Latest Stories

Subscription

You can subscribe to pipietsenja.net by e-mail address to receive news and updates directly in your inbox. Simply enter your e-mail below and click Sign Up!

TOP 5 Most Popular Post

Other Post

Other Post










Posted in: | Minggu, 23 November 2014



Tembagapura, 21 November 2012
Sesuai rencana, rombongan kami, saya, Elly Lubis dan Evatya Luna hanya beberapa saat saja bersosialisasi dengan warga asli suku Banti. Camat Tembagapura, Slamet Sutejo mengingatkan kami agar segera bergabung kembali dengan Syafii yang baik hati dan murah senyum itu.

“Terimakasih, Pak Camat, catatan perjalanannya nanti akan saya emailkan, ya,” kataku sebelum berpisah di parkiran kediamannya. Sungguh, kami merasa beruntung telah diantar keliling pemukiman salah satu suku asli Papua.

“Eva, eh, itu suku Banti apa ada hubungannya dengan suku Bantu, Negro itu loh?” usikku membuat Evatya Luna terpelongoh. Apa hubungannya coba, Banti di Papua sementara Bantu di Afrika.

“Mungkin yang ada justeru kesamaannya, Bunda. Banti dan Bantu sama-sama hitam dan serba tertinggal. Halaaaah, gak tahu jugalah, Bunda,” jelas Evatya Luna malah membuat diriku bingung. Habis, dia membuat opini, tetapi dalam sekejap dibantah dan diragukannya sendiri. 

Halaaah!
Kami tiga pendekar perempuan pendek dan kekar, akhirnya tibalah di halte tram pada ketinggian 4000 meter. Perlengkapan yang kami kenakan berupa rompi, kacamata dan sepatu boot. Tak jauh beda dengan kostum yang dikenakan oleh para penambang.

Elly Lubis dan Evatya Luna mendapatkan sepatu yang bagus sesuai ukuran. Sementara aku sepasang boot besar yang cukup berat dan mengganggu gerakan. Tapi, mau bagaimana lagi, ya, sudahlah!
“Mengapa harus selalu dipakai rompinya yang mirip begini, Mas?” tanyaku ingin tahu kepada Syafii.

“Yah, agar dikenali, dan mudah menemukan kalau hilang,” sahutnya ringan.
“Maksudmu, rompi ini apa ditempeli semacam microship. Eh, ini semua buatan Amrik, iya toh?” buruku.
“Hehe, iya, barangkali, Teteh.” Bapak dari dua anak itu nyengir, menatapku lucu.

Karena sudah diwanti-wanti jangan bicara urusan politik dan aktivitas Freeport dengan karyawan, aku memutuskan tidak melanjutkan kicauan. Sementara sebagai seorang penulis, imaji liarku tanpa bisa ditahan lagi secara terus-menerus berkelindan di dalam otakku.

Melihat peralatan konsentrat bebatuan di Mil 74, imajinasiku mewujud batang-batang emas, perak dan tembaga yang telah jadi, memenuhi tantangan pasar dunia. Lantas, dikemanakan hasil penjualannya?

Betapa kaya rayanya bumi Papua, ini realita yang tak bisa dipungkiri. Namun, lihatlah kondisi pemukiman Banti. Mereka tinggal di honai-honai (rumah) yang tak lebih mirip kandang babi.
Mendadak aku merasa gulana, limbung dan bingung. Sampai ada yang bilang:” Ya, sudahlah, mereka ada yang mengurusnya.” Iyakah, sungguhkah?

“Nah, kita sudah sampai!” kalimat seseorang menyadarkanku akan keberadaanku kini.”Kita akan naik tram dari sini, Teteh,” lanjut Syafii.

Evatya Luna dan Elly Lubis ditemani Syafii langsung meloncat dari kendaraan. Aku p0elan-pelan saja sambil megukiur kekuatan tubuhku. Berjalan di tengah gerimis yang turun renyai, hawa dingin langsung menyengat dan oksigen sangat menipis.

Kedua rekanku itu semakin semangat untuk mengambil momen-momen bagus, pemandangan di skeitar kami memang sangat indah. Rugi sekali jika tak membawa kamera canggih.
Kami menaiki tangga menuju halte tram. Tiga orang petugas berseragam langsung menghampiri kami, dan menanyai Syafii: ”Siapa ini dan dari mana?”

