Home » » Ini Nukilan: Bagaimana Aku Bertahan

Ini Nukilan: Bagaimana Aku Bertahan



Siang itu aku baru memesan tempat untuk ibu mertua yang bersikeras ingin diopname di RSUD Pasar Rebo. Abang ipar, saat ini dinas di Jerman, serta istrinya sedang pulang ke Indonesia.
Namun, nambou lebih suka diurusi oleh menantunya yang Sunda; suka dipelesetkannya secara sengaja sebagai si Sundal.

Aneh bin ajaib memang, betapa sering aku dibenci, dimarahi, dilecehkan dan disumpah-serapahi. Entahlah!

Untuk menghemat aku harus menggunakan bis umum. Tubuhku yang kecil berperut buncit, terhimpit di antara para penumpang. Beberapa pelajar STM dengan pongah duduk seraya kaki diangkat, riuh-rendah bergosip dan merokok.

Banyak penumpang lelaki muda dan kuat pun sama bersikap tak peduli, berlagak tertidur, sampai yang sungguhan mengorok!

Memasuki kawasan Lenteng Agung, para penumpang mulai lengang, tapi aku masih belum mendapatkan bangku. Sepanjang perjalanan kubalun senantisa dadaku dengan zikrullah.
Allah, Allah, Allah…
Sampai sekonyong-konyong… cekiiiiit…. Beeegh, heeekkk!

“Allahu Akbar!” seruku tertahan.
Dari arah belakang tubuhku dalam sedetik oleng dan tersungkur, perutku menghantam sandaran bangku di deretan tengah. Detik itupun ada yang bergemuruh dalam dadaku, menimbulkan rasa lemas tak teperi dari ujung-ujung kaki hingga ujung rambut. Bahkan ketika aku sudah menggeloso, tak satu pun penumpang yang berkenan mengulurkan tangannya.

Allah, inikah Jakarta dan ujian-Mu?
Sesampai di rumah, rasanya kepingin buang air kecil.
Seeerrrr, serrrr… ternyata memerah darah!
“Maaf, Bu, saya gak bisa bantu lagi demam juga nih,” kata Mpok Onah, tetangga terdekatku, saat kumintai bantuannya.

Rumahku terpencil dan jauh dari tetangga. Haekal sudah berusaha keras menghubungi Pak RT, Pak RW dan tokoh masyarakat sekitar rumah. Nihil!

Aku bisa memaklumi hal ini, mungkin sekali disebabkan kepala keluarganya tak pernah bergaul dengan para tetangga. Bapaknya anak-anak lebih banyak mengurung diri di kamarnya, sibuk dengan pikiran, waham dan perasaannya sendiri. Khas penyandang skizoprenia paranoid, demikian yang kudengar dari seorang psikiater.

“Gak ada siapa-siapa, Mama,” lapor Haekal dengan cucuran keringat dan kecemasan mengental di wajahnya, sepulang dari rumah uwaknya.
“Memangnya ke mana mereka?”
“Kata tetangganya sih, Uwak ajak Ompung jalan-jalan…”
“Ompungmu kan sakit? Mau diopname besok…”
“Mama kayak gak tahu saja .Mama sih terlalu ngebela-belain. Gak inget kesehatan Mama sendiri,” sesal anak kelas tiga SMP itu.

“Pssst, diamlah, Nak. Kita sholat dan berdoa saja. Mari, Cinta, anak-anak Mama yang saleh dan salehah,” tukasku yang segera dituruti oleh kedua buah hatiku.

Suamiku baru muncul menjelang maghrib. Dia santai saja, ketika diberi tahu kemungkinan aku akan mengalami keguguran. Dia memang tidak mengharapkannya sejak awal. Kalau bisa dilahirkan terserah, tidak bisa pun terserah. Bila mengingat ketakpeduliannya, adakalanya semalaman air mataku terkuras.

Allah, hanya kepada-Mu jua hamba yang lemah ini mengadu.
“Sini, Ma, Ekal gendong saja, ya,” Haekal lagi-lagi menawari kemudahan. Tubuhnya mulai berbentuk, berperawakan sedang dan kekar. Dia rajin olah raga dan latihan taekwondo.

