Home » » Tak Izin Keluarga di Nagasaribu: Walimahan Nyaris Urung

Tak Izin Keluarga di Nagasaribu: Walimahan Nyaris Urung

Ini foto pengantin putriku Butet dan Firman


Sekali kunjungan tampaknya ada lampu hijau dari keluargaku. Maksudku, En, suaminya dan orang tuaku toh tak sampai mengusirnya saat dia muncul di tengah mereka.

“Minggu depan aku akan datang ke Cimahi, melamar kau secara resmi!” ujarnya saat kami berpisah.
Aku merasa akan gila menghadapi kesintingan begini. Namun, aku tak banyak bicara kepada keluargaku tentang hal ini. Maka, aku berkemas pulang ke pavilyunku di Cimahi.
Selama dalam penantian itu, aku memperbanyak sholat lail, istikharoh dan shaum. Aku pun semakin rajin menulis, menulis dan menulis… Aku merasa harus mempersiapkan segalanya sendirian!
Ya, jangan bergantung dalam hal keuangan kepada orang tua, tekadku dalam hati. Lagipula, kasihan mereka sedang membiayai adik-adik sekolah. Tiga orang adik kuliah dan dua lagi di bangku SMA. Dengan penghasilan seorang perwira menengah, ayahku masih harus “mengemis” kepada adikku En untuk membiayai kebutuhan pendidikan anak-anak.
Setahun terakhir, sejak adikku menikah, sebagian beban di pundakku terangkat. Maksudku, sebagian besar honorku tak harus seluruhnya diserahkan kepada orang tua kami. Jadi aku mulai membeli perhiasan emas, gelang, kalung, cincin bahkan gengge, yakni gelang kaki juga terbuat dari emas.
“Nah, sekarang aku sudah lumayan kaya,” bisikku manakala bercermin. “Aku cukup bahagia, apalagi kalau memang ada lelaki yang mau memperistriku.”
Malam Minggu berikutnya, benarlah dia datang… seorang diri!
Reaksi ayahku sudah bisa kutebak, langsung heboh!
“Mana ada orang melamar kucluk-kucluk sendirian, tanpa pengantar, tanpa apapun selain ucapannya; aku mau melamar putri Bapak?” ceracau mantan prajurit Siliwangi yang saat itu ditugaskan di Kodam Jaya.
“Apa Nak Yassin tidak punya keluarga?” bertanya ibuku dengan segala kebersahajaannya.
Aku menguping dari balik rak buku besar yang menghalangi kamarku dengan ruang tamu. Hatiku, dadaku dan jantungku serasa tak karuan. Sebuah penantian yang paling mendebarkan sekaligus menakutkan!
Kudengar dengan jelas (karena suaranya lantang!) dia menjelaskan tentang posisi dirinya di tengah keluarga besarnya. Bahwa belum lama abangnya menikah dan banyak menghabiskan biaya, disokong penuh oleh orang tuanya di kampung.
Jadi, menurutnya tak mungkin kalau dia mengharapkan bantuan dana dari orang tuanya pula. Juga tak bisa menjanjikan kehadiran mereka untuk datang ke Jakarta, melamarku sebagai pendamping hidupnya. Ayahnya telah tua dan ibunya sakit-sakitan.
“Baik, kami paham dengan keadaan orang tuamu,” tukas ayahku, terdengar mulai tak sabar. “Tapi tentunya ada salah seorang keluargamu… abangmu, bukankah tinggal di Jakarta?”
“Iya, ada abangku, tinggal di Utan Kayu…”
“Nah, kalau begitu ajaklah serta abangmu itu ke sini pada saat akad nikah kalian nanti,” pinta ayahku tegas.
Pertemuan itu berakhir dengan janjinya untuk membawa serta abangnya, sebagai pendamping, pada waktu pernikahan kami. Hanya seminggu, surat-surat yang dibutuhkan telah selesai. Dia mengirimkan surat numpang nikahnya via pos kilat khusus. Kemudian ayahku segera mendaftarkan jadwal pernikahan kami.
Sebulan kemudian, malam Ahad, walimahan akan dilangsungkan. Dia memang muncul, tapi masihlah seorang diri. Sementara beberapa kerabat dekat telah berdatangan sejak siang. Ada yang menyiapkan jamuan alakadarnya. Kuingat adikku En tidak hadir, konon karena si kecil sedang kurang enak badan.
“Kami sudah siap, tapi mengapa datang sendirian?” sambutku menyongsongnya di ruang tamu.
“Sebentar, memang tak ada yang mengantarku,” dia berkata agak gugup. “Kurasa kita harus menunda pernikahan ini…”
