Latest Stories

Subscription

You can subscribe to pipietsenja.net by e-mail address to receive news and updates directly in your inbox. Simply enter your e-mail below and click Sign Up!

TOP 5 Most Popular Post

Other Post

Other Post


 



November, 2014
Bertemu dengan Aminah Mustari setelah lama tak bersua. Ia cerita tentang seorang daiyah Tri Handayani. Ia pun menyodorkan beberapa lembar print-out agar segera bisa kubaca.
“Subhanallah! Pejuang kanker yang luar biasa tangguh,” komentarku saat membaca sekilas catatan medisnya.

“Maukah Teteh menuliskannya sebagai buku?” tanyanya tiba-tiba.
“Seperti apa?” balik aku bertanya.
“Seperti buku-buku karya Teteh yang berdasarkan kisah nyata.”
“Iya, ini maunya berupa apa? Memoar atau novel inspirasi?”

Aminah Mustari tertawa dan menatapku.”Ada saja si Teteh ini istilahnya. Coba jelaskan apa bedanya memoar dan novel inspirasi?”

Aku pun mesem dengan istilah yang kubuat ini. Lagipula, jika dinalar, aku ini apalah selain tukang menulis? Muslimah lembut dengan senyum manis yang sedang santap siang di depanku, selain editor handalan penerbit Nasional, penulis buku anak peraih Islamic Book Fair Award pun sarjana bahasa alumni Universitas Indonesia.

“Jangan begitulah, Teteh, kan sudah ratusan karyamu. Jadi maunya dibikin seperti apa berdasarkan catatannya ini?” burunya penasaran.
“Ya, pertama karena mbak Tri ini pasien sepertiku, itu Teteh tertarik,” ujarku mulai merasa senasib, seorang perempuan yang berjuang mempertahankan nyawa demi anak-anak.

Tri Handayani, demikian nama lengkapmya, awalnya seorang atlit karateka volly serta renang. Masa remaja yang tangguh, ceria, dan sangat didukung oleh keluarga. Terutama ayahnya yang disebutnya semacam Obor Kehidupan. Tak bisa dibayangkan, bagaimana hancur hatinya tatkala dokter memvonisnya; kanker Nasofaring. Sedang ayahnya belum lama dipanggil Sang Pencipta.

Aku ingin melakukan pendekatan secara pribadi, agar bisa menangkap ruhnya dari naskah yang akan kami garap ini. Namun, disebabkan jadwal kami, aku dan Tri agak susah dicari temu, akhirnya hanya sekali bisa temu muka langsung. Selanjutnya kami memanfaatkan Whats’App untuk berkomunikasi secara rutin.

Dari Cibubur menuju rumahnya di kawasan Kranji, Bekasi, lumayan jauh dan sempat nyasar, dua kali melewati jalan Banteng. Akhirnya kami minta dijemput di lahan proyek perumahan.

Sosok itu, ustadah yang memegang 14 majelis taklim ibu-ibu, dibonceng motor oleh keponakannya. Jilbabnya yang lebar berkibar-kibar manis, senyumnya mengembang ramah. Sekilas ia tak terkesan sebagai pasien yang pernah dinyatakan in-coma, menjalani operasi tujuh kali, ratusan kali penyinaran dan kemoterapi.

Sosok mantan atlit, pemegang sabuk hitam karate itu tersenyum ramah begitu mengenali keberadaanku. Kami berpelukan layaknya sahabat yang telah lama tidak jumpa.

Wawancara pun dilakukan di kediamannya di gang sempit di antara rumah yang berdempetan. Beberapa langkah dari rumahnya ada setelempap lahan, diakuinya sudut ini akan penuh dengan motor para karyawan, ibu-ibu yang mengaji rutin di bawah bimbingannya.

Suami yang baik hati, setia serta senantiasa menyemangati sedang tidak berada di rumah. Ia alumni Fakultas Hukum Universitas Islam Yogyakarta. “Aku memiliki suami yang mencintaiku tulus dan selalu mendukung dakwahku. Ke mana pun aku mengajar dia antar dengan motor. Menungguiku meski harus berjam-jam. Dia selalu memberi motivasi kepadaku, memberi masukan bagi setiap permasalahan dakwah yang aku hadapi,” papar Tri Handayani.

Mendengar langsung sebagian peristiwa yang telah dilakoninya, setelah membaca seluruh catatannya, ada sensasi berbeda yang kutangkap. Aku bisa merasakan bagaimana hari-hari yang penuh rasa sakit; penyinaran, kemoterapi, injeksi, opname berbulan-bulan, sampai operasi berkali-kali.

Aku pernah berada di posisi serupa, divonis dokter tak ada harapan hidup. Kemudian keajaiban itu datang; bisa hamil dan melahirkan dengan normal. Bedanya aku mengalaminya sejak kecil, pasien seumur hidup. Tidak bisa sekolah tinggi, secara formal sampai kelas dua SMA, ijazah yang kumiliki pun hanya setingkat SMP.

Lain halnya Tri Handayani, mulai sakit setelah kuliah hingga saat ini, meski tampak sehat terkadang kumat, sakit kepala hebat, mimisan dan muntah darah. Di tengah serbuan penyakit kanker itulah, Tri Handayani tetap sekolah hingga berhasil meraih ijazah S2.

Sungguh, inilah perempuan super tangguh!
Satu hal lagi yang mengikat kami berdua adalah visi dan misi; mencerdaskan ummat dengan syiar dakwah. Tri Handayani dengan syiar dakwah secara lisan. Aku sendiri dengan dakwah bil qolam.

Alhasil, klop!

“Apakah kisahku ini menarik untuk dibukukan, Teteh?” itulah pertanyaan yang memungkas percakapan kami.

