kekerasan bapaknya.
“Gak usahlah, Nak, sekarang kan musim ulangan. Pergilah sekolah. Ini uang sakumu. Kalau Mama belum pulang siang nanti, belilah makan siangmu, ya Nak,” kuselipkan uang tambahan.
Karena yang telah kumasak sejak subuh khusus untuk makan siang bapaknya dan ibu mertuaku; bolgang atau sayuran rebus khas Batak, bandeng goreng dan gule ikan kembung. Sedangkan Haekal tidak suka semuanya itu, biasanya dia lebih sering memilih lauk berupa ceplok telor dan kerupuk.
“Bener Mama gak perlu diantar?” dia memandangiku, seakan-akan ingin meyakinkan dirinya bahwa ibunya baik-baik saja meskipun harus jalan sendiri.
“Insya Allah, gak apa-apa, doain aja Mama selamat di jalan, ya Nak?”
“Iya atuh da Ekal mah suka doain Mama… Biar Mama selalu sehat, selamat di jalan, selamat pas melahirkan. Nah, Ekal sekolah dulu, ya Ma,” celotehnya seraya mengambil tanganku, kemudian menciumnya dengan sayang.
Aku membalasnya dengan mengusap kepala dan mencium ubun-ubunnya. Dia pun berlalu menembus kebun bambu di depan rumah kami. Aku menghela napas dalam-dalam, merasai aura semangatnya yang merasuki paru-paruku, dan sekujur tubuhku sebagai suatu kekuatan dahsyat.
Beberapa jenak kupandangi sosoknya yang pendek kekar, acapkali mengingatkanku kepada ompungnya, yakni amangboru, bapak mertuaku. Bahkan kaki-kakinya yang agak membengkok pun niscaya diwarisi dari kakeknya itu, Haji Karibun Siregar, seorang guru terpandang di Nagasaribu, Tapanuli Selatan.
Bapak mertuaku meninggal lima hari setelah kelahiran Haekal. Sayang sekali, dia tak sempat melihat perkembangan cucu laki-laki yang sangat dinanti-nantikannya itu. Seandainya masih ada, entah bagaimana perasaannya bila menyaksikan perlakuan kasar dan tak adil yang acapkali ditimpakan putranya itu terhadap cucunya.
“Mau ke mana pula sekarang kamu, Pipiet?” bertanya ibu mertuaku, inangboru.
Dia baru kembali dari rumah abang ipar untuk menagih sewa rumah-rumah petak milik putra sulungnya itu. Letaknya tak berapa jauh dari rumah kami, tapi bila ditempuh dengan berjalan kaki lumayan juga lelahnya. Biasanya kami memilih naik angkot. Ajaibnya, ibu mertuaku yang sudah sepuh, 70-an ini, lebih suka berjalan kaki pulang-pergi dari rumah kami ke rumah anak sulungnya yang sedang tugas di Jerman itu.
“Mau ke rumah sakit, Bou,” belum selesai kalimatku sudah dipintas dengan nada melecehkan dan sinis.
“Bah! Kalau si Pipiet itu selalu ke dokter terus, ya? Kulihat tak ada sakitnya itu!”
Aku tak menyahutinya. Percuma kalau kujelaskan secara rinci kondisiku saat kehamilan begini. Berulang kali, entah, tak terhitung lagi, tampaknya dia tetaplah tidak mengerti. Atau mungkin memang berlagak tak paham dengan kondisi kesehatanku, entahlah!
“Jadi nanti kami kelaparan, ya?” serunya saat aku sudah siap berangkat.
“Aku sudah masak, Bou. Semuanya sudah disiapkan di atas meja makan.”
Dia bergerak menuju ruang tengah, membuka tudung saji, mencermati hasil masakanku; membaui aromanya, memelototi bandeng goreng. Samar-samar dia masih terus menyumpah serapahi diriku, meskipun bayanganku sudah lenyap dari hadapannya.
