Latest Stories

Subscription

You can subscribe to pipietsenja.net by e-mail address to receive news and updates directly in your inbox. Simply enter your e-mail below and click Sign Up!

TOP 5 Most Popular Post

Other Post

Other Post



Malam ke-15, apartemen Frankie, musim dingin semakin membeku dengan suhu udara di luar mulai ekstrim.
Tiga hari tiga malam Fatin dan si kecil benar-benar dikurung di kamar yang tidak layak huni di lantai atas. Penerangan hanya mengandalkan cahaya dari luar, tiang listrik yang menyala jika telah malam.
“Dingin, Ma, dingin, brrrrr!” gumam kecil akan terdengar setiap beberapa saat.
“Sabar, ya Nak, kuat ya, tangguh, Cintaku….”
Hanya itu yang bisa diucapkannya seraya memeluk si kecil erat-erat. Jika boleh jujur, sesungguhnya ini lebih sebagai upaya menyembunyikan rasa takutnya sendiri. Menciumi harum badan anaknya, niscaya ada satu keajaiban cinta yang menguar dari tubuh si kecil.
Saat-saat begini bagi Fatin merupakan satu-satunya cara dalam mengumpulkan repihan semangat yang telah tercerai-berai. Maka, acapkali ia  menyusupkan wajahnya dalam-dalam ke kepala anaknya.
Adalah oercakapan begini, betapa sering dan tak terhitung lagi.
“Mama dongeng, ya Nak….:”
“Sudah dongeng dari tadi….”
“Hmm, lapar, ya Cintaku?”
“Tidak, Mama,” tolak si kecil bagai memahami jalan pikiran ibunya.
Perkataan ibunya hanyalah penghiburan.
Mama akan berpura-pura mencari makanan, berkeliling kamar, meyusuri setiap ubin dari satu sudut ke sudut lainnya. Kadang samba menggendongnya, tetapi kemudian lebih sering hanya mampu menuntunnya.
“Mama cari makanan dulu, ya….”
“Jangan, Ma, jangan. Nanti kita dipukul,” pintanya terdengar memelas sekali.
Seraut wajah bocah yang mengambil garis keturunan perpaduan antara ibu dengan ayahnya, campuran Sulawesi dan Sunda, tampan rupawan. Kini tampak kuyu dengan sorot mata melembut, penuh dengan luka dan kepedihan yang dalam.
Fatin tak pernah mengira jika peristiwa ini kelak akan sangat mempengaruhi kehidupan anaknya, membekaskan traumatis jiwa yang sangat dalam.
Hingga bertahun-tahun kemudian!
Fatin memeluknya lebih erat lagi, menciumi wajah rupawan dan tanpa sadar air bening mengalir dari sudut-sudut matanya.
Ridho kecil menikmati kehangatan dekapan sang ibu.
Air matanya pun menitik.
Lihatlah, kini air mata ibu dan anak menyatu bak aliran sungai kecil yang menebah laju, terus menuju hulu, menuju samudera luas.
Dhooor! Dhooor! Dhoooor!
Pintu digedor dari luar.
Fatin telah menguncinya dari dalam.
Ia tak peduli dengan rasa lapar, asalkan terhindar dari penganiayaan.
Biarlah, lapar masih bisa mereka tanggung.
Ada kulkas kecil di ruangan ini, beberapa kotak roti kering dan biskuit serta keju masih layak makan. Ada juga sejumlah minuman dingin dan beralkohol, ini sama sekali tak bisa dikonsumsi oleh Fatin dan anaknya.
Setelah tiga hari tiga malam makanan yang layak konsumsi itupun sudah licin tandas. Sesekali Frankie meninggalkan makanan alakadarnya di depan pintu. Makanan berupa sisa-sisa makanannya sendiri.
Sepertinya makanan anjing peliharaan tetangga jauh lebih bagus daripada makanan sisa si jahanam.
“Makan ini, he, betina tak tahu diuntung!”
“Kalau tidak kamu yang berdosa, membiarkan anjing kecil itu mampus!”
Dada Fatin bergemuruh mendengar teriakan dari luar.
Rasanya ingin saja menghambur dan menikamkan pisau tajam yang selalu dikantongi di saku roknya ini ke mulut si jahanam. Merobek-robek mulut busuk yang dagingnya pantas dikerkah, lantas dibuang ke comberan!
Fatin mulai terbiasa untuk memasang kupingnya baik-baik. Sehingga ia bisa membaca pola gerakan dan kebiasaan si jahanam. Dia menerawang lelaki itu punya kebiasaan; bangun tengah hari, makan sambil nonton televise atau DVD porno, sekitar pukul lima sudah keluart rumah. Pulang dinihari dalam keadaan mabuk, sering juga membawa serta perempuan-perempuan binal.
Sekarang semakin sering pulang sebentar saja, agaknya sekadar ingin meyakinkan dirinya bahwa tawanannya masih aman di apartemennya.

Penasaran, ya Sob?
Tunggu tanggal mannya dalam film layar lebar, insya Allah akan dibesur oleh sutradara terkenal Aditya Gumay. Mohon doanya, ya teman-teman yang disayang Allah Swt.
Mari Dukung Film Indonesia yang bermutu!




Posted in: | Sabtu, 22 Agustus 2015

 

