Home » » Rumah Kuno di Desa Regol Sumedang Larang

Rumah Kuno di Desa Regol Sumedang Larang






Adalah  sebuah kawasan di Jawa Barat. Kota Sumedang terkenal dengan tahunya yang gurih. Hawanya sejuk dan segar dipayungi oleh gunung-gunung. Ada gunung Tampomas bagai minta ditaksir. Puncaknya bertahtahkan emas. Begitu kata  dalang atau para pendongeng pantun. Ada juga gunung Palasari yang asri. Gunung Kunci yang suka dipakai rendezvous para kawula muda sepanjang zamannya. Menjadi saksi cinta abadi. Gunung Puyuh tempat pangreureuhan alias istirah panjang. Sebab digunakan  sebagai pemakaman umum….  Subhanallah, tak terkira permai pemandangannya!
Konon karena itulah orang Sumedang sungkan untuk merantau selamanya. Sejauh-jauh dia melanglang buana, suatu saat ingin kembali ke kota kelahiran. Baiklah, saya nukilkan sebuah sajak tentang kota Sumedang. Sajak ini saya temukan di buku Sajarah Sumedang  yang disusun oleh E. Kosmajadi.
Sumedang
Insun medal insun madangan
Kaula bijil nyaangan
Ceuk Uga, Sumedang teh ngarangrangan
Kiwari sirungan deui
Hanjuang jadi perlambang
Cacandran dayeuh Sumedang
Kutamaya panganjrekan nu baheula
Jadi ciri kadigjayaan
Diriung ku gunung-gunung
Gunung Puyuh pangupukan
Palasari masa asri
Gunung Kunci jadi saksi
Tampomas nu mawa endah
Matak sungkan nu rek mulang

Patanina sugih mukti
Padagang saruka senang
Pangagung jeung rahayatna runtut raut sauyunan
Dina ngudag kamajuan
Singkil sabilulungan ngalaksanakeun pangwangunan
Bari nyekel deleg agama jeung darigama
Dibarung jejer: “ Sumedang Tandang Nyandang Kahayang”

           Artinya;
Aku lahir aku menerangi
Aku lahir aku menerangi
Katanya dulu, Sumedang berguguran
Kini mekar kembali
Hanjuang jadi lambang
Ciri khas kota Sumedang
Kutamaya kaputren dahulukala
Jadi ciri kedigjayaan
Dilingkung gunung-gunung
Gunung Puyuh tempat istirah
Palasari nan asri
Gunung Kunci bak saksi
Tampomas nan endah
Bikin sungkan yang akan pulang

Petani hidup subur makmur
Pedagang sukacita
Petinggi dan rakyatnya seia-sekata
Dalam meraih kemajuan
Giat gotong royong laksanakan pembangunan
Sembari memegang teguh ajaran agama dan tatakrama
Dibarengi semboyan : “Sumedang Tandang Nyandang Kahayang”