“Ini tamu dari Jakarta. Surat izinnya ada di Pak Bambang, silakan konfirmasi,” jelas Syafii meyakinkan.

Dengan mudah kami bertiga ditemani Syafii naik tram. Tampaklah pemandangan yang luar biasa indahnya. Untuk beberapa jenak aku hanya terperangah, mengatur napas dan menikmati gelaran lanskap terindah dari Sang Pencipta.
Jeprat, jepreeeet!
Sesampai di seberang, kami melanjutkan perjalanan menuju Grasberg Mine.
 Dan inilah foto-foto kami. (Pipiet Senja, Timika, November 2012)









Bottom of Form
Posted in: | Jumat, 07 November 2014
Jalan jalan ke Turkey hayu bersama teteh Pipiet Senja, Ustad Azzam Mujahid Izzulhaq Full dan Jonriah Jonru Ukur.

Jalan-jalan ke Turki sambil mengikuti pelatihan penulisan bersama @pipietsenja @jonru @AzzamIzzulhaq.
Transit di Paris dan Amsterdam. Pulangnya menerbitkan buku.
‪#‎WisataMenulisTurki bersama Jonru, Pipiet Senja dan ustadz Azzam Mujahid Izzulhaq.
Jadwal: 27 November s/d 6 Desember 2014
Yuk Ikutan!
Kapan lagi bisa jalan2 bersama penulis terkenal Pipiet Senja, juga dengan Jonriah Jonru Ukur dan ustadz Azzam Mujahid Izzulhaq, sambil menimba ilmu kepenulisan. Dan pulangnya menerbitkan buku.
Untuk info lengkap dan pendaftaran, silakan hubungi panitia acara ini:
Aurora Travel Management Expert:
Mobile Phone: 0811 49 12 122
WhatsApp: 0812 20 30 22 11
PIN BBM: 7F95EB0F