Aku tidak pernah habis pikir, bagaimana ibu mertuaku begitu sangat antipati terhadap diriku. Acapkali kebenciannya seolah-olah tak tertahankan lagi, diluapkan begitu tanpa tedeng aling-aling, tanpa pernah menenggang rasa sedikit pun. Segala yang kulakukan di matanya tak ada yang benar. Bahkan meskipun tidak bersalah (menurut akal sehatku) tetap saja dia mencelaku, dan melecehkanku. Kini aku mengetahui bahwa sebagian besar keburukan sifat suami diwarisi dari ibunya.
           Hari itu kuawali perjalanan ke Jakarta dengan membaca basmalah, dan tekad membaja sebagai kelanjutan juang demi mempertahankan bayi yang tengah kukandung. Ini masa-masa tersulit, terkait dengan musim jilbab beracun, isu yang dihembuskan oleh pihak yang membenci Islam. Sementara aku belum lama memutuskan untuk menutup aurat dengan busana muslimah, gamis dan jilbab.
“Mending dibuka saja jilbabnya, Bu,” cetus seorang penumpang di angkot menuju terminal Depok.
“Kenapa?”
“Kemarin di Grogol ada ibu-ibu dihajar massa, gara-gara dituding meracuni makanan di warung…”
“Iya, Bu, mana lagi hamil, jalan sendiri ya?” tambah penumpang lain, menatapku dengan iba.
Aku terdiam. Kurasa tak perlu dikomentari, sementara mereka terus saja membincang isu jilbab beracun dengan sangat antusias dan bersemangat. Aku menyimak dan mencermatinya, maka dalam hitungan menit telah kutemukan satu kesan yang sangat tak nyaman. Intinya mereka mempercayai ada golongan Islam ekstrim yang hendak mengacau di Republik ini.
Membawa perasaan tak nyaman itu pula langkahku tetap menuju RSCM. Aku mulai merasai aura permusuhan dari orang-orang di sekitarku. Tatapan curiga, sinis dan ketakutan tersirat di mata mereka begitu berpapasan, atau berdekatan dengan diriku. Kujalani semua pemeriksaan, tes darah, periksa dokter, nebus obat dan permohonan darah untuk ditransfusi esok harinya dalam perasaan was-was.
“Bulan depan kita jadwalkan caesar, ya Bu,” berkata dokter Laila di poliklinik kandungan.
Aku hanya mengangguk, pikiranku langsung dijejali berbagai kemungkinan yang harus kutempuh. Sejauh itu nyaris tak ada bayangannya, sosok yang telah membuat diriku pontang-panting dengan kehamilan ini, termasuk di dalam rancangan mempertahankan bayiku. Aku merasa harus merencanakan dan memutuskan semuanya ini tanpa bergantung kepadanya!
Membawa beban pikiran itulah aku pulang dan menemukan anakku menangis terisak-isak di kebun bambu.
“Apa yang terjadi, Nak?” Kulihat matanya sembab dan menyimpan ketakutan.
Pikiranku langsung mengarah kepada ayahnya, apakah dia pun berani menyiksanya manakala ibu kandungnya ada di rumah?
“Bukan Papa,” bantah anakku seperti bisa menebak pikiranku.
Agaknya kali ini yang bermasalah dengan anakku adalah neneknya. Sesungguhnya anakku ketakutan untuk berterus-terang, tapi setekah kudesak, dan kuyakinkan kepadanya bahwa aku harus mengetahui duduk perkaranya agar bisa membelanya. Anakku akhirnya mau juga berterus terang.
“Mulanya Ompung nanya, kamu itu sayang sama ibu kamu? Ekal bilang, iyalah… Ompung bilang lagi, kenapa harus sayang ibu kamu? Ibu kamu itu halak Sunda… Ekal nanya, emang kenapa kalau orang Sunda? Ompung bilang, halak Sunda itu… sundaaal!”
Mendengar perkataannya itu darahku seketika naik ke ubun-ubun. Ini tak bisa dibiarkan lagi. Masa kepada anak kecil tega-teganya mengatakan hal yang sungguh melecehkan begitu? Detik itu, aku sama sekali tak terpikir, kemungkinan ibu mertuaku sedang punya masalah dengan jiwanya. Mungkin saja dia stres akibat ditinggalkan oleh putra kesayangannya, atau kecewa harus tinggal serumah dengan kami.
