Latest Stories

Subscription

You can subscribe to pipietsenja.net by e-mail address to receive news and updates directly in your inbox. Simply enter your e-mail below and click Sign Up!

TOP 5 Most Popular Post

Other Post

Other Post

Lelaki Bergelar Suami Itu: Pecundang Parah 0 Comments

By Pipiet Senja
Selasa, 22 Januari 2013 | Posted in


 Ilustrasi Pribadi


“Umiiiii! Umiiii…!”
Nadia bersahutan dengan Butet.
“He, salamlekoooom…, gitu!” Amalia menegur mereka.
“Eh, iya, salamlekoooom…, ” ralat Nadia.
“Gituuuu!” tegas Butet.
Si sulung, Nadia, semester empat Teknik Informatika ITB, diiringi oleh kedua adiknya. Mereka terbiasa pulang bareng. Kebetulan sekolah Amalia dan Butet tak berapa jauh dari kampus sang kakak. Bila sang kakak masih kuliah, kedua adik dengan setia menanti di selasar masjid Salman sambil mengikuti kajian Islam.
“Biar aman-suraman atuh! Kalo ada apa-apa, lawaaaan bleeeh!” demikian kilah Nadia, dengan gayanya yang tomboy, cuek-bebek.
Sering Diah mengherani tingkah-polah si sulung. Dara jelita mirip Inneke Koesherawati, IPK nyaris sempurna, mengenakan jilbab sejak duduk di bangku SMP. Nadia dikenal sebagai mentor paling komunikatif, aktivis Rohis mumpuni, istilah Eko, rekannya dari BEM.
Seakan tak ada wilayah yang bisa menghalangi gerakannya. Ia juga memotori beberapa buletin bergengsi kampusnya. Konon, para birokrat kampus bila sudah berhadapan dengan Nadia, biasanya lebih suka cepat-cepat menyetujui proposalnya daripada menundanya. Siapapun tahu, anak ini sanggup menggerakkan massa.
Amalia lain lagi. Anak kelas tiga SMU ini paling bijak di antara saudari-saudarinya. Wajahnya putih bersih mirip sang bunda, belum lama dijilbab. Kepingin sekali menjadi seorang praktisi hukum. Kutu buku berat, menguasai berbagai macam bahan perdebatan; baik yang sedang hangat maupun yang menyangkut asbabunuzul, sejarah, politik dunia. Amalia inilah yang sering menjadi wasit bila kedua saudarinya berantem.
Si bungsu nama aslinya Farah, kelas satu SMU. Di rumah dipanggil Butet, nama kesayangan orang tua, ternyata tak jauh beda dengan sulungnya. Meskipun tak setomboy Nadia, tapi dalam hal aktivitas…. Hampir semua eskul di SMU diikutinya!
“Aku akan menyamai prestasi Teteh!” tekadnya sesumbar suatu kali di hadapan ibu dan saudari-saudarinya.
“Emang bisa?” ledek Nadia.
“Bisaaa! Harus bisaaa!”
“Coba aja kalo bisa Teteh hadiahi…, si Mio!”
Tapi si Mio, motor bersama itu, siang tadi baru mereka ketahui mengalami tabrakan waktu dipinjam seorang sabamnya di dojo. Sebetulnya Nadia marah sekali. Butet tak minta izin dulu waktu meminjamkannya. Hanya pas mendengar akibat tabrakan yang menimpa Gamal, sehingga harus dioperasi karena mengalami gegar otak… Aduuuh, innalilahi rojiuun!
