Home » » Peraih Bilik Sastra Award 2013: Lelaki Penantang Langit

Peraih Bilik Sastra Award 2013: Lelaki Penantang Langit


Lelaki Penantang Langit
Karya: Ayu Wulansari

Tegak berdiri menantang langit yang membiru. Tangannya berkacak pinggang, kepala tengadah dengan mata terpejam. Dia selalu begitu, berdiri di bukit kecil samping rumahku, dari dulu tak pernah berubah. Dari semenjak aku kecil sampai kini aku beranjak dewasa.
Pemandangan seperti itu sudah tak menarik perhatianku. Sudah menjadi keseharian lelaki yang kulitnya semakin hitam legam berlaku gila. Ibuku bilang pekerjaan orang gila itu menantang langit.
Namun anehnya lelaki itu kini tidak berkacak pinggang, melainkan tepekur menangis. Aku heran. Lebih heran lagi ketika kutanya perihal ini kepada ibuku, "Bu, kasihan sekali orang itu, ya? Mungkin sekarang dia sadar bahwa cintanya tak bisa dimiliki."
Sontak ibuku bicara dengan nada tinggi. "Sudah jangan pedulikan dia. Sekuat apapun dia menantang langit, langit atau siapapun tak akan mengerti."
Aku terdiam. Memoriku berputar kembali ke masa kecilku. Kala itu aku terheran-heran melihat tingkah seorang lelaki di bukit samping rumahku. Saat kubertanya pada ibuku, maka beliau pun bercerita.
"Akhmad namanya. Pemuda tetangga desa yang soleh. Dahulu dia mencintai seorang gadis, namun keluarga sang gadis tak merestui. Hingga cinta mereka terpaksa terpisah."
Aku kecil mengangguk seolah maklum. Saat itu pula muncul iba di relung hatiku akan kesedihan lelaki itu.
Dalam benakku terpatri, "Dia tidak gila. Pak Akhmad bukan orang gila."
Senja tercipta di ufuk barat. Warna keemasan mentari mulai berubah kuning tembaga. Kelelawar satu per satu keluar dari sarangnya untuk mencari makan. Aku melihatnya. Dari kusen jendela kamarku yang catnya mulai mengelupas. Aku menangkapnya. Sosok perempuan berjalan tergesa-gesa turun dari bukit samping rumahku. Dia adalah ibuku.

