Home » » Nukilan Jurang Keadilan

Nukilan Jurang Keadilan




Ini Nukilan Novel Jurang Keadilan

            Pertengkaran antara Siao Lien dengan Sitor semakin sering dan menjadi-jadi. Setiap kali bertemu selalu terjadi perang mulut. Tak kenal waktu, tak kenal suasana, di mana pun mereka berada. Meskipun semakin sering diberitakan di media massa, kelihatannya mereka semakin tak tahu malu. Sampai keduanya kembali menjaga jarak, kemudian sibuk dengan kegiatannya masing-masing.
            Ekstravaganza Sitor mendapat sambutan amat luar biasa. Disanjung puja bukan saja dari kalangan seniman dalam negeri, melainkan juga menggema ke telinga para seniman mancanegara. Ia membawa rombongannya keliling Eropa.
            Sementara itu Siao Lien sibuk bernegosiasi dengan para distributor dan investor asing di Los Angeles. Keuntungan dalam jumlah milyaran rupiah sudah membayang di pelupuk matanya. Bisnis kosmetiknya sungguh sedang dalam masa kejayaannya.
            Sementara itu, gundah-gulana menyungkup hati Rumondang. Padahal ia sangat membutuhkan dukungan pada saat-saat begini. Ia mulai mendapat tekanan, teror dan ancaman baik melalui surat kaleng, SMS, email, inbox blog pribadinya maupun telepon. Situasi itu kadang membuatnya terpuruk, menangis pilu dan cuma bisa melabuhkannya  di hadapan Sang Pencipta.
            “Kakak, aku sekarang lagi belajar mengaji lagi, kepingin sadar dan taubatan nasuha. Umi Fathidah amat baik memperlakukanku di sini. Begitu pula dengan Aa Haekal, Teh Selly dan semuanya saja. Kalau nanti aku bebas dari hukuman, insya Allah, aku mau pulang kampung dan hidup baik-baik,” kata Yusni dan itu sungguh melipur segala waswas di hatinya. Ibarat sebutir embun yang datang kala dirinya amat kehausan di padang sahara.
            Petang itu seharusnya Rumondang menjemput Yusni. Namun, ia terpaksa mengurungkannya karena ada urusan mendesak yang menantinya di rumah ibunya di Bintaro. Oma Mey Mey mengabarkan keberadaannya bersama cucu-cucunya di Jakarta. Mereka akan menemuinya di rumah Siao Lien.
            Ketika Rumondang turun dari taksi tampak sudah banyak orang di teras rumah ibunya. Beberapa di antaranya masih dikenali oleh Rumondang sebagai para sepupunya, adik-adik A Fei. Ya, para sepupu lelaki itu kini sudah sama dewasa. Empat orang, ke mana si bungsu A Wei? Apakah anak muda itu akhirnya jadi juga memutuskan hijrahnya, lantas pergi ke Afghanistan? Begitulah yang pernah diceritakan Oma Mey Mey kepadanya beberapa tahun yang lalu.
            Mereka segera mengingatkan Rumondang pada kejadian buruk di kolam renang neneknya di Medan 15 tahun yang silam. Saat dirinya ramai-ramai dikeroyok, dipanggul lantas diceburkan ke kolam dan diselamatkan oleh Koko Chan.
            “Assalamualaikum…” Rumondang berhasil menekan perasaan yang bergejolak dalam dadanya. Ia menyapa mereka dengan ramah sebagaimana seorang muslimah berjilbab harus memperlakukan para tamunya.
            Sebaliknya para sepupu itu membalasnya dengan celetukan-celetukan menyebalkan, sikap yang sama sekali tak bersahabat.
            “Ini dia Jaksa Rumondang yang terkenal itu!”
            “Masih ngotot dikerudung nih, yaaa?”
            “Persis seperti dulu waktu kita nyeburin dia ke kolam renang…”
            “Eeh, tapi sekarang sudah jadi orang penting lho…”
            “Makanya, dia berani menuntut kakak kita. Pasti dia mau balas dendam sama kita?!”
            “A-Chien jaga bicara kau!” Oma Mey Mey muncul dari dalam dan langsung memeluk Rumondang dengan kerinduannya.”Jangan pedulikan anak-anak tak berguna itu, Sayang…. Ayo, bicaranya di atas saja, ya!”
            Karuan saja para sepupu menjadi dongkol dibuatnya. Mereka menggerutu tak jelas ketika Oma Mey Mey menggandeng gadis berjilbab lebar itu menuju lantai atas.
            Rumondang melihat para pelayan amat sibuk menyediakan makanan untuk mereka. Apa Mama tahu tentang ini? Kapan Mama kembali dari Los Angeles? Apa Oma sengaja datang untuk mendukung A Fei yang sekarang meringkuk di tahanan?
            Seribu tanya berseliweran memenuhi benaknya. Sementara pikirannya juga terpecah kepada Yusni. Tentu dia sedang menunggunya di rumah Selly dengan tak sabar. Karena sudah dijanjikan akan diajak jalan-jalan ke Masjid Al-Azhar. Satu keinginan yang dalam hari-hari belakangan sudah semakin sering dicetuskannya, didambakannya, sehingga sudah seperti obsesi saja bagi Yusni.