Kujawab lugas.”Tentu saja, kisahmu sangat menginspirasi, Dek. Bukan saja untuk kaum kita perempuan, melainkan juga untuk ummat. Terutama bagi mereka yang sedang mengalami penyakit mematikan, bisa membuat terpuruk ke dalam keputusasaan. Membaca kisahmu akan menginspirasi, menyemangati dan mencerahkan mereka.”

“Pernah aku menyampaikan keinginan menulis buku kepada seorang dokter. Dia bilang, lantas apa bagusnya?”

“Aduh, itu kan menurut kacamata seorang dokter. Lah Wong setiap saat ada saja pasien parah dan mati di tangannya,” tukasku mendadak sewot dengan tanggapan si dokter. 

Bukannya didukung, seperti dokterku di masa remaja dulu, ini malah mematahkan semangat pasien. Aneh!

“Begitu, ya Teteh,” ujarnya kembali bersemangat.
“Percayalah, Dek, banyak manfaatnya jika kita rekam jejak. Lantas menyebarkannya kepada sesama pasien,” pungkasku menyemangatinya. Ia menganguk dan wajahnya semakin berseri dengan sepasang mata berbinar indah.

“Bisa berapa lama Teteh menggarapnya?” Aminah Mustari menanyaiku, saat kami pulang.
“Beri waktu sekitar enam pekan, ya Dek, insya Allah akan teteh tuntaskan.”

Hari demi hari aku menuliskannya, adakalanya aku harus tertegun lama dan merasakan kesedihan luar biasa. Perjuangan Tri Handayani dalam melawan kanker, menjalani oeprasi demi operasi dalam keterbatasan dana, subhanallah!

Sosok bapak yang menyemangati serta ibu yang senantiasa ada saat dibutuhkan, sungguh mengingatkanku kepada orang tuaku yang telah tiada.

Satu kali, dinihari setelah sholat tahajud, kembali aku duduk di depan laptop. Mendadak aku ingin sekali menangis, bab terakhir yang kugarap adalah bagian Tri bersama ibunya desak-desakan di kosan di antara para pasien kanker yang berguguran satu demi satu: Menyerah!

Aku pun pernah mengalami hal serupa, hanya tidak di kosan melainkan di sebuah rumah singgah di kawasan kumuh belakang RSCM. Tidak ada lagi emakku, tetapi didampingi seorang anak perempuan. Jadi kebalikan dari Tri, aku bisa mengandalkan anakku di kala keadaan darurat. Butet sampai tidak lulus satu mata kuliah demi menemaniku di rumah sakit, menjelang operasi pengangkatan kandung empedu dan limpa.

Aku menangis, tentu saja, mengingat dua kali menjelang melahirkan tim dokter mengajukan pilihan; aborsi atau kehilangan nyawa. Ya Allah, terima kasih, Engkau masih memberiku kekuatan untuk berjuang mempertahankan janinku. Sehingga memiliki dua anak yang bisa diandalkan dan dibanggakan.

Maka, aku pun menuliskannya terus sambil melanglang Negeri Jiran, memenuhi undangan anak-anak BMI Malaysia. Maklum, aku digelari sebagai emaknya kaum BMI. Mereka membutuhkan keberadaanku untuk meneror agar menjadi penulis, mengikuti jejakku, memperkuat barisan penulis Indonesia.

Akhirnya, inilah jadinya buku yang berdasar kisah nyata seorang ustazah, guru mengaji dari Kranji, Bekasi. Aku memilih bentuk sebuah novel inspirasi, karena jika memoar sebaiknya ditulis oleh penulisnya pribadi.

Tri Handayani memberikan catatan, aku mengembangkannya dengan dialog-dialog, beberapa tokoh fiktif dan penglataran agar terasa hidup. Namun, aku tidak mengubah esensi makna keseluruhan kisahnya. Semoga buku Mengejar Pelangi ini bermanfaat dan mencerahkan untuk ummat.

Salam Perjuangan

Pipiet Senja
Posted in: | Senin, 02 Maret 2015




Minggu, 29 September 2013
Diundang oleh panitia kampus UPSI Universitas Pendidikan Sultan Idris, bertempat di Tanjung Malim, Perak, saya diinapkan di asrama Internasional UPSI. Berawal dari kedekatan dengan anak-anak Forum Lingkar Pena Hadhramaut, Yaman, melalui aktivisnya Arul Chairullah. Tidak mengira aktivitas kepenulisan di Yaman ternyata sangat melaju kencang, membuahkan karya berjudul; Simfoni Balqis. Salah satu cerpen yang ada di buku antologi Simfoni Balqis ini adalah karya Arul Chairullah. 

Ini adalah kedatanganku ke sekian kalinya di Negeri Jiran, istilah anak-anakku;”Manini pusing-pusing Malaysia,” acapkali membuatku nyengir kuda bukan mesem-mesem. Sebab pusing-pusing yang bermakna keliling-keliling, terkadang malah menjadi pusing tujuh keliling sungguhan. Alamak!

Ada saja sesuatu yang menggiringku ke dalam posisi pusing ini. Mulai keberangkatan pagi sekali dari rumah putriku di Kota Wisata Cibubur, jalanan yang senantiasa superduper macet. Miskom alias kesalahpahaman dengan petugas Imigrasi Raja Di Raja Malaysia. Hingga berpacu dengan waktu saat hendak pulang, nyaris ketinggalan pesawat.
Baiklah, setelah menginap di kamarnya Lailan dan kawan-kawan, asli Aceh yang sedang menuntut ilmu meraih Master, tibalah hari H. Acaranya pukul dua di kampus lama UPSI. Anak-anak angkatku, Dewie DeAn dkk, TKI di kawasan Ipoh, sudah sejak pekan lalu kontak-kontakan. Mereka siap hadir!

