Latest Stories

Subscription

You can subscribe to pipietsenja.net by e-mail address to receive news and updates directly in your inbox. Simply enter your e-mail below and click Sign Up!

TOP 5 Most Popular Post

Other Post

Other Post



            Keluar dari kamar mandi berbasah-basah, setelah mencuci dua jolang besar, mataku langsung mengedar ke ruang tengah. Celingak-celinguk, iih, serasa maling kesiangan aja nih.
 Orang serumah sudah pergi semuanya. Kedua buah hati ketika aku sibuk membilas tadi, menyeling dulu untuk mereka cium tangan dengan takzim. Sulungku sambil mengeluh, minta tambahan uang saku. Karena ada praktikum sampai sore, nanti kelaparan, katanya. Harus fotokopi buku kuliah, banyak juga bisa seratus ribuan.
“Insya Allah, nanti Mama usahakan, sabar dulu, ya Nak,” kataku hanya bisa menjanjikan.
Eh, bungsuku seperti tak mau kalah. Ikut mengeluh soal sepatu olah raganya yang sudah mangap. Nasibnya sama dengan abangnya, hanya bisa dengar janji dari mulutku. Hmm, janji yang entah kapan bisa terpenuhi.
Dan suami, dia sulit diketahui sudah pergi atau belum dari rumah. Kalau sempat dan dipergoki, dia mengucap salam. Tapi kalau kebetulan aku sibuk di dapur, pergi begitu saja.
Jadi ingat cerita di sinetron-sinetron Indonesia. Suami-istri begitu mesra, harmonis apalagi saat akan berpisah. Istri yang sudah berias fancy, bahkan sampai pakai gaun indah atau kebaya macam mau pergi kondangan saja. Sang istri yang berbahagia itu akan mengantarkan suami sampai teras, membawakan tasnya. Kemudian, celepeet, celepeeet… kecup pipi kiri kanan.
Dasar, cerita di sinetron, sering banyak bunga mimpi daripada realitanya. Tapi aku percaya kok, masih ada juga pasangan normal yang harmonis. Meskipun tak terlalu berlebihan macam di sinetron. Ada saja, tapi inilah takdir yang harus kuusung, iya kan Sang Sutradara?
Hening, kulepas jilbab yang sudah lepek, usai sudah menjemur pakaian. Kulirik jam di dinding di ruang tamu. Pukul tujuh lewat dikit, gumamku. Beberapa jenak kuamati jam dinding yang telah berumur lebih 20 tahun itu. Kado pernikahan dari seorang sohib, kuingat lagi itu. Mereknya mahal, terbukti awet dan masih mengkilat karena suka kurawat baik-baik.
Baiklah, bagaimana kalau jam dinding ini saja, ya? Kira-kira berapa harganya kalau digadaikan? Ah, tapi ini bisa bikin heboh orang serumah!
Lesu kutinggalkan ruang tengah. Mungkin shalat dhuha dulu, biar otak tak terlalu suntuk. Semoga Allah membukakan pintu rezeki-Nya untuk kami, pikirku sambil masuk ke kamar.
Desakan kebutuhan sehari-hari rasanya semakin mburudul. Belakangan terutama untuk biaya kuliah sulungku dan beli buku-bukunya yang setebal-tebal dua-tiga kali Al-Quran itu. Bahkan bungsuku yang kelas dua SMP, harus beli buku per paket yang harganya ratusan ribu. Anehnya sistem kurikulum pendidikan di Indonesia. Ganti Menteri, ganti kebijaksanaan, ganti sistem. Intinya bagi orang tua tetap saja sami mawon; biaya pendidikan kian melangit!
Sulungku semester lima, ongkosnya per hari sepuluh ribu, maklum dikejar dari Depok ke Bogor. Kadang pukul lima subuh sudah berangkat, megejar kereta pertama karena kuliahnya dimulai pukul tujuh. Dengan abodemen tiket KRL, sepuluh ribu itu sering membuatnya kelaparan.
“Makananku kayak Abang Becak lho, Ma,” katanya ketawa kecil. ”Nasi ditambah kuah sayur dan sepotong tempe. Seribu tuh!”  Sering hatiku miris, tak tega makan lebih dulu sebelum mereka pulang, dan kupandangi wajah keduanya yang baru sabililah.
Dan belanja sehari-hari yang meskipun lauknya alakadarnya, tetap saja lebih dari limabelas ribu karena harus beli beras juga. Yang parah kalau sudah saatnya ditransfusi, ya Allah! Gaji pegawai negeri golongan tiga, ditambah honorariumku sebagai penulis. Ah, tetap saja hidup morat-marit. Ampuni aku, ya Robb, bukannya tak menerima situasi hanya…
Sudah seminggu tak sepeser pun uang di tanganku. Belanja sehari-hari terpaksa menebalkan muka, utang ke warung Bude Nik. Mujurlah, aku memiliki tetangga tukang warung yang baik hati begitu. Nanti begitu sudah ada uang cepat kulunasi. Yap, siapa lagi yang kepingin punya utang? Terpaksa karena butuh, meskipun muka entah harus disembunyikan di mana…
Usai shalat dhuha pikiran agak terang. Setidaknya sudah ada ide. Sambil melipat mukena, mataku langsung mencari-cari si Denok. Nah, ini dia. Kuangkat mesin ketik portable merek Brother dari tempat istirahatnya di sudut kamar. Sekarang aku sudah mengetik dengan komputer pentium dua. Uang bea-siswa sulungku itu bukannya dipakai keperluan kuliah, malah dibelikan komputer bekas. Saking ingin meringankan beban ibunya ‘kali, ya?
“Duuuh, sayangku, Denok,” gumamku sambil membersihkan penutupnya yang penuh debu. Mesinnya masih mulus, tapi ada beberapa huruf yang tak jelas. Huruf a mirip o, dan d kadang mirip g juga. Semuanya suka bikin salah kaprah. Misalnya kata ‘sayang’ tampak seperti ‘soyong’. Ingin kutulis ‘garing’ kok malah mirip ‘darino”. Setidaknya dipahami begitu oleh Bung Daktur, hehe…
Akhirnya ada banyak redaksi yang sempat komplain, gara-gara tulisanku kurang dipahami. Kaciaaan deh… daku!
“Mohon keikhlasanmu, Denok. Kamu akan dititipkan dulu di pegadaian!”