“Sudahlah, kita ikhlaskan saja si Mio. Jangan dimintai ganti rugi lagi sama temanmu yang malang itu,” kata Nadia kini dalam nada muram.
“Iya, lebih baik kita doakan saja agar dia cepat keluar dari ruang isolasinya,” sambung Amalia terdengar tulus. “Kalian kok nggak ikut nengok ke rumah sakit kemarin…”
“Yeeeh, kamu pergi nggak bilang-bilang! Gimana keadaannya?” Nadia menatap adiknya.
“Mereka udah mengoperasi. Dia mengalami gegar otak rinagn sih…”
“Artinya nggak kritis lagi kan?”
“Insya Allah, kelihatannya sudah baikan… Jadi, nggak usah minta ganti rugi, ya?” tegas Amalia.
“Yeee…, lagian siapa yang mo minta ganti rugi?” Butet merengut.
Karuan Nadia kesal melihat ketakpedulian adiknya.
“Pokoknya, kamu harus buktikan sesumbarmu, Deeek!”
“Oyeee…, kenapa nggaaak?”
Untuk beberapa jenak keduanya berhadapan…, frontal!
“Pssst, kalian ini sudah atuuuh! Jangan berantem melulu, maluuu, aah, maluuuu!” Amalia buru-buru menengahi.
“Hhhhh…!” Nadia memelototinya.
“Lagian,” Amalia tak mempedulikannya. “Hei, sodari-sodariku seiman. Kalian pikir, Mama ke mana, ya?”
Seketika ketiganya baru menyadari ketakberadaan sang bunda. Ruangan keluarga terasa suwung. Biasanya bahkan baru suara mereka yang memasuki koridor, Mama sudah berjalan menghampiri dengan senyumannya yang lembut dan lega.
“Ketiga buah hati Mama sudah kembali dari berjihad,” katanya selalu. “Betapa lega hati Mama melihat kalian selamat kembali di rumah kita…”
Anak-anak akan menyambungnya; “Surga kiii-taaa!”
Kemudian Mama akan mengecupi ubun-ubun ketiganya, mengajak mereka ke ruang makan. Mencicipi penganan dan minuman spesial bikinannya untuk mereka.
“Nggak ada, ya Teteh?” cetus Butet keheranan. Kepalanya celingukan, mencari-cari sosok Mama. “Iya, nggak ada nih…?”
“Ngaji ‘kali,” Nadia berlagak jutek seperti biasa, sambil menghampiri kulas, mengambil minuman dingin. Gleeek, gleeekkk!
“Kayaknya nggak, Teteh. Aku tahu kok, Mama liqohnya sekarang tiap Selasa pagi,” bantah Amalia sambil mengitari ruangan, kemudian melongok ke kamar ibunya.      
Upsss…, dikunciii!
Ketiganya kembali bergabung di ruang keluarga. Saling berpandangan, tiba-tiba…
“Imaaaasss…!” teriak mereka bagai dikomando.
Imas yang lagi melamun di dapur terbirit-birit menuju ruang keluarga.  Diikuti oleh Bi Ikah dan Mang Umar.
“Oh, oh, apa yang harus kukatakan sama mereka?” keluh Imas dalam hati dengan mata sembab. “Bilang terus terang kalau siang tadi ada perempuan sinting, melabrak Ibu, dan mengaku selingkuhannya Bapak?”
Kalem, kalem we atuh, Nyi!”5 kata ibunya seperti bisa memahami pikiran anaknya semata wayang.
***