Tidak, aku tak terpikirkan ke arah sana. Aku hanya merasa kesal dan kecewa sekali, mengapa anakku diperlakukan sedemikian tak adil oleh neneknya? Hanya karena aku perempuan Sunda? Sungguhkah hanya karena perbedaan etnis? Ataukah ini karena kekecewaannya, tak berhasil menjodohkan putranya dengan perempuan pilihannya di kampung dulu?
“Maaf, Bou… apa maksudnya mengatakan hal yang tidak-tidak kepada cucu Bou?” sesalku saat menghampirinya di ruang tamu.
Sementara dengan lagak acuh tak acuh, dingin dan angkuh yang tak bisa kupahami itu, jari-jemari tuanya mempermainkan biji tasbihnya. Sedetik kemudian dia menengadah, menatapku, masih dengan sorot kebencian. Seolah-olah aku telah merampas seluruh kesenangannya.
“Ha, kalau kamu itu ya Pipiet… percaya saja sama anak kecil?” sergahnya.
“Aku percaya anak kecil tak suka berbohong, terutama anakku!” sahutku menahan kemarahan yang nyaris meledak dalam dadaku.
Tiba-tiba dialah yang lebih dulu meledakkan kemarahan, dan kebenciannya yang terdalam terhadap diriku serta anakku. Dia memintaku agar membawa anakku ke hadapannya. Aku pun mematuhinya, dan tanpa kuduga seketika dia memegang kedua tangan anakku, lalu diguncang-guncangnya dengan kuat sambil berteriak-teriak lantang sekali.
“Dengar, ya Pung! Kalau kamu bersalah, sudah mengadu macam-macam kepada ibu kamu, aku sumpahi kamu, aku kutuk kamu! Supaya kamu menjadi anak bodoh, anak durhaka, tidak selamat dunia dan akhirat…”
Allahu Akbar, aku mengimbanginya dengan menyeru belas kasih kepada Sang Pemegang Keadilan. Kulihat wajah anakku berubah-ubah, antara ketakutan, kengerian dengan keterkejutan luar biasa. Tak tahan lagi kuraih badannya, kupeluk dan kubawa dia cepat-cepat masuk ke kamar.
Di belakang kami suara lantang itu, sumpah-serapah itu masih jua melolong-lolong. Entah apa yang diceracaukannya, entah apa pula yang dihantamkannya ke pintu kamar Apabila aku tak segera menutupnya, niscaya barang itu menghantam kepalaku dengan telak.
Belakangan kutahu bahwa dia menghantamkan lampu senter besar yang tidak bisa menyala di tangannya, sehingga kacanya hancur berkeping-keping, berserakan di lantai, kemudian terinjak oleh kaki-kakinya sendiri…
Ya Tuhan, setan apakah yang telah merasuki ibu suamiku itu?
Kurasai tubuh anakku gemetar dan menggigil dalam pelukanku. Air matanya mulai bercucuran, air mata ketakutan dan kengerian, kutahu itu pasti!
“Mama, apa betul nanti Ekal bakal jadi anak bodoh, anak durhaka, gak selamat dunia dan akhirat?” isaknya terputus-putus.
Aku memeluknya erat-erat, kuciumi kepalanya, kubasahi rambutnya dengan air mata ketakberdayaan. Tidak, aku tak boleh memperlihatkan air mata, kecengengan dan kelemahan di hadapan anakku.
“Tidak, Nak, Cinta, semuanya itu jangan dimasukkan ke hatimu yang putih bersih,” ujarku tegas. “Takkan kubiarkan siapapun menyakiti dirimu, Mama pastikan itu!”
“Tapi Mama, tadi kata Ompung…”
“Duh, maafkan kelemahan Mama. Dengar, ya Nak,” tukasku sambil menengadahkan wajahnya dan menghadapkannya ke wajahku.
