Home » » Nestapa Nurhidayatun BMI Hong Kong: Kini Telah Menikah

Nestapa Nurhidayatun BMI Hong Kong: Kini Telah Menikah


Daya tarik HK: toko emas di kawasan Causeway Bay, HK



Prolog
Semoga Anda masih ingat dengan kisah nestapa seorang BMI/TKW Hong Kong bernama Nur Hidayatun yang pernah beberapa kali saya posting sejak September 2011 yang lalu.
Vonis memutuskan; majikan dibebaskan, meskipun Nur Hidayatun yang dianiaya sangat parah, sehingga mengakibatkan cacat pendengaran seumur hidup.

Berikut adalah reportase terkini tentang gadis muda (23), disampaikan secara tertulis dari Hong Kong oleh putri saya; Adzimattinur Siregar, SH.

@@@

Nur Hidayatun. Inilah buah tangan yang dibawakan oleh ibuku dari Hong Kong pada kunjungannya September 2011 yang lalu. 

Segala tas, baju dan sepatu, teronggok begitu saja di kamar, tatkala Mama menyodorkan setumpuk foto Nur Hidayatun saat ia masih di rumah sakit.

Lama sangat mataku menatap tumpukan foto yang mengenaskan itu!
Dengan berat badan 23 kilogram, tangan gosong karena luka bakar, kaki yang hancur hingga cacat, kepala yang digunduli hingga plontos, telinga cacat seumur hidup. Itulah gambar Nur sebelum masuk rumah majikan yang disodorkan Mama. Sontak membuatku merasa sangat geram.

Iblis macam apa yang sanggup merusak gadis secantik ini, hingga menjadi tumpukan daging dengan panca indera yang rusak?

“Nur ini selama sepuluh bulan disiksa. Kemarin dia koma selama dua bulan, terus dirawat dua bulan. Dia sudah lama banget tinggal di shelter Dompet Dhuafa Hong Kong,” tutur Mama dengan nada menggeletar, menahan geram dan masygul, serta ketakberdayaan membantunya.

Aku memalingkan wajah dari foto-foto itu. Berbeda dengan Mama yang selalu berpikir dengan hati, aku tidak bisa saat itu juga menangis hanya dengan melihat foto.

Aku pun hanya mengangkat bahu, pura-pura tidak terusik. Kembali sibuk dengan kehidupanku yang jauh, jauh dari hal-hal mengerikan seperti itu. Toh tidak ada urusannya denganku, kewajibanku paling hanya mendoakan, pikirku saat itu.

Tapi seiring dengan waktu, Mama malah semakin tidak bosan-bosannya menceritakan tentang Nur kepada siapapun yang ada di dekatku. Aku yang selalu  di dekat Mama mau tidak mau jadi ikut mendengarkan, setiap detailnya berulang-ulang. Majikan menggajinya, tapi gaji selalu dipotong untuk hal-hal kecil. 

Bangun tidur dipotong seribu dollar setiap kali terlambat bangun. Mainan anak hilang, dipotong lima ratus dollar.

Detail-detail kecil yang semakin hari semakin mengusikku. Nur yang dijatah ke toilet hanya 2 kali. Nur yang harus buang hajat di plastik karena takut didenda seribu dollar. Dan segala hal tidak masuk akal lainnya, yang terus menganggu otak hukumku: apa yang bisa dilakukan terhadap kasus seperti ini di Hong Kong?

Tak diduga, beberapa minggu kemudian, tiba-tiba ada kesempatan untuk diriku pergi ke Hong Kong. Ada kesempatan. Ada kemampuan. Aku bergabung sebagai duta Lembaga Pelayanan Advokasi Dompet Dhuafa. Tanpa kusadari, Nur menambahkan poin terakhir yang, belum tentu aku bisa tiba di Hong Kong tanpanya: ada kemauan.






Hari terakhir aku membantu proses persidangan Nur adalah hari sidang pertama Labour Tribunal. Nur harus melewati 3 jenis sidang selama 10 bulan di shelter Dompet Dhuafa, masing-masing merupakan proses panjang yang menyakitkan. Sidang kriminal, terkait kasus penganiayaannya.

Sidang Labour Tribunal, terkait hak-hak dan gajinya yang belum dibayarkan. Kemudian sidang Personal Injury. Yang terakhir ini akan memakan waktu satu hingga tiga tahun, sehingga Nur diperbolehkan pulang.

Kasus kriminal Nur selesai dengan putusan hakim berupa pembebasan majikan. Banyak masalah di dalam persidangan ini yang kalau dikupas tuntas mungkin bisa jadi buku tersendiri. Yang jelas, salah satunya adalah prosecutor (jaksa) yang menangani kasus Nur tidak pernah berkomunikasi dengan Nur.

Penanganan kasus dan barang bukti, serta sikap jaksa sepanjang persidangan, sungguh di luar zona normal. Penutupan kasus dilakukan pada November 2011. Hanya melalui telepon singkat dari polisi.
Terbayang betapa hancurnya hati Nur saat itu. Aku setengah ngeri, membayangkan ia bisa saja punya alasan untuk bunuh diri, karena sepertinya kemanapun ia bergerak, selalu ada tembok yang membenturnya.

Sehari dua hari, Nur terus murung. Kadang-kadang menangis. Tapi beberapa hari kemudian, setelah diberi bimbingan dan masukan dari Ustad Herman yang luar biasa menginspirasi itu, Nur menjadi lebih baik. Ia mengikhlaskan. Tindakan yang sama sekali belum tentu akan aku lakukan bila aku jadi dia.

Sekarang kasus Labour Tribunal pun kembali membentur tembok bernama Hakim. Di sidang pertama (call over), para pihak dipanggil dan diberi kesempatan untuk tawar-menawar. Nur menuntut $68,000 termasuk untuk Common Law Damages.