            Di kamar yang selalu dikhususkan ibunya untuk Rumondang, nenek yang sudah lanjut usia tetapi masih tampak segar bugar itu melepaskan rindunya. Terakhir mereka bertemu dua tahun yang lalu, ketika Oma Mey Mey menyatakan bisnisnya jatuh bangkrut. Untuk menghilangkan power syndrome-nya, Oma Mey Mey melakukan perjalanan wisata ke beberapa kota besar di Indonesia. Mengunjungi kaum famili yang telah lama tak ditemuinya, ziarah ke tempat-tempat yang dianggapnya keramat menurut keyakinannya. Dan diakhirinya dengan mengunjungi Rumondang yang kala itu masih tinggal di Lampung.
            Rumondang takkan lupa juga saat ia akan ditugaskan ke Batam, Oma Mey Mey khusus datang dari Medan. Ia ikut sibuk membantu menyiapkan kepindahannya. Bahkan ia kemudian memaksa untuk mengantarnya sampai di rumah dinasnya di Batam.
            Rumondang merasa agak risih, diperlakukan seperti anak kecil oleh sang nenek. Ada beberapa kali kemudian neneknya mengunjunginya. Namun, Rumondang tak sekali pun pernah kembali ke Medan.
            Ketika Baba Gemuk belum lama meninggal, neneknya pun bertandang ke tempatnya. Ia sedang dalam upaya untuk melipur dukalaranya. Meskipun Baba pernah berbuat kesalahan besar, tapi Oma selalu mengasihinya, begitu pengakuan neneknya.
            Kala itu Rumondang berusaha selalu mendampingi neneknya, bahkan ia sengaja mengambil cuti kantor. Sampai kemudian neneknya merasa keberadaannya malah merepotkan sang cucu. Ia kembali ke Medan dengan semangat baru dan wajah kembali sumringah.
            Duduk berhadapan di tepi tempat tidur, Rumondang akhirnya harus menanyakan maksud kedatangan neneknya kali ini. Dengan lembut dipegangnya kedua telapak tangan perempuan tua yang masih tampak berkharisma dan perkasa itu. Dipandanginya wajahnya yang bersih dan kuning bak patung Dewi Kwan Im, benda antik yang pernah dihadiahkan nenek kepadanya. Tetapi, ia tak bisa memajangnya di rumahnya. Karena tak selaras dengan syariat Islam yang dipegangnya teguh.
            “Apa Oma datang untuk mendukung A Fei?” tanyanya hati-hati.
            Neneknya berusaha menyembunyikan perasaannya. Namun, Rumondang dapat menangkap gurat-gurat kesedihan di wajahnya. Ia bisa memahami perasaan neneknya, tentu seperti berada dalam posisi peribahasa buah si malakama dimakan ibu mati, tak dimakan ayah mati.
            “Tidak, Sayang,” terasa tangan lembut neneknya mengusap pipinya sambil memandanginya lekat-lekat. ”Sesungguhnya ada satu rahasia yang patut kau ketahui tentang A Fei.”
            ”Rahasia apa, Oma?”
            ”Semula Oma tak ingin membongkarnya, tetapi setelah Oma pertimbangkan lagi, ini justru akan membuat hatimu lebih mantap maju di persidangannya nanti. Sesungguhnya A Fei hanya anak tiri bibimu. Ya, Anthoni yang tak tahu malu itu, suatu hari membawa bayi merah ke rumah dan memaksa agar bibimu menerimanya sebagai anak kandungnya.”
            ”Maksud Oma, Paman Anthoni sudah menikah sebelum memperistri Bibi Nio?” Seketika ada sesuatu yang pecah di dada Rumondang. Inilah agaknya jawaban-Nya atas doa-doa yang dipanjatkan dalam setiap sujudnya.
            ”Ya, kalian tak punya hubungan darah sama sekali,” suara neneknya lebih menegaskan. ”Menurut pengakuan Anthoni, perempuan itu minggat karena tak tahan dengan kemiskinan.”
            Bayi merah itu ditinggalkan begitu saja oleh ibunya di rumah sewaan mereka yang kumuh di kawasan Pecinan. Anthoni menemukan bayi malang itu dalam keadaan menyedihkan, sakit dan kelaparan. Beruntunglah, Nio yang sedang kasmaran dengan lapang dada berkenan menerima kehadiran si kecil. Bahkan ia mengasihinya sebagaimana darah dagingnya sendiri.
            ”Oma harap kau jangan salah paham. Oma datang ke sini semata untuk mendukung A Chan dan anaknya yang lagi sakit parah,” sambung neneknya menyelang rasa surprise yang memenuhi dada Rumondang.
            “Oya, apa yang terjadi dengan mereka, Oma?”
            “Anaknya yang paling kecil si Mario terlahir sebagai anak cacat. Kepalanya semakin hari semakin membesar, kata dokter hydrocephalus. Sebenarnya A Chan pernah membawanya ke Singapura, dioperasi beberapa kali, tapi masih juga membesar.”