Mengambil ruangan terbuka di lantai dua, acara dibuka dengan kumandang lagu Indonesia Raya, dilanjurkan mars kampus UPSI, sambutan PJ acara. Sesi pertama dipersilakan kedua penulis Simfoni Balqis, yakni; Arul Choirullah. Pembicara satu lagi adalah Ulka Chandini Pendit, kandidat PhD asli Bekasi.

Agaknya ini lebih patut disebut semacam talkshow, bukan bedah buku sebagaimana tertulis pada background di podium. Tidak ada pembedah, hanya dua pembicara sebagai wakil penulis buku Simfoni Balqis. Arul memaparkan seputar proses kreatif hingga terkumpul 100 naskah dari penjuru dunia, anggotanya kebanyakan PPI. Sedangkan Ulka menutur kerangka cerpennya yang mengambil nama tokoh si Kuat,

Saat giliranku, tidak panjang buang waktu karena memang hanya diberi tempo satu jam saja. Langsung saja sok narcis, sok gaya, menyaji video Berkelana Dengan Buku, seputar aktivitasku sebagai penulis, terutama bersama kaum Buruh Migran di beberapa negara tetangga; Malaysia, Singapura, Hong Kong, Macau dan Shenzhen.

Dilanjutkan dengan sesi dialog interaktif yang serempak disambut oleh Dewie DeAn bersama rombongan pengajian FOKMA. Mahfudz Tejani, koordinator PPI Universitas Terbuka Kuala Lumpur, membawa rombongannya. Salah satunya adalah si dermawan push-up, ketika acara lelang pengumpulan dana untuk Pipiet Senja, beberapa waktu yang lalu.

Seperti biasa aku membawa suasana menyebar virus menulis ini ditengarai dengan canda, akhirnya nuansanya mencair dan dipenuhi oleh gelak tawa. Maklum si Manini Pipiet Senja mah turunan Sule, komentar entah siapa malah menambah heboh suasananya.

Antusias dan semangat menuntut ilmu anak-anak TKI seakan mengalahkan kehadiran mahasiswa yang bisa dihitung dengan jari. Banyak yang masih berada di kampung halaman karena libur panjang. Buku-buku pun diborong oleh mereka.

Sesi terakhir giliran pensyarah Doktor Makmur Harun, dosen asli Jambi dengan gaya kebapakan, memaparkan perihal “adumanisnya” karya sastrawan Malaysia dengan sastrawan Indonesia.

Sebelum usai acara, terpaksa dengan rasa menyesal Dewie DeAn dkk minta pamit. Mereka harus kembali ke Ipoh dan melanjutkan perjuangan, bekerja shift malam di kilang atau pabrik.

Ada rasa haru-biru jauh di lubuk hati ini, tatkala mengantar kepergian para perempuan tangguh itu, hingga lenyap dari pandangan. Dalam keterbatasan waktu, mereka terus berjuang ingin menambah ilmu sebanyak-banyaknya. Berharap kelak dapat mengangkat harkat derajat mereka ke strata yang sejajar dengan kaum perempuan lain, setara dengan jebolan perguruan tinggi bergengsi manapun.