Posted in: | Sabtu, 11 Oktober 2014





Bangunan ini bukanlah istana kerajaan. Bukan pula rumah tempat tinggal. Bangunan yg megah ini dulunya adalah sebuah perpustakaan. Celsus, demikian perpustakaan ini diberi nama di zaman Yunani Kuno.
Perpustakaan Celcus terletak di 'komplek' Ephesus, Kota Yunani Kuno di sebelah barat dari Anatolia, kota Selçuk, Provinsi Izmir.
Sebetulnya, di Izmir tidak hanya ada kota tua Ephesus. Kekhilafahan Islam sebelum Ottoman, Selçuk juga ada di provinsi ini. Maka sebetulnya, selain Istanbul, Izmir juga adalah negeri seribu peradaban. Usianya rentanya menjadi saksi peradaban Yunani Kuno, Romawi, Selçuk, Ottoman dan Turki modern saat ini. Gak sampai seribu kan? Hehehe...
Ephesus dulunya adalah kota yang dikuasai oleh Lysimachia, salah seorang jendral perang Alexander Agung. Sepeninggal Alexander Agung, wilayah-wilayah taklukan diperebutkan dan dibagi-bagi oleh para jendralnya karena Alexander mati muda dan tidak mempunyai anak sebagai penerusnya. Ephesus kemudian dikuasai oleh Kekaisaran Romawi pada 88 SM. Sempat terjadi pemberontakan, tapi kemudian berhasil dikuasai kembali oleh Romawi dibawah pimpinan Lucius Cornelius Sulla dua tahun kemudian, 86 SM.
Diceritakan bahwa Kaisar Romawi Mark Anthonius dan Ratu Mesir Cleopatra pernah berkunjung pada musim semi ke Ephesus pada 33 SM untuk berbulan madu. Pada masa kaisar Augustus, 27 SM, Ephesus dijadikan ibukota untuk provinsi Anatolia Barat dari Kekaisaran Romawi, sejak inilah Ephesus berkembang menjadi kota besar masa itu. Puncak kejayaan Ephesus terjadi pada abad ke-2 Masehi.
Anda tahu? bahwa bangunan-bangunan zaman kuno ini terbuat dari batu marmer yg mengkilat (pada zamannya). Dari mulai lantai, tiang, atap bahkan jalannya. Saya sendiri bertanya-tanya, teknologi apa yg dipakai pada zaman itu sehingga menghasilkan karya yg luar biasa.
Karena Ephesus adalah sebuah 'komplek' kota kuno, maka di dalamnya pun ibarat sebuah komplek yg serba ada. Pasar, teater tempat menyaksikan para gladiator bertarung entah memperebutkan apa, rumah, pemandian bahkan hingga 'WC Umum' dan tempat prostitusi.
Bahkan, ada jalan bawah tanah yg ternyata ditemukan dari perpustakaan Celsus ke Rumah Bordir di seberangnya. Ckckckck... Jadi mungkin, para pria zaman dahulu pamit ke istrinya di rumah, "Mamih, Papih ke perpustakaan dulu ya. Ada tugas kampus nih...". Eh sampai di perpustakaan malah nyasar ke seberangnya baca buku yg lain. Skip...
Di Izmir juga ada rumah Bunda Maria atau Siti Maryam ibunda Nabi Isa as. Rumah Bunda Maria atau disebut “Panaya Kapulu” terletak di selatan Ephesus di kaki Gunung Bülbül yg tenang dan berpemandangan indah. Pada awalnya, Bunda Maria dibawa ke Ephesus oleh pengikutnya karena Yerusalem sudah dianggap tidak aman lagi. Bunda Maria ditinggal dan akhirnya meninggal di tempat ini. Baru pada akhirnya tahun 1891, rumah ini ditemukan sesuai dengan detail yang digambarkan oleh Biarawati Catherine Emmerich.
Berkeinginan untuk mengunjungi Izmir? Melihat dan merasakan bagaimana percampuran budaya membentuk peradaban masyarakat modern Turki saat ini, dan menuliskan segala sesuatunya menjadi buah karya yg dinikmati banyak orang? JOIN NOW pada program Wisata Menulis: Dari Turki kami MENULIS, Di Indonesia kami BERKARYA. Bagi dunia kami MEMBANGUN PERADABAN,
Anda akan diajak berwisata selama 10 hari di Turki mengunjungi tempat-tempat bersejarah yg menjadi pusat peradaban pada era Byzantium, Romawi, Selcuk, Ottoman dan juga Turki modern saat ini.
Sahabat akan ditemani dan dimentori oleh Bunda Pipiet Senja, seorang living legend dalam dunia kepenulisan. Berbagai tips dan trik dunia menulis dan penerbitan.
Belum cukup, Anda juga ditemani oleh Azzam Mujahid Izzulhaq, seorang pengamat sosial, budaya dan politik internasional. Dia juga adalah seorang mindset motivator yg akan berbagi kepada Anda menganai sejarah, budaya, politik Turki dulu dan kini. Serta berbagi tips dan trik agar selalu ON dalam berbagai aspek kehidupan.
Anda akan diajak berkeliling negara Turki mulai dari Istanbul, Bursa, Kusadasi, Pamukkale, Konya, Cappadocia, dan Ankara, ibukota negara Turki. Ssstt... Sangat mungkin Anda akan diajak mengunjungi Istana Kepresidenan dan bertemu Erdogan (syarat dan kondisi terbatas).
Investasi untuk sejuta pengalaman, ilmu dan juga kenyamanan ini adalah mulai dari USD 1.850 per orang. Kabar buruknya, program ini terbatas untuk 30 orang saja. SEGERA! Seat hanya tinggal 15 orang lagi atau Anda akan menyesal dan ketinggalan.
Siapkan baju hangat ya, kita akan menikmati dinginnya udara Eropa di 27 November hingga 6 Desember 2014.
Layanan Informasi selanjutnya silakan menghubungi: Aurora Travel Management Expert di nomor 0811 49 12 12 2
Posted in: | Jumat, 10 Oktober 2014


 Acara Puncak Hari Baca Santri Putri Darul Ulum, Banyuanyar

Banyuanyar, September 2014

Kelas Menulis Pontren Putri
Telah beberapa kali singgah dan memberi pelatihan menulis di pondok pesantren Darul Ulum Banyuanyar, Pamekasan-Madura, kali ini diminta buka kelas menulis agak lama. Targetnya mencetak para penulis Islami langsung dari basisnya. Dengan senang hati saya menerima undangan Hj. Salma, pimpinan pondok pesantren putri Darul Ulum.

