Home » » Persekongkolan Cinta dan Karya: Aku dan Si Denok

Persekongkolan Cinta dan Karya: Aku dan Si Denok


1342049337219672166

Si Denok bukan nama orang atau hewan peliharaan. Dia nama sebuah benda, tepatnya sebuah mesin tik milikku. Mendiang Bapak yang memberinya nama begitu.

“Si Denok geulis1… banyak rezekinya, membawa hoki dan berkah buat kita semua,” ujarnya sambil bergurau seperti kebiasaannya. ”Berkat si Denok ada juga anak Bapak yang jadi seorang penulis,” katanya pula sambil mengelus-elus mesin ketik buatan Jepang merek Brother.

Saat itu aku sudah berbulan-bulan diopname di RS. Dustira, Cimahi, dengan penyakit kronis dan komplikasi. Pendeknya parah, karena dokter sudah mengatakan kepada keluarga, kemungkinan harapan hidupku tipis sekali. Nah, saat aku berhasil melewati masa-masa kritis, kegiatanku tak ada lagi selain membaca dan mengkhayal.

Tiba-tiba petang itu, “Apa itu, Nie?” tanyaku keluar dari balutan selimut belang.
“Mesin tik, Teteh2, belinya di loak Pasar Rumput. Tapi masih bagus banget nih!” sahutnya sambil meletakkan benda yang sudah lama sangat aku idam-idamkan itu di atas ranjang, tepat di depan hidungku.
”Nah, ini harganya 15 ribu. Tapi nanti Teteh bilangnya sama Bapak 20 ribu saja, ya?”

Aku menatapnya tak paham.”Kenapa begitu?”
Mojang3 manis pelajar SMU Pariwisata itu cengengesan. Masa ini tahun 1975, ya, Saudara, kalau tak salah harga emas per gramnya 8 ribu rupiah.
”Iya, begitu sajalah, ya Teteh. Soalnya sisanya kan habis kupake buat ongkos-ongkos.”
“Ooo…” Mulutku membentuk bulatan.

Seketika aku teringat akan perjuangan keluarga kami, terutama Bapak dalam menafakahi keluarga dan biaya pengobatanku. Mengingat itu air mataku bergulir membasahi pipi-pipi yang selalu tampak pias. Melihat aku hanya termangu-mangu, memandangi mesin ketik itu, Arnie menegur.

“Bukannya cepat diperiksa! Kok malah jadi bengong? Kebanyakan bengong nanti kayak ayam kita… tahu-tahu game-over!”

Adik yang satu ini kalau ngomong suka ceplas-ceplos. Bertolak belakang dengan gayanya yang selalu ingin tampil apik dan modis.

Arnie lalu membantu memasukkan selembar kertas ke mesin ketik. Jari-jariku pun mulai memencet tuts-tutssi Denok, eeh, waktu itu belum diberi nama.  Benar saja, enak dipakainya, terasa ringan dan lancar sekali. Kalau tidak keburu ditegur Ma, aku pasti akan melanjutkannya untuk menulis puisi atau cerpen.

Aku pun mulai produktif menulis. Bersama si Denok aku “mengandung” dan “melahirkan”. Macam-macam “anak” yang sanggup kulahirkan akhirnya; artikel remaja, puisi, cerpen, novelet, novel bahkan surat-surat pembaca.

Persekutuan dan kebersamaanku dengan si Denok tak pelak lagi banyak memberiku berkah. Bahkan mulai terasakan pengaruhnya pada adik-adik dan orang tuaku.
“Traktir, traktiir, Teteh!” seru adik-adikku begitu Pak Pos datang mengirimkan wessel untukku.
“Sok, sok atuuuh ka dieu. Saha anu rek daftar ti heula? Kudu nganuhunkeun heula ka si Denok atuh5" sahutku sambil mengusup-usung si Denok ke ruang tengah, hingga adik-adik mengerubungiku.

