Home » » Trauma Masa Kecil: Tumbila dan Gerwani

Trauma Masa Kecil: Tumbila dan Gerwani






Inilah lakonku, pertama kali ditransfusi waktu kelas enam SD, umur 11 tahun. Aku ingat sekali tak ada yang menemani. Perawat mulai memasang selang transfusi sekitar pukul sepuluh pagi. Tangan yang sedang menerima aliran darah ditutupi perban. Dari ujung jari sampai sebatas pangkal lengan. Diletakkan di atas sebilah papan kecil.
Persis orang yang sedang patah tangannya!

Aku menangis ditahan dan merasa sangat ketakutan. Belum ada yang datang membesuk, Bapak harus dinas setelah semalam menungguiku. Mak terpaksa hanya sesekali membesuk, karena belum lama melahirkan. Kondisi Mak juga tak begitu baik.

Aku harus tabah menanggung rasa sakit itu seorang diri. Tak bisa aku lukiskan, bagaimana sengsaranya menangung keadaan itu. Tak boleh bergerak banyak, bahkan duduk pun dilarang. Alasannya, biar jalan darahnya lancar, tidak macet… aarrggh!

Beberapa jam aku masih bisa bertahan, nyaris tak bergerak sama sekali. Tapi lama-kelamaan terasa ada yang mencucuk-cucuk, menggerogoti di bagian pangkal lenganku. Rasanya gatal bukan main, gataaal!

“Ini gataaal…. Gataaaal!” aku menjerit tak tahan lagi.
Ibu-ibu berlarian menghampiriku dan heboh membujuk.
“Tolong…gataaal…” Aku mengerang.
“Gatal, ya?”
“Coba kita intip saja…”
“Iya, ada apa sih di balik perbannya itu?” usul seorang ibu, terdengar penasaran.

Ibu itu memeriksa perban yang membalut seluruh lenganku, sehingga tampak seperti patah tulang. Perlahan-lahan dikuak sedikit dan…bruuul!
“Tumbilaaaa!”
“Bangsaaat… eeeh, kutu busuuuk!”

Ruangan itu mendadak heboh. Kurasa, bahna syok dan ngeri melihat gerombolan kutu busuk atau karena takaran darah terlalu rendah, seketika itu juga aku semaput!

Begitu siuman kutemukan diriku sudah nyaman, aroma minyak kayu putih yang segar menyeruak hidungku. Dua orang ibu masih memperhatikanku dari sebelah-menyebelah ranjangku. Keduanya langsung tersenyum begitu melihat aku memicingkan mata.

“Tenang, ya Neng… kita sudah urus kutu busuknya!” ujar ibu yang satu, aku tak ingat siapa namanya.
“Sekarang mendingan tidur saja lagi, ya…” bujuk ibu satunya lagi, entah siapa pula dia.

Kemudian kusadari bahwa ibu-ibu yang menunggui pasien di bangsal 14 itu ternyata ramah-ramah dan perhatian. Mereka sama berusaha menenangkan hatiku, meringankan penderitaanku.

Ada yang memberi buah-buahan, ada juga yang menghadiahiku kue-kue dan coklat. Mereka pasti bisa melihat, lemari kecil di samping ranjangku hampir tak ada isinya selain termos dan gelas. Tak seperti lemari lainnya di bangsal itu. Ada banyak makanan, kue kaleng, dan buah-buahan segar. Mereka pun tentu tahu, aku satu-satunya pasien kecil di situ yang tak pernah dibesuk selain oleh Bapak dan Mak.

Sebenarnya Mak punya kaum famili lumayan banyak di Jakarta. Bahkan beberapa di antaranya termasuk orang berada. Namun, entah mengapa tak seorang pun dari mereka yang sudi membesuk aku.

Masa-masa diopname untuk pertama kalinya itu, bagiku serasa bagaikan hidup di dalam kerangkeng. Kalau sudah pernah, barangkali seperti itulah rasanya dipenjara. Aku takkan melupakan bagaimana raut wajah ayahku saat menyampaikan kondisi kesehatanku.

“Dirawat… bagaimana, Pak?” tanyaku belum paham.
“Teteh,” demikian aku sekarang dipanggil oleh orang tua dan adik-adikku, panggilan kesayangan karena aku anak sulung. “Diopname di sini, artinya tidak boleh pulang untuk sementara. Karena para dokter akan mengobati penyakitmu. Teteh mau sehat lagi, bukan?” ujar Bapak, entah mengapa di kupingku suaranya terdengar agak bergetar.

“Iya, Neng, mendingan juga dirawat, ya… Di rumah mah kita gak bisa apa-apa kalau melihatmu kesakitan,” sambung Emak.
“Kalau Teteh tinggal di sini… apa ada yang nungguin?” tanyaku mulai diterpa rasa cemas dan takut.
“Bapak akan menunggumu kalau malam…”
“Dan tidak sedang dinas,” ibuku menukas kalimat ayahku.

Takaran darahku hanya 4 % gram. Tak boleh tidak, aku harus segera ditransfusi. Meskipun menangis sejadi-jadinya dan mencoba untuk berontak, tapi tenagaku memang tak seberapa. Entah dengan pertimbangan apa, mungkin juga tak ada tempat di bangsal anak, aku ditempatkan di bangsal 14 untuk pasien dewasa.

