Home » » Kepada Yth. Presiden RI: Inilah Surat Berdarah Untuk Presiden!

Kepada Yth. Presiden RI: Inilah Surat Berdarah Untuk Presiden!









Nukilan :SURAT BERDARAH UNTUK PRESIDEN
Karya BMI Hong Kong-Macau-Taiwan

Teruntuk Yang Kami Cintai: Bapak Presiden Indonesia Di Bumi Allah.

AssalamualaikumWr.Wbb.

Bagaimana kabar Anda pagi ini, Bapak Presiden?
Apakah Pak Presiden baik-baik saja?
Tentu baik-baik saja. Soalnya Pak Presiden kan punya segalanya. Juga penguasa di negeri Indonesia.

Tapi, kabar kami dan saudara-saudara kami di rantau orang tidak baik. Malah selalu tidak baik. Setiap hari kawan-kawan kami di sini (yang nasibnya kurang beruntung) mendapatkan siksa; tubuh mereka disetrika, gamparan nan bertubi-tubi sering mereka dapatkan, bahkan pelecehan seksual juga perlakuan diskriminasi lainnya.

Sebenarnya kami tidak menginginkan semua ini terjadi pada kami; berpisah dengan keluarga, orangtua, anak, suami yang kami tinggalkan di Indonesia. Menambah beban yang menghimpit di dada kian membiru, tapi apa dayalah kami, untuk sekedar membeli garam saja kami kadang tak mampu.

Ingatkah Pak Presiden, ketika bersantap pagi, siang dan malam di istana negara semua ada menu yang berbeda-beda, ada buah-buahan sebagai pencuci mulut, sedang kami?

Ah…mungkin bapak sudah mengerti keadaan kami, hanya saja…ya hanya saja belumlah sempat bapak mengunjungi kami, memperhatikan kami dengan seksama. Kadang saya berpikir, bagaimanalah pula bapak memikirkan jiwa kami yang beribu-ribu ini, memang sangatlah sulit, namun bukankah bapak punya banyak pion-pion, menteri, kuda, benteng dan seterusnya.

Ah ya, saya lupa kalau dalam permainan catur benda-benda itu yang harus melindungi rajanya. Termasuk harus menoyor anak kecil yang berani berdekatan dengan sang raja.
Bapak Presiden SBY yang baik;

Ada sebuah cerita yang ingin saya kisahkan kepada Pak SBY, jika tak berkenan tak jadi soal. Cerita yang sebenarnya hanya membangkitkan siratan rasa ngilu, tapi…dengarlah, bukan maksud untuk membuka aib kami sendiri, meminta belas kasih, bukan. Saya hanya ingin berbagi agar luka itu lekas mengering, agar lebih tegar menghadapi semua ini, berharap nanti Tuhan membuatkan rumah yang indah kelak.

Saat itu saya 15 tahun, adik ada 4 orang, bapak dan ibu sebagai pekerja serabutan. Hidup kami teramat susah, kadang kalau pagi makan, sore harinya kami tidak makan, atau kalau sore harinya makan pagi harinya kita tidak makan hingga sore hari tiba. Adik kami yang terkecil hingga merengek-rengek minta tambahan nasi, kalau sudah begitu kadang berasnya kita bikin bubur biar menjadi banyak, belum lagi kebutuhan lain-lain.

Saya juga tidak mengerti, sudah tahu dengan 5 anak saja susah namun bapak dan ibu masih menambah anak lagi (mungkin karena kami tidak mampu menyalur PLN). Jarang mendapat penyuluhan yang berguna, andainyapun ada penyuluhan, bapak dan ibu pasti lebih memilih cari uang buat kebutuhan hidup.

Libur sehari saja tidak bekerja maka kita bisa berpuasa seharian juga, saya kadang masih tidak mengerti jika ada makanan yang dibuang-buang seusai pesta, padahal di bagian tempat lain ada perut-perut yang bernyanyi penuh irama khas.

Baiklah, karena akan bertambah satu anggota dalam keluarga kami, maka pastilah rumah kami akan sesak ibarat ikan asin ditumpuk-tumpuk. Saya sebagai sulung memutar otak untuk keluarga kami. Seorang calo seperti tahu saja ada sebuah peluang, maka dibesutlah saya sebagai anak buahnya untuk diberangkatkan ke luar negeri. Si calo yang pintar merayu-rayu itu juga bisa meluluhkan hatiku. Padahal usiaku adalah usia yang belum boleh bekerja.