Nuhuuuun, Deee-noook!” seru adik-adik sambil riuh tertawa.
“Teteh, Teteh… Balik ti Banten teh kalah angkaribung ngangkutan anu karieu patut! Henteu bisa dijual puisi-puisi kieu mah, Teteh. Lain mawa kadu, emping pamasihan ti Pak Kyai… ieu mah kalah ditinggalkeun!”6 omel Ma suatu hari saat sulungnya kembali dari pesantren di kawasan Banten.

Akhirnya Arnie melanjutkan kuliah ke sebuah akademi pariwisata di Yogya. Bapak dengan gaji seorang perwira menengah sangat kelimpungan dibuatnya. Belum lagi biayai sekolah anak-anak yang lima orang lagi, ditambah pula biaya pengobatanku.

Nah, saat itulah si Denok melahirkan anaknya berupa novel yang pertama. Kuberi nama dia; Biru yang Biru”. Karena kepepet dan butuh duit, terpaksa aku menjual anaknya itu.
“Apa ini?” Bapak menengadah menatapku.
“Novel saya dicetak, ini honornya. Buat biaya kuliah Arnie saja, Pak,” sahutku wening hati.

“Kamu kan mau les Inggris?” Bapak seolah mencari-cari sesuatu di mata sulungnya. Duuh, aku menangkap ada butiran bening tergantung di sudut-sudut matanya. Mata seorang prajurit empat lima. Itulah kedua kalinya aku memergoki Bapak menitikkan air mata, setelah  saat-saat aku mengalami kritis.

“Biarlah, itu gampang nanti saja, lain kali,” kataku cepat, tak ingin larut dalam keterharuannya.”Sekarang kirimkan saja uang ini ke Yogya, Pak.”

“Euh, euh, kitu nya…. Nuhun atuh, Teteh8,” lirih lelaki yang aku kagumi pengabdian dan kesetiaannya yang tinggi terhadap bangsa dan negara itu, nyaris tak terdengar.
“Tapi kelihatannya nggak bakal keburu. Harus lusa dibayarkannya, paling lambat sore, katanya. Kalau telat tentu didenda. Bapak nggak bisa ke sana, banyak tugas di Jakarta. Apalagi Ma, si Amy segitu cengengnya, nggak bisa ditinggal…”

Tampak Bapak bingung.
“Kalau Bapak mengizinkan, saya bersedia mengantarnya ke Yogya.”
“Berani pergi ke sana sendirian?”
“Kalau Arnie berani, kenapa saya nggak? Lagian kondisi saya lagi bagus nih, Pak. Kan belum lama ditransfusinya!” kataku dengan semangat juang empatlima yang diwariskannya. Bapak mengizinkan.

Ya, itulah pertama kalinya si Denok kuajak bertualang. Kujinjing-jinjin dia dengan ekstra hati-hati, menjaganya melebihi bawaan lainnya.
Sepulang dari kota gudeg itu, ternyata si denok beranak-pinak, Saudara!

Maka, tak pelak lagi anak-cucu keturunan si denok pun berlahiran, kemudian mejeng dengan gayanya di harian dan majalah-majalah Ibukota, Bandung dan Surabaya.
Suatu kali si Denok baru saja melahirkan lagi, kali ini sebuah memoar yang kuberi nama “Sepotong Hati di Sudut Kamar”.Kami membidaninya di ponpes Kyai Azhari di kawasan Rangkasbitung, Banten.

Aku bermaksud menjualnya ke penerbit di Jakarta. Waah, bangga rasanya hati ini. Jadi juga aku seorang penulis, pikirku. Usiaku baru duapuluh, novelku hampir dua, aah… Huueeebaaat, euy!
Aku pamitan kepada istri Pak Kyai.
Iiih, Neng, ja Abahna ge tacan mulang ti Saketi. Karek pageto cenah, nyah mulangna. Naha Neng moal nganti heula Abah mulang kitu?9 katanya dengan logat Banten yang khas.