Terhitung sejak 20 September-27 September 2014, kelas menulis bersama saya berlangsung. Mengambil tempat di ruang perpustakaan, jadwalnya diambil tiga kali pertemuan pada awalnya; pagi bada subuh, sore bada ashar dan malam bada isya. Namun, melihat anak-anak banyak yang kelelahan dan mengantuk, boring, terutama saat bada isya akhirnya ditiadakan. Digeser dan waktunya ditambahkan satu jam ke kelas sore hari.

Materi yang saya berikan sudah disiapkan, spesial modul menulis yang pernah saya dan tim lakukan di beberapa tempat. Mulai dari motivasi mereka menjadi seorang penulis, mengatur waktu, menangkap ide dan mengeksplorasinya menjadi sebuah tulisan memikat, hingga berurusan dengan media, mencermati surat perjanjian, aktif menjual karya yang telah diterbitkan sebagai buku.

Absensi Turun Naik
Hari pertama di ruang perpustakaan, tanpa bangku dan kursi alias santri duduk lesehan sementara saya di depan dengan bangku dan laptop serta perangkat LCD. Peserta  tercatat 52 santriwati setingkat Aliyah. Dua orang panitia, Mbak Uul dan Mbak Iil, demikian saya diperbolehkan memanggil nama kedua akhwat ini, siap dan cekatan sekali membantu jika diperlukan. Ditambah Mbak Ifa, putri Kyai Syamsul Arifin, pimpinan pesantren.

“Nanti juga akan terseleksi sendiri. Mana saja yang bisa bertahan dan siapa saja yang akan mundur. Tidak tahan dengan gaya saya, mungkin,” kataku berseloroh.
“Insha Allah, semoga tetap istiqomah, Teteh,” ujar Mbak Uul, terdengar penuh harap.

Hari kedua yang hadir berkurang 10, hari ketiga pun berkurang belasan, bahkan hari ketiga hatiku langcung menciut. Tinggal dua baris saja alias tidak lebih dari belasan peserta!
“Nah, lihat kan, Mbak Uul, Mbak Iil, apa kata Teteh waktu itu?” ujarku menahan perasaan tidak enak dalam hati.

“Tenang saja, Teteh. Hari ini kebetulan ada ulangan, mungkin anak-anak ingin fokus. Nanti sore mudah-mudahan mereka sudah bisa atur waktu,” kata Mbak Iil menenangkan.







Serunya Lintas Alam Malam
Untuk menyemangati dan mengarahkan para santri putri dalam hal menemukan ide, menggalinya langsung dari orang atau lingkungan mereka, saya ajak mereka lintas alam. Waktunya diambil malam Jumat, karena esok hari mereka libur.

“Asyiiiik! Aku di depan, di depan, aaah!” seru Sarah, cucu Kyai, semangat sekali.
“Aku juga mau di depan,” kata Khadijah, sepupunya, tak mau kalah semangat.
“Aku di mana, Manini Teteh?” cetus Amatullah, putri Neng Salma.

Tiga cucu Kyai ini memang paling semangat dan kompak sekali. Biasanya mereka lebih dahulu menyerahkan tugas berupa tulisan; puisi, resensi, cerpen.

Malam Jumat itu terasa semarak, barisan kader penulis, para calon mujahid pena pontren putri berderap. Barisan bergerak menyusuri jalanan di seputra pondok pesantren. Tiba di lapangan terbuka di bawah cahaya lampu, saya meminta mereka berhenti.

“Silakan, anak-anak cantik dan solehah, tuliskan apa saja yang kalian lihat sepanjang jalan tadi,” pinta saya yang segera disambut mereka dengan semangat.
Baru beberapa menit mereka menulis tiba-tiba; preeeet!

“Yaaaa, mati lampunya!” seru para santri.
“Tidak apa, ayo kita geser ke sebalah sana,” ajak Mbak Iil dan Mbak Uul  segera memompakan semangat. Dalam sekejap barisan calon mujahid pena pun bergerak ke depan gedung Tsanawiyah.

