Home » » Diwawancara Seorang Akhwat

Diwawancara Seorang Akhwat



Berikut diculik dari dokumen teteh; hasil inerviw seorang akhwat dengan Pipiet Senja

1.Bagaimana awalnya Teteh mengenal dunia tulis menulis? Siapa yang mengenalkan pada Teteh? Bagaim
ana awalnya Teteh menyenangi dunia tulis menulis? Apa yang Teteh rasakan saat itu?
·       Berangkat dari kesukaan terhadap membaca buku (apa saja; sastra, filsafat, politik en soon), sejak kecil sudah melahap banyak buku bacaan. Sejak kecil juga sudah mulai menulis di buku harian berbagai kegiatan keseharian, perasaan dan pikiran kanak-kanak.
·      Memasuki remaja, mulai menulis puisi-puisi dan dipublish di radio-radio daerah, waktu itu tinggal di Cimahi, Jawa Barat. Tahun 1975, nama Pipiet Senja telah beredar di radio-radio Bandung dan sekitarnya. Rasanya ada kebahagiaan sendiri begitu karyaku dibacakan para penyiar radio dengan ribuan pendengar.
·       Mengirimkan tulisan pertama (1975) di rumah sakit Dustira, setelah diopname selama berbulan-bulan. Puisi-puisi kecil itu dikirimkan ke majalah Aktuil, majalah keren anak muda saat itu. Wuiiih, senengnya begitu lihat karyaku mejeng di majalah keren, di samping karya para senior seperti; Sutardji Calzum Bachri, Darmanto Yatman, Jim Supangkat, Putu Wijaya, Danarto, Saini KM, Wilson Nadeak, Sapardi Djoko Darmono dll.
·      Menulis secara otodidak, tak punya guru selain para pengarang yang pernah kubaca karya-karyanya. Aku menganggap merekalah guru-guruku seperti; Rustandi Kartakusumah, Ajip Rosidi, NH. Dini, Motinggo Bousye, Remy Sylado, La Rose, Titie Said dan para penulis dunia.

2.
  Adakah perbedaan hidup Teteh antara belum aktif menulis dengan saat sudah aktif menulis?
·      Tak ada perbedaan yang prinsip, karena kehidupan sebagai penulis di Indonesia belum bisa disebut keren, tak seperti artis, bintang film, penyanyi. Paling bahwa aku punya karya dan bisa mencari duit sendiri, setidaknya sejak usia 17, tak pernah lagi minta duit buat baju lebaran dari orangtua. Malah bisa berbagi dengan orang tua, adik-adik, membelikan mereka keperluan sekolah. Bisa beli buku-buku yang diinginkan, makanan bergizi, vitamin dan simpanan untuk ditransfusi yang harus kulakukan secara berjangka per 2-3 bulan sekali, seumur hidupku.
 3.  Adakah perubahan reaksi orang lain di sekitar Teteh (ortu, tetangga, teman dsb) ketika sebelum aktif menulis dengan sesudah aktif menulis?
 ·     Keluarga, terutama bapak dan ibu mendukung aktivitasku, selain nguyek lama-lama diopname di rumah sakit. Para tetangga hanya sebagian yang tahu kalau aku penulis (bahkan sampai detik ini!) Namaku lebih dikenal di luar, bukan di wilayah tempatku bermukim. Tauk tuh…mungkin, karena aku gak pernah berkoar-koar menyatakan diriku ini penulis ‘kali,ya… (Kebayang gak sih klo ada nenek-nenek sesumbar; ini gw penulis, wuakaka…luthuna!)
 4.   Apa arti menulis bagi Teteh selama ini?
·        Menulis awalnya bagiku sebagai ekspresi jiwa, kemudian menjadi sumber mata pencaharian, tempatku mendapatkan nafkah. Pada perkembangan selanjutnya, setelah mengenal FLP yang mengusung nilai-nilai berdakwah dengan pena... Menulis merupakan sebagian ibadahku pula, setidaknya aku bisa memasukkan nilai, ibrah dan hikmah, tulisan bermakna ke setiap karyaku. Sekaligus sebagai penyeimbang karya-karya para penulis perempuan yang dosyan nguyek seputar pusar doangan geto loooh... Dan inilah duniaku yang sudah menjadi trademark Pipiet Senja, semoga masih bisa dilakoni sampai ajal menjemput kelak.