            “Sekarang ada di mana?”
            “Di RS. Carolus, Oma sudah minta mereka menemani  A Chan, tapi dasar anak-anak tak berguna! Malah rame-rame ke sini untuk mengacau!” keluh neneknya sambil mengais air matanya yang mulai merebak.
            “Bagaimana kabar Bibi Nio dan Paman Anthoni?” Rumondang ikut menghapus air mata di pipi neneknya dengan jemarinya.
            “Pamanmu Anthoni sejak krismon punya bisnis di Singapura, Hongkong dan Jakarta. Dia mengajak A Fei dan adik-adiknya mengelola bisnisnya itu. Sementara bibimu sudah tak bisa dibangkitkan lagi dari depresinya. Kejadiannya tak lama setelah bisnis kita dinyatakan pailit. Bibimu harus melepas seluruh koleksi perhiasan yang sangat dicintainya itu. Tentu saja untuk membayar tunggakan utang suami dan anak-anaknya. Yah, daripada mereka masuk bui kan? Seluruh harta kita memang habis buat membayar utang ke Bank. Ditambah harus kehilangan A Wei, putra kesayangannya. Bibimu mengalami depresi hebat. Dalam tiga tahun ini kerjanya keluar masuk klinik psikiatri. Bahkan sekarang pun dia lagi dirawat di klinik psikiatri dokter Lie, kerabat mendiang Baba,” tutur neneknya tanpa ada yang dirahasiakan lagi.
            “Malang sekali nasibnya,” lirih Rumondang dan tanpa terasa ia pun menitikkan air matanya.”Bagaimana kabarnya dengan A Wei, Oma?” tanyanya penuh rasa ingin tahu.
            “Suratnya yang terakhir datang dari Afghanistan…”
            “Oh, subhanallah… jadi A Wei?!” seru Rumondang.
            “Namanya diganti menjadi Ahmad Iqbal. Yah, dia sudah hijrah memeluk Islam yang diyakininya sebagai jalan paling benar. Sekarang mungkin dia ikut berjihad bersama pasukan Taliban, para mujahidin di sana….”
            Oh, Allah, akhirnya masih ada sepercik cahaya di dalam kegelapan. Ia sudah lama memaafkan perbuatan A Wei di masa lalu. Betapa inginnya ia mengucapkan langsung hal itu kepada sepupu mudanya itu. Alhamdulillah, Engkau telah memberikan hidayah-Mu kepada sepupuku, gumamnya membatin.
            Walau selama itu ia tak pernah merasa sebagai bagian dari keluarga besar Wu. Namun, ada orang-orang yang amat peduli dan menyayangi dirinya di sana. Ia pun amat peduli dan menyayangi mereka. Kalau bisa, betapa inginnya ia meringankan beban neneknya.
            Oh, asalkan jangan minta A Fei dibebaskan saja tentunya!
            Pintu diketuk dari luar.“Masuk saja, nggak dikunci,” sambut Rumondang. ”Mungkin Mbak Ti mau menawari kita makanan ringan. Oya, apa Oma sudah makan?”
            “Sudah, tadi disuguhi Bik Nah. Oma kira kaulah yang belum makan. Kau kelihatan makin langsing,” komentarnya memerhatikan penampilan Rumondang.
            Mbak Wati muncul diiringkan oleh Bik Nah dan Mang Sadi. Ketiga pegawai ibunya yang setia itu tampak pucat pasi. Ada rasa takut mencekam di wajah ketiganya. Rumondang bangkit menghampiri mereka.
            “Di luar itu kok jadi heboh, Non,” lapor Bik Nah.
            “Sepupu-sepupu Non itu bawa banyak orang ke sini. Mereka teriak-teriak di pekarangan sana,” timpah Mang Sadi.
            “Iya, Cici, saya jadi ngeri ngeliatnya. Apa kita panggil polisi saja, ya Ci?” cetus Mbak Wati yang pernah terjebak kerusuhan massa Mei 1998 di kawasan Glodok.
            Ketika itulah pertama kalinya Wati bertemu dengan Siao Lien, yang juga terkurung dalam lautan angkara massa. Ia berhasil membantu Siao Lien lari masuk ke kampung, sebelum massa menjarah habis lima buah toko kosmetik keturunan Tionghoa itu. Siao Lien takkan melupakan jasanya. Dia kemudian mengajak mantan karyawan pabrik itu tinggal bersamanya, sedangkan keluarganya di kampung dikiriminya uang bulanan.
            “Sebetulnya ada apa toh, Non?” tanya Bik Nah.
            “Tenanglah, Bik Nah, Mbak Ti, insya Allah, tidak akan ada apa-apa,” kata Rumondang.”Mang Sadi, ada baiknya juga panggil polisi. Sementara aku akan coba mencari tahu, apa mau orang-orang itu…”
            Oma Mey Mey berkata.”Oma ikut, Sayang. Ini salah Oma juga, nggak bisa cegah si Chien bawa orang-orang itu ke sini.” Tak bisa dihalangi lagi, perempuan tua itu sudah menguntit di belakangnya.
***
           
