Home » » Kehabisan Oksigen di Grasberg Mine Papua

Kehabisan Oksigen di Grasberg Mine Papua




  
Tembagapura, 20 November 2012
Berbekal semangat saja yang superduper tinggi, aku diajak naik ke ketinggian 4325 mdpl gunung, dataran tinggi di Tembagapura. Sungguh, nyaris tanpa bekal yang berarti selain aqua sekardusan yang dibawa Syafii.

Masing-masing bawa minuman kesukaan, Elly wateraqua vitamin, Eva seambilnya saja, aku diberi minuman dingin entah merek apa. Lagian, jangan bawa-bawa merek di sini, ya Cin!

Bersama Elly LubisEvatya Luna, aku duduk di samping Pak Sopir. Sebuah kendaraan tangguh yang dikendarai oleh Syafii, bergantian dengan Bambang pada Mil 74.

Sejak makan malam itu di Masjid Darusaa’dah-Tembagapura, Pakde Dodik sudah mewanti-wanti ganasnya dinginnya di Grasberg Mine. 

Bahkan Syafii menambahkan ketika mengantar kami pulang ke Guest House 104, mengenai berbagai kondisi serta situasi yang akan kami hadapi di Dataran Tinggi sana.

“Pernah, ya, ada nyonya petinggi ikut bersama rombongan. Eh, baru sampai di puncak sana, dia langsung keluar mobil, mendadak ngedrop, semaput!. Diangkut ke klinik, dilarikan dengan chopper ke Hospital,” tuturya membuat mulutku seketika terkatup rapat.

“Standarnya sih mereka yang mau ke atas sana harus dicek dulu kesehatannya,” celetuk Elly Lubis dari jok belakang.”Demikian dulu ibuku pernah melakoninya.”

“Jadi, kita harus cek kesehatan dulu ke Hospital, begitu?” tantangku dengan hati kebat-kebit. Waduh, bisa-bisa ketahuan kondisi kesehatanku sesungguhnya nih!
“Ada orang dalam, nyanteh saja,” hibur Evatya Luna, seperti memahami pikiranku.

Singkat cerita, sampailah kami di kawasan Grasberg Mine, setelah melalui perjalanan sangat memesona, diberkahi pemandangan permai luar biasa. Dingin di luar sama sekali tidak masalah, karena kendaraannya dilengkapi dengan pemanas. Hmmm, kebalikan dari AC untuk ukuran kendaraan di kawasan tropis pada umumnya.

Awalnya ya nyaman saja, hehe.

Elly Lubis dan Evatya Luna langsung berloncatan dari kendaraan. Syafii pun segera sibuk, lari ke bagiakn sekuriti untuk melapor. Kami dipertemukan dengan Bambang yang akan membawa kendaraan lain untuk kami turun nanti.

Setelah diperkenalkan dengan Bambang, kami sudah kenal juga sebelumnya, maksudnya serah-terima, begitulah. Syafii kembali meluncur dengan tram, sementara kami akan ditemani oleh Bambang. 

Sesungguhnya saat itu Syafii sudah menyadari bahwa ponsel canggihnya telah ketinggalan, mengira masih aman di kendaraan, ternyata ketika balik kembali ke dalam kendaraan ponselnya telah lenyap. 

Duh, demi menyenangkan tamunya, beliau jadi kehilangan barang berharga yang belum lama dibelinya di Jakarta. Maafkan kami tak bisa bantu, ya Mas Syafii. Semoga ada gantinya dan lebih canggih dari ponsel hilang tersebut.

Kalau memperturutkan ambisi, waduh, rasanya sungguh mau kuabadikan segala keelokan pemandangan di dataran tinggi ini dengan kamera bagus milik putriku, Butet. Bayangkan, kapan lagi coba bisa ke sini bahkan tanpa dana seperak pun dari kocek pribadi?

Ternyata, oh, oh, ternyata, Sodara; tidaaak!

Mile 60



Hanya kuat sekitar 10 menit untuk menikmati pemandangan yang luar biasa indahnya itu. Seketika terasa dada bagian kiri sangat nyeri, semakin kuhela napas dalam-dalam, terasa semakin menusuk-nusuk.

Maka, aku pun harus tahu dirilah. Diam-diam kembali masuk kendaraan, malangnya, tiada sesiapapun yang bisa kuminta tolong untuk sekadar menutup kendaraan, dan menghidupkan pemanasnya.

