Latest Stories

Subscription

You can subscribe to pipietsenja.net by e-mail address to receive news and updates directly in your inbox. Simply enter your e-mail below and click Sign Up!

TOP 5 Most Popular Post

Other Post

Other Post



Ilustrasi:Googling

Doa Ibu
Bayi mungil yang barusan menolak disusuinya itu diyakininya masih bernapas. Anakku harus hidup, harus bertahan, demikian yang terpeta dan mengakar di otak Mak Musa. Bayi yang terbaring lemah di ranjang mungil ini telah dinantikannya selama lima belas tahun. Betapa sukacita ia dan suami saat dokter menyatakan dirinya hamil. Meskipun selang kemudian suaminya harus pergi ke Malaysia. Demi masa depan mereka, sebab di kampung sulit mendapatkan pekerjaan.
Pukul satu dinihari, suasana di ruangan rawat tak pernah tidur. Ada saja tangis, rengekan dan suara kesakitan pasien anak-anak di sebelah menyebelahnya. Para penunggu, ibu dan bapak harus punya kesabaran tinggi untuk menenangkan anak masing-masing.
Dokter jaga didampingi perawat memasuki ruangan. Mak Musa gegas menghampiri mereka.”Bagaimana, Dokter? Sudah adakah tempat kosong di NICU?”
Dokter cantik dengan jilbab biru itu menggeleng.”Belum ada yang kosong, Ibu Musa. Apa tidak ada kabar dari keluarga yang bantu cari NICU untuk Musa?”
Mak Musa menggeleng lesu. Keluarganya tinggal jauh di kampung. Keluarga suami nyaris tak peduli, satu pun tak ada yang menengok. Sejak awal mereka tak pernah menyukainya. Teman-teman di pabrik sudah repot dengan urusan mereka. Hanya satu-dua yang sempat menengok sejak ia melahirkan tiga bulan yang lalu.
“Bagaimana kondisinya sebenarnya, Dok? Tolong dijelaskan saja sejujurnya,” bisiknya sesaat membiarkan dokter memeriksa bayinya. Sosok mungil yang telah diberi nama oleh ayahnya sejak tujuh bulan dalam kandungan, tampak bergeming, tak bereaksi sama sekali. Hancur rasanya hati keibuan Mak Musa.
“Seperti yang sudah kami jelaskan kemarin,” kata dokter dalam nada serius, meskipun berusaha menenangkannya.”Bayi Ibu punya kelainan jantung. Ia harus dirawat secara ntensif di ruang NICU. Bertahap nanti akan dilakukan operasi jantung kalau dia sudah besar dan kuat....”
Mak Musa tak sanggup mendengar kelanjutannya lagi. Kelainan jantung harus dirawat di NICU, karena peralatan yang menunjang kehidupannya harus lengkap. Titik. Tapi tak ada NICU yang kosong dengan biaya surat keterangan tidak mampu yang dimilikinya. Semua NICU rumah sakit terdekat yang dihubunginya menyatakan; penuh!
Ini adalah malam ke-9 bayinya menunggu mendapatkan tempat di ruangan NICU. Mak Musa tidak mau membawa bayinya pulang dalam kondisi parah. Karena di rumah pun ia hidup seorang diri. Seketika sesak serasa dadanya mengingat betapa perjuangannya demi memiliki keturunan. Mulai dari konsultasi ke bidan, dokter kandungan, hingga menemui orang-orang pintar bahkan dukun.
“Ya Robb, ampunilah hamba yang lemah ini. Agaknya saat itulah hamba telah berbuat dosa besar, menduakan-Mu,” gumamnya kini.
Terbayang yang terakhir dilakukannya tanpa sepengetahuan suami adalah menemui kuncen di Pangandaran. Sang kuncen mengatakan akan memanggil Buta Hejo untuk memberinya keturunan. Syaratnya ia tak boleh mengucapkan asma Allah seumur hidupnya.
Ketika ia mengandung tak berapa lama sepulang dari Pangandaran imannya nyaris gugur. Ia percaya bahwa kehamilannya berkat perantara si Kuncen. Berkat perutnya dipegang oleh Kuncen yang katanya adalah perantara si Buta Hejo. Naudzubillahi min dzalik!
Sekarang tubuhnya bergetar hebat, tersuruk di atas sejadah dengan air mata bersimbah. Ia menjeritkan rasa penyesalannya kepada Sang Maha Penguasa Semesta. Ia berharap ampunan dari Sang Maha Penyayang.
Ya Rahiim, Ya Rahiim, Ya Rahiim!
“Hamba ikhlas dengan segala kehendak-Mu. Ya Rahiim, apapun keputusan-Mu kini hamba pasrah lilahi Taala,” desisnya nyaris tak putus-putusnya berdoa, zikir, berdoa, zikir. Itu saja yang masih bisa dilakukan Mak Musa mengisi sisa dinihari.
Pagi telah datang, tim dokter memeriksa semua pasien kecil di ruangan Permata. Mak Musa menunggu rombongan dokter dengan hati tenang. Ya, ia telah menyerahkan segala urusan bayinya kepada Sang Pencipta.
Dipimpin seorang Profesor ahli jantung, mereka memeriksa Musa dengan cermat sekali. Mata Mak Musa tak lepas-lepasnya dari sosok buah hatinya yang tampak tenang. Ya Rahiim, Ya Rahiim, Ya Rahiim!
“Bagaimana Prof, apa sudah ada tempat di NICU?” tanyanya menatap Profesor penuh harap saat dilihatnya lelaki paro baya itu selesai memeriksa bayinya.
“Untuk apa pindah ke NICU?” balik Profesor tersenyum ramah.
“Maksud Profesor?” Mak Musa belum paham.
“Musa boleh dirawat di sini saja sampai kondisinya lebih membaik. Ibu tidak perlu mencari kamar di NICU lagi, ya,” suaranya terasa bagaikan air dingin, menyejukkan segala resah pasah jiwanya.
Rombongan dokter meninggalkan ruang perawatan anak. Mak Musa masih tertegun-tegun, nyaris tak bisa memercayai daya pendengarannya. Hingga tiba-tiba mendengar suara meringik dari ranjang mungil bayinya. Ya Rahiim, Ya Rahiim, Musa bisa menangis meskipun hanya ringikan lembut!
“Terima kasih, Ya Robb. Engkau telah mendengar doa hamba-Mu yang sempat menduakan asma-Mu,” kesahnya terharu sangat. Air mata Mak Musa berlinangan, membasahi rambut bayi dalam dekapannya.
Mak Musa tahu, perjuangannya masih panjang demi pengobatan buah hati. Artinya Allah Swt masih memberinya kesempatan menikmati kebersamaannya dengan buah hati yang didamba belasan tahun.
Ilustrasi: Mak Musa berdoa khusuk di samping ranjang kecil bayinya yang terbaring sakit parah di ruang perawatan anak.
@@@
       

        
Posted in: | Senin, 20 April 2015



Plot
Fatin terlahir dari keluarga Muslim sejati, ayahnya seorang petani miskin di kawasan Cianjur yang sering diakali, dtipu oleh para tengkulak.  Sebagai anak suung, Fatin ingin sekali berbakti kepada orang tua. Ia sering menangis diam-diam, melihat adik-adiknya sampai sering berebut makanan. Makan hanya dengan kerupuk dan kecap dengan nasi impor pera jelek. Padahal, hatta, Cianjur gudang beras pulen wangi yang sudah terkenal ke seantero Indonesia. Mereka nyaris tak pernah makan nasi pulen yang ditanam oleh ayah dan kelompok petani di desanya.

Prestasi Fatin luar biasa di sekolah. Sebelum lulus SMK, Fatin disalurkan oleh KepSek bekerja sebagai karyawan hotel berbintang di Jakarta. Ketika menjadi karyawan hotel inilah ia bertemu dengan Rimbong. Seorang Bos perusahaan bonafide yang sudah punya tiga istri, tetapi belum memiliki keturunan.

Rimbong menyelamatkan Fatin dari upaya pelecehan seksual seorang turis. Fatin merasa sangat berterima kasih dan berhutang budi. Ketika Rimbong yang umurnya lebih tua dari ayahnya, melamarnya sebagai istrinya yang keempat, Fatin menerima tanpa minta persetujuan orang tua.

Rimbong menyembunyikan Fatin di bungalownya di Lombok. Mereka sempat hidup berbahagia, apalagi tak berapa lama kemudian Fatin hamil. Rimbong sangat memanjakannya. Fatin dibelikan bungalow dan kendaraan mewah, perhiasan-perhiasan mahal.