Malaikat Kecil di Gerbang Firdaus
Sarah Hafidz

Mataku semakin berkunang. Entah tersebab tangisku sejak kemarin pagi, atau karena terlalu mabuk. Sebulan terakhir iniaku juga merasakan kondisi kesehatan semakin menurun. Batukku pun tak kunjung sembuh. Sering pula kesulitan tidur karena tak nyaman dengan badanku yang basah berkeringat. Terhuyung aku melangkahkan kaki menuju ujung lorong. Sebentar lagi, aku pasti sampai di tempat itu. Membebaskan diri dari bau alkohol yang semakin memuakkan. Ah, seluruh badanku pun penuh aroma minuman haram itu. Haram? Apalah makna kata itu untukku? Setelah kujalani kehidupan yang hitam ini.
Sesampai di pintu belakang, seperti biasa aku duduk di tangga. Tak ada yang indah di sana. Kecuali gang kecil yang sepi. Di sana terjajar beberapa tong sampah. Juga beberapa pot bunga bugenvil yang layu. Aku selalu lupa menyiramnya. Begitupun temanku yang lain. Bunga itu hanya menunggu hujan yang sesekali datang di musim panas ini. Barangkali hingga akhir tahun nanti akan tampak lebih segar, mungkin pula berbunga di musim semi.
Sekilas aku lihat sosok bocah dekil. Tangannya mengais sesuatu dari tong paling ujung. Aku mengucek mata tak yakin. Apakah itu anakku? Ah, tentu saja bukan. Anakku lebih dewasa darinya, tentu lebih rapi, pun bersih. Perlahan kulambaikan tangan. Dan bocah kurus yang tak pernah kulihat sebelumnya itu segera berlari. Mungkin ketakutan, atau jijik dengan aroma alkohol di badanku.
Aih, bukankah tong sampah itu juga lebih tak sedap baunya. Tapi aku menikmatinya. Sesekali, kalimat Alif dalam percakapan kemarin pagi terngiang di pendengaranku.
"Kumohon pulanglah sebentar dampingi Alif, Bu! Embah juga sering sakit-sakitan. Kami semua menunggu Ibu pulang."
"Bukankah ada Ayah pula yang nemenin. Alif harus tahu, Ibu di sini berjuang untuk Alif."
"Iya, Bu. Tapi apa sedikitpun, Ibu tak kangen Alif? kenapa kontrak kerja Ibu kali ini begitu lama?" Pertanyaan itu membuatku pening.
Masih terdengar isakannya yang tertahan. Bayi merah yang kutinggal duabelas tahun lalu sudah berani minta dikhitankan. Dan aku tak bisa mendampinginya. Selama tiga periode kutinggalkan, dan hanya dua kali cuti barang seminggu atau sepuluh hari saja. Rasa sakit hati tersebab mertuaku yang selalu memanas-manasi telingaku.
"Di luar negri enak kan? Gajinya gede. Nanti kamu harus berhasil. Lihat tetangga pada punya rumah tingkat, punya mobil. Kita akan malu kalau nggak bisa seperti mereka."
Suamiku hanya diam. Kulirik Alif yang saat itu berusia hampir tujuh tahun. Dan belum mengenalku sebagai ibunya. Dia selalu melekat di pangkuan ayahnya, sesekali ke pelukan mertuaku. Aku tak bisa berontak. Meski selama kerja di luar negeri uangku kemana? Aku hanya mengelus dada. Demi Alif, anakku.
"Kamu gila, Kinasih?" suamiku terperanjat. Matanya hendak menelanku bulat-bulat. Aku gemetaran. Antara menahan sesak di dada dan tangis yang hampir meruah.
"Ini demi masa depan kita, Mas. Apa Mas kira aku mau selamanya jadi babu? Aku juga capek. Ingin sesegera mungkin menjaga Alif. Sedangkan uang hasil kerjaku habis buat modal Ibu tanpa hasil. Apa Mas mau, selamanya kita berpisah?" Sesenggukan aku mulai berontak.
Suamiku memilih diam. Begitupun aku tak berani bersuara lagi.  Dia imamku yang sangat patuh terhadap ibunya. Dan pewaris lelaki tunggal keluarganya. Hanya sesekali suara isak tangis kami kemudian bersahut. Namun naluriku bersikeras untuk menerima tawaran kerja ilegal sebagai pemetik buah dengan gaji menggiurkan. Tentu aku ingin meraup uang lebih banyak dibandingkan pekerjaan rumah tangga atau merawat lansia. Dan itulah kali terakhir aku bicara dengan suamiku, meminta restunya sebelum meninggalkan rumah. Setelahnya, aku hanya mengirimkan pesan. Atau bicara dengan anakku saja.
Sebenarnya aku tak menyangka bahwa pekerjaan yang ditawarkan oleh Lim, sopir taxi itu adalah menjadi kupu-kupu malam. Dia menjanjikan gaji dua kali lipat. Tidak menyolok layaknya di Gang Doly memang, tapi itulah pekerjaanku. Setiap malam melayani pria-pria hidung belang. Mereka yang sekedar ingin minum-minum atau bahkan mengajakku ke ranjang.
Selama kurang lebih enam tahun ini, aku selalu berpindah-pindah tempat. Dari kota satu ke lainnya. Tapi di bawah naungan Lim, aku selalu terlindungi. Bagaimana pun uang hasil kerja malamku lebih dari cukup untuk mengirimi setiap permintaan mertuaku.
Meski sempoyongan, kupaksakan untuk berdiri dan meninggalkan tangga itu. Dari dalam kuperhatikan bayangan bocah kurus itu mengendap-endap. Di tangan mungilnya ada kumpulan plastik berisi aneka kotak makanan. Astaga! kotak itu yang tadi sore kubuang. Masih kuingat apa yang tersisa di dalamnya. Aku paling benci sushi(1) Karena tak bisa mengkonsumsi seafood(2) mentah yang selalu ada di antaranya. Kucomot sebagian saja, selebihnya aku masukkan tong sampah. Dan sekarang berpindah ke tangan bocah dekil itu. Rupanya, dia masih memilih-milih  apa saja yang bisa dimakan. Dan mungkin waktuku juga untuk kembali ke ruang pengap itu. Bergumul dengan pria-pria yang hendak memberiku uang, harapan ataupun mimpi.
Pagi ini aku tak kan tidur seperti biasanya. Akan kusempatkan sedikit waktuku untuk menyiram bunga bugenvil di gang kecil belakang rumahku, sekaligus tempat kerjaku ini. Kembali aku mengucek mata. Kali ini, sungguh lebih jelas sosok kurus bocah semalam. Tinggi badannya aku perkirakan tak lebih dari empat kaki saja. Berbaju kumal, begitupun rambutnya seperti terlalu lama tidak tercuci bersih. Ada sorot ketakutan saat melihatku. Meski sudah kucoba tersenyum.
”Kamu sudah makan?" klise saja kutanyakan itu agar tak mengganggunya.
"Ini pagi kedua aku mencari makan di sini. Kenapa pagi hari selalu tak ada makanan?" jawaban polosnya seperti menghujam jantungku.
"Tunggu sebentar yah!"
Aku tergopoh lari ke dapur. Kuambil apa saja sisa makanan dalam kulkas, laci. Karena aku dan teman-teman hanya hidup di malam hari dan tidak pernah masak. Aktifitas kami berawal dari sore, hingga menjelang fajar. Pantas saja dia tak mendapatkan sisa makanan di tong sampah sepagi ini. Dia hanya akan mendapat kotak sisa makanan kami pada malam hari. Tentu sebelum mobil sampah mengangkutnya.
"Ini semua masih bersih. Makanlah!" Segera kusodorkan seplastik makanan padanya. Matanya berbinar, tangannya memeriksa apa-apa di dalam plastik dariku.
"Ada coklat...."
Seketika dibuka kotak coklat itu dengan tangan kotornya dan mencomot satu. Dengan penuh gairah segera dimasukkan ke mulutnya. Kemudian mencomot satu lagi.
"A Yi, ini untukmu," disodorkannya coklat itu hampir menyentuh bibirku. Seketika ada trenyuh di hatiku. Apakah Alif akan melakukan hal yang sama suatu hari nanti? Ah, mataku tiba-tiba berkaca. Tangan bocah itu masih tegak hendak menyuapiku coklat.
"Titi saja yang makan. A Yi tidak suka coklat. Makanya semua A Yi kasihkan Titi," tolakku. Dengan segera dia pun melahap coklat yang hampir lumer di jemarinya. Senyum sumringahnya memperlihatkan gusinya yang bengkak. Aku yakin dia jarang menggosok gigi sehingga bakteri merusak gusinya.
"Aku harus segera pulang. Mama sedang menungguku menyuapinya sarapan. Jam segini pasti sudah lapar." Dia pun berlari meninggalkanku yang masih bengong. Masih banyak pertanyaan yang belum sempat kuungkapkan.
"A Yi.., boleh aku main lagi nanti?" Pertanyaan itu membuatku terkesiap. Ternyata dia balik lagi untuk meminta persetujuanku. Dan aku hanya mengangguk. Kemudian dengan cepat dia pun lenyap di balik tembok gang kecil itu.
"Dulu, Mama sangat rajin bekerja. Uangnya selalu dihabiskan Papa untuk berjudi. Tapi sejak sakit, Papa marah dan mengusirnya. Hampir semua yang tahu penyakit aids(5) Mama selalu mengusir. Baru tiga hari ini, kami pindah di kost-an sebelah." Matanya berkaca-kaca. Jantungku berdegup kencang dan semakin ingin mendengar ceritanya.
"Tapi A Yi janji yah, jangan bilang yang lain. Kasihan Mamaku. Aku takut harus pindah lagi. Takut semua orang tahu penyakit Mama." Aku mengangguk, batinku bergemuruh. Bocah sekecil itu harus menanggung beban untuk memperjuangkan kehidupan mamanya? Apakah dia akan mampu? Ah .., mungkin aku terlalu merindukan dan merasa bersalah pada Alif sehingga terharu seperti ini.  Tenggorokanku terasa sangat sakit menahan tangis. Mungkin juga sariawan yang menyebar bebas di area tenggorokanku sejak lama lalu.