Haekal pasti paham betul kebiasaan ayahnya, kalau jalan bareng kami sering tertinggal jauh di belakang. Sosok tinggi besar itu akan melenggang gagah terpisah dari anak-anak dan istrinya. Seakan-akan dia tak suka kalau ada yang mengaitkan dirinya denganku dan anak-anak, entahlah!

Namun begitulah kenyataannya, entah berapa kali aku dan anakku, ketika mereka masih kugendong, nyaris tertabrak saking repotnya dengan beban bawaan. Menggendong anak, menenteng tas besar dan menjinjing mesin ketik, demikian kulakoni saat akan pulang kampung lebaran.

Biasanya bukan penghiburan yang kudapatkan bila aku nyaris celaka. Makian, sumpah serapah dan kata-kata melukai akan berhamburan dari mulutnya. Demi Tuhan, langit dan bumi menjadi saksiku!
“Sering aku berpikir luar biasa kamu itu, ya…Hebat ‘kali kau!” tentu saja bukan pujian, melainkan ejekan dan kesinisan.
“Bisa-bisanya kamu sebodoh itu!”
“Bagaimana mungkin kamu menjadi seorang pengarang? Padahal begitu bodohnya kamu!”
Atau: “Dasar gobloook!”

Banyak lagi perkataan melecehkan yang hanya bisa kutelan dalam-dalam ke lubuk jiwaku. Biarlah segala kejahiman itu terpendam dan lebur di sana, pikirku.

“Sudahlah, naik becak saja ke depan. Sana, panggilkan becaknya!” perintah nya, kurasakan betul sangat lamban bertindak. Sehingga aku harus menunggu, menunggu, menunggu.

Sementara darah yang keluar semakin banyak!
“Kenapa tak langsung ke Cipto saja?” protesku saat kami sampai di rumah sakit Bhakti Yudha, Sawangan.
“Terlalu repot! Kalau bisa di sini ngapain jauh-jauh pula?”

Tentu dia tak sudi mengeluarkan banyak uang, demi nyawa istri dan anaknya sekalipun. Seperti sudah kuduga, mereka tak sanggup menanganiku karena pasien kronis kelainan darah. Dokter menyarankan untuk menyewa ambulans. Bisa berakibat fatal kalau terlalu banyak bergerak.

“Ambulans, berapa?” otakku langsung menghitung-hitung rupiah yang harus dikeluarkan.
Demi Tuhan, tak ada uang di tanganku lagi, karena belum sempat mengambil honor. Kulirik gelang 10 gram yang masih membelit pergelangan tanganku. Hanya tinggal benda ini yang berharga, tak mengapa kalau harus kulego.

“Kita naik angkot saja,” ujar suamiku kaku, tanpa ekspresi sama sekali.
Wajah perseginya di mataku telah semakin dingin, membeku. Entah ke mana larinya rasa cinta, iba ataukah memang tak pernah ada?

“Naik angkot bagaimana, Pa? Kasihan dong Mama,” Haekal sempat mencoba protes keras, air matanya mulai bercucuran, kentara sekali dia mencemaskan diriku.
“Jangan banyak omong, anak kecil tahu apa!”
“Sudahlah, Nak, angkot ya angkot,” tukasku menengahi sebelum ada yang berubah pikiran.

Bagaimana kalau lelaki itu, ayah anak-anakku itu, tiba-tiba kumat dan meninggalkan kami begitu saja? Bulu romaku merinding hebat mengingat kekejian macam itu!

Entah berapa kali ganti angkutan umum, kami berempat karena Butet pun ikut, menuju RSCM. Pukul delapan, akhirnya sampailah kami di Unit Gawat Darurat.

Perasaan dan pikiranku sudah melayang-layang tak karuan, sementara darah terus juga mengocor. Hanya karena kasih sayang-Nya jualah kalau aku masih bisa bertahan sejauh itu.
“Tolong, jaga adikmu, ya Nak. Telepon Oma, ya,” pesanku wanti-wanti kepada sulungku.