Pertanyaan demi pertanyaan berkecamuk di kepalaku, "Sedang apa Ibu di bukit itu?"
Aku semakin tersentak ketika kutangkap lagi bayangan di belakang Ibu. Berjalan tergesa-gesa mencoba menjajari langkah Ibu. Dialah Pak Akhmad, lelaki penantang langit.
"Oh, Tuhan. Apa yang akan dilakukan Pak Akhmad pada ibuku?" Tak terasa aku memekik lirih.
Kutangkap dengan jelas dua bayangan. Di bukit samping rumahku. Dengan senja yang telah berganti malam. Mereka adalah Pak Akhmad dan ibuku.
Seketika itu pula aku tak lagi percaya, hanya berubah semakin yakin.
"Pak Akhmad tidak gila. Lelaki penantang langit itu orang waras," gumamku.
"Dia mati..." ucap Ibuku.
Lelaki penantang langit itu gantung diri."
Aku tersentak. Mataku membelalak tak percaya.
"Bagaimana mungkin itu bisa terjadi? Beberapa waktu lalu aku masih berbicara dengannya."
Kini ibuku yang bergantian menatapku tajam. Dari sorot matanya terpancar tanya yang meluap-luap. Aku takut. Aku menunduk.
"Maafkan aku, Bu. Aku melanggar perintah Ibu," bisikku.
Masih teringat jelas. Saat usiaku menginjak remaja. Di kala masa puber itu aku berniat menemuinya. Lelaki penantang langit. Namun ibu mencegahku.
"Jangan sekali-kali kau menemui orang gila itu." Pesan ibu. Yang sampai saat ini masih terngiang di telingaku. Namun beberapa waktu lalu terpaksa kulanggar.
"Dia tidak gila, Bu. Pak Akhmad orang waras."
Ibuku terdiam kaku. Kerut tanda usia beliau sudah tak muda lagi makin nampak jelas di parut wajahnya.
"Dia bilang aku mirip sekali dengan Ayah," ucapku takut-takut.
Ibuku tersenyum sinis.
"Lagipula..."
"Lagipula apa?" Nada tanya yang keluar masih beraroma tak suka.
“Aku melihatnya. Di kala senja. Ibu dan Pak Akhmad berbincang di sana. Di bukit itu." Ibu Membisu.
Bumi seakan terbelah ketika tak sengaja kudengar perbincangan tetangga. Di antara hiruk pikuk pasar. Beraneka aroma terbaur di sana.
"Sudah barang tentu Halimah senang akan kematian Akhmad," ucap seorang ibu-ibu pedagang kelontong.
"Dia pasti tertawa bahagia dendamnya terbalaskan." Ibu pembeli yang umurnya agak sedikit muda menimpali.
Aku terdiam menajamkan telinga. Melawan berbagai macam suara yang tercipta.
Tidak, ibuku tak seperti itu. Perbincangan tetangga itu pasti bohong.
"Tapi kasihan juga ya, Halimah. Bagaimanapun juga diperkosa itu pasti meninggalkan trauma." Lagi Ibu-ibu pedagang kelontong berujar.
"Untung saja dia tidak gila seperti Akhmad," Ibu pembeli menimpali.
Bohong. Semua yang kudengar ini pasti bohong.
Lantas aku bergegas pergi. Lantas begitu saja di sudut mata ini basah. Lantas begitu saja aku pasrah.
"Aku tak percaya. Aku tak mau percaya," teriakku sambil berlari.
"Mungkin itu yang dinamakan cinta abadi," komentar Nenek. Saat aku menanyakan kematian Pak Akhmad lelaki penantang langit.
"Dia akhirnya bisa bersatu dengan orang yang dicintainya," lanjut Nenek.
Aku masih terdiam tak menyangkal. Di pikiranku masih terbesit tanya tak terucap.
"Salahku dulu tak merestui hubungan mereka." Nenek berucap lagi. Ada sendu di matanya. Ada penyesalan tersirat di antaranya.
"Mereka bilang ibu dendam pada Pak Akhmad," aku berucap takut-takut.
"Orang-orang itu bilang dulu ibu diperkosa Pak Akhmad."
Mata Nenek menerawang jauh. "Orang-orang itu tak mengerti."
Di pikiranku semakin timbul tanya yang semakin memuncak.
"Orang-orang itu tak bisa mengenali Halimah, Ibumu."
Wanita itu berdiri berkacak pinggang. Kepalanya tengadah dengan mata terpejam. Dia seperti Pak Akhmad menantang langit. Di bukit yang sama di samping rumahku.
"Senja sudah hampir tiada, Bu. Mari kita pulang," ucapku pada wanita itu. Yang tak lain adalah ibuku.
Ia diam tak bergeming.
"Berapa umurmu sekarang, Nak?" Hampir saja aku tertawa. Tak mungkin Ibu bisa lupa sudah berapa lama membesarkan aku anaknya.
"Dua puluh tujuh tahun, Bu." Aku menjawab juga. Aku sedang ingin berdamai dengan keadaan kali ini.
"Sudah cukup dewasa untuk tahu hal yang sebenarnya." Kemudian ibuku beringsut duduk bersila di rerumputan dan aku mengikutinya.
"Kau harus tahu satu hal, Nak. Halimah adalah kakak kembarku."
Aku kaku. Lidahku kelu. Aku tak bisa mencerna kata-kata yang Ibu ucapkan padaku.
"Seperti yang pernah kuceritakan padamu, Akhmad dan Halimah adalah sepasang kekasih. Nenek tak merestui hubungan mereka."
Aku mencoba menerima kejadian yang ada. Aku mencoba tegar mengetahui kenyataan yang terjadi.
Namaku Hidayah, Nak."
"Lantas kata mereka? Tentang Halimah yang diperkosa? Tentang dendamnya pada penantang langit?" kejarku.
Aku sudah tak sabar ingin mengetahui lebih lagi.
"Itu hanya alasan untuk menutupi aib. Ibumu, Halimah mengakhiri hidupnya tak lama setelah melahirkanmu. Dan aku menggantikan posisinya. Mereka hanya tahu, Hidayah yang dikubur di pemakaman itu. Mereka hanya mengerti Hidayah yang selalu sakit-sakitan itu yang mati."
Aku tak tahu harus berkata apa lagi. Serasa semua tanya yang ingin kuungkapkan tenggelam bersama senja.

Tak sengaja aku menemukannya, sebuah album foto lama. Tak sengaja pula aku membacanya, sebuah tulisan dengan tinta yang hampir pudar di selembar kertas usang.
Aku mencintaimu lelakiku. Meski kau tak pernah tahu. Aku menyayangimu lelakiku. Meski cintamu terpaut pada saudara kembarku. Aku akan tetap mencintaimu lelakiku, seperti engkau begitu mencintai saudaraku.
Hidayah.

Aku menatap foto usang itu. Mirip tak ada beda. Kedua orang di foto itu memang sama.
"Maafkan aku, Nak. Telah berbohong padamu selama ini." Ibuku berkata. Lirih tak terdengar.
"Boleh aku tanya satu hal lagi, Bu?" Beliau mengangguk. Ibuku menatapku dengan lembut. Tangannya mengelus-elus kepalaku.
"Apa yang ibu katakan pada Pak Akhmad waktu senja itu?"
Ibuku menghela napas panjang. Diam sesaat lantas berujar, "Aku katakan padanya yang sesungguhnya. Aku bercerita padanya tentang Halimah. Aku ungkapkan padanya bahwa aku adalah Hidayah. Dan kau tahu selanjutnya, dia memilih mati menyusul ibumu."
Titik air mata membasahi kulit tua Ibuku. Dan aku menghapusnya. Aku ingin menghilangkan kesedihannya. Aku ingin membahagiakannya. Dan aku memeluknya. Aku mendekap ibuku, memberi kekuatan untuk ibuku, yang kutahu namanya; Hidayah. (Taiwan,27.06.12)
@@@





0 komentar:

Posting Komentar

Recommend us on Google!

Tulisan Terbaru