"Apakah Mamamu sudah berobat?"
"Mama bilang, sakitnya tak bisa diobati. Lagipula uang Mama hanya cukup untuk membayar rumah kost. Makanya Mama tak ada uang buat kami makan."
Aku masih tak percaya. Pengidap aids tanpa berobat? Bagaimana mungkin kehidupan rakyat Taiwan bisa sepedih itu. Apalagi bocah yang aku perkirakan sepuluh tahunan ini begitu kuatnya. Tanpa jijik mengorek tong sampah bahkan mengkonsumsi sisa makanan apapun yang ditemukannya. Bukankah negeri ini selalu memberi keringanan untuk rakyatnya berobat dengan kartu asuransinya?Atau mamanya sudah tak mau berobat? Dan begitu kejikah ayahnya? Aku tak berhenti berpikir.
"Papamu tak pernah datang?"
"Papa sudah tidak peduli keberadaan kami. Papa bilang, penyakit Mama bisa menular. Papa melarangku ikut Mama. Tapi aku tidak takut. Aku akan melindungi Mama," ucapannya sangat antusias.
"Kamu tak ingin pulang?"
"Aku ingin bersama Mama." Dia menunduk. Tapi wajah polos itu sepertinya tak mengkhawatirkan apapun yang akan terjadi. Sejak saat itu, aku sering menawarkan diri untuk menjenguk mamanya. Tapi bocah itu menolak.
Mama pasti akan marah." 
Aku tak memaksanya untuk ke sana, bahkan sekedar tahu rumah kontraknya. Yang bisa kulakukan hanya menyiapkan jatah makanan lebih dari biasanya. Ada dua nyawa lagi yang kelaparan menunggu uluran tanganku. Kadang, aku merasa seperti bidadari penolong.
Beberapa malam ini, aku merasa makin malas meladeni tamu-tamuku. Aku lebih sering terduduk di tangga seperti biasa. Menunggu bocah yang belum sempat kutanyai namanya itu bicara denganku. Tapi dia tak kunjung datang lagi.
"Kinasih! Lian mencarimu ..." Panggilan itu mengejutkanku.
Claire mengisyaratkan untukku segera datang. Benar saja, lelaki putih bermata sipit pelangganku itu sudah menunggu di kursi paling pojok. Di bawah sinaran lampu yang selalu menyilaukan mata, di sana selalu ada uang yang bisa aku kantongi.
Kepalaku terasa sangat pusing, saat kudengar gedoran pintu besi belakang. Aku gemetaran, gugup dan entah apalagi. Ada rasa takut bahwa itu polisi yang datang, mengetahui keberadaanku yang ilegal di negeri formosa ini. Tapi suara bocah itu sangat kukenal dan membuatku sedikit tenang.
"A Yi .., A Yi ..." Aku segera menuruni tangga, menuju lorong sempit itu.
Saat kubuka pintu, kulihat wajah bocah itu basah oleh airmata. Aku menjadi gugup lagi dan tak tahu harus melakukan apa. Sontak kupeluk tubuhnya yang gemetar, bibirku masih kelu tak bersuara.
"Mama tak mau bicara lagi. Badannya demam tinggi beberapa hari lalu. Sekarang kejang-kejang dan aku takut, A Yi."
Itukah alasan bocah yang kutunggu ini tak datang beberapa hari lalu? Tidak mau bicara? Mungkinkah dia? Tanganku gemetaran menelfon Lim. Aku yakin dia tak buta hati. Berharap dia bisa lakukan sesuatu untuk bocah malang ini.
Aku terduduk lemas. Kabar terakhir dari Lim, membuat badanku panas dingin. Bocah dekil itu kembali ke keluarganya karena mamanya harus diisolasi di rumah sakit khusus pengidap aids. Aku jadi sangat merindukannya. Celotehnya, perjuangannya, semua tak sedikit pun kulupakan.
"A Yi, pasti sangat menyayangi anak A Yi. Kenapa tak diajak saja ke sini biar bisa main sama aku?" tanyanya suatu pagi. Aku hanya tersenyum. Karena tak mungkin aku menjelaskan posisiku di tempat ini.
"Jadi, A Yi harus segera pulang. Biar seperti aku dan Mama, tak pernah berpisah."
Ah, bocah kecil, itulah yang engkau harapkan. Dan faktanya penyakit itu harus memisahkan kalian kan? Percakapan terakhir dengannya seperti sebuah pesan untukku. Apalagi akhir-akhir ini aku semakin sering kelelahan. Setiap sendi di tubuhku terasa sakit. Dan sering pula mendadak demam tinggi. Apakah musibah yang terjadi pada bocah itu berdampak buruk bagiku? Bocah yang kukenal tak lebih dari sebulan saja. Bahkan sampai saat ini pun tak kutahu namanya.
"Kinasih, kamu terlihat sakit. Badanmu berubah kurus sangat drastis. Kamu harus ke dokter!"
"Aku tidak sakit. Beri aku waktu untuk istirahat beberapa hari saja, Lim."
"Tidak. Kamu harus ke dokter. Lihat dirimu! Aku tak mau mengurusi orang sakit. Sekarang ganti baju! Aku antar ke sana."
Aku harus menurut. Karena aku paling jengkel mendengar suara keras lelaki tambun itu. Belum lagi kebiasannya mengunyah sirih dengan baunya yang menyengat. Aku semakin tak tahan dibuatnya.
"Untuk apa mengambil sampel darah, Dok? apa sakitku?" perasaanku mendadak kacau balau.
"Harus menunggu empat hari lagi untuk tahu persis hasil dari lab. Jadi kamu harus sabar." Aku seperti orang linglung. Dokter menyarankanku untuk melakukan tes antibodi. Sejak sore itu, aku rehat total dan dilarang melayani tamu di klub lantai dasar. Sesekali aku turun dan langsung menyusuri lorong. Selalu pintu kecil itu yang menjadi tujuanku. Entah, aku rasakan ada sesuatu yang hilang di sana.
Berhati-hati aku keluar dari kabin pesawat. Kutenteng tas baju yang terasa lebih berat dari badanku. Karena sejak beberapa hari lalu, aku tak selera makan. Kecuali beberapa butir obat ARV yang diberikan dokter Taiwan padaku. Dia berpesan padaku untuk rutin mengkonsumsinya.
"Jumlah CD4 dalam tubuh normal umumnya 700 per µL. Dan kamu memilikinya kurang dari 200 saja. Jadi kamu harus menjalani pengobatan rutin. Kontinyu dengan terapi antivirus di negaramu!"
Sekarang aku merasa lebih sehat dan bahagia. Keputusan akhirku untuk pulang dan setidaknya menghirup udara tanah airku. Tidak! Tentu bukan itu saja. Aku ingin bertemu Alif, juga suamiku untuk meminta maaf. Bagaimana mereka memaafkanku? Sedangkan aku masih tak ingin pulang. Bagaimana jika mertuaku masih memintaku untuk kerja lagi keluar negeri? Sedangkan aku sudah tak mungkin kembali bekerja sejauh itu.  Kuberanikan menekan tombol beberapa angka. Di seberang sana, seperti biasa kudengar suara Alif.
"Benarkah Ibu sudah sampai Jakarta?" Dia sangat terkejut. Aku seperti ingin menghentikan waktu beberapa saat. Karena aku tak tahu harus bicara apa.
"Bu! Besok Alif sama Ayah ke sana. Alamatnya di mana, Bu?"
Aku masih bungkam. Perbincangan kami sangat kaku. Di belakangnya, kudengar suara suamiku kegirangan. Tuhan, hukuman ini sangatlah berat untuk kutanggung. Tapi aku masih berharap permaafan mereka, orang-orang yang kucintai.
Usai sholat subuh dan berdoa, aku rebahan di ranjang. Perasaan berdebar menunggu kedatangan Alif dan suamiku. Mereka berangkat dari stasiun Blitar kemarin sore. Pagi ini, pasti mereka sampai jika tak terjebak macet di ibukota. Ada rasa tak sabar. Ingin pula menyalahkan pemerintah dengan program mobil murahnya. Karena dengan adanya program gila itu, akan semakin memperpadat jalanan ibukota. Kenapa bukan perbaikan sarana transportasi massal? Hatiku semakin berdetak tak karuan.
Kupandangi langit-langit kamar sambil menghitung hari. Sejak virus itu memvonis usiaku, kucoba kuat dengan memulai lagi sholat lima waktuku. Sekian tahun aku bahkan lupa caranya berdoa. Dan semakin kuhitung, hanya kerdipan bintang yang bermain di bola mataku. Meski kupejamkan tetap saja gemerlapan. Aku coba mengingat berapa uang yang sudah aku dapatkan selama lima tahun ini? Berapa lelaki yang mengencaniku, tidur bersamaku? Aku kesulitan mengingat nominalnya.
Rasa mulas membuatku sulit untuk konsentrasi. Tapi aku takut untuk ke dokter lagi. Aku merasa pandangan mereka menghujamku setelah melirik beberapa lembar kertas hasil tes yang aku sodorkan. Aku jadi ingat kisah bocah dekil itu. Pasti mamanya merasa takut, malu, terkucil, sama sepertiku saat ini.
Ah, biar saja aku bermalas-malasan di kamar kontrakku. Dengan bolak-balik ke toilet saja sudah cukup lelah. Perlahan kukatupkan mata.
Ada bayangan bocah dekil itu mengajakku bermain dengannya. Senyum itu masih sama, dengan memamerkan gusinya yang bengkak berdarah. Pun suara gaduh dan tangis beberapa orang, entah sedang menghebohkan apa. Hangat, kurasakan Alif memelukku sangat erat. Aku  sangat bahagia melihat malaikat kecil itu saling memperebutkan tanganku.