Hening beberapa saat lamanya, semua konsentrasi menulis di buku harian masing-masing. Saya wajibkan mereka membawa catatan setiap kali mengikuti kelas menulis. Sebab hingga saat ini pun saya penulis sepuh begini masih juga selalu membawa catatan harian. Penting untuk seorang penulis untuk segera menuangkan ide yang berseliweran di sekitar kita.

Keakraban Mengharu Biru Hati
Hari demi hari berlalu, kelas menulis pun terus berlangsung. Terasa keakraban di antara peserta dengan saya kian mengental. Pernah satu sesi lintas alam kedua, lima peserta tidak bisa ikut karena bentrok dengan kegiatan lain. Salah seorang santri putri sedih sekali, seraya menggelendot manja di lengan berbisik kepadaku:”Tapi hatiku tetap bersama Bunda,” lirihnya mengharukan hati.

Dari hari ke hari tugas-tugas rutin mulai terkumpul, bersama Mbak Uul dan Mbak Iil, kami menyeleksi naskah-naskah yang mburudul. Ada tugas akhir yang sejak hari pertama diwartakan, yakni; menulis kisah inspirasi seputar sukaduka selama tinggal di pontren putri Darul Ulum Banyuanyar.

Satu demi satu tugas akhir pun disetorkan, langsung saya cermati sebelulum tidur. Semakin rapi, tertata apik dengan bahasa yang bagus, ada karakter, penglataran dan dialog-dialog nyambung.

“Bagaimana, Teteh, sudah terjaring siapa saja yang berpotensi menjadi penulis?” tanya Hj. Salma, hari kelima, artinya telah lebih dari 10 pertemuan kelas menulis berlangsung.
Putri sulung Kyai inilah yang punya gagasan kelas menulis, mencetak sejumlah kader penulis yang selanjutnya menjadi ujung tombak, menyebarkan virus menulis di kalangan santriwati.

Dari diskusi rutin kami ada banyak gagasan yang diharapkan bisa terwujud satu demi satu. Mencetak SDM dari kalangan santriwati, memberdayakan mereka yang memiliki potensi masing-masing. Saya mencoba untuk membantu dan akan terus memantau hasil kelas menulis, minimal mempertahankan dan menguatkan para santri yang ingin menjadi seorang penulis profesional. Terutama santri yang bercita-cita menjadi seorang mujahid pena, melahirkan karya-karya Islami yang mencerahkan. (Pipiet Senja, Madura, September 2014)





Posted in: | Minggu, 05 Oktober 2014
Foto:detik.com
           
Mengiraku Masih Anak-Anak
Beberapa pekan lalu jumpa dengan Ceu Popong, demikian kami memanggilnya, pada pertemuan Patrem; paguyuban sastrawati Sunda yang diselenggarakan di Garut. Sebagai orang Sunda, tentu saja saya sudah mengenal namanya sejak lama. Bahkan sejak kecil, nama Ceu Popong ini tidak asing lagi, sebab sering diceritakan oleh mendiang Emak.

“Popong itu putrinya Pak Samya, Kepsek SMP dua Regol. Waktu Emak di SKP, regu volina Popong suka datang dan tandang di sekolah. Hebat, menang terus,” tutur Emak jika mengenang masa-masa sekolahnya.

Beberapa kali pula pernah jumpa Ceu Popong, sama di acara kesenian dan kebudayaan di Bandung. Hanya kami tak pernah ada kesempatan untuk berbincang, sekadar bersalaman, diperkenalkan oleh panitia.





Pada panglawungan kumpul ngariung dengan Patrem inilah, akhirnya saya punya kesempatan untuk mengenal lebih dekat. Ceu Popong turun dari kendaraan bersama para senior sastrawati Sunda, siang itu di pekarangan rumah cinta Mien Ardiwinata Kusdiman, Garut.

Saya menghampiri dan menyalaminya sambil nikukur, istilah Sunda untuk memperkenalkan diri.”Punten, Ibu, abdi Pipiet Senja.” Agak kurang enak jika menyebutnya Ceuceu, mengingat usianya seangkatan emak saya.

