Home » » Suatu Hari di Tanah Riau: Dendang Melayu Sungguh Merdu

Suatu Hari di Tanah Riau: Dendang Melayu Sungguh Merdu



Agustus 2005, Sabtu yang cerah;
Aku dan Ketum FLP, Irfan Hidayatullah diundang sebagai pembicara pada acara pelantikan pengurus FLP Riau. Kami berangkat setengah empat subuh, karena pesawat terbang pukul tujuh. Ketum sudah menginap di Wisma GIP. 

Aku dibonceng Haekal dengan motor kesayaannya, biasa... beeeerrr... ngebuuuut!
Oya, Laura Khalida (penulis 5 buku, pengurus FLP Depok yang juga humasnya Wisatahati Corporation) ikut bersama kami. Karena rencananya kami akan melanjutkan perjalanan ke Batam, silaturahmi dengan FLP Batam.

Masih senyap waktu aku sampai di pintu gerbang GIP, celingukan... iseng euy!
"Sebentar tunggu dulu, ya Nak, sampai ada orang," pintaku kepada Haekal.
"Iyalah, masa Mama ditinggal sendirian di sini. Emang Mama berani?"
"Eee... ngeledekin!"
Aku memandangi wajah putraku yang tengah sibuk wara-wiri seminar, ujian akhir untuk menyelesaikan S1 di Departemen Ilkom IPB. Wajahnya tampak letih, dia sempat mengeluh sakit kepala, keleyengan.

"Baik, aku akan segera ke situ," kubaca SMS dari Ketum.
"Masih di jalan neh, Teh!" SMS Laura.
Gema tilawahan dari masjid sayup-sayup. Kulihat deretan rumah karyawan Gema Insani Press, lengang, sampai akhirnya muncul sosok imut-imut. Hehehe, manajer penerbitan GIP, Pak Kusmanto.

"Eeeh... rumah Pak Kus di sini ya?" sapaku. "Perasaan dulu di belakang, ya?"
"Iya Teh, ini belum lama pindah. Irfan belum ke sini, ya Teh?"
"Belum. Sudah di-SMS, sedang menuju ke sini, katanya..."
"Tapi pintu gerbangnya masih dikunci..."

Pak Kusmanto cekatan sekali membuka pintu gerbang rumahnya, kemudian memanggil Satpam yang tergopoh-gopoh keluar dari kantor GIP. Kami beriringan menuju Wisma Gip, tapi bersilang jalan dengan Irfan. Aku lebih memilih menunggu di bawah, sementara Pak Kusmanto dan Irfan kembali ke kamar untuk mengambil makanan ringan dan aqua.

Tak berapa lama kemudian muncul Laura, diantar sopir dengan sedan bagusnya. Pak Minto, sekretaris umum yang juga bisa dimintai bantuan mengantar-jemputku ke bandara, atau tempat-tempat seminar se-Jabotabek, muncul dengan kendaraan dinas.

Sepanjang perjalanan menuju bandara Sukarno-Hatta, aku terkantuk-kantuk. Maklum, tidur hanya sekitar empat jam, berusaha keras menyelesaikan satu bab novel, tapi sampai detik terakhir keberangkatanku, hasilnya; belum finishing!

"Sering banget aku ke bandara ini, tapi gak pernah sekalipun naik pesawat," ujar Pak Minto dalam nada canda. "Terakhir mengantar Ustad Fauzil Adhim..."
"Suatu saat, insya Allah, aku akan mengajak Pak Minto terbang," janjiku diikuti tawa renyah lelaki berhati tulus itu.

Kami terbang dengan Wings Air yang berapiliasi dengan Lion. Seperti biasa, penumpang tak pernah diberi snack oleh Wings Air, sekadar aqua yang biasanya pula selalu kutolak. Aqua... gitu loooh! Kata Fauzil Adhim, ini perusahaan Danone punya bisnisnya Yahudi. Sekalipun tidak dikaitkan dengan Yahudi, aku memang tak menyukai minuman aqua ataupun air bening. Aku lebih suka meminum teh manis atau cofeemate.

Sekitar satu jam 20 menit, pesawat pun mendarat... zhieeeeng, gujreeeg, gujreeeg...
"Astaghfirullahal adhim..." dadaku berdebaran kencang sekali.
"Kenapa... gak apa-apa, Teteh?" Ketum memandangi wajahku yang pasti pias. 

