Home » » Cita_Cita Butet Waktu Kecil

Cita_Cita Butet Waktu Kecil




Ketika putriku yang biasa kami panggil Butet, mengatakan cita-citanya; kepingin menjadi penari Jaipongan, aku tertawa geli sekali. Umurnya ketika itu baru tiga tahun, lagi senang-senangnya lihat tayangan para penari Jaipongan di televisi.
Cuma cita-cita seorang bocah!

Kelas tiga SD, Butet mengatakan lagi tentang cita-citanya. Ketika itu aku sedang menulis (masih dengan mesin ketik!) dia menghampiri, langsung menggelendot manja di lenganku.
“Mama, mmm, boleh nggak kalo Butet punya cita-cita?”

“Lho, boleh saja atuh! Kita memang harus punya cita-cita,” sahutku tanpa menghentikan keasyikan menulis.
Sudah biasa bagi anak-anakku, ibunya bisa menjawab pertanyaan, bahkan sambil memasak menyambi dari aktivitas menulis.

Wajahnya mendongak, sepasang matanya yang bening mencari mataku. Ada teka-teki lucu di sana, membuatku tersenyum. Memiliki anak perempuan seaktif dan seenerjik macam dia, sungguh sering membuatku bangga sekaligus haru. Dia punya sejuta ide, akal dan teka-teka ajaib di benaknya!

“Memang Butet kepingin jadi apa sih kalo gede nanti?” tanyaku jadi penasaran saat dia malah terdiam, matanya mengerling nakal menahan teka-tekinya.
“Butet mau jadi dokter aja ‘kali, ya Ma? Biar bisa ngobatin Mama,” sahutnya sejurus kemudian, terdengar bagaikan lagu merdu sejagat di telingaku.

“Subhanallah, anak Mama, iiih! Si Cantik Jelita!” kuhentikan segala aktivitas, novel yang menggantung dan apapun itu, kupeluk tubuhnya yang imut-imut.
“Mmmhuaah, mmmhuaaah…”

Aku menghujani pipi-pipinya yang ranum itu dengan ciuman. Dia terkikik kegelian, kemudian balik lagi ke timbunan buku bacaannya. Melanjutkan aktivitas bermainnya di lautan buku. Sementara aku melanjutkan ‘tak-tik-tok’ tanpa gangguan apapun.

Beberapa tahun cita-citanya itu kelihatannya tidak berubah. Seiring dengan prestasi-prestasinya di sekolah, selalu peringkat pertama. Menyabet beberapa penghargaan dari lomba-lomba yang diikutinya; lomba pidato, lomba menulis surat untuk Presiden, lomba cerdas cermat dan lainnya.

Cita-cita itu kembali ditegaskannya, ketika aku terkapar di ruang UGD RSCM, dengan takaran darah ngedrop.

“Butet beneran deh mau jadi dokter aja. Biar bisa ngobatin Mama. Biar kalo ditransfusi, Mama gak perlu ke rumah sakit. Tapi ditransfusi sama Butet aja di kamar sendiri, yah, Ma, yah…?”
Aku hanya mengangguk terharu. Cinta-cita yang sangat mulia!

Hingga suatu hari aku menyadari, Butet rajin sekali mengisi buku hariannya. Kelas lima SD, tapi sebelumnya pun kutahu dia sudah hobi menulis buku harian.

Buku harian milik putriku di sini bukan sebuah buku bagus yang biasa kalian lihat di etalase toko. Buku hariannya berupa kertas-kertas ketik tak terpakai, diklip, dan diberi sampul yang digambari lucu-lucu, rekaannya sendiri.
Yeah, itulah diari Butet!

Kadang diam-diam kucuri baca, karena dia sering sembrono meletakkannya begitu saja. Isinya lucu-lucu. Mulai dari keluhannya tentang kesepian, tak punya teman bermain, ejekan teman-teman karena kemiskinan kami. Sampai protesnya terhadap ‘kejamnya dunia ini’ demikian istilahnya.

Terkadang bibirku mesem-mesem, sering pula sampai terkikik-kikik geli membaca isinya yang ‘begitu kaya kosakata, rasa bahasa’. Ini bukan sekadar catatan harian seorang bocah berumur sembilan tahun, pikirku.
“Mama jangan gitu dong. Masa catatan harian orang dibaca, iih,” protesnya suatu kali memergoki kelakuanku.

“Makanya, simpan yang baik, ya, maaf… Tapi boleh kan Mama beri komentar?” bujukku menenangkan hatinya yang mungkin saja memang tersinggung berat.
“Tadi itu sepertinya sebuah cerpen, ya?”