Sontak, dia menyambut dan memeluk saya, kemudian menepuk-nepuk bahu saya sambil berkomentar dengan logatnya yang khas nyunda pisan:”Oh, ieu nya Pipiet Senja teh. Ari panyana budak keneh….” Begitu akrab, hangat sambil terus berceloteh dengan riangnya, gepyak pisan. Sungguh, itulah sambutan terhangat, terakrab sekaligus menggelitik hati yang pernah saya terima dari tokoh gegeden, sosok elit politik kita.

Semua yang hadir adalah para sastrawati senior, hanya beberapa yang masih muda. Kulihat semua tertawa mendengar komentarnya tentang nama pena saya yang diulang-ulang; sugan tea budak keneh nya Pipiet Senja teh, ari sihoreng simanahoreng…. Kirain masih anak kecil ya Pipiet Senja itu, eh, ternyata-ternyata….

Tos tilu pun incu mah, Ceu Popong,” akhirnya saya menyamakan panggilan akrab yang sudah populer di kalangan budayawan ini.

Pada panglawungan itulah  saya perhatikan dengan takjub, bagaimana gerak-geriknya, gaya bicaranya yang khas Sunda sejati. Celetukan-celetukannya yang humoris, riang, membuat suasana semarak, akrab dan genah nian. Ceu Popong ditanggap untuk memberi sambutan tentang organisasi sastrawati Patrem. 

Maka meluncurlah perjuangan, sukaduka bahkan anekdot tentang sastrawati Patrem zaman baheula dan wacananya ke depan.

Sekilas ia pun berbagi pengetahuannya, pengalamannya sebagai anggota Dewan kepada kami. Bagaimana ia bersama rekan seperjuangan menggodok berbagai  UU, antara lain UU Pilkada yang menghebohkan itu.






Memenuhi Undangan Ceu Popong
Sepulang dari Garut, pikiran saya terus dipenuhi dengan sosok sepuh keibuan yang humoris ini. Kiprahnya, perjuangannya sebagai budayawan dan anggota Dewan patut direkam dalam wujud buku. Mulailah rajin menghubunginya melalui pesan singkat, SMS. Ternyata disambut positif, sampai beberapa hari kemudian saya diundang ke ruang kerjanya di Gedung Nusantara 2, Senayan.

Siang itu, Ceu Popong mengenakan kain kebaya pulas oranye, bersanggul dan selop.. Memang itulah agaknya busana yang dikenakan sehari-hari, khas busana angkatan ibu kita. Ditemui di ruang kerjanya, ia baru saja usai menghadiri sidang paripurna. Ini hari-hari terakhir masa jabatannya periode 2009-2014.

“Nanti kalau sudah pelantikan, harus pindah dari sini. Semua berkas yang menumpuk ini harus diangkut,” jelasnya menunjuk tumpukan berkas kerja di sudut ruangan. “Sepertinya kita memilih tetap di sini sajalah. Tidak harus mengeluarkan enerji, dana, dan lain sebagainya. Cape ongkoh,” lanjutnya pula sambil tegur sapa dengan dua orang stafnya, diseling menandatangani berkas yang disodorkan di meja kerjanya.

Makan Siang Sederhana
Ceu Popong mengajak saya ke kantin untuk makan siang. Ia terbiasa puasa Daud, hari ini sedang kurang enak badan jadi tidak shaum. Saya agak heran, mengapa ia harus membawa serta dompet mungilnya, dalam asumsiku untuk anggota Dewan jika ingin makan sudah tersedia begitu saja.

Ternyata Ceu Popong harus pergi ke kantin di lantai bawah, makan bersama tamu dengan menu sederhana. Ia memilih sop, tumisan aneka sayur dan lalap sambal tomat. Minumannya selain air putih, pesan es cincau mutiara, sempat ditawarkan kepadaku, tetapi  saya menolak mengingat kadar gula agak tinggi.

“Ceu Popong mah da alhamdulillah teu geringan iwal ti salesma. Tah, mun ceuk jelema mah, nya, ayeuna keur flu ieu teh,” celotehnya dalam nada riang gembira, mengingatkanku kepada Emak yang telah tiada. Meskipun Emak sedang sakit, biasanya tetap saja ingin tampak sehat wal afiat, nyaris tak pernah mengeluh.