Minggu, 23 November 2014
Kali ini aku kembali ke Negeri Jiran dengan sponsor tiket dari Dompet Dhuafa sebagai Duta Wakaf. Untuk membuat acaranya semarak, aku minta bantuan Dewie DeAn dan Mahfudz Tejani. Agar mereka menggebah massa sekaligus mengurus tempatnya. Hanya dalam hitungan hari, promosi gencar melalui medsos, FB dan Twitter. Prestasi hebat untuk sosok TKI, tetapi mengingat mereka pun mahasiswa, maka wajar saja jika sepak terjang mereka terbilang tataran agresif. 
Semalam diinapkan di apartemen Shah Alam, punya majikan Aisy Laztatie si penulis buku Babu Backpacker. Bersama sebagian panitia, termasuk Dewie DeAn yang jauh-jauh dari Ipoh datang ke Kuala Lumpur demi sukses acara. Sungguh mengharukan sekaligus membanggakan melihat kekompakan TKI plus ini.
Dewie DeAn dan Mahfudz Tejani yang selalu siap koordinasi dengan teman-temannya. Agus Purwanto si ketua PPI UTKL sigap menjemput bersama Khoiril Anwar. Aisy Laztatie alias Dessy yang sigap menyetir mobil, mengantar kami ke mana-mana. Wow, luar biasa!
Mengambil tempat di Es Teller kawasan Pasar Seni, Kuala Lumpur, kali ini aku mengajak serta Abrar Rifai, novelis, pemimpin muda dan gaul sebuah pesantren di Malang. Kulihat sekilas lantai dua itu sudah penuh sesak oleh peserta dengan tema; Berzakat Melalui Goresan Pena. Acara berjalan santai, boleh sambil makan dan minum pesan dari lantai bawah.
Abrar Rifai mengawali, berbagi kiat menulis, menularkan semangat serta nikmatnya menjadi seorang penulis. Ia pun tak lupa mengingatkan untuk berbagi sedekah, zakat kepada Masjid Madina yang sedang dibangun oleh Dompet Dhuafa. Giliranku tampil langsung saja berbagi ilmu kepenulisan, tanpa basa-basi, tak perlu praktek lagi melainkan; menulislah sekarang juga!
Memang inilah tujuan utamanya, selain sebagai Duta Wakaf Dompet Dhuafa. Tak lain demi meneror peserta untuk menulis, kali ini harus menghasilkan karya, mumpung ada yang berkenan sponsor cetak bukunya. Ketika ditantang untuk menulis bersama dalam tempo sepekan, peserta spontan berseru kompak:”Siaaap, Manini!”
Pada kesempatan ini aku pun jumpa dengan sahabat maya Rita Audriyanti, penulis buku Haji Koboi. Kami berpelukan dan foto bersama. Sebuah kejutan menyenangkan setiap jumpa dengan sosok yang bisa akrab curhatan di dunia maya, lantas temu langsung di dunia nyata. Pokoknya, kata anak gaul sih; beud bingiiiits!
Malam kedua aku diantar ke condo kediaman Bapak Rachmat Widiyanto, Direktur Bank Mandiri cabang Kuala Lumpur. Menginap di tengah keluarga harmonis ini, Ibu Santi Rachmat, selalu ramah dan tulus menjamuku. Jadi terkenang saat kebersamaan di Hong Kong beberapa tahun silam. Saat Bapak Rachmat Widiyanto berdinas di Negeri Beton. 
Esoknya pagi sampai tengah hari aku ikut mengisi pengajian ibu-ibu. Di sini pun sungguh, hati ini mengharu biru dengan ketulusan ibu-ibu taklim. Begitu Ibu Santi Rachmat memperkenalkanku, sekilas menuturkan bagaimana kondisiku dan perjuangan si Manini ini dalam menyambung nyawa. Ibu-ibu spontan memborong buku novel yang aku bawa, laris manis, halas!
Ada Riry Bidadari Azzam, sahabat sejak Multiply yang telah berbelas tahun kenal di dunia maya, akhirnya jumpa di taklim ini. Subhanallah, semangat dan sangat menginpirasi saat dia memberi testimoni tentang sosok Pipiet Senja di matanya. Ini beud bingiiiiits kedua untukku agaknya. Sungguh, mengharukan nian, terima kasih, ya Riry solehat.
Maka, inilah buku Seronok Negeri Jiran yang telah aku sunting selama dua pekan. Membutuhkan waktu khusus dan kesabaran tersendiri. Sebab sambil menanti naskah masuk ke email, aku harus wara-wiri ke rumah sakit, seperti biasa menambal yang error, menyumpal yang bermasalah di badan ringkih ini.  
Dari puluhan naskah yang masuk, akhirnya 20 tulisan inilah yang berhasil diedit sekaligus menyuntingnya. Tidak semuanya TKI, ada dua WNI status mahasiswa; Muhammad Iqbal Almaududi dan Ulka Chandini Pendit. Dua penulis senior; Rita Audriyanti dan Bidadari Azzam. Seorang ibu rumah tangga, Aida Akhyar.
Ada sedikit yang diubah, judul dan beberapa bagian seperti narasi menjadi dialog komunikatif. Ini diperlukan demi menyajikan kisah inspirasi yang enak dibaca, dinikmati oleh masyarakat luas. Tidak ada perubahan secara esensi, makna dan missi tulisannya. Insha Allah. 
Semoga buku Seronok Negeri Jiran ini menambah semangat anak-anak TKI plus dari Malaysia untuk terus berkarya di bidang literasi. Agar kelak berlahiran para penulis mumpuni dari kalangan buruh migrant, semakin banyak, banyak dan lebih banyak lagi. 
Spesial terima kasih kepada sponsor Cargo Mandiri Sejahtera, Sdr. Wawan Syakir Darmawan yang sangat antusias mendukung penerbitan buku Seronok Negeri Jiran dan Babu Backpacker. Demikian pula kepada Telin Malaysia yang bekerja sama dengan Pipiet Senja Publishing. Semoga ikhtiar kita ini diberkahi Allah Swt.

Adapun Daftar Isi Seronok Negeri Jiran sbb:
i.Sekapur Sirih: H.Wawan Syakir Darmawan
ii.Prolog: Seronok Negeri Jiran – Pipiet Senja
1.Bukan Cita-Cita – Dewie DeAn
2.Bangga Menjadi TKI – Aghoes Arpansa
3.Kopitiam VS Kedai Mamal – Rita Audriyanti
4. Inilah Prestasi TKI – Afif Arohman
5.Datang Untuk Menang – Risa Alkharizmi
6.Sejujurnya Demi Ibu – Fie Riani
7.Hatiku Tertinggal di Penang – Resti Utami
8.Duduk Kat Kuala Lumpur – Bidadari Azzam
9.Bukan Sandiwara – Mahfudz Tejani
10.Melangkah Bersama Dakwah – Aida Akhyar
11.Senja di Stasiun Putra – Fahim Muhammad
12.Jangan Biarkan Sayap Patah – Marini
13.Cinta Terlarang – Tyas Maulita
14.Kisah Kasih di Malaysia – Marina
15.Demi Mewujudkan Mimpi – Miya Riswanto
16.Semarak Negeri Serumpun – Muhammad Iqbal Almaududi
17.Majikan Bule – Aya Jayita
18.Mutiara Dalam Pasir – Aisy Laztatie
19.Mengais Rezeki Menuai Dakwah – Nie Sha Alfarishah
20.Neraka dan Surga – Nasrikah Sarah
21.From Zero To Hero – Ulka Chandini Pendit
22.Melacak Jejak – Khoiril Anwar

Selamat, ya teman-teman WNI di Malaysia. 
Tahniah dan  Bravo, Seronok Negeri Jiran!
Salam Bahagia: Pipiet Senja




Posted in: | Rabu, 18 Februari 2015

Karya Santri Darul Ulum Banyuanyar Madura

Antologi karya santri putri Darul Ulum, Banyuanyar, Pamekasan-Madura, sebagai persembahan dari program Kelas Menulis bersama Pipiet Senja. Terdiri dari puisi-puisi ringkas, kisah inspirasi, cerita fiksi, resensi dan artikel. Disunting oleh Sang Mentor yang suka disebut Manini oleh para cucu Kyai, dengan bahasa komunikatif, bernas dan lugas. Sungguh layak dicermati dan dimiliki, kemudian diambil hikmah dan diikat maknanya. Selamat menikmati: Pesantren Idaman!