“Bagaimana, Mama?”
Tuhanku, Gusti Allah!
Anak ini masih menunggu perkataan yang bisa melapangkan hatinya.
“Sumpah orang yang dipenuhi dengan kebencian gak bakalan mempan, yakinlah itu! Lagipula kamu sama sekali tak bersalah. Pssst, pssst, sudah ya Nak, jangan khawatirkan lagi hal ini.”
“Tapi dada Ekal… ada yang sakit rasanya Ma… di sini nih, Ma, sakiit…” Tangannya menekan-nekan permukaan dadanya, air matanya terus mengucur deras.
“Oh, Nak… tabahlah Cinta…lapangkan hatimu, Anakku…”
Kuraih kembali dia dan kupeluk erat-erat. Dia memang masih menggigil dalam dekapanku. Demi Tuhan, sebagian diriku serasa ingin melabrak ke ruang tamu sana, tapi, tidak!
Jangan pernah terpancing kembali. Tadi aku sudah melakukan kesalahan besar, mematuhinya membawa anakku ke hadapannya. Dan inilah akibatnya, ya Tuhan, ampuni hamba, tolonglah sembuhkan luka hati, luka jiwa anakku, jeritku mengambah jomantara.
“Ada obatnya, Nak… Kita ambil wudhu dan sholat, ayook!” akhirnya aku berkata.
Dia mengangguk dan mematuhiku. Tubuhnya yang imut-imut sempoyongan menuju kamar mandi. Tak berapa lama kemudian kami berdua sudah larut dalam limpahan kasih sayang Ilahi Rob. Ya, hanya kepada Sang Penggenggam kami menyerahkan segalanya. Kutanamkan kepada anakku bahwa apabila kita lurus di jalan kebenaran, niscaya Tuhan akan selalu menerangi langkah kita.
@@@


Cahaya di Langit Jakarta



                                               


                                                  Prolog
KH. Habib Rizieq

            Aksi Bela Islam bukan Aksi Anti China dan bukan Aksi Anti Kristen serta bukan juga Aksi SARA, tapi semata-mata merupakan Aksi Anti Penistaan Agama.
Aksi Bela Islam tidak pernah mencaci dan menghina agama apapun, dan tidak pernah juga mencaci dan menghina Tuhan, maupun berhala yang disembah agama mana pun.
Aksi Bela Islam hanya mencaci dan menghina orang yang mencaci dan menghina Al-Qur'an. Aksi Bela Islam adalah Aksi mengagungkan Allah Swt dan memuliakan Rasulullah Saw, serta mensucikan Al-Qur'an dan menjaga kehormatan Islam beserta umatnya, sekaligus merupakan Aksi untuk merajut keharmonisan hubungan antar umat beragama.
Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar! (http://www.habibrizieq.com)

Daftar Isi
I.              Prolog : KH. Habib Rizieq
II.            Pengantar
1.Perang Udara (KH. Bachtiar Nasir)
2.Berkah Karomah Allah Swt (Arifin Ilham)
3.Pesan Menjelang Aksi 212 (KH. Abdullah Gymnastiar)
4.Jangan Terpengaruh Tudingan Teroris (Ratna Sarumpaet)
5. Pengalaman Luar Biasa Aksi Super Damai 212 (Fahira Idris)
6. Buni Yani Adalah Kita (Ramadhani Akrom)
7. Aksi Bela Al Quran (Ustad Felix Siauw)
III. Kisah Inspirasi

8. Aksi Bela Islam 1410 (Kang Suhe)
9. Garis Depan Aksi 411 (Diki Saefurohman)
10.Jakarta Menumpahkan Air Mataku (Elmustian Rachman)
11.Cahaya di Langit Jakarta (Pipiet Senja)
12.Kesaksian Dari Lombok (Kak Wawan)