Melihat penampilannya, wajahnya yang segar awet muda, Ceu Popong memang tersirat sehat wal afiat. Dalam usia 76, aktivitasnya luar biasa padat, selain sebagai anggota Dewan, ia pun memegang jabatan sebagai ketua, penasehat, pembina dari berbagai organisasi sosial, pendidikan, kesehatan, kesenian, dan entah apa lagi.

Kisah-Kasih Istri Prajurit
Sambil makan, Ceu Popong berkenan menjawab pertanyaanku seputar kebersamaan dengan suaminya, Otje Djundjunan. Mendiang ayah saya sering cerita tentang komandannya, Otje Djundjunan, sesama prajurit Batalyon 11 April Siliwangi, Jawa Barat.

Pernah menjabat Walikota Bandung, Otje Djundjunan yang telah berjuang bersama pasukan Siliwangi zaman Revolusi, meninggal karena serangan jantung usai menghadiri upacara ulang tahun 11 April pada tahun 1986.

“Ada kesepakatan dengan Bapak,” ujarnya mengenang masa-masa sebagai istri prajurit.”Kami gantian setahun sekali menjadi pimpinan dalam rumah tangga. Umpamanya, tahun ini Bapak yang mengurus berbagai hal kerumahtanggaan. Mulai dari bayar listrik, telepon, pajak mobil, urus SIM, gaji pembantu, bayar sekolah sampai ambil raport anak-anak. Tahun berikutnya bagian Ceu Popong.”

“Mengapa begitu, Ceu Popong?”
“Satu hari Papi bilang, kita tidak tahu umur itu kan milik Gusti Allah. Tetapi seandainya ajal itu datang, Papi lebih pilih yang pergi mendahuluimu. Karena dirimu perempuan tangguh, tidak cengeng. Nah, kalau dibiasakan mengurus semuanya itu, kelak akan menjadi biasa. Kan alah bisa karena biasa.”

Ketika suratan takdir memisahkan pasustri bahagia dan harmonis ini, Ceu Popong memang tidak lantas berkubang dalam dukacita perkabungan, apalagi mengalami kebingungan berlama-lama. Sebab sudah terbiasa mandiri dan mampu mengatur semua urusan rumah tangga.

“Rasanya Bapak masih ada saja. Ceu Popong melaksanakan semua tugas itu seakan-akan sedang giliran,” paparnya tersenyum ikhlas, keibuan.

Lima Periode Sebagai Anggota Dewan
Ceu Popong diamanahi oleh rakyat sebagai wakil dari fraksi Golkar, pildapil Jawa Barat. Era Orde Baru dua kali, rehat selama sepuluh tahun pasca reformasi, kemudian aktif kembali pada tahun 2009 hingga sekarang.

Pada Sidang Paripurna DPR beberapa hari yang lalu, sosok perempuan Sunda ini menjadi bintang. Sebagai anggota Dewan tertua, Ceu Popong diamanahi menjadi pimpinan sidang sementara. Gayanya yang tegas, berwibawa dengan logat Sunda yang khas, sontak menyedot perhatian; bukan saja semua anggota Dewan yang hadir melainkan juga berjuta mata pemirsa bangsa Indonesia yang mengikuti Sidang Paripurna yang ditayang melalui televisi.

Dinihari ini, tanpa mengharap balasan, mengingat ia sedang menjadi bintang dan sorotan berjuta rakyat Indonesia, saya SMS juga sbb:”Ceu Popong anu geulis tur solehat, damang?”

Ternyata selang kemudian mendapat balasannya, begini:”Aduh, Ceu Popong meuni GR disebat geulis tur solehat, hehe.”
"Reueus, Ceu Popong, kereen!"
"Ngawakilan urang Sumedang."

Subhanallah, ia memang sosok luar biasa. Di tengah kesibukannya yang super padat, masih berkenan meluangkan waktu membalas SMS dari seniman macam saya. Wilujeng, Ceu Popong, mangga diduakeun sing sehat salawasna, berjuang tak kenal lelah demi menunaikan amanah para pemilihmu. Bravo, Ceu Popong! (Jakarta, 3 Oktober 2014)

  



Posted in: |