Home » » Bapak Mengajariku Menjadi Seniman

Bapak Mengajariku Menjadi Seniman

Taman Makam Pahlawan Cikutra, kini engkau beristirahat untuk selamanya.




Prolog
Edisi revisi, Jakarta, 23 Januari 2012

Hari ini, jika ayahku masih hidup, tentu umurnya 83 tahun. Tepatnya, Bapak dilahirkan di Cimahi, 23 Januari 1930. Berikut kuposting kenanganku dengan ayah yang belum sempat kubahagiakan secara materi, karena saat dia masih ada, ekonomiku sungguh sangat serba kekurangan.

Bapak, rinduku selalu teredam dalam dada ini. Semoga satu hari nanti, kita akan berjumpa kembali, ya Pak. Tenanglah bersama Emak, cinta sejatimu di alam barzah.
@@@

Hubunganku dengan Bapak di masa kanak-kanak tak begitu dekat. Bapak terlalu sering meninggalkan keluarga demi panggilan tugasnya. Aku bisa mengingatnya, saat Bapak kembali dari tugasnya di Malangbong, Garut. Dia membawa jeruk garut yang disimpan dalam ransel tentaranya. Juga beberapa pohon anggrek bulan.

“Jeruknya buat anak-anak. Anggrek bulannya buat kamu, Alit,” ujarnya kepada Mak.

Bapak memang suka memanggil Mak dengan sebutan Alit. Kalau Aki dan Eni suka memanggil Mak dengan sebutan Nok Alit.
“Itu Bapak pulang. Ayo, salami Bapak,” Mak mendorong-dorong aku untuk mendekatinya.

“He, kenapa bengong saja? Lupa barangkali sama Bapak, ya?”
Aku menghampirinya dengan takut-takut. Lihatlah! Penampilannya sepulang dari hutan Malangbong itu, aduuuh… menakutkan anak-anak!

Pakaian hijau kumal, sepatu kotor. Rambut gondrong dan dagunya menyemak dengan jenggot. Macam penampilan seorang perompak, bajak laut saja!

“Jangan takut. Aku ini Bapak, ayah kandungmu, Nak,” katanya berusaha hendak menggendong.
Kontan saja aku berlari ketakutan. Menjerit-jerit dan menangis… heee-boooh!

Beberapa hari Bapak bisa berkumpul dengan keluarga. Setelah berpenampilan apik dan bersih barulah aku mau mendekatinya, malah minta digendong. Biasanya Bapak akan memangku aku di atas bahu-bahunya yang kekar.

Sepasang tangannya yang kukuh sering digunakannya untuk mengayun-ayun kami. Aku, En, Vi, dan El. Bapak menyayangi kami tanpa pilih kasih.

Saat aku duduk di TK Persit Kartika Chandra, Bapak paling sering mengantarku. Bapak kala itu bertugas di Kodim Sumedang. Jadi punya cukup waktu untuk keluarga. Terutama kalau dia sedang cuti. Sementara Mak hampir tak bisa mengantarku ke sekolah. Sibuk dengan adik-adik kecil di rumah.

“Waaah, Pak Sersan lagi yang ikut piknik sama kita?” kata Ibu Saodah, guru TK-ku.
“Senengnya ada bapak-bapak…”

Bapak tersenyum-senyum saja bila digoda oleh para ibu temanku. Kehadirannaya menambah semarak suasana piknik kami karena Bapak orangnya humoris, suka membanyol dan supel. Kami piknik ke Gunung Kunci, Gunung Palasari, Cimalaka atau Cipanteneun.

Sesampai di tempat tujuan, Bapak ikut sibuk membantu Mang Encu, pesuruh sekolah. Menurunkan anak-anak dari truk tentara. Maklum, sekolahnya kan punya Persit Kartika Chandra. Kami bisa menggunakan fasilitasnya.

Bapak agaknya ingin sekali memiliki anak laki-laki. Setiap tahun ditunggu dan didambakannya jagoannya itu.
Ndilala… ngaborojolna awewe deui, awewe deui!
Sering kerinduannya akan anak laki-laki itu dilampiaskannya kepada kami, anak-anak perempuannya. Itulah agaknya yang mendorong aku menjadi tomboy.

Saat di bulan Ramadhan, Bapak sibuk menggotong-gotong bambu besar.
“Kita bikin bedil lodong, ya?” ajaknya kepadaku, adikku En dan sepupuku El.

Kami memperhatikannya sampai Bapak memperagakan cara-caranya kepada kami.
“Isi air dulu lodongnya. Masukkan sedikit karbit. Tutup sebentar dengan kain. Nah, nyalakan sundutannya dan …”
Blaaar! Blaaar! Bleeeng!

Bunyinya menggelegar ke mana-mana. Kami bergantian menyundut bedil lodong itu. Tak tahan dengan omelan Eni dan Emih, main bedil lodongnya dilanjutkan di sawah dengan Bapak.
Itulah masa kanak-kanak yang menyenangkan.

Di mataku, Bapak adalah orang yang paling bisa diandalkan. Dia memiliki macam-macam kepandaian dan keterampilan. Pintar melukis, meniup seruling, memetik kecapi, pencak silat, dan bertukang. Menurutnya, semua anak punya kemapuan dan bakat dalam bidang apapun.