Kutinggalkan rumah sambil menjinjing si Denok dan menggendong sekarung koran bekas. Mampir dulu di warung Bude Nik. Korannya lebih dari limabelas kilo. Aku hanya minta dua ribu saja, sisanya buat sambelan, sayur asem, ditambah ikan teri nasi. Belanjaannya nanti saja diambil kalau pulang.
Matur nuwun, nggih, Bude…”
“Oh, iya, nggih Bu Lies, sama-sama,” sahut wanita Solo itu santun sekali.
Tiba di kantor pegadaian tampak sudah banyak orang. Barang-arang yang akan digadaikan pun sudah bertumpuk di depan pintu. Masih terkunci rapat dari dalam, terlambat dibuka agaknya.
Sekilas kuperhatikan barang-barang yang antri itu. Mulai dari barang elektonik seperti televisi, video, magicjar, mixer, blender sampai sepeda motor. Nah lihat, sudah mburudul lagi yang baru datang. Ada yang menggendong buntalan sampai terbungkuk-bungkuk. Mungkin isinya kain-kain, seprai entahlah.
Bahkan seorang lagi sambil menderek sedan!
“Kebanjiran! Daripada rusak terendam banjir mending diderek ke sini, gadaikan sajalah!” kata wanita muda, terengah-engah. Pakaiannya jauh dari bagus. Hanya daster murah, sendal jepit dan syal kembang-kembang mengikat rambutnya yang pendek kriting.
Tanpa ada yang meminta, dia langsung saja celoteh pengalamannya terendam banjir di perumahan Griya Lembah. Kejadian terparah tiga hari yang lalu. Pukul dua dinihari tiba-tiba saja air bah menyerbu. Anaknya yang lima orang sudah diungsikan ke rumah famili di Bogor. Sampai hari itu mereka belum berkumpul kembali.
“Huuh… baru sekarang mengalami banjir besar model begini!” katanya mengakhiri keluh-kesahnya sambil njemprak di teras begitu saja.
“Banjir kiriman dari Bogor!” ada yang nyeletuk dari belakangku.
“Ini kan gara-gara masyarakat kita juga yang malas bersih-bersih, tak peduli lingkungan. Banyak yang membangun di bantaran sungai, bikin rumah hunian liar. Tentu saja semua itu menghalangi arus air!”
“Rakyat yang kebanjiran, para petinggi negeri sibuk saling menyalahkan. Kata Gubernur, jangan salahkan pihaknya. Karena merasa sudah cukup mengingatkan warga. Agar selalu memelihara kebersihan dan melestarikan lingkungan…”
“Alaaah! Mereka cuma banyak omong, bikin seminar ini-itu soal banjir. Rakyat mah nggak peduli macam-macam. Bantuannya saja, bantuannya man-naaa?” Mahasiswa ‘kali, lihat tampangnya yang dinamis begitu.
“Pemerintah juga seenak udelnya saja memberi izin proyek perumahan real-estate. Membetoni lahan kosong…”
“Pasti ada suapnya tuh!”
“Ironisnya, musibah rakyat kok diseminarkan di hotel-hotel berbintang!”
Rasanya makin banyak saja yang beri komentar, bahkan mengompori.  Suasananya jadi hangat. Perlahan kuhampiri  Bu Korban Banjir, wajahnya pucat mungkin belum minum sejak malam. Ada rasa iba di hatiku. Lucu, ya, kok mengasihani orang yang mau gadaikan sedan bagus, rumahnya di real-estate.
Welas asih nggak bisa diusir-usir biar di hati orang sengsara juga, ya kan?                       
“Minum dulu, Bu,” bekal minuman di botol aqua kusodorkan kepadanya.
“Ooh, ya, makasih, Bu,” sambarnya, nah kan? Dia memang kehausan.
“Sudah dapat bantuan dari Pemkot, Bu?” Dikembalikannya setengah botol aqua itu kepadaku.”Huuh! Boro-boro ada bantuanlah, Bu!” keluhnya dilemparkan lagi ke udara di sekitar kami.
Ia juga mengaku kebingungan. Seorang pembantunya sejak dua hari lalu tak pulang-pulang. Mana familinya dari Sukabumi sudah menyusul, katanya. Sementara itu tampak di belakang pintu kaca seorang petugas membukakan pintu masuk. Orang-orang serentak bangkit dan merangsek maju.
Begitu pintu terbuka, mereka semakin merangsek, saling desak, saling dorong. Termasuk aku yang terbawa arus masuk, doyong ke kiri doyong ke kanan.
“Aduuuh, biyuung! Pake nginjek lagi! Entaran ngapa, ini nenek-neneek!” Jeritan itu tepat di belakang punggungku. Nenek-nenek yang menggendong buntalan gede itu rupanya.
Gue juga tahu nenek-nenek! Whee, siapa lagi yang bilang ABG!”
Ups, siapa lagi yang berkomentar. Iseng amat, ya?
Orang-orang, termasuk aku lantas sibuk menyambar formulir. Ada yang mencolek pinggangku, kulirik ke belakang, eits! Nenek lagi!
“Maaf, Neng, ambilin terus tolong isiin, yee. Nenek mah apan buta huruf,” pintanya lugu.
Aku mengiyakan. Dalam hati muji dengan keluguan dan kejujurannya, mengakui kelemahannya. Di kampungku, kutahu banyak ibu-ibu sebayaku yang memiliki kasus serupa. Tapi mereka akan berkilah dengan gaya, lagi sakit mata, ketinggalan kacamata, hurufnya terlalu kecil, kalau kebetulan harus mengisi formulir dari PKK. Sungguh sulit untuk berjujur-ria rupanya, ya?
Usai mengisi formulir sekalian milik Nenek, kami mencari tempat duduk. Jadi ingat Indung di Cimahi. Umurnya sebaya perempuan lansia di sebelahku ini.
Indung, tentu saja nggak perlu keluyuran ke pegadaian segala. Pensiunan peninggalan Abah lebih dari cukup, kalau untuk kebutuhan sehari-hari. Tujuh anak selain aku yang empot-empotan, lainnya selalu mengiriminya wesel. Memenuhi keperluan Indung. Panjang umur, ya Ndung, gumamku membatin.
Sambil menunggu dipanggil oleh juru penaksir barang, kupasang kuping dan mata sekaligus. Kebiasaan atau naluri penulis ‘kali, ya? Kucoba terus merekam nuansa sekitarku. Orang yang hendak menggadaikan barang semakin banyak. Formulir permintaan menggunung di depan petugas.
Nah, dimasukkan dulu datanya ke komputer, barulah keluar dari printer kuno yang bunyinya; gruuueek, gruuueeek… 
Kayak  suara orang asma kebanjiran ‘kali, ya?
Petugas penaksir barangnya kenapa cuma seorang, ya? Lagian rasanya banyak tingkah tuh nona-nona magang. Kerdip-kerdip centil segala, melayani godaan ceriwis lelaki hidung belang. Ah, kasihan ibunya di rumah!