Nah, indah nian bukan? Tapi saya takkan menulis banyak tentang sejarah Sumedang. Karena memang itu bukan bidang saya. Yang saya ingat senantiasa  tentang Sumedang adalah gunung-gunungnya, sawahnya dan walungannya. Walungan adalah sungai.
Saat kecil bersama sepupu-sepupu dan adik-adik saya sering berkecipak-kecibung di Cipicung dan Cileuleuy. Mandi, berenang, mencuci baju di kala musim kemarau adalah acara favorit anak-anak dalam keluarga saya kala itu.
Tentang rumah kuno yang ditempati oleh keluarga nenek dan kakek. Tanahnya milik Yayasan Pangeran Sumedang.  Nenek saya diberi hak sewanya yang harus dibayar setiap setahun sekali. Letaknya di belakang gedung kaputren atau kabupaten yang ditempati oleh keluarga Bupati. Di sebelah kanan ada bangunan SMPN 2. Di seberangnya ada kantor Pensiunan. Kalau dilihat dari sudut jalan raya, rumah ini pas di pengkolan Regol. Kadang kami menyaksikan kejadian mengerikan, kecelakaan lalu lintas dari jendela kamar.
Nenek bernama Raden Rukmini. Konon masih bau-bau sinduk alias kerabat dekat dengan para menak Sumedang. Walau sering mengaku kepada orang-orang,  dirinya  bukan orang Sumedang asli. Tapi berasal dari Suci, Garut. Saya dan para sepupu menyebutnya Eni, asal kata dari Nini atau nenek. Baik dari pihak ibu maupun ayah, saya hanya mengenal mereka sampai jejer orang tua ibu dan bapak saja. Kami memang tak memiliki catatan silsilah keluarga secara detail. Mungkin sudah jadi kebiasaan mereka begitu. Tak terlalu mementingkan silsilah dan sebagainya itu.
Adapun kakek bernama Wiraharja. Kami menyebutnya Aki. Beliau inilah yang asli berasal dari kota Sumedang. Desa asalnya adalah Cirangkong. Ya,  kebalikan dari Eni yang trah menak alias bangsawan. Aki selalu mengatakan keturunan bulu taneuh atau petani. Walaupun demikian, Aki mendapat didikan di zaman Belanda dengan baik. Buktinya Aki direkrut sebagai ambtenaar, atau pegawai pada zaman kolonial. Jabatannya yang terakhir adalah Kepala Pegadaian di Labuan. Behirder, begitu orang-orang menyebutnya. Bahkan meskipun Aki sudah lama pensiun dan zaman telah beralih, zaman Jepang kemudian zaman Kemerdekaan.... Eeh, tetap saja orang memanggilnya Aki Behirder!
Maka saya dan para sepupu  lebih dikenal sebagai  pala putuna[1]  Enggah Behirder.
***