Beberapa jenak aku hanya bisa duduk celingukan di jok, malah sempat bingung, BBM kepada Evatya Luna dan Elly Lubis pun tidak dibalas. Lah iyalah, wong tak ada sinyal. Lagipula selama di Tembagapura hanya Telkom yang bisa dimanfaatkan, simcard lainnya ke laut!

Bersyukurlah, aku selalu tak lupa membawa obat jantung dan darah tinggi. Segera kutelan butiran kecil, satu ditaruh di bawah lidah, satu lagi ditelan dengan aqua gelas.

Subhanallah!


Beberapa jenak kunanti dampaknya.
"Hmmm, mengapa serasa semakin sesak dadaku ini, ya?’ kesahku semakin tak nyaman, rasa nyeri memang perlahan hilang, tetapi sesaknya semakin tak terelakkan!

Aku masih ingin hidup, teriakku dalam hati peluh mulai bercucuran dari kuduk, dahi. Kuputuskan untuk membuka sebagian perlengkapan, seperti rompi, kacamata, jaket tebal pun dilepas.

Sambil terus berzikir, selang-seling kubaca Ayat Kursyi. Kupertahankan memori otakku tetap jernih, lurus dan  benar. Kusingkirkan segala kekhawatiran, kegamangan rasa yang semakin melingkupi dan menggoda kesadaranku.

“Harus pasrah lilahi taala, Mama, apapun keadaan kita,” terngiang, ajaib sekali, nasehat putriku Butet. Ketika menangkap kegelisahanku menjelang ketok palu Hakim di Pengadilan Agama beberapa pekan yang lalu.

“Mama sudah cukup menderita, sekarang bebaskanlah hidupmu! Jauh-jauhlah dari sosok yang selalu membawa nestapa dalam hidup Mama itu!”

Yah, Nanda, Cinta, Mama mau menikmati sisa hidupku!



Consentrating bijih tambang

Aku terus menggemakan takbir dalam dada. Hmm, sudahlah, Nak, kataku dalam hati. Kalaupun memang harus menghadap Sang Pencipta saat ini, setidaknya engkau akan mengetahui bahwa Mama telah merasai kebahagiaan yang diberikan Ilahi. 

Semuanya; sahabat, para pembaca karyaku, rezeki yang tak terduga yang mengalir, ya, semuanya saja adalah anugerah Ilahi untuk Mama, Nak.

Akhirnya gubrak saja, sepertinya sempat semaput di jok belakang itu, entah berapa lamanya. Hingga kurasai ada seseorang memegang nadiku dan bergumam:"Waduuuh, gawat ini, harus panggil ambulans!"

Beberapa saat kemudian, semua telah kembali agaknya dan kendaraan dilarikan ke klinik terdekat. Tepatnya sebuah bunker yang disulap menjadi polikinik yang sangat membantu pasien seperti diriku.

Seorang dokter muda, mengaku alumni FKUI, segera sigap memberikan oksigen, bertanya setelah aku sadar kembali di kliniknya: :"Maaf, Ibu punya penyakit apa memangnya?”

“Pssst, Dokter yang baik, terima kasih, ya! Tapi mohon, jangan heboh, saya seorang thaller dengan kardiomegali,” sahutku tanpa sembala.

Untuk sesaat anak muda itu malah memandangiku dalam-dalam. Entah percaya atau sebaliknya menganggap diriku sedang mengigau.

“Iya, Dokter, saya pasien kelainan darah bawaan. Secara berkala harus ditransfusi sejak umur 10-an, begitulah. Limpa dan kandung empedu saya sudah diangkat. Belakangan jantungku dinyatakan bengkak,” tuturku lebih rinci.

"Subhanallah, inilah satu-satunya pasien thalasemia dengan kardiomegali yang berhasil sampai di tempat ini," komentar dokter muda, asli Tasik yang ganteng dan baik hati itu.

Konon, oksigenku waktu pertama datang tinggal 30 % saja, kemungkinan kalau terlambat diberi oksigen; lewatlah diriku di Grasberg Mine. Terimakasih, dokter Taufik. Sampai jumpa, mungkin di jakarta atau di Tasik. 

Spesial terimakasih juga untuk dedikasinya yang tulus kepada Syafii. Meskipun kami belum lama kenal, tetapi kepedulian dan tanggung jawabnya sungguh patut diacungi jempol. (Grasberg Mine, Pipiet Senja)

































Catatan: foto-foto bagian bawah adalah hasil fitografer/Dokumen Freeport, bukan hasilbikinak saya.





0 komentar:

Posting Komentar

Recommend us on Google!

Tulisan Terbaru