Home » , , » Orang Bilang: Teroris Berkedok Penulis Kelas Teri

Orang Bilang: Teroris Berkedok Penulis Kelas Teri



Jakarta, 10 Juni 2012

Lebih sepekan setelah memposting sebuah tulisan di Kompasiana, yang telah dicabut beberapa menit setelah ditayangkan, penulis masih mendulang "popularitas" tak terduga di kalangan media massa Hong Kong.

"Wooow, kereeen dong, ya. Makin ngetop aja nih si Manini," komentar seorang sahabat, mencoba menghibur hatiku yang masih terasa kacau-balau, tepatnya seperti diaduk-aduk oleh cuka, garam di atas luka yang menganga dan berdarah. Sumpeee deeeh!

Sungguh, tak pernah terpikirkan, tak pernah menduga secuil pun jika hanya popularitas negatif yang akan diperoleh untuk sebuah tulisan "abal-abal". Sama sekali bukan berupa reportase, apalagi hasil investigasi, cek dan ricek, sebagaimana kinerja jurnalis pada umumnya.

Tulisan berjudul: "Victoria Park: Demi Meraih Dolar Segala Cara Dilakukan" hanyalah hasil obrolan ringan di rumah makan Indonesia, antara penulis dengan seorang teman yang mentraktir. 

Bahwa kami berdua melihat sepasang waria (bukan lesbi, ya!) dengan penampilan seronok, sama-sama makan di sebelah, kemudian kupingku menguping sekilas obrolan mereka.

Bahwa mereka, pasangan waria tersebut (entah BMI entah bukan, penulis sama sekali tidak menyebut status mereka) sering berkelindan antara Hong Kong dengan Macau.

Jika melihat cara bicara mereka serta dandanannya yang seronok, sesiapapun bisa menebak kira-kira profesi apa yang mereka geluti. Penghibur.

Kemudian, teman penulis mengatakan bahwa hal demikian sudah biasa, baik di Hong Kong maupun di Macau. Orang, baik bangsa kita maupun bangsa lainnya tentunya, banyak juga yang melakukan apapun demi meraup dolar.Ini sudah menjadi rahasia umum, sebenarnya, dan tidak perlu dibahas lagi atau menjadi sumber "merasa dilecehkan". 

Lah wong, sama sekali tidak menyangkut kehormatan, martabat siapapun, termasuk BMI Hong Kong yang selalu mengagumkan di mata penulis.

Nah, sampai di sini penulis tidak menyebut bahwa yang rela melakukan apapun demi meraup dolar adalah BMI, sama sekali tidak ada. Coba saja cermati secara utuh "tulisan obrolan ringan" tersebut, yang kini telah beredar luas di kalangan teman-teman BMI Hong Kong, berkat superkreatifnya sesiapapun itu. Meskipun telah dihapus dari akun penulis di Kompasiana.

Kami berdua selesai makan, kemudian keluar meninggalkan pasangan waria (sekali lagi bukan lesbi!) yang masih bisik-bisik mesra tersebut, melanjutkan obrolan ringan kami.

Temanku (tidak perlu disebut namanya dong, eh, mau tahu aje deh!) bawaannya memang suka berbagi cerita, lantas mengatakan bahwa ada kejadian yang lebih menyeramkan daripada profesi pasangan waria tersebut.

Jika dirinci kisah menyeramkannya sungguh membuatku merinding hebat. 
Betapa tidak? Mulai dari kejadian ditemukannya mayat bayi di keranjang sampah oleh majikan, yang hamil dan bayinya dijual, yang aborsi berkali-kali, sampai yang; bercinta, dempet, menggunakan pisang untuk memuaskan syahwat, lantas tertinggal di  vagina, banyak lagi lho!

Namun, bagi penulis sudah lebih dari cukup, maka stoplah dulu, yaouw!

Sesungguhnya hal-hal demikian sudah biasa dan pernah terjadi pula di kampungku sendiri. Namun, karena terjadi di luar negeri alias negeri orang, dan semuanya menyangkut kehormatan, martabat bangsa, ya, jadi terasa lain; menakjubkan!

Kesalahan penulis adalah (terdorong ingin mengingatkan kita, termasuk diri sendiri yang masih banyak alpa, dosa ini) langsung menuliskan obrolan ringan ini di blog dan Kompasiana. 