@@@
Posted in: | Jumat, 14 Agustus 2015




Kontribusi “Dari Negeri Dua Benua

Bagi kalangan penulis, nama Pipiet Senja (penulis senior yang banyak bergiat dalam kegiatan literasi nusantara dan motivator di kalangan Buruh Migran Indonesia di Hongkong) tentu tak asing lagi. Pipiet Senja adalah nama pena Etty Hadiwati Arief, lahir di Sumedang, 16 Mei 1956 dari pasangan Hj.Siti Hadijah dan SM. Arief (alm) seorang pejuang’45. Novel yang telah ditulisnya ratusan dan puluhan buku karyanya juga telah terbit.

Pipiet Senja harus ditransfusi darah secara berkala seumur hidupnya karena penyakit kelainan darah bawaan, memiliki dua orang anak yang selalu membangkitkan semangat; Haekal Siregar dan Adzimattinur Siregar. Aktivitasnya saat ini sebagai anggota Majelis Penulis Forum Lingkar Pena, sering diundang seminar kepenulisan ke pelosok Tanah Air dan mancanegara. Salah satunya beliau menjadi pembimbing dan penasihat sejak awal pendirian FLP Turki.

Saya punya pengalaman tak terlupakan bersama beliau, meski dalam jarak maya, komunikasi lewat jejaring fiber internet. Ketika awal pendirian FLP Turki, dengan gencar Teh Pipiet—begitu beliau biasa kami sapa, rajin sekali menagih karya kami, tulisan yang produktif dari penulis yang siap mental pula, karena konsekuensi digembleng Teh Pipiet berarti siap pula dikritik, diminta ini dan itu dalam upaya perbaikan tulisan.

Saya sendiri memberanikan diri mengirimkan rangkaian tulisan cerpen bersambung yang telah beberapa lama bertengger di laman blog pribadi. Alih-alih menjadi pengalaman pertama menjajaki dunia menulis yang lebih kontinu, saya justru dengan polosnya mengirimkan email berisi karya mentahan dalam bentuk link blog. Ulala~ hal ini benar-benar menunjukkan kemalasan dan kepolosan yang teramat sangat.

Hingga suatu sore, alih-alih mendapat respon isi tulisan, Teh Pipiet dengan gamblangnya mengkritik mengenai etika pengiriman naskah kepada saya, Dari A hingga Z. Calon penulis tidak boleh malas dan manja, harus siap berjibaku dengan naskahnya sendiri. Bahkan penulis terkenal sekalipun tidak menyerahkan naskahnya lantas berleha-leha pasrah pada editornya. Menulis itu passion yang harus diseimbangkan dengan keluhuran.