Namun setelah melahirkan Ridho, anak laki-laki, sikap Rimbong berubah drastis. Rimbong sering melecehkannya baik secara psikhis hinaan dengan kata-kata, maupun secara fisik; memukul, menjambak dan menendang. Rimbong memaksanya agar menyerahkan hak asuh Ridho kepadanya. Fatin selalu menolaknya.

Penderitaan Fatin bertambah dengan teror yang berdatangan dari istri-istri Rimbong. Puncaknya adalah istri-istri Rimbong menyambangi Fatin. Mereka berusaha merebut Ridho yang baru berumur 2 tahun. Mujur, Fatin berhasil menyelamatkan diri, disembunyikan pembantunya. Istri tua Rimbong membatalkan pernikahannya dengan alasan tidak ada persetujuan istri tua.

Fatin berkenalan dengan Frankie melalui Facebook. Frankie keturunan Indonesia yang telah lama mukim di Holland. Fatin sangat percaya akan kebaikan hati Frankie yang mau membeli seluruh aset yang dimilikinya. Bungalow dan kendaraan atasnamanya dijual kepada Frankie. Meskipun baru dibayar sebagian saja, Fatin telanjur percaya. Frankie melamarnya menjadi istrinya, memintanya datang ke Belanda.

Fatin nekad terbang ke Holland bersama anaknya. Malam itu ia sempat dikejar oleh ketiga istri Frankie, tetapi Fatin berhasil meloloskan diri naik pesawat menuju Holland.  Baru beberapa jam kebersamaannya dengan Frankie, Fatin sudah mulai tak nyaman. Frankie langsung memaksanya agar membuka kerudungnya. Saat Fatin berusaha menolak, Frankie menarik kerudungnya hingga terlepas, kemudian membuangnya ke tong sampah.

Sesungguhnya penderitaan Fatin baru dimulai di sini. Frankie ternyata selain seorang scammer juga seksmaniak. Fatin dipaksa melayani Frankie, sambil diancam anaknya akan dibunuh kalau menolak. Ridho kecil dikurung di kamar mandi, sementara Fatin diperkosa.

Demikian terus berlangsung selama dua bulan. Tak jarang Frankie memperlakukan Fatin begitu kejinya. Kelainan seks yang diidapnya membuat Frankie suka memasuk-masukkan benda ke vagina Fatin. Saat-saat inilah Fatin sering menyeru nama-Nya:”Tuhan, jangan tinggalkan aku! Tuhan, jangan tinggalkan aku!”

Perjuangan Fatin dalam meloloskan diri bersama anaknya sungguh dahsyat. Mulai dari mencari lubang di ruang bawah, menggedor dinding untuk menerobos, hingga berusaha mengirim pesan melalui internet. Frankie memergokinya, kemudian mengurung Fatin dan anaknya di lantai tiga.

Dalam keputusasaan begitu, Fatin berserah dri kepada Sang Pencipta. Ia mendirikan sholat meskipun hanya dengan tayamum. Hanya keberadaan Ridho yang membuatnya tetap bertahan dan punya semangat untuk menyelamatkan diri.

Satu malam ketika Frankie puang dalam keadaan mabuk, Fatin nekad menghantamkan botol minuman berkali-kali ke kepala Frankie. Lelaki itu terkapar. Fatin nekad turun dari lantai tiga sambil menggendong anaknya.

Salju pertama yang dilihatnya seumur hidupnya, menyambut mereka dengan hawa dingin membeku. Fatin menggendong anaknya, terus berjalan, entah berapa kilo. Ia terus berzikir dan menyeru nama-Nya.”Tuhan, hamba mohon.... Jangan tinggalkan aku, jangan tinggalkan aku!”

Dari rahimnya mengucur darah segar tapak penganiayaan Frankie. Fatin merasa sudah nyaris pingsan, ketika matanya masih bisa melihat satu bangunan. Ternyata itu sebuah kapel, gereja kecil di tengah salju yang kian menebal. Andaikan ada mesjid atau mushola, tentu ia lebih suka ke sana, Namun, inilah, kapel yang disediakan oleh Tuhan untuk dirinya dan anaknya. Agar terbebas dari nestapa.

Seorang pendeta tua, Romo Hartland, warganegara Belanda, menyambut kedatangannya. Fatin benar-benar pingsan setelah mengatakan pesan, agar Romo Hartland berkenan melindungi anaknya. Romo Hartland berjanji akan merawat mereka.

Sejak itulah Fatin dan anaknya tinggal di apartemen Romo Hartland di belakang kapel. Begitu tulus dan sungguh-sungguh Romo Hartland merawat Fatin hingga kondisinya membaik. Ia pun melindungi dan merawat Ridho dengan sangat baik, dibantu oleh Oma Roselin, istrinya yang juga menyayangi Fatin dan anaknya.

Fatin mendapatkan semangat hidup dan kepercayaan diri yang sempat hancur lebur di rumah keluarga kecil Romo Hartland. Fatin pun menyayangi anak Romo Hartland dan Roselin, yakni Hans Hartland, seorang anak laki-laki down syndrome.

Ketika Frankie memperkarakannya hingga ke pengadilan, Fatin memutuskan menerima tawaran Romo Hartland menjadi anak angkatnya.

Terpaksa Fatin melepas kewarganegaraan Indonesia, demi mendapatkan pelayanan hukum dan hak-hak yang sama seperti Frankie di Holland. Keluarga besar Romo Hartland bersama komunitas gereja mendukung Fatin sepenuhnya. Hingga Frankie dinyatakan bersalah dan harus menanggung hukuman akibat kejahatannya terhadap Fatin dan sejumlah korban lainnya.

Saat inilah Fatin merasakah Harmoni antar bangsa lintas agama. Ia tidak pernah dipaksa keluarga Romo Hartland agar melepas keyakinannya. Ia tetap bisa beribadah, berkerudung dan menikmati hari-hari yang damai.

Terbebas dari perkara hukum, Fatin mendapatkan kesempatan terbaik dalam hidupnya. Yakni disekolahkan ke Paris sebagai perancang busana. Kemudian diberi modal untuk membuka butik.

Kehidupan Fatin sudah terasa sangat baik, nyaman, ketika Romo Hartland jatuh sakit karena usia tua. Sebelum menghembuskan napasnya yang terakhir, Romo Hartland meminta Fatin agar merawat Oma Roselin dan Hans Hartland.

Fatin berjanji akan melaksanakan permintaan Romo Hartland. Tak berapa lama kemudian Oma Roselin menyusul suami tercinta. Fatin pun semakin mantap untuk merawat, mengayomi, membesarkan anaknya serta adik angkatnya Hans Hartland. Ia meminta maaf kepada ibu bapaknya di Cianjur. Meskipun ibu bapak kecewa, tetapi mereka tetap mendoakannya. Kini Fatin bisa sering mengirimkan dana untuk keluarganya.

Kariernya sebagai perancang busana melejit, busana hijab yang didesainnya memikat dunia mode. Hingga rancangannya mulai dilirik dan ditampilkan di even-even busana internasional di Paris. Satu hari ia pun diundang oleh agen besar di Indonesia untuk menampilkan rancangan busana muslim hijabnya.

Setelah 10 tahun meninggalkan Tanah Air, akhirnya Fatin punya keberanian menengok keluarganya di Cianjur. Pertemuan yang sangat mengharukan. Cerita diakhiri dengan keikhlasan orang tua Fatin melepas kepulangannya ke Holland.

“Meskipun warganegaraku, tempat tinggalku, mata pencaharianku di Belanda. Namun, darahku, jiwaku tetap tinggal di Indonesia. Aku takkan pernah melupakan akarku. Apapun yang terjadi, aku tetap Cinta Tanah Airku Indonesia!”



Posted in: | Sabtu, 18 April 2015





Mih Encun ini siapa sebenarnya, ya, pikir Pak Erte. Ujug-ujug datang ke wilayahnya, minta menjadi tukang bersih-bersih di Masjid Al-Wusqo. Karena perilakunya yang sangat santun, terutama terbuka terhadap anak-anak, Mih Encun segera disukai warga desa Gombong. Anak-anak suka mendengarkan kisah-kisah para Nabi dan para sahabat dari perempuan paro baya itu.

Dia memang agak misterius, tapi disukai semua orang. Pak Erte tahu itu, maka ia tak pernah mempermasalahkan keberadaannya sejak beberapa tahun yang silam.
Hari ini sepucuk surat untuk Mih Encun nyelonong ke rumah Pak Erte.