Tinggal bagaimana cara anak itu mengembangkannya atau diarahkan orang tua. Bapak selalu menanamkan arti kedisiplinan dan kemandirian kepada anak-anak.
Di kemudian hari tidak satu pun dari anaknya yang mewarisi bakat ketentaraannya. Bakat melukis dan mendesain diwariskannya kepada En. Bakat meniup seruling dan memetik kecapi kepada Ry.

Bakat gurunya kepada Vi dan Ed. Bakat wiraswastanya kepada Sy dan My. Sedangkan aku mewarisi bakatnya dalam berkesenian, jurnalistik dan menulis.

Walaupun sempat sangat mendambakan anak laki-laki, tetapi pada kenyataannya Bapak tak pernah pilih kasih. Buktinya, setelah kedua adik laki-laki lahir, perhatian dan kasih sayangnya tak berubah terhadap anak-anak perempuannya.

“Kamu anak sulung, Teteh. Kalau tak ada Bapak, kamulah yang harus bisa membantu Mak. Kamu harus bisa memimpin adik-adikmu,” pesannya setiap kali Bapak akan bertugas ke luar kota.

Jangan heran kalau mendapati aku atau En sedang berkutat memperbaiki genting bocor. Atau memperbaiki kabel listrik yang korsleting di atap rumah. Terkadang aku merasa, bagi Bapak semuanya harus bisa. Tak ada istilah tidak bisa. Semuanya bisa dipelajari. Begitulah motto hidupnya.

Setelah dua tahun duduk di Taman Kanak-Kanak Persit Kartika Chandra, akhirnya aku boleh sekolah di Sekolah Rakyat Sukaraja.

Aku sudah diajari membaca dan menulis dengan ketat dan disiplin oleh Bapak. Jadi, saat masuk sekolah itu aku sudah bisa memba dan menulis. Hanya karena sering sakit dan jarang masuk sekolah, aku tak bisa menyerap proses pembelajaran dengan baik. Dari kelas satu sampai kelas tiga, prestasiku sedang-sedang saja.

Namun, saat kelas empat, prestasiku meningkat bagus. Bahkan, akhirnya mendapat predikat juara umum saat akan naik kelas lima. Itu memang mengherankan. Sebab masa-masa itu justru keluarga kami sedang ditimpa banyak kesulitan. Belakangan aku paham. Agaknya justru karena banyak tekanan itulah yang melecut semangat dan motivasiku untuk meraih prestasi.

Apabila tidak merasa sakit, aku seperti kebanyakan anak pada umumnya. Bisa main sepuasnya; manjat-manjat pohon, naik sepeda keliling Keputren, Regol sampai pasar. Pergi mengaji ke Pesantren Pagelaran, dan tentu saja sekolah dengan rajin.

Aku termasuk anak perempuan tomboy, kebanyakan bajuku celana pendek dan kemeja atau kaos. Tetapi aku memelihara rambut yang panjang dan lebat. Biasanya rambutku dikepang atau diekor kuda. Kalau tak bisa melakukannya aku minta bantuan kepada Bi Eha.
“Bikin repot orang saja. Sini, Eni potong rambutmu!” nenekku sering cerewet tentang rambut panjangku ini.
“Iiih, gak mauuuu!” aku lari terbirit-birit.

 

Dalam kurun waktu tertentu, entah apa yang membuat nenekku gregetan kepingin memotong rambutku. Biasanya untuk beberapa saat aku menghindari perjumpaan dengan nenekku.
Di halaman rumah yang luas aku mempunyai tempat favorit. Di sebuah batang jambu kukuh yang bercabang tiga, di antara cabangnya, aku nyaman bermain dan membaca di sana. Terutama saat bulan puasa.

Biasanya Mak akan menawarkan sebuah alternatif manis buatku, agar aku menuruti perintahnya. Sepulang mengaji aku diperbolehkan mampir ke taman buku bacaan. Saat itu aku sudah kecanduan buku bacaan. Buku-buku milik Bapak terbitan Balai Pustaka semuanya habis aku lahap. Bahkan buku-buku militer, arsip-arsip dan dokumen rahasia, materi pelajaran saat Bapak pendidikan kubaca juga.

Saat usia delapan tahun, aku sudah mengenal karya-karya Amir Hamzah, Merari Siregar, Armin Pane, Sanusi Pane, Pramudya Ananta Toer, Chairil Anwar, Mansur Samin, Ajip Rosidi, Rustandi Kartakusumah, dan lain-lain.

Terjemahan yang aku sukai ketika itu adalah karya Jules Verne, Charles Dickens, dan tentu saja penulis favoritku Karl May. Serial Old Shuterhand dengan Winetou-nya, sungguh membuatku terpukau. Aku mengembara, melanglang buana (di tempat!) melalui karya besar pengarang Jerman yang belum pernah menginjak tanah Amerika, tetapi begitu pas menggambarkan suasananya. Setidaknya demikian menurut persepsiku kala itu.

3 komentar:

  1. masa kecil yang indah, bunda..

    pagi-pagi jadi pengen nangis ini, masya Allah, inget almarhum Bapak T.T

    *Allahummaghfirlahuu warhamhuu wa'afiihi wa'fu'anhu... :')

    BalasHapus
  2. Ya nanda, saya pun sedang merindukan sosoknya, semoga kita diperjumpakan dnegan irangtua yang telah mendahului, Al Fatihah

    BalasHapus
  3. jadi inget bapa saya dikampung.. T-T. wah bunda hebat dari kecil sudah banyak melahap buku-buku dari pengarang ternama..

    BalasHapus

Recommend us on Google!

Tulisan Terbaru