13.Sayap Malaikat Menaungi Jakarta (Jahar)
14.Penghargaan Untuk Ciamis (Bersama Dakwah)
15.Sajadah, Makanan dan Sampah (Muhammad Abdus Syukur)
16.Merangkak Menuju Monas (Anugerah)
17.Anakku, Bapak di Monas (Iswandi Syahputra)
18.Menyaksi Barisan Ciamis (Denny Suwarja)
19.Catatan Panglima Kafilah Ciamis (H. Nonop Hanafi)
20.Dahsyatnya Kekuatan Al Maidah 51 (KH. Achmad Syafi’i)
21.Membersamai Orangg Tua (Muhammad Luthfi)
22.Semangat Jihad Mengalahkan Usia (KH. Sabrowi Ihsan)
23.Semerbak Harum di Monas (Arik S.Wartono)
24.Di Tengah Serangan Gas Air Mata (Qosim Nurseha Dzulhadi)
25.Ar Razaaq Pun Nyata (Ahya El-Hasyim)
26.Wakaf Rumah Makan (Ganesha)
27.Menjadi Imam Mujahid Ciamis (Joni A. Koto)
28.Hujan Penuh Rahmat (Hamba)
29.Jumpa Mujahid Cilik (Dara Lana Tan)
30.Berkah Dari Langit (Balya Nur)
31.Warta Aksi 411 (Haris Fauzi)
32.Pasca Operasi Ikut Aksi (Tarko M. Fauzi)
33.Aksi yang Selalu Dirindukan (Teddy Snada)
34.Magnetisnya 212 (M. Iqbal Almaududi)
35.Kakek Punya Semangat (Aisyah Vimar Tawakkal)
36.Persembahan Cinta Semangat 212 (Umu Laila Sari)
37.Dengan Tertatih Aku Datang (Mariati Aprilia Harahap)
38.Laskar Akhwat Siap Syahid (Maya Hayati)
39.Adakah Aksi Bela Islam Jilid 4? (Anie Beatrix)
IV. Serba-Serbi Aksi Bela Islam
V. Album Perjuangan 1410, 411 & 212


Stok Terbatas!
Harga hanya 70 ribu sudah Ongkir untuk Jabotabek!

Catatan
Mohon bagi penulis kontributor di buku ini, ereka yang belum mendapatkan bukunya silakan menghubungi Pipiet Senja melalui WA 085669185619
Terima kasih

Novel Inspirasi: Para Pencari Keadilan

        •                          Apa yang Ompung Cari, Bah?
        •                                          Pipiet Senja


Bada shalat subuh Rumondang keluar dari biliknya. Hawa dingin segera menyergap wajahnya begitu kakinya menuruni tangga kayu sopo godang1 milik kakeknya. Sebuah rumah adat Batak berbentuk panggung tinggi, terbuat dari kayu-kayu jati yang kokoh. Biliknya dari anyaman bambu dengan atap rumbia. Ketika dirinya masih kecil, di bawah panggung itulah sudut favoritnya tempat bermain rumah-rumahan bersama sepupu-sepupunya.
Di kampungnya sopo godang milik Ompung2 terbilang bangunan paling bagus. Sebab Ompung Ni Sahat adalah orang yang sangat kayaraya. Sabak3-nya tak terhitung banyaknya, lumbungnya yang selalu penuh berada di tiap sudut pekarangan dengan luas entah berapa hektar. Belum lagi hewan peliharaannya, kambing, sapi, kerbau, ayam, bebek, angsa dan berbagai jenis burung.
“Guuuk! Guuuk! Guuuk!”
“Nguuuk! Nguuuk! Waaau! Waaau!”
            Monyet-monyet bergelantungan dari pohon yang satu ke pohon lainnya sambil menjerit-jerit riuh.
            “Iiih, bikin halak4  kaget  saja!” gumamnya.
            Rumondang Siregar, dara berumur 16, dengan rambut panjang lebat tersembunyi di balik jilbab kaos berwarna putih. Tubuhnya yang tinggi ramping terbalut dalam stelan baju olah raga.