“Surat ti saha, Mih? Teu aya ngaran anu ngirimna geuningan1?” Pak Erte tak urung merasa penasaran.
“Duka atuh, nya Jang Erte. Bade diaos heula mah, mangga we2,” katanya tulus dan sarat dengan rasa sumerah.

“Eh, hehe… ini era reformasi, Mih Encun. Zamannya hak azasi manusia mestinya ditinggikan di negeri kita. Nggak kayak dulu lagi atuh. Sudah, saya mah pamit saja, ya…” Pak Erte berlalu dengan wajah tersipu.

“Apa dia mulai curiga kepadaku, ya?” pikir Mih Encun saat kembali bersendiri.
Ia bergegas masuk ke biliknya di belakang masjid, mencari tempat nyaman di atas bale-bale untuk menimbang surat misterius itu. Saat membaca tulisan tangan pada sampul surat itu, mata Mih Encun seketika nanar dan jari-jari tangannya gemetar.

“Ya Allah, ini tulisan tangan putraku yang telah pergi tiga tahun tanpa kabar berita.Buah hati Ummi, Haekalku sayang, darah daging yang masih tersisa. Putraku yang suka bikin heboh dengan aktivitas keagamaannya. Sehingga aparat mencapnya sebagai seorang aktivis radikal, golongan kanan, separatis, teroris?”  lirihnya masih tak percaya.

Oooh, tudingan itu sama sekali tidak benar! Itu hanya fitnaaah!
Serentak hati keibuan Mih Encun memekik-pekik pilu. Segala rindu, resah pasah yang dipilinnya selama itu di relung kalbunya seketika buncah. Memenuhi dadanya yang tipis karena usia dan nestapa. Untuk beberapa saat lamanya ia hanya merunduk, memandangi surat di tangannya. Perlahan dan semakin gemetar, jari-jarinya kemudian menyobek sampul surat itu dan mulai membaca isinya.

“Ummi yang dirakhmati Allah, dalam ketakpastian inilah ananda justru baru punya keberanian untuk berkirim kabar kepada Ummi. Lagipula, alamat Ummi baru saya tahu dari seorang sohib…. Nanda sekarang berada di sebuah kota bernama Nablus…”

Neraka itu bernama Nablus. Orang pers menyebutnya sebagai Jenin kedua. Hingga Ahad pertengahan April yang lalu sudah sekitar sembilanratus warga Palestina tewas. Sebanyak limaratus di antaranya tewas di Jenin. Ratusan lainnya terluka parah. Mereka menjadi korban kekejaman, kekejian Israel, adik kandung Amerika Serikat di Timur Tengah.

Kemudian agresi militer Israel merambat ke wilayah-wilayah di sekitar Tepi Barat. Ada delapan kota di sini di antaranya adalah Nablus.

“Saya bergabung dengan  kru Al-Jazirah sebagai reporter, Ummi. Al-Jazirah ini jaringan televisi terdepan dan terakurat, paling terpercaya di kawasan Timur Tengah. Kami meliput banyak kejadian dan tragedi kemanusiaan sepanjang zaman di sini, Ummi…”

“Mengapa, Nak, mengapa? Bertahun lamanya tak ada berita, tahu-tahu kini kau ada di tengah gejolak peperangan paling sengit sepanjang zaman itu?”
“Neraka, katamu tadi, Nak?” Setitik kristal jatuh menuruni pipinya, parat membasahi surat di tangannya.

Mih Encun mengais matanya dan melanjutkan membaca surat.
“Tentara Israel dengan arogannya telah menggempur Jenin dan kota-kota lain sejak akhir Maret yang lalu, Ummi. Termasuk Nablus, tempat kami berada. Mereka tak peduli konvensi internasional. Wanita dan anak-anak pun dibabat habis, rIbuan lainnya diusir.”

Seorang aktivis Fatah yang kami wawancarai berkata, “Israel sudah membuat kuburan massal di kamp yang dibangun khusus untuk warga Palestina…”

“Mayat Ahmed Fashafshi, istrinya Shamira dan anak mereka Bassam tergeletak di bawah puing sampai beberapa hari lamanya. Pemberlakuan jam malam oleh tentara Israel itu tak memberi kesempatan bagi penguburan secepatnya,” kata Issam Fashafshi, putra keluarga Fashafshi yang berhasil selamat dari pembantaian itu.

“Mereka terjepit hingga tank menembakkan bom ke rumah itu. Saya mendengar suara orang menjerit. Kemudian buldozer-buldozer datang dan menggilasnya. Dinding itu ambruk dan menimpa orang-orang yang sedang bersembunyi di dalamnya…”

Aksi tentara Israel memang tak terekam semua oleh media internasional. Karena diblokade Israel. Namun ceceran kisah kekejian  mereka dicatat oleh Haekal dan rekan-rekannya  aktivis HAM.

Suatu hari Haekal melihat Aisha, bocah perempuan berumur duabelas tahun sedang asyik bermain di halaman pemukiman pengungsi Askar di Nablus.
“Mereka dataaang!” teriak para Ibu.
”Cepat sembunyi, cepaaat!” Para Ibu itu berusaha mengingatkan anak-anak, kemudian menyeretnya ke tempat berlindung.

Tiba-tiba… blaaar, bluuuaaar, buuum!
Ketenangan pecah berganti dengan hiruk pikuk, jerit dan lolong kesakitan. Berbaur dengan gencar tembakan, derak tank-tank dan buldozer tentara Israel. Haekal ingin sekali menghambur dari tempatnya berada.

“Jangan, akhi! Anda masih dIbutuhkan untuk tugas lain!” Ahmed Abu Attiya, rekannya aktivis HAM mencegahnya dan memegangi pergelangan tangannya kuat-kuat.
“Taa…” Bibirnya urung berkata-kata.

Disaksikannya bagaimana tank-tank Israel menghunjani pagar, tembok, rumah dengan tembakan, bahkan kemudian rudal.

Ya Robb! Malang sekali, Aisha tak sempat ikut berlari dan bersembunyi ke tempat perlindungan. Timah panas menghajar perut dan dadanya. Ia menggelepar dan berdarah-darah.

Bibirnya yang mungil masih sempat berseru dengan gagah berani, sebagaimana para mujahid lain yang telah mendahuluinya syahid.    

“Allahu Akbar! Hiduplah Palestina!”
Entah berapa lama kehirukpikukan yang menebar kekejaman dan tragedi kemanusiaan itu berlangsung. Hingga suatu saat tiba-tiba menjadi senyap. Keheningan yang telah menggugurkan bunga-bunga bangsa pilihan Tuhan. Haekal belum sempat beranjak dari tempatnya berpijak, ketika Ali Assad mengabarkan tentang keadaan Ummi Fathiya. Dia istri sahabatnya, Abdullah Fatouh.

“Dia akan melahirkan bayinya. Tak ada obat-obat, tak ada peralatan. Dia sudah banyak pendarahan,” lapor reporter asal Aljazair itu.
“Mereka tak mengizinkan bantuan datang ke sini,” desis Ahmed.

Haekal mengikuti Ahmed untuk memberi bantuan sebisanya. Di ruangan dalam yang tersembunyi tampak suami Fathiya. ”Bantulah saya, bantulah,” kata Abdullah Fatouh panik.“Ini mungkin sekali anak kami yang terakhir…”

“Mereka pernah memiliki tujuh orang putra dan semuanya gugur belum lama ini,” bisik Ahmed.

“Ketujuh putranya itu para remaja yang gagah berani. Satu per satu mereka jihad, melakukan aksi bom bunuh diri… menghancurkan barak-barak militer Israel,” tukas Ali Assad.

Haekal menundukkan kepalanya dalam-dalam. Seketika ia terkenang kepada keluarganya di Indonesia. Abi dan keempat kakak tercinta juga telah syahid demi kebenaran itu, pekiknya membatin. Dan Ummi! Ia harus mencoba mengontaknya kembali, untuk ke sekian kalinya setelah berakhir sia-sia bertahun lamanya. Seorang aktivis HAM dari Indonesia memberinya informasi penting tentang keberadaan ibunya kini.

“Kami para lelaki hampir tak bisa berbuat banyak. Hanya menunggu yang di dalam kamar berjuang membantu persalinan. Rasanya detik demi detik berlalu begitu lama dan panjang sekali. Sementara di luar kekejian terus jua berlangsung. Kami tahu, Nablus dengan penghuni 180 rIbu jiwa jadi target si Jagal. Hari itu, sedikitnya 75 warga Palestina tewas dan 450 lainnya terluka parah.”

“Alhamdulillaaah, akhirnya putraku lahir dengan selamat!” seru sang ayah yang berbahagia. Ia bersujud syukur di sudut ruangan.

