Home » » Film TV: Tukang Pos, Penari Jaipong dan TKW

Film TV: Tukang Pos, Penari Jaipong dan TKW

Produser: Alex Komang
Sutradara: Dedi Setiadi
Skenario: Nenden Salwa/Pipiet Senja


Outline Global:
Di kampung kecil Subang, kampung Margacinta, Suratman tukang pos tinggal dengan status bujangan. Rumahnya sangat sederhana, sebagaimana karakternya yang juga lugu dan bersahaja. Tekun dan rajin serta setia dengan pekerjaannya sebagai pegawai pos. Dia berkeliling kampung dengan motor dinasnya. Hidupnya aman, damai dan sejahtera saja.

Suratman suka mampir di warung Bibi Minah dekat proyek perumahan. Bibi Minah punya seorang anak perempuan, Atikah, lugu dan malu-malu. Diam-diam Atikah naksir Suratman. Demikian pula Suratman. Namun, keduanya sama memendam perasaan cinta di dalam hati belaka. Mereka, sejoli asli kampung Parahiyangan yang lugu, malu-malu, dan hanya menunggu waktu.

Suatu hari datanglah rombongan jaipongan ke kampung Margacinta. Bintang penari jaipongnya adalah Euis. Lenggak-lenggok, gemulai dengan bodi bohay aduhay, Euis selalu berhasil memikat hati para lelaki. Bahkan Suratman yang aslinya pemalu, karena dorongan teman-temannya, akhirnya datang juga ke arena jaipongan.

Terjadi keributan, ketika ada anak Bupati yang melakukan tindak pelecehan terhadap Euis. Dari sekian banyak pemuda dan penonton malam itu, ternyata hanya Suratman yang punya nyali. Dia menyambangi panggung, menghajar telak si Franky, anak Kepala Desa itu, hingga terpelanting dari panggung dan nyungsep di kaki gengnya. Suratman terpaksa membawa kabur Euis dari kampung Margacinta, karena dikejar-kejar oleh gerombolan suruhannya si Franky. 

Demi keselamatan rombongan jaipongan  yang dituding masyarakat sebagai pembawa keributan, biang onar, maka Abah Gani, pimpinan Lingkung Seni Jaipong Margacinta, mempunyai sebuah ide. Yakni menikahkan Euis dengan Suratman. Dengan pernikahan Euis-Suratman, menurut pemikiran Abah Gani, maka rombongan seninya akan membuktikan kepada masyarakat bahwa mereka bukan perusak, bukan biang onar. 

Buktinya, seorang pegawai pos yang sederhana, setia dan jujur saja mau menikah dengan salah satu bintang mereka. Bintang, penari jaipong dinikahkan dengan tukang pos, Suratman.
Sejak saat itulah lakon hidup Suratman menjadi gonjang-ganjing. 

Perkawinannya sama sekali tidak bahagia. Eruis tak pernah sudi disentuh Suratman. Euis menjadikan Suratman sebagai budaknya saja, hanya disuruh-suruh oleh Euis yang bintang Jaipong. Ketika bintangnya pudar, kalah oleh penari goyang ngebor, Euis meninggalkan kampung Margacinta.

Euis kemudian mengembangkan diri, menjadi penari latar, sesuai tren sekarang. Awalnya dia harus mengenakan rok serba minim, kemudian hanya pake bikini. Namanya pun telah berubah menjadi; Cinthya. Dia menjadi cewek kosmopolitan yang bergelimang kehidupan hedonis, serba free, memudahkan segala urusan. Hubungan suami-istri dengan Suratman pun putus sudah.

Cinthya menjadi bintang penari erotis yang terkenal di jagat klub malam. Sering dipanggil para pebisnis, konglomerat etnik Tionghoa sebagai pendamping. Bahkan beberapa petinggi dan anggota Dewan pun sangat menggandrunginya.

Sementara Suratman kembali melanjutkan profesinya sebagai tukang pos. Berkeliling dengan sepeda ontelnya, mengantarkan surat-surat. Suratman kembali menemukan cinta lama pada diri Atikah. Karena gugup dan terlalu malu, Suratman selalu gagal menyatakan perasaannya kepada Atikah.

Atikah merasa malu karena telah menjadi perawan jomblo, usia 20-an belum nikah, di kampungnya merupakan aib. Akhirnya Atikah menurut saja ketika Bibi Minah memintanya agar menikah dengan seorang mandor.  Tapi mandor itu bukan lelaki baik, dia menikahi Atikah hanya untuk pelampiasan saja. Setelah Atikah hamil, maka si mandor itu meninggalkannya.