Degh… jegheeer!
Kalaulah pernah, barangkali seperti itulah rasanya tersambar petir. Kupandangi wajahnya yang berkeringat, kurasai aura kegugupan, ketakutan maha hebat dari dalam dirinya.
“Iya, Sayang, kumohon pengertianmu,” lanjutnya semakin gugup. “Ini ada surat dari kampung, surat dari ibuku… Isinya dia tak mengizinkanku menikahi halak Sunda… Aku takut menjadi anak durhaka… Aku tak ingin berdosa kepada ibuku… Tak ingin menjadi seperti si Sampuraga…”
Dia memperlihatkan secarik kertas kumal, tulisan ala cakar ayam, kutahu kemudian bahwa itu bukan ditulis oleh ibunya melainkan oleh seorang keponakan. Sebab ibunya perempuan desa yang tak mengenal huruf, baik latin maupun Arab.
Aku tak ingin mendengar penjelasannya lagi. Jadi, kutinggalkan saja lelaki itu termangu di ruang tamu. Kuberi tahu tentang hal itu kepada ayahku.
“Terserah Bapak, mau diapakan saya, terserah. Mohon diselesaikan dengan baik,” berkata aku kepada pejuang ’45 itu, tegar, setegar-tegarnya.
Ada apa, Teteh?” buru bundaku, mengikuti langkah sulungnya ke kamar adikku.
Sengaja kupilih kamar itu, sebab aku tak ingin mendengar apapun lagi dari percakapan mereka. Kalau di kamarku, niscaya akan dengan jelas segala omongan orang-orang yang berada di ruang tamu.
“Sudahlah, Mak, biarkan saya sendirian di sini, ya?” pintaku memelas. Meskipun terheran-heran, ibuku meninggalkanku, kurasa dia langsung mencari tahu ke ruang tamu.
Sementara mereka ribut di luar, aku memilih duduk dengan tenang di atas perantian sholat. Syukurlah, sebelumnya aku telah menolak segala pernak-pernik baju walimahan atau pengantin. Aku hanya mengenakan sehelai gaun putih terbuat dari katun, berenda-renda dengan model sangat sahaja. Inilah baju terbaik yang pernah kumiliki, dan kubeli saat wisata ke Bali. Sebagian besar bajuku terdiri dari celana jeans dan kemeja kedombrongan.
Aku melirik jam dinding, telah satu jam lewat dari waktu walimahan yang telah dijadwalkan. Mulai ada yang berguguran di hatiku. Sesungguhnya aku lebih memikirkan perasaan orang tuaku, keluarga besarku, daripada perasaanku sendiri.
“Bagaimana mungkin ada orang yang berani mempermalukan dan mencoreng nama baik Bapak, Tuhan?” kesahku mulai menyesali, mengapa aku membiarkan hal ini terjadi.
Tidak, aku tak boleh menyesali apapun!
Jadi, aku kembali menenteramkan diriku sendiri, melabuhkan segala resah-pasah jiwaku ke dalam untaian doa dan zikir. Aku larut, aku terbuai dalam kepasrahan total kepada Sang Khalik. Beberapa saat kemudian, jiwaku, ragaku serasa mengapung…. Hampa dan ringan sekali!
Kurasa, aku telah menemukan jatidiriku yang sesungguhnya. Bukan perempuan cengeng, manja, apalagi cepat menyerah. Pendeknya, aku telah berserah diri kepada-Nya, apapun yang terjadi, aku yakin itulah yang terbaik bagi kami.
Pintu kamar diketuk, muncul wajah bunda tercinta dengan air mata berlinangan.
“Dia menyerah setelah disodori pistol sama bapakmu!” ujarnya berat sambil berurai air mata.
“Apa? Dia di… pistol?!” seruku tertahan, tak paham.
“Iya, akhirnya anak muda itu menyerah juga,” lanjut bundaku, terdengar ada kepiluan dan kecemasan yang dalam melalui suaranya yang parau.
Samar-samar kudengar suaranya, “Baiklah, jadikan saja walimahannya!”
Aku merasa sejak saat ini hubunganku dengannya ada yang aneh, tapi aku tak tahu di mana keanehannya. Namun, aku telah bersumpah dalam hati, bahwa sejak saat ini akan kubaktikan seluruh hidupku untuknya, seorang lelaki yang telah memperistriku… Apapun alasan di balik hasratnya itu!
Sebab dialah satu-satunya lelaki yang telah merubuhkan benteng pertahanan diriku; Mencoba untuk Bertahan itu, kemudian memberiku sebuah pintu lain bernama pintu perkawinan.
***

0 komentar:

Posting Komentar

Recommend us on Google!

Tulisan Terbaru