Kelas Menulis Pontren Putri
Telah beberapa kali singgah dan memberi pelatihan menulis di pondok pesantren Darul Ulum Banyuanyar, Pamekasan-Madura, kali ini diminta buka kelas menulis agak lama. Targetnya mencetak para penulis Islami langsung dari basisnya. Dengan senang hati saya menerima undangan Hj. Salma, pimpinan pondok pesantren putri Darul Ulum. Terhitung sejak 20 September-27 September 2014, kelas menulis bersama saya berlangsung.

Mengambil tempat di ruang perpustakaan, jadwalnya diambil tiga kali pertemuan pada awalnya; pagi bada subuh, sore bada ashar dan malam bada isya. Namun, melihat anak-anak banyak yang kelelahan dan mengantuk, boring, terutama saat bada isya akhirnya ditiadakan. Digeser dan waktunya ditambahkan satu jam ke kelas sore hari.

Materi yang saya berikan sudah disiapkan, spesial modul menulis yang pernah saya dan tim lakukan di beberapa tempat. Mulai dari motivasi mereka menjadi seorang penulis, mengatur waktu, menangkap ide dan mengeksplorasinya menjadi sebuah tulisan memikat, hingga berurusan dengan media, mencermati surat perjanjian, aktif menjual karya yang telah diterbitkan sebagai buku.

Absensi Bergeming
Hari pertama di ruang perpustakaan, tanpa bangku dan kursi alias santri duduk lesehan sementara saya di depan dengan bangku dan laptop serta perangkat LCD. Peserta  tercatat 52 santriwati setingkat Aliyah. Dua orang panitia, Mbak Uul dan Mbak Iil, demikian saya diperbolehkan memanggil nama kedua akhwat ini, siap dan cekatan sekali membantu jika diperlukan. Ditambah Mbak Ifa, putri KH. Muhammad Syamsul Arifin, pimpinan pesantren.

“Nanti juga akan terseleksi sendiri. Mana saja yang bisa bertahan dan siapa saja yang akan mundur. Tidak tahan dengan gaya saya, mungkin,” kataku berseloroh.
“Insha Allah, semoga tetap istiqomah, Teteh,” ujar Mbak Uul, terdengar penuh harap.

Hari kedua yang hadir berkurang 10, hari ketiga pun berkurang belasan, bahkan hari ketiga hatiku langcung menciut. Tinggal dua baris saja.
Artinya tidak lebih dari belasan peserta!

“Nah, lihat kan, Mbak Uul, Mbak Iil, apa kata Teteh waktu itu?” ujarku menahan perasaan tidak enak dalam hati.
“Tenang saja, Teteh. Hari ini kebetulan ada ulangan, mungkin anak-anak ingin fokus. Nanti sore mudah-mudahan mereka sudah bisa atur waktu,” kata Mbak Iil menenangkan.

Syukurlah, ternyata pernyataan Mbak Iil ini ada benarnya. Kelas menulis bersama saya sampai sesi terakhir, tetap dihadiri oleh peserta yang tak bergeser jauh dari hari pertama.

Serunya Lintas Alam Malam
Untuk menyemangati dan mengarahkan para santri putri dalam hal menemukan ide, menggalinya langsung dari orang atau lingkungan mereka, saya ajak mereka lintas alam. Waktunya diambil malam Jumat, karena esok hari mereka libur.

“Asyiiiik! Aku di depan, di depan, aaah!” seru Sarah, cucu Kyai, semangat sekali.
“Aku juga mau di depan,” kata Khadijah, sepupunya, tak mau kalah semangat.
“Aku di mana, Manini Teteh?” cetus Amatullah, putri Neng Salma.

Tiga cucu Kyai ini memang paling semangat dan kompak sekali. Biasanya mereka lebih dahulu menyerahkan tugas berupa tulisan; puisi, resensi, cerpen.

Malam Jumat itu terasa semarak, barisan kader penulis, para calon mujahid pena pontren putri berderap. Barisan bergerak menyusuri jalanan di seputra pondok pesantren. Tiba di lapangan terbuka di bawah cahaya lampu, saya meminta mereka berhenti.

“Silakan, anak-anak cantik dan solehah, tuliskan apa saja yang kalian lihat sepanjang jalan tadi,” pinta saya yang segera disambut mereka dengan semangat.
Baru beberapa menit mereka menulis tiba-tiba; preeeet!

“Yaaaa, mati lampunya!” seru para santri.
“Tidak apa, ayo kita geser ke sebelah sana,” ajak Mbak Iil dan Mbak Uul  segera memompakan semangat. Dalam sekejap barisan calon mujahid pena pun bergerak ke depan gedung Tsanawiyah.

Hening beberapa saat lamanya, semua konsentrasi menulis di buku harian masing-masing. Saya wajibkan mereka membawa catatan setiap kali mengikuti kelas menulis. Hingga saat ini pun penulis sepuh begini masih juga selalu membawa catatan harian. Penting untuk seorang penulis untuk segera menuangkan ide yang berseliweran di sekitar kita.