Hakim menertawakan tuntutan Nur secara blak-blakan. Ia bilang Nur bermimpi. Kasus kriminalnya gagal, karena itu ia dianggap berbohong oleh pengadilan. Sekarang, mana mungkin pengadilan akan percaya dengan kesaksiannya. Dan sekian banyak hal yang merendahkan rasa percaya diri Nur.

Aku bisa merasakan amarah menguar dari tubuhku. Ingin rasanya aku menerjang ke podium, kemudian mencekik Hakim yang kurang ajar itu. Sebagai sesama wanita, apa ia tidak ada rasa kasihan sama sekali. Mendengarkan penjelasan Nur pun ia tidak mau.

Setelah proses tawar menawar (yang tentunya sangat tidak mudah), Nur pun memutuskan untuk settle di $21,000. Dengan pertimbangan menghemat waktu dan menghemat tenaga, Nur menerima uang itu di depan Hakim.

Majikan Nur menghitung uang yang akan di keluarkannya, lembaran $1,000, sambil terisak-isak. Awalnya sesenggukan. Akhirnya ia menangis keras. Gila! Pikirku. Setelah sekian lama penyiksaan dan potongan-potongan gaji yang tidak masuk akal, tega-teganya dia nangis di depan pengadilan?!

Usut punya usut, ternyata si majikan perempuan ini lumayan baik. Yang selama ini menyiksa Nur adalah majikan laki-laki yang tidak bekerja. Nur justru ikut menangis dan meminta maaf. Aku cuma sanggup geleng-geleng kepala. Perempuan, ya, hmm, sungguh makhluk yang menakjubkan.

Pukul 04.00 subuh di depan Hong Kong Public Library. Kami menunggu bis E11 yang akan langsung meluncur, mengantarkan Nur ke Bandara.
Ya, akhirnya Nur pulang juga!

“Mau diapain uangnya, Nur?” tanyaku iseng sambil berdiri di bawah papan bus stop.
“Modal usaha, Teh. Modal nikah,” tuturnya sambil cekikikan.

Aku terkikik geli melihat pipinya yang memerah. Dasar anak lucu! Aku menatapnya lekat-lekat. Sungguh melihat pipi gembulnya, orang lain pasti takkan mampu mengira, dan takkan mampu membayangkan, apa yang sudah dilewati oleh gadis ini.

“Aduh pengen pup nih!” celetuk salah satu anak shelter.
“Nih, pake plastik aja!” temannya menyodorkan plastik. Semua orang terbahak, kecuali Nur. Aku bisa melihat perubahan di wajahnya. Dan aku tahu penyebabnya: ia teringat masa-masa penyiksaan di rumah majikannya dulu.

Tapi sedetik kemudian, ia kembali tersenyum.
Dengan takjub, aku meraih tangannya dan menggandengnya masuk ke dalam bis yang berhenti.

Betapa kelirunya aku mengira uang $21,000 akan membuat seorang Nur lupa dengan segala penderitaannya. Masa lalu memang akan selalu mengejar kita kemana pun kita berada. Luka memang akan selalu terbawa sebagai jejak-jejak pertempuran. Tapi yang terpenting bukan itu. Melainkan cara kita menyikapi luka dan masa lalu.

Melalui sosok satu ini, Nur yang umurnya hanya beda dua tahun dengan diriku, ternyata aku belajar lebih dari sekedar tentang hukum ketenagakerjaan Hong Kong.

Di Bandara, ia memelukku erat dan seakan tak ingin melepaskan diriku. Pelukan yang erat dan tulus.  “Makasih ya, Teh. Makasih banyak selama ini. Maaf Nur nggak bisa ngasih apa-apa,” bisiknya penuh penyesalan.

Aku menggeleng. Karena memang aku tidak butuh apa-apa dari dia. “Doa, Nur. Doakan Teteh ya. Doa orang teraniaya kan berharga banget, Nur.”

Kami berdua saling menyusut airmata. Sebuah kesadaran menamparku: Nur adalah alasan aku di sini. Ketika mendengar kejanggalan kasusnya, ketidakadilan yang tidak masuk akal yang menderanya, aku tersentak untuk terbang ke Hong Kong. Dan sekarang ia pulang. Aku seperti kehilangan setengah alasan aku di sini.

Memang akan ada Nur-Nur yang lain. Tapi mereka bukan sahabatku. Tidak tidur bersamaku ketika aku menangis kalut karena tidak dihargai, ketika aku menitikkan airmata teringat hal-hal pedih di hidupku, mengigau dalam tidur sambil menangis dihantui masa lalu. Justru Nur, dengan sekelumit hidup yang pahit, mencoba membuatku tersenyum.

Jadi, katakan kepadaku; pilih yang manakah dirimu? Membawa luka dan duka kemana pun kau pergi. Apakah kau akan memuntahkan duka dan merengek-rengek, menyebarkan kebusukan luka ke mana-mana? Ataukah menjadi tegar? Bahkan justru mengabaikan rasa sakit sendiri dan menghapuskan sakit orang lain? Yang aku  tahu, Nur Hidayatun, seorang gadis hebat yang kukenal di Hong Kong adalah tipe terakhir. (Adzimattinur Siregar, Causeway Bay-Hong Kong, akhir 2011)




Inilah kondisi Nur Hidayatun saat pulang, meskipun senyum sumringah, ia mengalami cacat pada pendengarannya.

Adakah BNP2TKI bisa ikut bantu untuk mendapatkan asuransinya yang memang menjadi haknya?
Kita tunggu jawaban Bapak Jumhur Hidayat!

0 komentar:

Posting Komentar

Recommend us on Google!

Tulisan Terbaru