Eeeh, biarpun gak ada kejadian gujreg-gujreg juga, memang pasti pias. Wong takaran darahku hanya 7 % gram. Aku belum ditransfusi, karena bilirubinku tinggi jadi ditunggu dulu sampai minggu depan. Selain limpa bengkak, kandung empeduku juga sudah lama terganggu, banyak batunya, sampai dokter meledekku; "Emangnya mo membangun benteng di perut, Bu?"

“Teteh?” Ketum mengulang, menatapku dengan cemas.
"Tidak apa-apa!"
Padahal aku jadi terkenang dengan kelembutan pilot SQ yang pernah membawaku dari Jakarta-Mesir pulang-pergi. Tak terasa, tak ada gujreg-gujreeeg... gitu loh!

Ternyata salah seorang panitia penjemput kami adalah Rina yang pernah kukenal 2003, pertama kali aku ke Pekanbaru untuk seminar yang diselenggarakan Gramedia dan Universitas Riau.

"Akhirnya... jumpa lagi, ya Dek," sapaku terharu saat kami berpelukan akrab.
Acaranya berlangsung di Gedung Perpustakaan Daerah. Diawali dengan sambutan-sambutan, kemudian pelantikan pengurus FLP Riau. Laura Khalida diberi kesempatan untuk sosialiasasi Wisatahati dengan penerbitannya. Renyah dan lincah juga gaya bicaranya nih anak... Bravo!

Dan inilah, bedah buku "Meretas Ungu" karyaku. Karena tidak disiapkan pembanding, maka kutunjuk saja Irfan sebagai pembandingnya. Bedah buku seharusnya memang demikian; ada penulisnya, moderator dan pembanding. Seperti yang telah kuduga, peserta memang baru saat itulah membeli novel "Meretas Ungu". Jadi, praktis bedah buku yang kuinginkan tidak terlaksana.

Meskipun demikian, kemeriahan, ketulusan membeli bukunya dan antusias peserta yang 200-an, sungguh sangat mengharukan hatiku. Setelah aku menyampaikan visi-misi, proses kreatif penulisan novel ini, maka digelar dialog interaktif. Ternyata memang semarak dan antusiasme tetap terpelihara hingga akhir!

Moderatornya, Resti (kukenal sejak tahun 2003, penyiar Radio Robbani milik Anis Matta), sangat apresiatif.
"Terima kaish, ya, Dinda," kurangkul akhwat manis itu ketika kami turun mimbar dan bergabung dengan audiens.

"Terima kasih telah membeli novel teteh, terima kasih..." ucapku terbata-bata, haru, kemudian sibuk menandatangani dan membubuhi kata-kata kenangan di novel Meretas Ungu yang dibeli peserta.

"Ini khusus aku beli buat hadiah. Bunda aku yang suka banget baca karya Mbak Pipiet," kata seorang akhwat berjilbab ungu. "Aku juga mengenal karya Mbak dari Bunda."
Kulirik di tangannya ada enam eksemplar Meretas Ungu. Subhanallah!

"Naaah... akhirnya jumpa juga kita di sini, ya Mbak," Taufik Ikram Jamil menyapaku dengan ramah. Khas seorang seniman sejati.

"Iya, Bang... Dulu itu, 2003, kita gak sempat jumpa," jawabku senang sekali, FLP Riau memiliki seorang penasehat sekaliber Taufik Ikram Jamil. Kukenal karya-karyanya sejak dekade 80-an.

Beberapa saat kami berbincang dan foto-foto, dia pamitan karena ada acara di komunitasnya. Oya, Taufik Ikram Jamil adalah ketua Dewan Kesenian Riau. Penyair senior yang telah banyak menyabet penghargaan, melakukan perjalanan budaya ke Belanda, Brunei, Malaysia dan negara-negara Asia lainnya.