Keakraban Mengharu Biru
Hari demi hari berlalu, kelas menulis pun terus berlangsung. Terasa keakraban di antara peserta dengan saya kian mengental. Pernah satu sesi lintas alam kedua, lima peserta tidak bisa ikut karena bentrok dengan kegiatan lain.

Salah seorang santri putri sedih sekali, seraya menggelendot manja di lengan berbisik kepadaku:”Tapi hatiku tetap bersama Bunda,” lirihnya mengharukan hati.

“Halaaaah, lebaaaay!” teman-teman meledeknya, ia tersenyum manis.
Dari hari ke hari tugas-tugas rutin mulai terkumpul, bersama Mbak Uul dan Mbak Iil, kami menyeleksi naskah-naskah yang mburudul. Ada tugas akhir yang sejak hari pertama diwartakan, yakni; menulis kisah inspirasi seputar sukaduka selama tinggal di pontren putri 
Darul Ulum Banyuanyar.

Satu demi satu tugas akhir pun disetorkan, langsung saya cermati sebelum tidur. Semakin rapi, tertata apik dengan bahasa yang bagus, ada karakter, penglataran dan dialog-dialog nyambung.

“Bagaimana, Teteh, sudah terjaring siapa saja yang berpotensi menjadi penulis?” tanya Hj. Salma pada hari kelima. Artinya telah lebih dari 10 pertemuan kelas menulis berlangsung.
Putri sulung Kyai inilah yang punya gagasan kelas menulis, mencetak kader-kader penulis yang selanjutnya akan menjadi ujung tombak, menyebarkan virus menulis di kalangan santriwati.

Dari diskusi rutin kami ada banyak gagasan yang diharapkan bisa terwujud satu demi satu. Mencetak SDM dari kalangan santriwati, memberdayakan mereka yang memiliki potensi masing-masing.

Saya mencoba untuk membantu dan akan terus memantau hasil kelas menulis, minimal mempertahankan dan menguatkan para santri yang ingin menjadi seorang penulis profesional. Terutama santri yang bercita-cita menjadi seorang mujahid pena, melahirkan karya-karya Islami yang mencerahkan. 

“Konsultasi menulis Online, mari, tetap berlangsung,” himbau saya yang segera disambut hangat oleh Hj. Salma.

Diberi Judul Pesantren Idaman
Setelah kembali dari Banyuanyar, baru beberapa hari saja sudah terasa kerinduan menggelitik hati ini. Ingin merasakan senantiasa nuansa pondok pesantren putri. Sensasi, ghirah menuntut ilmu yang menguar dari pelosok pondok, sungguh tak bisa dijabarkan dengan kata-kata.

Maka, segeralah saya menyunting kumpulan naskah yang dikirimkan oleh Mbak Uul dan Mbak Iil. Dengan menambah nuansa dan pelataran serta dialog segar, tanpa mengurangi esensi naskah aslinya, saya menyelesaikan naskah ini.

Pesantren Idaman, akhirnya saya mengajukan judul yang diambil dari salah satu tulisan karya Mila El-Mans, sebelum dipertimbangkan oleh Hj.Salma yang selalu terhubung dengan saya melalui telepon jarak jauh.

Boleh jadi buku ini masih belum bisa disebut sempurna, tetapi bila mengingat bahwa Yang Sempurna hanya milih Allah Swt. semata. Kiranya buku ini patut diapresiasi, baik oleh warga Darul Ulum pada khususnya, maupun masyarakat literasi dan bangsa Indonesia pada umumnya. Tahniah, Pesantren Idaman!

Daftar Isi;
i.  Sekapur Sirih: Baca dan Menulislah! – Hj. Salma Syamsul Arifin
ii.  Prolog: Pesantren Idaman -  Pipiet Senja
1. Berkas Cahaya – Amatullah Zaini
2. Celoteh Penulis Cilik – Sarah Hasbunalla
3. Assalamu’alaikum Manini – Khadijah Hannan
4. Catatan Mini Anak Kecil – Sumayyah Zaini
5. Pesantren Idaman – Mila El-Mans
6. Makna Kehidupan – Zhopie
7. Cinta Bersemi di Tanah Suci – Someone
8. Engkau Harapan – Insan Addaif
9. Satu Kisah Menanti – As Syarief bintu Sholeh
10. Allah Maha Pengasih – Amatullah Zaini
11. Siapa Bilang Aku Idiot – Ray Star
12. Menoreh Asa – Ayrha Pasir
13. How To Ustad Your Habits: Felix Y. Siauw – Kaifa Shams
14. Lintas Malam Jumat – Sobah Hasbullah
15. Benteng Suci Darul Ulum –  Olivia Syahrozy
16. Pencarian – Chemry
17. Hening Itu Indah – Imroatul Mufida
18. Inilah Ceritaku – Ruqoyyah
19. Karena Cahaya Ilahi – Kaifa Shams
20. Cinta Anak Rohis – Kaifa Shams
21. Menanti Restu – Kaifa Shams
22. Suara Hati Santri - Maiyah Arrosyid & Kartini
23. Pemuda Tonggak Kebangkitan – Kaifa Shams
24. Perlu Beristighfar – Kaifa Shams
25. Sebuah Eksistensi Dinanti – Kaifa Shams
iv. Biodata Para Penulis
v. Album Kelas Menulis

  
Posted in: | Senin, 16 Februari 2015



Novel Jejak Cinta Sevilla: Garsini Merupakan Gabungan Tiga Karakter
Penghujung Desember, 1997, seorang produser mendatangiku ke rumah kami yang mewah alias mepet sawah dan mepet kuburan, kampung Cikumpa. Dia meminta naskah cerbungku yang dimuat di majalah Mangle, majalah bahasa Sunda untuk disinetronkan. Jadi, aku harus menerjemahkannya dalam bahasa Indonesia dan dalam bentuk naskah skenario sinetron; enam episode.