Akhirnya, demikianlah yang terjadi, ditambah kesalahpahaman (yakin demikian!) dan  opini yang digiring; bahwa si teroris berkedok penulis kelas teri ini, telah melecehkan BMI Hong Kong, dlsbnya.

Duhai, anak-anakku sayang;
Ini suara hati lahir dari hati yang terdalam, betapa peduli dan sayangku kepada kalian yang telah kuanggap sebagai saudariku, anak-anaku sendiri, yang senantiasa membuatku berdecak kagum, sehingga kuputuskan untuk konsen bantu menyuarakan hatimu. 

Ingatlah buku; Surat Berdarah Untuk Presiden, berisikan karya BMI, baik yang pedih, nestapa maupun yang sukses, gilang gemilang menuai keberhasilan. Kusunting, acapkali sambil bercucuran air mata bahna ikut larut dalam gelombang perjuangan kalian, serasa dirikulah yang dilecehkan majikan, digigit anjing, dipaksa makan babi, dimurtadkan, ya Allahu Akbar!

Sungguh, tak bisa kubayangkan andaikan diriku harus melakoni hari-hari melelahkan, berjuang demi masa depan anak dan keluarga, harus meninggalkan bayi yang baru berumur satu bulan, jauh dari suami yang setiap saat mudah tergoda perempuan lain. 
Ya Allahu Akbar, sungguh perjuangan yang sangat patut dihormati dan dikagumi!

Tengoklah buku; Kepada YTH Presiden RI, merupakan kegeramanku terhadap Pemerintah RI. Aku bertanya, aku berteriak, aku menggeram hebat;"Mengapa Pemerintah begitu bersemangat mengekspor para perempuan ke luar negeri,  jika perlindungannya sungguh sangat tipis?"

Demi Allah, ketika mendengar curhatan anak berumur 15 tahun yang dipalsukan dokumennya, dipekerjakan sebagai pengurus anjing sebesar anak kuda, demikian pengakuannya; kelaparan di negeri China, majikan jarang pulang, tak ada makanan dan terpaksa ikut mencolek makanan anjing. Hancur rasanya hati keibuanku!

Lama, lama sekali, sejak kudengar pada kunjungan pertamaku, 2010, hingga saat ini, detik ini sekalipun; curhatan anak itu masih mengendap di otakku, bermain-main dan menimpakan racun berbisa ke dalam hatiku.

Maka, semakin bulat niatanku, tekadku untuk ikut menyuarakan hati BMI (akhirnya bukan hanya yang di Hong Kong, tapi merambah ke Macau, Malaysia, Singapura dan Taiwan), dengan meneror kalian untuk merekam jejak dalam bentuk karya, menulis!

Jika akhirnya kini malah beroleh timbal balik sedemikian rupa, sampai ada grup Facebook Menolak Tulisan Pipiet Senja, innalilahi wa inna ilaihi rojiun.

Meskipun hancur hatiku, aku tetap akan konsen membantu BMI manapun yang ingin konsultasi menulis, diskusi, bahkan menyunting atau menyambungkannya dengan penerbit. Tanpa harus membayar apapun, selain uluran persaudaraan, karena betapa indah tali silaturakhmi sebagai anugerah Ilahi yang masih bisa dimiliki siapapun ini.

Sekali lagi (menambah pernyataan maaf di Kompasiana) dari lubuk hatiku yang terdalam, mohon maaf lahir batin kepada mereka yang merasa tersinggung atau salah paham. 


Demi Allah, ya, hanya Allah Swt jua yang Maha Tahu, betapa peduli dan sayangku terhadap BMI. Mohon, bagi yang ingin menjadi penulis, menerbitkan karyanya, jangan sampai karena urusan begini, kalian berhenti berkarya.

Bahwa menulis adalah perjuangan, tidak perlu takut jika ingin menyampaikan kebenaran.
Salam perjuangan!


2 komentar:

  1. Ooh, tahun lalu ibu pernah kesandung ya bu :) tak apa bu, tdk ada manusia sempurna, meski niat kita baik. Kadang org yg tdk sepaham bisa merasa terhina. Semangatlah buu, terus berkarya, salut jg ibu minta maaf tertulis begini, sega mrk bisa mengerti tujuan ibu yaa :)

    BalasHapus
  2. Terima kasih anonim yang telah berkenan singgah d sini, semangat erjuangan, sesiaapun anda, tabiiiik

    BalasHapus

Recommend us on Google!

Tulisan Terbaru