Atikah sakit hati, meskipun Suratman menyatakan ingin menikahinya, ia telanjur merasa malu diri dan tidak pantas menjadi istri lelaki sebaik Suratman. Setelah melahirkan, Atikah memutuskan untuk pergi ke Malaysia menjadi TKW. Bibi Minah malah sangat bangga, karena putrinya yang hanya tamatan SD bisa bekerja di luar negeri. Sambil menimang cucu tercinta, berkeliling ke rumah tetangga, Bibi Minah membanggakan keberhasilan Atikah.

Atikah sering mengirimkan suratnya, mengabarkan bahwa dirinya telah mendapatkan pekerjaan yang bagus dan majikan yang baik. Bibi Minah tidak bisa baca-tulis, tapi ngaji mah oke. Maka, setiap surat yang datang selalu dibacakan oleh Suratman. Jika tidak ada kiriman wessel, maka diam-diam Suratman mengisi amplop tersebut dengan uang dari koceknya sendiri.

Suatu hari, datanglah surat dari Siti, yakni sobatnya  Atikah. Isinya mengabarkan bahwa Atikah mengalami pelecehan seksual, dia akan diperkosa oleh majikannya. Atikah menghantamkan botol ke kepala majikan yang hendak memerkosanya hingga terluka parah. Kini Atikah berada di dalam penjara Raja Di Raja Malaysia.

Suratman sungguh tak tega menyampaikan surat tersebut. Maka, dia terpaksa berbohong kepada Bibi Minah. Mengatakan bahwa Atikah baik-baik saja, bahkan mengirimkan sejumlah uang yang lumayan besar untuk ibu tercinta. Bibi Minah kembali membanggakan putrinya sebagai TKW yang sukses di Malaysia. Para tetangga pun berdecak-decak mengaguminya.

Satu hari, Suratman kembali menerima surat dari Siti. Isinya mengabarkan bahwa Atikah telah tewas di dalam penjara, dinyatakan sebagai bunuh diri. Saat itulah Suratman tak bisa berbohong lagi, ia memberitahukan hal ini kepada Bibi Minah yang langsung syok berat, depresi bagai orang gila.

Suratman pergi ke Malaysia bersama Sarman, teman sekampung yang juga akan menjemput anaknya, Sari. Anak perempuan 9 tahun itu korban traficking yang kini berada di penampungan TKW di KBRI Malaysia.

Sari sedang jalan bersama temannya di Mal di Bandung, diajak seorang lelaki yang mentraktirnya dan teman-temannya. Mereka berlima, semuanya anak perempuan ABG (9-13 tahun), setelah makan dan minum di kafe, mendadak tak sadarkan diri. Ketika siuman mereka telah berada di atas kapal laut yang sedang berlayar menuju Malaysia.

Di negerti jiran, Suratman dan Sarman menemukan banyak informasi tentang penderitaan TKW. Mereka melihat dengan mata kepala sendiri, bagaimana pasukan Raja Diraja Malaysia melakukan penertiban, menangkapi pendatang ilegal. Bahkan Suratman dan Sarman sempat disangka pendatang haram, mereka digaruk dan dimasukkan kendaraan para kriminal, dan dijebloskan ke penjara.

Seorang petugas dari KBRI datang membebaskan Suratman dan Sarman. Itu terjadi karena Siti yang suka Fesbukan, menuliskan lakon Atikah di notenya. Siti juga mewartakan tentang salah tangkap pihak polisi Raja Diraja Malaysia, sehingga Suratman dan Sarman dijebloskan ke penjara.

Singkat cerita, Suratman berhasil membawa pulang jenazah Atikah ke Tanah Air. Sepanjang perjalanan di samping jenazah Atikah di dalam ambulans, slot lakon Euis atau Cinthya yang sedang mabuk popularitas berseliweran di benak Suratman. Berita terakhir Cinthya dijadikan gundik seorang anggota Dewan yang ditembak mati di jalanan Tol suruhan lawan politiknya.

Alih-alih mendapat penghargaan atas perjuangannya membawa jenazah Atikah ke kampung Margacinta, Suratman malah dituduh sebagai penyebab kematian Atikah. Franky, anak Kepala Desa yang punya dendam lama memfitnah Suratman. Beberapa waktu lamanya Suratman berada di balik sel penjara di Bandung. Ia dibebaskan berkat perjuangan Siti yang pulang dari Malaysia, memberi kesaksian dan menyerahkan bukti-bukti beberapa surat asli dari Atikah.

Cerita diakhiri dengan pertemuan antara Suratman dan Siti. Sementara Cinthya alias Euis pulang dalam kondisi memprihatinkan, terkena penyakit AIDS!
Misteri kematian Atikah tetaplah sebagai misteri. Sebagaimana nasib yang pernah dialami ratusan, ribuan TKW lainnya, semuanya menjadi bias, tak menentu. (Pipiet Senja)



0 komentar:

Posting Komentar

Recommend us on Google!

Tulisan Terbaru