            Suasana di pekarangan rumah Siao Lien memang sungguh hiruk-pikuk. Dipenuhi oleh orang-orang asing yang diangkut beberapa mobil pribadi suruhan Anthoni. Tidak semuanya keturunan Tionghoa. Bahkan kalau dibuat perbandingan berkisar satu banding sembilan!
            “Mereka para preman atau gepeng yang butuh duit,” bisik Mang Sadi hati-hati.”Waspadalah, Non…. Saya sudah mengontak pihak berwenang!”
            “Terima kasih, Mang.”
            Rumondang memilih menghadapi mereka sendirian. Tidak usah melibatkan banyak pihak. Namun, neneknya bersikeras untuk tetap mendampinginya. Akhirnya mereka berhasil ditenangkan dengan penampilan yang amat meyakinkan dan berkharisma dari sosok Rumondang.
            “Jadi, tuntutan Anda sekalian agar saya membebaskan seorang tersangka pengedar obat bius, sungguh tidak pada tempatnya. Kasus ini belum tentu dipegang oleh saya. Kalaupun saya yang memegangnya, tetap saja Anda semua tak bisa menuntut saya agar melepaskannya. Tidak bisa, meskipun saya dipaksa, diancam atau diteror sekalipun….”
            “Kalau uang masalahnya, Saudara-saudara, tenanglah!” tukas neneknya berdiri tegar di sebelah jaksa cantik itu.”Saya akan memberikan sedikit lebih tinggi dari yang sudah kalian peroleh. Tadi menurut bisik-bisik yang didengar sopir kami, kalian cuma mendapatkan sebesar….”
            “Jangan banyak cingcoong!”
            “Berapa kalian mau beri tambahan buat kami?”
            “Mungkin seratus ribu?” tawar Oma Mey Mey.
            “Tambaaah! Tambaaah!”
            “Bagaimana kalau dua ratus ribu?”
            “Horeeee!”
            “Setujuuu!”
            “Yaah, daripada cuma gopek dari si Bos itu…”
            “Oma, jangan begitu, duuuh!” Rumondang mencoba mencegah.
            “Sudahlah, tenang saja, Sayang. Buat apa Oma punya simpanan kalau bukan untuk hal-hal darurat begini?” potong neneknya.”Ini antara Oma dengan mereka. Sebaiknya kau kembali ke dalam. Nah, itu ada wartawan, hadapilah olehmu, Sayang.”
            Mang Sadi tetap membantu ibu majikannya. Dialah yang membagikan angpao dari Oma Mey Mey untuk semua orang. Selang kemudian tampak segalanya telah menjadi mudah. Orang-orang membalikkan badan dan segera berlalu dengan wajah cerah.
            Rumondang geleng-geleng kepala menyaksikan semua itu. Sekarang aku harus menghadapi kerabatku sendiri, serunya dalam hati. Terpaksa ia tak bisa meladeni pertanyaan-pertanyaan seorang wartawan dengan leluasa.
            ”Mohon pengertian Anda, lain kali saja datang ke kantor saya, ya Mas,” janjinya menyesal.

0 komentar:

Posting Komentar

Recommend us on Google!

Tulisan Terbaru