5.      Apa tujuan menulis bagi Teteh?
·        Kalau dulu menulis hanya untuk cari duit semata, atau melampiaskan segala kemarahan, kesedihan, kekecewaan en soon... Sekarang menulis lebih merupakan sebagai ladang pahala, tempat untuk berbagi pengalaman, pembelajaran, inpirasi dan motivasi buat sesama, terutama kaum perempuan dan remaja, (selain sumber cari duit juga, hihi!) ocreh beib, kata si Butet mah geto ’kali...
 6.   Adakah idealisme tertentu yang Teteh pegang dalam kehidupan menulis?
·        Tak pernah menulis vulgar, porno esek-esek!
 7.  Apakah dengan menulis sudah mencukupi kebutuhan materi Teteh? Bila belum, mengapa Teteh bertahan untuk terus menjadi penulis? Tidak alih profesi lain?
·       Kukira, sama saja seperti profesi seni lainnya di Tanah Air, ada pasang-surutnya. Era Suharto, biar bagaimana pun banyak proyek bukunya. Era 80-90-an, banyak buku anak-anak karyaku yang dibeli oleh Inpres. Per buku bisa berkisar 5 sd 10 juta. Begitu reformasi, lenyaplah proyek ini. Pernah mencoba menawarkan, belum apa-apa sudah dimintai ”uang dengar” halaaah... mingkin kacow sajah Indonesia, yah!
·       Daku kan gak punya ijazah, keliling seminar ke mana-mana mengandalkan karya semata. Kalau sekarang bergabung dengan sebuah penerbit (Zikrul Hakim), itu lebih dikarenakan kepercayaan yang tulus, penghargaan dan rasa sayang direksinya terhadapku. Cie, cie, suuuiiit, bravo deeeeh buat Zikrul Hakim! (komentar Butet tuh!)
 8.   Menurut Teteh, apakah sistem royalti bagi penulis di Indonesia sudah baik?
·       Sistemnya sih bagus-bagus saja, masalahnya kan saat dilaksanakannya itu loh, Non... ndilalah! Ada saja penerbit yang nakal, tidak tepat waktu bayar royalti, bahkan sama sekali tak pernah memenuhi kewajibannya, umpamanya. Sejauh ini, penerbit yang pernah menerbitkan buku-bukuku lumayan baiklah memenuhi kewajibannya.
 9.  Royalti penulis tidak seperti gaji rutin, bila ada buku yang terjual baru dapat royalti, bila tidak, ya tidak dapat royalti. Bagaimana sikap Teteh dalam menghadapi hal ini? Bagaimana mengatur keuangan keluarga?
·       Profesiku selain penulis lepas juga ada garapan, proyek lain seperti; editor senior, penulis skenario, pembicara dan... jualan buku geto loh!
·       Menyiasati keuangan agar tidak morat-marit yah kita lebih bisa karena sudah terbiasa aja kali yah... Anak-anak pun sudah terkondisi hidup ptihatin, sederhana, mau makan atau pakaian apa saja yang bisa diberikan kepada mereka.
·       Alhamdulillah... ini patut disyukuri banget, Haekal dan Butet sudah bisa cari duit sendiri dari menulis juga. Nah, tengkiyuuuu... Son, Daughter, bravooo en luuuuuv!
10. Apakah penyakit yang Teteh derita selama ini membawa pengaruh pada kepenulisan Teteh?
·       Pengaruhnya sungguh rrrrruuuuaaaar biarrraaaa... (iklan banget!) Baca saja yah karya-karyaku; Tembang Lara (Gema Insani Press), Bagaimana Aku Bertahan (KBP), Langit Jingga Hatiku (GIP) dan Dalam Semesta Cinta atau Catatan Cionta Ibu dan Anak.
 11. Apa pengalaman yang paling berkesan selama menekuni dunia kepenulisan?
·       Keliling mancanegara dengan buku, menjadi duta budaya gitu loh rasanya, hehe, kereeen! Waktu mengisi acara di Al-Azhar Kairo, di depan audiens (hatta sekitar 1000-an, heuheu!) omonganku didengar, dicermati dan diketawain, maklum... daku kalo ngomong suka ceplas-ceplos dengan logat Sunda yang ajaib, turunan Sule tea atuh, pikiraneun!