Dia akan mendengar komentarku dengan seksama, kutahu itu. Dia meresapkan setiap kata demi kata yang kulontarkan. Sehingga acapkali kata-kata dan pemikiranku itu kembali akan tertuang dengan sangat pas di catatan hariannya.
Ya, akhirnya, Butet menyerap ilmu yang kumiliki, sekaligus pula bakat yang kumiliki!
***
Pada pertengahan 2001, ketika umurnya sebelas tahun dan kelas satu SMP, cerpen perdananya mejeng di harian Radar Bogor. Bahkan di rubrik sastra dan budaya, di mana di bawahnya ada esai seorang budayawan nasional. Subhanallah!

“Waaah, Butet mau jadi penulis juga, ya! Keren… meeen!” komentar abangnya, bernada memuji.
“Abang bisa aja, makasih deh,” Butet tersipu-sipu.
“Dulu Abang cuma di majalah Bobo, rubrik anak kecil. Namanya juga kelas dua SD…”
“Iya, hebat euy!” pujiku pula ikut nimbrung, mengamati karya perdananya itu.

Anehnya, Butet hampir tak memperlihatkan reaksi yang berlebihan. Tak seperti ibunya ketika karya perdananya mejeng di majalah Aktuil puluhan tahun yang lalu. Aku masih ingat, kuborong beberapa majalah Aktuil, kubagikan kepada sanak keluarga dan teman terdekat.

“Ah, Abang juga dulu gak gitu-gitu amat tuh. Mama aja norak, hehe…” Haekal balas mengomentari kisah lamaku.
Ya, mungkin karena mereka masih punya kebanggaan lain di samping melihat karya mereka dimuat di koran atau majalah. Prestasi, harapan dan cita-cita, masa depan yang masih panjang serta menjanjikan.

Sementara aku saat berangkat menulis justru karena ingin punya teman, meraih harapan dan mimpi-mimpi seorang remaja. Namun, ada yang menyakitkan tak lain komentar ayahnya, Meskipun itu hanya disampaikan kepadaku. Intinya dia meragukan bahwa cerpen itu murni karya putrinya. Dia malah menuduhku telah merekayasa.

“Jangan hancurkan anakmu karena ambisimu…”
Luka itu sempat menganga di hatiku!

Aku berharap komentar ayahnya tak pernah sampai di kupingnya. Komentar yang bisa sangat menghancurkan hati mungilnya. Belakangan kutahu, Butet pun mengetahui sikap ayahnya terhadap aktivitas menulisnya itu.

“Gak apa-apalah, Mama. Butet udah terbiasa kok diremehkan orang. Bahkan sama bapak sendiri,” ujarnya terdengar tabah.
Baguslah, dia mewarisi ketegaran hatiku!

Berangkat dari sinilah, sejak saat itu, aku justru mendukung sepenuhnya kegiatan kepenulisan Butet. Bila dulu aku sering mengingatkannya, agar tidak mengikuti jejakku sebagai seorang penulis. Kini aku sering mendorongnya agar terus berkarya.

“Ayo, Butet, Cantik, buktikan kepada dunia! Kamu bisa meraih mimpi-mimpimu!” bisikku di kupingnya saat berdampingan membaringkan diri di tempat tidur. Hingga saat ini kami masih satu kamar.

Aku langsung mengarahkannya, mengomentari, memberi petunjuk; mulai dari tanda baca, nalar, logika, penglataran, penokohan, karakter sampai masukan tentang ide-ide yang layak digarap untuk anak ABG.
Kutahu sejak saat itu pula Butet semakin rajin mengirimkan cerpen-cerpennya ke sebuah majalah Islam. 

Meskipun tak pernah sekalipun dimuat kecuali satu artikel pendek. Diam-diam dia pun mengirimkan kumpulan cerpen yang dijadikannya serial itu ke sebuah penerbitan Islam.
“Apa sih yang bikin Butet serajin itu ngirimin cerpenmu?” usikku suatu kali.
“Eeeh, kan nanti dapat honor, ya Ma?”

“Iya… Trus?”
“Honornya mau Butet belikan keperluan sekolah, baju, sepatu, tas,” gumamnya sambil melayangkan tatapan ke arah barang-barang miliknya yang tak seberapa.

Kuelus rambutnya, saat itu dia belum lama berjilbab, sepenuh sayang. “Maafkan Mama, ya, belum bisa memanjakanmu,” kataku.
“Eee, Butet gak minta kok. Mau beli sendiri, haruuusss!” tekadnya.
“Si cantik jelita Mama ini, subhanallah,” aku memeluknya erat-erat.

“Naaah, kalo masih ada sisanya baru dibagikan buat Mama, buat Abang,” tambahnya pula buru-buru.
Kulihat sekilas ada butiran bening menggantung di sudut-sudut matanya. Aku bisa menangkap kegalauan hatinya, rasa tak berdayanya, hasratnya yang luhur untuk membantu ibunya.
Aduuuh, Cinta!

0 komentar:

Posting Komentar

Recommend us on Google!

Tulisan Terbaru