Home » » Novel Jurang Keadilan: Perjuangan Jaksa Muslimah Keturunan Batak-Tionghoa

Novel Jurang Keadilan: Perjuangan Jaksa Muslimah Keturunan Batak-Tionghoa


        
            Setelah beberapa malam tinggal di padepokan ayahnya, Rumondang memutuskan untuk kembali ke Bintaro. Kini ia bisa lega meninggalkan rumah ayahnya. Keadaannya sudah rapi dan nyaman. Sejumlah tagihan rekening sudah dilunasi, terakhir ia akan menitipkannya kepada aparat keamanan.
            “Aku harus menunaikan amanah Mama, mengurus beberapa hal di kantornya,” kata Rumondang.”Ada sebuah transaksi penting yang diwakilkannya kepadaku. Jadi, besok kita harus kembali ke Jakarta…”
            “Tapi Kakak, aku masih kerasan di rumah Uda ini. Semalam lagilah, ya Kakak,” rengek Yusni kekanakan.”Setidaknya biarkan aku merapikan dulu ruang perpustakaan Uda itu. Kunampak masih berantakanlah di perpustakaannya itu, Kakak!”
            “Bilang saja, kau masih kangen sama Bang Endul,” goda Rumondang yang tahu, Yusni diam-diam akrab dengan pemilik kios durian di seberang rumah.
            “Ah, Kakak ini tahu saja!”
            “Bagaimana? Apa mau mengelak pula?”
            “Eh, entahlah! Tapi kunampak si Ito itulah yang naksir sama Kakak!” balik menggodanya.
            “Ngawur saja!”
            “Bagaimana, Kakak? Satu malam lagilah, ya Kaaak…”
            Rumondang akhirnya menyerah. Tak ada salahnya balik menyenangkan hati Yusni. Dalam beberapa hari terakhir, Yusni sudah amat perhatian dan memanjakannya. Selain sibuk merapikan rumah, dia pun telah berusaha keras memasak makanan kesukaannya.
            “Kami akan tetap berjaga-jaga di sekitar padepokan,” kata Sarluman berkeras siaga bersama regu kecilnya.”Jangan khawatir, kami akan tinggal di suatu sudut yang sama sekali tak mencolok.”
            Padepokan itu berdiri di atas lahan tiga ribu meter. Mereka bisa tinggal di mana pun, tanpa terlihat dari luar dan mengawasi situasi sekitarnya.
            “Bagaimana baiknya sajalah.” Rumondang dengan berat hati menyerah juga. Ia tak bisa lagi main petak-umpet seperti pernah dilakukannya sebelumnya dari pengawasan Sarluman dan rekannya. “Entah sampai kapan,” kesahnya.
            Sementara kasus Ratu Narkoba itu telah sampai ke Kejaksaan, dalam proses untuk dilimpahkan ke Pengadilan. Ada beberapa kali prosesnya sempat berbelit, bolak-balik dari Kepolisian ke Kejaksanaan. Karena masih kurang buktilah, kurang faktalah, kekeliruan prosedurlah, bla, bla!
            Ah, betapa inginnya dia segera lepas dari situasi tak menyamankan ini. Sepanjang kariernya baru kali inilah dia menghadapi kasus pelik begini, melibatkan banyak pihak. Intimidasi, ancaman, teror dan konspirasi seakan-akan tak bisa lepas dari dirinya. Sungguh melelahkan dan bisa bikin stres berat!
***
           