Sejak saat itu, setiap kali ingin mengirimkan naskah, entah untuk lomba cerpen atau sejenisnya (meski jarang yang berhasil), namun saya mencoba lebih berhati-hati, mundur sejenak meyakinkan bahwa persyaratan minimal untuk sebuah naskah layak kirim dan layak diproses telah terpenuhi. Setelah menelan pahit ditolak Teh Pipiet, saya diberikan kesempatan untuk ikut menulis kembali bersama teman-teman FLP Turki dalam antologi cerpen.

Buku yang berisi kumpulan berbagai cerpen dari banyak penulis ini diterbitkan oleh Pipiet Senja Publishing, diedit langsung oleh tim FLP Turki dengan suntingan tangan penulis senior Pipiet Senja. Dalam salah satu potongan kalimat endorsement-nya, Pipiet Senja menuliskan untuk mengapresiasi segala karya yang hadir.

Antologi cerpen berjudul Dari Negeri Dua Benua ini bertabur alur cerita yang beragam, kombinasi taburan sejarah Utsmani dan juga gambaran modern lika-liku perjuangan mahasiswa di perantauan ranah Utsmani. Bumi Ottoman yang menyimpan banyak sejarah juga menjadi unsur intrinsik kuat dalam penajaman latar cerita dari berbagai cerpen yang termuat. Tentu cerpen ini juga tak luput dari tebaran kisah cinta dan asam manisnya.

Bersanding dengan rekan FLP Turki lainnya dalam antologi ini membuat saya bangga, setidaknya saya berterima kasih kepada Teh Pipiet yang selalu on membangunkan kami yang tidak produktif menulis. Malu sendiri melihat perjuangan Teh Pipiet yang seperti nama penanya, sudah berusia senja namun tetap produktif menulis dan berkarya di tengah perjuangan sakitnya.

Banyak potensi menulis yang belum tergali, banyak karya-karya yang masih luput tak termuat, banyak karya yang ada tak jauh dari compang-camping perbaikan. Namun jika teman-teman semua berkenan membaca buku antologi cerpen rekan-rekan FLP Turki—yang saya tahu begitu antusias, saya pikir akan ada satu dua masukan membangun untuk memperbaiki dunia sastra Indonesia yang haus akan sastra berbudi, sastra berisi dan sastra yang berhikmah.

Jika tertarik membeli buku antologi cerpen pertama FLP Turki   “Dari Negeri Dua Benua”, silakan kontak ke 0856 6918 5619, insha Allah rekan-rekan FLP Turki sangat berterima kasih karena setidaknya, setiap satu buku yang dibaca telah menyalakan satu obor cahaya untuk terus menulis dan berkarya.

Salam hangat dari saya, yang tak akan melupakan Teh Pipiet Senja. Semoga Allah karuniakan banyak rizki dan nikmat sehat kepadanya.

Fatimah Azzahra,
Bursa, Turki

Hari ke 16 Ramadhan di tahun 2015
Posted in: | Senin, 06 Juli 2015


            Keluar dari kamar mandi berbasah-basah, setelah mencuci dua jolang besar, mataku langsung mengedar ke ruang tengah. Celingak-celinguk, iih, serasa maling kesiangan aja nih.
 Orang serumah sudah pergi semuanya. Kedua buah hati ketika aku sibuk membilas tadi, menyeling dulu untuk mereka cium tangan dengan takzim. Sulungku sambil mengeluh, minta tambahan uang saku. Karena ada praktikum sampai sore, nanti kelaparan, katanya. Harus fotokopi buku kuliah, banyak juga bisa seratus ribuan.
“Insya Allah, nanti Mama usahakan, sabar dulu, ya Nak,” kataku hanya bisa menjanjikan.
Eh, bungsuku seperti tak mau kalah. Ikut mengeluh soal sepatu olah raganya yang sudah mangap. Nasibnya sama dengan abangnya, hanya bisa dengar janji dari mulutku. Hmm, janji yang entah kapan bisa terpenuhi.
Dan suami, dia sulit diketahui sudah pergi atau belum dari rumah. Kalau sempat dan dipergoki, dia mengucap salam. Tapi kalau kebetulan aku sibuk di dapur, pergi begitu saja.
Jadi ingat cerita di sinetron-sinetron Indonesia. Suami-istri begitu mesra, harmonis apalagi saat akan berpisah. Istri yang sudah berias fancy, bahkan sampai pakai gaun indah atau kebaya macam mau pergi kondangan saja. Sang istri yang berbahagia itu akan mengantarkan suami sampai teras, membawakan tasnya. Kemudian, celepeet, celepeeet… kecup pipi kiri kanan.
Dasar, cerita di sinetron, sering banyak bunga mimpi daripada realitanya. Tapi aku percaya kok, masih ada juga pasangan normal yang harmonis. Meskipun tak terlalu berlebihan macam di sinetron. Ada saja, tapi inilah takdir yang harus kuusung, iya kan Sang Sutradara?
Hening, kulepas jilbab yang sudah lepek, usai sudah menjemur pakaian. Kulirik jam di dinding di ruang tamu. Pukul tujuh lewat dikit, gumamku. Beberapa jenak kuamati jam dinding yang telah berumur lebih 20 tahun itu. Kado pernikahan dari seorang sohib, kuingat lagi itu. Mereknya mahal, terbukti awet dan masih mengkilat karena suka kurawat baik-baik.
Baiklah, bagaimana kalau jam dinding ini saja, ya? Kira-kira berapa harganya kalau digadaikan? Ah, tapi ini bisa bikin heboh orang serumah!
Lesu kutinggalkan ruang tengah. Mungkin shalat dhuha dulu, biar otak tak terlalu suntuk. Semoga Allah membukakan pintu rezeki-Nya untuk kami, pikirku sambil masuk ke kamar.
Desakan kebutuhan sehari-hari rasanya semakin mburudul. Belakangan terutama untuk biaya kuliah sulungku dan beli buku-bukunya yang setebal-tebal dua-tiga kali Al-Quran itu. Bahkan bungsuku yang kelas dua SMP, harus beli buku per paket yang harganya ratusan ribu. Anehnya sistem kurikulum pendidikan di Indonesia. Ganti Menteri, ganti kebijaksanaan, ganti sistem. Intinya bagi orang tua tetap saja sami mawon; biaya pendidikan kian melangit!
Sulungku semester lima, ongkosnya per hari sepuluh ribu, maklum dikejar dari Depok ke Bogor. Kadang pukul lima subuh sudah berangkat, megejar kereta pertama karena kuliahnya dimulai pukul tujuh. Dengan abodemen tiket KRL, sepuluh ribu itu sering membuatnya kelaparan.
“Makananku kayak Abang Becak lho, Ma,” katanya ketawa kecil. ”Nasi ditambah kuah sayur dan sepotong tempe. Seribu tuh!”  Sering hatiku miris, tak tega makan lebih dulu sebelum mereka pulang, dan kupandangi wajah keduanya yang baru sabililah.
Dan belanja sehari-hari yang meskipun lauknya alakadarnya, tetap saja lebih dari limabelas ribu karena harus beli beras juga. Yang parah kalau sudah saatnya ditransfusi, ya Allah! Gaji pegawai negeri golongan tiga, ditambah honorariumku sebagai penulis. Ah, tetap saja hidup morat-marit. Ampuni aku, ya Robb, bukannya tak menerima situasi hanya…
Sudah seminggu tak sepeser pun uang di tanganku. Belanja sehari-hari terpaksa menebalkan muka, utang ke warung Bude Nik. Mujurlah, aku memiliki tetangga tukang warung yang baik hati begitu. Nanti begitu sudah ada uang cepat kulunasi. Yap, siapa lagi yang kepingin punya utang? Terpaksa karena butuh, meskipun muka entah harus disembunyikan di mana…
Usai shalat dhuha pikiran agak terang. Setidaknya sudah ada ide. Sambil melipat mukena, mataku langsung mencari-cari si Denok. Nah, ini dia. Kuangkat mesin ketik portable merek Brother dari tempat istirahatnya di sudut kamar. Sekarang aku sudah mengetik dengan komputer pentium dua. Uang bea-siswa sulungku itu bukannya dipakai keperluan kuliah, malah dibelikan komputer bekas. Saking ingin meringankan beban ibunya ‘kali, ya?
“Duuuh, sayangku, Denok,” gumamku sambil membersihkan penutupnya yang penuh debu. Mesinnya masih mulus, tapi ada beberapa huruf yang tak jelas. Huruf a mirip o, dan d kadang mirip g juga. Semuanya suka bikin salah kaprah. Misalnya kata ‘sayang’ tampak seperti ‘soyong’. Ingin kutulis ‘garing’ kok malah mirip ‘darino”. Setidaknya dipahami begitu oleh Bung Daktur, hehe…
Akhirnya ada banyak redaksi yang sempat komplain, gara-gara tulisanku kurang dipahami. Kaciaaan deh… daku!
“Mohon keikhlasanmu, Denok. Kamu akan dititipkan dulu di pegadaian!”