Aku tak bisa menunggu. Karena isi telegram dari Arnie begitu gawat darurat;”Teteh cepat pulang ke Cimahi koma Ma nggak ada di rumah titik…”

Ya, Ma memang pergi dari rumah. Aku sudah tahu itu. Ada surat Ma yang baru kuterima kemarin. Ma merasa stres nggak bisa menghadapi kejaran rentenir Batak yang galak-galak itu, katanya.

Sekarang Ma ada di Klaten, di rumah adik Bapak. Ah, kasihan sekali Ma. Sampai terlilit utang sama rentenir. Gara-gara memenuhi biaya pangobatanku tempohari. Rasa bersalah merayapi relung kalbuku.
Dari Rangkasbitung aku naik kereta jurusan Kota. Itulah angkutan termurah dan paling pas buat masyarakat ekonomi lemah. Rangkaian gerbongnya puanjaaaang mengular. Peninggalan zaman Jepang ‘kali, ya?

Habiis, bututnya nggak kira-kira tuh. Biar pun mengular penumpangnya keukeuh saja berjubelan.
Manusia, barang, keranjang-keranjang ikan dan buah-buahan, bahkan ayam dan kambing segala… disamakbrekkeun, euy!10

Masih untung aku kebagian duduk. Sepanjang jalan aku mengisinya dengan membaca, berlagak tak acuh terhadap sekitarku. Habis, kalau dipedulikan kok rasanya jadi ikutan bludrek, ya?

Macam-macam tingkah polah manusianya. Mulai dari pedagang asongan, bandar-bandar ikan dan duren sampai… Nyai Baskom! Itu tuh gadis-gadis yang berjualan kue, tapi dandanannya menooor banget!

Nah, beberapa stasion sebelum stasion Kota, aku baru menyadari kalau si Denok sudah raib. Ya, benda mungil yang kuletakkan di atas kepalaku itu sudah lenyap, entah ke mana! Wuaah, aku mulai merasa panik dan mengutuki kebodohan diriku.

“Yee… salahmu sendiri! Ngapain coba nyimpan si Denok jauh-jauh, biasanya juga dekat kaki bahkan dipangku-pangku? Lagian, ngapain sih baca Sidney Sheldon mulu? Nggak malu, ya, turun dari ponpes bukannya banyak zikir…“

Euleuh-euleuh, habislah disumpah-serapahi si Aku nun di kalbuku sana!  Aku bangkit dari bangku dan mulai berusaha mengamati barang-barang orang di sekitarku. Kalau-kalau si Denok ada yang salah bawa.

Aku juga mulai terbuka kepada orang-orang di sekelilingku, dan menyatakan “telah kehilangan si Denok”. Sementara hati dan pikiranku perlahan digerogoti penyesalan dan kesedihan. Apa mungkin ini buah rasa sombong, riyaku, pikirkungegeremet.

“Tadi sih saya lihat dibawa sama anak tanggung,” kata seorang pedagang asongan.
Aduuuuh, hatiku semakin digayuti rasa sesal. Kasihan Bapak yang sudah capek menabung demi membelikanku mesin tik itu. Entah bagaimana kelanjutan karierku sebagai penulis, kalau nggak punya mesin tik?

Lha wong lagi senang-senangnya menulis gitu. Apa nanti harus balik lagi nongkrongi orang kelurahan, numpang ngetik? Lantas bagaimana bilangnya nanti sama Bapak?

Bagaimana mau membantu Ma yang terlilit utang sama rentenir Batak itu? Ya Allah… Seketika bumi bagai mendadak jungkir balik di kakiku. Air mataku tak terbendung lagi.
“Sudah, Neng, jangan nangis. Mendingan kita cari saja, yuuk?” kata seorang wanita pengasong, menyentuh tanganku dan menatapku dengan rasa simpatinya. Aku memandangi wajahnya yang khas ndeso, lugu dan wening hati.