“Nenek mah punya tanggungan lima orang cucu. Ibunya lagi pergi ke Saudi, jadi TKW. Dulu sih suka dikirim tiga bulan sekali. Tapi belakangan anak Nenek itu nggak mau ngirimin uang lagi. Mau disimpan di Bank saja, katanya. Ini gara-garanya si Boneng, mantu Nenek yang nggak tanggung jawab itu. Duitnya  dihabisin mulu sama dia …“
Carita klasik keluarga TKW Indonesia. Ibu nekad ke negeri orang, banting tulang untuk menafakahi keluarga. Eee, suaminya malah kawin lagi.
“Tapi kan suami diwenangkan oleh agama juga, kalau mau punya istri lebih dari satu. Bahkan empat boleh kok…”
“Boro-boro empat, huuh!” Nenek geram.”Ini punya satu juga disuruh jadi TKW . Artinya kan kagak mampu tuh si Boneng!”
“Dasar saja itu mah lakinya… aseeem!”
Lha, kok makin banyak saja provokatornya?
“Apa anak Nenek sudah tahu?” tanyaku.
“Ya, tahu, makanya duitnya ditahan saja di Bank. Biar bakal modal kalo pulang nanti, katanya,” sahutnya sambil menyusut keringat di dahinya dengan ujung kerudungnya.”Nenek butuh duit bakal nambahin modal jualan getuk lindri. Abiiis, duitnya dipinjemin bocah mulu dah, ah…”
Terbayang nenek kurus dan bungkuk ini keliling kampung, menjajakan getuk lindri bikinannya. Sudah setua begini, masih juga harus menanggung nafkah para cucu. Berbahagialah hidup ibuku, gumamku mensyukuri.
Bagaimanakah jadinya kelak diriku bila seumur Nenek ini, ya? Seketika ada yang membeku di kisi-kisi kalbuku. Kuhembuskan napas, berharap pesimisme berubah menjadi sebaliknya.
“Apalagi saya, terpaksa gadai gelang buat nebus cucu di klinik bersalin,” berkata seorang wanita paro baya di belakangku. Aku menghadap ke arahnya. Cerita baru apalagi nih?
“Menantu saya itu ganteng banget kayak bintang sinetron, cuma lontang-lantung. Dari awal sudah dibilangin anak saya itu, jangan cuma lihat tampang, jangaaan! Dasar aja anaknya bengal. Demi cinta, demi ganteng saja ngomongnya. Buktinya sekarang apa, coba? Orang tua saja ketempuhan. Makan tuh cinta, makan tuh tampaaang!” ceracaunya gemas sekali dan sarat benci.
Mataku sekilas melirik ke dua pergelangan tangannya, wuiih, sampai berkeroncong begitu bunyinya. Belum kalung berlian, giwangnya bermata intan. Kok nggak ikhlas membela anak cucu, darah daging sendiri, ya?
“Ibu Lieeess!” Nona Magang berteriak nyaring.
“Yaaa!”  sahutku setengah loncat memburu loket.
“Huuh, kok dia duluan sih? Perasaan datangnya kita dulu!” Bu Gelang melempar cibiran sinisnya ke arahku.
“Mesin ketik nih, Bu?” cetus Non Magang ketus. Sudah tahu kok nanya, gumamku dalam hati.”Hmm, sudah nggak kelihatan lagi mereknya. Butut amat nih mesin ketik…” Gupraaak, si Denok diguprak-guprak kasar.
Ada yang menonjok ulu hatiku bersamaan hawa panas membakar wajah. Teringat akan segala jasa dan pengorbanan si Denok selama lebih dua puluh tahun, aahh! Kalau tak ingat desakan bungsuku, sepatunya yang mangap itu, rasanya ingin saja loncat masuk. Lalu kuambil, kupangku dan kupeluk si Denok dibawa pulang. Menyimpannya kembali di tempat pensiunnya yang nyaman.
“Masih bisa dipake nggak sih nih…?” cetusnya semakin ketus.
“Coba saja, Mbak, pakai dulu,” tukasku menahan jengkel.
Seorang temannya, pria, menyodorkan selembar kertas. Kemudian tanpa bicara memasukkan kertas ke si Denok. Terektek, teek, toook…!
“Bisa kan, Mbak?” kataku puas melihat wajah Nona Magang seperti kecewa. Seorang petugas resmi bergabung dan mengangguk santun ke arahku.
“Mau berapa, Bu?” tanya lelaki tigapuluhan itu ramah.
“Eeeh, entahlah… berapa bisanya, ya Pak?” balikku menahan jengah.
Aduuuh, serasa ikut melecehkan si Denok saja!
“Empatpuluh lima, mau?”
“Appaa…” aku terpelongoh.
“Ya, sudah, dibulatkan saja. Limapuluh ribu!” Aku masih terpelongoh. Denoook, ikhlaskan, ya, ikhlaskan.
Gantian Nona Magang lagi yang bilang, “Nih…  sana ngantrinya!”
Masya Allah, apa tak ada yang mengajarinya sopan santun? Sorot matanya yang begitu sinis, melecehkan. Seolah ingin bilang; “Kasihaaan deh kamu, he, gembeell…!”
Melihat gamis usang, jilbab lusuh ‘kali, ya?
Agak lama juga mengantri di depan loket penerimaan uang. Pikiranku mendadak suntuk, hati serasa hampa dan tubuhku bak mengawang. Omongan dari kiri-kanan seliweran dan menguap begitu saja. Perut mulai terasa menagih isi. Sejak malam baru diisi makanan pembuka shaum alakadarnya. Tak sampai hati ikut mengambil jatah untuk anak-anak. Takut mereka masih kelaparan.
Akhirnya tiba juga giliranku, tapi kepalaku mulai keleyengan.
 “Bu Lies… limapuluh ribu, ya!” kata petugas wanita, yang ini ramah dan murah senyum.”Ada limaratusan, Bu, buat biaya perawatannya.”
“Ngng, ya, ini ada!” cepat kusodorkan kepadanya limaratusan logam satu-satunya yang kumiliki.”Terima kasih, Mbak,” kataku sambil memasukkan selembar limapuluh ribuan ke saku gamisku.
“Menggadaikan apa sih kok cuma segitu?” Bu Gelang nyeletuk.
Gegas aku keluar dari antrian. Kepala makin keleyengan, pandangan mata pun berkunang-kunang. Perut malah mulai mual, tak nyaman sekali. Baiklah, sebentar nanti harus kuisi juga, mungkin sepotong pisang goreng dan secangkir teh manis di warung seberang.
Langkahku baru akan lepas dari pintu gerbang pegadaian, ketika tiba-tiba serombongan petugas berloncatan dari mobil polisi. Mereka segera merubungi sedan bagus yang terparkir di pekarangan. Bukankah itu milik Bu Korban Banjir? Sosoknya tak kelihatan lagi. Seorang wanita cantik dan lelaki muda, mungkin suami-istri, segera memeriksa sedan bagus itu.
“Betul, ini dia mobilnya, Pak! Ooh, sudah diderek ke sini rupanya…”
Nggak tahu malu si Ining itu, ya! Pake ngaku-ngaku pemilik sedan…”
“Ke mana sekarang orangnya? Yaah, cepat cari, tangkap dia, Paak!”
“Pssst, sudahlah, Bu. Yang penting barangnya masih selamat…”
Perlahan kuminum teh manis dari cangkir. Terasa cairan hangat manis melewati kerongkongan. Ya Rabb, alhamdulillah, nikmat-Mu ini. (Depok, Rajab, 1423 Hijriyah)