Dengan mesin ketik jadul yang dinamai si Denok, aku pun taktiktok, hingga belepotan peluh dan jari-jemariku sakit-sakit, ngilu. Mesin ketik ini sungguh sudah tidak layak lagi digunakan. Karena huruf-hurufnya sungguh telah sangat pabaliut. Bayangkan saja huruf b bulatannya sudah tak tampak, huruf q dan j juga tinggal titik dan bulatan separo.

Halaaah, pokoknya bikin mata sakit dan menyedihkan buangeeet!

Apa boleh buat, karena butuh, ya, daku paksakan jugalah. Sepanjang siang dan malam itu, jika sudah lepas dari urusan dapur, aku akan mengetik, menulis, menulis dan menulis. Bunyinya sering kali membuat bapak si Butet ngomel-ngomel yang sama sekali taklah membuatku berhenti menulis.

Apalagi karena sang produser itu begitu percaya, langsung menyerahkan honorariumnya; 3 juta rupiah. Bayangkan, untuk saat itu uang sebegitu jumlahnya, terutama bagi diriku, sungguh sangat banyak!

Bukan masalah bagiku untuk belajar menulis skenario. Kubeli bukunya Arswendo Atmowiloto tentang panduan menulis skenario. Aku juga menemukan contoh naskah skenario jadul karya Motinggo Boesye; Malam Jahanam. Belakangan setelah mengenal Rumah Dunia, jujur saja, diam-diam, aku belajar banyak dari skenario karya Gola Gong.

Ceritanya selesai sudah keenam naskah skenario pesanan yang diangkat dari cerbung dengan judul baru; Sebening Hati. Jika ditelisik jumlah halamannya per naskah 90 halaman, kalikan enam saja sama dengan; 540 halaman!

Tunggu punya tunggu sampai Mei 1998, reformasi terjadi, kegoncangan ekonomi terjadi. Termasuk dunia perfilman, persinetronan apalagi penerbitan. Sang produser raib tanpa jejak, entah pergi ke mana.

Setiap kali mataku menclok di tumpukan naskah Sebening Hati, ada yang meruyak jauh di dada ini. Rasanya mubazir, sia-sia, jika dibiarkan begitu saja, pikirku. Beberapa saat lamanya terpaksa kubiarkan mengonggok di sudut kamar. Aku beralih ke buku anak-anak saja. Beberapa buku anak karyaku dibeli oleh Inpres. Setidaknya dari situlah aku bisa menghidupi kebutuhan anak-anak dan dana berobatku.

Namun, semangat juang ‘45 yang diwariskan ayahku senantiasa membalun jiwa dan ragaku. Dari honorarium 3 juta itu, aku bisa membeli seperangkat komputer jadul yang sering membuat listrik kami braypet-braypet.

Dengan kesabaran yang tiada mengenal batas (cieeeh!) akhirnya aku berhasil mengetik, tepatnya merangkum naskah skenario tersebut menjadi dua naskah novel. Judulnya kuubah menjadi Riak Hati Garsini dan Kapas-Kapas di Langit.

Riak Hati Garsini kuserahkan kepada Halfino Berry (Asy-Syamil) ketika jumpa pertama kali di lesehan Forum Lingkar Pena di Gedung Muhammadiyah, jalan Menteng. Dia menyetujui untuk menerbitkannya, setahun kemudian.

Malangnya, nasib Kapas-Kapas di Langit, ternyata harus mengalami beberapa kali penolakan. Awalnya kuserahkan melalui Korrie Layun Rampan, ketika itu editor majalah Sarinah. Dia sudah menyetujui bahwa naskahku itu akan dimuat secara bersambung. Bahkan sebagian DP (uangmuka) sudah kuterima sejumlah 150 ribu rupiah. Eh, tahu-tahu itu majaah yang sempat menjadi sengketa antara dua kubu, dibangkrutkan!
Dan, tralalala, naskahnya hilang!

Okelah, kalau begitu, kembali aku mengetik ulang, kali ini sudah dengan komputer yang rada benar, sudah pentium satu. Sempat raib dari hardisk gara-gara virus, demikian pula dari disketnya. Mujurlah, Sarah Handayani, waktu itu Ketua FLP Depok, masih menyimpan disketnya, meskipun hanya sampai halaman 94 dari 156.

Kembali dengan tekun dan teliti (kunti ‘kali yee!) aku mengetik segala hal dari sisa memori otakku tentang novel Kapas-Kapas di Langit, sebagai episode kedua, lanjutan Riak Hati Garsini.

Begitu telah selesai, kutawarkan kepada Ali Muakhir (DAR! Mizan), entah dengan pertimbangan, mungkin sebab sudah ada beberapa naskahku yang siap cetak, pokoknya Kapas-Kapas di Langit ditolak!

“Maaf, ya Mbak, novel ini terpaksa kami tidak bisa menerbitkannya.”
“Boleh tahu, apa alasannya?” tanyaku ingin tahu.
“Saya tidak menangkap tema globalnya, ya Mbak Pipiet,” demikian kilah Ali Muakhir yang hingga detik inipun, sumpeee deeeh, daku sama sekali tidak paham!

Naskah itu akhirnya lama tersimpan di komputerku. Sampai sekitar bulan Juni 2002, Asma Nadia memberiku nomer seseorang yang kabarnya sedang membutuhkan naskah untuk diterbitkan. Jadi, aku menbghubungi nomer tersebut. Dia malah memberiku nomer lain yang ternyata kantornya Remon Agus, bos penerbit Zikrul Hakim.