“Kami menyalaminya dan ikut merasa bahagia. Namun, setengah jam kemudian tiba-tiba kondisi bayi memburuk. Akhirnya putra pasangan Fathiya dan Abdullah Fatouh meninggal. Menyusul para mujahidin, menghadap Sang Khalik…”

“Ya Allahu Robbi,  aku sudah tak tahan lagi membaca suratmu ini!”
Mih Encun merasakan sekujur tubuhnya gemetar hebat. Teriakan anak-anak, jeritan pedih dan rintih kesakitan para lansia, perempuan tak berdaya di Nablus itu… menjejali gendang pendengarannya. Merobek telak jantung dan ulu hati perempuan itu.

Perempuan itu terkapar, tapi kenangannya segera terbetot ke masa silam. Sebuah peritiwa yang telah melibatkan Haekal dan suami serta keempat putranya yang lain dalam tragedi. 

Peristiwa yang membuatnya kemudian hidup bagai seorang pengecut. Karena ia tak sanggup menghadapi traumatis jiwanya, berikut masalah-masalah yang harus dihadapinya.

Malam itu empat tahun yang lalu. Jakarta sedang digonjang-ganjing oleh berbagai kerusuhan, pembakaran, penjarahan dan bom-bom meledak di mana-mana. Pemerintah kelimpungan dan mencari kambing hitam.

Tiba-tiba serombongan lelaki berseragam menggerebek rumahnya yang asri di kawasan Jagakarsa. Selain Haekal, keempat putranya sedang ada bersamanya. Begitu pula suaminya, karena sedang merasa tak enak badan mengurungkan niatnya berceramah.
“Kami akan membawa Anda, Pak Kyai…”
“Apa salah saya?”
“Anda sudah mengompori umat melalui ceramah-ceramah…”

“Itu tidak benar. Saya hanya berceramah seperti biasanya, syiar dan dakwah sesuai keyakinan kami…”
“Tapi massa yang bikin rusuh keluar dari tempat terakhir Anda berceramah! Ayo, jangan persulit kami, ikutlah!”
“Mana surat perintahnya?” Haidar, putra tertua mahasiswa semester akhir jurusan hukum, mencoba menghalangi mereka membawa ayahnya.

“Kamu mau melawan, hah?”
“Bukan begitu, kami hanya ingin keadilan…” Adik-adik Haidar ikut membentenginya. Mereka membentuk formasi, hingga sang ayah terlindungi.
“Jangan coba-coba melawan kami!”
“Kita harus membawa mereka semuanya!”

“Ya, kalian semuanya terlibat gerakan pengacau keamanan!”
Haidar dan adik-adiknya dIbuat babak belur. Sang ayah direnggut paksa dari sisi mereka. Kemudian seseorang mendudukkannya di kursi dan mulai menginterogasi dan menterornya.

“Anak-anak kamu mengacau Jakarta dan sekitarnya!”
“Ya, kamu sudah mengompori umat, agar mereka melakukan aksi anarkis. Mengaku saja, mengakuuu!”

“Kalian tak bisa menginterogasi Ayah kami di sini. Kami memerlukan pengacara… aaah!” Haidar terjengkang, perutnya dihantam popor senapan.

Kekejian itu dalam sekejap telah berlangsung di depan matanya. Suami dan keempat putranya diseret oleh orang-orang misterius itu. “Tabah dan tawakallah, ya Mi... Abi minta keluasan hati Ummi, jangan kaitkan Haekal dengan persoalan kita hari ini,” bisik suaminya saat ia diberi kesempatan menghampirinya untuk pamitan.

Sejak saat itu, ia tak pernah melihat suami dan putra-putranya. Hingga suatu hari ia dijemput beberapa pemuda yang mengaku teman Haekal. Mereka membawanya ke pemakaman umum dan menunjukkan kebenaran itu. Sebuah kuburan massal, di mana keempat putra dan suaminya konon dikuburkan di dalamnya.

Belum terdengar azan zuhur ketika Mih Encun keluar dari biliknya. Wajahnya tampak bersinar perbawa semangat yang berkobar-kobar dalam dadanya. Ya, kabar dari Nablus yang dituturkan Haekal melalui suratnya telah mengubah segalanya!

Surat itu telah memberinya inspirasi dan kekuatan maha. Hingga ia bagai terbangun dari mimpi buruknya. Kemudian siap untuk menentang ketakadilan itu. Ya, ia tidak merasa gentar lagi terhadap siapapun selain kepada Allah!

“Mau ke mana, Mih Encun?” tanya Pak Erte yang berpapasan dengannya di mulut gang.
“Saatnya sudah tiba, Jang Erte… Assalamualaikum!” sahutnya tanpa memberikan luang sedetik pun kepada lelaki itu untuk menanyainya lebih lanjut.

Lelaki itu terperangah memandangi Mih Encun yang berjalan tegar bagai mujahid hendak tandang laga.“Sudah saatnya aku menghadapi persoalan. Semua Muslim harus berjihad untuk menegakkan syiarnya masing-masing. Jangan membiarkan citra Islam selalu dipojokkan, difitnah, dipinggirkan, dikambinghitamkan. Ya, ini memang sudah saatnya!” ceracaunya riuh dalam hati.

@@@


1“Surat dari siapa, Mih? Kok nggak ada nama pengirimnya?”

2”Entahlah, Nak Erte. Kalau mau dibaca sih, silakan saja.”