            Malam itu selepas maghrib, mereka bergantian tilawahan Al-Quran. Ya, akhirnya, kepada siapa lagi kalau bukan kepada-Nya jua dia mengadukan ikhwalnya. Giliran Rumondang menyimak, maka Yusni mengaji. Suaranya terdengar parau, maklum mantan perokok berat. Tapi bacaannya sudah lebih bagus dari saat terakhir dia memperdengarkannya.
            “Mereka orang-orang yang taubat, yang beribadat, yang memuji Allah, yang berpuasa atau mengembara menuntut ilmu, yang rukuk, yang sujud, yang menyuruh dengan ma’ruf dan melarang yang mungkar, memelihara batas-batas perintah-Nya. Berilah kabar gembira orang-orang yang beriman itu dengan surga…” (Surat At-Taubah, 112)
            Tiba-tiba Yusni menghentikannya. Ia memandang wajah Rumondang dan bertanya,”Kakak, apa orang yang banyak dosa macam aku ini masih bisa diampuni Allah Swt?”
            “Oh, iyalah, insya Allah! Dia itu Maha Pengampun bagi umat-Nya yang sudah taubatan nasuha, dan takkan pernah melakukan hal itu kembali.”
            “Tapi Kakak, aku ini sungguh calon penghuni neraka, hiks, hiks…” Yusni seketika tersedu-sedu.”Kakak, aku sudah jatuh ke jurang kehinaan, paling hina, hiks! Bahkan aku sudah bohong sama Kakak soal si Koh Liem Peng itu. Sebenarnya itu memang bukan perkosaan, Kakak, tapi suka sama suka, hikkss…. Aduuh, ampunilah aku, Kakak, ampunilah aku…”
            Rumondang meraih bahu perempuan itu.”Sudahlah, Yus, aku pun sudah mengira begitu. Lupakanlah! Lagipula, jangan kepadaku meminta ampun. Hanya kepada Allah tak ada yang lainnya.”
            Menghabiskan malam itu keduanya lama saling curah hati. Kadang mengenang kembali saat-saat di kampung, dan tertawa kecil manakala ada yang dianggap menggelikan.
            “Ke marilah,” Rumondang membimbingnya ke arah ranjang. Di situ sudah menunggu sebuah kotak musik, benda yang pernah dihadiahkan Oma Mey-Mey kepadanya dulu.”Bukalah, semuanya itu untukmu.”
            Jari-jari Yusni menyentuh kotak musik itu dan membukanya perlahan. Seketika matanya membelalak lebar saat mengetahui isinya.
            “Aaa-paaa, untukku? Ini untukku, Kakak?!” serunya tak percaya.
            Bagaimana tidak, karena isinya adalah beberapa cincin berlian, kalung emas dan liontin giok, anting-anting bertahtakan intan.
            “Taklah, Kakak, aku tak pantas menerima semuanya ini. Terlalu mewah, terlalu mahal! Ini pasti barang warisan leluhur Kakak, ya kan?” tolaknya.
            Rumondang tersenyum kecil.”Memang warisan keluarga Wu, tapi aku takkan pernah mengenakannya. Tak ada gunanya untukku, cuma tersimpan di lemari dan kadang membuatku teringat masa lalu. Kekejaman sepupu-sepupuku, perasaan terbuang dan tak berguna. Sudahlah, kau harus membantuku untuk memutus mata rantai itu, ya Dik? Kau sudah kuanggap sebagai saudariku sendiri. Ini akan sangat berguna untuk bekalmu melanjutkan perjalanan yang lebih baik tentunya…”
            “Hmm, kalau demikian menurut Kakak, baik, kuterimalah, Nanti aku akan membaginya dengan Kakak Joruk dan si Ucok. Mungkin kami akan buka salon kecantikan di Sidempuan…”
            ”Amin!”
            Mereka menghabiskan sepanjang malam itu dengan perasaan hangat, tenteram dan sarat ketulusan. Pagi harinya mereka meninggalkan padepokan. Wajah Yusni tampak muram.
            “Entah apa aku masih bisa ke sini lagi, ya,” cetusnya mengambang.
            “Kenapa tidak?” Rumondang tersenyum menghiburnya, lalu ia melihat kalung dan liontin giok kenangan dari Koko Chandra kini menghiasi leher Yusni.
            Ketika Rumondang akan mampir ke kantor ibunya, Yusni memilih menunggunya di Mall seberang. Mau beli oleh-oleh buat Kakak Joruk dan si Ucok, katanya.
            “Kakak, pinjami aku jas jaksanya,” katanya memohon. ”Aku ingin merasakan bagaimana memakai jas seorang jaksa. Apa lantas orang-orang jadi menghormatiku macam menghormati Kakak? Nah, begitu, terima kasiiiiih… Eh, assalamualaikum, ya Ito! ”
            Sarluman membalas salamnya dan menepikan kendaraan. Yusni turun dengan riang. Rumondang ikut turun dan mendampingi Yusni sampai anak tangga.
            Kupingnya masih mendengar tawa riang Yusni dan berkata,”Hallo, Jakarta! Sambutlah nih, si Yusni Hasibuan dataaaang! Mau borong ala orang kaya!”
            Perempuan itu menjauhinya, semakin menjauhinya lalu tampak mengembangkan kedua tangannya, seperti berputar, menari indah dan melambai ke arahnya lantas: blhaaar!
            Rumondang masih melihat bagaimana tubuh perempuan itu terjengkang, tidak, tepatnya terlempar membarengi ledakan susulan dari dalam, ada api menyembur. Ia berteriak histeris sambil menaiki anak tangga dan berseru-seru memanggil nama Yusni.
            “Ya Allaah, jangaaan… jangaan Yusniii! Allahu Akbaaar!” lengkingnya membarengi ledakan lain.
            Ia berusaha menggapai tempat Yusni.
            Namun, gerakannya segera terhenti!
            Sarluman dan tiga rekannya serentak berlarian memburunya, mengingatkannya.
            “Bu Jaksaaaa!”
            “Adiiik, jangan ke sanaaa!”
            Kemudian ada teriakan-teriakan histeris lainnya dan Rumondang tiba-tiba merasakan kesakitan pada bagian kepalanya. Ya, ada yang menghantam bagian kepalanya, begitu keras dan sungguh menyakitkan.
            Lantas seketika semuanya menjadi gelap total!
***
           



0 komentar:

Posting Komentar

Recommend us on Google!

Tulisan Terbaru