Dia baru usai Ujian Nasional SMA di Padang Sidempuan, masih harap-harap cemas, apakah nilai-nilainya akan sebagus prestasi sebelumnya atau sebaliknya jeblok? Rasa cemasnya sesungguhnya tidak perlu. Sebab siapapun sudah tahu, Rumondang hampir tiap tahun menyabet peringkat pertama di sekolahnya.
            “Guuuk!
“Nguuk!
“Waau!”
            Ia tersenyum simpul sendiri. ”Kalian itu tak bisa kompak pula rupanya, ya?” katanya sambil memerhatikan makhluk-makhluk lucu yang bergelayutungan tak jauh dari atas kepalanya. Dia sama sekali tidak merasa takut. Sebab sejak kecil dirinya sudah akrab dengan binatang-binatang lucu itu.
            ”Rindu pula rupanya kalian itu sama aku, ya? Hihi, sudah lama juga tak ketemu kita nih. Salah siapa coba? Aku sibuk Ujian Nasional, sementara kalian sibuk bergelantungan terus, ya?” Rumondang terus berceletoh dalam hatinya.
Mulanya dia berjalan santai, menapaki jalan setapak menuju Utara kampungnya. Hanya saat dia melintasi sungai tiba-tiba entah mengapa, bulu romanya meremang. Sepi, senyap dan memang sungguh lengang.
Ke mana saja orang-orang itu? Kan biasanya juga ramai di sungai ini?
“Wuiih! Wuiih….”
Tangannya sibuk menepis-nepiskan rumput ilalang yang menghalangi jalannya. Ilalang setinggi orang dewasa begitu lebat bagai tak bertepi. Namun tubuh ramping itu terus menyelusup di antara ilalang, pepohonan dan semak belukar.
“Ooh, iya, ya…. Ini musim panen raya,” gumamnya membatin.
Rumondang baru teringat kembli percakapannya tadi malam dengan Bou5 Taing, saudara perempuan ayahnya.
“Tiap subuh orang sini sudah berangkat ke sabak. Bagaimana dengan kau? Apa kau mau ikut kami besok itu, Butet?” tanya Bou Taing.
“Iya, bantulah kami panen, Butet!” kata Tigor, suami Taing.
            “Maaf, kalau besok aku tak bisa. Aku mau ke kubur Ompungboru7,” sahutnya tegas.
Tak ada yang melarang atau membantah, bahkan tak ada yang berkata-kata lagi. Memang sejak dulu pun sikap mereka selalu begitu. Tak pedulian terhadap dirinya. Biarlah, daripada mendengar omelan dan sumpah serapah Bou Taing. Sebab sekalinya angkat bicara, omongan perempuan itu sering amat melukai hatinya.
“Anak Cina itu takkan kerasanlah lama-lama di kampung. Seharusnya kau  tinggal di kotalah itu, Amoy!”
“Pergilah ke keluarga Cina kau itu di Medan!”
Baiklah, anak Cina, katanya tandas. Tanpa tedeng aling-aling. Ibu yang melahirkan dirinya memang seorang wanita keturunan Tionghoa. Wu Siao Lien nama Tionghoanya. Nama pribuminya Maharani Sanjaya.
Cantik jelita wajah ibuku itu dalam potretnya, pikir Rumondang. Ya, dia hanya mengenalnya dalam potretnya. Sebab dia sudah ditinggalkan oleh ibunya sejak berumur setahun. Bukan ditinggalkan ke alam baka, tapi entah pergi ke mana.
            Rumondang takkan melupakan hari-harinya ketika kanak-kanak. Perilaku neneknya dan saudara-saudara ayahnya sering menyakiti perasaannya. Bahkan bukan saja secara batiniah melainkan juga fisiknya. Serasa masih terngiang-ngiang di telinganya omongan Ompungboru.
“Ibu kau itu minggat, Butet!”
“Kalau sudah besar nanti, kau pun akan benci sama ibu macam si Siao Lien itu. Percayalah sama aku!” ujarnya ketika Rumondang kelas enam SD.
“Tapi kenapa, Pung?”
“Si Siao Lien  itu bukan boru8 baik-baik, mengerti?!” cetusnya bernada penuh kegeraman dan kebencian.