Posted in: | Sabtu, 11 April 2015



Bada shalat subuh Rumondang keluar dari biliknya. Hawa dingin segera menyergap wajahnya begitu kakinya menuruni tangga kayu sopo godang1 milik kakeknya. Sebuah rumah adat Batak berbentuk panggung tinggi, terbuat dari kayu-kayu jati yang kokoh. Biliknya dari anyaman bambu dengan atap rumbia. Ketika dirinya masih kecil, di bawah panggung itulah sudut favoritnya tempat bermain rumah-rumahan bersama sepupu-sepupunya.
Di kampungnya sopo godang milik Ompung2 terbilang bangunan paling bagus. Sebab Ompung Ni Sahat adalah orang yang sangat kayaraya. Sabak3-nya tak terhitung banyaknya, lumbungnya yang selalu penuh berada di tiap sudut pekarangan dengan luas entah berapa hektar. Belum lagi hewan peliharaannya, kambing, sapi, kerbau, ayam, bebek….
Monyet-monyet bergelantungan dari pohon yang satu ke pohon lainnya sambil menjerit-jerit riuh.“Iiih, bikin halak4  kaget  saja!” gumamnya.
Rumondang Siregar, seorang gadis berumur 16,  dengan rambut panjang lebat tersembunyi di balik jilbab kaos berwarna putih. Tubuhnya yang tinggi ramping terbalut dalam stelan baju olah raga. Dia baru usai Ebtanas SMU di Padang Sidempuan, masih harap-harap cemas nilai-nilainya akan sebagus prestasi sebelumnya. Rasa cemasnya sesungguhnya tidak perlu. Sebab siapapun sudah tahu, Rumondang hampir tiap tahun menyabet peringkat pertama di sekolahnya.
Ia tersenyum simpul sendiri. ”Kalian itu tak bisa kompak pula rupanya, ya?” katanya sambil memerhatikan makhluk-makhluk lucu yang bergelayunan tak jauh dari atas kepalanya. Dia sama sekali tidak merasa takut. Sebab sejak kecil dirinya sudah akrab dengan binatang-binatang lucu itu.
Rindu pula rupanya kalian itu sama aku, ya? Hihi, sudah lama juga tak ketemu kita nih. Salah siapa coba? Aku sibuk Ebtanas sementara kalian sibuk bergelayunan terus, ya? Rumondang terus berceletoh dalam hatinya.
Mulanya dia berjalan santai, menapaki jalan setapak menuju Utara kampungnya. Hanya saat dia melintasi sungai tiba-tiba entah mengapa bulu romanya meremang. Sepi, senyap dan memang sungguh lengang. Ke mana saja orang-orang itu? Kan biasanya juga ramai di sungai ini?
“Wuiih! Wuiih….” Tangannya sibuk menepis-nepiskan rumput ilalang yang menghalangi jalannya. Ilalang setinggi orang dewasa begitu lebat bagai tak bertepi. Namun tubuh ramping itu terus menyelusup di antara ilalang, pepohonan dan semak belukar.
“Ooh, iya, ya…. Ini musim panen raya,” gumamnya membatin.
Rumondang baru teringat kembali akan percakapannya tadi malam dengan Bou5 Taing, saudara perempuan ayahnya.
“Tiap subuh orang sini sudah berangkat ke sabak. Bagaimana dengan kau? Apa kau mau ikut kami besok itu, Butet?” tanya Bou Taing.
“Iya, bantulah kami panen, Butet!” kata Tigor, suami Taing.
“Maaf, kalau besok aku tak bisa. Aku mau ke kubur Ompungboru7,” sahutnya tegas. Tak ada yang melarang atau membantah, bahkan tak ada yang berkata-kata lagi. Memang sejak dulu pun sikap mereka selalu begitu. Tak pedulian terhadap dirinya. Biarlah, daripada mendengar omelan dan sumpah serapah Bou Taing. Sebab sekalinya bicara, omongan perempuan itu sering amat melukai hatinya.
“Anak Cina itu takkan kerasanlah lama-lama di kampung. Seharusnya kau  tinggal di kotalah itu, Amoy!”
“Pergilah ke keluarga Cina kau itu di Medan!”
Baiklah, anak Cina, katanya tandas. Tanpa tedeng aling-aling. Ibu yang melahirkan dirinya memang seorang wanita keturunan Tionghoa. Wu Siao Lien nama Tionghoanya. Nama pribuminya Maharani Sanjaya. Cantik jelita wajah ibuku itu dalam potretnya, pikir Rumondang. Ya, dia hanya mengenalnya dalam potretnya. Sebab dia sudah ditinggalkan oleh ibunya sejak berumur setahun. Bukan ditinggalkan ke alam baka, tapi entah pergi ke mana.
Rumondang takkan melupakan hari-harinya ketika kanak-kanak. Perilaku neneknya dan saudara-saudara ayahnya sering menyakiti perasaannya. Bahkan bukan saja secara batiniah melainkan juga fisiknya. Serasa masih terngiang-ngiang di telinganya omongan Ompungboru.
“Ibu kau itu minggat, Butet!”
“Kalau sudah besar nanti, kau pun akan benci sama ibu macam si Siao Lien itu. Percayalah sama aku!” ujarnya ketika Rumondang kelas enam SD.
“Tapi kenapa, Pung?”
“Si Siao Lien  itu bukan boru8 baik-baik, mengerti?!” cetusnya bernada penuh kegeraman dan kebencian.
“Eh…. Jadi, macam perempuan mana pula Ibuku itu, Pung?”
“Pokoknya perempuan tak baiklah Ibu kau itu, Butet!” dengusnya mengulang-ulang, entah untuk ke berapa kalinya.”Dia itu tak bisa diajak hidup sengsara sama suami….”
“Artinya, dulu memang betul orang tuaku itu pernah hidup sengsara di kampung kita, ya Pung?” tukas Rumondang.
“Hanya sebentar. Tak ada kerjanya pula selain mengurung diri di kamar. Entah bikin apa itu, mengetik…?”
“Mengetik, Pung? Mengetik apa? Sebenarnya apa pekerjaan ibuku dulu, Pung?” Ini kesempatan baik untuk mengorek perihal orang tuanya. Biasanya tak ada seorang pun yang mau menyinggung perihal mereka. Terutama tentang ibu kandungnya. Seakan-akan telah menjadi tabu, pantangan berat bagi keluarga besar ayahnya.
“Kurasa dia itu cuma ikut-ikutan anakku saja,” kata perempuan tua itu sambil menumbuk padi dengan kekuatannya yang luar biasa. Sering Rumondang merasa heran akan kekuatan fisik yang dimiliki perempuan tua berperawakan tinggi besar itu. Ompungboru mengerjakan segalanya seorang diri!
“Kata  Uda Tigor, ayahku itu seorang seniman, Pung?”
“Iyalah, betul itu! Sudah jadi seniman terkenal anakku itu sebelum kawin sama si Siao Lien. Orang bilang penyair, begitulah…. Gara-gara kawin sama halak Cino, kacau  pulanya hidup anakku itu! Jadi Sampuraga8-lah dia itu. Bah!”
Tiba-tiba perempuan tua itu berhenti menumbuk. Sepasang matanya dilayangkan ke kejauhan, ke ufuk langit berwarna biru bening. Rumondang sering berpikir, adakah Ompungboru pernah merindukan putranya? Anak laki-lakinya semata wayang? Sebab seingatnya, neneknya tak pernah memperlihatkan kerinduannya kepada siapapun. Kesibukannya sebagai ibu rumah tangga, penyokong utama keluarga besarnya sudah menguras seluruh enerjinya.
Namun, kalau untuk urusan sumpah serapah…. Dialah biangnya!
“Hei, sudahlah jangan mau tahu cerita orang tua kau. Sekarang kau ini kan sudah lama ditinggalkan sama mereka. Kau ini dibuang, Butet. Makanya kau harus bisa menitipkan diri. Jangan banyak main. Sekolah juga tak usahlah tinggi-tinggi. Diam sajalah kau di rumah. Kerja di sabak, menyangkul, panen, menggembala ternak, bantu-bantu aku…. Cukuplah begitu kehidupan kau itu, Butet!” ceracaunya tak tertahankan lagi.
Syukurlah, Sang Maha Pencipta menjemput neneknya tak lama setelah Rumondang lulus SD dan sangat menginginkan melanjutkan sekolah. Neneknya meninggal akibat dehidrasi, muntaber. Tak mau dibawa ke Puskesmas atau dokter. Bahna malas dan kikirnya mengeluarkan isi kocek yang selalu disimpannya dengan sangat telaten di lemari tuanya.