@@@

Posted in: | Selasa, 30 Juni 2015


Bada shalat subuh di sepenggal pagi Ahad bulan Rajab.
Langkah sudah kuayun dari rumah kecil di rumpun bambu kampung Cikumpa. Harus mencari sarapan untuk orang serumah. Tak ada uang sepeser pun di tangan. Biarlah, nekad saja menebalkan muka cari pinjaman kepada Farah. Salah satu sohib terbaik yang pernah kumiliki dalam dua tahun terakhir.
Di pengajian, beberapa kali dia pernah bilang;”Kalau ada apa-apa, jangan sungkan ke rumahku, ya Teh Ais…”
            Oke, sekaranglah saatnya yang tepat, pikirku sambil gegas menembus kegelapan kebun bambu, menyibak sekumpulan kuburan kuno yang tak terawat, menyeberang lapangan milik proyek perumahan real-estate Mutiara.
Dulu pernah dikabarkan, pemilik real-estate yang masih kroni Cendana itu akan membebaskan tanah-tanah di sekitarnya. Begitu krismon, rencana pengembangan rumah mewah pun mandeg. Jadilah sebagian tanah yang sempat dibebaskan telantar begitu saja.
Anak-anak kampung Cikumpa yang diuntungkan. Lapangannya mereka manfaatkan untuk main bola, dangdutan, pesta tujuhbelas, layar tancap bahkan baku hantam antar warga.
Sempat juga terlintas di kepalaku, seandainya mereka mau membeli tigaratus meter persegi beserta rumah mungil di atasnya. Hmm, tentu masih ada lebihnya untuk pergi ke Tanah Suci, selain beli rumah baru nun lebih masuk ke pinggiran kawasan Cileungsi.
            Kuperbaiki letak jilbab kaos lebar yang tersambar begitu saja dari kapstok. Baru kusadari gamis yang kukenakan masih yang kemarin, dan alas kakiku hanya sepasang sandal jepit murahan, tanpa kaos kaki.
Allah… Ada kesah yang hampir menyesak dalam dada. Ujian-Mu kali ini, Ya Robb. Memang hanya masalah belitan keuangan yang tambal sulam. Bukan ujian sakit sebagaimana biasanya yang mendera keseharianku. Namun, terasa cukup merepotkan juga. Selalu kumohonkan dalam tiap sujudku, agar ini taklah menjadikan diriku kufur nikmat.
Sudah enam bulan berlalu, hidup serasa sendirian, tanpa pengayom yang biasa mencukupi nafkah. Rasanya pontang-panting, sibuk menulis, mengedit, menawarkannya ke redaksi-redaksi majalah dan penerbitan. Tentu saja bukannya tak membuahkan hasil. Bahkan kurasakan betul dalam segala keterbatasan ini, pintu rezeki-Nya selalu terbuka bagiku.
Ternyata kalau dikalkulasikan antara pendapatan dengan pengeluaran sungguh tidak seimbang. Kebutuhan belanja sehari-hari, ongkos sekolah anak-anak, uang les si Butet, uang kuliah kakaknya. Belum untuk biaya berobat rutin, meskipun keharusan ditransfusiku coba ditunda-tunda sedemikian rupa.
Sedang kocar-kacir urusan keuangan begitu, muncul pula himbauan dari kampung. Berkata adik bungsuku, Masruroh; “Teh Ais, kumohon jangan diam saja dong. Inii soal biaya pengobatan Emak kita…” Terdengar ngilu di telepon.
Siapa bilang tak mau merawat ibunya gering? Kalau mampu kepingin saja menerbangkan Emak tercinta ke Medical Central di Singapura. Sreseeet, sreeet tuh jantung Emak dioperasi by-pass. Biar tak kumat-kumat lagi selamanya, ya?
Tapi, apalah daya? Jangankan untuk perawatan semewah itu, buat ikutan gotong royong mengobatinya di RS. Dustira saja pakupek, euy!1
Kepala mendadak serasa nyut-nyutan. Kenapa mesti dibebankan semuanya di atas bahu-bahu ini, ya? Mending kalau wanita karir, punya penghasilan tetap. Ini kan cuma penulis free-lance.
Berapalah penghasilan seorang penulis di Indonesia? Buktinya puluhan tahun sudah malang melintang di dunia kangouw, eeeh, kepenulisan begitu. Kok nggak kaya-kaya, ya? Jangankan beli mobil, lha wong sepeda ontel saja, henteu gaduh2, Neng!
Kok nggak punya perhitungan!” sulungku tak urung menggugat ayahnya.
“Iya tuh gimana sih si Papa?” adiknya nimbrung. Tampang ABG-nya ditekuk, melas.
“Demi bikin rumah kontrakan, harus mengorbankan kebutuhan sehari-hari?” kata si Abang lagi.
“Iya, makanan kita jadi morat-marit,” tukas adiknya terdengar sengak.
“Begini urusannya sih, bisa-bisa pas kontrakannya rampung kita semua keburu busung lapaaarrr!” omel mahasiswa semester tiga itu makin merepet, dan menimbulkan kebat-kebit di hatiku.
"Iya, ya, hiksss…” Butet seketika mengisak. "Masa makanan kita ini cuma supermi lagi, kerupuk lagi, kecap lagi…”
“Mana nasinya beras taskin lagi, ya Tet?” abangnya terus mengompori.
“Eh, bener juga. Mamaaa! Nasinya kok banyak batunya nih… hueekk!”
“Iiiih, melarat, sengsaranya kok dibikin sendiri sih? Demi masa depan, demi masa depan… Gimana mo raih masa depan kalo hari ini nggak diberesin?”
Ugh, mentang-mentang mantan ketua MPK di SMU-nya tuh anak!
Apa yang punya lakonnya marah digugat begitu? Iiih, mesem-mesem kalem saja tuh. Paling buru-buru menyingkir. Menutup diri di kamarnya. Bukannya mikir, ya?
Aku sendiri lebih suka bungkam, duduk di belakang mesin ketik butut si Denok. Muter mereka-reka cerita apa yang bisa menghasilkan duit kali ini. Hanya kalau dibawa lapar, digendangi lagu keroncong perut, kok rasanya mendadak kosong nih otak. Segala ilham, ide dan apapun namanya itu, phuuussss!
Terbang bersama awan digondol si jurig3 lapar.
Semalam Butet senggukan tapi tidur juga akhirnya. Lelah, lapar dan sedih. Dia nggak kebagian nasi barang sekepal pun. Aneh memang yang jadi bapaknya itu. Segitu lauknya cuma sayur daun singkong boleh metik dari kebun orang, kerupuk dan kecap.
Hiiih, kayaknya nikmat aja tuh. Sampe lupa anak bini, asal kenyang sendiri ‘kali, ya?
Kalau sudah begitu, apa yang bisa kulakukan selain tersungkur di atas sejadah usang. Menumpahkan segala sesak di dada, memohon kemurahan-Nya. Agar Dia selalu memberi kami kekuatan, tak jemu membukakan pintu-pintu rezeki-Nya.
            Tiba di jalan raya tekadku kian bulat. Ya, semoga saja Farah mau diajak deal. Deueu, tibang  niat gadaikan naskah novel juga. Kuraba saku gamis, disket novelnya masih aman di situ. Celingak-celinguk sebentar, masih senyap dan lengang selain satu-dua angkot. Langkahku terus memintas jalan raya, gapai pintu gerbang perumahan Griya Mutiara.
Ups… ternyata di kawasan perumahan mewah suasananya telah hangat. Denyut kehidupan sudah terasa sejak ambang gerbang griya. Para pedagang sayur mirip pasar kaget. Dirubungi para pembeli.
            Seketika ada yang meremas perih dalam dada. Sudah hampir dua bulan aku tak mampu lagi belanja secara normal. Begitu saja, beli makanan alakadarnya di warung dekat rumah. Seperti supermi, kecap, krupuk dan sekali-sekali telur yang terpaksa mesti kucecah-cecah, biar awet.