“Eh…. Jadi, macam perempuan mana pula ibuku itu, Pung?”
“Pokoknya perempuan tak baiklah Ibu kau itu, Butet!” dengusnya mengulang-ulang, entah untuk ke berapa kalinya.”Dia itu tak bisa diajak hidup sengsara sama suami….”
“Artinya, dulu memang betul orang tuaku itu pernah hidup sengsara di kampung kita, ya Pung?” tukas Rumondang penasaran sekali.
“Hanya sebentar. Tak ada kerjanya pula selain mengurung diri di kamar. Entah bikin apa itu, mengetik?”
“Mengetik, Pung? Mengetik apa? Sebenarnya apa pekerjaan ibuku dulu, Pung?” kejarnya semakin penasaran.
Ini kesempatan baik untuk mengorek perihal orang tuanya. Biasanya tak ada seorang pun yang mau menyinggung perihal mereka. Terutama tentang ibu kandungnya. Seakan-akan telah menjadi tabu, pantangan berat bagi keluarga besar ayahnya.
            “Kurasa dia itu cuma ikut-ikutan anakku saja,” kata perempuan tua itu sambil menumbuk padi dengan kekuatannya yang luar biasa.
Sering Rumondang merasa heran dengan kekuatan fisik yang dimiliki perempuan tua berperawakan tinggi besar itu. Ompungboru mengerjakan segalanya seorang diri!
          “Kata  Uda Tigor, ayahku itu seorang seniman, Pung?”
          “Iyalah, betul itu! Sudah jadi seniman terkenal anakku itu sebelum kawin sama si Siao Lien. Orang bilang penyair, begitulah. Gara-gara kawin sama halak Cino, kacau  pulanya hidup anakku itu! Jadi Sampuraga8-lah dia itu. Bah!”
            Tiba-tiba perempuan tua itu berhenti menumbuk. Sepasang matanya dilayangkan ke kejauhan, ke ufuk langit berwarna biru bening. Rumondang sering berpikir, adakah Ompungboru pernah merindukan putranya? Anak laki-lakinya semata wayang? Sebab seingatnya, neneknya tak pernah memperlihatkan kerinduannya kepada siapapun. Kesibukannya sebagai ibu rumah tangga, penyokong utama keluarga besarnya sudah menguras seluruh enerjinya.
Namun, kalau untuk urusan sumpah serapah, bah!
Dialah biangnya!
            “Hei, sudahlah jangan mau tahu cerita orang tua kau. Sekarang kau ini kan sudah lama ditinggalkan sama mereka. Kau ini dibuang, Butet. Makanya kau harus bisa menitipkan diri. Jangan banyak main. Sekolah juga tak usahlah tinggi-tinggi. Diam sajalah kau di rumah. Kerja di sabak, mencangkul, panen, menggembala ternak, bantu-bantu aku yang sudah tua ini. Cukuplah begitu kehidupan kau itu, Butet!” ceracaunya tak tertahankan lagi.
            Syukurlah, Sang Maha Pencipta menjemput neneknya tak lama setelah Rumondang lulus SD dan sangat menginginkan melanjutkan sekolah. Neneknya meninggal akibat dehidrasi, muntaber. Tak mau dibawa ke Puskesmas atau dokter. Bahna malas dan kikirnya mengeluarkan isi kocek yang selalu disimpannya dengan sangat telaten di lemari tuanya.
            Memang ada bagusnya bagi Rumondang ditingalkan oleh Ompungboru. Karena perilaku dan keinginan sang nenek sangat berbeda dengan nenek-nenek temannya.
Apabila nenek temannya punya keinginan melihat dan memajukan anak cucu, mengejar cita-cita. Seperti Ompung si Liani, meskipun sangat miskin, bersikukuh menyekolahkan anak dan cucu ke perguruan tinggi. Dibela-bela walaupun harus berutang sana-sini, menggadaikan bahkan sampai menjual seluruh harta benda.