Kutinggalkan rumah sambil menjinjing si Denok dan menggendong sekarung koran bekas. Mampir dulu di warung Bude Nik. Korannya lebih dari limabelas kilo. Aku hanya minta dua ribu saja, sisanya buat sambelan, sayur asem, ditambah ikan teri nasi. Belanjaannya nanti saja diambil kalau pulang.
Matur nuwun, nggih, Bude…”
“Oh, iya, nggih Bu Lies, sama-sama,” sahut wanita Solo itu santun sekali.
Tiba di kantor pegadaian tampak sudah banyak orang. Barang-arang yang akan digadaikan pun sudah bertumpuk di depan pintu. Masih terkunci rapat dari dalam, terlambat dibuka agaknya.
Sekilas kuperhatikan barang-barang yang antri itu. Mulai dari barang elektonik seperti televisi, video, magicjar, mixer, blender sampai sepeda motor. Nah lihat, sudah mburudul lagi yang baru datang. Ada yang menggendong buntalan sampai terbungkuk-bungkuk. Mungkin isinya kain-kain, seprai entahlah.
Bahkan seorang lagi sambil menderek sedan!
“Kebanjiran! Daripada rusak terendam banjir mending diderek ke sini, gadaikan sajalah!” kata wanita muda, terengah-engah. Pakaiannya jauh dari bagus. Hanya daster murah, sendal jepit dan syal kembang-kembang mengikat rambutnya yang pendek kriting.
Tanpa ada yang meminta, dia langsung saja celoteh pengalamannya terendam banjir di perumahan Griya Lembah. Kejadian terparah tiga hari yang lalu. Pukul dua dinihari tiba-tiba saja air bah menyerbu. Anaknya yang lima orang sudah diungsikan ke rumah famili di Bogor. Sampai hari itu mereka belum berkumpul kembali.
“Huuh… baru sekarang mengalami banjir besar model begini!” katanya mengakhiri keluh-kesahnya sambil njemprak di teras begitu saja.
“Banjir kiriman dari Bogor!” ada yang nyeletuk dari belakangku.
“Ini kan gara-gara masyarakat kita juga yang malas bersih-bersih, tak peduli lingkungan. Banyak yang membangun di bantaran sungai, bikin rumah hunian liar. Tentu saja semua itu menghalangi arus air!”
“Rakyat yang kebanjiran, para petinggi negeri sibuk saling menyalahkan. Kata Gubernur, jangan salahkan pihaknya. Karena merasa sudah cukup mengingatkan warga. Agar selalu memelihara kebersihan dan melestarikan lingkungan…”
“Alaaah! Mereka cuma banyak omong, bikin seminar ini-itu soal banjir. Rakyat mah nggak peduli macam-macam. Bantuannya saja, bantuannya man-naaa?” Mahasiswa ‘kali, lihat tampangnya yang dinamis begitu.
“Pemerintah juga seenak udelnya saja memberi izin proyek perumahan real-estate. Membetoni lahan kosong…”
“Pasti ada suapnya tuh!”
“Ironisnya, musibah rakyat kok diseminarkan di hotel-hotel berbintang!”
Rasanya makin banyak saja yang beri komentar, bahkan mengompori.  Suasananya jadi hangat. Perlahan kuhampiri  Bu Korban Banjir, wajahnya pucat mungkin belum minum sejak malam. Ada rasa iba di hatiku. Lucu, ya, kok mengasihani orang yang mau gadaikan sedan bagus, rumahnya di real-estate.
Welas asih nggak bisa diusir-usir biar di hati orang sengsara juga, ya kan?                       
“Minum dulu, Bu,” bekal minuman di botol aqua kusodorkan kepadanya.
“Ooh, ya, makasih, Bu,” sambarnya, nah kan? Dia memang kehausan.
“Sudah dapat bantuan dari Pemkot, Bu?” Dikembalikannya setengah botol aqua itu kepadaku.”Huuh! Boro-boro ada bantuanlah, Bu!” keluhnya dilemparkan lagi ke udara di sekitar kami.
Ia juga mengaku kebingungan. Seorang pembantunya sejak dua hari lalu tak pulang-pulang. Mana familinya dari Sukabumi sudah menyusul, katanya. Sementara itu tampak di belakang pintu kaca seorang petugas membukakan pintu masuk. Orang-orang serentak bangkit dan merangsek maju.
Begitu pintu terbuka, mereka semakin merangsek, saling desak, saling dorong. Termasuk aku yang terbawa arus masuk, doyong ke kiri doyong ke kanan.
“Aduuuh, biyuung! Pake nginjek lagi! Entaran ngapa, ini nenek-neneek!” Jeritan itu tepat di belakang punggungku. Nenek-nenek yang menggendong buntalan gede itu rupanya.
Gue juga tahu nenek-nenek! Whee, siapa lagi yang bilang ABG!”
Ups, siapa lagi yang berkomentar. Iseng amat, ya?
Orang-orang, termasuk aku lantas sibuk menyambar formulir. Ada yang mencolek pinggangku, kulirik ke belakang, eits! Nenek lagi!
“Maaf, Neng, ambilin terus tolong isiin, yee. Nenek mah apan buta huruf,” pintanya lugu.
Aku mengiyakan. Dalam hati muji dengan keluguan dan kejujurannya, mengakui kelemahannya. Di kampungku, kutahu banyak ibu-ibu sebayaku yang memiliki kasus serupa. Tapi mereka akan berkilah dengan gaya, lagi sakit mata, ketinggalan kacamata, hurufnya terlalu kecil, kalau kebetulan harus mengisi formulir dari PKK. Sungguh sulit untuk berjujur-ria rupanya, ya?
Usai mengisi formulir sekalian milik Nenek, kami mencari tempat duduk. Jadi ingat Indung di Cimahi. Umurnya sebaya perempuan lansia di sebelahku ini.
Indung, tentu saja nggak perlu keluyuran ke pegadaian segala. Pensiunan peninggalan Abah lebih dari cukup, kalau untuk kebutuhan sehari-hari. Tujuh anak selain aku yang empot-empotan, lainnya selalu mengiriminya wesel. Memenuhi keperluan Indung. Panjang umur, ya Ndung, gumamku membatin.
Sambil menunggu dipanggil oleh juru penaksir barang, kupasang kuping dan mata sekaligus. Kebiasaan atau naluri penulis ‘kali, ya? Kucoba terus merekam nuansa sekitarku. Orang yang hendak menggadaikan barang semakin banyak. Formulir permintaan menggunung di depan petugas.
Nah, dimasukkan dulu datanya ke komputer, barulah keluar dari printer kuno yang bunyinya; gruuueek, gruuueeek… 
Kayak  suara orang asma kebanjiran ‘kali, ya?
Petugas penaksir barangnya kenapa cuma seorang, ya? Lagian rasanya banyak tingkah tuh nona-nona magang. Kerdip-kerdip centil segala, melayani godaan ceriwis lelaki hidung belang. Ah, kasihan ibunya di rumah!
“Nenek mah punya tanggungan lima orang cucu. Ibunya lagi pergi ke Saudi, jadi TKW. Dulu sih suka dikirim tiga bulan sekali. Tapi belakangan anak Nenek itu nggak mau ngirimin uang lagi. Mau disimpan di Bank saja, katanya. Ini gara-garanya si Boneng, mantu Nenek yang nggak tanggung jawab itu. Duitnya  dihabisin mulu sama dia …“
Carita klasik keluarga TKW Indonesia. Ibu nekad ke negeri orang, banting tulang untuk menafakahi keluarga. Eee, suaminya malah kawin lagi.
“Tapi kan suami diwenangkan oleh agama juga, kalau mau punya istri lebih dari satu. Bahkan empat boleh kok…”
“Boro-boro empat, huuh!” Nenek geram.”Ini punya satu juga disuruh jadi TKW . Artinya kan kagak mampu tuh si Boneng!”
“Dasar saja itu mah lakinya… aseeem!”
Lha, kok makin banyak saja provokatornya?
“Apa anak Nenek sudah tahu?” tanyaku.
“Ya, tahu, makanya duitnya ditahan saja di Bank. Biar bakal modal kalo pulang nanti, katanya,” sahutnya sambil menyusut keringat di dahinya dengan ujung kerudungnya.”Nenek butuh duit bakal nambahin modal jualan getuk lindri. Abiiis, duitnya dipinjemin bocah mulu dah, ah…”
Terbayang nenek kurus dan bungkuk ini keliling kampung, menjajakan getuk lindri bikinannya. Sudah setua begini, masih juga harus menanggung nafkah para cucu. Berbahagialah hidup ibuku, gumamku mensyukuri.
Bagaimanakah jadinya kelak diriku bila seumur Nenek ini, ya? Seketika ada yang membeku di kisi-kisi kalbuku. Kuhembuskan napas, berharap pesimisme berubah menjadi sebaliknya.
“Apalagi saya, terpaksa gadai gelang buat nebus cucu di klinik bersalin,” berkata seorang wanita paro baya di belakangku. Aku menghadap ke arahnya. Cerita baru apalagi nih?
“Menantu saya itu ganteng banget kayak bintang sinetron, cuma lontang-lantung. Dari awal sudah dibilangin anak saya itu, jangan cuma lihat tampang, jangaaan! Dasar aja anaknya bengal. Demi cinta, demi ganteng saja ngomongnya. Buktinya sekarang apa, coba? Orang tua saja ketempuhan. Makan tuh cinta, makan tuh tampaaang!” ceracaunya gemas sekali dan sarat benci.
Mataku sekilas melirik ke dua pergelangan tangannya, wuiih, sampai berkeroncong begitu bunyinya. Belum kalung berlian, giwangnya bermata intan. Kok nggak ikhlas membela anak cucu, darah daging sendiri, ya?
“Ibu Lieeess!” Nona Magang berteriak nyaring.
“Yaaa!”  sahutku setengah loncat memburu loket.
“Huuh, kok dia duluan sih? Perasaan datangnya kita dulu!” Bu Gelang melempar cibiran sinisnya ke arahku.
“Mesin ketik nih, Bu?” cetus Non Magang ketus. Sudah tahu kok nanya, gumamku dalam hati.”Hmm, sudah nggak kelihatan lagi mereknya. Butut amat nih mesin ketik…” Gupraaak, si Denok diguprak-guprak kasar.
Ada yang menonjok ulu hatiku bersamaan hawa panas membakar wajah. Teringat akan segala jasa dan pengorbanan si Denok selama lebih dua puluh tahun, aahh! Kalau tak ingat desakan bungsuku, sepatunya yang mangap itu, rasanya ingin saja loncat masuk. Lalu kuambil, kupangku dan kupeluk si Denok dibawa pulang. Menyimpannya kembali di tempat pensiunnya yang nyaman.
“Masih bisa dipake nggak sih nih…?” cetusnya semakin ketus.
“Coba saja, Mbak, pakai dulu,” tukasku menahan jengkel.
Seorang temannya, pria, menyodorkan selembar kertas. Kemudian tanpa bicara memasukkan kertas ke si Denok. Terektek, teek, toook…!
“Bisa kan, Mbak?” kataku puas melihat wajah Nona Magang seperti kecewa. Seorang petugas resmi bergabung dan mengangguk santun ke arahku.
“Mau berapa, Bu?” tanya lelaki tigapuluhan itu ramah.
“Eeeh, entahlah… berapa bisanya, ya Pak?” balikku menahan jengah.
Aduuuh, serasa ikut melecehkan si Denok saja!
“Empatpuluh lima, mau?”
“Appaa…” aku terpelongoh.
“Ya, sudah, dibulatkan saja. Limapuluh ribu!” Aku masih terpelongoh. Denoook, ikhlaskan, ya, ikhlaskan.
Gantian Nona Magang lagi yang bilang, “Nih…  sana ngantrinya!”
Masya Allah, apa tak ada yang mengajarinya sopan santun? Sorot matanya yang begitu sinis, melecehkan. Seolah ingin bilang; “Kasihaaan deh kamu, he, gembeell…!”
Melihat gamis usang, jilbab lusuh ‘kali, ya?
Agak lama juga mengantri di depan loket penerimaan uang. Pikiranku mendadak suntuk, hati serasa hampa dan tubuhku bak mengawang. Omongan dari kiri-kanan seliweran dan menguap begitu saja. Perut mulai terasa menagih isi. Sejak malam baru diisi makanan pembuka shaum alakadarnya. Tak sampai hati ikut mengambil jatah untuk anak-anak. Takut mereka masih kelaparan.
Akhirnya tiba juga giliranku, tapi kepalaku mulai keleyengan.
 “Bu Lies… limapuluh ribu, ya!” kata petugas wanita, yang ini ramah dan murah senyum.”Ada limaratusan, Bu, buat biaya perawatannya.”
“Ngng, ya, ini ada!” cepat kusodorkan kepadanya limaratusan logam satu-satunya yang kumiliki.”Terima kasih, Mbak,” kataku sambil memasukkan selembar limapuluh ribuan ke saku gamisku.
“Menggadaikan apa sih kok cuma segitu?” Bu Gelang nyeletuk.
Gegas aku keluar dari antrian. Kepala makin keleyengan, pandangan mata pun berkunang-kunang. Perut malah mulai mual, tak nyaman sekali. Baiklah, sebentar nanti harus kuisi juga, mungkin sepotong pisang goreng dan secangkir teh manis di warung seberang.
Langkahku baru akan lepas dari pintu gerbang pegadaian, ketika tiba-tiba serombongan petugas berloncatan dari mobil polisi. Mereka segera merubungi sedan bagus yang terparkir di pekarangan. Bukankah itu milik Bu Korban Banjir? Sosoknya tak kelihatan lagi. Seorang wanita cantik dan lelaki muda, mungkin suami-istri, segera memeriksa sedan bagus itu.
“Betul, ini dia mobilnya, Pak! Ooh, sudah diderek ke sini rupanya…”
Nggak tahu malu si Ining itu, ya! Pake ngaku-ngaku pemilik sedan…”
“Ke mana sekarang orangnya? Yaah, cepat cari, tangkap dia, Paak!”
“Pssst, sudahlah, Bu. Yang penting barangnya masih selamat…”
Perlahan kuminum teh manis dari cangkir. Terasa cairan hangat manis melewati kerongkongan. Ya Rabb, alhamdulillah, nikmat-Mu ini. (Depok, Rajab, 1423 Hijriyah)