Haekal mengangguk, air matanya sudah bercampur dengan ingus, tapi ditahannya sedemikian rupa. Dia pasti lebih menakutkan kemarahan ayahnya dari apapun. Aku melengos, tak tahan melihat nestapanya. Kuraih putriku, kupeluk tubuhnya yang kecil dan kuciumi pipi-pipinya yang halus bak sutra.
“Butet, Cinta, jangan rewel ya Nak. Harus mau makan yang banyak, Cinta…”
“Iya, Ma… Utet janji gak bakal nyusahin Abang,” sahutnya sambil bercucuran air mata.
“Doakan Mama, ya anak-anak, Doa seorang anak akan dimakbulkan Tuhan…”
“Iya Mama, iya,” jawab keduanya serempak.

Kupandangi terus kedua belahan jiwaku itu, hingga brankarku didorong masuk ruang tindakan, sosok mereka pun lenyap dari pandanganku. Dunia luar telah tertinggal di belakangku, giliranku berhadapan dengan segala keputusan medis.
Demi Allah, jeritku hanya mengawang dalam hati. Aku lebih memikirkan anak-anak daripada kondisiku sendiri.

Sekitar pukul sebelas malam, setelah melalui pemeriksaan ini dan itu; rahim diperiksa, diubek-ubek, di-USG dan memang janin tak tertolong lagi.
“Kami pasang transfusi dan infus, ya Bu…”
“Kami pasang selang di rahimnya, ya Bu…”
“Biar janinnya mengecil dan mudah dikeluarkan…”
“Operasinya bisa ditunda lusa, hari Senin!”

Begitu sibuk perawat dan dokter di sekitarku. Suara-suara berseliweran, mengambil pilihan dan memutuskan; mengapa nyaris tak melibatkan diriku? Sementara itu, suami memilih pulang dengan dalih kasihan Butet, dan Haekal akan ulangan.

Bagaimana kalau aku mati? Siapa yang akan mengabari kematianku kepada keluargaku? Ya Robb, jauhkan segala pikiran pesimis itu, jeritku mengambah langit dan bumi yang selama ini senantiasa menjadi saksi lakon dan takdirku.

“Siapa yang akan mengambil darah ke PMI Pusat?” tanyaku kepadanya, saat dia diizinkan menemuiku di ruang ICU sebelum berlalu.
“Aku sudah mengupah orang untuk mengambilnya jam satu nanti,” jawabnya dingin sekali.

Seperti biasanya dia tak pernah berani membalas tatapan mataku, malah terkesan lebih suka dilayangkan ke segala sudut dengan liarnya. Aku tak berkomentar lagi, melepas sosoknya dengan perasaan hampa.

Sepanjang malam itu mataku nyaris tak terpicing. Pendarahan memang telah berhenti, tapi ada yang terus berdarah, berdarah, berdarah, dan luka itu tak kunjung sembuh jauh di lubuk hatiku.

Setelah semuanya berlalu, kupandangi langit dari balkon lantai tiga tempatku dirawat. Bintang-bintang masih kemerlip di langitku. Seribu, selaksa, niscaya lebih lagi. Namun bagiku, ada dua bintang cemerlang di langitku, yakni dua buah hatiku. Di bahu anak-anakku, di dalam sorot bening mata buah hatiku, kutemukan kekuatan yang maha dahsyat.

Nun di atas sana, masih ada kerlip lain dengan nuansa dan binar-binar kasih-Nya yang selalu menerangi kalbuku. Aku yakin dengan sepenuh jiwa-raga dan imanku.
Ya Allah, hamba masih ingin bertawakal, menjadi hamba-Mu yang tegar dan istiqomah.



Pre Order sila hubungi Pipiet Senja 085669185619
Diterbitkan oleh Penerbit Zahira

@@@



0 komentar:

Posting Komentar

Recommend us on Google!

Tulisan Terbaru