Semua dokumen dipalsukan, semua data dimanipulasi dan saya tinggal mengangguk saja, bagai kerbau dicokok hidungnya. Apalagi iming-iming gaji besar dan kemewahan akhirnya membuat saya tidak bisa bilang tidak untuk menerima tawaran itu. Bapak dan ibu yang bisanya hanya menambah anak-anak itu juga tidak bisa berkata apa-apa. Mereka mendukung saja, meski dalam hati mungkin keberatan,

Jadilah saya dan si calo berangkat ke kota besar yang bisa memberangkatkan saya ke luar negeri. Saya merasa senang sekali, karena sebentar lagi bisa membebaskan keluargaku dari kemiskinan. Alangkah menakjubkan kalau impian itu benar-benar terjadi!

Gedung bertingkat dua yang agak tua itu kupikir adalah penampungan, tempat kami menunggu proses untuk keberangkatan. Ternyata gedung tersebut adalah tempat lokalisasi terselubung. Sekilas memang mirip sebuah gedung kantoran biasa, tapi jika masuk ke dalamnya, segala yang diharamkan oleh agama teretalase dengan jelasnya.

Kamar-kamar kecil berderet, bau mesum memenuhi tiap sudutnya. Saya tidak mengerti dengan situasi seperti ini, tapi perasaan saya mengatakan bahwa tempat ini bukanlah tempat yang baik. Pada ruangan kecil yang mirip tempat kasir, saya bersitatap dengan wanita setengah baya, anggun dan cantik meskipun dua ruas keriput sudah bertengger di bawah kelopak matanya.

Ia tersenyum ramah pada saya, menuntun tangan saya dengan lembut seperti menuntun tangan seorang bocah. Si calo hanya mengedipkan sebelah mata pada wanita cantik itu, lantas menepuk bahuku pelan lalu pergi begitu saja meninggalkanku. Wanita itu terus menggelandangku, menuju sebuah kamar yang ada kamar mandinya, lantas menyuruh saya untuk membersihkan diri. Setelah itu dia memberiku pakaian yang teramat indah, bahannya lembut warnanya merah marun, tapi sayangnya, betis saya yang selama ini hanya ibu saya yang mengetahui kini kelihatan. Bahu, belahan dada dan semua tubuh saya nyaris tak ada bedanya dengan tak berbaju.

Saya menolak untuk mengenakan baju itu tapi wanita anggun tadi tiba-tiba berubah menjadi srigala. Perhatiannya yang lembut kini menguap berganti dengan gerungan yang kasar. Dipaksanya saya untuk lekas memakai baju tersebut, sekilat mungkin wanita itu memermak wajah saya. Kemudian diseretnya tangan saya menuju sebuah kamar, di sana laki-laki setengah baya dengan perutnya yang menggelambir penuh lemak duduk pada ranjang.

Saya ditaruh di hadapan laki-laki itu seperti menaruh hidangan pada sang raja, wanita tadi bergegas keluar, kini sepenuhnya saya dalam kuasa si gelambir. Satu-persatu si gelambir mengupas saya dengan buasnya, saya hanya diam, takut, ngeri, marah, kecewa bercampur jadi satu. Takut kalau-kalau saya benar-benar dilumat hingga habis, ngeri pada tingkah brutalnya, marah dan kecewa pada si calo yang tak bertanggungjawab.

Usai menyantap “hidangannya” si gelambir langsung ketiduran, penuh hati-hati saya turun dari ranjang, berniat untuk lari dari tempat gila tersebut. Ternyata tak mudah melarikan diri dari sarang hina ini, meski tiada camera tersembunyi agar bisa memonitor semua mangsanya. Akan tetapi penjaga di depan gedung mengetahuinya, tak kurang akal saya pura-pura mau membeli sesuatu. Setelah keluar dari gedung tersebut saya lari sekencang-kencangnya, berharap ada seseorang yang mau menolong saya,

Beruntung saya melihat ada polisi, dengan terpatah-patah saya menjelaskan semua yang terjadi, polisi itu kemudian membawa saya ke suatu tempat, saya merasa aman karena saya bersama aparat Negara yang tugasnya melindungi masyarakat. Tak sedikit pun curiga ketika polisi itu membawa saya ke penginapan.