@@@

Posted in: | Selasa, 30 Juni 2015


Bada shalat subuh di sepenggal pagi Ahad bulan Rajab.
Langkah sudah kuayun dari rumah kecil di rumpun bambu kampung Cikumpa. Harus mencari sarapan untuk orang serumah. Tak ada uang sepeser pun di tangan. Biarlah, nekad saja menebalkan muka cari pinjaman kepada Farah. Salah satu sohib terbaik yang pernah kumiliki dalam dua tahun terakhir.
Di pengajian, beberapa kali dia pernah bilang;”Kalau ada apa-apa, jangan sungkan ke rumahku, ya Teh Ais…”
            Oke, sekaranglah saatnya yang tepat, pikirku sambil gegas menembus kegelapan kebun bambu, menyibak sekumpulan kuburan kuno yang tak terawat, menyeberang lapangan milik proyek perumahan real-estate Mutiara.
Dulu pernah dikabarkan, pemilik real-estate yang masih kroni Cendana itu akan membebaskan tanah-tanah di sekitarnya. Begitu krismon, rencana pengembangan rumah mewah pun mandeg. Jadilah sebagian tanah yang sempat dibebaskan telantar begitu saja.
Anak-anak kampung Cikumpa yang diuntungkan. Lapangannya mereka manfaatkan untuk main bola, dangdutan, pesta tujuhbelas, layar tancap bahkan baku hantam antar warga.
Sempat juga terlintas di kepalaku, seandainya mereka mau membeli tigaratus meter persegi beserta rumah mungil di atasnya. Hmm, tentu masih ada lebihnya untuk pergi ke Tanah Suci, selain beli rumah baru nun lebih masuk ke pinggiran kawasan Cileungsi.
            Kuperbaiki letak jilbab kaos lebar yang tersambar begitu saja dari kapstok. Baru kusadari gamis yang kukenakan masih yang kemarin, dan alas kakiku hanya sepasang sandal jepit murahan, tanpa kaos kaki.
Allah… Ada kesah yang hampir menyesak dalam dada. Ujian-Mu kali ini, Ya Robb. Memang hanya masalah belitan keuangan yang tambal sulam. Bukan ujian sakit sebagaimana biasanya yang mendera keseharianku. Namun, terasa cukup merepotkan juga. Selalu kumohonkan dalam tiap sujudku, agar ini taklah menjadikan diriku kufur nikmat.
Sudah enam bulan berlalu, hidup serasa sendirian, tanpa pengayom yang biasa mencukupi nafkah. Rasanya pontang-panting, sibuk menulis, mengedit, menawarkannya ke redaksi-redaksi majalah dan penerbitan. Tentu saja bukannya tak membuahkan hasil. Bahkan kurasakan betul dalam segala keterbatasan ini, pintu rezeki-Nya selalu terbuka bagiku.
Ternyata kalau dikalkulasikan antara pendapatan dengan pengeluaran sungguh tidak seimbang. Kebutuhan belanja sehari-hari, ongkos sekolah anak-anak, uang les si Butet, uang kuliah kakaknya. Belum untuk biaya berobat rutin, meskipun keharusan ditransfusiku coba ditunda-tunda sedemikian rupa.
Sedang kocar-kacir urusan keuangan begitu, muncul pula himbauan dari kampung. Berkata adik bungsuku, Masruroh; “Teh Ais, kumohon jangan diam saja dong. Inii soal biaya pengobatan Emak kita…” Terdengar ngilu di telepon.
Siapa bilang tak mau merawat ibunya gering? Kalau mampu kepingin saja menerbangkan Emak tercinta ke Medical Central di Singapura. Sreseeet, sreeet tuh jantung Emak dioperasi by-pass. Biar tak kumat-kumat lagi selamanya, ya?
Tapi, apalah daya? Jangankan untuk perawatan semewah itu, buat ikutan gotong royong mengobatinya di RS. Dustira saja pakupek, euy!1
Kepala mendadak serasa nyut-nyutan. Kenapa mesti dibebankan semuanya di atas bahu-bahu ini, ya? Mending kalau wanita karir, punya penghasilan tetap. Ini kan cuma penulis free-lance.
Berapalah penghasilan seorang penulis di Indonesia? Buktinya puluhan tahun sudah malang melintang di dunia kangouw, eeeh, kepenulisan begitu. Kok nggak kaya-kaya, ya? Jangankan beli mobil, lha wong sepeda ontel saja, henteu gaduh2, Neng!
Kok nggak punya perhitungan!” sulungku tak urung menggugat ayahnya.
“Iya tuh gimana sih si Papa?” adiknya nimbrung. Tampang ABG-nya ditekuk, melas.
“Demi bikin rumah kontrakan, harus mengorbankan kebutuhan sehari-hari?” kata si Abang lagi.
“Iya, makanan kita jadi morat-marit,” tukas adiknya terdengar sengak.
“Begini urusannya sih, bisa-bisa pas kontrakannya rampung kita semua keburu busung lapaaarrr!” omel mahasiswa semester tiga itu makin merepet, dan menimbulkan kebat-kebit di hatiku.
"Iya, ya, hiksss…” Butet seketika mengisak. "Masa makanan kita ini cuma supermi lagi, kerupuk lagi, kecap lagi…”
“Mana nasinya beras taskin lagi, ya Tet?” abangnya terus mengompori.
“Eh, bener juga. Mamaaa! Nasinya kok banyak batunya nih… hueekk!”
“Iiiih, melarat, sengsaranya kok dibikin sendiri sih? Demi masa depan, demi masa depan… Gimana mo raih masa depan kalo hari ini nggak diberesin?”
Ugh, mentang-mentang mantan ketua MPK di SMU-nya tuh anak!
Apa yang punya lakonnya marah digugat begitu? Iiih, mesem-mesem kalem saja tuh. Paling buru-buru menyingkir. Menutup diri di kamarnya. Bukannya mikir, ya?
Aku sendiri lebih suka bungkam, duduk di belakang mesin ketik butut si Denok. Muter mereka-reka cerita apa yang bisa menghasilkan duit kali ini. Hanya kalau dibawa lapar, digendangi lagu keroncong perut, kok rasanya mendadak kosong nih otak. Segala ilham, ide dan apapun namanya itu, phuuussss!
Terbang bersama awan digondol si jurig3 lapar.
Semalam Butet senggukan tapi tidur juga akhirnya. Lelah, lapar dan sedih. Dia nggak kebagian nasi barang sekepal pun. Aneh memang yang jadi bapaknya itu. Segitu lauknya cuma sayur daun singkong boleh metik dari kebun orang, kerupuk dan kecap.
Hiiih, kayaknya nikmat aja tuh. Sampe lupa anak bini, asal kenyang sendiri ‘kali, ya?
Kalau sudah begitu, apa yang bisa kulakukan selain tersungkur di atas sejadah usang. Menumpahkan segala sesak di dada, memohon kemurahan-Nya. Agar Dia selalu memberi kami kekuatan, tak jemu membukakan pintu-pintu rezeki-Nya.
            Tiba di jalan raya tekadku kian bulat. Ya, semoga saja Farah mau diajak deal. Deueu, tibang  niat gadaikan naskah novel juga. Kuraba saku gamis, disket novelnya masih aman di situ. Celingak-celinguk sebentar, masih senyap dan lengang selain satu-dua angkot. Langkahku terus memintas jalan raya, gapai pintu gerbang perumahan Griya Mutiara.
Ups… ternyata di kawasan perumahan mewah suasananya telah hangat. Denyut kehidupan sudah terasa sejak ambang gerbang griya. Para pedagang sayur mirip pasar kaget. Dirubungi para pembeli.
            Seketika ada yang meremas perih dalam dada. Sudah hampir dua bulan aku tak mampu lagi belanja secara normal. Begitu saja, beli makanan alakadarnya di warung dekat rumah. Seperti supermi, kecap, krupuk dan sekali-sekali telur yang terpaksa mesti kucecah-cecah, biar awet.
Langkah lebih kupercepat, supaya jangan kelamaan memperhatikan orang yang sibuk belanja. Tiba di seberang lapangan tenis, eh, masha Allah! Di sini pun sudah banyak orang. Mulai dari bocah ingusan, anak baru gede, gadis, bujang sampai nenek-nenek dan kakek-kakek. Macam-macam kostum yang mereka kenakan. Oh, senam bugar rupanya!
Musik pocho-pocho digembreng habis. Bisa bikin kotoran kuping berloncatan. Euleuh-euleuh, itu orang kontan deh sibuk geal-geol berpocho-ria.
Mari malenggang patah-patah. Mari malenggang patah-patah…
            Beberapa jenak aku malah berdiri tertegun-tegun di seberang lapangan tenis. Sedetik terbersit di otakku, betapa menyenangkan jadi orang kaya. Begitu melek langsung disambut sukacita, dilumuri musik hingar-bingar. Tak perlu memikirkan kebutuhan sehari-hari. Mau makan tinggal makan, mau belanja tinggal belanja. Buru-buru bibirku mengucap istigfar. Tapi kepala ini kok rasanya makin berdenyara-denyar.
Sampailah di depan rumah Farah. Sebuah rumah megah, tiang-tiang gaya Spanyol dengan balkon indah, kolam hias. Dan air terjun buatan yang memperdengarkan bunyi gemericik  nan merdu. Airnya tentu hasil bendungan pihak pengembang. Dulu sebelum ada griya-griya di sekitar Cikumpa, air sungai di belakang rumahku mengalir deras. Sulungku suka berkecipak-kecibung bersama teman kecilnya. Aku pun kadang mencuci baju di situ bila musim kemarau menyusutkan air pompa di rumah.
Kini tidak ada sungai mengalir lagi. Karena Haji Tobe, tuan tanah di kampung Cikumpa, memutuskan melepas seluruh sawah dan kebunnya ke pihak pengembang. Mereka membelokkan arus sungainya, lalu memanfaatkannya demi keindahan kawasan real-estate.
Perlahan tanganku terulur dan memijit bel di pinggir pintu gerbang.
"Assalamualaikuuuum…"  bunyinya bernuansa Islami.
            Farah seorang muslimah diberkahi banyak prestasi, komisaris sebuah penerbitan Islam di Jakarta. Begitu banyak aktivitasnya, pendidikannya S3, lulusan mancanegara. Dalam usia belum tigapuluh itu, entah berapa banyak penghargaan yang pernah diraihnya dalam bidang kepenulisan. Suaminya keturunan Pakistan yang saleh, sukses dalam bidang entertainment.
            Farah prototipe muslimah sukses masa kini. Dia juga bendahara sebuah parpol, tak perlu disebutkan namanya. Nanti dituding kampanye. Seorang gadis muda muncul dari samping. Mungkin salah seorang pengasuh anaknya, kalau dilihat dari bajunya yang mirip perawat. Dia menyambut ramah dan santun begitu kuperkenalkan diri.
            "Oh, Ibu Aisha dari Cikumpa itu, ya? Bu Farah suka cerita Bu Aisha, lho. Ibu kan pengarang terkenal itu, ya? Wah, subhanallah!” pendar kagum membias dari sepasang bening matanya.
            "Ah, Bu Farah mah suka menyanjung,” kataku tersipu. Iya lagi, siapa coba yang suka dibilang terkenal? Kalau kenyataannya begini sengsaranya. Bahkan datang ke situ pun untuk minta bantuan nyonya rumah.
"Saya ini pengagum Bu Aisha, lho…"
"Begitu, ya, terima kasih atuh,” rasanya semakin jengah. Kutahu di rumah ini ada tiga anak kecil. Menurut Farah, masing-masing ada pengasuhnya. Sekilas kulihat ada pula Mang Kebon asyik menyirami taman. Tentu ada sopirnya untuk tiga mobilnya. Mungkin ada juga Bu Cuci, Bu Masaknya? Jadi, di rumah saja pegawainya ada sembilan orang, begitu?