Langkah lebih kupercepat, supaya jangan kelamaan memperhatikan orang yang sibuk belanja. Tiba di seberang lapangan tenis, eh, masha Allah! Di sini pun sudah banyak orang. Mulai dari bocah ingusan, anak baru gede, gadis, bujang sampai nenek-nenek dan kakek-kakek. Macam-macam kostum yang mereka kenakan. Oh, senam bugar rupanya!
Musik pocho-pocho digembreng habis. Bisa bikin kotoran kuping berloncatan. Euleuh-euleuh, itu orang kontan deh sibuk geal-geol berpocho-ria.
Mari malenggang patah-patah. Mari malenggang patah-patah…
            Beberapa jenak aku malah berdiri tertegun-tegun di seberang lapangan tenis. Sedetik terbersit di otakku, betapa menyenangkan jadi orang kaya. Begitu melek langsung disambut sukacita, dilumuri musik hingar-bingar. Tak perlu memikirkan kebutuhan sehari-hari. Mau makan tinggal makan, mau belanja tinggal belanja. Buru-buru bibirku mengucap istigfar. Tapi kepala ini kok rasanya makin berdenyara-denyar.
Sampailah di depan rumah Farah. Sebuah rumah megah, tiang-tiang gaya Spanyol dengan balkon indah, kolam hias. Dan air terjun buatan yang memperdengarkan bunyi gemericik  nan merdu. Airnya tentu hasil bendungan pihak pengembang. Dulu sebelum ada griya-griya di sekitar Cikumpa, air sungai di belakang rumahku mengalir deras. Sulungku suka berkecipak-kecibung bersama teman kecilnya. Aku pun kadang mencuci baju di situ bila musim kemarau menyusutkan air pompa di rumah.
Kini tidak ada sungai mengalir lagi. Karena Haji Tobe, tuan tanah di kampung Cikumpa, memutuskan melepas seluruh sawah dan kebunnya ke pihak pengembang. Mereka membelokkan arus sungainya, lalu memanfaatkannya demi keindahan kawasan real-estate.
Perlahan tanganku terulur dan memijit bel di pinggir pintu gerbang.
"Assalamualaikuuuum…"  bunyinya bernuansa Islami.
            Farah seorang muslimah diberkahi banyak prestasi, komisaris sebuah penerbitan Islam di Jakarta. Begitu banyak aktivitasnya, pendidikannya S3, lulusan mancanegara. Dalam usia belum tigapuluh itu, entah berapa banyak penghargaan yang pernah diraihnya dalam bidang kepenulisan. Suaminya keturunan Pakistan yang saleh, sukses dalam bidang entertainment.
            Farah prototipe muslimah sukses masa kini. Dia juga bendahara sebuah parpol, tak perlu disebutkan namanya. Nanti dituding kampanye. Seorang gadis muda muncul dari samping. Mungkin salah seorang pengasuh anaknya, kalau dilihat dari bajunya yang mirip perawat. Dia menyambut ramah dan santun begitu kuperkenalkan diri.
            "Oh, Ibu Aisha dari Cikumpa itu, ya? Bu Farah suka cerita Bu Aisha, lho. Ibu kan pengarang terkenal itu, ya? Wah, subhanallah!” pendar kagum membias dari sepasang bening matanya.
            "Ah, Bu Farah mah suka menyanjung,” kataku tersipu. Iya lagi, siapa coba yang suka dibilang terkenal? Kalau kenyataannya begini sengsaranya. Bahkan datang ke situ pun untuk minta bantuan nyonya rumah.
"Saya ini pengagum Bu Aisha, lho…"
"Begitu, ya, terima kasih atuh,” rasanya semakin jengah. Kutahu di rumah ini ada tiga anak kecil. Menurut Farah, masing-masing ada pengasuhnya. Sekilas kulihat ada pula Mang Kebon asyik menyirami taman. Tentu ada sopirnya untuk tiga mobilnya. Mungkin ada juga Bu Cuci, Bu Masaknya? Jadi, di rumah saja pegawainya ada sembilan orang, begitu?
Ups, kok jadi ceriwis ngitungin keberuntungan orang nih?
"Apa tadi Bu Aisha nggak ketemu Ibu di depan sana? Ibu kan lagi ikutan senam jantung sama Bapak…"
“Pasangan semuda itu?”
“Cuma menyemangati warga aja kok, Bu.”
            "Oh, kira-kira kapan pulangnya, ya Mbak?”
            "Biasanya sih langsung bawa anak-anak renang di Pesona. Yaah, sekitar pukul tujuhanlah. Gimana, apa mau tunggu di sini?” Aku lebih memilih pamitan saja. Masa sih mesti nungguin selama dua jam?
Anak-anak nanti keburu ngeh ibu mereka raib dari sudut ruang kerjanya. Meskipun hari libur, perut tetap nggak bisa dikompromi kan?  Lapar berbaur dengan cemas, ibu raib entah ke mana. Kalau ada ibu ‘kali aja perut, tetap kelaperan, ya?
Kutitipkan saja disket novel dan pesan singkat. Agak siang aku akan balik ke situ.
Baru saja keluar dari rumah Farah, berpikir ke mana lagi langkah ini dituju untuk cari pinjaman. Sekonyong-konyong dari seberang ada yang berseru-seru, melambaikan tangan ke arahku. Penasaran langkah kutujukan ke arahnya. Seorang perempuan sebaya Emak menyambutku hangat.
            "Salah masuk, ya Mpok? Sini rumah yang iniii!" katanya dalam nada sukacita.
            “Eee…” aku gamang. Tapi keramahan, sukacita dan penerimaan yang tak kusangka membuang gamangku. Apalagi tanganku sudah berada dalam gandengannya, separuh diseret dia menghelaku masuk.
            Sebuah rumah yang tak kalah megahnya dari rumah sohibku.
            "Sudah ditunggu-tunggu dari tadi… Mbak Mila pesen, biar langsung kerja aja hari ini. Nggak apa-apa kerja harian juga, ya Mpok. Enakan juga gitu. Lihat deh di belakang, udah numpuk banget tuh cuciannya. Bibi Cuci yang dulu, nggak bilang-bilang berhentinya. Jadi aja kita di sini kerepotan…"
            Entah apalagi yang dicelotehkannya. Intinya yang kurekam di otakku. Putrinya semata wayang berakhir pekan ke Anyer bersama suami dan anak-anak. Sudah tiga hari Bibi Cuci berhenti mendadak. Meskipun banyak omong, tapi dia lebih mirip orang yang terdesak curah hati.
Di bagian belakang rumah, tiga jolang besar cucian sudah menantiku.
            “Nah, tolong, ya Mpok, tolooong…” katanya melas.”Nanti saya bikinkan kopi susu yang enak buat Mpok, ya,” bujuknya pula sebelum berlalu.
            Hmm, baiklah, apa susahnya, jadi Bibi Cuci dadakan. Sekejap ingat akan cucian di rumah. Kalau libur begini, biasanya dikerjakan oleh Butet. Syukurlah, di sini pakai mesin cuci berikut pengeringnya. Tak sampai satu jam aku sudah berhasil merampungkan tugas unik ini.
            Seumur hidup rasanya baru kali inilah ada orang mengiraku tukang cuci. Hmm, nikmat-Mu jua. Nggak apa-apa, kan selain penulis pangkatku juga sejibun; tukang cuci, tukang masak, tukang pijit, tukang macam-macamlah di rumah!
 “Waaah, cepet amat kerjanya,” majikan dadakanku dalam nada puas.
“Saya akan menjemurnya di atas, ya Bu.”
“Ya, ya, terus saja ke atas sana,” dia mempersilakanku mengangkut cucian ke loteng, suatu tempat khusus buat menjemur.