Mungkin polisi ini hanya menyuruh saya untuk istirahat, dugaan saya ternyata meleset. Sesampai di penginapan saya diperlakukan sama seperti si gelambir memperlakukan diri saya, untuk kedua kalinya saya menangis kecewa, hati luluh-lantak, jiwa pun serasa hancur-lebur!
Saya tidak menyangka sama sekali seorang pengayom rakyat malah merusak rakyatnya sendiri.

Pak Presiden yang saya hormati;
Jika anda punya seorang putri tentu merasa sedih, buah hati yang anda cintai diperlakukan seperti itu. Dijual, diperdagangkan lantas dizinahi tanpa merasa berdosa sedikit pun. Saya yang telah merasa hina dan jijik dengan tubuh saya sendiri, meskipun bukan atas kemauan saya, masih berharap mendapatkan kebahaagiaan. Tekad saya untuk membuat ayah, ibu serta adik-adik saya bahagia belumlah padam.

Saya tidak ingin mereka tahu kondisiku, maka saya tidak pulang ke rumah, melainkan mencari pekerjaan sebagai pelayan toko. Beruntung ada yang mau menerima saya menjadi pegawainya. Setelah bekerja hampir setahun saya minta diri karena berniat berangkat ke luar negeri. Melalui proses yang teramat panjang akhirnya saya bisa berangkat juga ke negeri Hong Kong.

Pertama bekerja di Hong Kong saya mendapatkan upah separuh gaji atau sering disebut dengan istilah underpayment. Bagi saya gaji 2 juta per bulan itu sudah cukup besar dibandingkan di Indonesia. Setelah berjalan hampir satu tahun saya mulai tahu, bahwa gaji di bawah standar itu menyalahi aturan. Buat para agen dan majikan bisa dikenakan hukuman terkait pembayaran yang tidak sesuai dengan hukum yang berlaku di Hong Kong.

Walaupun banyak diskriminasi yang saya dapatkan, gaji di bawah standar dan libur yang aturan 4 kali dalam seminggu menjadi 2 kali, hati saya lebih merasa tenteram di sini. Banyak hal di Hong Kong bagi saya menakjubkan. Melihat kotanya yang begitu teratur, banyak fasilitas seperti perpustakaan yang sangat megah, majalah dan koran dari Indonesia pun ada.

Hukum di Hong Kong sangat ditegakkan, tak peduli sesiapapun yang berbuat salah pasti akan mendapat ganjaran setimpal. Membuang sampah di sembarang tempat benar-benar terkena denda. Warga Hong Kong benar-benar menerapkan motto; kebersihan merupakan sebagian dari iman. Soal budaya antri, Hong Kong termasuk yang paling tertib, tak peduli pejabat sekalipun dia tetap harus antri kalau menggunakan sarana dan fasilitas umum.

Pak Presiden yang baik;
Rasa-rasanya saya jadi malas pulang ke Indonesia. Apalagi kalau membayangkan tiba di Bandara Cengkareng, perlakuan para calo jauh dari beradab. Tapi bagaimanapun juga Indonesia Tanah Air saya. Betapapun Hong Kong memiliki segalanya, saya tetap mencintai Indonesia dengan segala kekurangan dan kelebihannya.

Saya hanya bisa berharap Indonesia menuju negeri yang kembali gemah ripah loh jinawi. Menemukan pemimpin yang benar-benar arif bijaksana yang bisa merubah wajah negeri Indonesia menjadi lebih baik dari sebelumnya.
Sebentar lagi saya pulang, saya berniat mendirikan perpustakaan gratis di kampung halaman. Agar warga di kampungku yang masih kebanyakan buta huruf itu bisa membaca, dan berpengetahuan. Semoga Pak Presiden juga punya taman bacaan gratis buat masyarakatnya.

Begitu banyak kata-kata yang ingin saya sampaikan pada Pak Presiden, tapi saya sudahi saja cerita ini, berharap Bapak mau membacanya dan menerima surat ini dengan lapang dada.

Wassalam
Hormat saya:
Seorang Buruh Migran Indonesia Hong Kong


Kepada YTH Presiden RI
Penerbit Jendela (Zikrul Hakim, Jakarta)
Harga 39 ribu

Surat Berdarah Untuk Presiden
Penerbit Jendela (Zikrul Hakim, Jakarta)
Harga 52.500

Sudah edar di seluruh toko buku di Tanah Air,

0 komentar:

Posting Komentar

Recommend us on Google!

Tulisan Terbaru