Bedah buku selesai tengah hari, rehat sebentar kemudian dilanjutkan dengan acara yang disebut; pembekalan untuk pengurus FLP Riau, sharing, urun saran seputar FLP. Aku baru ngeh ternyata ada juga perwakilan dari FLP Dumai dan Bengkalis. Berlangsung seru, ternyata akhirnya bukan seputar ke-FLP-an, tapi ada satu-dua peserta yang melontarkan pertanyaan tentang kepenulisan. Meskipun sudah diworo-woro  bahwa workshop kepenulisan akan diselenggarakan esok hari.

Acara ditutup bada ashar. Kami diantar oleh Mbak Monita yang dikemudikannya sendiri ke Hotel Rauda, depan Mal.

"Jam tujuh kami jemput untuk makan malam, ya Teteh, Kang," janji Monita setelah menurunkan kami, kemudian mendaftarkan kami di resepsionis.

Tiket pesawat ke Batam untuk esok, kami peroleh dengan agak sulit dan harga yang (konon) dua kali lipat dari biasanya. Nyaris saja keberangkatan ke Batam urung, sebab panitia tak berhasil mendapatkan tiket. Berkat saudara Laura, akhirnya tiket ke Batam berhasil juga kami peroleh, langsung dikantongi Ketum.

Sesuai janjinya, Monita menjemput kami untuk makan malam di restoran Simpang Raya. Ada FLPkid, Zakia, putri Dina... Deuh... cantiknya, cerewetnya, pintar berpose, sungguh ngegemesiiin!

"Nah, Zakia ini anggota pertama FLP Kid Riau, ya?" ujarku yang disambut tawa ibunya, Dina, istri seorang dokter gigi yang ternyata orang Sunda. Bahkan Irfan pernah mengenalinya di Bandung.

"Dunia sempit... dunia kepenulisan memang melingkar-lingkar di sekitar penulis," komentarku, demi melihat Ketum akrab dengan sang dokter gigi, keponakannya adalah personil Mupla, nasyidnya Irfan.

Puas makan malam, kembali ke penginapan, aku mendapat kunjungan seorang babere suami. Tuti Khaerani, dosen Universitas Riau, pengurus PMI Riau. Kami ngobrol ngalor-ngidul, meskipun sudah ngantuk... hampir jam satu barulah tidur.

Ahad, 28 Agustua 2005
Nuansa Melayu terasa dengan sayup-sayup suara musiknya yang berdendang-dendang ala Siti Nurhaliza atau Iyet Bustami... Laksamana Di Raja... bener gak siiiih judulnya begini?

Kami dijemput sekitar setengah sembilan, meskipun sudah siap sejak pukul tujuh. Maklum, perutku keroncongan, kepingin minum hangat, jadi lebih awal masuk ke restro yang menyediakan sarapan pagi.

Sebelum acara dimulai, ada reporter TVRI Riau yang ingin wawancara. Kemarin juga sempat diwawancara. Mereka masih penasaran tentang FLP yang "payungnya bak raksasa". Jadi, kuberikan kepada Ketum untuk menjelaskan segala kepenasaran mereka.

Acara digelar, pembicaranya Irfan, aku dan dimoderatori oleh Joni Lis Efendi. Aku diberi 
kesempatan bicara setelah Irfan. Kalau Irfan mengangkat tema proses kreatif, asal-mula dia suka membaca dan menulis. Maka, aku menyisipkan kiat-kiat menembus redaksi. Ketika kuceritakan kembali bagaimana caraku menteror redaksi majalah Aktuil...

"Kalo gak dimuat nih puisi, awas, gw gentayangin loooh!"
Geeer... tawa pun membahana di gedung Perpustakaan Daerah yang lumayan luas itu. Dan seperti gayaku, memang banyak kuselipkan joke-joke segar yang bikin semarak, meriah suasananya.

Pukul duabelas, terpaksa kami mengakhiri acara karena ditunggu pesawat yang akan menerbangkan kami ke Batam. Ada sedih, ada haru, tapi senantiasa menyimpan kerinduan yang mendalam... Suatu hari nanti, ingin kudengar gaung kalian, karya kalian, wahai para penulis muda dari tanah Melayu!

Aku nantikan saat itu, sunggguh, takkan sanggup kulukiskan dengan kata-kata betapa bahagia hati ini membayangkan; sebuah barisan mujahid pena muncul, bergelombang dari daratan Riau.
Salam cinta!

0 komentar:

Posting Komentar

Recommend us on Google!

Tulisan Terbaru