Malam panjang kali ini berjingkat perlahan, seakan enggan meretas nuansa biru yang meruap dari kawasan Dago. Sebuah kawasan ramai di kota kembang, terutama bila malam panjang tiba. Didatangi kawula muda, menghabiskan malam di kafe-kafe dan tempat hiburan yang tiap saat makin semarak disediakan.
“Ah, ini kan hanya perasaanku saja!” tepisnya membatin, tak mau suuzon kepada mereka yang berwenang.
“Yap, perasaan orang yang lagi sakit hati, kecewa, marah. Putus asa? Tidak! Aku tak sudi berputus asa!” ceracaunya pula, riuh perang sabil dalam hatinya.
Taksi yang dicarternya sejak petang, sesungguhnya telah berkeliling kota kembang tanpa arah dan tujuan. Ia telah membuktikan semua ucapan perempuan menor itu. Dengan mata kepalanya sendiri, ia bisa melihat bagaimana Domu bergandengan mesra di lobi Hotel Preanger itu. Dan betapa sayang Domu kepada si Ucok, begitu Lience memanggilnya dalam nada sarat bangga.
Aduuuh, cukuplah, bukti nyata!
Air mata telah tertumpah ruah. Sebab serasa begitu dalam luka yang dihunjamkan lelaki itu terhadap dirinya. Domu dengan segala kemunafikannya… Ya Tuhan!
Betapa tak tahu malunya lelaki itu, jeritnya membatin. Setiap ada kesempatan bercengkeram dengan keluarga, di hadapan anak-anak dia akan berpetatah-petitih tentang moral.
“Jangan pernah lupakan sholat lima waktu. Sholat itu sungguh senjata paling ampuh dalam mengantisipasi segala godaan…”
“Nadia, kenapa pulang bareng anak laki-laki itu?
“Amalia, awas, ya kalau pulang telat lagi!”
“Butet! Bah! Kau ini…, bikin kecewa saja! Mau jadi apa kau kalau bertingkah macam anak laki-laki begitu? Di dalam Al-Quran kan disebutkan…” Bla, bla, bla!
Seketika bintang-gemintang itu kembali menari-nari di tampuk mata Diah. Ia memejamkan matanya agak lama. Otaknya berpikir keras untuk mengambil langkah-langkah yang harus diambil dalam hitungan menit. Terutama manakala berhadapan dengan anak-anak, apa yang harus dikatakannya kepada mereka?
“Di sebelah mana, ya Bu?” sopir taksi mengusiknya.
“Eh, di mana nih?” Diah mengangkat kepalanya, mencoba mengenali jalanan di luar sana.
“Cihideung…”
“Oh, iya, sedikit lagi… Itu pekarangan yang banyak kembangnya!”
Taksi berhenti tepat di depan pintu gerbang yang telah terkunci. Diah harus mengedor-gedor dulu sebelum Bi Ikah dan Mang Umar beriringan membukakannya. Tanpa berkata-kata ia berlalu terus menuju ruang dalam, hampir tak tersisa gundah-gulana atau terkejut manakala disambut oleh ketiga putrinya… Seribu tanya!
“Jadi…, bener Papa sudah nikah lagi…” Butet memecah hening yang lumayan lama mengapung di sekitar mereka.
“Punya anak laki-laki...” Amalia menyambung.
“Sudah lima tahun berlangsung!” suara Nadia menegaskan, terdengar sarat amarah dan kebencian.
Wajah Diah terdongak. Sepasang matanya yang sembab mencari-cari bola mata si sulung. Taaap!
“Sini, Teteh, sini… dekat Mama,” diulurkannya tangannya, hingga Nadia bergerak dari tempatnya, pindah ke sisi kiri sang bunda. Gerakannya diikuti oleh Amalia, kebagian duduk di sisi kanan ibunya.
“Hmmm, nggak papa… di sini aja!” Butet menggeloso dekat kaki Diah.
Ketiganya menatap wajah wanita yang selalu menjadi idola mereka selama ini. Sosok sempurna dan nyaris tak ada cacat-celanya. Namun, detik ini mereka seperti dihentakkan pada kenyataan. Mama bukan sosok yang sempurna. Mama pun punya kelemahan. Sehingga kalah telak oleh Papa, dan itu telah berlangsung lima tahun!
“Mama bukan sosok yang sempurna, anak-anak,” kesahnya mengawali seperti bisa menebak pikiran ketiga buah hatinya. “Tentu banyak kelemahan Mama di hadapan Papa antara lain…”
“Bukan begitu!” tukas Nadia geram. “Papanya saja yang nggak pernah puas! Pengkhianat! Munaaafiiiik! Orang seperti itu sama sekali nggak pantas jadi ayah kami…, brengseeek!”