 12. Apa pengalaman yang yang menyedihkan atau buruk selama menekuni dunia kepenulisan?
·       Jawabannya ada di buku Langit Jingga Hatiku (Gema Insani Press), Cahaya di Kalbuku (DarMizan), Bagaimana Aku Bertahan (KBP), Mom & Me (Indiva), Bloggermania! Dan Dalam Semesta Cinta, Catatan Ibu dan Anak (Zikrul Hakim)
·       Pernah dihadang kelompok anak muda yang mengaku; neokomunis di daerah Brebes, Jateng... Makanya, TTDJ yeeeh... Komunis geto loh... kadang aku suka suuzon; kalo mereka eksis di Tanah Air ini, kayaknya yang pertama kali ditebas batang lehernya yaaak... barisan penulis Islami!
 13.  Bagaimana awalnya Teteh kenal dengan FLP? Apa kontribusi FLP yang Teteh rasakan dalam dunia tulis-menulis Teteh?
·    Awalnya kenal dengan Helvy Tiana Rosa dan Asma Nadia (2000) pada sebuah even sastra yang diselenggarakan oleh La Rose dkk (komunitas Wanita Penulis Indonesia). Kemudian aku banyak belajar dari kedua sosok muslimah luar biasa ini, apa dan bagaimana itu sastra Islami.
·     Banyak sekali manfaatnya setelah bergabung dengan komunitas penulis Islami ini. Saat itu, aku nyaris terkubur... tak ada karyaku yang diterbitkan sebagai buku. Sejak mengenal FLP yang punya banyak penerbit juga, karyaku mburudul tak tertahankan. Kalau itung-itungan, sekitar 40 buku karyaku telah diterbitkan sejak bergabung dengan komunitas FLP. Ini lebih dari separuh, sepanjang karier kepenulisnku yang sudah 35 tahun itu. Btw, di FLP, aku pernah diamanahi sebagai anggota Majelis Penulis, semacam MPR-nya gitulah...halaaah, asyik dan nikmat pokoke! Terimakasih, jazakallah khair dan selamat berjihad, doaku senantiasa semoga Allah Swt memberkahi FLP!
 14.  Mengapa Teteh memilih untuk menjadi penulis dengan basik Islam?
·        Tentu saja harus, pertama; karena daku seorang muslimah, orang Islam gitu loh... Semakin tua usia kita harus lebih banyak nyari bekal akhirat dunk. Apalagi setelah diberangkatkan umroh dan haji oleh Travel Cordova (gratis loh!), daku kian menyadari bahwa Allah Swt sangat mengasihiku. Maka, daku pun tentu saja terdorong untuk berkiprah di jalan lurus dan benar, sesuai syariat Islam, keyakinanku.
·        Selain itu, di sinilah dengan basik Islam inilah, daku ingin ikut dalam barisan membentengi genre muda kita dari teror; aksi pornografi, bacaan yang penuh dengan maksiat, merangsang syahwat, paham-paham atau ajaran sesat, yang menentang, menyimpang dari keyakinan agama manapun.
15.  Apa harapan Teteh pada pembaca yang membaca karya-karya Teteh?
·       Harapanku tentu saja para pembacaku, fansku bisa memetik makna, hikmah dan pelajaran yang kusisipkan dalam karya-karyaku. Terima kasih telah membeli bukuku dan menyimpannya di hati anda semua.
        

1 komentar:

  1. teteeeeh... salam kenal n haru dari aku...
    pertama kali gabung di FLP Subang, terus ditanya sama pengurusnya, siapakah penulis2 FLP? aku jawab : Pipiet Senja, karena memang itu pertama kali aku beli buku teteh..

    So inspiring teeeh... kereen..
    Subhanallah ^.^

    BalasHapus

Recommend us on Google!

Tulisan Terbaru