“Sekarang kamu harus mengikuti kata-kata dokter dan aturan rumah sakit, makan obat yang teratur. Biar cepat pulang, sehat dan sekolah lagi,” ujar ibuku sebelum pulang, tangannya yang lembut megusap-usap kepalaku sepenuh sayang.

“Bapak juga harus balik lagi ke kantor. Nanti malam Bapak ke sini,” janji ayahku. Maklum, seorang tentara punya kewajiban mutlak sesuai sumpah prajurit; lebih mengutamakan tugas dari apapun jua.

Aku hanya mengangguk pelan. Kasihan Bapak, pikirku, jadi bertambah beban di pundaknya. Bukan diriku saja yang dikhawatirkannya, kondisi ibuku pun sungguh memrihatinkan. Keadaan ekonomi kami morat-marit.

Sementara kedudukan Bapak di kantornya yang baru pun tentu belum ajeg benar. Bapak baru dimutasikan dari Kodam Siliwangi ke Kodam Jaya. Acapkali aku merasa, orang tuaku sudah tak mampu memberiku makanan yang sehat, karena itu lebih baik menitipkanku di rumah sakit.

Lepas dari teror gerombolan kutu busuk itu, sebagai pengalih rasa sakit dan kesedihan, aku mulai “mencari-cari urusan” dengan memperhatikan suasana sekitarku. Ruangan luas itu dihuni oleh lima belas pasien. Kecuali aku, semuanya perempuan dewasa dengan penyakit macam-macam. Ranjangku nomer dua di sebelah kiri pintu.

Di seberangku ada seorang pasien yang senang betul mengawasiku. Para pasien memanggilnya Ani, sebelah kakinya buntung, berpenyakit paru-paru. Belakangan kutahu Ani adalah tapol Gerwani, titipan polisi militer. Melihat sorot matanya yang menyipit terkesan licik, perasaanku jadi tak nyaman setiap kali dia menghampiri.

Dalam beberapa jam saja dia bolak-balik menghampiriku. Mulutnya meruapkan bau busuk, ditambah sering mengeluarkan kalimat-kalimat tajam, meneror.
“Hei… anak kecil, bapak kamu itu komandan, ya?”
“Di mana tugas bapak kamu… pernah ke Madiun gak?”
“Madiun itu kampungku, tahu gak kamu!”

“Niiih… kakiku dibuntungi tentara-tentara keparat!”
“Ya, tentara-tentara itu bangsaaat!”
“Di sini kamu jangan manja, ya! Ada suster Pati, orang Ambon. Guaaalaaak!”
“Nanti kamu disuntik-suntik, dibius, dipotong-potong… sama dia!”
“Terus diangkut ke kamar mayat… mau kamu dibegitukan?”

Anda bisa bayangkan bagaimana takutnya diriku. Jantungku yang telah dibuat bekerja lebih keras akibat kurang darah, kurasakan semakin berdegupan kencang. Perutku pun mulai terasa mulas dan perih.

Mujurlah, ada seorang nenek di seberang ranjangku. Dia menunggui putrinya, kelihatannya ada perhatian pula terhadapku. Kadang aku sengaja mengerang kalau diomongin macam-macam oleh Ani. 

Nenek itu curiga agaknya. Maka, jika dilihatnya si Gerwani itu bergerak ke arahku, ibu tua itu pun perlahan tapi pasti ikut bergerak meningkahi gerakannya.
“Ani, jangan macam-macam!” katanya mengingatkan. “Anak ini lagi sakit, kamu jangan tambah penderitaannya, ya… Awas, kulaporkan kamu sama PM di depan sana!” Maksudnya polisi militer yang memang selalu ada di pos depan.

“Dasar nenek-nenek cerewet! Otaknya ngeres saja, nenek sihiiir!”
Ani sambil bersungut-sungut membawa kakinya yang pincang menjauhi ranjangku. Takut juga rupanya tapol itu kepada ibunya seorang letnan.

“Terima kasih, Nek,” kataku dengan air mata berlinang.
“Kalau ada apa-apa jangan diam saja, ya Neng. Teriak saja panggil Nenek,” ujarnya terdengar tulus, kemudian ia kembali ke sisi ranjang anaknya yang telah berbulan-bulan dirawat karena kanker rahim.
Selama aku dirawat ibuku jarang menjenguk. Hanya ayahku yang setiap pagi dan sore mampir. 

Biasanya ayahku akan membawakanku kue-kue dan cemilan yang belakangan kutahu, semuanya itu hasil ibuku berhutang ke warung Abah. Adik-adik pun hanya seminggu sekali, secara bergantian dibawa oleh Bapak menjengukku.

@@@

Kini, umurku 55 tahun sudah, meskipun telah mengalami situasi sekarat tiga kali, ternyata hari ini, lebaran ini pun aku masih bertahan. Alhamdulillah, segala puji syukurku kepada-Mu, duhai Sang Pencipta.

2 komentar:

  1. Alhamdulillah..All praise to Alloh atas segala nikmatt...
    subhanallah, Bunda...
    bahasamu benar-benar membuat batin An terasa teduh...:D

    BalasHapus
  2. terimakasih an maharani; maafkan selalu telat membalasnya ya

    semoga bermanfaat untukmu dan ummat

    salam bahagia

    BalasHapus

Recommend us on Google!

Tulisan Terbaru