Home » » Safari Ramadhan: Cinta Bersemi di Rumah Makan Biyung

Safari Ramadhan: Cinta Bersemi di Rumah Makan Biyung




















































Surabaya, 27 Juli 2012
Mengawali jadwal Safari Ramadhan kali ini, dari rumahku di kampung Cikumpa, Depok, aku diantar ke Bandara Cengkareng pada pagi Jumat ini.

Kukontak Elly Lubis yang akan menemani turingku kali ini.”Sudah OTW, sebentar lagi sampai Bandara, Teteh, aku dapat Merpati,” lapornya melalui BBM. Elly Lubis, pengelola  travel umroh dan haji.

Aku menggaet Elly Lubis, alumni Sastra UI ini, karena kepingin menerornya agar menulis, sekalian menggarap program Umroh Bareng Pipiet Senja.

Kami berkenalan via jejaring sosial Multiply, 2005.
Selama itu pula, Elly Lubis banyak membantuku bersama sobatnya Kosirotun, mereka selalu peduli dengan kondisi kesehatanku, sama-sama secara rutin menjadi donaturku.

“Sudah sampai mana nih?” tanyaku sambil memasuki pintu keberangkatan, dan menyerahkan salinan tiket kepada petugas.

“Mau lepas tol Bandara nih, eh, melintas depan IC. Apa mau ditukar tiketnya?” candanya beberapa saat berselang, setelah aku beres check in.
Kali ini kudengar langsung gelak tawanya yang renyah.

Lah iyalah, memang bikin orang terheran-heran dengan kelakuanku ini. Wong penerbangannya pukul satu siang, tapi pukul sepuluh sudah sampai di Bandara.

“Bukan kebangetan rajin, sayangku,” kilahku sambil ketawa juga jadinya.”Itu yang mengantar bisanya pagi-pagi, yowis, daripada naik Damri, ribet. Kalau taksi kemahalan euy!”

“Oke, jadi Teteh mau ngapain dulu nih selama 3 jam ke depan?”
“Yah, mau di mushola saja kaleee; sholat, terus nulis deh,” sahutku ringan.

Dan memang itulah kemudian yang kulakukan. Menanti di mushola Gate 7, menulis, melanjutkan Serial Wisata Balita. Begitu bosan, aku kembali ke ruang tunggu dan; mencermati segala tingkah polah para penumpang di sekitarku.

Pukul tiga petang, akhirnya sampailah diriku di Bandara Juanda. Ridho Ardhian, Kepala Cabang Surabaya Penerbit Zikrul Hakim, sekitar 25 menit baru menampakkan batang hidungnya.

Dia ditemani Abrar Rifai, seorang penulis muda yang juga Kepala Sekolah sebuah pesantren di Malang. Kami berkenalan melalui jejaring sosial berjuluk Facebook.

Beberapa pekan sebelumnya, kami kopdaran dan tercetuslah gagasan untuk melakukan; Safari Ramadhan. Aku tak mengira kinerjanya dan prosesnya begitu singkat, kalau tak salah persiapannya hanya sepekansaja. Hebat!
“Selamat datang, Teteh, bagaimana? Sehat-sehat sajakah?” sapanya ramah.
“Alhamdulillah, nah, Ustad bagaimana? Nak pusing-pusing Malaysia kemarin, ya? Dalam rangka apa ke Malaysia, Tad?” cecarku langsung kepingin tahu saja.

“Pesantren kami kan ada kerja sama dengan tokoh agama di Malaysia, Teteh.”
Beberapa menit kemudian sampailah kami di Rumah Makan Biyung. Jazim Naura Chand menyambut kedatangan kami dengan senyumnya yang manis.
Dia memelukku erat sekali. Tampak sosok yang tak asing lagi; Elly Lubis.

Seorang wanita muda berparas cantik menghampiriku, memperkenalkan dirinya sebagai:Astry Anjani, mantan BMI yang pernah mengikuti workshop kepenulisanku di Tin Hau Art-Hong Kong.

“Ini adik Elly, Teteh, namanya Nung,” kata Elly Lubis, memperkenalkan seorang perempuan muda di sebelahnya.
“Mau ikut ke Madura juga nih?” tanyaku.
“Iya, Teteh, boleh kan?”

“Tentu saja boleh, semoga mobilnya masih muat,” kulirik Ridho Ardhian yang sibuk dengan bawaannya, berkoli-koli buku.

Seperti biasa, kalau dibawa jalan bareng aku, Ridho selalu semangat dengan buku produk penerbitnya, Zikrul Hakim. Ini adalah perjalanan kami yang ke sekian kalinya, keliling Madura dan Jawa Timur.

Kami menanti saatnya berbuka puasa dengan berbincang akrab, mempetakan rundown perjalanan yang disebut Safari Ramadhan oleh Abrar Rifai.

“Setelah buka nanti, kita akan langsung melanjutkan perjalanan menuju Madura,” kata Ridho Ardhian.”Tempohari saya sudah ngedrop bukunya di sana.”

“Pesantren apa namanya, Mas Ridho?” tanyaku.
“Pesantren Banyuanyar, kita menginap di sana, acaranya pagi sampai zuhur. Kemudian dilanjutkan ke Pesantren Al Amien,” jelas Ridho.
“Siiiip! Senang sekali bisa ketemuan lagi dengan Aisyah Tidjani,” seruku.

“Siapa dia, Teteh?” tanya Elly Lubis.
“Aisyah Tidjani pernah menjadi Ketua FLp Kairo, kalau tak salah seangkatan dengan Kang Abik.”

“Habiburrahman si Ayat-Ayat Cinta, ya?” cetus entah siapa dari arah belakangku.
Entah bagaimana urusannya, mendadak saja kami terlibat membahas novel spektakuler itu.

“Emang ada ya tokoh sesempurna si Fahri?”
“Ya, ada sajalah, wong penulisnya maunya demikian.”

“Benar, ya Teteh, dari royalti novel dan filmnya itu Kang Abik bisa membangun pesantren Basmala?”

“Ya, mungkin benar, mengapa tidak? Kalian ini apa menyangsikan kehebatan profesi penulis?” kataku balik bertanya.
“Kita jemput Eva dulu, Teteh, di Metropolis,” ujar Ridho waktu kutelisik keberadaan Evatya Luna, novelis yang baru menerbitkan novel remaja; Beiber’s melalui divisiku, Jendela.

Abrar Rifai, Evatya Luna, Elly Lubis, Astry Anjani dan Nung akhirnya menjadi gengku selama di Madura. 

Nung akan mengakhiri kebersamaan dengan kami hari Minggu di Surabaya.
Maka, jadilah sejak petang itu, gengku berkelindan di kawasan Madura dan Jawa.

Hmmm, jika kucermati sekilas; ada cinta yang bersemi di RM Biyung ini, eheeem, eheemmm!

Penasaran? Ikuti lanjutannya, ya Sobat!





Terima kasih, Mbak Jazim Naura Chand; hidangannya lezat-lezaaaat!

0 komentar:

Posting Komentar

Recommend us on Google!

Tulisan Terbaru