Untuk sesaat semua terperangah. Kapan pernah seorang Nadia bicara sesadis begini? Nadia yang mereka kenal memang si tomboy, tapi tak pernah bicara ngawur. Apalagi ditujukan kepada ayah kandungnya sendiri!
“Nadiaaa!” Diah ingin berseru, tapi malah terdengar mirip erangan. Ia begitu menyadari betapa terluka hati si sulung.
Nadia perlahan bergeser dan bangkit, tak berani menatap wajah ibunya.
“Jangan minta aku untuk memakluminya, Mama. Aku bukan anak kecil lagi! Aku sudah tahu siapa yang paling…, edan di rumah ini. Yaah, hanya lelaki ituuuu!” ditudingnya potret Domu yang tersenyum bijak di dinding ruang tengah.
Seketika ia bergerak ringkas. Semua masih belum paham.
“Huuuh! Dia nggak pantas ada di rumah ini lagi!”
Ooh, oouw… Tangannya seketika menyambar vas kembang kosong dan melemparnya ke potret diri berukuran besar itu dan… Praaang!
Kaca pigura potret kepala keluarga itu pecah berantakan, serpihannya berderai di lantai bagai repihan hati para penghuni rumah itu.
Semua tersentak kaget, tapi tak ada seorang pun yang bergeming dari tempatnya. Termasuk Bik Ikah, Mang Umar dan Imas yang diam-diam menguping. Inilah pertama kalinya suasana dramatis digelar dalam rumah majikan mereka. Sebelumnya hampir selalu adem-ayem, tenteram, paling banyak diwarnai canda dan tawa anak-anak.
“Aku benciiiii! Benciiii!” Nadia membalikkan tubuhnya, berlari sambil menahan tangisnya menaiki undakan tangga menuju kamarnya di loteng.
Butet dan Amalia serentak memandangi wajah Diah. 0h, Tuhan! Wajah itu tampak mulai mengelam dan…, seperti dingin membeku?
“Ya Allah.., Mama jangaan!” lirih Amalia, memegang tangan ibunya.
“Ingat anak-anak, Mama, ingat…,” pinta si bungsu memeluk kaki sang ibu erat-erat, mencoba mengalirkan semangat baru, harapan baru.
Diah menunduk, memejamkan matanya dan bibirnya bergerak-gerak perlahan. Diah berzikir, menyeru Sang Khaliknya. Memohon kekuatan-Nya.
“Iyaaa…, Mama nggak apa-apa kok. Kakakmu butuh waktu untuk merenungkan kejadian ini. Tapi kalian berdua, bagaimana?”
“Saya nggak apa-apa, Ma, insya Allah. Kan ada Mama,” bibir Amalia mengulas senyum lembut.
Meski siapapun bisa melihat bagaimana ia berjuang keras untuk menyembunyikan kepedihan hatinya. Air matanya telah tertumpah selama penantian sang bunda yang serasa berabad-abad. Ia harus berkali-kali pergi ke kamar mandi untuk membasuhnya dengan air wudu.
Sebab ia tak ingin Mama melihat matanya sembab. Hati Mama telah sangat luka. Jangan lagi ditambah luka anak-anaknya. Beban hati Mama niscaya takkan tertahankan. Pedihnya, lukanya sesungguhnya demi sang bunda tercinta.
Manakala tatapan Diah singgah di wajah oval milik si bungsu, gadis belia itu sempat melengos, menahankan gejolak perasaannya hingga menyemu kemerahan. Namun, dalam hitungan detik dia segera membalas tatapan ibunya dan mengangguk mantap.
“Apa, ayo, kok manggut-manggut?” Amalia menggoda, mencoba mengalihkan ketegangan.
“Nggak papa kan manggut-manggut? Emang burung celepuk aja yang boleh manggut? Mama, tenang aja, ya Ma! Butet nggak apa-apa, cuma mengkhawatirkan Mama…”
“Mama nggak apa-apa, Nak. Mmm, memang goncang sih, tapi itu wajar. Kalau kita saling menguatkan, insya Allah!” janji Diah.
“Kita pasti bisa bertahan dan…” Amalia mengerdip ke arah adiknya.
“Melawaaaann!”
Diah seketika merangkul kedua anak gadisnya erat-erat. Disembunyikannya wajahnya di antara kedua kepala itu. Ada air mata yang memburai, tapi kali ini tidak sampai di pipi melainkan hanya di ujung-ujung hatinya.
Dan itu sesungguhnya jauh-jauh-jauuuh…, lebih sakiiit!
***





5 “Tenang, tenang sajalah, Nyai!” Nyai = Eneng, sebutan untuk anak perempuan, Sunda

Follow any responses to the RSS 2.0. Leave a response

Tulis Komentar

0 komentar for "Lelaki Bergelar Suami Itu: Pecundang Parah"