Ketika kami jumpa di kantornya di jalan Pramuka, Remon Agus, minta waktu untuk mempelajarinya. Belum sampai rumah, tiba-tiab dia sudah menghubungiku dan menyatakan suka sekali dengan naskah Kapas-Kapas di Langit.

“Mau dijual berapa?” tanyanya ketika kami jumpa kembali keesokan harinya.
“Maksudnya, jual putus, ya?”
“Terus terang, ini pertama kalinya saya akan menerbitkan buku fiksi. Selama ini baru buku Yassin dan beberapa buku Yusuf Mansur.”
“Bagaimana kalau 5 juta saja, ya Pak Remon?”
“Ini kan penerbit baru, Teteh, boleh kurang dong?”

Aku bergeming di angka tersebut. Akhirnya dicapai kesepakatan, 4 juta dibayar lunas saat itu, sisanya setelah bukunya terbit. Ternyata, Kapas-Kapas di Langit angsung diserap oleh pasar.

Alhamdulillah, bahkan setahun kemudian, meraih Islamic Book Fair Award, 2006 sebagai novel terlaris. Menjejeri Fahri Asiza yang meraih IBF Award sebagai Penulis Favorit.
Ternyata kemudian aku mendapat “teror” dari para pembacaku, mendesak agar novelnya dilanjutkan. 

Adakalanya aku tersenyum geli, bahkan tak jarang kebingungan sendiri, jika ada yang bertanya: “Teteh Pipiet, apa kabarnya Garsini? Bagamana tuh nasib dokter Haekal?” dan banyak pertanyaan seputar tokoh rekaanku itu.
Seakan-akan Garsini itu memang hidup dan eksis dalam kenyataan, duhai!

“Iya Teteh, lanjutkanlah novel Kapas-Kapas di Langit. Bikin penasaran saja,” ujar bos Zikrul Hakim, Remon Agus.

Aku baru bisa memenuhinya 2009, kugabungkan dua novel itu kemudian kutambah satu episode yang kuberi judul; Jejak Cinta Sevilla. Baru keluar dari percetakan setahun kemudian, 2010. Bayangkan, betapa panjangnya proses kreatif novel paling tebal yang pernah kutulis ini. Jika dihitung sejak 1997 hingga 2010, totalnya; 13 tahun!

Beberapa bulan yang lalu, seorang mahasiswa S2 Universitas Jakarta, Supiyatna, menemuiku dan mengabarkan bahwa dia mengambil Kapas-Kapas di Langit sebagai penelitian untuk thesisnya.

Tentu saja aku merasa sangar terharu sekaligus surprise. Ternyata proses kreatif yang begitu panjang ada juga hikmahnya. Selain menambah deretan penggemar, akhirnya ada juga karyaku yang diangkat ke dunia akademisi.

Supiyatna bertanya banyak hal seputar karakter tokoh rekaanku, Garsini Siregar.
Sesungguhnya aku ingin mengambil karakter Helvy Tiana Rosa, Rahmadiyanti dan seorang penulis pemula yang tak ingin disebut namanya. Kami sering chatting sehubungan kebutuhanku urusan penglataran Jepang, dan suasana kampus serta dunia mahasiswa di negeri Sakura.

Garsini merupakan tokoh impianku sejak kecil. Aku ingin menuangkan harapan, cita-cita dan mimpi-mimpiku dalam bentuk tokoh utama rekaanku. Bahwa Garsini meskipun terlahir dari keluarga yang tidak harmonis, ternyata ia mampu membuktikan kepada dunia; Bisa Berprestasi!

Garsini, bagiku bukan sekadar tokoh imajinatif. Ketika aku menuliskannya, memolesnya dan mewujudkannya, serta melakoni peristiwa demi peristiwa, konflik demi konflik, jujur saja hatiku ikut merasai. Seakan-akan diriku, jiwaku dan ragaku merasuk dalamn tokoh Garsini.
Duhai, duhai, Garsini….

Seperti kata HTR suatu kali, kira-kira begini, dalam endorse Riak Hati Garsini: “Ketika Garsini berhasil menyelesaikan konfliknya, sesungguhnya Pipiet Senja yang pasien thallasemia masih panjang lakonnya….”
Betul, betul, betul!

Aku masih harus berjuang dalam mempertahankan sepotong nyawa ini. Tetapi, apa bedanya, siapapun memang melakoninya demikian. Bukankah?

Pada Pebruari 2015, saya mendapat kabar dari salah satu juri Festival Film Bandung 2015 bahwa film pendek yang diangkat dari novelet bahasa Sunda, Garsini telah berhasil meraih Juara Pertama. Novelet Garsini inilah yang mengawali episode pertama dari tiga episode dalam novel tebal Jejak Cinta Sevilla. 

Alhamdulillah, terima kasih Dym, Akhi Dirman dari Bima yang telah sukses membesutnya menjadi sebuah film pendek yang inspiratif.

Saat ini novel Jejak Cinta Sevilla sedang berada di tangan Aditya Gumay, dalam proses dicarikan produser untuk diangkat ke layar lebar. Penglataran tujuh negara yang diambil untuk novel ini semoga tidaklah menjadi kendala urusan dananya. Indonesia, Singapura, Malaysia, Jepang, Prancis, Tazmania dan Mekkah. (Pipiet Senja, revisi Pebruari 2015)

Catatan; Pipiet Senja, menulis sejak remaja, kelahiran Sumedang, 1956, telah melahirkan ribuan cerpen, ratusan novel, tetapi yang diterbitkan baru 165 buku. Bermukim di di bumi Allah alias nomaden, karena tidak memiliki rumah sejak bercerai.



Posted in: | Minggu, 08 Februari 2015