Sepanjang aku bekerja, sang majikan itu hampir tak pernah jauh dariku. Terus menguntit dan mengajakku ngobrol. Lebih tepatnya dia sendirian yang celoteh. Benar, dia memang butuh teman untuk menampung segala uneg-uneg hatinya. Rasa iba menyingkirkan gamang di hatiku. Kasihan, sudah sepuh kok ditinggalkan seorang diri di rumah semegah dan seluas begini. Dengan segala urusan tetek bengeknya pula.
            Terbawa suasana hati iba dan kasih kepada Bu Sepuh, puyeng di kepalaku perlahan sirna saat turun dari loteng. Bu Sepuh sudah menyiapkan sarapan yang dibilang “jamuan khusus” untukku.
            Secangkir kopi enak campur krimer dan sepotong bakeri lezat, sekejap sudah pindah ke perutku yang sejak kemarin dibawa shaum Rajab.
“Nah, ini ada duapuluh ribu, ya Mpok,” katanya ketika akan melepas kepergianku di teras.
“Eh, ya, terima kasih,” aku terkesiap.
“Sudah ditambah sama saya. Besok-besok jangan nyasar lagi, ya Mpok. Langsung ke sini aja!" katanya sambil menyelipkan upah ke telapak tanganku.
“Ya, insya Allah,” gumamku datar.
Entah bagaimana suasana hatiku saat ini. Ada haru, ada sendu, ada juga pilu. Semua berbaur membentuk keasingan dalam sepenggal pagiku.
Begitu keluar dari pintu gerbang, sejenak membetulkan jilbab kaosku yang terasa lembab dan basah. Suara yang tak asing lagi berseru-seru dari rumah Farah. Nah, itu dia sohibku tersayang!
            “Teteh Aisha! Teteeeh… Masha Allah, kok nunggu di situ sih?”
            Khawatir menimbulkan heboh dan dipergoki Bu Sepuh, aku buru-buru menyeberang ke arah wanita cantik itu. Ups, selamat dan mujur sang majikan itu nggak kelihatan lagi batang hidungnya.
            “Ngapain aja di rumah Mbak Mila, Teh Ais?” tanya Farah menyelidik.
            "Eh, tahu tuh kok disuruh nyuci gitu aja,” sahutku ketawa lugas.
            "Masha Allah, si Mbah Nia itu kok…” Farah berseru kaget.
            “Psst, biarlah, dikasih upah kok. Lihat nih apa!”
Sekalian saja kuimingkan selembar duapuluh ribuan baru di depan hidungnya. Farah tertawa haru sambil merangkulku masuk ke rumah. Katanya, Bu Sepuh sudah sering melakukan salah kaprah begitu. Barangkali memang sengaja melakukannya. Saking kepingin punya teman curah hati. Lagipula orang kaya kan suka nyentrik kelakuannya, ya?
            Tanpa harus kuungkap kesulitanku pun Farah sudah memaklumi kemunculanku yang mendadak di rumahnya. Ia menyodorkan sebuah amplop tebal yang kelihatannya sudah disiapkan untukku.
            “Ini lho, Teh Ais, de-pe novel Kidung Kembara tempohari. Sudah siap naik cetak tuh. Biar saya tambahkan saja sekalian untuk de-pe novel baru ini, ya Teh Ais… Saya sudah lama lho tunggu Teh Ais muncul di kantor. Kok nggak pernah telepon?”
            “Yaah, teleponnya juga sudah lama diblokir.”    .
            “Afwan, ya, saya belum tausyiah ke rumah Teteh…”
"Saya yang minta maaf, jam segini sudah merepotkan.”
“Jangan begitu, kan sudah sering saya bilang. Rumah ini welcome untuk Teteh. Sok atuh dihitung dulu, eh, mana minumannya, Mbaaak…”
            Aku buru-buru bangkit. ”Alhamdulillah, sudah terima kasih, Dinda Farah. Nggak usah bikin minuman segala. Baru dijamu oleh majikanku tadi, hehe…”
Namun, Farah memaksaku untuk diantarkan oleh sopir dengan sedannya.
Ya Robb, terima kasih, bibirku terus menerus berkerumut mengucap puji syukur. Allah tak pernah meninggalkan hamba-Nya yang daif ini. Tanpa terasa ada butir-butir bening berderai dari sudut-sudut mataku.
            Tepat pukul delapan aku sudah kembali ke rumah dengan banyak bawaan. Kulihat dari lapangan sosok putriku baru selesai menjemur cucian. Dia segera berlari menyongsongku begitu kupanggil namanya.
“Abaaang, Abaaang! Mama pulang niiih!” serunya heboh.
Diambilnya sebagian kantong bawaanku dengan wajah sumringah. Sebentar kemudian dia berlari ke belakang, mengambilkan minuman untukku. Beuh, segitu sibuknya nih anak.
            "Ini teh hangatnya. Tapi belum diberi gula. Mama bawa gulanya, ya? Sok atuh, Butet gulain dulu, ya,” katanya agak terengah-engah, tapi pendar sukacita di bening matanya bisa kurasakan.
            “Abaaang! Mama bawa bakeri kesukaan kita nih, Baaang!” kembali dia berteriak manakala belum ada reaksi dari kakaknya. Tentu saja sulungku lagi berkutat menyelesaikan program komputernya. Dia kerja bareng teman-temannya di teknik informatika. .
            “Mama dari mana saja sepagian begini?” tanyanya sambil menatapku dengan sorot cemas.
            “Iya, Mama kok nggak bilang-bilang mau pergi. Butet udah bersih-bersih, cuci piring, cuci baju,” adiknya terdengar menahan haru. Tali batin ibu-anak memang akan selalu saling mengait.
            “Nggak jauh-jauh kok, ke rumah Mbak Farah,” kuusap jilbabnya yang miring kanan kiri itu.
            “Jadi menggadaikan novel Mama yang baru itu, ya? Nggak malu, Ma?”
            “Pssst, Baaang!” Butet mendelik. “Sudahlah, sekarang yang penting kita bisa makan besar, siiippp!”
“Huuu… dasar anak kecil!” sembur kakaknya, menjawil pipinya.
            Tanpa banyak bicara lagi, kutatap sepasang mutiaraku yang sedang menikmati bakeri. Makanan semewah begini merupakan barang langka di sini. Sekilas kulihat kamar depan, terkunci rapat dari dalam. Apa belum muncul sejak subuh?
Seperti bisa menebak arah pikiranku, Butet tiba-tiba berteriak nyaring.
            "Papaaa mau makanan nggaaak?"
            “Pssst… Sama orang tua kok gitu!” tegurku.
            “Abiiis, nggak pedulian amat sih,” gumamnya lirih.
            Sedetik kemudian kepala itu muncul dari celah pintu. Detik berikutnya langkahnya yang panjang mendekat. Begitu matanya melihat banyak penganan, sekilas kulihat mimik wajahnya segera ditekuk. Meskipun tangannya mulai menyentuh bakeri, sepasang matanya yang tajam mengarah kepadaku.
            “Kamu ambil juga uang saya di bawah tumpukan baju itu, ya? Tahu nggak, itu kan buat            bayar tukang sore nanti. Asalnya tiga juta, tadi kuhitung sudah kurang seratus ribu. Kamu ini kok…”
            Semburan kata demi kata yang menikam tajam itu bagai mengguncang bom simpanan di hatiku. Kepala yang sempat ringan seketika mendadak berat kembali. Sebelum segalanya menjadi berantakan, kuraih cepat benteng cahaya itu. Melalui dua pasang segara nan teduh yang senantiasa menjanjikan kasih tak terbatas, kekuatan tak terhingga. Selamanya. Anak-anakku. (Depok, Rajab 1423 Hijriyah)