Saya  memang  dilahirkan di rumah kuno ini. Ma anak keenam atau  pangais bungsu2 dari tujuh bersaudara. Ma termasuk terpelajar. Sebab Ma berhasil menamatkan SKP atau Sekolah Kepandaian Putri. Sementara gadis-gadis di zamannya masih banyak yang terkungkung adat. Hidup dalam keluguan dan kebodohan. Terutama anak perempuan yang tinggal di  pedesaan.
Hubungan saya dengan ibu yang melahirkan saya dan enam adik ini, sangat dekat. Terutama pada masa-masa remaja. Namun, pada masa kanak-kanak hubungan kami sempat berjarak. Ma harus mengurus adik-adik yang tunji, setahun hiji.
 Biasanya anak yang umurnya menginjak dua tahun, diserahkan pengasuhannya  kepada seorang inang pengasuh. Inang pengasuh lazimnya masih kerabat dekat yang tak mampu. Ada Mak Isem, Bibi Eha yang masih saya kenang sebagai inang pengasuh. Lebih sering lagi saya tidur bersama Eni atau Emih. Emih ini sebutan untuk nenek dari pihak Bapak yang kadang ikut bersama kami di Sumedang.
Di rumah panggung dengan atapnya yang khas julang ngapak3 itu, penghuninya lumayan banyak. Bapak dan Ma ditambah adik yang masih kecil menempati rumah mungil di samping rumah utama. Saya dengan adik dan sepupu yang sudah agak besar, tidur di sebuah kamar luas di rumah utama. Antara kedua rumah itu dihubungkan dengan semacam jembatan terbuat dari lampit, anyaman bambu. Namun, kemudian penghubung itu ada beberapa kalinya dipugar, dibangun kembali, dipugar dan dibangun kembali. Entah dengan pertimbangan apa. Saya masih kecil, tak bisa memahami pertimbangan para orang tua.
Rumah utama pada mulanya ditempati oleh Eni, Aki dan Uwa Anah. Yaitu kakak perempuan Ma yang sedang hidup menjanda. Ada sepupu. Putri bungsu Uwa Anah. Namanya Siti Rahmah. Kami memanggilnya Dede. Kemudian ketika Aki sudah tiada, Uwa Anah menyambut tiga anaknya yang lain. Mereka semula tinggal bersama ayah dan ibu tiri di Jakarta.
 Hubungan saya dengan Eni sangat dekat. Bahkan saya sering merasa, sayalah cucu kesayangannya. Beberapa peristiwa  memperlihatkan kalau perasaan  tersebut ada benarnya. Umpamanya kalau saya sakit, Eni tampak begitu dag-deg-dog. Mencemaskan keadaan saya. Sepanjang malam Eni  menunggui saya. Mengompres, membaluri dengan ramuan tradisional. Bahkan sampai membawakan jampi-jampi dari dukun segala!
“Ayo, sekarang Eni mau memandikan kamu,” katanya suatu hari saat saya jatuh sakit. Umur saya sekitar empat tahun. Sudah duduk di Taman Kanak-Kanak Persit Kartika Chandra.
Kemudian dituntunnya saya menuju sumur di samping depan rumah. Di sumur sudah tersedia seember air yang ada macam-macam kembangnya. Hari masih gelap dan hawa dingin menggigit. Sambil menahan rasa takut dan sakit, saya berjongkok. Eni  melepaskan baju saya. Lantas mengguyuri sekujur tubuh kecil saya dengan air kembang itu. Bibirnya tak henti-hentinya membaca-baca, mungkin menjampi. Lalu meniupkan daun sirih ke ubun-ubun saya. Mengusap-usapkan daun sirih yang lain ke wajah, kening, mata dan.... Berrr, dinginnya!
“Kata Abah Dukun, kamu ini diganggu sama khadam,” cetus Eni dengan gemas sekali.
“Kita harus mengusir  si  khadam jail itu jauh-jauh, ya Neng Geulis?”
Byuuur, byuuur, byuuur!
Air dingin diguyurkan lagi ke sekujur tubuh saya. Berrr, gigilnyaaa!
Jurig nyingkir, setan nyingkah.... Huuusy, husyyy! Ulah wani - wani ganggu incu aing!”4 ceracau Eni sambil mengibas-ngibaskan daun sirih ke seluruh penjuru angin.
Tiba-tiba muncul Aki dari dalam. Aki yang saat itu sudah dikenal sebagai seorang ulama NU, kontan mengomeli Eni. Sementara mereka berbantahan dengan suara keras, saya semakin kedinginan. Menggigil. Rasa takut, bingung campur aduk di hati. Tubuh saya yang kurus dan kecil mengkerut di sisi sumur.
“Duuuh, deudeuh teuing5 si Eneng!” Bi Eha, inang pengasuh kami  menghampiri saya. Lalu memangku saya dan masuk ke rumah. Langsung membawa saya ke kamarnya di belakang. Saya menangis dalam dekapannya yang hangat.
 “Cup, cup, atos atuh....Ulah nangis wae6, Eneng,” bujuknya sambil mengeringkan tubuh saya dengan handuk.
Beberapa saat lamanya saya disembunyikan Bi Eha di kamarnya. Kemudian ibu saya yang baru melahirkan menengok.
“Apa yang terjadi, Neng Alit?” tanya Bi Eha kepada Ma.
“Mereka bertengkar hebat. Gara-gara air kembang pemberian Abah Dukun itu,” sahut Ma.
Agaknya kadar ke-Islam-an Eni dianggap  tipis oleh Aki. Musyrik. Pakai pergi ke dukun segala. Meskipun harus berbantahan keras dengan Aki, saya ingat Eni masih melakukan hal itu beberapa kali lagi. Tentu saja secara sembunyi-sembunyi dari Aki.
“Ini kalung penangkal penyakit,” kata Eni saat mengalungkan seuntai tali hitam di leher saya. Kalung itu mengikat buntalan mungil berisikan izim. Bentuknya aneh dan menggelikan. Walaupun kerap diejek oleh teman-teman bermain, toh saya tetap mengenakannya. Habiiis, takut Eni!
  Namun, kalau Bapak sudah kembali dari tugasnya, lalu memperhatikan penampilan saya. Maka, tanpa banyak bicara Bapak akan melepaskan kalung aneh itu dari leher saya. Eni pun tak berani menentangnya. Tentara  tea atuuuh! Pikiraneun!7
***

Lengkapnya sila dinikmati di buku memoar saya Dalam Semesta Cinta, harga 52 ribu, bisa pesan langsung via SMS: 085717221803

[1] Para cucu
2 anak sebelum bungsu
3 sebutan untuk rumah adat Jawa Barat
4 “Hantu minggir, setan enyah… Jangan berani ganggu cucuku!”
5 sayang sekali
6 sudahlah jangan nangis saja
7 itu sih serius

0 komentar:

Posting Komentar

Recommend us on Google!

Tulisan Terbaru