Memang ada bagusnya bagi Rumondang ditingalkan oleh Ompungboru. Karena perilaku dan keinginan sang nenek sangat berbeda dengan nenek-nenek temannya. Apabila nenek temannya punya keinginan melihat dan memajukan anak cucu, mengejar cita-cita. Seperti Ompung si Liani, meskipun sangat miskin, bersikukuh menyekolahkan anak dan cucu ke perguruan tinggi. Dibela-bela walau harus berutang sana-sini, menggadaikan bahkan sampai menjual seluruh harta benda.
“Kalau Ompungboru masih ada, tentu aku takkan bisa sekolah di Sidempuan macam sekarang, ya Pung?” cetus Rumondang ketika diantar oleh kakeknya ke tempat kos di Kabupaten. Saat itu dia akan melanjutkan sekolahnya ke tingkat SMU. Di kampungnya belum ada SMP. Jadi ketika SMP pun dia harus berjalan kaki sepuluh kilometer pulang dan pergi ke kecamatan.     
"Iyalah. Aku pun takkan kawin lagi sama si Joruk, bekas teman kau itu,” sahut kakeknya sambil terkekeh.
Rumondang mesem dan menggoda kakeknya.”Jadi, lebih suka mana, Pung? Saat masih ada Ompungboru atau sekarang?”
“Ah, macam mana pertanyaan kau itu? Menggoda aku saja, ya?” elaknya tersiup malu, tapi sesaat kemudian dilanjutkannya. ”Tapi Butet, kalau aku pikir-pikir pula, bah! Enakan sekaranglah kita ini, ya Butet? Tak ada lagi tukang sumpah-serapah di rumah. Artinya, dingin kuping bening matalah kita ini. Iya kan, Butet?”
Rumondang tertawa tergugu melihat kelakuan kakeknya. Belum 40 hari meninggal Ompungboru, ketika Ompung menikah lagi. Joruk, bekas sobat kecilnya, teman bermain di sungai dan mengaji di surau. Tentu saja mulanya tindakan kakeknya  itu menjadi gunjingan orang sekampung. Namun, kemudian reda sendiri.
Siapa pula yang berani ganggu-gugat kakeknya? Orang yang paling berkuasa, banyak harta, baik budi, ringan hati dan selalu berbagi dengan masyarakat sekitarnya.
Seorang pelopor pendidikan di desa mereka. Karena pernah berkelana ke Malaysia, Makkah dan Irak. Biarlah Sang Khalifah punya istri lagi, pikir mereka. Lagipula, memang diwenangkan meski dia ingin punya istri sampai empat sekalipun. Iya kan? Apalagi ini sedang melajang kembali. Siapa pula yang mau kedinginan sendirian, menjelang hari-hari senja dalam hidupnya? Nah, yang penting dia tetap baik hati, selalu ikhlas berbagi hartanya dengan masyarakat.
Walau mendapat tentangan hebat juga dari anak-anak Ompungboru. Ompung tetap melanjutkan niat dan hasratnya, menikahi remaja belasan sebaya cucunya. Dia merasa sudah cukup adil, membagikan sebagian hartanya dengan anak-anaknya. Hidup akan terus berlanjut baginya. Setelah dua per tiga hidupnya dihabiskan dengan seorang istri nyinyir. Dia masih ingin menikmati sisa-sisa  hidupnya dalam suasana yang sangat berbeda.
“Hmm, Ompung… Ompung,” gumam Rumondang sambil mesem-mesem sendiri. Teringat kembali bagaimana saat kakeknya begitu keras kepala, melaksanakan keinginannya menikahi Joruk. “Tak takut dimusuhi anak-anaknya, tetap berkeras menikahi Joruk. Hm, sebenarnya  alasan apa, ya Ompung itu? Segitu umurnya konon sudah 105 tahun?!”
Ah, tapi meskipun sudah lebih seabad begitu, penampilan kakeknya tampak tegar. Gigi-giginya masih banyak, rapi dan kokoh. Matanya pun masih awas, tanpa kacamata. Perawakannya juga sama sekali tidak bungkuk, apalagi peot. Ompung masih gagah, kuat dan tegar sekali. Dan suaranya bila sedang mengajari anak-anak mengaji atau markobar9 itu; subhanallah, begitu lantang dan bening!
“He, tunggu!”
Di atas sebuah rambin10 bambu. Ada seseorang yang menyapanya lantang. Rumondang merandek dan kehilangan seluruh lamunannya. Di depannya menjulang seorang wanita separuh baya. Dia meletakkan bawaannya berupa sekarung padi, yang semula dijunjung di atas kepalanya. Agaknya hendak dibawa ke poken11. Hari Kemis memang hari pasar di kampung mereka.
“Ya?” Rumondang menatapnya. Peluh bercucuran di sekujur tubuh wanita perkasa itu. Wajahnya yang persegi, wajah khas wanita Batak tampak memerah dan kehitaman. Seraut wajah yang akrab dengan sengatan matahari.
“Cucunya si Ompung Ni Sahat kau ini, ya?” cetusnya sambil tersengal-sengal, berusaha meredakan napasnya.
“Eee, iya…. Siapa, ya?” Rumondang balik bertanya. Dia sungguh mengagumi kekuatan dan kemandirian wanita-wanita perkasa di kampungnya. Termasuk wanita di hadapannya juga mendiang neneknya.
“Alaaah kau ini….” Ditepuknya pipi Rumondang agak keras, hingga gadis itu terkejut. ”Sombong ‘kali, bah!  Aku ini Inangboru kaulah itu, Butet! Si Sagala, ingat kau sama anak sulungku itu kan?”
“Bang Sagala  yang di kampung seberang. itu, ya?”
“Iyalah itu! Masa pula kau lupa sama anakku itu? Calon suami kaulah dia itu, Butet…. Kapan kau datang dari Sidempuan?”
“Eeeh, eeh, tadi malam…” sahut Rumondang dengan wajah bagai terbakar. Orang tua ini kok tanpa tedeng aling-aling ‘kali, bah! Pake mengaku-aku anaknya calon suamiku segala? Rumondang mendumel dalam hati.
“Sudah lulus kau sekarang, ya Butet?”
“Sudah, eeh, maksudku lagi tunggu pengumumanlah…”
“Kalau kau ini pastilah lulus. Pintar kan kau ini, Butet. Macam Ibu kau itu, cantik dan pintar…. He, mau ke mana memangnya kau ini?”
“Ke kubur Ompung, Bou.”
“Jangan lupa nanti mampir ke rumah kami, ya. Abang kau si Sagala lagi di rumah. Menganggur dulu dia sekarang, motor ojeknya lagi ngadat….” Berkata begitu tangan-tangannya yang kokoh mengangkat kembali karung bawaannya. Pleeek, ditempelkan kembali di punggungnya. Tanpa minta bantuan siapapun. Selang sesaat perempuan itu sudah berjalan cepat melintasi sisa rambin menuju poken.
Rumondang geleng kepala. Kekuatan perempuan itu mengingatkannya kepada mendiang neneknya. Kuat bagai banteng ketaton neneknya itu. Kalau musim panen neneknya akan turun langsung sendiri. Sering mengangkuti padi berkarung-karung dari pesawahan ke rumah mereka. Perjalanan jauh lima-enam kilometer, terus diangkuti bolak-balik dan berhari-hari demikian. Sejak muda hingga tua. Aneh, padahal neneknya seorang istri orang berada.
“Menyuruh halak kau bilang, Butet? Bah! Baiknya aku kerjakan saja sendiri. Biar hematlah kita!” begitu dalihnya selalu setiap kali Rumondang mengasihaninya.
Menurut cerita Ompung, saat pertama kali mereka menikah pernah neneknya diajari membaca dan menulis. Sekali-dua masih mau mematuhi suami. Namun, hari-hari selanjutnya neneknya lebih suka memilih mengambil cangkul dan pergi ke sawah. Mendingan mencangkul tanah keras bagai cadas daripada belajar baca tulis, katanya. Karena itu sampai akhir hayatnya neneknya tetap seorang buta huruf.
Namun, anehnya dalam hal hitung menghitung penjualan hasil panen…. Tak perlu kalkulator lagi!
Orang sekampung sudah mengetahui hal itu. Kakek gemar membaca, mencari ilmu dunia-akhirat seakan tak pernah henti. Sebaliknya neneknya mengelola harta peninggalan leluhur dengan telaten dan cermat.
Sering pula neneknya mengeluh. ”Mau tahu kerja Ompung kau itu, Butet? Begitu sajalah dari dulu, baca buku, kitab, mengaji. Kalau bosan pergi dia ke lapo tuak12 sama teman-temannya!”