Ups, kok jadi ceriwis ngitungin keberuntungan orang nih?
"Apa tadi Bu Aisha nggak ketemu Ibu di depan sana? Ibu kan lagi ikutan senam jantung sama Bapak…"
“Pasangan semuda itu?”
“Cuma menyemangati warga aja kok, Bu.”
            "Oh, kira-kira kapan pulangnya, ya Mbak?”
            "Biasanya sih langsung bawa anak-anak renang di Pesona. Yaah, sekitar pukul tujuhanlah. Gimana, apa mau tunggu di sini?” Aku lebih memilih pamitan saja. Masa sih mesti nungguin selama dua jam?
Anak-anak nanti keburu ngeh ibu mereka raib dari sudut ruang kerjanya. Meskipun hari libur, perut tetap nggak bisa dikompromi kan?  Lapar berbaur dengan cemas, ibu raib entah ke mana. Kalau ada ibu ‘kali aja perut, tetap kelaperan, ya?
Kutitipkan saja disket novel dan pesan singkat. Agak siang aku akan balik ke situ.
Baru saja keluar dari rumah Farah, berpikir ke mana lagi langkah ini dituju untuk cari pinjaman. Sekonyong-konyong dari seberang ada yang berseru-seru, melambaikan tangan ke arahku. Penasaran langkah kutujukan ke arahnya. Seorang perempuan sebaya Emak menyambutku hangat.
            "Salah masuk, ya Mpok? Sini rumah yang iniii!" katanya dalam nada sukacita.
            “Eee…” aku gamang. Tapi keramahan, sukacita dan penerimaan yang tak kusangka membuang gamangku. Apalagi tanganku sudah berada dalam gandengannya, separuh diseret dia menghelaku masuk.
            Sebuah rumah yang tak kalah megahnya dari rumah sohibku.
            "Sudah ditunggu-tunggu dari tadi… Mbak Mila pesen, biar langsung kerja aja hari ini. Nggak apa-apa kerja harian juga, ya Mpok. Enakan juga gitu. Lihat deh di belakang, udah numpuk banget tuh cuciannya. Bibi Cuci yang dulu, nggak bilang-bilang berhentinya. Jadi aja kita di sini kerepotan…"
            Entah apalagi yang dicelotehkannya. Intinya yang kurekam di otakku. Putrinya semata wayang berakhir pekan ke Anyer bersama suami dan anak-anak. Sudah tiga hari Bibi Cuci berhenti mendadak. Meskipun banyak omong, tapi dia lebih mirip orang yang terdesak curah hati.
Di bagian belakang rumah, tiga jolang besar cucian sudah menantiku.
            “Nah, tolong, ya Mpok, tolooong…” katanya melas.”Nanti saya bikinkan kopi susu yang enak buat Mpok, ya,” bujuknya pula sebelum berlalu.
            Hmm, baiklah, apa susahnya, jadi Bibi Cuci dadakan. Sekejap ingat akan cucian di rumah. Kalau libur begini, biasanya dikerjakan oleh Butet. Syukurlah, di sini pakai mesin cuci berikut pengeringnya. Tak sampai satu jam aku sudah berhasil merampungkan tugas unik ini.
            Seumur hidup rasanya baru kali inilah ada orang mengiraku tukang cuci. Hmm, nikmat-Mu jua. Nggak apa-apa, kan selain penulis pangkatku juga sejibun; tukang cuci, tukang masak, tukang pijit, tukang macam-macamlah di rumah!
 “Waaah, cepet amat kerjanya,” majikan dadakanku dalam nada puas.
“Saya akan menjemurnya di atas, ya Bu.”
“Ya, ya, terus saja ke atas sana,” dia mempersilakanku mengangkut cucian ke loteng, suatu tempat khusus buat menjemur.
Sepanjang aku bekerja, sang majikan itu hampir tak pernah jauh dariku. Terus menguntit dan mengajakku ngobrol. Lebih tepatnya dia sendirian yang celoteh. Benar, dia memang butuh teman untuk menampung segala uneg-uneg hatinya. Rasa iba menyingkirkan gamang di hatiku. Kasihan, sudah sepuh kok ditinggalkan seorang diri di rumah semegah dan seluas begini. Dengan segala urusan tetek bengeknya pula.
            Terbawa suasana hati iba dan kasih kepada Bu Sepuh, puyeng di kepalaku perlahan sirna saat turun dari loteng. Bu Sepuh sudah menyiapkan sarapan yang dibilang “jamuan khusus” untukku.
            Secangkir kopi enak campur krimer dan sepotong bakeri lezat, sekejap sudah pindah ke perutku yang sejak kemarin dibawa shaum Rajab.
“Nah, ini ada duapuluh ribu, ya Mpok,” katanya ketika akan melepas kepergianku di teras.
“Eh, ya, terima kasih,” aku terkesiap.
“Sudah ditambah sama saya. Besok-besok jangan nyasar lagi, ya Mpok. Langsung ke sini aja!" katanya sambil menyelipkan upah ke telapak tanganku.
“Ya, insya Allah,” gumamku datar.
Entah bagaimana suasana hatiku saat ini. Ada haru, ada sendu, ada juga pilu. Semua berbaur membentuk keasingan dalam sepenggal pagiku.
Begitu keluar dari pintu gerbang, sejenak membetulkan jilbab kaosku yang terasa lembab dan basah. Suara yang tak asing lagi berseru-seru dari rumah Farah. Nah, itu dia sohibku tersayang!
            “Teteh Aisha! Teteeeh… Masha Allah, kok nunggu di situ sih?”
            Khawatir menimbulkan heboh dan dipergoki Bu Sepuh, aku buru-buru menyeberang ke arah wanita cantik itu. Ups, selamat dan mujur sang majikan itu nggak kelihatan lagi batang hidungnya.
            “Ngapain aja di rumah Mbak Mila, Teh Ais?” tanya Farah menyelidik.
            "Eh, tahu tuh kok disuruh nyuci gitu aja,” sahutku ketawa lugas.
            "Masha Allah, si Mbah Nia itu kok…” Farah berseru kaget.
            “Psst, biarlah, dikasih upah kok. Lihat nih apa!”
Sekalian saja kuimingkan selembar duapuluh ribuan baru di depan hidungnya. Farah tertawa haru sambil merangkulku masuk ke rumah. Katanya, Bu Sepuh sudah sering melakukan salah kaprah begitu. Barangkali memang sengaja melakukannya. Saking kepingin punya teman curah hati. Lagipula orang kaya kan suka nyentrik kelakuannya, ya?
            Tanpa harus kuungkap kesulitanku pun Farah sudah memaklumi kemunculanku yang mendadak di rumahnya. Ia menyodorkan sebuah amplop tebal yang kelihatannya sudah disiapkan untukku.
            “Ini lho, Teh Ais, de-pe novel Kidung Kembara tempohari. Sudah siap naik cetak tuh. Biar saya tambahkan saja sekalian untuk de-pe novel baru ini, ya Teh Ais… Saya sudah lama lho tunggu Teh Ais muncul di kantor. Kok nggak pernah telepon?”
            “Yaah, teleponnya juga sudah lama diblokir.”    .
            “Afwan, ya, saya belum tausyiah ke rumah Teteh…”
"Saya yang minta maaf, jam segini sudah merepotkan.”
“Jangan begitu, kan sudah sering saya bilang. Rumah ini welcome untuk Teteh. Sok atuh dihitung dulu, eh, mana minumannya, Mbaaak…”
            Aku buru-buru bangkit. ”Alhamdulillah, sudah terima kasih, Dinda Farah. Nggak usah bikin minuman segala. Baru dijamu oleh majikanku tadi, hehe…”
Namun, Farah memaksaku untuk diantarkan oleh sopir dengan sedannya.
Ya Robb, terima kasih, bibirku terus menerus berkerumut mengucap puji syukur. Allah tak pernah meninggalkan hamba-Nya yang daif ini. Tanpa terasa ada butir-butir bening berderai dari sudut-sudut mataku.
            Tepat pukul delapan aku sudah kembali ke rumah dengan banyak bawaan. Kulihat dari lapangan sosok putriku baru selesai menjemur cucian. Dia segera berlari menyongsongku begitu kupanggil namanya.
“Abaaang, Abaaang! Mama pulang niiih!” serunya heboh.
Diambilnya sebagian kantong bawaanku dengan wajah sumringah. Sebentar kemudian dia berlari ke belakang, mengambilkan minuman untukku. Beuh, segitu sibuknya nih anak.
            "Ini teh hangatnya. Tapi belum diberi gula. Mama bawa gulanya, ya? Sok atuh, Butet gulain dulu, ya,” katanya agak terengah-engah, tapi pendar sukacita di bening matanya bisa kurasakan.
            “Abaaang! Mama bawa bakeri kesukaan kita nih, Baaang!” kembali dia berteriak manakala belum ada reaksi dari kakaknya. Tentu saja sulungku lagi berkutat menyelesaikan program komputernya. Dia kerja bareng teman-temannya di teknik informatika. .
            “Mama dari mana saja sepagian begini?” tanyanya sambil menatapku dengan sorot cemas.
            “Iya, Mama kok nggak bilang-bilang mau pergi. Butet udah bersih-bersih, cuci piring, cuci baju,” adiknya terdengar menahan haru. Tali batin ibu-anak memang akan selalu saling mengait.
            “Nggak jauh-jauh kok, ke rumah Mbak Farah,” kuusap jilbabnya yang miring kanan kiri itu.
            “Jadi menggadaikan novel Mama yang baru itu, ya? Nggak malu, Ma?”
            “Pssst, Baaang!” Butet mendelik. “Sudahlah, sekarang yang penting kita bisa makan besar, siiippp!”
“Huuu… dasar anak kecil!” sembur kakaknya, menjawil pipinya.
            Tanpa banyak bicara lagi, kutatap sepasang mutiaraku yang sedang menikmati bakeri. Makanan semewah begini merupakan barang langka di sini. Sekilas kulihat kamar depan, terkunci rapat dari dalam. Apa belum muncul sejak subuh?
Seperti bisa menebak arah pikiranku, Butet tiba-tiba berteriak nyaring.
            "Papaaa mau makanan nggaaak?"
            “Pssst… Sama orang tua kok gitu!” tegurku.
            “Abiiis, nggak pedulian amat sih,” gumamnya lirih.
            Sedetik kemudian kepala itu muncul dari celah pintu. Detik berikutnya langkahnya yang panjang mendekat. Begitu matanya melihat banyak penganan, sekilas kulihat mimik wajahnya segera ditekuk. Meskipun tangannya mulai menyentuh bakeri, sepasang matanya yang tajam mengarah kepadaku.
            “Kamu ambil juga uang saya di bawah tumpukan baju itu, ya? Tahu nggak, itu kan buat            bayar tukang sore nanti. Asalnya tiga juta, tadi kuhitung sudah kurang seratus ribu. Kamu ini kok…”
            Semburan kata demi kata yang menikam tajam itu bagai mengguncang bom simpanan di hatiku. Kepala yang sempat ringan seketika mendadak berat kembali. Sebelum segalanya menjadi berantakan, kuraih cepat benteng cahaya itu. Melalui dua pasang segara nan teduh yang senantiasa menjanjikan kasih tak terbatas, kekuatan tak terhingga. Selamanya. Anak-anakku. (Depok, Rajab 1423 Hijriyah)

@@@





1 sibuk sekali, oi!
2 tak punya
3 hantu
Posted in: |