@@@





1 sibuk sekali, oi!
2 tak punya
3 hantu
Posted in: |

Pagi itu, Rasulullah dengan suara terbata-bata memberikan petuah: “Wahai umatku, kita semua ada dalam kekuasaan Allah dan Cinta Kasih-Nya. Maka taati dan bertakwalah hanya kepada-Nya. Kuwariskan dua hal pada kalian, Sunnah dan Al-Qur’an. Barang siapa yang mencintai Sunnahku berarti mencintai aku, dan kelak orang-orang yang mencintaiku, akan bersama-sama masuk surga bersama aku,".
Khutbah singkat itu diakhiri dengan pandangan mata Rasullah yang teduh menatap sahabatnya satu persatu. Abu Bakar menatap mata itu dengan berkaca-kaca. Umar dadanya naik turun menahan nafas dan tangisnya. Ustman menghela nafas panjang dan Ali menundukan kepalanya dalam-dalam.
Isyarat itu telah datang, saatnya sudah tiba “Rasulullah akan meninggalkan kita semua,” desah hati semua sahabat kala itu. Manusia tercinta itu, hampir usai menunaikan tugasnya di dunia.
Tanda-tanda itu semakin kuat, tatkala Ali dan Fadhal dengan sigap menangkap Rasulullah yang limbung saat turun dari mimbar. Saat itu, seluruh sahabat yang hadir di sana sepertinya tengah menahan detik-detik berlalu.
Matahari kian tinggi, tapi pintu rumah Rasulullah masih tertutup. Sedang di dalamnya, Rasulullah sedang terbaring lemah dengan keningnya yang berkeringat dan membasahi pelepah kurma yang menjadi alas tidurnya. Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seseorang yang berseru mengucapkan salam.
“Assalaamu’alaikum… Bolehkah saya masuk ?” tanyanya.
Tapi Fatimah tidak mengijinkannya masuk, “Maafkanlah, ayahku sedang demam,” kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu. Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya kepada Fatimah.
“Siapakah itu, wahai anakku?”
“Tak tahulah aku ayah, sepertinya baru sekali ini aku melihatnya,” tutur Fatimah lembut. Lalu Rasulullah menatap putrinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. Satu-satu bagian wajahnya ditatapnya seolah hendak dikenang.
“Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. dialah Malaikat Maut,” kata Rasulullah. Fatimah pun menahan tangisnya.
Malaikat Maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tak ikut menyertai. Kemudian dipanggillah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap di atas langit untuk menyambut ruh kekasih Allah dan Penghulu dunia ini. (kemudian diketahui Malaikat Jibril tidak sanggup melihat Rasulullah dicabut nyawanya)
“Jibril, jelaskan apa hakku nanti dihadapan Allah?”  Tanya Rasulullah dengan suara yang amat lemah.
“Pintu-pintu langit telah dibuka, para malaikat telah menanti Ruhmu, semua pintu Surga terbuka lebar menanti kedatanganmu” kata Jibril. Tapi itu semua ternyata tidak membuat Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan.
“Engkau tidak senang mendengar kabar ini, Ya Rasulullah?” tanya Jibril lagi.
“Kabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?”
“Jangan khawatir, wahai Rasulullah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: ‘Kuharamkan surga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada didalamnya’,” kata Jibril.
Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan Ruh Rasulullah ditarik. Tampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang.
“Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini,” ujar Rasulullah mengaduh lirih.
Fatimah terpejam, Ali yang di sampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril memalingkan muka.
“Jijikkah engkau melihatku, hingga kaupalingkan wajahmu, wahai Jibril?” tanya Rasulullah pada malaikat pengantar wahyu itu.
“Siapakah yang tega, melihat kekasih Allah direngut ajal,” kata Jibril.
Sebentar kemudian terdengar Rasulullah memekik karena sakit yang tak tertahankan lagi.
“Ya Allah, dahsyat nian maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan kepada umatku.”
Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tak bergerak lagi. Bibirnya bergetar seakan hendak membisikan sesuatu, Ali segera mendekatkan telinganya.
“Peliharalah shalat dan santuni orang-orang lemah diantaramu”
Di luar pintu, tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangan diwajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan.
“Ummatii. ummatii. ummatii.”
“Wahai jiwa yang tenang kembalilah kepada tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya, maka masuklah ke dalam jamaah hamba-hamba-Ku dan masuklah ke dalam jannah-Ku.”
‘Aisyah ra berkata: ”Maka jatuhlah tangan Rasulullah, dan kepala beliau menjadi berat di atas dadaku, dan sungguh aku telah tahu bahwa beliau telah wafat.”
Dia berkata: ”Aku tidak tahu apa yg harus aku lakukan, tidak ada yg kuperbuat selain keluar dari kamarku menuju masjid, yg disana ada para sahabat, dan kukatakan:
”Rasulullah telah wafat, Rasulullah telah wafat, Rasulullah telah wafat.”
Maka mengalirlah tangisan di dalam masjid. Ali bin Abi Thalib terduduk karena beratnya kabar tersebut, ‘Ustman bin Affan seperti anak kecil menggerakkan tangannya ke kiri dan kekanan.
Adapun Umar bin Khathab berkata: ”Jika ada seseorang yang mengatakan bahwa Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam telah meninggal, akan kupotong kepalanya dengan pedangku, beliau hanya pergi untuk menemui Rabb-Nya sebagaimana Musa pergi untuk menemui Rabb-Nya.”
Adapun orang yg paling tegar adalah Abu Bakar, dia masuk kepada Rasulullah, memeluk beliau dan berkata: ”Wahai sahabatku, wahai kekasihku, wahai bapakku.”
Kemudian dia mencium Rasulullah dan berkata: ”Anda mulia dalam hidup dan dalam keadaan mati.”
Keluarlah Abu Bakar ra menemui orang-orang dan berkata: ”Barangsiapa menyembah Muhammad, maka Muhammad sekarang telah wafat, dan barangsiapa yang menyembah Allah, maka sesungguhnya Allah kekal, hidup, dan tidak akan mati.”
‘Aisyah berkata: “Maka akupun keluar dan menangis, aku mencari tempat untuk menyendiri dan aku menangis sendiri.”
Inna lillahi wainna ilaihi raji’un, telah berpulang ke rahmat Allah manusia yang paling mulia, manusia yangg paling kita cintai pada waktu dhuha ketika memanas di hari Senin 12 Rabiul Awal 11 H tepat pada usia 63 tahun lebih 4 hari. Shalawat dan salam selalu tercurah untuk Nabi tercinta Rasulullah Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassalam.

Betapa cintanya Rasulullah kepada kita sebagai ummatnya, sehingga ajal pun sudah di ujung ubun-ubunnya masih tetap saja memikirkan nasib ummatnya. (Sumber : Misteri Dunia)
Posted in: | Selasa, 26 Mei 2015



Tahukah Anda apa maknanya Camat? Kepala Kecamatan, ya? Oh, kalau itu sih semua juga tahu. Tapi Camat yang saya maksudkan di sini adalah Calon Mayat. Ya, pada hakekatnya kita ini semuanya juga Calon Mayat, bukankah?

Beberapa kali dalam hidupku, terutama ketika berada di rumah sakit dan sedang sendirian, aku pernah disangka sebagai jenazah alias Camat tersebut.

Satu saat, kejadiannya di RSCM, awal 1990, aku sedang mengandung 7 bulan anak ke-4. Ya, jika ada dan terlahir dengan selamat, aku memang pernah mengandung sebanyak lima kali. Dua adiknya Haekal, artinya anak ke-2 dan ke-3  mengalami keguguran karena kondisiku sangat lemah.

Dua kali kehamilan itu baru  berusia 8 mingguan. Kemudian adiknya Butet, yakni anak ke-5 setelah usia 6 bulan pun mengalami keguguran. Ini akibat kecelakaan, perutku membentur jok mobil Kowanbisata yang dikebut ugal-ugalan.

"Eeh, ini masih hidup, yaaaak?" seru Profesor.

Setiap kali hamil, sebagai pasien kelainan darah bawaan, aku diharuskan ditransfusi secara berkala lebih sering dari biasanya. Hampir tiap pekan harus ditransfusi demi menjaga takaran darah pada kisaran 10.

Hari itu, setelah dicek darah di Poliklinik Haematologi, dinyatakan HB (takaran darah) hanya 6. Harus ditransfusi, tidak boleh menunggu lagi, terpaksa pilihannya hanya di UGD. Suasana UGD seperti biasa crowded, rusuh bukan main, apalagi saat itu masih disatukan antara pasien penyakit dadakan dengan pasien kecelakaan lalu-lintas.

Darah yang sebelumnya telah kupesan ke PMI Pusat di Kramat Raya, dijanjikan baru datang dalam enam jam kemudian. Jadi, karena tak punya sanak-saudara, kuupah seorang cleaning service untuk mengambilnya.

“Ibu tunggu di sini, ya, tenang saja, nanti saya ambilkan,” janji si abang cleaning service.
Aku mengangguk, tapi bagaimana mau tenang, coba? Di sekitarku semakin hiruk-pikuk saja. Ada banyak korban keracunan biskuit yang berdatangan dari pelosok Jakarta. Mulai dari suara muntah-muntah hebat, melolong-lolong kesakitan, sampai tindakan cuci perut yang mengeluarkan bau busuk ke pelosok ruangan.

Karena di ruang dalam sudah penuh, maka aku pun ditaruh di selasar alias lorongnya saja, di antara pasien lainnya yang belum tertangani. Brankar kami dideretkan, tepatnya diantrikan tepat di depan kamar-kamar yang telah penuh pasien gawat tersebut.

Di depanku brankar berisikan seorang tunawisma,  menurut suster sudah ada di situ sejak tiga hari yang lalu, dibawa oleh seorang polisi. Entah apa penyakitnya, dan entah bagaimana pula penanganannya, pokoknya begitu aku tiba di situ kusaksikan dengan mata kepalaku sendiri dia bersuara; cekleuk alias gameover!

Kucermati keadaan jenazah tunawisma, kubayangkan polisi menemukannya di pinggir jalan dan sudah dalam kondisi parah. Bisa ditebak, tidak akan pernah ada yang menanganinya karena tak ada keluarga yang siap menjamin. Jadi, ya, dibiarkan saja selain diberi infusan alakadarnya, sampai tiba waktunya dipanggil Sang Pencipta.

Lalat-lalat hijau agaknya sudah menyukainya sejak awal, tampak kian banyak berseliweran di sekitar mayat itu. Sebagian bahkan melayang-layang ke arahku, menclok sana-sini. Bingung dan kesal juga dikerumuni lalat hijau, jadi kurungkupkan mukena yang selalu kubawa ke mana pun aku pergi, menutupi sekujur tubuhku.
Ndilalah, malah langsung tidur pulas!