@@@
1rumah adat Batak
2kakek atau nenek
3sawah
4orang
5sebutan untuk tante, adik perempuan bapak
7nenek perempuan
8 perempuan
8 nama tokoh legenda Batak kisahnya mirip Malin Kundang
9 berbicara dalam suatu pertemuan adat keluarga
10 jembatan
11 pekan, pasar kaget seminggu sekali

12 kedai tuak

Posted in: | Kamis, 02 April 2015
 

                                                            

Sekeluarga boyongan hijrah dari Labuan-Banten ke Jakarta. Perabotan, dicampur-aduk dengan adik-adik, menumpang di sebuah truk berplat hijau tentara. Entah bagaimana Bapak berhasil mendapatkan kendaraan dinas itu dari kantornya.
Aku baru naik kelas enam. Anak daerah yang kepingin menjadi warga kota metropolitan Jakarta. Begitu memasuki kawasan Ibukota, adikku yang paling dekat, Hani tiba-tiba berteriak keras.
“Jakartaaa… hoooii!” jeritnya kayak anak monyet ketemu mainan baru saja.
 “Selamat dataaang, hoooi! Sambut kitaaa!”
“Astaghfirullah…!” Nenekku dari pihak Bapak yang suka kami panggil Emih, tersentak dari leyeh-leyehnya di samping tumpukan perabotan.
“Sudah sampai, ya…?” gumamnya sambil membetulkan kerudungnya.
“Iya, Miih, kita sudah nyampe Betawiii!” teriak Hani pula sambil terus jingkrak-jingkrak. Wajahnya yang imut-imut sumringah, sarat sukacita. Dia memang sudah lama kepingin jadi anak kota.
“Berisiiik!” tegurku gemas.
Dia tak peduli, terus saja jejingkrakan. Boneka karetnya entah sudah loncat ke mana. Belakangan dia hampir membuang benda yang sejak kecil digendol itu. Beralih ikutan hobi baca bersamaku. Umurnya hanya beda setahun denganku. Dialah yang paling sering memposisikan diri sebagai lawanku.
Hobinya yang utama menari dan berdandan. Entah sudah berapa banyak bedak ibu kami yang menjadi korbannya. Dipakai atau hanya dihamburkan begitu saja di wajahnya yang bulat. Selama perjalanan dialah yang paling parah mabok. Tapi sekarang tak ada sisa-sisanya lagi.
“Alhamdulillah,” kudengar Emih mengucap rasa syukur, dan kelegaan membias di wajahnya.
Sudah sepuh, tapi masih ikut boyongan sana-sini dengan keluarga ayahku. Yakni putranya yang tertua dari lima bersaudara. Sebagai prajurit ayahku sering dialihtugaskan ke pelosok Tanah Air. Tapi Jakarta diharapkan sebagai tempat dinasnya yang terakhir sebelum pensiunan. Pangkatnya sudah perwira menengah, tentu takkan terlalu banyak lagi ditugaskan ke lapangan. Begitulah setidaknya yang kudengar dari sebagian harapan ibuku juga nenekku.
Truk memasuki pekarangan markas Menwa di jalan Matraman. Tak bisa langsung ke dalam, entah apa alasannya. Kulihat Bapak loncat dari jok depan di samping sopir. Menurunkan Abib, Reza dan Ima. Sekilas kuperhatikan Bunda agak sempoyongan. Wajahnya memias. Maklum, Bunda baru keluar dari rumah sakit.
Sementara dari belakang Mang Obay, adik ayahku yang juga prajurit, sibuk menurunkan kami. Emih dan Bibi Encur, istri Mang Obay, segera menggiring anak-anak ke tempat teduh. Beberapa orang dari dalam menyambut kami dengan ramah. Bapak punya banyak kenalan rupanya di tempat ini.
“Kita harus mencari gerobak,” kata ayahku di selang kesibukan menurunkan perabotan bersama Mang Obay dan sopir.
“Bagaimana kalau kami naik becak saja, mungkin tiga?” Bunda sambil memperbaiki jilbabku yang selalu miring kanan-kiri.
“Baiklah,” Bapak mengalah dan segera memanggil becak.
Empat! Anak-anak saja pakai dua becak. Bunda sambil memangku Ima, mengangkuti beberapa buntelan. Bibi Encur dan Emih bersama kasur. Sedangkan ayahku dan Mang Obay bergantian menunggui barang sambil mencari gerobak.
Kawasan Utan Kayu, di situlah rumah bibi ibuku yang biasa dipanggil Nini Resmi.
“Kok rumahnya…, imut-imut begini ya, Teteh?” bisik Hani, keceriahan dalam sekejap lenyap dari wajahnya.
“Hmm, entahlah,” hatiku pun tak urung mulai diliputi rasa kecewa.
Apalagi ketika kemudian kutahu ternyata kami hanya akan menempati sebuah kamar, ditambah teras. Kamar itu hanya dibatasi oleh sebuah lemari dengan ruangan lainnya. Untuk selanjutnya teras itu disulap sebagai dapur. Kerap aku dan Emih meringkuk di sudut dapur jadian itu di antara tumpukan perabotan. Hikkksss!
Ini sungguh jauh dari angan semula. Sebuah rumah besar di tengah kota, nyaman, bagus dan serba moderen. Aaaaah!
“Gimana nih, Teteh?” Hani menggebah anganku.
“Oh, eh…, apa bisa masuk semuanya ya?” balik aku celingukan, mengawasi situasi di dalam.
Sumpek dan puanaaas!
Para ibu segera masuk. Beberapa jenak aku dan empat adik hanya bengong, tak tahu apa yang mesti dilakukan. Duduk lesehan di teras, anganku masih mencari-cari simpanan khayalan di Labuan. Mengapa Bunda begitu heboh bila sudah cerita tentang Jakarta? Sarat impian dan harapan, kenyataannya…?!
Ini hanya sebuah rumah tua yang telah dipilah-pilah menjadi beberapa tempat kontrakan. Kalau hendak ke jalan besar, harus naik undakan tangga yang lumayan tinggi. Letaknya memang di bawah kali kecil. Bisa dibayangkan bila musim hujan tiba pasti…, banjiir!
“Anak-anak, kok masih di luar? Ayo, masuk siniii! Wah, wah orang Labuan nih,” Nini Resmi keluar, diikuti anak-menantu dan cucu-cucunya.
Woow, orang Labuan, katanya? Apa pantas dibilang orang Labuan? Cuma setahun bertahan di kota pantai itu. Sebelumnya kami tinggal di Sumedang. Selama mukim di Labuan, anak-anak sering sakit, Bunda apalagi. Sengsaranya…, bukan main!
“Nungguin Bapak…,” Hani berdalih.
“Waaah, kalo Bapak sama Mang Obay cari gerobak, entah kapan datangnya. Mungkin nyari gerobaknya ke pasar Pramuka,” jelas Bibi Mimi, menantu Nini Resmi.
Usianya sebaya Bunda, tapi ia tampak jauh lebih tua. Anaknya selusin dan sedang hamil tua. Suaminya, Mang Memod berada di balik sel. Konon, ditangkap sebagai tersangka kelompok bom-boman. Entahlah!
“Ayo, Neng Hani, Neng Seli…, siapa lagi tuh namanya? Mari diminum dulu,” himbaunya dengan tulus.
Air bening dari kendi. Hmmm, segeeer!
“Nda, kami mau lihat-lihat dulu. Boleh?” tanyaku minta izin.
“Ya, bolehlah, tapi jangan jauh-jauh ya?”
***