”Gimana nyarinya, Bu?” tanyaku sambil menyusut air mata dengan ujung jilbab kaosku.
“Yaah, kita lacak saja…” Selang kemudian tiba-tiba… breeeg saja teman-temannya sudah bergabung. 

Mereka sama menyatakan simpati dan berniat membantuku. “Ayo, kita cari ke gerbong belakang dulu!”
Aku mengikuti kelompok pengasong yang baik hati itu menyusuri gerbong demi gerbong. Seorang petugas, Pak Kondektur, lantas bergabung dan berusaha membantu kesulitanku.

Walau sudah ragu bisa menemukan kembali si Denok, aku tetap mengikuti mereka. Rombongan lama kelamaan jadi bertambah, dan kami terus menyusuri gerbong demi gerbong sampai di gerbong paling depan.

Tiba-tiba… “Naaah, ini dia orangnya! Ini dia yang ambil barang si Eneng itu!”
“Heeh, nggak salah lagi, emang dia tuuuh orangnya!”
“Mana barangnya, ayoo, kasih unjuuuk!”
“Itu tuh, Neng, diumpetin di kolong bangku sana!”
“Kurang ajaaar! Hajar saja, biar kapook!” Baak, buuk, baak, buuk!

“Paaak! Pak Kondektur, tolong jangan dibiarkan!” teriakku merasa iba melihat seorang anak laki-laki tanggung, sebaya adikku lantas menjadi bulan-bulanan orang banyak.
“Iyaaa, sudaaah berhentii!” seorang tentara akhirnya berhasil melerai massa yang sudah dipenuhi amarah.

“Eeh, iya… sudah, sudah saja. Jangan diapa-apakan lagi, Mbak, Pak, Mas, Bang,” ucapku  gemetar tak tahan melihat wajahnya sudah bonyok dan berdarah-darah.
“Ini Neng barangnya,” Ibu pengasong menyerahkan si Denok ke tanganku.

Alhamdulillah, jeritku membatin. Aku meraih dan mendekapnya erat-erat di dadaku. Kusimbahi si Denok dengan air mata haru. Tak peduli dengan mata-mata yang keheranan dan bibir-bibir  yang tersenyum simpul.

“Sudah selamat, ya Neng, hati-hati. Jangan ada yang nyolong lagi barangnya,” kata Ibu pengasong ketika kami berpisah di stasion Kota.

“Eeh, eh, iyaa, Bu, iya…”
Masya Allah, aku sampai lupa tak sempat mengucapkan terima kasih. Ketika kutengok lagi ke belakang, sosoknya sudah lenyap di antara hiruk pikuk stasiun besar.
@@@



Catatan; sejak 1986, si Denok terpaksa dimusieumkan di rumah kami di Cimahi., diganti dengan si Denok genre kedua lanjut si Denok genre ketiga.
Akhitnya 1998,  saya mulai memakai komputer, kemudian laptop cicilan, eeh, ke mana-mana kini menenteng si BNQ yang ternyata sangat bisa kuandalkan.

1cantik
2kakak perempuan
3dara, gadis
5 “Ayo, ayolah sini. Siapa mau daftar duluan? Mesti terima kasih dulu  sama si Denok dong…”
6 ”Teteh, Teteh… Pulang dari Banten kok sMak ngangkutin beginian? Nggak bisa dijual puisi-puisi begini mah. Bukan bawa duren, emping pemberian Pak Kyai… kok malah ditinggalkan!”
8”Ehh, begitu ya… Terima kasih, Teteh.”
9”Iih, Neng, kan Abahnya juga belum balik dari Saketi. Baru lusa baliknya. Apa Neng nggak mau tunggu Abah dulu gitu?”
10dicampur-adukkan, oi!


0 komentar:

Posting Komentar

Recommend us on Google!

Tulisan Terbaru