Ketika mendusin, aku merasa brankar bergerak alias dijalankan oleh orang, masak iya sih jalan sendiri kan? Jujur saja, otakku belum konek bin bête, jadi kubiarkan saja air mengalir (ciee!), istilahnya ngartis banget!

Kudengar ada yang bercakap-cakap sbb; “Ini kasihan amat, ya, lagi hamil gak ada suaminya, eh, malah meot!”
“Hmm, perasaan tadi siang masih kulihat dia ke kamar mandi, ambil wudu, katanya.”
“Ya, namanya juga umur, gak ada yang tahu….”

Kali ini otakku mulai konek, sepenuhnya sadar, mereka telah mengira aku mati agaknya. Serentak kukuakkan mukena yang menutup wajahku, dan berkata lantang: ”Woi, aku belum meot, tauuuk!”
Alih-alih menghentikan gerakannya, dua perawat laki-laki muda itu malah serentak balik kanan, dan ngacir!

Beberapa saat aku celingukan duduk di atas brankar, baru kusadari ternyata aku telah berada tak jauh dari kamar jenazah.  Untunglah tidak terlalu lama menanti, kedua perawat muda itu kembali berlarian menghampiriku. Keduanya berebut mengambil tanganku, berebut pula  menciuminya dengan takzim dan ketakutan. Mereka menyatakan perasaan bersalahnya di bawah tatapanku yang melongo saja, geli-geli bagaimanalah begitu. Hadoooh!

“Duh, maafkan, ya Bu, kami salah ambil rupanya….”
“Iya, seharusnya brankar satunya lagi….”
“Mohon jangan dikasih tahu siapapun, ya Bu, pliiiissss….”

@@@


Posted in: | Senin, 27 April 2015



Ilustrasi:Google



Dari 99 Kisah Hikmah : 

Malam  mulai larut, mie ayam dagangannya tinggal sedikit. Dilihatnya kios-kios di sekitar perumahan tempatnya mangkal, satu per satu telah ditutup. Tinggal kios warnet yang masih buka. Tampak beberapa anak muda asyik bermain game-online.

Setiap kali melihat anak-anak muda pikirannya jadi melayang kepada anak sulungnya. Fadli putra kebanggaannya yang selalu meraih prestasi hingga mendapat beasiswa belajar ke Yaman. Bagaimana kabarnya sekarang di tengah pergolakan politik di sana?
           
“Kami para mahasiswa masih aman-aman saja, Bah. Tapi kami sudah diintruksikan untuk bersiap dievakuasi,” demikian pesan singkat Fadli beberapa hari yang lalu. Sejak itu ia belum terhubung kembali dengan putranya.
            
Seketika Bah Dira menekur, menengadahkan kedua telapak tangan mendoakan putra sulungnya. Begitu khidmat dan khusuk ia mendoakannya, tanpa terasa air mata meleleh dari sudut-sudut matanya. Teringat saat Fadli pamitan, minta keikhlasannya. Agar ia tak terlalu mengharapkannya pulang dalam waktu dekat.

"Ikhlaskan anakmu berjihad di bumi para Nabi, ya Bah,” demikian salam perpisahan anaknya yang saleh.

Ia pun tak lupa mendoakan anak perempuannya si Fadliyah. Putrinya ini bertolak belakang dari kakaknya. Ia sering bolos sekolah hingga akhirnya dikeluarkan. Anak itu bertingkah tak lama setelah ibunya nekad kerja sebagai TKW di Hongkong. Bah Dira tidak berdaya, dirinya memang tak mampu menghidupi keluarganya sesuai tuntutan istrinya.

“He, bengong saja si tua ini! Kasih mie ayamnya sepuluh!” hardikan lantang membuyarkan seluruh lamunan Bah Dira. Seorang anak muda berteriak-teriak dari atas sadel motornya.

Dalam sekejap rombongan anak muda telah memarkir motor di depan kios mie ayam Bah Dira. Sekilas ia menghitung dengan sudut matanya ada 10 orang. Mereka berpasangan, lelaki dan perempuan. Geng motor anak baru gede, orang menyebut yang perempuan sebagai cabe-cabean.

Jantungnya seketika serasa digodam palu raksasa. Betapa tidak, salah satu anak baru gede yang baru turun dari sadel motor paling depan itu tak lain tak bukan adalah putrinya sendiri.

Ya Allah, Fadliyah!
"Eh, malah bengong nih si Tua?” sergah anak muda berbadan kerempeng dengan celana jins bolong-bolong, rambut  dicat warna-warni. Tahu-tahu anak itu sudah mencelat berada di depan gerobaknya.

“Tahu saja lihat si Lience keren....”
Sejak kapan ganti nama, sentak Bah Dira terkejut sekali, hanya dalam hati.
“Lience paling keren dan asli looooh!”
“Maklum baru keluar dari sarangnya....”
“Hooh! Ibarat kata fresh oven, hahaha!”

Suara-suara kurang ajar saling bersahutan membuat pasangan mereka cemberut, iri. Mana ada yang berani kepada Boyke, ketua geng yang baru berhasil menarik perawan tingting itu keluar rumahnya di gang kumuh.

Sambil meracik mie ayam Bah Dira sesekali mencuri pandang ke arah putrinya. Anak baru gede itu berlagak tidak mengenalnya sama sekali. Pakaiannya itu, ya Robb, dari mana dia mendapatkan baju aneh begitu? Celana jins belel jumbai-jumbai ala koboy, dipadu t-shirt dengan pusar terbuka, berbalut jaket kulit yang mengepas badannya.

Ya Malik, Ya Malik, Ya Malik!
Bah Dira mengumpulkan seluruh kekutan iman yang dimilikinya agar tidak terpancing emosi. Dengan sigap ia menyelesaikan pesanan, mengantarkannya ke meja anak-anak muda itu.

Ia tak merasa sakit hati jika putrinya tak memedulikan keberadaannya. Ia tak sanggup melihat penampilan putrinya. Satu hal yang dipegangnya detik ini adalah teguh zikrullah, digemakan tak putus-putusnya di dalam dadanya.

Ya Malik, Ya Malik, Ya Malik!
Bah Dira berhasil mengirimkan pesan singkat kepada sahabatnya Satpam perumahan. Beberapa saat sebelum geng motor yang telah sukses mengambil putrinya menghabiskan mie ayam, tiba-tiba satu regu keamanan menyerbu kiosnya.

Bah Dira menyaksikan bagaimana anak-anak geng motor itu mencoba melawan. Mereka berontak, menendang, memukul bahkan mengeluarkan senjata tajam. Namun sahabatnya dan kawan-kawan sudah terlatih. Dalam hitungan menit mereka berhasil meringkus anak-anak geng motor, menggiringnya ke Pos Satpam, menunggu jemputan polisi.

Malam semakin larut, tetapi Bah Dira masih bertahan di kiosnya. Ia telah berpasrah diri, ikhlas lilahi Taala dengan nasib putrinya, saat sahabatnya kembali ke kiosnya.

“Putrimu tidak terbukti bersalah, Bah. Silakan bawa pulang,” ujar Bah Dodi, menggandeng anak baru gede itu ke hadapan ayahnya.

“Maafkan aku, Bah, maafkan, ampuuuun,” lirih Fadhliyah bercucuran air mata.
Bah Dira memeluknya erat-erat. Tak ada kata-kata yang terucap dari bibirnya yang menggeletar saking terharu kecuali; alhamdulillah. Rasa bersyukur atas anugerah-Nya, telah mengembalikan putrinya ke pangkuannya.

Ilustrasi:Bah Dira sibuk menyajikan mie ayam kepada geng motor yang telah menggaet putrinya.
@@@


Posted in: | Selasa, 21 April 2015