            “Kalau Ompungboru masih ada, tentu aku takkan bisa sekolah di Sidempuan macam sekarang, ya Pung?” cetus Rumondang ketika diantar oleh kakeknya ke tempat kos di Kabupaten.
Saat itu dia akan melanjutkan sekolahnya ke tingkat SMA. Di kampungnya belum ada SMP. Jadi ketika SMP pun dia harus berjalan kaki sepuluh kilometer pulang dan pergi ke Kecamatan.    
            “Iyalah. Aku pun takkan kawin lagi sama si Joruk, bekas teman kau itu,” sahut kakeknya sambil terkekeh.
            Rumondang mesem dan menggoda kakeknya.”Jadi, lebih suka mana, Pung? Saat masih ada Ompungboru atau sekarang?”
            “Ah, macam mana pertanyaan kau itu? Menggoda aku saja, ya?” elaknya tersiup malu, tapi sesaat kemudian dilanjutkannya. ”Tapi Butet, kalau aku pikir-pikir pula, bah! Enakan sekaranglah kita ini, ya Butet? Tak ada lagi tukang sumpah-serapah di rumah. Artinya, dingin kuping bening matalah kita ini. Iya kan, Butet?”
            Rumondang tertawa tergugu melihat kelakuan kakeknya. Belum 40 hari meninggal Ompungboru, ketika Ompung menikah lagi. Joruk, bekas sobat kecilnya, teman bermain di sungai dan mengaji di surau. Tentu saja mulanya tindakan kakeknya itu menjadi gunjingan orang sekampung. Namun, kemudian reda sendiri.
Siapa pula yang berani ganggu-gugat kakeknya? Orang yang paling berkuasa, banyak harta, baik budi, ringan hati dan selalu berbagi dengan masyarakat sekitarnya. Seorang pelopor pendidikan di desa mereka. Karena pernah berkelana ke Malaysia, Makkah, Iran dan Irak.
Biarlah Sang Khalifah punya istri lagi, pikir mereka. Lagipula, memang diwenangkan meski dia ingin punya istri sampai empat sekalipun. Iya kan? Apalagi ini sedang melajang kembali. Siapa pula yang mau kedinginan sendirian, menjelang hari-hari senja dalam hidupnya? Nah, yang penting dia tetap baik hati, selalu ikhlas berbagi hartanya dengan masyarakat.
          Walau mendapat tentangan hebat juga dari anak-anak Ompungboru. Ompung tetap melanjutkan niat dan hasratnya, menikahi remaja belasan sebaya cucunya. Dia merasa sudah cukup adil, membagikan sebagian hartanya dengan anak-anaknya. Hidup masih terus berlanjut baginya. Setelah dua per tiga hidupnya dihabiskan dengan seorang istri nyinyir. Dia masih ingin menikmati sisa-sisa  hidupnya dalam suasana yang sangat berbeda.
“Hmm, OmpungOmpung,” gumam Rumondang sambil mesem-mesem sendiri.
Teringat kembali bagaimana saat kakeknya begitu keras kepala, melaksanakan keinginannya menikahi Joruk. “Tak takut dimusuhi anak-anaknya, tetap berkeras menikahi Joruk. Hm, sebenarnya  alasan apa, ya Ompung itu? Segitu umurnya konon sudah 105 tahun?!”
Ah, tapi meskipun sudah lebih seabad begitu, penampilan kakeknya tampak tegar. Gigi-giginya masih banyak, rapi dan kokoh. Matanya pun masih awas, tanpa kacamata. Perawakannya juga sama sekali tidak bungkuk, apalagi peot. Ompung masih gagah, kuat dan tegar sekali.
Suaranya bila sedang mengajari anak-anak mengaji atau markobar9 itu; subhanallah, begitu lantang dan bening!
***




1rumah adat Batak
2kakek atau nenek
3sawah
4orang
5sebutan untuk tante, adik perempuan bapak
7nenek perempuan
8 perempuan
8 nama tokoh legenda Batak kisahnya mirip Malin Kundang
9 berbicara dalam suatu pertemuan adat keluarga

Recommend us on Google!

Tulisan Terbaru