Aku menggiring adik-adik, Hani, Riri, Abib dan Reza. Kompak melihat-lihat keadaan sekitar rumah. Tak begitu buruk, masih banyak pohonan rindang. Tanahnya masih luas, ditanami pohon jambu air, jambu klutuk, nangka, sirsak dan kopi.
“Wuiih, boleh kita nyicip buah ini, Teteh?” Abib, yang sering kami ledek si gembul memandangi buah kopi itu dengan penuh minat.
“Bilang dulu sama Bibi Mimi, ya?” sahutku sambil terus melihat-lihat.
Barangkali ada satu sudut nyaman untuk leyeh-leyeh sambil baca buku cerita. Seperti suka kulakukan di tempat-tempat sebelumnya.
“Huuaaah…, kirain enak! Puuh, aneh rasanya!”
Abib memuntahkan lagi kunyahan buah kopinya, ditertawakan anak-anak. Dia cengengesan. Habiburrahman, si gembul kami yang lucu.
“Hei, ada kebun tuh! Kita lihat-lihat ke sana, yuuuk?” sentak Hani.
“Ikuuut, ikuuut!” serempak Reza dan Abib merengek.
“Jangan, ah! Kalian masih kecil, pulang saja, ya?” tukasku keberatan. “Kan kita belum tahu situasinya, gimana coba kalau…?”     
“Bilangin lho sama Bapak. Nggak mau ngasuh adik, begitu! Iya kan, Eza?”
Whoooi, si gembul sudah berani neror, euy!
“Ikuuut, ikuuut!” Abib dan Reza makin kompak.
Aku garuk-garuk kepala yang ditutupi jilbab kaos.
“Sudahlah, Teh Seli! Bawa saja. Tinimbang ngadu sama Bapak, berabe lagi!” Hani malah mendukung. Riri juga menyemangati mereka.
“Ya, sudah! Kalo ada apa-apa….”
Kutelan ujung kalimat. Kasihan juga mereka. Wajah-wajah lelah, bosan berat. Tentu saja sama, kepingin ngelempengin kaki.
Lahaola walaquwwatta, bisikku sambil mesem. Lucu, lihat tingkah anak-anak. Dorong-dorongan, bercanda dan cekikikan. Yup, inilah pasukanku sekarang! Hani sebelas tahun, ke bawahnya hanya bertaut setahun-setahun. Si Bungsu Ima belum dua tahun, kolokan dan ngeganduli Bunda melulu.
Pasukan kecil yang kupimpin menyusuri jalan setapak menuju kebun sayuran. Ada lahan kosong yang cukup luas. Belakangan kutahu lahan itu telah dijual oleh pribumi kepada tauke keturunan. Hendak dibikin perumahan mewah. Tapi gara-gara krismon pembangunannya mandek. Untuk sementara dimanfaatkan oleh para pendatang agaknya.
Di simpang antara kebun sayur dengan perkampungan, tiba-tiba pasukanku dicegat oleh seorang anak laki-laki. Kelihatannya sebaya denganku, gerak-geriknya jumawa sekali. Sok jagoan!
“Heee, brentiii!” teriaknya diikuti dua orang temannya. Sama bergaya dan soknya. Beginilah barangkali gaya orang kota, pikirku.
“Heeei, budek ape lo! Berentii, berentiii!” temannya sebaya Abib menjegal langkahku.
“Gimana nih, Teh Seli?” Hani dan Riri mulai cemas.
“Jangan pedulikan mereka!” perintahku sambil mengisyaratkan anak-anak. Supaya balik kanan. Lagian sudah lumayan jauh dari rumah.
“Huuu…, songong banget sih elo! Emang orang mane sih elo pade?” sergah anak laki-laki sebayaku. Makin menyebalkan, menggemaskan…, tinjul!
Berdiri tepat di depan Hani. Menatapi wajah Hani seolah hendak menelannya. Hiiih, asli nyebeliiin!
“Emang elo demen nyang mane, Deden?” temannya yang pakai kaos merah, kegenitan. Cengiran.
Astaghfirullah…, anak bau kencur sudah kegenitan begitu?
 “Nyang ini mah botoh niiih!”
Deden nyolek dagu Riri. Trus, menarik tangan Hani. Karuan keduanya langsung memekik ketakutan.
“Eh, eeeh, sebentaaar!” sergahku mengumpulkan seluruh keberanian yang kumiliki. “Kamu teh jangan suka kurang ajar atuh, yaah?”
Kurasakan tangan Abib dan Reza mengganduli pinggangku. Nggak bisa kubiarkan, pekikku dalam hati. Tiga anak laki-laki itu cuma bergaya. Tubuhnya kerempeng-kerempeng. Kalau kekuatan disatukan…, jetreek!
“Kalow mau tau nama kami mah gampang da. Inih geura sayah mau nataan satu-satu sajah sendiri, yaah…?”
Mendengar logatku yang ajaib, seketika ketiga anak itu terbahak-bahak. Apalagi ketika Abib menimpali dengan logatnya yang tak kalah ajaibnya.
“Heueuh nya, Dak! Ilok ganggu naeun? Urang mah saguru saelmu bae nyah? Ja ngaing geh teu boga dosa nanaeun ka dia…?!”1
Aku sendiri melongo mendengar bahasa gaul Abib. Mentang-mentang tukang main dan sobatan sama Jatake.
“Huahaha…. ngomong apaan tuuuh? Bodooor banget-banget-banget!” Si Deden ngakak dibarengi kedua temannya.
Kesempatan baguuus!
“Ayo, balik, baliiik, euy!” perintahku sama adik-adik.
Beeer…, anak-anak berlarian kembali ke rumah Nini Resmi. Pantat Abib sampai bulet-bulet saja kayak bola. Disusul Reza, kecil-kecil juga lincah kayak kancil. Hani dan Riri pun kompak, berlarian sambil cekikikan.
 “Yeeeh…, si Teteh ini kenapa sih?” Riri menatapku keheranan.
“Iya, ya! Tadi kan Teteh yang perintahkan lari? Kok malah datang belakangan?” tegur Hani, ketika menyambutku yang menyusul belakangan.
“Lemees, aah…, lemeees!”
Bruuugh…, aku membantingkan diri di atas gulungan kasur. Mereka sudah lupa barangkali. Aku belum lama sembuh dari sakit yang lumayan parah. Malaria, kata Mantri Uking, sempat menenggelamkan keberadaanku selama berpekan-pekan.
Awalnya tentu saja merasa tak betah tinggal di ruangan sempit, berdesak-desakan. Bukan saja dengan sesama anggota keluarga, melainkan juga dengan timbunan perabotan dan…, tikus!
Jangankan makanan, bahkan bantal pun mesti berebutan dulu. Tapi kalau sudah mendengar semangat dan harapan yang dipompakan Bapak, bahwa keadaan takkan selamanya demikian. Suatu hari nanti pasti akan memiliki rumah sendiri.
“Insya Allah,” janji Bapak serius.
Yeaaah, nggak betah juga dibete-betein ajeee!
Enam bulan tinggal di ruangan sempit yang banyak nyamuk, kecoa dan tikusnya itu.
“Anak-anak, kita akan pindah ke rumah di sebelah sana,” ajak Bapak suatu siang, pas anak-anak baru pulang sekolah.
“Rumah siapa, Pak?”
Perut keroncongan minta isi, tapi mana berani membantah perintah Bapak?
“Punya Uwa Manggarai, sepupu Bunda. Kita hanya menyewanya, lumayan nggak begitu sempit,” jelas Bapak.
Letaknya hanya terhalang beberapa rumah. Pas diperhatikan…, whoooa!
“Ini sih bukan rumah, Bapak!” seru Hani komplain.
“Iya, kayak kandang…, bandot aja,” Riri berkata pelan.
Adikku yang satu ini pemalu, jarang bicara kalau nggak perlu. Dialah yang paling cantik dan bijak di antara saudara-saudariku.
“Jangan begitu, kalian harus mensyukuri apapun yang diberikan Allah,” kata Bunda cepat-cepat menghangatkan hati anak-anak.
Aku langsung melihat-lihat ke sekitar rumah. Memang tak layak huni. Rumah tua, lapuk. Gentingnya bocor, biliknya bolong-bolong. Lantainya tanah, musim kemarau membuatnya retak-retak. Aroma apak, campur dengan bau paduan antara kecoa dengan cecurut, langsung menyergap lubang hidung.
“Huueeek…!”
Nggak tahan aku muntah-muntah di samping rumah. Baru ngeh, kamar mandi dan kakusnya serba darurat. Kalau ingin sehat, Bapak harus merombaknya, jeritku dalam hati.
“Ini masih lebih baik, sebuah rumah, kita bisa mandiri,” Bapak tetap semangat seperti biasa.
“Bener juga sih,” sahut Hani. “Di tempat dulu dikit-dikit denger orang nangis dan berantem!”
“Belum lagi kalo anak-anak Bibi Mimi itu ngegerecokin. Nggak bisa belajar tenang!” kataku mengakui.
Setelah ditempati beberapa hari, begitu libur barulah Bapak membenahinya. Biasa, menggebah pasukan kecilnya, aku dan adik-adik. Semuanya sibuk bekerja, tidak anak perempuan atau laki-laki, sama saja. Punya hak dan kewajiban yang sama. Semuanya bertugas menjadikan rumah agar betah ditinggali.
Bilik-biliknya ditambal zak bekas semen, dikanji hingga lekat. Gentingnya diganti sebagian. Bapak mengerjakannya sendiri. Biar hemat, tak perlu menyuruh tukang.
“Jangan yang itu, Naaak…. Yang sebelah sana tuuuh!”
Atau, “Hati-hati, Naak, jangan sampe pecah gentengnyaaa…!”
Dan, “Semuanya harus pake alas kaki, ingaat…. Anak-anaaak!”
Demikian suara sang prajurit berteriak-teriak dari atas wuwungan. Sementara di bawah aku bersama adik-adik berjibaku. Berbaris secara berbanjar, mengangkuti genting-genting dari tumpukannya hingga ke tangan Bapak.
Aku kebagian naik di undakan tangga bambu, paling dekat dengan Bapak. Disambung Hani, Riri, Abib terus Reza. Sementara Bunda sibuk di dapur menyediakan makanan dibantu Bibi Encur. Oya, Bunda tengah mengandung adikku yang ke tujuh.
Tiba-tiba Hani berteriak lantang, “Kapan kita punya rumah sendiriiii?”
Suaranya yang cempreng mengebah anak-anak yang lagi berjibaku.
“Tanyakan langsung ke Bapak, Teteh!” imbuh Riri.
Abib seketika mendahuluiku. “Bapaaak! Boleh nanya nggaaak?”
Bapak nyelang menengok ke arah putranya yang paling gembrot.
“Mo tanya apaaa?”
“Tapi jangan ngambek, yaa?”
“Iiih, cepetaaan….” Hani mulai gemas, melototin Abib.
“”Ngomongnyaaa!” Riri ikutan gemas.
“Iya nih, ntar keburu kubanting gentengnya! Beraaat!”
Aku pun mulai kewalahan mesti menjunjung lima genting, berdiri di tangga pula. Peluh sudah melaut, bikin jilbab kaosku lepek dan bau nggak karuan.
“Iya, cepetaan! Beraaat niiih…!” dengusku ngos-ngosan.
Bapak berteriak lagi dari atas wuwungan, “Mo tanya apa, Biiib?”
“Ja ceuk barudak ieu mah, Apa! Iraha Apa rek boga imah keur ngaing sarereaaa?”2
Ya Rooob…!
Sekejap anak-anak terkesima mendengar pernyataan dalam logat gaul anak Labuan. Dasar murid jawara Banten, Mang Umar. Untuk sesaat aku pun berdiri mematung sambil tetap menjunjung genting. Takut Bapak tersinggung, tapi juga geli setengah mati.
“Iyaaa, Bapak ngerti! Nantilah Bapak mo minta dulu sama Si Mbaaaak di Istanaaa! Hehehe…”
Kulihat sekilas Bunda yang mengawasi dari pintu dapur mesem-mesem. Entah apa yang terlintas di benak Bunda. Adakah sama angan Bunda dengan anganku? Sebuah rumah yang nyaman dan asri, dibasuh iman dan tawakal. Sehingga melahirkan sebuah keluarga sakinah mawadah dan warrohmah.
***


1 “Iya ya, Kawan! Jangan ganggu ngapa? Kita mah seguru seelmu saja, ya? Kan aku gak punya dosa apa-apa sama kamu?!”
2 “Ini sih kata anak-anak, Bapak. Kapan Bapak mau bikinkan rumah sendiri buat gue-gue niiih…?!”
Posted in: | Selasa, 24 Maret 2015